"Tapi, bu—"

"Nantilah, Tsugaru. "

"Ibu, aku mendapat—"

"Kau bisa mengerti kan? Tsugaru? Ibu sedang sibuk."

"—aku.."

"Daripada itu, lebih baik kau ajari Psyche. Dia tampak sedikit kesulitan dengan pelajarannya."

Psyche..?

Dia….lagi?


"Sudah Ibu bilang, Tsugaru, adikmu itu punya kekurangan. Cobalah kau bimbing dengan benar, kalau begitu kan tidak akan begini jadinya."

"Sudah kubilang, Ibu, aku sudah memeganginya, tapi dia—"

"Tetap saja, kamu seharusnya—"

Kata-kata selanjutnya bagi Tsugaru hanya dengungan samar. Dia tidak mau mendengar lagi. Betapa jahat Ibunya, memarahinya atas kejadian yang bukan salahnya. Psyche jatuh saat sedang meniti pagar rendah di taman, dan saat jatuh dia menimpa Tsugaru. Psyche terluka gores dan terkilir,dan lengan Tsugaru patah. Jelas siapa yang menjadi korban disini?

Tapi lagi-lagi Psyche yang dibela. Dia yang benar.

Dia lagi.


Tsugaru bergegas ke kamarnya, mengacuhkan Psyche yang berusaha menyusulnya dengan langkah-langkah canggung. Dia tidak peduli. Saat ini dia tidak ingin melihat wajah adik sialnya itu. Dia selalu berpikir dia adalah orang yang tenang dan tidak mudah marah, karena memang semua hal terasa wajar baginya. Tidak perlu marah, tidak perlu marah. Tapi ini lain.

Bukankah wajar bagi Tsugaru untuk marah jika pekerjaan kelompok sekolahnya, yang telah susah-payah dia dan teman-temannya buat dalam seminggu, hancur berantakan?

Dia cukup yakin Psyche tidak bisa bertanggung jawab atas itu, dan cukup yakin betapa kecewanya teman-temannya jika mendengarnya. Tapi yang membuatnya meradang adalah penekanan Ibunya bahwa 'Tsugaru tidak boleh marah pada Psyche karena Psyche lemah' berlaku dalam situasi apapun, bahkan ketika Psyche jelas-jelas bersalah.

Tsugaru tidak boleh marah.

"—Tsu-"suara Psyche mendecit di belakangnya, mudah ditebak, sedang menahan tangis. Tsugaru membanting pintu kamarnya terbuka, dan Psyche berusaha masuk, tapi Tsugaru berdiri di ambang pintu dan menghalanginya.

"Apa maumu?" katanya dingin, menatap Psyche yang membalas pandangannya dengan mata yang nanar ketakutan.

"Ma-" Psyche mengernyit, suaranya tidak mau keluar. Napasnya naik-turun dan putus-putus secara tidak teratur—dia benar-benar ketakutan, dan air mata mulai menggenang di ekor matanya. Dia mengepalkan tangan kanannya dan memukul-mukulkannya ke dadanya, mengatakan 'maaf' dengan bahasa isyarat. Bibirnya juga mengulang-ulang 'maaf' bisu, tapi aliran airmata yang mulai menuruni pipinya dengan deras, seharusnya sudah lebih cukup menyampaikan penyesalan Psyche.

Tsugaru tahu itu, tapi dia sudah tidak mau peduli.

"Mengucapkan maaf saja kau tidak bisa!" bentak Tsugaru."Kutanya apa sih maumu? Apa yang kauinginkan dari merusak pekerjaanku, apa?! Kau ingin melihatku dimarahi Ibu? Kau ingin dibela lagi olehnya, Iya?! Aku bukan marah karena kau menghancurkan proyekku, aku hanya muak melihatmu selalu benar, dan selalu dibenarkan! Jika yang kamu ingin adalah perhatian Ibu, ambil semua sana! Aku tidak membutuhkannya. Aku juga tidak membutuhkanmu!"

Tsugaru telah melihat betapa mata nanar Psyche membesar mendengarnya, dan betapa wajahnya seketika kehilangan semua keceriaan yang biasanya selalu ada disana. Tapi dia tidak peduli dan tetap berbicara.

"Semua orang berkata betapa senyummu indah." Dia tertawa pahit."Sejak ada kau, anak Ibuku memang cuma kau. Dia tidak punya kakak bernama Tsugaru, tidak pernah ada. Kamu dan senyummu menghapus keberadaanku, dan kamu tahu? Aku sudah tahu mengapa sebenarnya kau selalu tersenyum." Katanya dengan suara gemetaran menahan marah."Itu senyum kemenangan karena kau telah berhasil merebut orangtuaku dariku."

Kedua mata itu melebar kembali, dan Psyche terisak berusaha mengisyaratkan sesuatu yang pastinya sebuah sangkalan, tapi terlambat sudah. Tsugaru sudah terlalu muak. Dia selama ini berpikir bahwa kata-kata ini tidaklah boleh diucapkan terutama pada keluarganya, tapi dia telah memutuskan bahwa baginya Psyche bukanlah lagi bagian dari keluarganya.

Maka dia mengatakannya.

"Aku benci padamu."

Dan hanya itu yang dikatakannya sebelum dia membanting pintu kamarnya menutup, memisahkan dia dan Psyche yang tangisnya langsung pecah mendengarnya.


'Psyche pikir kakak menyukai senyum Psyche karena setiap psyche tersenyum, kakak juga tersenyum.'

'Psyche tidak ingin Ibu, Psyche hanya ingin kakak.'

'Maafkan Psyche karena selalu merepotkan. Psyche ingin bisa berguna bagi kakak.'

'Psyche tidak keberatan menjadi salah kalau kakak bisa menjadi benar.'

Semua itu, Semua itu tidak dapat Psyche katakan. Semua ini juga karena kesalahan Psyche yang terlahir cacat, tumbuh dengan cacat, dan sampai hari ini pun cacat. Selama ini Psyche selalu yakin bahwa Tuhan memberi Psyche cacat ini karena Tuhan menyukai Psyche dan memberinya senyum abadi, atau begitulah kata Bunda di panti dulu. Psyche tidak pernah menyalahkan Tuhan ataupun orang-orang, karena Psyche sudah belajar untuk menerima cacatnya sebagai bagian dari dirinya.

Dan Psyche terutama sejak diadopsi oleh Ibu dan Ayah dan menjadi adik Tsugaru, selalu bahagia dan tidak merasa ada masalah apapun dengan cacatnya, itu semua karena kehangatan mereka yang menerima Psyche apa adanya. Bahkan, kecacatannya ini menjadi hal penting dalam kedekatan mereka. Psyche semakin yakin bahwa cacatnya ini bukanlah cacat, juga bukan penyakit, tapi hanya perbedaan kecil yang bisa jadi kekurangan ataupun kelebihan. Dia telah lupa bahwa pernah terjadi di hidupnya dulu, masa ketika dia tidak dianggap manusia karena cacatnya. Ingatan itu telah pudar, tapi kejadian hari ini mengingatkannya kembali.

Ternyata memiliki cacat memang salah.

Psyche teringat boneka di toko. Boneka itu disingkirkan ke tumpukan 'untuk dibakar' oleh si penjaga toko karena sebelah matanya salah dijahit sehingga bentuknya tidak bagus. Dia disingkirkan karena cacat. Begitu pula baju-baju dan celana-celana yang memiliki cacat, harganya dipasang sangat murah karena jika tidak begitu, tidak akan ada yang menginginkannya.

Ternyata memiliki cacat memang benar-benar salah.

Apakah itu juga yang seharusnya terjadi pada Psyche? Disingkirkan dari kumpulannya? Diumbar-umbar, direndahkan, dan dipertontonkan untuk jadi pusat perhatian? Karena cacatnya?

Mungkin iya. Buktinya, bahkan orang yang paling disukainya di dunia ini tidak menginginkannya. Semua karena Psyche cacat.

Psyche meraih cermin di pinggir kasurnya, dan menatap pantulan dirinya disana.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia membenci senyumannya sendiri.