Sebenarnya mau ngebuat Ayah dan Anak Gaje... But, jujur.. Wa binggung!Okay deh, ripiu diutamakan:
Nagi & Scarlett:
Orry... Wa juga agak pening pas ngebaca ulang, tapi syukur deh kalo NGAKAK! Thanx~
ScarletAndBlossoms:
Hola! Iya ni, ngerepotin yah itu Guo Jia, anak siapa yah itu... *anak orang* yah wa juga tahu anak orang. Okay! Thax~
Chapters 3: inikah Wa-san?
.
CUIT, CUIT*bukan suara burung gereja yah! Suara klarkson mobil!*
"M... Eh? Jam..."
Aku meraba raba, dan menangkap weker. Kulihat dan tiba tiba mataku membesar*kira kira sebesar mata Mike dari Monster INC - Ditampar*
"APA!? UDAH JAM 09.00!? WHAT THE...?"
Aku bangkit dan tanpa sengaja menginjak sesuatu yang empuk, sesuatu yang halus... Aku melihat kebawah dan... Aku sukses menginjak Guo Jia secara tidak sengaja. Aku langsung melompat setelah sadar sekitar 8 menitan.
"Ouch..." geram Guo Jia, meletakkan lengannya di atas dahinya.
"Ma, maa..."
Aku kembali melihat jam, jam 09.10
"TIDAK ADA WAKTU! AYO GUO JIA!"
Aku langsung berlari, sial... Kok aku bisa telat buat nganter bekal buat Wa-san? Duh, 20 menit lagi dia masuk kelas pula... Sial!
.
"Huff, sempat"
Kulap keringatku dan kulirik sebentar Guo Jia, matanya keliahatan kosong dan mukanya mulai pucat kayak baru bangun dari kubur atau dari laut. Ah, peduli amat... Aku celingak celinguk dan melihat Wa-san ada diantara para anak cewek, yang sebenarnya dia ada dibelakang.
Tiba tiba mataku terbelalak melihat ada wanita norak, aku langsung Jawsdrop.
"Wajah apaan itu?" tanya pak guru berjas hitam dengan dasi biru tua.
"Cantik kan?" ucap gadis norak itu.
"Apa-apaan itu? Kau pikir sekolah tempat apa?"
"Tempat mencari cinta"
"Kamu ini yah... Minta dipukul!"
PRAKK!
Kulihat, bukan pak guru yang pukul, malahan... WA-SAN! Dari belakang dia memukul kepala gadis itu dengan buku catatan yang tertulis "2-B" gadis itu menoleh dengan tatapan kesal. Tapi, Wa-san juga membalas dengan suatu tatapan yang membuatku tak percaya, Wa-san mendekati gadis itu dan mengengam anting gadis itu yang panjang dan berpola hati yang besar.
PRAK!
"Aduh! Sakit! Apa-apaan kau..." belum selesai omelan gadis yang baru saja antingnya dicabut paksa oleh Wa-san, Wa-san langsung memotong.
"Jangan menjawab! Sudah diperingatkan berkali kali masih saja melanggar!" bentak Wa serius. Bahkan guru saja pucat melihat wajah Wa-san itu. Lalu, Wa-san mengenggam tangan gadis itu dan mash menatap sangar. "Bagaimana kalau potong kukunya, atau potong rambutnya?"
"Su, sudahlah Wa-san, dia sudah minta maaf kok..."
"Kalau begitu, dia harus menghadap ke ruang ketua murid"
Wa-san menarik gadis norak itu, ya ampun benar benar menyeramkan wajahnya itu... Kulihat gadis itu menangis. Tapi, Wa-san tak mungkin begitu! Aku, sambil menyeret Guo Jia ingin tahu apa yang akan dikatakan Wa-san kepada gadis itu, wajahnya benar benar menyeramkan.
"Sudah aman, pergilah" kata Wa-san.
"Eh? Ketua murid... Apa yang..."
"Nggak tahu? Cuma pura pura bodoh"
"Oh, gara gara begitu, hatiku sakit tahu!"
"Berterima kasihlah"
"Hah?"
"Kalau tidak, kau pasti sudah dikeluarkan dari sekolah"
"Ketua murid...?"
"Wa kan ketua murid, tentunya harus menolong murid yang kerjanya cuma mencari cowok"
"..."
Aku jadi sebal, dia selalu memberikan kata kata tajam saat menolong atau menasehat orang, dia ini baik atau jahat yah? Dasar sialan... Pantesan aja temannya dikit minta ampun...
Tiba tiba dia berbelok dan menatapku, aku hanya bisa menatap biasa.
"Kenapa?" tanyanya.
"Ah, hm... Ini!"
"Apaan?" tanyanya balik.
"Eh? Ah! Bekalnya, itu..." jawabku gagap, dia langsung mengelus keplaku dan berjalan maju.
"Lupa yah? Ya udah... Lain kali pake obat anti tular biar ga ketular pikun wa..."
Tangannya terlepas dari kepalaku dan berjalan kebelakang. Walau dia selalu mengeluarkan kata kata yang menusuk hati, tapi kepadaku dia selalu bersabar dan perhatian. Tangannya yang jauh lebih besar dariku benar benar berbeda.
"No, nona Aupu... Le, leherku..."
"Oh! Maaf Guo Jia... M... Maaf..."
"Tidak apa apa, ngomong ngomong ini kerajaan apa? Luas sekali?"
"Ini sekolah bego!"
Orang orang mulai melihat kami, ada yang cekikikan, ada yang bisik bisik. Kurasa wajahku sudah memerah memudar. Aku langsung menarik Guo Jia keluar.
.
"Nona Aupu, jangan tinggalkan Nona Wa, dia bisa dibunuh jika ada prajurit Shu menerobos" kata Guo Jia, serius.
"Kau meremehkan kekuatan Wa-san? Jangan begitu!" bentakku.
"... Aupu, kau tidak berharap akan membantuku?"
"Membantu?"
"Yah! Saya ingin pulang! Saya rindu Cao Pi! Juga rindu kepada kecantikan Cai Wenji!"
"Tapi bagaimana? Jangan anggap gampang membawa anak dari zaman sekarang ke zaman dulu!"
"Saya tidak main main, saya ingin tempat yang sebenarnya!" jawab Guo Jia dengan tatapan serius.
Ku genggam kerah baju depannya, mendekatkan wajahnya ke wajahku dan menatap kesal.
"Kau bukan berasal disini atau manapun, kau tidak ada hak untuk mengurusku. Aku ingin menjadi anak yang biasanya! Aku tidak mau kehidupan remajaku hancur gara-gara kau!"
"Karena saya bukan berasal dari sini, kau harus mengembalikanku"
"Harus!? Kau..."
Tanganku terlepas dari bajunya dan terjatuh, dari mulutku keluar darah yang banyak sekali. Darah? Apakah aku sakit? Wajahku panas, kepalaku pusing, mataku mungkin sudah seperti Rinnegan. Wa-san... Tolong aku...
BRUK!
"Nona Aupu?" panggil Guo Jia.
Aku tidak terbangun, aku tetap menutup mataku dan terbaring tak bergerak dilantaiku. Penyakit, apa-apaan ini...
.
.
.
TOK, TOK, TOK
Aku mengetuk pintu, sambil mengenggam bantal aku terus mengetok pintu putih yang tertulis "Wa Xtreme's Zone" bagaimana tidak bisa melihat tulisan besar yang norak begini?
CKLEK
Pintu itu terbuka, kulihat wajah Wa-san yang terlihat di belakang pintu yang cuma setengah(?) sambil memegang pintu, dia menatapku yang sedang menangis. Dia kelihatannya memperbolehkanku masuk, aku masuk kekamarnya.
Sambil tidur disampingnya, aku tetap saja menangis. Aku sering tidur di kamarnya, soalnya kalau tidur dikamar sendiri, tempat tidurnya terlalu besar untuk satu orang...
.
.
.
"... M..." aku mencoba menyadarkan diri dari mimpi menyedihkan itu. Terlihat warna putih, lebih putih dariku, tentunya itu cat berwarna putih... Aku mencoba melirik segala tempat, yang kulihat cuma aku sedang tertidur di ranjang rumah sakit.
Aku mencoba memperbaiki pengelihatanku, eits! Itu bukan artinya aku buta, catat!
Aku menoleh kanan kiri dan berhenti saat melihat ke kanan, kulihat wajah yang tertidur disebelahku, itu Wa-san, aku begitu mengenalinya... Tangannya mengenggam erat erat tanganku, yah... Dulu kecil kita juga begitu. Agar menghilang dari ketakutan malam yang gelap.
Karena, kalau cuma tidur satu orang terlalu besar...
Kunoleh lagi ke kiri, melihat Guo Jia terduduk dan sedang tidur, memangnya ini jam berapa sih? Pada tidur semua? Sebel! Tapi, yah... Rasanya... Aku juga jadi... Mengantuk...
Sleep, Priestess, Lie in peace.
Sleep, Priestess, Lie in peace.
If you cry, the boat you'll ride
The last trip to the other side
Once you get there
Sacred marks you'll bear,
They shall be peeled off
Should you fail to lie still
Sleep, Priestess, Lie in peace.
Sleep, Priestess, Lie in peace.
If the Priestess wakes from her dream,
Perform the rite of stakes.
Her limbs pinned tight,
Lest the doors open wide,
And suffering unleashed on all.
Go to the other side.
Go to the other side.
Cast the boat, take a ride.
Cross the RIFT, to the other side.
Further, and further, to the other side.
It must sail, bearing your tattoos
And our offering of tears... Lyrics:
Sleep, Priestess, Lie in peace.
Sleep, Priestess, Lie in peace.
If you cry, the boat you'll ride
The last trip to the other side
Once you get there
Sacred marks you'll bear,
They shall be peeled off
Should you fail to lie still
Sleep, Priestess, Lie in peace.
Sleep, Priestess, Lie in peace.
If the Priestess wakes from her dream,
Perform the rite of stakes.
Her limbs pinned tight,
Lest the doors open wide,
And suffering unleashed on all.
Go to the other side.
Go to the other side.
Cast the boat, take a ride.
Cross the RIFT, to the other side.
Further, and further, to the other side.
It must sail, bearing your tattoos
And our offering of tears...
.
.
.
Oi, Thor... Ini mana letak humornya!? *disini* okay, reviews?
