Disclaimers:
Kuroshitsuji © Yana Toboso.
Rating: T++
Relationship: Mainly Sebastian Michaelis & female Ciel Phantomhive.
Main Characters: Ciel Phantomhive, Sebastian Michaelis, Allois Torancy, Elizabeth Ethel Cordelia Midford, and many more.
Genres & Warnings: Alternate Universe - Modern Setting, Gender Bender, Drama, Romance, Angst, Comedy, Friendship.
o
My butler is my lover
Riren18
o
Tenang dan damai. Sinar mentari bersinar dengan lembut dan nyanyian para burung terdengar merdu seperti biasa. Bunyi suara roda berputar menggema di sepanjang lorong kediaman keluarga Phantomhive. Sebastian pun memulai pekerjaannya seperti biasa di pagi hari di awali dengan mengantarkan morning tea untuk nona mudanya yang mungkin masih tertidur di ranjangnya. Sepoci earl grey tea dan perlengkapan lainnya telah berada di dalam trolly. Sesampainya di depan kamar, Sebastian mengetuk pintu terlebih dahulu. Tapi, pagi ini tak seperti biasanya karena ada sesuatu yang berbeda.
"Masuk saja, Sebastian."
Ya... Ciel sudah bangun. Sudah bangun tanpa di bangunkan oleh Sebastian. Dengan perlahan Sebastian membuka pintu kamar Ciel dan mendorong trolly nya masuk ke dalam. Ciel kini terduduk di tepi ranjangnya sambil memandang keluar jendela. Sebastian pun menuangkan earl grey tea ke dalam cangkir yang biasa Ciel pakai untuk morning tea nya.
"Ini teh anda, lady."
"Terima kasih, Sebastian."
Ciel menyesap teh yang masih mengeluarkan uap panas. Wangi teh selalu membuat Ciel merasa rileks dan tenang. Rasa tehnya sangat ringan dan teh ini merupakan salah satu teh kesukaan Ciel.
"Sebastian..."
"Ya?ada apa, lady?"
"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?"
"Tentu. Apa permintaan anda, lady?"
"Hari ini, maukah kamu pergi bersamaku untuk berkencan?"
"Berkencan?"
"Iya. Apa kamu mau?. Tapi, jika kamu tak mau tak apa-apa. Maaf aku meminta yang aneh-aneh."
"Maaf atas ketidaksopanan saya, lady. Suatu kehormatan bisa berkencan dengan anda. Tapi, apakah tidak apa-apa apabila berkencan dengan seorang pelayan?"
"Aku tidak merasa malu karena bagiku kamu lebih dari seorang pelayan, Sebastian."
"Baiklah. Dengan senang hati akan saya lakukan, lady."
"Bersiaplah. Jam 8 kita berangkat menuju London Amusent Park. Aku ingin kamu memakai pakaian yang lebih santai. Maksudku jangan memakai baju tugasmu. Apa kamu mengerti, Sebastian?"
"Saya mengerti, lady."
"Bagus. Sekarang kamu siap-siap dan aku juga akan siap-siap. Mulai hari ini aku akan menyiapkan segalanya sendiri."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian. Lebih baik kamu bersiap-siap."
"Bagaimana dengan sarapan, lady?"
"Kita sarapan di luar saja."
"Baiklah. Saya permisi, lady."
Sebastian keluar sambil membawa trolly yang berisikan sebuah poci teh dan cangkir yang sudah di pakai oleh Ciel. Sejujurnya Sebastian sangat terkejut atas permintaan Ciel yang mengajaknya berkencan secara tiba-tiba. Sebagai gentleman haruslah memenuhi keinginan seorang lady dengan baik. Rasa deg-deg an pun sangat di rasakan oleh pelayan tampan satu ini.
o
o
o
o
Setengah jam pun berlalu, kini Ciel sudah terlihat anggun dalam balutan one piece berwarna soft pink. Rambutnya sepunggung di biarkan tergerai dan sebuah bando berwarna senada menjadi penghias rambutnya. Tak lupa sepasang wedges berhak 5 cm dan sebuah tas mungil berwarna senada. Natural make up make her so gorgeous amd pretty. Ciel sesekali melihat tampilannya di cermin. Ciel selalu ingat perkataan sang bibi yang kini bertugas di negara tempat menara Eiffel berada, 'jika kamu akan berkencan untuk pertama kali maka kamu harus berdandan yang cantik agar laki-laki yang menyukaimu semakin jatuh cinta padamu. Jangan lupa untuk bersikap manis dan sopan.' Setelah di rasa sudah tak ada yang kurang, Ciel segera keluar dari kamarnya dan menuju keluar rumah. Ciel pun mencari-cari Sebastian yang belum tampak kehadirannya.
"Maafkan saya membuat anda menunggu, lady."
Ciel menolah ke sumber suara. Seketika sepasang mata safirnya membelalak terkejut melihat Sebastian. Tampak berbeda dari biasanya. Dengan jeans hitam yang di padukan dengan kaus putih polos yang di tambah dengan kardigan navy blue membuat Sebastian terlihat begitu maskulin dan modis meski bajunya terlihat begitu simpel. Sebuah kacamata berbingkai hitam pun malah menambah keseksian yang di milikinya. Ciel pun di buat terpana hingga tidak bisa berkata-kata.
"Penampilan saya aneh, ya."
Ciel tersadar dan segera menggelengkan kepalanya tanda ucapan Sebastian salah.
"Do you know?. You look so cool and handsome. I can't say anymore."
"Thank you. I'm so happy. You look so pretty and beautiful more than before, lady."
"Thank you so much. Are you ready to go?. Mulai sekarang jangan panggil aku lady atau semacamnya. Panggil aku dengan namaku, Ciel. Tidak ada protes."
"Baiklah, la... maksudku Ciel."
"Good boy. Lets go!"
Tak lama mobil Lamborghini putih milik Ciel pun meninggalkan mansionnya. Suasana dalam mobil terasa sama seperti waktu itu ketika keduanya sehabis mengantar kedua orang tua Ciel ke bandara. Sepi dan sunyi, yang ada hanya bunyi dengung AC.
"Sebastian, kita berdua belum sempar sarapan. Menurutmu kita mau sarapan di mana?"
"Bagaimana kalau di kafenya William?"
"Boleh saja. Ayo kita segera ke temoat kemarin."
"Tidak usah ke sana karena dekat sini dia punya cabang juga."
"Ya ampun banyak sekali ternyata cabang kafenya. William sungguh pebisnis muda yang luar biasa."
"Ya begitulah."
.
.
.
.
Hanya 10 menit perjalanan mereka sudah sampai di tempat tujuan. Spears Cafe memang benar paling oke. Selain menunya yang keren tapi murah meriah dan mereka sudah buka sejak pukul 7 pagi. Ketika masuk mereka di sambut oleh sang pemilik kafe itu. Ya... William.
"Welcome to Spears Cafe, miss and mr."
"Can you recommendation place for us?"
"Sure, miss. Please, follow me."
Ketiganya berjalan menuju tempat duduk yang berada di dekat lukisan klasik.
"Untuk menu sarapan, untuk makanan saya akan merekomendasikan sandwich telur dengan saus bayam di dalamnya. Lalu ada pancake dengan sirup apel dan kayu manis. Untuk minuman, ada teh hijau hangat dan ada susu full cream serta jus jeruk."
"Kami pesan pancake dengan sirup apel dan kayu manis. Untuk minumnya..."
"Jika boleh saya mau pesan cappucino dan untuk nona ini jus jeruk."
"Baik saya mengerti. Terima kasih sudah memesan. Silahkan menunggu dengan tenang. Saya mohon diri."
William pergi menuju arah dapur setelah undur diri dari hadapan keduanya. Ciel dan Sebastian agak terkejut melihat tingkah laku William. Bagaimana seorang pemilik kafe ikut melayani dan mencatat pesanan pembeli. Sungguh aneh memang tapi itulah yang terjadi.
"Walau kak Will itu pemilik kafe ini, dia adalah pemimpin yang baik dan bertanggung jawab serta suka membantu karyawannya yang mengalami kesusahan. Meskipun dia agak cerewet dan kadang jutek."
Sebuah suara sukses membuat Ciel dan Sebastian kaget setengah mati. Ternyata yang berbicara adalah Ronald.
"Maaf apabila aku mengkagetkan kalian berdua."
"Tak apa-apa, Ronald."
"Terima kasih. Oh, ya, kalian mau pergi berkencan ya?"
"Dari mana kamu tahu?"
"Pakaian yang kalian kenakan menjelaskannya secara tak langsung. Apalagi kak Sebastian yang berpakaian tak seperti biasanya. Kak Sebastian, kau keren sekali."
"Terima kasih."
"Ciel, kak Sebastian, aku pamit dulu ya. Mau bantu kak Will. Permisi."
Setelah kepergian Ronald suasana menjadi sunyi, hanya suara musik klasik yang terdengar. Tak lama, Ronald kembali lagi ke hadapan mereka sambil membawa pesanan mereka. Dengan hati-hati Ronald menaruh pesanan mereka di atas meja.
"Silahkan di nikmati hidangannya."
"Terima kasih, Ronald."
"Sama-sama, Kak Sebastian. Aku permisi."
Ronald pun menghilanh dari hadapan mereka. Sebastian dan Ciel mulai memakan sarapan mereka. Tak ada yang bicara hingga selesai makan, itulah prinsip yang di pegang keduanya ketika makan. Ciel tampak menikmati pancake yang tentu saja enak dan lembut itu dan jangan lupa sirupnya yang tak kalah enak. Setelah 10 menit, keduanya telah selesai dengan acara sarapan mereka. Segera mereka pergi dari kafe William setelah membayar makanan mereka. Setelah ini mereka menuju tempat tujuan hari ini.
o
o
o
o
Perjalanan menuju taman hiburan yang terkenal ini ternyata cukup jauh. Butuh waktu 40 menit untuk sampai sana dengan mobil. Segera keduanya menuju tempat pembelian tiket masuk.
"2 tiket untuk orang dewasa."
"Baik, total nya 1000 poundsterling."
Sebastian memberikan selembar pada penjual tiket dan dia pun kembali pada Ciel dengan 2 buah tiket. Tak perlu waktu lama, kini keduanya berada di dalam taman hiburan yang terkenal sekota London. Mereka bingung harus mulai dari wahana mana dulu.
"Sebastian, kamu mau naik wahana apa?"
"Bagaimana jika roller coaster? Apakah kamu berani, Ciel?"
"Tentu saja aku berani. Ayo, segera kita ke sana."
Ciel yang merasa tertantang pun menyanggupi tantangan dari Sebastian. Untung saja antrian tidak ramai sehingga mereka bisa langsung naik. Keduanya ada di bangku paling pertama. Permainan pun di mulai. Pada awalnya Ciel merasa biasa saja tapi seketika berubah ketika lintasan mulai naik, turun, dan berputar. Tanpa sadar di menggenggam erat tangan Sebastian dan tentu Sebastian membalas genggaman Ciel seraya memberi rasa aman pada Ciel. Teriakkan dari orang lain pun ikut meramaikan wahana yang cukup menantang adrenalin itu. Kini Ciel merasa agak pusing dan mual setelah kereta nya memasuki putaran kedua.
.
.
.
.
Kini Ciel duduk di sebuah kursi panjang yang berada dekat sebuah pohon yang tidak terlalu tinggi. Sementara Sebastian sedang membelikannya minum untuk Ciel. Wajah Ciel terlihat agak pucat, efek naik dari wahana yang membuatnya hampir muntah. Ternyata menaikki wahana seperti itu perlu persiapan agar tidak seperti ini dan satu lagi jangan memainkannya di awal. Tak lama Sebastian kembali membawa sebotol air mineral.
"Ciel, ini air. Di minum ya biar rasa mualnya hilang."
"Terima kasih."
Ciel pun meminum airnya hingga sampai setengah botol. Rasa mualnya perlahan menghilang. Sementara Sebastian masih khawatir dengan keadaan Ciel. Tiba-tiba dia teringat mempunyai sesuatu yang mungkin bisa membuat Ciel bersemangat lagi.
"Ciel..."
"Ya?kenapa Sebastian?"
"Kamu mau pilih yang ada di dalam saku sebelah kanan atau saku sebelah kiri dari kardigan yang ku pakai?"
"Hmmmm...aku pilih yang sebelah kanan saja."
Sebastian mengeluarkan benda yang berada di dalam saku kanannya. Sebuah gelang yang manis dan lucu serta tak lupa warnanya sesuai dengan pakaian yang Ciel pakai. Di gelangnya ada sedikit renda-renda putih membuat gelang tersebut tampak girly. Sebastian pun memasangkan gelang itu di pergelangan tangan kanan Ciel dan gelang tersebut sangat cocok di pakai oleh Ciel. Ciel pun merasa lebih baik dari sebelumnya.
"Gelang yang manis. Terima kasih, Sebastian. Aku sangat menyukainya."
"Sama-sama dan syukurlah jika kamu menyukainya."
"Karena aku sudah merasa lebih baik. Selanjutnya kita mau ke mana?"
"Bagaimana kalau kita coba masuk ke Haunted House?"
"Baiklah. Ayo kita ke sana."
Sebastian dan Ciel memutuskan untuk ke rumah hantu. Sesampainya di sana mereka mendapat giliran pertama untuk masuk ke dalam. Tentu saja yang namanya rumah hantu pasti gelap dan terasa menyeramkan. Ciel pun tak rela melepaskan lengan Sebastian yang kini sedang di peluk erat olehnya. Efek-efek suara seram pun suksea membuat Ciel makin paranoid dengan keadaan di dalam rumah hantu itu. Sementara Sebastian terlihat tenang-tenang saja dan tersenyum melihat tingkah laku Ciel saat ini. Tiba-tiba sebuah tangan memegang bahu Ciel. Ciel pun menggerakkan kepalanya ke arah belakang dengan gerakan seperti robot. Tangan boneka berbentuk hantu perempuan memegang pundaknya, lalu...
"AAAAAAAAAAAA..."
Teriakkan Ciel menggema di sepanjang lorong gelap itu. Sebastian pun menutup telinganya sebentar lalu menghampiri Ciel yang kini terduduk lemas di lantai dan gemetaran akibat kejadian barusan. Hari ini Sebastian melihat sisi lain dari seorang Ciel Phantomhive yang di kenalnya selalu berani.
"Apa kamu baik-baik saja, Ciel?"
Tak di sangka Ciel memeluk Sebastian dan menangis. Sebastian cukup terkejut tapi segera dia mengelus punggung Ciel untuk menghilangkan rasa takutnya. Cukup lama keduanya berpelukan hingga Ciel mengangkat kepalanya dari dada Sebastian. Terlihat wajahnya begitu sembab karena habis menangis.
"Kamu masih takut, Ciel?"
Ciel segera menenggelamkan wajahnya ke lengan Sebastian tanda dia masih takut. Sebastian pun membimbingnya menuju jalan keluar dari rumah hantu. Tak lama keduanya telah selesai melewati rumah hantu itu. Wajahnya Ciel sudah tidak begitu sembab lagi seperti tadi, meskipun hidung mungilnya masih memerah. Segera juga Ciel melepaskan lengan Sebastian yang sedari tadi dia peluk dengan erat.
"Sebastian, terima kasih dan jangan bilang siapa-siapa jika aku takut dengan hal seperti itu."
"Tenang saja aku tak akan memberitahukan pada siapa pun. Menjagamu adalah bagian dari tugasku juga."
"Ya, kamu benar. Tapi, yang tadi aku sangat memalukan."
"Menurutku wajar saja jika seorang perempuan takut akan sesuatu. Malah bagiku terkesan manis."
"Jadi kamu suka jika aku ketakutan begitu?"
"Bukan begitu. Bagiku kamu lebih manis dari yang biasanya."
"Dasar gombal. Selanjutnya kita mau ke mana lagi?"
"Bagaimana dengan komedi putar?"
"Baiklah. Ayo kita ke sana."
Keduanya melangkah menuju wahana komedi putar dan ternyata wahana tersebut sudah di penuhi oleh orang-orang dan hanya menyisakan satu kuda saja. Tanpa pikir lagi, Ciel segera menarik Sebastian ke dalam. Sebastian agak bingung dengan sikap Ciel yang tiba-tiba seperti ini.
"Sebastian, bantu aku naik."
"Baik, tuan putri."
Sebastian membantu Ciel naik ke atas kuda mainan yang terlihat agak cukup tinggi bagi Ciel.
"Sekarang giliran kamu yang naik."
"Naik?wahananya sudah penuh."
"Di belakangku masih kosong kan?"
Sebastian mengerti perkataan Ciel barusan. Segera dia naik di belakang Ciel. Wahana pun mulai bergerak dan berputar perlahan. Orang-orang melihat mereka seperti tuan puteri dan pangeran yang menaikki sebuah kuda putih. Sementara yang menjadi objeknya malah seakan tak peduli dan menikmati wahana yang lucu ini.
.
.
.
.
Setelah memainkan beberapa wahana, mereka berdua merasa haus dan lapar. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Sebastian dan Ciel sepakat ingin mengisi tenaga mereka di sebuah toko klontong kecil bernuansa jepang. Ciel menunggu Sebastian di sebuah kursi panjang tak jauh dari tokoh itu. Tak lama Sebastian kembali dengan 2 kotak makanan dan 2 botol air mineral.
"Ini untukmu, Ciel."
"Terima kasih."
Ciel pun membuka kotak makanan itu dan agak bingung ketika melihat makanan yang ada di dalamnya. Ciel pernah melihatnya di televisi dan belum pernah makan makanan seperti ini.
"Aku pesan mini bento yang berisikan onigiri atau nasi yang di padatkan yang berisi daging ikan salmon serta rumput laut yang berwarna agak kehitaman itu. Lalu yang satu lagi yang berbentuk agak bulat bernama karage atau daging ayam yang di beri tepung lalu di goreng. Makanan ini berasal dari negara Jepang."
"Begitu ya. Ternyata kamu banyak tahu, Sebastian."
"Terima kasih atas pujiannya."
Ciel pun memakan onigiri dan dia terkejut karena rasanya begitu lezat dan terasa berbeda dengan makanan yang sehari-hari dia makan. Sebastian tampak senang karena Ciel tampak menikmati makanan yang di makannya. Keduanya pun makan dengan hikmat hingga akhir.
o
o
o
o
Hampir seharian mereka bermain di taman hiburan itu dan kini langit sudah berubah warna. Sang surya pun sudah berada di ufuk barat. Sebastian dan Ciel sudah mulai merasa lelah setelah bermain hampir seharian. Di dekat taman hiburan itu ada sebuah pantai yang bagus. Pasirnya begitu putih dan lingkungan pantainya masih asri dan bersih. Pemandangan sunset dari pantai itu sangat indah oleh karena itu Sebastian mengajak Ciel pergi ke pantai itu dan kini keduanya duduk di atas pasir sambil menunggu matahari berganti dengan bulan.
"Ciel..."
"Ya?"
"Thanks for today."
"Me too. So fun today, thanks a lot, Sebastian."
"Ciel..."
"Kenapa?"
Tiba-tiba Sebastian menarik lengannya lembut dan membuatnya berdiri. Sebastian masih terdiam sambil memegang tangannya tapi matanya berkata lain, seperti ada sesuatu yang tersembunyi di sana. Tak lama Sebastian berlutut di hadapannya dan memegang tangan kanannya. Tentu Ciel terkejut sekaligus penasaran akan kelanjutan situasi ini. Tatapan Sebastian membuat perasaannya menjadi campur aduk.
"Please listen to me, Ciel Phantomhive. Sejak pertama aku bertemu denganmu aku merasa kagum akan kebaikan mu padaku dan tingkah lakumu. Pada akhirnya rasa kagum ku berubah menjadi cinta, ya... cinta seorang laki-laki pada perempuan. Aku cinta padamu, Ciel. Maaf apabila aku yang hanya seorang butler jatuh cinta padamu yang merupakan majikan ku. Jika kamu bersedia, mau kah kamu menjadi kekasih ku?"
Degup jantung Ciel seketika berdebar dengan kencang. Wajahnya terasa agak panas. Ciel kini merasa senang,terharu, dan terkejut karena Sebastian memintanya menjadi kekasihnya. Ciel pun segera menjawab perasaan Sebastian.
"Sebastian, aku tidak peduli dengan status sosialmu. Do you know?. I'm falling in love with you since our first meet. Aku mau jadi kekasihmu tapi kamu harus berjanji untuk selalu bersamaku di saat apapun dan setia hanya padaku. Mau kah kamu berjanji?"
"Ya, aku berjanji akan selalu bersamamu dan setia hanya padamu, Ciel. Bolehkah aku memelukmu?"
Segera Ciel memeluk Sebastian yang jauh lebih tinggi darinya. Rasa bahagia kini telah menyelimuti keduanya. Bersamaan dengan terbenamnya matahari, keduanya pun berciuman dengan lembut. Kisah baru untuk keduanya akan di mulai...
.
.
.
.
To be continue
Author Note:
Hai minna san Riren balik lagi nih ㄟ(≧◇≦)ㄏ
Maaf Riren baru bisa update lagi ceritanya T_T karena belakangan ini Riren lagi banyak tugas kuliah dan kegiatan lainnya #curhat XD. Semoga chapter inu bisa membuat para reader senang dan terpuaskan hahaha XD #plak. Mulai chapter depan Ciel dan Sebby akan masuk babak baru hohoho XD #ditabokreader. Nantikan kisah selanjutnya dari Ciel dan Sebby ya ^O^. Bye-bye minna san └(^o^)┘.
Salam peluk dan cium
Riren
