Naruto ©Masashi kishimoto
Married without love? ©Khoi emiko
Pairing : Gaara dan Ino
Genre : Romance, hurt/comfort,family
Warning : typo, gaje, abal, OOC
Happy reading !
Married without love
Chapter 3
Hari demi hari berlalu begitu cepat. Hingga tak terasa hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Gaara dan Ino. Ya hari ini adalah hari pernikahan mereka berdua, dimana Gaara dan Ino akan mengucapkan janji suci mereka untuk selama-lamanya. Kerabat dan teman-teman Gaara dan Ino bahkan menyambut hari pernikahan ini dengan suka cita tetapi tidak dengan Gaara dan Ino. Mereka berdua bahkan hanya diam seperti orang yang telah mati rasa tanpa merasakan adanya rasa senang ataupun rasa sedih. Seperti sekarang ini, Ino duduk termenung menerawang jauh dan tatapannya kososng menatap cermin meja rias yang kini sedang dipakainya. Para maid dan tim tata rias yang mendandani Ino tak henti-hentinya berceloteh dan memuji penampilan Ino hari ini yang menggunakan busana pengantin layaknya bak seorang putri di sebuah negri dongeng dengan rambut pirang panjangnya yang dibiarkan terurai. Namun sayang sekali Ino tidak mencerna baik pujian-pujian yang datang disekitarnya karena sibuk mengatur perasaannya yang selalu gelisah.
"Selesai!" tim tata rias kini telah selesai merias wajah Ino.
"Nona, anda cantik sekali!" puji salah seorang maid.
"Iya seperti seorang putri. Kami jadi iri!" puji salah seorang maid lainnya.
"Benarkah?" tanya Ino datar plus dengan wajah flatnya.
"Benar Pig! Hari ini kau terlihat seperti seorang putri." Tiba-tiba Sakura datang dan menghampiri Ino.
"SAKURA!" Ino terlonjak bangun dari duduknya karena saking terkejut dengan kehadiran Sakura yang mendadak itu. Para maid dan tim tata rias yang mengetahui kehadiran Sakura langsung memberi jarak diantara mereka berdua untuk bisa saling berbicara.
"Pig ayo kita bertaruh kalau Gaara calon suami mu itu akan jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat penampilanmu yang sekarang!" Sakura memperhatikan penampilan Ino dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Berhentilah membuat lelucon!" Ino memalingkan wajahnya menyembunyikan rasa kekecawaan ketika Sakura berkata seperti itu kepadanya. Karena Ino pikir, hari ini dia akan menikah dengan Gaara bukan dengan Sai. Jadi penampilannya hari ini bukan untuk Sai tapi untuk Gaara.
"Hey..Hey Pig apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Sakura sambil berkacak pinggang. Bukannya menjawab pertanyaan Sakura, Ino malah menundukkan wajahnya lebih dalam membuat seluruh penghuni di dalam ruangan itu tahu kalau Ino merasa tidak bahagia menikah dengan Gaara.
"Ino tenang saja. Gaara bukan pria tua yang memiliki istri banyak jadi kau tidak usah semurung itu." Sakura malah nyengir lebar. Para maid tertawa geli mendengar gurauan Sakura.
"Forehead!" akhirnya Ino mau menatap kearah Sakura.
"Maaf Ino aku hanya bercanda. Aku tahu kau merasa tidak nyaman dengan pernikahan ini. Tapi tidak semestinya kamu memikirkan Sai di saat seperti ini juga dan itu semua hanya akan membuatmu lebih tersiksa." Jelas Sakura.
"Maaf." Ucap Ino dengan lirih.
"Dimana Ino sahabatku yang selalu periang?! Mulai sekarang kau harus semangat dan tunjukkan kepadaku kalau kau memang Ino yang aku kenal. Aku akan selalu mendukungmu."
"Iya benar kami setuju dengan nona Sakura. Kami semua akan memberi nona semangat! Oleh karena itu, kami mohon nona jangan memasang wajah murung seperti itu lagi!" timpal salah seorang maid yang langsung di beri anggukan setuju oleh semua orang yang berada di dalam ruangan itu.
Ino mau tidak mau harus menangis setelah mendengar tekad semua orang yang ingin memberinya semangat.
"Aduh! Sepertinya tuan putri kita yang satu ini harus di rias ulang deh. Tuh lihat aja bedaknya udah luntur lagi." Ledek Sakura sambil menunjuk wajah Ino yang dibanjiri oleh air mata. Ino reflek mencubit lengan Sakura yang langsung diberi cekikikan kecil dari orang-orang yang berada di sekitar mereka.
Sedangkan ditempat yang berbeda dengan Ino, Gaara justru masih terlihat sibuk mengerjakan pekerjaan kantornya. Hingga Baki dan para maid lainnya yang berada satu ruangan dengan Gaara saling menatap heran dan ada juga yang menghembuskan nafas berat. Karena sedari tadi Gaara belum mau bersiap-siap ataupun mengenakan setelan tuxedo yang telah dipersiapkan Baki untuk acara pernikahannya dengan Ino.
"Gaara-sama. Maaf telah mengganggu aktivittas anda. Saya ingin memberitahukan bahwa waktu kita tersisa 10 menit lagi. Saya mohon anda mempersiapkan diri anda." Baki menghampiri Gaara dan menunduk hormat.
"Huft baiklah." Gaara membenahi dokumen-dokumennya dengan berat hati.
Setelah 10 menit menunggu, akhirnya Gaara selesai di make over oleh tim stylist rambut dan penata gaya. Dan inilah hasilnya! Gaara benar-benar terlihat sangat tampan, wajahnya begitu baby face walaupun usianya terbilang cukup mapan dan bagaikan seorang pangeran dengan setelan tuxedo berwarna putih dengan dasi kupu-kupu berwarna putih juga membuat rambut merah bata nya terlihat begitu kontras. Rambut merah bata bermodel spiky dengan poni yang menjuntai disana-sini itu kini terlihat lebih rapi dengan poni yang di sisir kesamping di satukan dengan rambut lainnya. Sehingga wajah tampan Gaara dan tatto kanji 'ai' nya terekspose dengan lebih jelas. Bahkan para maid, tim tata rias dan pengawal Gaara dibuat terpukau dengan penampilan Gaara. dan Gaara hanya menyungingkan senyum datarnya demi menanggapi segala pujian-pujian yang datang kepadanya.
Di sepanjang perjalanan Gaara hanya diam tetapi sesekali matanya memandang ke arah samping jendela kaca mobilnya.
"Baki. Apakah ibu akan datang?" tanya Gaara yang langsung memecah kesunyian diantara mereka berdua.
"M-maaf Gaara-sama. Ibu anda tidak bisa datang." Jawab Baki gugup.
"Hmm sudah aku duga, ibu tidak akan datang. Lalu siapa yang akan menjadi wali ku nanti?"
"Temari-sama."
"Ck ternyata wanita berisik itu kenapa mesti dia sih." Dengus Gaara. Baki hanya tersenyum tapi matanya masih fokus menyetir.
"Gaara-sama. Setelah pernikahan anda nanti. Anda disuruh Karura-sama untuk menjenguknya di rumah sakit. Beliau mengatakannya sebelum kondisi nya kritis."
"Baiklah. Ibu ku memang sulit ditebak. Sebelumnya, dia yang paling bersemangat dengan pernikahan ini tetapi ketika hari yang ditunggu-tunggu olehnya telah datang, ibu malah kritis kembali." Ucap Gaara datar.
Baki enggan untuk menjawab perkataan tuan-nya itu dan lebih memilih fokus menyetir agar bisa sampai tepat pada waktunya.
Married without love?
Gereja yang dipilih oleh keluarga Sabaku untuk melangsungkan pernikahan Gaara dan Ino ternyata terletak di pusat kota Tokyo yang berada tidak jauh dengan hotel bintang lima yang digunakan untuk tempat resepsi pernikahan mereka berdua. Dan Ino benar-benar dilanda gugup yang luar biasa. Pertama: karena baru pertama kalinya Ino merasakan yang namanya pernikahan. Kedua: karena Ino menikah bukan dengan Sai. Ketiga: karena hari ini adalah pertama kalinya Ino bertemu dengan Gaara dan Ino belum tahu bagaimana rupa dan wajah Gaara sedikitpun. sehingga muncul lah berbagai spekulasi di benak Ino tentang Gaara. Inoichi dan Yuka yang berada disamping Ino mengetahui kalau kondisi Ino benar-benar 'tidak baik'. tidak baik dalam tanda kutip kalau Ino benar-benar gugup. Inoichi dan Yuka langsung menggenggam tangan anaknya dengan erat meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja. Dan Ino merasakan sedikit kelegaan di dalam hatinya.
"Anakku hari ini sangat cantik. Ibu berharap kau melakukannya dengan baik." Yuka membelai pipi anaknya sayang. Ino hanya bisa mengangguk mengiyakan ucapan Yuka.
"Baiklah ibu akan melihat kau di depan sana. Do your best Ino-chan!" Ucap Yuka.
Karena belum pernah melihat Gaara dan matanya sedkit mengabur karena gugup, ketika Ino melangkah bersama ayahnya menuju altar pernikahan. Ino sempat mengira kalau Pendeta yang berdiri disamping Gaara adalah calon suaminya. Ino benar-benar seperti diberi kejutan kembali karena Ino baru menyadari kalau di dalam gereja banyak sekali tamu undangan yang datang dan menatapnya dengan berbagai macam pandangan yang berbeda-beda tetapi kebanyakan dari mereka menatap dirinya dengan rasa kagum. Gaara yang melihat Ino sedang berjalan mendekat ke arahnya, hanya menatap Ino dengan tatapan biasa-biasa saja.
"syuttt syuutt Gaara!" Temari memanggil Gaara tetapi Gaara menatap Temari dengan malas.
Temari lalu mengacungkan jempolnya yang mengartikan bahwa calon istrinya Gaara itu adalah wanita yang sangat cantik. Tetapi Gaara hanya tahu kalau Ino memiliki rambut pirang dan panjang. Gaara belum begitu jelas melihat wajah Ino karena wajahnya ditutupi oleh kain tile berwarna putih. Setelah Inoichi menyerahkan Ino kepada Gaara. pendeta mulai membacakan janji suci untuk mereka berdua. Dan Ino sedari tadi hanya menundukkan wajahnya tidak mau melihat bagaimana rupa wajah dari seorang Sabaku Gaara. "Sabaku Gaara. Apakah anda bersedia menerima Yamanaka Ino sebagai istri anda dan menerima segala kekurangannya sampai ajal memisahkan kalian." Gaara menghembuskan nafas berat. "Saya bersedia" jawab Gaara singkat. "Yamanaka Ino. Apakah anda bersedia menerima Sabaku Gaara sebagai suami anda dan menerima segala kekurangannya sampai ajal memisahkan kalian." Ino terdiam sesaat dan menghembuskan nafas "Saya bersedia." Tandasnya langsung. Seluruh tamu undangan merasa lega setelah mereka berdua telah selesai mengucapkan janji suci mereka.
"Karura-sama jika saja kau berada disini. Pasti kau akan senang melihat putra mu mengucapkan janji suci nya untuk bisa hidup selama-lamanya dengan wanita pilihanmu." Ucap baki lirih di dalam hati.
Setelah pembacaan janji suci itu, Pendeta langsung menyuruh Gaara dan Ino saling memasangkan cincin satu sama lain. Setelah mereka berdua telah memakai cincin, dan inilah saat yang paling mendebarkan bagi Gaara dan Ino dan tentunya bagi seluruh tamu undangan, karena mereka berdua harus berciuman. Gaara sempat tidak yakin akan hal itu, terlebih Ino yang entah harus bersikap bagaimana untuk hal yang satu ini. Gaara akhirnya memberanikan diri mendekat kan tubuhnya agar lebih dekat dengan Ino. Setelah jarak Gaara dan Ino semakin kecil, Gaara perlahan-lahan membuka kain tile berwana putih yang sedari tadi menutupi wajah cantik Ino. Dan kedua tangan Gaara memegang pipi Ino dan menyuruhnya untuk bisa menatap dirinya dengan di sinilah Ino baru tahu bagaimana rupa dan wajah Gaara karena sejak tadi Ino hanya menunduk saja tidak mau menatap Gaara. Gaara pun demikian, dia baru tahu bagaimana rupa dari seorang Yamanaka Ino. Ino seperti terhipnotis dan Gaara bagaikan tersengat listrik dan jantungnya bergemuruh cepat.
Ino pov
Shit kenapa dia melangkah mendekat sih! Aku ga mau pria jelek itu merebut ciuman pertama ku. Oh tuhan dia melangkah semakin dekat ke arah ku! Bagaimana ini. dan dia membuka kain penutup wajah ku ini dan sekarang tangan kotornya berani-beraninya memegang kedua pipiku yang mulus ini lalu memaksakan wajah ku untuk bisa menatap ke arahnya secara langsung. Oh tuhan! Aku belum siap untuk melihat wajahnya yang... TAMPAAAANNN! Gak mungkin Gaara setampan ini. pasti ini hanya mimpi. Tapi ini bukan mimpi, ini NYATA! Gaara memang tampan. Bahkan lebih tampan daripada Sai. dan apa itu, Gaara memiliki tatto di dahinya. Mungkin dia mantan seorang gengster tapi masih mungkin ya dan jika memang Gaara mantan anggota gengster pasti dia anggota gengster terhebat. Gaara juga memiliki bola mata hijau turquoise yang sangat-sangat indah tapi lingkaran hitam dimata nya itu pasti Gaara adalah tipe pria pekerja keras. Ah tapi lingkaran hitam di matanya itu membuat Gaara semakin tampan aja! Terus rambut merah batanya asli atau palsu ya? Tapi kayanya asli deh kalau merahnya cat rambut ga mungkin sehalus itu. Kyaaaa bener-bener keren! Kau bener-bener BAKA Ino! Baru menyadari kalau Gaara itu sebenarnya tampan gak jelek ataupun tua yang selama ini selalu aku bayangkan. Tapi tatapannya sangat dingin berbeda dengan Sai yang selalu hangat. Ah bodo amat! Justru itu yang membuat Gaara terlihat cool. Eh tunggu-tunggu bibir itu! Bibir itu ! bibir itu yang nanti akan mencuri ciuman pertamaku. Aduh bagaimana ini?! walaupun Gaara memiliki bibir yang err cukup menggoda tapi tetap saja aku gak mau ciuman pertamaku harus dengannya.
End Ino pov
Gaara pov
Oh jadi wanita ini yang bernama Yamanaka Ino. Hmm cantik sih dan hampir mirip dengan Shion. Bola mata aquamarine nya sangat jernih dan begitu indah sangat berbeda sekali dengan bola mata milik Shion. Ibu ternyata pintar juga mencari wanita yang cantik seperti ini. Tipikal wajahnya, tipe-tipe orang periang dan ceria. Tapi kenapa dia tidak tersenyum. Hmm mungkin saja karena pernikahan ini. Lagipula walaupun Ino itu cantik tapi aku sama sekali ga ada rasa cinta sama dia. Hanya ada rasa ke kaguman aja karena Ino itu cantik. Hmm mungkin wanita ini bisa aku jadikan sebagai penghilang rasa rindu ku dengan Shion karena wajahnya yang hampir mirip dengan Shion dan Ino pasti menjadi mainan yang sangat menyenangkan buat mengisi hari-hari ku yang menyebalkan bersamanya hahaha. Dan bibir tipis nan seksi itu, haruskah aku menciumnya?! Huh aku gak mau ciuman pertama ku harus dengan Ino. Dan Ino juga seprtinya tidak menginginkan ciuman ini juga. Sangat jelas di dalam aquamrine itu tersimpan jejak-jejak kesedihan dan ada seseorang yang mengisi hatinya.
Gaara end pov
"WOOOYYYY Gaara cepatlah kau cium istrimu! Teriak pria berambut kuning jabrik yang dikenal dengan nama Naruto dan ternyata adalah teman baik Gaara.
"Gaara! sampai kapan kita harus menunggu mu." Seru Kiba
"Gaara aku tahu kau terpesona dengan kecantikan istrimu tapi kira-kira dong kalian berdua udah saling bertatapan selama 20 menit tau!" Temari ikut menimpali.
Di saat mendengar berbagai macam protes dan keluhan dari para tamu undangan, barulah Gaara dan Ino sadar akan apa yang mereka lakukan selama 20 menit itu. Ino menyembunyikan rona merahnya karena menahan malu sedangkan Gaara tetap stay cool. Sebelum Gaara dan Ino berciuman, mereka berdua sempat menatap ke arah tamu undangan. Yup mereka berdua ternyata menatap orang yang pernah mereka cintai yaitu Sai dan Shion. Seolah-olah mereka berdua berkata kepada orang yang pernah mereka cintai itu kalau ciuman itu tidak ada maksud apapun. Gaara menarik nafas sejenak lalu dengan sigap menarik kepala Ino dan mulai menempelkan bibirnya di dagu Ino. Ino yang menyadari bahwa Gaara tidak mencium bibirnya akhirnya merasa sangat lega dan Ino juga menempelkan bibirnya di atas bibir Gaara tidak menyentuh sedikitpun pada bibir milik Gaara. Tetapi tetap saja Ino bisa merasakan hembusan nafas Gaara yang begitu hangat dan mau tidak mau Ino menahan rona merah wajahnya kembali dan mengatur detak jantungnya agar senormal mungkin. Mereka berdua sangat pintar mengelabui semua orang dengan sikap seperti itu seolah-olah mereka benar-benar berciuman. Bahkan Sai dan Shion yang melihatnya benar-benar kecewa karena melihat Gaara dan Ino terlihat seperti sedang berciuman. Gaara akhirnya melepaskan ciuman 'bohongan' itu dari Ino. Gaara juga merasa jantungnya berdetak lebih kencang dan sempat berpikir kalau dia mendadak terkena serangan jantung. Tetapi Gaara sangat pintar bahkan jenius dalam menyembunyikan setiap ekspresi dari wajahnya. Sedangkan Ino menjadi salah tingkah. Banyak para tamu undangan yang merasa bahagia dan senang. Inoichi, Yuka, Temari, Baki, teman dan kerabat mereka berdua lah yang lebih-lebih senang dengan hal ini tetapi tidak dengan Shion dan Sai.
Acara selanjutnya adalah melempar bunga kepada para tamu undangan. Menurut kepercayaan, jika mendapatkan bunga yang di lempar oleh sepasang pengantin maka orang itu akan segera menyusul untuk menikah juga. Sebucket mawar putih yang di hias dengan cantik oleh Yuka kini akan dilemparkan ke para tamu undangan oleh Gaara dan Ino. Para tamu undangan yang masih jomblo, lajang, single, duda dan janda tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Gaara dan Ino siap-siap untuk melemparkan bucket mawar putih itu kepada para tamu undangan. Dan ternyata yang mendapatkan bunga itu adalah Naruto! sedangkan Naruto sudah mempunyai istri yang bernama Hinata. Naruto bisa saja sih untuk menikah lagi tapi karena Hinata sedang mengandung anaknnya dan Hyuga Hiasasi itu terkenal sangat galak maka Naruto harus membuang niat buruknya itu jauh-jauh. Alhasil Gaara dan Ino harus melemparnya ulang. Lemparan kedua, ternyata yang mendapatkannya adalah Neji! Sedangkan Neji juga sudah mempunyai istri yang bernama Tenten. Lemparan yang ketiga ternyata yang mendapatkannya adalah Asuma! Sedangkan Asuma juga sudah mempunyai seorang istri yang bernama Kurenai. Para tamu undangan akhirnya jengah juga melihat lemparan bunga itu terus jatuh di tangan orang-orang yang sudah menikah. Gaara dan Ino bahkan merasa lelah karena para tamu undangan menyuruh mereka berdua untuk terus melemparnya ulang. Akhirnya Gaara dan Ino mencoba melemparnya ulang dan berharap ini lemparan yang terakhir dengan bunga yang hampir rusak karena dilempar berulang-ulang kali. Dan ketika bunga itu dilempar, bunga itu jatuh dilantai dan Sakura yang melihat bunga itu jatuh tidak jauh dari kaki nya langsung berjongkok dan menjulurkan tangannya untuk meraih bunga itu namun Sakura terkejut karena ada tangan lain yang ingin meraih bunga itu juga. Otomatis Sakura mendongak untuk melihat siapa orang yang ingin meraih bunga itu. Sakura sempat dibuat terpana karena ternyata orang itu adalah seorang pria tampan berkaca mata, memiliki mata onyx, dan berambut raven.
"Sasuke. Selamat kau telah mendapatkan bunga plus calon istri." Seru Kiba dengan semangat. Semua mata kini tertuju pada Sakura dan Sasuke. Gaara dan Ino pun juga ikut memandang mereka. Sakura sadar akan kondisi nya dan langsung bangkit berdiri.
"Selamat nona! Anda mendapatkan bunganya dan anda juga beruntung mendapatkan pria seperti Sasuke juga." Ucap Tenten sambil menepuk bahu Ino.
"Sasuke? Maaf kalian semua telah salah paham. Kami gak sengaja mengambil bunga itu karena jatuh di tempat kami berdiri." Ujar Sakura sambil melirik pria yang bernama Sasuke itu. Berharap pria itu juga membela atas apa yang telah terjadi. Tapi hasilnya Sasuke hanya diam saja dan seolah-olah tidak mau peduli membuat Sakura jengkel.
"Kalian semua berisik! Hal sepele seperti ini dibesar-besarkan." Dengus Sasuke.
"Eh Sasuke! Selama ini kau sudah 5 tahun menjadi seorang duda masa kau tidak ingin mencari pengganti Karin dan mencarikan Ibu untuk Haruka!" Tandas naruto.
"HAH DUDA?! wajahnya ga berkata kalau pria ini seorang duda. benar-benar baby face!" Sakura menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Hmm nona pasti masih single kan?" Naruto menunjuk ke arah Sakura.
"I-iya sih." Jawab Sakura gugup.
"Bingo!" Naruto justru tersenyum dengan sangat lebar.
Sekarang yang menjadi objek perhatian seluruh orang bukannya Gaara dan Ino tetapi Sakura dan Sasuke.
"Berisik!" Sasuke cepat-cepat menghindar dari kerumunan orang-orang yang kini terpusat ke arahnya dan Sakura.
"Ayah. luka mau tante itu jadi ibunya luka." Tiba-tiba saja anak perempuan berusia 4 tahun dengan rambut berwarna merah sebahu muncul dan menghentikan langkah Sasuke untuk pergi menjauh dan anehnya anak perempuan itu menunjuk ke arah Sakura.
"Enggak! Tante itu ga boleh jadi ibunya Ruka!"
"Kenapa? Tante itu ga mau ya?"
"Sudahlah Ruka. Ayo kita pulang saja." Sasuke lalu menggendong Ruka. Ruka hanya bisa diam menerima ajakan Sasuke.
"Sasuke. Apa kau tidak punya sopan santun hah? Ini kan acara pernikahan ku. Jangan seenaknya pergi." Gaara tiba-tiba berjalan mendekati Sasuke dan menahan langkahnya. Ino yang melihatnya langsung menyusul dan menghampiri Gaara yang kini berdiri berhadapan dengan Sasuke dan disaksikan oleh semua para tamu undangan yang hadir.
"Maaf Gaara. tapi ini benar-benar mengganggu!"
"Ruka. Apakah itu nama kamu?" Sakura tiba-tiba saja mendekati Sasuke dan menatap Ruka dengan lembut.
"Iya tante. Nama aku Uchiha Haluka tapi tante panggil aku Luka aja." Ruka tersenyum dengan sangat manis membuat Sasuke menghilangkan segala emosi yang sempat menghinggapi dirinya.
"Nama tante Haruno Sakura. Ruka bisa panggil 'tante Sakura'"
"Tante Sakula boleh gak Luka manggil ibu?" Semua orang terlonjak kaget mendengar permintaan anak perempuan itu begitupun dengan Sasuke dan Sakura yang kini terkejut bukan main.
"Hmmm..." Sakura benar-benar mencoba berpikir keras.
"Ruka! Ruka cuman punya satu ibu dan Ruka ga boleh manggil tante ini dengan sebutan ibu." Cegah Sasuke.
"Tuh ayah kamu udah bilang kalau kamu udah punya satu ibu jadi kamu ga boleh panggil tante Ibu." Ucap Sakura dengan lembut.
"Tapi ayah pelnah bilang kalo ibu udah pelgi jauh. Dan Luka ga bisa nyusul ibu." Ruka menunduk sedih. Sakura yang melihat Ruka menunduk sedih mulai mengusap rambut Ruka dengan lembut. Begitu juga dengan Sasuke, pria itu merasa tersentuh karena sikap Ruka. Memang Ruka ditinggal ibunya sejak dia lahir. Maka dari itu Ruka seperti haus akan kasih sayang seorang ibu. Dan Sasuke sepertinya masih sulit untuk melupakan Karin istrinya.
"Hei Ruka om yakin tante Sakura mau jadi ibunya Ruka. Tuh liat rambut tante ini aja mirip sama kamu." Hibur Naruto.
"Naruto!" Sasuke terlihat geram.
"Ayah pliss. Luka mau tante ini jadi ibunya Luka." Ruka memohon kepada Sasuke dengan puppy eyes nya.
Sasuke sebenarnya tidak tega melihat putri semata wayangnya seperti ini. Sasuke lalu melirik ke arah Sakura seakan meminta jawaban darinya. Dan dengan tekad yang bulat demi membahagiakan Ruka Sasuke rela menghampiri Sakura dan berkata:
"Sakura aku ga begitu yakin tentang dirimu. Tapi karena anakku bersikeras meminta mu menjadi ibunya, maukah kau menjadi ibunya demi kebahagiaan Ruka. Dan aku juga ingin mengenal mu lebih jauh lagi. Karena baru kali ini Ruka sangat menyukai wanita seperti kau bahkan langsung memintanya menjadi ibunya." Ucap Sasuke yang membuat semua orang terpana mendengar pernyataannya.
Sakura sangat-sangat terkejut apakah pria ini sedang melamarnya dengan pernyataan seperti itu di hadapan semua orang. Tapi rasa keterkejutannya hilang setelah melihat tatapan ayah dan anak itu yang kini memandangnnya dengan penuh harap. Apalagi tatapan Ruka yang entah mengapa membuat Sakura merasa teduh.
"Hmm baiklah." Jawab Sakura mantap.
Terdengar sorak-sorak dari semua orang setelah Sakura berkata seperti itu.
"Forehead selamat ya! Aku beruntung mempunyai teman berhati malaikat seperti kau!" teriak Ino.
"Sasuke selamat! kami berharap wanita ini bisa membahagiakan mu dan Ruka. Pasti Karin senang karena Ruka sekarang tidak kesepian lagi." Ujar Kiba yang langsung diberi anggukan setuju oleh Gaara dan teman-temannya. Naruto lalu memberi bunga yang di lempar Ino dan Gaara tadi kepada Sasuke dan Sakura. mereka berdua menerima nya dengan senang hati dan selanjutnya langsung terdengar riuh tepuk tangan dari semua orang.
Gaara merasakan sesuatu sedang menyentuh lengan kananya dan Gaara mendapati Ino sedang melingkarkan lengannya erat di lengan kanan miliknya sambil tersenyum melihat ke arah Sakura dan Sasuke. Namun Gaara merasa tidak nyaman akan hal itu.
"Eheeeemm" Gaara berdehem cukup keras membuat Ino menoleh ke arahnya.
Gaara lalu memberi isyrat menggunakan matanya. Setelah melihat isyarat dari mata Gaara, Ino sontak melepaskan pegangannya di lengan Gaara dan langsung menjaga jarak dengan Gaara.
"Baka kau Ino! Kenapa kau berani menyentuh lengan Gaara!" Rutuk Ino di dalam hatinya.
Married without love?
Setelah Gaara dan Ino mengucapan janji suci mereka di gereja dan melakukan segala ritual-ritual menurut kebudayaan jepang. Gaara dan Ino langsung mengadakan resepsi di sebuah ballroom hotel bintang lima yang terletak di tengah-tengah pusat kota Tokyo. Gaara dan Ino kini berganti pakaian dengan menggunakan baju tradisional dinasti kerajaan Jepang . Ino sangat cantik seperti seorang permaisuri dengan baju kimono berwarna ungunya sedangkan Gaara lebih pantas disebut pendekar samurai daripada disebut seorang raja karena penampilannya yang gagah seperti seorang pendekar yang ingin membantai habis musuhnya. Ino kembali di buat kagum oleh penampilan Gaara dan Gaara sendiri memuji Ino dengan penampilannya saat ini walaupun tidak dikatakan secara terang-terangan.
Gaara dan Ino kembali dibuat kewalahan karena banyaknya tamu undangan yang datang. Gaara dan Ino merasa sangat lelah karena mereka berdua tidak bisa duduk karena banyaknya tamu undangan yang ingin memberi mereka ucapan selamat. Dari teman-teman Gaara, kerabat Gaara, karyawan perusahaan Sabaku, semua investor Gaara, teman-teman Ino, kerabat Ino dan masih banyak lagi. Sehingga Gaara dan Ino tidak bisa berbincang-bincang satu sama lain karena mereka berdua terlalu sibuk melayani para tamu undangan. Gaara tetap terlihat segar tidak tampak merasa lelah walaupun sebenarnya Gaara merasa sangat-sangat lelah sedangkan Ino kelihatan jelas sekali di raut wajahnya kalau Ino merasa sangat lelah. Namun Ino sepertinya mendapatkan energi kembali ketika Sai datang menghampiri dirinya dan mengucapkan 'selamat'.
"Selamat Ino. Aku harap kamu tidak bahagia sama pria ini."
Ino tercekat mendengarnya dan Gaara yang berdiri di samping Ino langsung melirik Sai sekilas karena ucapan Sai terbilang cukup keras untuk di tangkap oleh indera pendengaran nya. Ino tidak menghawatirkan ucapan Sai yang barusan mengarah kepadanya tapi Ino lebih khawatir karena Sai kini berhadapan langsung dengan Gaara seolah-olah Sai dan Gaara siap untuk bertarung.
"Selamat kau bisa menikah dengan Yamanaka Ino! Dan tolong kau ingat Gaara, karena suatu saat nanti aku akan mengambil Ino dari tanganmu!" ucap Sai geram.
Gaara memang terlihat dewasa dalam menyikapi ucapan Sai terbukti Gaara tidak terlihat emosi seperti Sai. Ino yang melihat mereka berdua hanya menatap was was.
"Maaf. Tapi sepertinya aku akan menjaga istriku dengan baik sehingga istriku tidak akan jatuh di tangan orang lain apalagi di tangan orang seperti mu. Dan terima kasih telah datang!" entah mengapa kata-kata itu keluar saja dari mulut Gaara.
Gaara tidak tahu kalau dari ucapannya itu, Ino langsung menatap nya dengan intens seolah-olah tidak percaya dengan apa yang barusan di ucapkan Gaara terhadap dirinya. Sai langsung meninggalkan Ino dan Gaara dengan memikul berbagai macam emosi dan amarah. Setelah Sai pergi, kini Shion yang mendapat giliran untuk mengucapkan selamat. Shion enggan menjulurkan tangannya kepada Ino membuat Ino heran dibuatnya.
"Selamat ya kau telah berhasil menghancurkan cinta kami berdua."
"Hah?"
"Jangan pura-pura bodoh! Apa kau tau?! Kau telah merebut Gaara dari ku." Ucap Shion geram.
Ino langsung melirik Gaara.
"Shion!" Suara Gaara tidak terlalu kencang namun tegas. Shion langsung menghampiri Gaara.
"Hmm ternyata selera mu tidak jauh-jauh ya! Masih menyukai wanita berambut pirang." Tandas Shion.
Ino melirik kearah Gaara lalu melirik kearah Shion lalu melirik ke arah Gaara lagi.
"Shion terimakasih telah datang." Jawab Gaara datar.
Shion pun pergi dengan berbagai macam umpatan-umpatan karena tidak menyangka Gaara tidak meladeni ucapannya. Ino yakin kalau Shion itu adalah pacarnya Gaara. Dan Ino juga menyadari satu hal kalau dirinya bukanlah satu-satunya orang yang harus merelakan cinta mereka demi pernikahan ini. Ternyata Gaara juga merelakan cintanya demi pernikahan mereka. Dan keheningan terjadi diantara mereka berdua ketika semua tamu undangan sedang menikmati berbagai macam hidangan dan hiburan yang di sajikan di ballroom hotel bintang lima itu.
"Jiraya aku menantang kau bermain kartu disini! Kali ini aku tidak akan kalah! Jika aku kalah lagi, aku akan menghabiskan lima botol wine sekaligus!" teriak seorang wanita yang tampak masih muda tapi sebenarnya umurnya sudah 80 tahun yang langsung mengeluarkan kartu judinya. wanita itu adalah Tsunade nenek dari Uzumaki Naruto dan pemilik perusahaan Namikaze corp.
"Baiklah aku terima tantangan mu. Dan aku akan membuatmu mabuk kembali!" Jiraya lalu menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Tsunade.
"Kyaaa nenek ini bukan saatnya untuk bermain judi!" teriak Naruto.
Keluarga besar Namikaze hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat pemilik utama Namikaze corp itu bertindak begitu memalukan di acara keluarga Sabaku dan Yamanaka.
"Tsunade ini acara pernikahan Gaara dan Ino. Jadi bereskan kartu mu kembali!" Ucap Chiyo dengan tegas.
"Tsunade-sama cepat bereskan kartu anda. Tidak enak di lihat oleh para relasi perusahaan Sabaku yang datang dan melihat anda seperti ini" ujar Shuzune yang ternyata adalah asisten dari Tsunade.
"Huft! Pelit sekali nenek-nenek ini!" Dengus Tsunade yang langsung membereskan kartunya kembali.
"Ingat Tsunade kau juga nenek-nenek tahu!" seru Chiyo.
Dan seluruh ruangan itu dipenuhi gelak tawa demi di dengarnya adu mulut antara Chiyo dan Tsunade. Ino pun bertindak demikian. Ino tertawa begitu lepas sehingga melupakan sejenak apa yang barusan terjadi. Gaara yang melihat tawa lepas Ino juga ikut merasakan kebahagiaan yang terjadi di ballroom hotel ini. Temari menghampiri Gaara dan Ino ketika kondisi mulai lenggang, tidak ada yang memberi ucapan mereka berdua lagi dan para tamu undangan sedang menikmati hidangan dan hiburan. Temari menyodorkan dua gelas jus jeruk ke arah Gaara dan Ino yang langsung diterima oleh keduannya.
"Benar-benar melelahkan ya." Ucap Temari sambil meminum jus nya.
"Iya kaki ku terasa sakit dan pegal sekali. Kalau kaki ku ini bisa aku lepas, pasti aku sudah melepaskanya sejak tadi." Keluh Ino. Gaara menengok ke arah Ino sekilas lalu memandang ke depan lagi.
"Hahaha ternyata kau lucu juga ya."
"Hehehe maaf tapi anda siapa ya?"
"Oh iya kau kan belum tahu ya! Aku ini Sabaku Temari! Kakak kandungnya Gaara."
"Oh maaf!" Ino menyembunyikan rona merah diwajahnya karena malu.
"Hahaha tidak apa-apa, kau kan tidak tahu karena kita belum pernah saling bertemu." Ucap Temari dengan lembut.
"Demi dewa Jashin! Istrimu cantik sekali Gaara!" tiba-tiba saja Hidan dan kelompok Akatsuki datang dan membuat seluruh tamu undangan mundur dan memberi mereka celah untuk mereka lewati.
"Gaara selamat! Semoga kalian berdua berbahagia." Ucap Konan.
"Gaara selamat! Ternyata kau mendahului kami semua." Ucap Kisame. Ino hanya bisa nyengir lebar ketika kelompok Akatsuki memberi ucapan selamat kepadanya Dan Gaara.
"Hei Gaara! bisa kali istrimu aku pinjam un!" Ucap Deidara dengan bodohnya. Gaara hanya mengernyitkan dahinya sedangkan Ino hanya tersenyum kecut.
"YACK! Deidara kau ingin mati di tangan ku ya!" Teriak Temari sambil mengepalkan tinju ke arah Deidara.
"Ckckck. Ternyata sikap mu masih belum berubah walaupun kau sudah punya anak Temari-chan un." Ucapan Deidara justru membuat Temari tambah kesal.
"Hush! Pergi kalian semua kalau tidak ada kepentingan lagi." Usir Temari.
"Ya ya sebelum kami semua pergi dari pesta ini. Kami ingin mencicipi semua makanan enak yang di sajikan oleh keluarga Sabaku." Yahiko lalu menuntun teman-temannya untuk pergi menjauh dari tempat Gaara dan Ino.
"Ya silahkan habiskan sesuka kalian. Dan terimakasih telah datang!" ucap Gaara.
"Gaara. sebenarnya mereka siapa? Kenapa mereka semua memakai jubah yang aneh? Dan wajah-wajah mereka jauh dari kata wajar untuk seorang manusia normal." Tanya Ino bertubi-tubi.
"Aku sedang malas bicara. Aku lelah." Gaara lalu menyandarkan kepalanya di kursi yang telah disediakan untuk mereka berdua. Ino mengerucutkan bibirnya sebal. Temari yang melihat sikap Ino hanya tersenyum geli.
"Ino biar aku saja yang menjelaskan kepada mu." Ino lalu memperhatikan baik-baik apa yang di ucapkan Temari.
"Akatsuki adalah kelompok gengster yang terdiri dari 11 anggota dan paling terkenal di negara Jepang dan tentunya terkenal di kalangan perusahan-perusahaan besar kerena mereka semua bekerja di bawah pemerintahan jepang dan mencari perusahaan yang bergerak secara tidak adil atau mencari pejabat yang melakukan korupsi. Mereka tidak akan segan-segan menghabisi orang yang melakukan kesalahan itu. Bahkan mereka semua tidak pernah terkalahkan. Gaara sering menggunakan jasa mereka untuk menyelidiki para investor yang ingin bertindak curang di perusahaan keluarga kami. Oleh karena itu mereka memakai jubah hitam dengan awan berwarna merah."
"Oh jadi mereka bertindak sebagai detektif juga ya?"
"Ya seperti itulah."
"Tapi kenapa mereka berpenampilan seperti itu dan tingkah mereka juga aneh."
"Itu karena ciri khas mereka. Deidara dengan Seni tanah liatnya, Sasori yang pandai membuat puppet, Hidan yang selalu mengatakan dewa Jashin dimanapun dan kapanpun dia berada dan selalu membawa pedang kesayangannya, Kakuzu lebih senang menggunakan masker, Tobi sama seperti dengan Kakuzu lebih senang menyembunyikan wajah asli mereka, menurut rumor yang beredar. Tobi menutupi wajahnya karena sebagian wajahnya hancur iih, Nagato memiliki mata yang dapat mengorek informasi dari musuh hanya dengan melihat matanya, Yahiko lebih suka mengoleksi besi-besi jadi jangan heran kalau wajahnya juga di tancapkan besi-besi kesayangannya, Konan adalah perempuan satu-satunya di Akatsuki dan dia pandai membuat seni origami, Zetsu menurut kami dia yang palin-paling aneh di antara semuanya karena selalu membawa sejenis batang yang selalu melindungi kepalanya, Kisame wajahnya mirip ikan hiu dan selalu membawa pedang kesayangannya seperti Hidan. dan yang terakhir Uchiha Itachi dia adalah kakaknya Uchiha Sasuke yang mendapatkan bunga bersama Sakura tadi. Dia yang paling jenius dan paling pendiam diantara semuanya tapi kalau sudah berbicara, kata-katanya sangat tajam. Nah Ino sekarang kau sudah tahu kan?"
"Ya sekarang aku sudah tahu. Terimakasih Temari."
"Panggil aku Nee-chan."
"Hmm baik Nee-chan." Ino tersenyum senang.
Keberadaan Akatsuki membuat para tamu undangan menjadi resah dengan kehadiran mereka. tetapi dengan adanya Akatsuki, pesta ini menjadi sedikit meriah dan menjadi ramai.
"Aloe vera! Singkirkan kepalamu! Menghalangi jalan ku saja!" Ledek Naruto.
"Hei Naruto berhentilah memanggilku dengan sebutan Aloe vera! Aku punya nama dan nama ku Zetsu!" Dengus Zetsu.
"Tidak mau week! Dasar Aloe vera!" Naruto malah nyengir lebar membuat Zetsu semakin jengkel.
"Huft untung istri mu sedang mengandung kalau tidak, kau sudah aku bunuh." Zetsu menyeringai.
"Hoeekk Hooeek kue macam apa ini rasanya seperti tanah." Choji memuntahkan makanannya membuat semua orang terheran-heran.
"Hahaha ternyata kau sudah tertipu dengan seni hebat yang baru saja aku buat un." Deidara tersenyum penuh kemenangan.
"Oh jadi ini ulahmu Deidara! Sialan kau sudah meremehkan ku." Choji langsung menjitak kepala Deidara.
"Ouch! Sakit hemm!" teriak Deidara.
"Hei hei kalian berdua! Letakkan pedang kalian! Itu berbahaya!" Teriak Minato yang melihat Hidan dan Kisame yang siap-siap menggunakan pedang mereka.
"Minato kami menggunakan pedang kami untuk ini.."
Kisame dan Hidan menunjukkan kepada Minato dan semua orang kalau mereka berdua ternyata menggunakan pedang mereka untuk memotong daging menjadi kecil-kecil.
"Lihat kami bisa langsung memakannya dengan mudah." Ucap Hidan yang menunjukkan potongan daging kecil-kecil di piring yang langsung di beri tepuk tangan oleh semuannya sedangkan Minato langsung menatap malas keduannya.
"Kyaaaaa ada hantu yang mengambil makanan!" jerit Kurenai.
"Kurenai itu bukan hantu tapi bonekanya Sasori yang mengambil makanan." Ucap Asuma.
Kurenai lalu melihat ke arah Sasori yang sedang duduk sambil menggerakan boneka-boneka buatannya untuk mengambil makanan. Sasori yang menyadari sedang di tatap heran oleh Kurenai hanya nyengir lebar. Membuat Kurenai menggelengkan kepalanya.
"Kakuzu sepertinya kita harus makan di tempat yang sepi agar semua orang tidak melihat wajah kita." Ucapan Tobi langsung di beri anggukan setuju oleh Kakuzu dan mereka berdua langsung membawa makanan mereka dan bersembunyi di bawah meja yang ditutupi dekorasi kain.
Nagato, Konan dan Yahiko mereka bertiga makan dengan tenang tidak mau memberikan keributan. Sedangkan Itachi lebih memilih berbincang-bincang dengan Sasuke.
"Sasuke. Apa wanita itu yang akan menggantikan Karin?" tanya Itachi sambil menunjuk ke arah Sakura yang sedang menggendong Ruka di ujung sana.
"Iya."
"Apa kau yakin?"
"Ruka yang memilihnya langsung."
"Jika Ruka yang memilihnya, berarti wanita itu benar-benar cocok untuk menjadi istri mu dan menjadi ibu nya Ruka."
"Aku juga berpikir seperti itu."
"Lalu kapan kau akan melangsungkan pernikahan?"
"Tidak tahu. Aku harus mengenal wanita itu terlebih dahulu. Aku tidak ingin memberikan ibu yang salah bagi Ruka."
"Bagus."
"Lalu kapan Nii-chan akan menikah?"
"Aku sedang merundingkannya dengan keluarga Inuzuka."
"Baguslah Nii-chan karena kau sudah cukup lama berpacaran dengan Hana Inuzuka." Sasuke menepuk pundak Itachi pelan.
"Hei Hei lihat! Itu nenek Tsunade un!" teriak Deidara sambil menunjuk Tsunade. Deidara dan Hidan langsung menghampiri Tsunade sedangkan kelompok akatsuki lainnya ikut menghampiri Tsunade juga.
"Oh ternyata Akatsuki juga di undang oleh Gaara." Ucap Tsunade.
"Nenek ayo kita bermain kartu!" Seru Yahiko.
"Di pesta ini dilarang bermain kartu." Ucap Jiraiya.
"Kakek! Memangnya siapa yang tidak mengijinkan bermain kartu disini?" Tanya Yahiko. Jiraiya dan Tsunade lalu melirik ke arah Chiyo.
"Oh jadi nenek Chiyo! Tumben sekali si Chiyo jadi pelit begitu." Ucap Kakuzu.
"Mungkin si Chiyo terkena kutukan dewa Jashin." Ucap Hidan.
"Iya ya tidak biasanya si Chiyo jadi pelit." Timpal Kisame.
"Kalian benar-benar tidak punya sopan santun! Bermain kartu dilarang disini karena akan mengganggu. Lagipula pesta ini sebentar lagi akan berakhir!" Tegas Chiyo.
"Sudahlah kalian jangan memancing emosi nenek Chiyo." Inoichi berusaha meredam suasana.
"HUUUUU pelit!" Akatsuki lalu meninggalkan Tsunade, Jiraiya dan Chiyo. Ino yang sedari tadi melihat tingkah laku Akatsuki tertawa terpingkal-pingkal sampai mengeluarkan air mata.
"Temari-chan mereka semua benar-benar konyol. Apakah mereka benar-benar seorang gangster?" Tanya Ino sambil menyeka air matanya.
"Itulah sifat mereka sebenarnya tapi jika sudah menjalankan tugas mereka semua akan terlihat menyeramkan." Jelas Temari.
"Gaara mau kemana kau?" tanya Temari. Ino yang mendengar ucapan Temari langsung melihat kearah Gaara. ternyata Gaara mau pergi meninggalkan mereka berdua.
"Aku ingin berganti pakaian. Lagipula acaranya akan berakhir dan pasti ibu sudah menunggu ku di rumah sakit."
"Tapi kau harus membawa Ino juga bersamamu."
"Dia bukan anak kecil. Jadi dia tidak perlu arahanku."Gaara langsung melengos pergi. Ino merasa kesal dengan sikap Gaara barusan. Temari mencoba menenangkan Ino yang mulai terlihat meledak-ledak.
"Ino maafkan adikku. Dia memang memiliki sikap yang keras kepala. Perlahan-lahan, kau pasti akan memahami Gaara."
"Tapi Temari-chan Gaara benar-benar menjengkelkan."
"Dia seperti itu karena dia lelah. Dan Gaara ingin segera menjenguk ibu kami dirumah sakit?"
"Hah? Maksud Temari nyonya Karura?"
"Iya. Sekarang dia adalah ibu mu juga jadi jangan panggil nyonya Karura."
"Aku dengar dari ayah dan ibu, beliau sedang sakit."
"Benar. Ibu sudah menderita leukimia stadium akhir. Dan ibu berpesan setelah pernikahan ini selesai, kau dan Gaara harus menjenguknya menjenguknya kerumah sakit."
"Ya tuhan! Pantas saja daritadi aku tidak lihat beliau selama acara berlangsung."
"Baiklah Temari-chan aku harus bersiap-siap juga untuk menjenguk beliau. Dan kirimkan salam ku pada semuanya karena telah datang ke pesta ini." Temari hanya menggaguk mengiyakan permintaan Ino. Ino lalu beranjak pergi di iringi oleh para maid.
Married without love?
Setelah acara pernikahan mereka berdua selesai, Gaara dan Ino akhirnya pergi ke Ame hospital dimana Karura di rawat. Gaara lebih memilih pergi berdua saja dengan Ino dan menyuruh Baki untuk beristirahat. Walaupun jam sudah menunjukkan jam 2 dini hari, tak membuat Gaara lelah untuk tetap pergi menjenguk Karura. Karena Gaara tidak ingin melanggar perintah ibunya. Sedangkan Ino benar-benar sangat lelah namun tetap dia paksakan tubuhnya untuk menjenguk mertuanya itu.
"Gaara...Gaara tunggu aku!" Ino berlari mengejar langkah Gaara yang mulai berjalan cukup jauh darinya dan Ino masih memakai baju kimononya, jadi Ino agak kesulitan ketika berlari mengejar Gaara. Apalagi tubuh Ino benar-benar lelah dan lemas tetapi tetap Ino paksakan langkahnya untuk berlari. Namun Gaara sedikitpun tidak menoleh kearah Ino dan terus saja melangkah. Karena kelelahan dan perut Ino hanya di isi makanan sedikit akhirnya Ino ambruk ditengah-tengah jalan basement di tempat tidak jauh dimana mobil Gaara di parkir.
"Gaaa.." Ino akhirnya ambruk juga, kepalanya membentur aspal cukup keras dan pandangannya mulai mengabur. Gaara yang menyadari tidak ada lagi suara yang memanggilnya dan merasa seketika basement itu menjadi hening.
Akhirnya Gaara menoleh juga kebelakang dan terkejut karena tidak mendapati Ino dibelakangnya. Gaara membalikkan tubuhnya dan mulai berlari mencari Ino. Alangkah terkejutnya Gaara melihat Ino sudah tergeletak tak sadarkan diri dan keningnya tergores mengeluarkan darah.
"INO! Bangun!" Gaara berjongkok dan mengangkat tubuh Ino kedalam genggaman tubuhnya.
"INO! Bangun!" teriak Gaara panik sambil menepuk-nepuk pipi Ino. Ino sedikit-demi sedikit membuka kan matanya namun matanya menatap Gaara dengan lemah.
"G-gara." Ucap Ino lirih.
Gaara yang melihat ino sudah membukakan matanya sedikit merasa lega. Tapi Gaara khawatir karena wajah Ino tampak pucat sekali dan terlebih lagi kening Ino terluka.
"Ino syukurlah kau sudah sadar! Kenapa kau bisa jatuh seperti ini sih?"
"I-ini s-semua karna mengerjarmu BAKA! Dan a-aku lapa-r." Jawab Ino lirih.
"Oh jadi kau lapar makanya jatuh pingsan seperti ini?" Ino hanya mengangguk lemah. Gaara hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Ino.
"Ino apa kau punya sedikit tenaga?"
"Ya"
"Baiklah aku akan menggendong mu dari belakang." Ucap Gaara yang langsung menuntun Ino untuk bisa ia gendong di punggungnya.
"Lingkarkan lenganmu di leherku dengan erat. Nanti kau bisa jatuh! Dan senderkan kepalamu di bahuku juga!" perintah Gaara. Ino langsung melingkarkan lengannya di leher Gaara dan menjatuhkan kepalannya di bahu Gaara.
"Kenapa kau masih pakai baju ini sih? Aku jadi sedikit sulit untuk menggendong mu tau."
"M-maaf"
Gaara akhirnya membawa Ino menuju pintu rumah sakit dengan Gaara yang menggendong Ino di punggungnya. Selama perjalanan menuju pintu rumah sakit Gaara dan Ino diam saja tidak bicara. Gaara hanya merasakan hembusan nafas Ino yang menerpanya dan hembusan nafas itu membuat Gaara merasa sedikit tidak nyaman.
"Ino."
"Hmm."
"ternyata kau berat juga ya."
"M-maaf."
"Jangan meminta maaf terus ada juga aku ingin meminta maaf karena sudah bertindak ceroboh." Ino tersenyum mendengar ucapan Gaara.
"Baiklah aku akan membeli obat untuk lukamu dulu di ujung sana."
"Permisi, saya ingin membeli obat untuk luka gores ini." Pinta Gaara sambil menunjukkan luka di kening Ino kepada salah seorang apoteker.
"Oh sebentar tuan." Tidak lama kemudian, akhirnya apoteker itu membawa obat pesanan Gaara.
"Ini tuan obatnya. Di dalamnya sudah ada bon pembayarannya. Apakah tidak sekalian di obati di sini saja?"
"Tidak usah. Biar saya saja yang mengobati lukanya."
"Hmm baiklah." Apoteker itu tersenyum penuh arti melihat Gaara yang masih menggendong Ino di punggungnya dan melangkah pergi.
Gaara membawa Ino kesebuah kantin di samping rumah sakit yang ternyata buka 24 jam. Tanpa ba bi bu lagi Gaara langsung membawa Ino kesana. Gaara memesan sepiring sushi dan air mineral untuk Ino dan Gaara memilih tidak makan karena dia sudah merasa cukup kenyang. Gaara lalu menjatuhkan tubuh Ino perlahan di kursi yang telah dipilih Gaara.
"Makanlah! Setelah kau makan aku akan mengobati lukamu dan kita bisa langsung menjenguk ibu." Ino langsung menuruti perintah Gaara dan Ino langsung makan dengan lahapnya membuat Gaara bergidik ngeri sekaligus tersenyum geli melihat tingkah Ino yang sedang makan dengan rakusnya.
"Kau seperti seorang pengemis saja yang belum makan berhari-hari." Ledek Gaara.
"Biarin! Lagipula aku benar-benar tersiksa dengan acara pernikahan kita sampai-sampai aku tidak ada kesempatan untuk makan lebih banyak." Ino lalu meneguk air mineral yang di sediakan Gaara sampai habis.
"Nah karena kau sudah selesai makan. Aku akan langsung mengobati luka mu itu." Gaara lalu mengambil obat yang sudah dibelinya dan mulai mengobati luka di kening Ino.
Ino yang merasa jarak antara dirinya dengan Gaara begitu dekat tidak bisa menahan rona merahnya malu apalagi Ino bisa mencium parfum Gaara yang wanginya begitu maskulin. Ino juga merasakan kalau wajah Gaara benar-benar licin seperti porselen. Dan jarak sedekat ini Ino dapat melihat lebih jelas lagi kalau Gaara sangat sangat sangat tampan tidak ada satupun jerawat, komedo ataupun bintik-bintik hitam di wajahnya. Yang ada hanya lingkaran hitam dimatanya yang membuat Gaara berbeda dari pria lainnya.
"Ino apa ini sakit?" Tanya Gaara yang siap-siap akan menutup luka ino dengan plester.
"Sedikit."
"Sebenarnya ini baru pertama kalinya aku mengobati seorang wanita. Karena Shion adalah seorang dokter jadi dia bisa mengobati lukanya sendiri ketika dia terjatuh tanpa meminta bantuan ku dan dia juga enggan jika aku membantunya untuk mengobati lukanya." Ucap Gaara yang telah selesai mengobati Ino. Ino tahu benar kalau Shion dulunya adalah kekasih Gaara sebelum mereka menikah.
"Benarkah? Kalau begitu aku merasa terhormat." Jawab Ino dengan senyum yang dipaksakan.
"Baikalah ayo kita pergi sekarang. Kau sudah bisa berjalan kan?"
"Iya."
Gaara dan Ino akhirnya pergi meninggalkan kantin itu dan berjalan menuju ruangan Karura.
"Gaara terimakasih." Ucap Ino secara tiba-tiba di tengah-tengah perjalannya bersama Gaara.
Gaara menghentikan langkahnya sejenak dan berkata "Tidak perlu berterima kasih. Kau terluka seperti itu juga karena aku."
Gaara dan Ino kembali melanjutkan perjalanan mereka kembali. Pikiran Ino berkecamuk mengingat sikap Gaara hari ini. Dan membuat Ino ingin mengenal Gaara lebih jauh lagi.
To be continued
