(Beta: shinseina)
Usahakan Bunshinmu Steril
NARUTO dan karakter milik Kishimoto Masashi
Lima Bulan Terakhir : Implisit, Eksplisit
Pagi itu Naruto bangun dengan mood jelek karena dia baru saja memimpikan bayinya memiliki wajah Akamaru.
Sepanjang hari itu, setiap melihat binatang berkaki empat, dia refleks memegangi perutnya dan membatin semua akan baik-baik saja walau dia sendiri tak yakin apa sebenarnya yang ditakutinya. Membuahi dirimu sendiri saja sudah sangat menakutkan dan ajaib...
Sakura telah memberikan penjelasan (pada suatu sore yang tenang, dan kunoichi medis itu membuatkan teh herbal serta memegangi tangannya dengan lembut saat mengatakan hal sadis tersebut) bahwa ada kemungkinan janinnya gagal tumbuh; karena berdasar teori biologi sederhana, sel kelamin dengan DNA yang sama akan memperbesar kemungkinan mutasi.
Naruto benar-benar ingin memahami apa yang coba dijelaskan oleh Sakura, tapi selama Sakura menjelaskan ini-itu pikirannya beralih membayangkan eskrim cokelat dan semilir angin di pinggir waduk Konoha. Dia tersentak sadar saat disudutkan oleh satu kalimat sederhana yang diucapkan Sakura di akhir penjelasannya. Membuat Naruto tak perlu lagi mencerna kalimat-kalimat rumit sebelumnya
"Naruto, besar kemungkinan bayi yang lahir nanti akan cacat."
Setelah itulah dia mulai memimpikan wujud bayinya, setiap malam... bahkan pernah dalam wujud kakek Fukasaku dan Orochimaru. Dia tidak menyalahkan Sakura dalam hal ini. Persiapan dini jauh lebih baik daripada kejutan tak menyenangkan di akhir nanti. Lagipula Sakura sepertinya sangat senang saat dia berkata akan mempertahankan bayinya, apapun yang akan terjadi.
"Jadi, kenapa Anggrek? Kau mau memberikannya pada seseorang 'kan? Sakura lebih suka Lili, lho. Ah, kalau Hinata... aku nggak tahu deh. Mungkin Anggrek bagus juga. Dia sih akan menerima apa saja darimu— "
Naruto berkedip namun tak membalas pertanyaan Ino. Dia hanya mengangsurkan dua lembar Ryo untuk membayar Anggreknya. Ino mendengus tak senang saat Naruto beringsut keluar dari tokonya dalam diam.
Di tikungan dekat toko perabot, Naruto memakan habis Anggreknya. Seorang murid akademi menatapnya keheranan tapi Naruto tak peduli. Dia terus berjalan dengan mulut penuh kelopak Anggrek, membuang kertas pembungkus di tempat sampah konbini terdekat, bahkan terus berjalan saat Sai memanggil.
"Hei, Naruto... kau ngemil... bunga?"
Naruto menelan cemilan anehnya, tidak membalas pertanyaan Sai.
"Ada waktu luang?"
Gelengan lemah. Tapi tampaknya Sai tak begitu peduli dengan jawaban itu karena dia terus merepetnya, "Mau ke Ichiraku? Aku yang traktir!"
Naruto berhenti berjalan, dia menatap Sai dengan tampang merana, lalu dia menangis dan terisak keras. Naruto menutup matanya dengan kedua lengan sambil terus terisak. Sai, tidak menyangka akan mendapat respon seperti itu hanya karena ingin menerapkan anjuran dari buku yang dia baca tentang menjaga persahabatan, berdiri kikuk tanpa tahu apa yang harus dia lakukan di situasi seperti itu. Di buku tidak disebutkan bagaimana menangani sahabatmu yang tiba-tiba menangis karena mau ditraktir ramen.
Tatapan para pejalan kaki yang lain membuat Sai tersadar dari shock, dia meraih tangan Naruto dan menyeretnya ke jalan menuju deretan pohon ginko di dekat tempat latihan shinobi. Sai berhasil mendudukan Naruto ke salah satu bangku kayu namun shinobi berambut pirang itu masih terisak.
"Heiii... ada apa denganmu?"
Naruto jelas mencoba menguasai dirinya. Dia cegukan beberapa kali, mengelap matanya, tersipu, kemudian menggeleng. Setelah itu dia terus menatap tanah.
Tak tahu lagi apa yang harus dilakukan, dan karena dia bukan tipe yang bisa memulai pembicaraan, Sai duduk di sebelah Naruto. Mereka saling mendiamkan. Cukup lama. Hingga akhirnya Naruto meraih kunai di kantong senjatanya sebelum berjongkok di tanah. Dia menulis, "Sori Sai aku nggak bisa ngobrol denganmu, tapi thanks!"
"Kau sedang melatih jutsu apa kali ini? Telepati?" Sai berkata tanpa pikir panjang, "Apa susahnya membuka mulutmu?"
Naruto kembali menulis, "Aku nggak mau mengeluarkan seluruh isi perutku. Aku sudah mencoba membuatnya penuh sejak pagi, jangan membuatku mengeluarkannya lagi."
Sai memandang tulisan Naruto di atas tanah, lalu pada penulisnya, lalu pada tulisan itu lagi, lalu dia mengambil kunai dari tangan Naruto dan menulis, "Dasar aneh. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit."
Naruto mengambil kembali kunainya dan menulis, "Aku bisa sendiri. Thanks."
Begitu Naruto memberi titik pada tulisannya, Sai segera menjambret tangan Naruto dan menyeretnya menuju rumah sakit.
"Bukankah sudah kubilang kalau aku ini penasehat medikmu? Kau bisa konsultasi denganku setiap waktu, Naruto."
Naruto mengerang dari tempat tidur periksa. Lengan kirinya yang tidak dipasangi selang infus berada di atas matanya sementara Sai duduk di dekat pintu sambil bersedekap dan mengawasi dua rekan satu tim-nya yang sedang berdebat. Naruto sudah bisa melakukan komunikasi verbal setelah Sakura menyuruhnya menelan beberapa pil berwarna merah cerah.
"Dia kenapa?" Sai bertanya untuk yang ketiga kalinya. Mereka sudah menghiraukannya sejak Naruto dipaksa berbaring, diberi infus, dan dicekoki pil merah.
"Masuk angin," Sakura menjawab sekenanya.
"Oh, jenis penyakit seperti apa itu hingga dia bisa bertingkah seperti perempuan?"
Sakura masih memiliki toleransi untuk beberapa cercaan Sai, tapi jelas rasisme gender tidak berada dalam daftar toleransi tersebut.
"Sai... punya banyak waktu luang ya? Kenapa nggak minta shishou menambah porsi misimu?"
Sai berkedip sekali sebelum menjawab, "Sudah. Ini hari liburku, mulai minggu depan aku ditugaskan di misi pengintaian."
"Kenapa nggak siap-siap?"
"Kalau belum, aku tak akan berkeliaran, kebetulan ketemu Naruto, dan mengajaknya makan ramen 'kan?"
"Kalau begitu cek sekali lagi!" dan sebagai impresi, Sakura mengacungkan tinjunya.
"Aku punya banyak waktu luang," Sai menjawab ngotot, "Aku bisa menggantikanmu menjaga Naruto. Kau sibuk 'kan?"
"Sai, sebenarnya aku sedang mengusirmu dari sini."
"Ya. Aku tahu."
"Sori? Apa?"
"Karena berarti ada sesuatu yang terjadi, dan aku tak termasuk di dalamnya, atau aku memang tak pernah dimaksudkan untuk ikut di dalamnya."
Sakura mendengus keras, "Nah?!"
"Nah...?! Seharusnya aku yang bilang begitu. Kita teman, kan?"
"Sai, begini—" Sakura baru akan berargumentasi lagi, tapi terpotong oleh gumaman pelan Naruto, "Ya?"
Naruto mengulang, "Akamaru..."
Ketika tak ada reaksi dari Sai maupun Sakura, dia melanjutkan.
"Sakura... efek samping... aku punya... teori aneh. Bagaimana kalau aku juga bisa memanipulasi bentuknya juga? Bagaimana kalau dia-atau-aku sendiri- bisa membuatnya melakukan henge dan terperangkap dalam bentuk itu sampai lahir?"
Dua reaksi diam 'tak-tahu-harus-bilang-apa'.
"Ah, sial... aku baru saja memikirkan Orochimaru," Naruto mengelus perutnya, "Jangan sampai... jangan sampai! Hiii..."
Sai mengamati Naruto yang bergidik, "Henge? Lahir? Orochimaru? Dia ngomong apaan sih?"
Sakura menghela nafas dengan pasrah; dengan ini Sai adalah shinobi kelima yang tahu mengenai kondisi Naruto.
"Ini mustahil."
Berdasarkan pengalaman dan kebijaksanaan yang dia anut, Yamato berusaha untuk tidak terlalu tertarik dengan segala sesuatu yang dilontarkan secara tiba-tiba oleh senpai-nya itu. Karena, sadar ataupun tidak, dia sering jadi korban entah itu untuk membereskan masalah atau jadi kambing hitam.
Jadi saat Hattake Kakashi menggumamkan itu berulang-ulang di suatu hari yang panas, di atas bangku tunggu di kantor Hokage sambil menerawang jauh ke luar jendela, Yamato tidak berniat untuk mendengarkan lebih jauh. Dia lebih memilih untuk fokus membaca kertas misi karena walaupun dia bukanlah komandan tim, Kakashi akan tetap menunjuknya untuk menjelaskan misi mereka pada anggota yang lain. Tapi mau tak mau Yamato masih harus setengah mendengar karena hanya ada mereka berdua di ruangan itu.
"Mustahil... tapi kenapa dia bisa? Ah, apa aku kurang hebat? Tapi masa kalah sama bocah yang bahkan belum pernah melakukannya dengan perempuan... Eh, nggak bisa dibilang begitu juga sih."
Yamato membeku dari tempatnya duduk, kertas misi di tangannya terabaikan. Kakashi masih terus bergumam.
"...apa aku harus melakukannya lebih dari tiga kali sehari? Masa? Apa dia melakukannya lebih dari tiga kali?! Eh, tunggu dulu... staminanya 'kan memang jauh di atasku. "
"Senpai...?"
"...mungkin faktor henge juga. Aku harus membuat punyaku lebih sexy lagi. Hmm... ya, kemungkinan besar itu semua gara-gara oirokeno jutsu."
Yamato mengenali jutsu laknat itu, dan kenyataan bahwa Kakashi sedang memikirkannya adalah kombinasi yang agak mengerikan.
"Ehm... Kakashi-san?"
Kakashi masih memandang keluar jendela, "Hmm? Tenzo... faktor lain yang tak akan pernah kuakui adalah karena aku sudah tua," dia menambahkan dengan datar, "Ternyata antara kemampuan seks dan ketrampilan shinobi tidak bisa dikaitkan ya... Hahaa..."
Yamato masih harus mengerjapkan matanya beberapa kali, tapi dia masih terus melihat ekspresi Kakashi yang sedang terduduk murung di sampingnya. Sebagai sesama pria serta gumaman monolog dari yang bersangkutan, Yamato tidak mau tahu alasannya apa...
Dia punya beberapa asumsi mulai dari Naruto membuatnya menilai oirokeno jutsu terbaru, atau Naruto menantangnya adu ninjutsu mesum lainnya, atau karena Kakashi akhir-akhir ini sangat sibuk sehingga kurang memperhatikan kebutuhannya yang berakibat pada degradasi kemampuan… seksnya, lalu menjadikan tingkah jahil Naruto sebagai pembanding.
Atau Kakashi dan Naruto melakukan seks bersama, lalu shinobi yang lebih tua itu merasa kalah, tersisih, telak, dimanfaatkan... Yamato benar-benar mengutuk pikirannya sendiri saat memikirkan asumsi tersebut dan berharap sepenuh hati agar dirinya tidak terlibat semakin jauh.
Namun sepertinya Kakashi punya pikiran lain.
"Tenzo, menurutmu berapa persen kemungkinan bisa menghamili wanita di usaha yang ketiga?"
Yamato menjawab kaku setelah beberapa kali menelan ludah, "Sa-saya kurang tahu..."
"Aku pernah mencobanya hingga enam kali," Yamato tersedak tapi Kakashi tak peduli, "...dan tak pernah berhasil. Mungkin memang faktor stamina dan chakra."
Kalau saja Kakashi bukan senior yang sangat dia hormati, Yamato pasti sudah menggetok kepalanya dengan ujung kunai karena sudah melibatkannya dalam pembicaraan ini. Dia juga mengumpat dirinya sendiri yang ikut terpancing.
"C-chakra? Kenapa chakra?"
"Eh? Tentu saja untuk mempertahankan henge dan bunshin," Kakashi menjawab sambil lalu, "Tunggu dulu... selain itu, bagaimana dia bisa tahu organ dalam wanita? Dia tak pernah membaca buku... apa dia pernah melihatnya langsung? Apa dia pernah merasakannya langsung?! Siapa yang mengajari?" kali ini Kakashi menarik pandangannya dari jendela untuk memandang wajah kebingungan Yamato. Dia menepuk kedua tangannya dengan penuh kemenangan, "Ah, iya... Jirai—"
"Kakashi-san... bisa tolong jelaskan padaku sebenarnya ada apa ini?"
Kakashi tersenyum penuh arti, "Yah, Tenzo. Jadi intinya, nyaris mustahil kalau kau mau membuat hamil bunshin-mu sendiri tanpa jumlah chakra yang menandingi Kyuubi, pengetahuan mengenai henge dan oirokeno jutsu yang kompleks... dan memiliki sensei yang tingkat imajinasinya bisa menciptakan cerita selevel seri Icha Icha..."
Lembaran kertas di tangan Yamato berserakan di atas lantai dan di bawah bangku.
"Tunggu... APA?!"
Sore itu Yamato pergi menemui Sakura untuk meminta penjelasan dan memberi sedikit bocoran informasi bahwa Hattake Kakashi sedang mencoba menghamili bunshin-nya sendiri. Dia juga berpesan pada Sakura untuk sedikit memberikan shock teraphy dan psikiatri pada sensei-nya itu dengan asalan sangat bijaksana; mencegahnya melakukan hal bodoh hanya untuk membuktikan kalau dia bisa melampaui muridnya sendiri.
Omake: (Enam tahun berlalu)
Tidak menularkan kebiasaan buruk masa kecil pada anaknya adalah salah satu bentuk kasih sayang yang bisa dia berikan sejak resmi menjadi Kage. Kakashi dan Shikamaru boleh saja menyebutnya over-protective, selama dia bisa membalas dengan menyuruh mereka segera memiliki anak. Mereka tak bisa komplain 'kan kalau dia mencegah Jiraiya menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan ramen cup padahal memiliki akses penuh untuk menyantap apapun sebagai anak dari seorang pemimpin desa ninja? Bagaimana perasaan Shikamaru dan Kakashi kalau mereka menemukan belasan sisa ramen cup setiap hari, di tempat sampah dan tiap sudut rumah setelah pulang dari menjalankan misi shinobi (atau dalam kasus Naruto, bersiaga penuh di meja Hokage)?
Ide meluangkan jam istirahat Hokage-nya dengan agenda sarapan-makan siang-makan malam bersama putra tercinta yang baru saja masuk akademi samasekali tidak bisa dikategorikan sebagai over-protective. Tapi gagasan untuk mengikutsertakan teman-temannya yang peduli pada pertumbuhan Jiraiya dalam ide kreatif ini sebenarnya tidak relevan. Naruto tahu itu, namun bagaimanapun orang-orang ini terus bermunculan.
Sarapan, dengan Sai
Pagi itu mereka makan jatah sarapan mewah Hokage seperti hari-hari biasa dan Sai mau berbaik hati mengantar set menu dari kantin. Sejak Hokage mereka menerapkan kebiasaan makan di rumah, para shinobi yang dekat dengannya jadi gemar menggantikan tugas para kurir kantin. Sai adalah salah satu shinobi itu, dan mungkin yang paling sering di antara semuanya.
"Ayah... apa itu seks?"
Naruto yang sedang mengobrol dengan Sai serentak membanting gelas susu di atas meja hingga sebagian isinya melayang di bajunya, di atas meja, dan nasinya sendiri. Sai memandang Naruto, melirik ekspresi Jiraiya yang tampak penasaran, lalu kembali menatap Naruto yang ternyata juga memilih untuk melakukan kontak mata dengannya. Keduanya saling bertatapan, agak lama, hingga Sai sadar Naruto tak akan bisa mengeluarkan suaranya untuk beberapa menit ke depan. Dia menggantikan kecanggungan itu dengan berkata dengan nada datar,
"Seks," Sai bisa merasakan Naruto bergerak gelisah, "...adalah proses yang membuatmu bisa lahir ke dunia ini."
"Oooh...," Jiraiya memandang Sai dengan takjub, "...lalu proses itu seperti ap—?"
"JIRAIYA!" dua orang terlonjak dan mengarahkan pandangannya pada si sumber suara; Naruto berdehem dan tampak malu tapi dia memaksakan diri menambahkan, "Itu adalah proses saat pria dan wanita saling jatuh cinta lalu mereka melakukan... eh, suatu—tarian ... spesial."
Sai yang duduk diam di sampingnya memberi kode non-verbal sejauh tampang datarnya bisa mengekspresikan 'kau-baru-saja-membuat-keputusan-bodoh'.
Telat, Naruto membatin.
"Oooh... jadi ayah melakukan tarian spesial itu dengan seorang wanita lalu aku lahir? Wow."
"Y...yaa... ahahahahaaa."
Dia bisa mendengar Sai berdecak meremehkan, tapi Jiraiya menyelesaikan porsi sarapannya tanpa bertanya apapun lagi. Naruto bisa mendengar anaknya bersenandung riang saat menutup pintu.
"...tarian spesial?" Sai bergumam dalam keheningan, dia juga menyodorkan lap kering pada Naruto yang hanya memainkan sumpit sejak memberikan jawabannya.
"Diam, Sai. Kau yang memulainya."
"Aku hanya membantumu memberikan definisi yang tak akan menyakiti kepolosan anak usia enam tahun."
"Kau adalah orang terakhir yang akan kumintai tolong menjelaskan seks pada Jiraiya. Enam tahun, ataupun enambelas tahun!"
Sai membalas dengan, "Hei, berapa usiamu saat Jiraiya lahir? Enambelas?"
"Kau bahkan belum pernah melakukan seks!" Naruto membalas sekenanya.
"..."
"..."
"Siapa bilang?"
Naruto, sedikit terhenyak, telah berteman cukup lama dengan Sai hingga dia benar-benar bisa membaca ekpresi datar itu menyiratkan kebohongan atau tidak.
Makan siang, dengan Hinata dan Sakura
"Ayah, bisa ajari aku tarian spesial itu?"
Naruto benar-benar memuntahkan sup-nya.
"Berapa usiamu? Duabelas?" Sakura bergumam marah walau dia berhasil menghindar dari semburan gula dan kacang merah. Tapi Hinata tidak sesukses itu.
"Sori Hinata...," Naruto berkata, agak gemetar. Dia tak menyangka pembicaraan konyol tadi pagi akan berlanjut hingga siang ini.
Di lain pihak, Hinata hanya mengangkat tangannya dan menggeleng. Sakura menyodorkan lap yang tadi pagi baru saja dipakai membersihkan tumpahan susu, tapi pikiran Naruto terlalu sibuk untuk mengumpat Sai daripada mencegah Hinata menyeka wajahnya dengan lap bermasalah tersebut.
"Jiraiya... apa kau sedang membicarakan taijutsu?" Sakura bertanya penuh perhatian. Naruto sangat berharap kunoichi itu bisa membantunya mengalihkan topik pembicaraan, tapi sayangnya Sakura itu lebih ke tipe pendengar.
"Taijutsu? Bukan... aku sedang membicarakan tarian yang dilakukan pria dan wanita."
Di saat seperti itu Hinata ikut nimbrung, "Aku tak pernah tahu kalau Naruto-kun suka menari."
Jiraiya memandang Hinata keheranan, "Kalau ayah tak suka menari berarti aku nggak lahir dong?"
Dua reaksi identik, "Eh?!"
Naruto menutup wajah dengan telapak tangannya yang tidak memegang sendok. Dia membatin; Gama-oyabun, Gamakichi, Gamatatsu... monster raksasa apapun... keluarlah dan buat lubang besar di atap kamarku... Teroris pun boleh! Buat kerusuhan di desa! buat aku berdiri dan pergi dari sini dengan alasan yang normal tanpa kelihatan menghindar... Argghhh! Madara! Bangkitlah dari kubur!
"Jiraiya... aku tak akan mengajarimu sebelum berumur dua puluh!"
Naruto berkata tegas sambil mengacungkan sendoknya.
Lalu dia memakan habis sisa makan siangnya dalam sepuluh detik, sebelum berdiri dan bergegas menuju toilet.
Makan malam, dengan Sasuke
"Ayah... maaf, aku tadi main di kamar paman Sasuke—," Jiraiya menunduk dan kelihatannya nyaris menangis, "...ada lubang sebesaaar iniii di kasur," dia merentangkan kedua tangannya sebagai impresi, "... tapi paman Sasuke bisa tidur di kamarku kok."
"Kenapa dia selalu beranggapan aku akan menginap? Kenapa dia menulis namaku di pintu kamar tamu rumah ini?!" Sasuke melirik Naruto seolah dengan melakukan itu dia bisa mendapatkan jawaban dari atas kepala yang bersangkutan.
Naruto pura-pura memasang tampang terkejut, "Eh, jadi hari ini cuma mampir makan malam?"
"Tentu saja, bodoh. Aku ini mata-mata dan anak buahmu. Kau Hokage, level informasi dariku akan langsung kusampaikan padamu."
"Oh," Naruto mengangguk, "Tak bisa menunggu besok?"
Sasuke bersiap berdiri.
"Tunggu Sasuke... hahaha, aku bercanda. Ayo makan dulu. Dari tingkahmu aku tahu ini darurat," Naruto berkedip, "Bisa menunggu sampai selesai makan?"
Sasuke melirik Jiraiya. Bagaimanapun Sasuke adalah shinobi elit yang masih menghormati privasi mantan rekan satu timnya itu. Walau dia pernah berkhianat dan melakukan hal bodoh. Tapi kebodohannya masih bisa ditoleransi bila dibandingkan dengan kebodohan yang dilakukan Naruto. Tidak usah jauh-jauh melihat masa lalu; lihat saja bocah laki-laki berambut hitam yang sangat identik dengannya ini.
"Ayah... apa sesama pria bisa melakukan tarian spesial itu?"
Kali ini Naruto nyaris membanting kursinya. Nyaris.
"Eeh... Jiraiya... Eeh, apa?"
Di saat seperti itu Sasuke melakukan hal yang tidak seperti biasanya. Mungkin karena dia kelebihan hormon simpati atas reaksi panik Naruto— entahlah, tapi yang jelas Sasuke memilih melibatkan diri dalam percakapan itu dengan berkata, "Dia sedang membicarakan taijutsu-nya Lee dan Gai?"
Jiraiya mengerut tak senang saat membalas, "Kenapa semua orang mengira tarian spesial itu sejenis taijutsu?! Bukan! Itu tarian yang hanya akan diajarkan ayah kalau umurku sudah duapuluh! Berarti tarian ini benar-benar spesial 'kan?!"
"Tarian spesial umur duapuluh...? Apa dia sedang membicarakan senjutsu? Bukankah kau mempelajarinya saat limabelas, Naruto?"
Jiraiya meletakkan sendoknya dan menggembungkan kedua pipinya, "Ayah bilang itu tarian! Bukan jutsu! Dan kita harus melakukannya dengan seseorang kalau ingin melahirkan anak. Ayah bilang harus pria dan wanita yang saling suka, tapi Kuni-chan punya dua ayah! Berarti tarian spesial bisa dilakukan pria dengan pria 'kan?"
Naruto membuka dan menutup mulutnya selama beberapa saat.
Sasuke melupakan nasinya.
Lalu shinobi berambut gelap itu mulai makan lagi sambil berkata dengan nada tenang, "Orangtua temanmu itu melakukan tarian spesial yang berbeda, jauh lebih membosankan. Kita sebut saja tarian membosankan. Kau akan lebih suka tarian spesial yang akan diajarkan ayahmu nanti saat usiamu duapuluh."
Jiraiya mengangguk pelan, "Oohh...," matanya yang berwarna biru cerah berkilau penasaran saat dia melirik ayahnya.
"Y... yaa... seperti yang dikatakan paman Sasuke."
"..."
Sebenarnya Sasuke berniat menumpang tidur di rumah Naruto tapi malam ini memilih sofa ruang tamu milik Kakashi sepertinya adalah tindakan yang lebih bijaksana. Dia bahkan memutuskan untuk memberikan laporannya besok pagi saja. Bisikan Naruto masih terngiang di telinganya saat dia mencoba menutup mata di sofa keras Kakashi, "Tarian membosankan?!"
Dan Sasuke masih harus menyeringai saat mengingat ekspresi Naruto setelah dia membalasnya dengan; "Kau sendiri yang memulai dengan konsep tarian bodoh itu... Ah, aku berharap tak ada di sekitar kalian bila suatu saat nanti Jiraiya mempertanyakan keberadaan ibunya. Akan sangat lucu kalau aku harus bilang dia adalah produk dari tarian membosankan itu."
