Halo...!
Cyaaz dtg untk mnepati jnji Update sabtu.
Udah ya, jangan ganggu Cyaaz sampe minggu depan, jangan TERROR Xyaaz!
Enjoy!
Warning!
Sering ada Flashback dan lain-lain tanpa adanya peringatan.
Disclaimer: Kalau Cyaaz yang bikin dan punya GS/D, udah Cyaaz bikin Happy Ebding thu AsuCaga (Setelah puas nyiksa Athrun), DM, SS, dll...
Life and Fate
Chapter 03
"Apa, sebulan?" Caridad dan suaminya terkejut dan mengulangi apa yang baru mereka dengar, saat ini mereka sedang menikmati santapan pagi bersama seorang tamu yang menginap di rumah mereka sejak semalam.
"Iya, sekitar 1 bulan," ucap pemuda berambut biru gelap di hadapan Caridad. "Jika Paman dan Bibi tidak keberatan... Aku ingin menetap di sini selama liburanku, lalu beberapa minggu di awal semester juga aku akan tetap di Orb," ujarnya. "Tentu saja seluruh biaya menginap, makan dan yang lainnya akan kutanggung, lalu-."
"Permasalahannya bukan uang, Athrun," Haruma memotong kalimat Athrun. "Apakah Patrick-san tidak keberatan?" tanyanya. "Kalau paman dan bibi, kami sama sekali tidak keberatan."
"Itu benar, justru kami merasa senang kalau kau lama tinggal di sini, Athrun," ucap Caridad. "Hanya saja rasanya jadi tidak enak pada Patrick-san, apalagi kau bilang masih mau di sini sampai awal semester depan... Bagaimana dengan sekolahmu?"
"Mengenai semua itu tidak perlu dikhawatirkan lagi, aku dan ayah sudah membicarakannya dan kami sudah sepakat," jawab Athrun. "Selama liburan aku akan membantu Paman dan Bibi, apa pun yang kalian butuhkan, lalu saat sekolah dimulai aku akan mengikuti kelas virtual ZAFT," ujarnya. "Kebetulan program kelas virtual ini masih dalam masa percobaan bagi ZAFT, aku akan membantu ayah dalam meninjau dan mengevaluasi program ini dengan mengikuti kelas virtual selama beberapa minggu."
"Wah, luar biasa..." Haruma tersenyum pada Athrun. "Jadi kau membuat kesepakatan dengan ayahmu, mencari jalan tengah yang sama-sama menguntungkan bagi kalian?" Athrun mengangguk. "Seperti biasa, kau cerdas dan selalu pandai mencari kesempatan, Athrun."
Athrun tertawa kecil. "Negosiasi dengan ayah memang selalu berjalan alot, karena itu lah aku harus membuat kesepakatan yang menguntungkan juga untuknya."
Caridad tersenyum menatap suaminya dan Athrun yang sedang asyik mengobrol, mengingatkannya pada sang putera tunggal keluarga Yamato.
'Seandainya kau di sini, Kira...'
Kini senyuman Caridad berubah menjadi senyuman miris, mengingat Kira tak lagi dapat mewarnai hari-harinya bersama keluarga kecil ini.
"Sayang?" Caridad terkejut saat suaminya memanggil. "Kau tidak apa-apa?"
"Ah, iya," Caridad berusaha bersikap normal. "Maaf, tadi aku melamun."
Haruma menatap istrinya dengan tatapan mengerti sambil membelai rambutnya. "Maaf, hari ini pun aku harus berangkat pagi," ucapnya. "Tuan Kisaka memintaku mengerjakan beberapa proyek yang harus selesai minggu ini."
Caridad tersenyum dan mengangguk. "Tidak apa-apa, bukankah ada Athrun yang menemaniku?" ia menoleh pada Athrun, lalu kembali pada suaminya. "Lagipula, Cagalli pasti akan datang nanti."
"Ah, iya," Haruma terlihat sedikit lega. "Untunglah sudah musim liburan, Cagalli jadi sering ke sini ya,"
"Iya, dia anak yang baik," sahut Caridad. "Dia selalu menemani dan membantuku sampai sore, padahal dia kan juga harus mengurus rumah dan memasak untuk Uzumi-san."
"Sekali-kali ajaklah mereka makan malam di sini, pasti menyenangkan," Haruma meminum sisa kopinya yang hampir habis.
"Ya, baik lah," jawab Caridad. "Akan kubuatkan kebab kesukaannya dan..." menoleh pada Athrun. "Cabbage roll untukmu, Athrun."
"Ah, Bibi..." Athrun yang daritadi hanya diam akhirnya angkat suara. "Tidak perlu repot-repot."
"Tidak repot, sama sekali tidak," sahut Caridad. "Kami senang menyambutmu di sini, ya kn, Sayang?"
Haruma mengangguk. "Kau sudah seperti anak kami juga, Athrun."
Athrun hanya bisa tersenyum menerima perlakuan baik dari keluarga Yamato. "Terima kasih, paman dan bibi selalu baik padaku."
Obrolan pun berlanjut hingga Haruma pergi meninggalkan rumah untuk bekerja, sedangkan Caridad dan Athrun membereskan meja makan dan dapur bersama-sama.
"Oya, Athrun," Caridad memanggil Athrun yang sedang mengelap meja makan. "Bisa minta tolong?"
"Tentu saja, Bi," jawab Athrun. "Ada apa?" ucapnya sambil menghampiri Caridad di dapur.
"Ini, bisa kau antarkan ini ke rumah Cagalli?" Caridad sedang membungkus sayuran dan lauk ke dalam plastik. "Gadis yang kemarin bersamamu itu, dia tinggal di dekat sini."
"Oh, tentu," jawab Athrun. "Di sebelah mana rumahnya?"
"Keluar dari pintu, kau jalan saja ke kanan," Caridad merapikan bungkusan makanan untuk Cagalli. "Hanya terpisah 2 rumah dari sini, rumah berpagar cokelat."
"Oh, baik lah, Bi," ucap Athrun sambil menerima bungkusan plastik dari Caridad. "Ada pesan untuknya?"
Caridad menggeleng. "Bilang saja, ini sedikit bingkisan untuk tambahan makan siang," ucapnya. "Oya, katakan padanya soal undangan makan malam nanti ya?"
Athrun mengangguk. "Baik lah, aku pergi sekarang."
Dengan itu Athrun melangkah ke luar rumah dengan pakaian sederhananya. Ia berjalan santai menuju rumah Cagalli, sesekali menoleh untuk memperhatikan lingkungan sekitar. Kompleks pemukiman yang cukup baik suasananya, tatanan bangunannya pun rapi. Tak lama Athrun tiba di depan pagar berwarna cokelat dengan bangunan rumah sederhana bernuansa putih dan cream di dalamnya, segera ia membuka pagar tersebut dan berdiri di depan pintu.
"Permisi?" seru Athrun sambil mengetuk pintu. "Maaf, apa ada orang?"
"Ya, sebentar!" terdengar suara dari dalam rumah, Athrun mengenali suara itu. "Ya, ada apa...?" Cagalli membuka pintu rumahnya.
Athrun tersenyum pada gadis berambut pirang yang sedang menatapnya dengan heran. "Selamat pagi, Cagalli."
"..." Cagalli mengamati sosok Athrun untuk sesaat. "Kau lagi, ada perlu apa?"
Athrun kembali tersenyum, ia memaklumi sikap Cagalli yang terkesan dingin padanya. "Ini, bibi Caridad memintaku mengantarkan ini," ucapnya sambil memberikan bungkusan makanan pada Cagalli.
"Eh?" Cagalli memperhatikan dan mengintip isi kantung plastik yang ia terima. "Ya ampun, Bibi..." ia menggelengkan kepalanya. "Selalu saja repot-repot begini, padahal sudah kubilang tidak usah."
"Bibi Caridad sangat menyayangimu ya," ucap Athrun, membuat Cagalli teringat padanya. "Beliau kelihatannya sangat memperhatikanmu."
"..." Cagalli senpat terdiam, lalu ia membukakan pintunya dan mempersilahkan Athrun masuk. "Ayo ke dalam?" ajaknya. "Mampir lah, terima kasih sudah mengantarkan ini."
"Ah, tidak usah," Athrun merasa sungkan. "Hanya begitu saja, lagipula bibi Caridad yang-."
"Akan kutraktir kau makan," potong Cagalli. "Sebagai ucapan terima kasihku untuk yang kemarin."
"..." kini giliran Athrun yang terdiam sejenak. "Tidak usah, kemarin kebetulan saja aku memutuskan untuk pergi ke makam dan bertemu denganmu di sana, lalu aku membagikan payungku denganmu dan pulang bersamamu," ujarnya. "Malah kau mengantarku sampai ke rumah bibi Caridad."
"Ya, tapi tetap saja," Cagalli bersikeras. "Kalau tidak, akan kuajak kau berkeliling," ucapnya. "Aku tidak tenang kalau belum memberimu apa-apa."
Athrun tersenyum memperhatikan Cagalli, gadis ini memang sebaik yang Kira ceritakan padanya. "Baik lah, kau bisa ajak aku berkeliling nanti," ucapnya. "Aku ingin tahu semuanya, tempat di mana Kira tinggal dan menghabiskan waktunya selama 3 tahun kami berpisah."
Cagalli mengangguk. "Baik, serahkan semua padaku," ia tersenyum, baru kali ini Athrun melihat gadis itu tersenyum secara langsung. "Tapi sekarang," Cagalli menarik pergelangan tangan Athrun. "Masuk lah dulu, minum kopi atau apa pun."
"Eh?" Athrun terkejut dan bingung, namun ia tetap mengikuti langkah Cagalli. "Tapi aku kan..."
"Tunggu aku di sini ya," Cagalli membimbing Athrun untuk duduk di ruang tamu, menyuguhi pemuda itu dengan segelas kopi kemasan yang selalu ia sediakan untuk para tamu. "Aku akan ganti baju sebentar, lalu aku ikut denganmu ke rumah Kira."
Belum sempat menjawab, Cagalli sudah meninggalkan Athrun sendirian di ruang tamu. Pemuda itu akhirnya hanya bisa pasrah, ia sandarkan punggungnya pada sofa.
"Gadis itu, bisa-bisanya membiarkan orang asing masuk ke dalam rumah," gumamnya. "Sudah begitu, aku malah ditinggal sendirian."
Dengan rasa heran yang masih berputar di hatinya, Athrun mengedarkan pandangannya untuk mengamati ruangan tempatnya berada. Tidak banyak barang atau hiasan yang terpajang di ruangan ini, hanya beberapa buah sofa, sebuah meja tamu dan beberapa lukisan yang ditempel di dinding. 2 buah bingkai foto terpajang di atas meja kecil di sudut ruangan, sebuah foto keluarga dengan Cagalli kecil dan sebuah foto kelulusan SMP gadis itu.
Athrun memperhatikan kedua foto tersebut, ia hanya dapat menemukan foto sang ibu dalam foto dengan Cagalli kecil di dalamnya. Di dalam foto yang lain hanya ada Cagalli dan sang ayah, hal itu membuat Athrun penasaran dan berpikir apakah Cagalli bernasib sama dengannya? Ditinggalkan oleh sang ibu, Athrun ingin tahu apa Cagalli juga mengalami hal itu?
"Maaf, menunggu lama," Cagalli muncul dengan celana jeans dan T-shirt merahnya. "Ayo kita berangkat?"
Athrun mengangguk, lalu bersama Cagalli kembali ke kediaman keluarga Yamato.
~ Cagalli ~ (-_-) ~ Athrun ~
"Eeh... Jadi liburan nanti kau akan pergi ke PLANT?" mata Cagalli berbinar-binar, membayangkan gemerlapnya kota metropolitan bernama PLANT. "Enaknya..."
Kira mengangguk penuh antusias. "Ya, selama seminggu aku akan pergi dan berlibur di sana."
"Curang..." Cagalli cemberut. "Aku juga ingin ke sana, aku belum pernah ke PLANT."
Kira tertawa geli. "Tidak ada yang istimewa kok di sana, aku yang tinggal lama di sana saja merasa kota itu biasa saja," ujar Kira. "Malah kalau untuk liburan, kurasa Orb adalah tempat yang lebih bagus."
"Lalu kenapa kau ke PLANT?" tanya Cagalli. "Kalau memang Orb lebih bagus, liburan saja di sini bersamaku dan yang lain."
Kira tersenyum mendengar ucapan Cagalli. "Aku ke sana untuk mengunjungi sahabatku, itu saja."
"Oh, sahabatmu si Arthur itu ya?" tanya Cagalli polos.
"Athrun, bukan Arthur," ralat Kira. "Kenapa sih kau sulit sekali mengingat nama orang lain?"
"Hmmh, iya, iya, Athrun," ucap Cagalli. "Apa boleh buat, nama Athrun itu jarang ada dan susah diingat."
"Kalau namaku, bagaimana?" tanya Kira.
"Eh?" wajah Cagalli merona. "Kalau namamu kan... Mudah dieja dan..." Cagalli mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Dan apa?" tuntut Kira, menatap Cagalli.
"Dan, dan..."
"Kenapa kau tidak ajak Cagalli ikut bersamamu ke PLANT, Kira?" tiba-tiba Caridad menghampiri puteranya di euang makan dengan membawa teh dan biskuit. "Kalian kan bisa berlibur bersama di sana."
"Ibu?" Kira terkejut dengan kemunculan ibunya, sedikit kecewa.
"Iya, benar!" Cagalli buru-buru menambahkan. "Aku juga ingin ikut, ajak aku, Kira!"
"..." raut wajah Kira mendadak kusut. "Tidak boleh."
"Eh?" Cagalli dan Caridad sama-sama bingung.
"Kenapa?" tanya Cagalli. "Aku bawa uang sendiri, kau tidak perlu cemas soal itu."
"Bukan itu masalahnya," Kira merespon dengan dingin.
"Lalu apa?" Cagalli mulai kesal.
"Kenapa, Kira?" tanya Caridad lembut. "Bukankah akan menyenangkan?" ucapnya. "Lagipula nanti di sana ada Athrun, aku yakin Cagalli dan Athrun akan..."
"Nah, itu dia," sahut Kira. "Pokoknya tidak boleh, cukup aku saja yang pergi menemui Athrun."
"Apa-apaan kau ini?" Cagalli melipat tangannya di depan dada. "Melarangku dengan alasan tidak jelas begitu?"
"Pokoknya tidak boleh, ti-dak-bo-leh!" Kira bersikeras.
"..." Caridad tersenyum dan tertawa kecil memandangi puteranya, rasanya ia tahu alasan sebenarnya di balik perilaku Kira yang aneh. Caridad tidak menyangka, puteranya yang berhati lembut ternyata mampu berpikir dan bertindak seperti itu untuk melindungi apa yang berharga baginya.
'Dasar Kira, kau ingin menyimpan Cagalli-chan untuk dirimu sendiri kan?'
~ Cagalli ~ (-_-) ~ Athrun ~
"Bibi?" Cagalli membuka pintu rumah Caridad dan berseru memanggilnya. "Aku masuk ya?" tambahnya sambil melangkah memasuki rumah.
Athrun hanya menggeleng pelan melihat perilaku Cagalli, belum ada jawaban dari pemilik rumah namun ia sudah masuk begitu saja. Gadis yang begitu santai, namun terasa hangat di saat yang bersamaan. Setelah beberapa saat barulah Athrun menyusul masuk ke dalam rumah.
"Cagalli?" akhirnya Caridad keluar dari halaman belakanga. "Ohayou," ucapnya sambil membawa keranjang pakaian yang sudah kosong. "Maaf, bibi tadi mencuci baju di belakang."
"Pagi, Bi," balas Cagalli sambil menghampirinya. "Mau kubantu menjemurnya?"
"Eh, tidak," Caridad menggeleng. "Kau sudah terlalu banyak dan sering membantu bibi."
"Tidak apa-apa kan, Bi?" ucap Cagalli. "Lagipula aku sedang liburan, kalau pekerjaan di rumah sudah selesai aku dengan senang hati datang ke sini dan membantu bibi."
"Heeh, tapi kan kau-."
"Aku juga ingin mmembantu bibi," Athrun memotong kalimat Caridad. "Tidak baik kalau aku hanya menumpang tanpa membantu apa-apa."
"..." Caridad terdiam memperhatikan sosok Cagalli dan Athrun di hadapannya "Hhh, dasar kalian ini," akhirnya ia menyerah. "Baik lah, tolong belanja untuk bibi ya?" ucapnya sambil mengambil daftar belanjaan di meja makan. "Ada banyak yang harus dibeli untuk makan malam bersama nanti."
"Makan malam bersama?" Cagalli menghampiri Caridad. "Mengundang teman-teman Paman Haruma ya?"
"Loh, Athrun belum bilang?" tanya Caridad.
"Ah, maaf," Athrun menghampiri Cagalli dan Caridad. "Tadi belum sempat kukatakan, Bi."
"Hm?" Cagalli bingung. "Memang ada apa?"
"Hmm, nanti kau dan Uzumi-san harus makan malam di sini ya?" ucap Caridad. "Kita makan bersama, sudah lama kan kita tidak berkumpul dan ngobrol."
"Bibi..." Cagalli terkejut. "Ayah pasti senang," ucapnya. "Baik lah, aku akan membantu sebisaku," ia tersenyum bersemangat. "Walau aku tidak bisa membantu memasak, tapi apa pun yang lain akan kulakukan."
Caridad tertawa kecil melihat Cagalli. "Iya, iya... Makanya, sekarang pergi lah belanja ya?" ucapnya sambil memberikan daftar belanjaan pada Cagalli. "Biar Athrun ikut dan membantumu."
Cagalli mengangguk sambil menerima daftar belanjaan, lalu bersama Athrun pergi meninggalkan rumah. Sepanjang perjalanan Athrun merenungi beberapa hal, terutama mengenai gadis yang saat ini berjalan bersamanya. Sesuai dengan apa yang diceritakan oleh Kira padanya, gadis bermata amber ini berhati ceria, ramah dan hangat. Cagalli juga merupakan sosok yang jujur dan penuh semangat. Namun Athrun menyadari sedikit kejanggalan, entah bagaimana ia dapat merasakan kepalsuan pada setiap senyum yang ditunjukkan Cagalli sejak pwrtama ia melihatnya. Seolah dipaksakan, gadis itu tersenyum dan berusaha ceria untuk menutupi luka di dalam hatinya.
"Hey, Athrun?" Athrun tersentak dan terbangun dari lamunannya saat Cagalli memanggilnya. "Namamu Athrun kan?"
"Ah, iya," jawab Athrun kikuk. "Athrun Zala."
"Hmm," Cagalli mengangguk. "Kalau aku..."
"Cagalli Yula Athha, ya kan?"
"Eh?" Cagalli menatap Athrun dengan heran. "Kau tahu?"
"Tentu saja, aku tahu banyak hal tentangmu," ujar Athrun. "Kira sering membicarakanmu."
"Eh, begitu?" Athrun menyadari raut wajah Cagalli sedikit berubah. "Dia sering membicarakanku ya, aneh..."
"Memangnya apanya yang aneh?" tanya Athrun. "Aku dan Kira bersahabat, kami sangat dekat... Jadi wajar kan kalau-."
"Nah, justru itu..." Cagalli memotong kalimat Athrun. "Kira, dia hampir tidak pernah membahas tentangmu."
"Huh?" Athrun terkejut dengan pernyataan Cagalli barusan, apa benar Kira tak pernah membahas tentang dirinya di hadapan Cagalli? "Apa iya? Padahal Kira selalu membicarakanmu dan teman-temannya di Orb tiap kami bicara di telepon."
Cagalli mengangguk. "Iya, benar..." jawabnya. "Karena itu lah, aku tidak mengenalimu saat kita bertemu kemarin," ujar Cagalli. "Berbeda denganmu yang langsung mengenaliku."
"..." Athrun mengangguk kecil, sekarang ia mengerti kenapa gadis ini bersikap dingin padanya kemarin, baginya ia adalah orang asing. "Meski kau tidak mengenalku, tapi kau bisa-bisanya mengajakku masuk ke dalam rumahmu?"
"Hm?" Cagalli menoleh. "Memangnya ada yang salah dengan itu?"
Athrun tersenyum. "Aku ini kan orang asing, bagaimana kalau aku mencuri benda-benda berharga saat kau meninggalkanku di ruang tamu tadi?"
"Hmm, tapi kau kan teman Kira," ucap Cagalli. "Semua teman, apalagi sahabat Kira adalah sahabatku juga," tambahnya sambil tersenyum. "Dan aku yakin, kau adalah orang yang baik, tidak mungkin melakukan hal-hal seperti itu."
"..." untuk ke sekian kalinya, Athrun dibuat terheran sekaligus tertarik oleh gadis bernama Cagalli, ia begitu positif dan apa adanya.
'Persis seperti yang selalu kau katakan, Kira...'
Athrun memperhatikan sosok Cagalli yang sedang tawar-menawar di sebuah toko sayuran, terlihat pancaran aura gadis itu yang dipenuhi kehangatan. Walau sedikit redup, Athrun masih dapat merasakan cahaya penuh warna yang terpancar dari seorang Cagalli Yula Attha.
'Sepertinya kau tidak perlu mencemaskannya, Kira.'
Athrun menengadahkan kepalanya untuk menatap langit. Sekarang ia mulai mengerti, mengapa Kira jatuh cinta pada seorang Cagalli.
'Cagalli-mu ini adalah gadis yang kuat dan juga luar biasa.'
~ To be Continued ~
Dan... Selesai!
Thanks 4 reading.
:D
Minggu dpn Cyaaz update lagi, Fic yg mn msih jd rhsia.
Hihi.
Lenora Jime: Karena tempat lain sudah ekstrim... Maka Cyaaz memilih pemakaman swbagai tempat pertemuan pertama mereka. :v Iya, mati. Tega ya yg nulis? #plak Lacus g ada...! Saingan Athrun ttp Kira, wlau udah mati ttp jd saingan kuat! :p Tetep baca ya, makasih dukungannya. :D
shigatsu-sanjyunichi: Woo, ternyata kau bnar2 dtg, thanks udah ikut baca & review L&F. :D Hmm? Astaga, Cyaaz g bs bayangin gmn klo jd tmnmu itu. :( Hahaha. Cyaaz bhkn g prnh nntn Ano Hana, gmn mau niru? :v Thanks udah follow, koreksiannya jg. Mklum ya klau jari kegedean & hp kekecilan jdinya rawan typo smcm itu. :v See You next timw. :D
