Disclaimer: Harry Potter bukan milikku, tapi milik dari J.K. Rowlings

Warning: AU, OOC, Durmstrang!Draco, typo, etc

Rating: T

Pairing: -

Genre: Adventure, friendship


AN: Wah, maafkan aku yang terlalu lama mengupdate fic ini. tapi akhirnya aku berhasil mengupdate-nya, semoga tidak terlalu mengecewakan


THE MALFOY'S SECRET

By

Sky


Hogwarts, Britania Raya

Meskipun seminggu telah berlalu sejak terpilihnya peserta yang akan mengikuti turnamen, keadaannya masih tidak berubah sama sekali, masih sama ketika ia merasakan tubuhnya membeku di tempat saat namanya dipanggil oleh Dumbledore. Kelihatannya ia tidak akan menemukan ketenangan di setiap tahunnya bersekolah di Hogwarts, apakah ini sebuah kebetulan ataukah ini hanya permainan dari takdir itupun Harry juga tidak tahu.

Harry sangat yakin kalau ini adalah permainan takdir yang tidak menyukai dirinya, bahkan Harry mampu menebak kalau mereka yang ada di Hogwarts tidak menyukai dirinya setelah mereka tahu Harry adalah peserta keempat. Seorang anak kecil berusia 14 tahun mampu memasuki turnamen yang diperuntukan bagi mereka yang telah berusia dewasa? Ini pasti adalah lelucon dalam mimpi buruknya. Tidak pernah dalam mimpi buruknya sekalipun ia akan berada dalam posisi yang seperti ini, kalau Harry boleh memilih maka anak itu akan memilih untuk tidak berada di sana.

Untuk kesekian kalinya Harry menghela nafas panjang, ia bisa merasakan beban hidupnya semakin berat dan tidak terkira kapan hal itu akan terangkat dari bahunya. Harry menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sesekali ia juga membenarkan posisi kacamatanya yang mulai turun ke hidung mancungnya. Mata emerald milik Harry menangkap sosok bayangan dari arah hutan terlarang, sosok itu terlihat begitu kecil dari tempat Harry berada saat ini, kelas kosong di menara selatan. Sosok itu berjalan pelan ke arah kapal yang digunakan murid dari Durmstrang untuk melakukan perjalanan ke Hogwarts. Sosok itu berhenti di depan sosok yang yang terlihat jauh lebih besar dari dirinya. Karena Harry merasa khawatir maka anak itu segera keluar dari dalam kelas di mana ia berasa saat ini untuk menuju ke arah kedua sosok yang ia lihat dari sana.


"Dari mana saja?" tanya Viktor kepada Draco saat anak laki-laki berusia 14 tahun tersebut keluar dari arah hutan terlarang.

"Bukan urusanmu." Jawab Draco singkat, padat, dan membuat Viktor bingung tentunya.

Viktor memutar kedua bola matanya, "Ayolah, apa kau tidak bisa menciptakan kalimat yang lebih kreatif dari itu, Dray? Setiap kali aku bertanya padamu pasti jawabanmu kalau tidak 'itu bukan urusanmu' pasti 'ini tidak ada hubungannya denganmu'." Kata Viktor.

"Dan ini juga tidak ada hubungannya denganmu, Vik." Ujar Draco dengan nada datar.

Viktor menghela nafas karena jawaban Draco yang begitu datar, sudah ia duga sebelumnya. Sepasang mata silver kebiruan milik Draco mengambil gambar dari sosok sepupunya itu secara perlahan, pemuda itu hanya mengenakan singlet berwarna merah dengan celana training berwarna hitam. Kelihatannya Viktor baru saja melakukan rutinitasnya, yang tidak lain adalah latihan pagi seperti biasanya.

"Seperti yang kubilang kalau kau butuh pembendaharaan kata lebih luas lagi, Dray." Gumam Viktor yang Draco hiraukan. "Dan kau tidak akan belajar banyak bila terus berada dalam bayangan uncle Lucius terus-menerus."

Remaja berambut pirang platinum itu terlihat begitu santai hanya mengenakan T-shirt berwarna biru dan celana pendek berwarna putih, dia terlihat seperti remaja berusia yang sebenarnya daripada orang yang terlihat begitu serius setiap saat seperti apa yang ia tampakkan pada waktu-waktu tertentu. Draco terlihat begitu santai, layaknya seperti remaja berusia 14 tahun yang normal.

"Lupakan kata-kataku yang barusan tadi. Aku ingin kau menemaniku berlatih di sini. Aku ingin berduel denganmu." Kata Viktor dengan senyum tipis di wajah tampannya.

Draco hanya melihat Viktor dengan tatapan bingung, ia menautkan alisnya sebelum mengangkat kedua bahunya tanda kalau ia tidak peduli.

"Terakhir kali kita melakukan duel, kau kalah total 30 poin dariku." Ujar Draco santai yang membuatnya mendapat tatapan ganas dari Viktor.

"Aku tidak akan kalah darimu untuk kali ini, Draco. Waktu itu kau hanya beruntung bisa mengalahkanku, tapi sejak terakhir itu aku sudah berlatih keras agar bisa membuatmu bertekuk lutut di hadapanku." Kiata Viktor, "Anggap saja kau membantuku berlatih mantra untuk mempersiapkanku pada turnamen yang akan datang."

Draco memutar matanya karena ini, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa. Draco mengangguk pelan sebelum mengikuti Viktor menuju tempat yang dikatannya sangat cocok untuk berduel tanpa diganggu oleh siapapun. Meskipun tempat itu sangat lenggang seperti yang Viktor katakan, betapa salahnya mereka bila mereka berdua menganggap kalau tidak ada orang yang tahu mereka berada saat ini. Tanpa sepengetahuan Draco dan Viktor, sosok Harry Potter yang berada di bawah lindungan jubah gaib yang membuatnya tak terlihat itu tengah mengawasi kedua saudara sepupu dari Durmstrang di balik semak-semak yang lumayan tinggi tidak jauh dari saja, Harry ingin tahu apa yang tengah mereka lakukan.

"Aku harap kau serius kali ini, Dray. Karena aku akan menyerangmu secara brutal." Kata Viktor, ia mengambil tempat sejauh lima meter dari hadapan Draco. Kedua mata coklatnya terlihat begitu awas melihat gerak-gerik yang dibuat oleh sepupunya.

Draco sendiri melihat Viktor mengambil tongkat sihirnya dari balik kaos yang ia kenakan, Viktor memegang benda itu layaknya sebuah pedang yang siap untuk menebas lawannya. Sebuah seringai kecil muncul di wajah manis Draco, ia tak sabar untuk dua serangan dari Viktor baik menggunakan pedang ataupun menggunakan sihir. Tentu, berduel di dunia sihir itu tidak hanya fokus terhadap sihir dan tongkat sihir yang para penyihir miliki, mereka dapat berduel menggunakan senjata seperti pedang, pemanah, ataupun gada tentunya. Yang jelas senjata yang mereka ambil itu bukanlah senjata biasa yang para Muggle kira, mereka telah dipersiapkan dengan dibuat dari sebagian sihir pemiliknya sehingga senjata itu akan menyesuaikan diri mereka dengan yang mengunakannya.

Sudah bukan rahasia umum lagi kalau duel antara Viktor Krum dengan Draco Malfoy adalah yang terparah sepanjang sejarah, keduanya mempunyai kemampuan sihir yang begitu hebat dan mampu menggunakan senjata pendamping mereka layaknya seorang profesional. Bahkan pada turnamen sihir yang digelar setiap dua tahun terakhir yang lalu, muncul dua finalis yang tidak lain adalah kedua sepupu yang merupakan keturunan dari keluarga Rivierre yang begitu melegenda. Pertarungan yang begitu menegangkan itu berlangsung begitu seru, bahkan mereka yang menyaksikan secara langsung saja menganggap kalau kedua saudara sepupu tersebut akan membunuh satu sama lain.

Kali ini mereka berduel menggunakan sihir saja, Draco rasa kalau mereka menggunakan pedang atau lainnya pasti terbilang begitu brutal. Remaja berusia 14 tahun yang memiliki sepasang mata silver kebiruan tersebut menghela nafas pelan, sekalipun pandangannya tidak pernah beranjak pada sosok Viktor yang terlihat begitu awas.

"Dan sejak kapan aku tidak serius?" Ujar Draco dengan nada lembut seperti biasa.

"Ayolah, cousin, kau dan aku tahu betul kalau setiap kali kita berduel kau tidak pernah menggunakan sihirmu secara penuh."

Draco tersenyum kecil, "Itu hanya perasaanmu saja." Jawab Draco singkat, tentu saja baik dirinya maupun Viktor tahu kalau jawaban itu sama sekali tidak berarti.

Viktor tidak menjawabnya, ia hanya memperhatikan Draco yang sedari tadi tidak mengeluarkan tongkat sihirnya. Meskipun posisi tubuh sepupunya yang berdiri tidak jauh dari sana hanya terlihat begitu rileks dan membuatnya seperti orang lemah, Viktor tidak akan menurunkan penjagaannya sedikitpun juga. Viktor sangat mengenal Draco dengan baik, sepupunya yang jauh lebih muda dari dirinya adalah orang yang sangat sulit ditebak, ia bisa mengeluarkan serangan tanpa menggunakan tongkat sihirnya. Dan ia akan menyerang pada titik posisi di mana lawannya terlihat begitu lengah, sekali ia lengah maka Draco akan emnghabisinya secara total.

Sementara itu Harry yang melihat kedua murid Durmstrang yang hanya saling berdiri di hadapan satu sama lain hanya bisa merasakan perasaan aneh, seperti akan ada sesuatu yang terjadi, mungkin inilah yang membuat Harry begitu nerves dan gugup. Mata emerald Harry mengawasi Viktor yang mengarahkan ujung tongkat sihirnya ke bawah pijakan, ia juga mengucapkan sesuatu yang tidak bisa Harry tangkap dengan begitu cepat. Kedua mata Harry membulat penuh di balik kacamata bundarnya ketika tanah tempat mereka berpijak bergetar dengan hebat seperti ada gempa bumi hebat sebelum terbelah menjadi beberapa kepingan, dan yang paling menakjubkan adalah tanah yang berwarna kecoklatan tadi membentuk semacam tongkat lancip dalam jumlah banyak dan benda-benda itu terus bermunculan dari dalam tanah untuk menyerang remaja berambut pirang platinum dengan sangat cepatnya.

"Luar biasa." Ujar Harry saat ia melihat serangan yang sangat menakjubkan dari Viktor itu terus bermunculan.

Draco yang menanti serangan tersebut terlihat begitu rileks saat menghindari serangan yang bertubi-tubi dari Viktor. Kalau saja Harry berada dalam posisinya pasti ia sudah mati kalau tidak mempunyai refleks secepat itu.

Tidak hanya serangan menggetarkan dari dalam bumi yang Viktor lemparkan, pemuda itu mengambil beberapa langkah ke samping sebelum melambaikan tongkat sihirnya sebanyak tiga putaran di udara. Harry melihat dengan tatapan tidak percaya lagi saat bola api mulai bermunculan dari arah yang tidak tentu dan mulai menyerang ke arah ramaja tadi bersamaan dengan serangan runcing dari dalam tanah.

"Keluarkan sihirmu, Dray! Jangan menghindar terus!" kata Viktor yang mencoba untuk membujuk Draco, anak itu sedari tadi menghindari serangannya.

Draco tidak menjawabnya, ia terus menghidar dari dua serangan bertubi-tubi yang diarahkan padanya. Anak itu mengambil tongkat sihirnya dan melambaikannya di udara sambil menggumamkan impact, serangannya itu membuat bola api yang ditunjukkan padanya menghantam bola udara untuk meredamnya sebelum hilang dalam kepulan asap, bunyi poof yang tidak terlalu keras terdengar di mana-mana.

"Reducto!" ujar Draco pelan, menghancurkan efek serangan pertama Viktor. Tanah tempat mereka berpijak menjadi terkoyak tak berbekas.

Harry merasakan wajahnya memucat melihat duel yang berbahaya tadi, baik Draco maupun Viktor saling melempatkan mantra penyerang pada satu sama lain dan juga menghindari serangan yang dilemparkan kepada mereka. Kalau Harry tidak tahu benar maka kedua saudara itu pasti berniat untuk membunuh satu sama lain, bahkan di sorot mata mereka berdua Harry bisa menangkap sebersit emosi yang mengatakan kalau mereka sangat serius untuk enjatuhkan lawannya, bukan lagi berlatih yang sering Harry lihat. Duel ini terlihat begitu berbahaya, Harry tidak mempunyai ide apa yang diajarkan di Durmstrang kepada muridnya. Apakah mereka diajarkan duel yang intinya saling membunuh seperti ini? Berbagai pertanyaan muncul di benak Harry sementara ia melihat duel yang begitu menakjubkan itu. Ia melihat Viktor melemparkan serangan kilat kepada Draco, yang juga menangkisnya menggunakan pelindung batu yang berhasil ia summon menjadi sebuah perisai untuk melindungi tubuhnya dari hantaman serangan yang diberikan padanya. Tempat mereka berduel kini tidak kelihatan sama seperti tadi, pemandangan yang pada awalnya terlihat begiu bagus kini malah menjadi rusak dan banyak bekas terbakar berada di sana sini.

Draco yang mengacungkan tongkat sihirnya ke samping membentuk sebuah cermin yang terbuat dari es, cermin tadi pecah secara berkeping-keping sebelum menghantam ke arah Viktor yang juga berkelit dengan lincahnya. Pemuda berambut hitam dari Bulgaria tadi menghilang dari posisinya dan muncul lagi di samping Draco, ia akan memukul sisi tubuh Draco. Harry yakin pukulan itu pasti akan mengena, tapi lagi-lagi tebakan Harry salah saat Draco melempar tongkat sihirnya ke udara sebelum secepat kilat memegang siku kanan Viktor yang terarah padanya dan menggunakan sihir pada telapak tangannya untuk menghantamnya dengan sangat keras, Viktor yang terkejut dengan apa yang Draco lakukan tadi terpental ke samping sampai belakang tubuhnya menghantam batang pohon dengan sangat keras.

Tongkat sihir yang melayang tadi langsung ditangkap oleh refleks Draco yang begitu luar biasa, ia akan berjalan ke arah Viktor sebelum berhenti di tengah saat akar pohon yang begitu kokoh dan muncul dari dalam tanah mengikat tubuhnya, begitu erat sampai ia tidak bisa bergerak.

Harry terlihat begitu terkejut, apalagi saat Viktor bangkit dari posisi semulanya dan mengucapkan kata Incerganio ke arah Draco, ia melihat Draco mencoba berontak sebelum menyadari kalau semakin ia berontak maka akar itu akan mencengkeram tubuhnya lebih erat lagi.


"Protego!" Ucap Draco untuk menghindari dari rasa sakit yang disebabkan oleh Incerganio dari Viktor, remaja itu juga mengucapkan Glacial setelah menyadari posisinya sudah mendingan.

Mantra terakhir yang Draco sebutkan tadi membuat akar yang mencengkeram tubuh Draco membeku sampai akhirnya berubah sebening kristal, remaja itu menggeliatkan tubuhnya yang mengakibatkan akar-es tadi pecah menjadi berkeping-keping banyaknya, membuat Draco bebas dari pengaruh sihir.

"Kau semakin berkembang dari tekahir kita berduel, Vik." Puji Draco dengan nada kalem.

"Sudah kubilang kalau kemampuanku sudah berkembang, Dray. Meskipun beberapa bulan lalu aku cukup sibuk dengan Quidditch, jangan pikir kalau aku tidak mengasah kemampuan berduelku." Jawab Viktor.

Draco memutar bola matanya, ia memasukkan tongkat sihirnya ke tempat semula, hal itu juga dilakukan oleh Viktor.

"Kau natural dalam hal ini." Hanya itu komentar Draco, remaja itu memberikan sebuah jempol untuk sepupunya yang dibalas Viktor dengan senyuman lebar di wajah tampannya.

Viktor berjalan menghampiri Draco yang masih belum beranjak dari tempatnya semula, pemuda itu merangkul sepupunya dengan erat seperti seorang sahabat akrab. Draco saja yang dirangkulanya tidak mengeluarkan ekspresi apa-apa kecuali wajah bosan seperti biasanya.

"Aku terima pujian yang kau berikan tadi sebagai kehormatan." Kata Viktor. 'Tidak biasanya kau memberiku komentar yang menyenangkan seperti ini."

Draco memutar bola matanya lagi, kelihatannya ia sering melakukan hal seperti itu ketika ia berada di samping Viktor yang sering sekali melakukan hal-hal bodoh yang tidak terduga.

Remaja berambut pirang platinum yang bernama Draco Malfoy akhirnya menyodok perut Viktor menggunakan siku kanannya, sebuah sodokan yang cukup keras tersebut membuat Viktor mengaduh pelan sebelum memegang perutnya.

"Jangan terlalu bangga dulu, kau masih harus banyak berlatih lagi." Kata Draco.

"Aww... kau tidak perlu menyodokku sekeras itu, perutku bukan tempat latihan tinju." Protes Viktor.

"Kau terlalu mendramatisir." Komentar Draco, remaja itu menatap ke arah langit Hogwarts yang saat ini mulai berwarna kemerahan, menunjukkan kalau hari telah sore. "Kurasa kau harus kembali ke dalam kapal, hari sudah semakin sore."

"Aku tahu, dan kalau satu jam lagi tidak kembali pasti Karkaroof akan mengadakan pesta pencarian untuk diriku."

Draco memberikan tatapan kepada Viktor, "Tentu saja, kau adalah peserta yang mewakili Durmstrang dalam turnamen ini. Karkaroof terkenal sebagai orang yang memiliki ambisi besar, ia menginginkan kemenangan ini dan aku tahu ia akan melakukan apapun termasuk akan mengurungmu bila itu diperlukan."

Viktor mengangguk, "Mungkin lebih baik aku segera kembali ke kapal." Ia berjalan menjauh setelah mengatakan tadi, namun Viktor berhenti sejenak saat menyadari kalau Draco tidak berjalan di sampingnya, "Kau tidak ikut?"

"Tidak, kau duluan saja. Ada sesuatu yang ingin kuurus." Jawab Draco pelan.

"Baiklah kalau itu yang kau mau." Kata Viktor sebelum pergi dari sana.

Setelah menyadari sepupunya telah pergi dari sana, Draco mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tempat itu benar-benar menyedihkan keadaannya, beberapa pohon tumbang, bebatuan besar hancur, tanah terkikis sampai tidak berbekas, dan masih banyak lagi yang tidak perlu ia sebutkan. Draco mengambil tongkat sihirnya dan menggumamkan Finite untuk mengembalikan keadaan tempat tersebut menjadi sedia kalau.

Draco melakukannya karena ia tidak ingin dirinya dan Viktor mendapat masalah yang serius, sebenarnya ia tidak masalah menerima hal itu namun ia sudah terlanjur janji pada ayahnya untuk tidak menarik perhatian yang terlalu berlebih dari pihak Hogwarts, terutama Dumbledore tentunya. Dan merusak tempat di mana Dumbledore berada akan menjadi sebuah tiket untuk mendapat perhatian berlebih dari Dumbledore, dan Draco tidak ingin hal itu terjadi sehingga ia mengembalikannya seperti awal sebelum rusak seperti ini.

Saat Draco selesai menggunakan sihirnya untuk memperbaiki tempat tadi, tiba-tiba ia merasakan sihir yang tidak begitu familier dengan dirinya namun juga tidak terlalu asing seperti pada umumnya, sumber dari sihir tadi berasal dari semak-semak di sebelah utara, tidak jauh dari tempat Draco berada. Remaja itu memasukkan tongkat sihirnya lagi, ia tersenyum kecil saat menyadari siapapun orang itu pasti dia telah berada di sana untuk menyaksikan duelnya bersama Viktor.

Draco berbalik menghadap ke arah semak-semak, tatapannya begitu tajam tertuju ke sana.

"Siapapun itu yang bersemunyi di sana cepatlah keluar, tidak ada gunanya untuk bersembutnyi di tempat seperti itu." Kata Draco dengan nada monoton.

Untuk beberapa saat lamanya tidak terjadi apa-apa di sana, namun mata Draco tetap tertuju ke sana tanpa sedikitpun mengalihkannya. Sebuah bunyi gemerisik terdengar dari sana, dan sebuah sosok muncul dari udara. Betapa terkejutnya Draco saat ia melihat sosok Harry Potter muncul dari udara begitu saja, dan ia melihat Draco dengan ekspresi sedikit gugup di sana. Ternyata Harry menyembunyikan dirinya menggunakan jubah gaib.

Harry memang terlihat gugup karena ketahuan memata-matai, namun Draco tahu kalau ia tidak sekalipun merasa takut atau apa, bahkan Harry kelihatan sangat tertarik. Sebuah emosi yang mirip seperti tekad terpancar dari balik mata emeraldnya, dan hal itu ditunjukkan kepada Draco.

Remaja berambut pirang platinum itu melipat kedua tangannya di depan dadanya sebelum mengamati murid dari Hogwarts yang bernama Harry Potter. Dia terlihat tampan, berambut hitam tebal yang berantakan seperti rumor, berwajah tampan yang mungkin akan berkembang lagi ketika ia menginjak usia dewasa, dan yang membuat Draco kecewa adalah Harry itu jauh lebih tinggi dari dirinya, sebuah fakta yang menyakitkan.

Keduanya tidak mengucapkan sepatah kata apapun, hanya berdiri dan saling melemparkan pandangan untuk satu sama lain. Bahkan Harry yang awalnya sedikit gugup berhadapan dengan remaja berwajah manis di depannya kini bisa merasakan sihirnya mencoba untuk menenangkan dirinya.

"Er... hai." Hanya itu yang keluar dari mulut Harry saat ia tahu Draco tidak akan menyapanya sebelum Harry mengatakan sesuatu.

Dan nafas Harry terasa berhenti saat ia melihat bibir pink milik Draco melengkung ke bawah membentuk sebuah senyuman yang sangat manis, dan tanpa Harry sadari wajahnya bersemu merah ketika melihat senyuman yang Harry kira adalah senyuman dari seorang malaikat.


AN: Dan begitulah isi chapter ini, semoga tidak terlalu mengecewakan

Author: Sky