Huwaaaaaaaa! Akhirnya chapter 3 jadi juga! .

Setelah bersusah payah membuat chapter ini, akhirnya menghasilkan buah juga!

Semua ini berkat dukungan kalian semua para readers!

So, have a nice read ^_^!

Chapter 3

L-O-V-E

Lucy POV

Oh, tidak. Gray berdiri tepat di depan kami. Apa yang harus kulakukan?

"Lucy, jawab aku! Apakah hal itu benar? Apakah benar kau menyukaiku?" tanya Gray.

"Errr…A-aku…aku…"

"Ah! Aku baru ingat! Di sini ada toko es krim yang baru, karena baru dibangun, toko itu sedang diskon setengah harga!" sahut Levy-chan tiba-tiba.

"Eh? Benarkah? Dimana? Dimana?" Tanya Gray antusias.

"Ehmmm…di ujung kota ini! Kalau kau mau, ke sanalah sekarang juga karena hari ini hari terakhir diskon setengah harga!" jawab Levy-chan sambil mengedipkan mata kanannya.

"Ahh, thanks Levy! Aku pergi dulu!" ucap Gray sambil berlari meninggalkan kami berdua.

"Hahaha! Rasakan!" seru Levy-chan disertai dengan tawa yang menyeramkan saat sosok Gray tidak terlihat lagi.

"Hah? Apa maksudmu?" tanyaku tak mengerti.

"Hihihi…sebenarnya soal toko es krim itu bohong!" ujar Levy sambil berkacak pinggang dan menunjukan senyum tanda kemenangan telak.

"Eeeehhh? Kasihan Gray! Tega sekali kau, Levy-chan! Mana bilangnya di ujung kota lagi! Kan capek jadinya si Gray!" ucapku karena tak tega melihat Gray dikerjai seperti itu.

"Aku tahu kalau ini cara yang salah, tapi ini kan demi kebaikan kau, Lu-chan! Berterima kasihlah padaku yang sudah menolongmu!" katanya disertai tawa licik dan pose kemenangan. Aku hanya mengelengkan kepalaku. Ternyata di satu sisi, sifat Levy-chan sangat berseberangan dengan sifat biasanya, yaitu licik dan kejam. Aku pun jadi seram sendiri melihatnya. (kalian jgn bayangin,ya…)

Gray POV

"Fuuh…akhirnya sampai juga di ujung kota. Tapi di mana toko es krim yang dimaksud Levy itu? Kenapa tidak kelihatan? Di mana ya?"

Kemudian aku melihat seorang nenek yang lewat. Aku pun berniat untuk menanyakan soal toko es krim itu kepada nenek itu. "Ehm…sunimasen oba-chan, apakah anda tahu dimana letak toko es krim yang baru dibangun?" tanyaku.

"Eehh? Setahuku tidak ada toko es krim baru, nak. Mungkin kau salah dengar. Lagipula, di sini tak ada lahan kosong lagi." Jawab nenek itu dengan lembut.

Hah? Tidak ada? Jangan-jangan Levy…Oh sial! Aku kena tipu olehnya! Kenapa aku bisa sebodoh ini? Kan malu dilihat para readers! (Woi! Woi! Ga ada di naskah, woi!) "Oh, begitu ya, kalau begitu arigatou, oba-chan." Ucapku sambil mencoba untuk tidak mengeluarkan death glare karena ulah Levy.

Lalu aku langung berlari menyusuri jalan yang sebelumnya sudah kutelusuri menuju guild. Aku pun langsung berteriak begitu sampai di depan pintu guild. "Hoii! Minna, apakah ada yang melihat Lucy dan Levy?"

Semua tampak terlihat kaget dan bingung. "Maaf, Gray. Kami tak melihat Lucy maupun Levy." Jawab seorang gadis berambut panjang berwarna merah scarlet. "Oooh…ya sudah, terima kasih! Aku pergi dulu!" aku langsung berlari mencari Levy…tidak Lucy. Yang harus kucari adalah Lucy!

Seketika itu juga, aku benar-benar melihat Lucy. Tanpa berpikir panjang, aku langsung memanggilnya. "Lucyyy!"

"Eeeh…? G-Gray…?" ucap Lucy dengan tampang kagetnya.

"Lucy! Jelaskan padaku sekarang juga rahasiamu itu! Kau tidak bisa menghindar lagi dariku!" ujarku sambil menggenggam erat tangannya yang lembut itu.

"Gray! Lepaskan aku! Kenapa kau jadi pemaksa begini?" kata Lucy sambil mencoba melepaskan genggamanku. Sayangnya aku semakin mempereratkan genggamanku ini. "Gray, sakit!" teriak Lucy sambil meringis kesakitan.

"Hoi! Hoi! Apa yang kaulakukan, Gray?"

Suara itu…Natsu. "Ada apa sih denganmu, ice boxer! Sudah tahu Lucy kesakitan, kau malah makin menyakitinya!" ujar Natsu sambil menarik Lucy dan menyembunyikan Lucy di belakangnya . Kulihat, raut wajah Lucy kelihatan seperti mau menangis. Matanya mulai berkaca-kaca. Apa aku terlalu memaksanya?

"Hoi! Gray! Jawab pertanyaanku! Apa masalah kau dan Lucy?" teriak Natsu.

"Tidak, aku hanya memastikan dia baik-baik saja, kok." Jawabku dengan ekspresi datar.

"Tapi caramu itu salah! Kalau kau ingin tahu keadaannya, sebaiknya pakai cara yang benar, bukan yang begini!" ujar Natsu terlihat kesal.

Aku hanya diam. Tak tahu harus berbuat apa. Apa yang dikatakan Natsu memang benar. Aku tak bisa mengelaknya lagi.

"Lucy, kau tak apa-apa kan?" Tanya Natsu ke Lucy yang dari tadi hanya bersembunyi di baliknya.

"Eh…iya, aku baik-baik saja. Terima kasih Natsu." Jawab Lucy sambil mengukir senyuman yang manis di wajahnya. Kenapa senyuman itu selalu diberikan ke Natsu? Aku tak pernah diberikan senyuman seperti itu!

"Baiklah, Lucy. Sekarang aku pakai cara yang benar. Apakah kau benar-benar menyukaiku atau tidak?"

Lucy langsung kaget dan mukanya langsung merona merah bagaikan sebuah tomat sedangkan Natsu hanya bingung memandang kami berdua.

"Lucy, jawab aku!" ucapku tak sabaran.

"Er…A-aku…aku…"

Kumohon, semoga jawabannya "iya", semoga jawabannya "iya". Ayo Lucy, katakan yang sejujurnya. Aku ingin tahu isi hatimu yang sebenarnya…Kumohon, jawab yang jujur…

"Er…aku…aku suka pada…"Lucy tampak terlihat sangat malu dan gugup. Sementara aku hanya tak sabar untuk menunggu jawaban jujur dari Lucy, dan Natsu hanya mematung bagaikan orang tolol yang tak tahu apa-apa. (maaf bagi fans natsu…)

Aku SUKA pada NATSU kok!" Seru Lucy tiba-tiba.

Eh…? Eh…? Eh…? EH…? LUCY SUKA PADA NATSU?

"Kau suka padaku, Lucy?" Tanya Natsu heran disertai pipi merona merah dan jari telunjuknya yang mengarah ke dirinya.

"Lucy suka pada Natsu?"seru gadis berambut putih yang pendek yang kebetulan lewat di dekat kami dan itu pastinya adalah Lisanna, pacar Natsu.

-To Be Continued –

Nah, loh! Kok Lucy malah bilang dia suka sama Natsu?

Bukannya di awal-awalnya dia bilang dia suka sama Gray?

Bahkan, ngomongnya pas Lisanna kebetulan lewat di situ?

Gimana dong? Gimana dong?

Tetangga Author : Woi! Berisik! Dah malem coy!

Author : Maafkan saya yang manis ini…*para readers dan tetangga author langsung siap2 ambil ember buat muntah

Penasaran, kan?

Kalau begitu tunggu aja chapter berikutnya yaaa! ;)