Hyungnim
.
.
A TaeKook Fanfiction by Rain
.
.
Italic : Flashback
.
.
Busan, Tahun 2003
Sore itu, lapangan terlihat ramai oleh anak-anak sekolah dasar yang bermain sepak bola. Seorang bocah berambut coklat yang merupakan kapten tim begitu semangat menggiring bola untuk menembus gawang lawan.
"Taehyung, sebelah sini!"
Seorang rekannya memanggil di sudut dekat gawang. Bocah tinggi dengan surai yang berwarna sama dengan miliknya. Taehyung mengangguk, memberikan operan yang di terima dengan baik oleh bocah itu sebelum kemudian melakukan tendangan dan mencetak skor.
Pertandingan usai dengan Tim Taehyung yang menjadi pemenang.
"Hyung!" suara anak kecil terdengar dari pinggir lapangan. Tubuhnya sedikit gemuk dengan pipi chubby yang menggemaskan. Bocah itu tersenyum riang kepada anak bersurai coklat yang tadi menerima operan dari Taehyung.
"Adikmu?" Tanya Taehyung pada kawannya yang di balas anggukan cepat. Anak lelaki itu kemudian menghampiri adiknya dan Taehyung mengikuti dari belakang.
"Kenapa kemari, eum?" Tanya anak lelaki itu. Ia mengusak pelan surai hitam adiknya.
Sang adik tersenyum senang, "Tentu saja menjemput Wonu Hyung. Ayo hyung kita pulang." Jawabnya ceria.
Bocah yang di panggil Wonu terkekeh gemas dan kembali mengusak kepala adiknya.
Taehyung yang tertarik melihat interaksi kakak beradik itu kemudian mendekat. "Hallo, adiknya Jeon Wonwoo. Aku temannya Wonwoo. Siapa namamu, adik manis?" sapanya riang sambil memperlihatkan cengiran khasnya.
Yang di tanya menunduk takut. Ia menyembunyikan tubuhnya di belakang Wonwoo sambil menggamit ujung kaos hyungnya.
"Aigoo, tak usah takut begitu. Hyung ini teman kakakmu. Kami seumuran, delapan tahun. berapa umurmu?" Taehyung tak ingin menyerah. Ia berjongkok dan masih memasang senyuman ke arah bocah itu.
"Hyung?" Bocah itu mendongak dan menatap Wonwoo, seolah bertanya apakah ia boleh memperkenalkan dirinya atau tidak. Dan ketika Wonwoo mengangguk sambil mengelus puncak kepalanya, bocah itu ragu-ragu menggeser sedikit tubuhnya kemudian menatap Taehyung.
"Umm... namaku Kookie, Jungkookie. Umurku lima tahun. Salam kenal, Hyung."
Senyum Taehyung melebar ketika mendengar bocah itu akhirnya mau memperkenalkan diri. "Wah... manisnya..." ia berujar sambil menjawil gemas pipi tembam Jungkook.
"Nah, Jungkookie, aku Taehyung. Kim Taehyung. Panggil aku Taetae Hyung, ne. Salam kenal."
.
.
.
Sejak hari itu, Taehyung jadi sering datang ke rumah Wonwoo. Mengajak temannya itu tanding bola atau sekedar berusaha mengajak Jungkook bermain.
"Kookie, sedang menggambar apa?" Taehyung bertanya saat melihat Jungkook tengah asik menggambar dengan crayon warna warni di ruang tengah. Ia segera mendudukkan dirinya di samping Jungkook yang duduk bersimpuh di lantai.
"ini?" Jungkook menunjuk gambarnya yang telah jadi. "Kookie menggambar orang. Ini Appa, Wonu Hyung, Kookie dan juga Eomma yang sudah ada di surga." Jawabnya ceria sambil menunjuk satu persatu gambarnya.
"Wah, gambar Kookie bagus." Puji Taehyung dan mengusak rambut Jungkook pelan. "Tapi, kenapa tidak ada gambar Taetae Hyung nya?"
Jungkook mengerut dan menatap Taehyung bingung. "Taetae Hyung mau Kookie gambar juga?"
"Tentu." Taehyung mengangguk. "Bukankah Taetae Hyung ini Hyung Kookie juga?"
Jungkook mengangguk imut. "Ne, Taetae Hyung juga. Kookie gambar Taetae Hyung disini, ne?" lalu bocah itu kembali mencorat-coret crayonnya di atas kertas yang sama.
"Taehyung."
Seorang pria paruh baya memanggil dari depan pintu. Ayahnya Taehyung.
"Papa, ada apa?" ia bingkas dan menghampiri sang papa.
Tuan Kim segera menepuk pelan kepala Taehyung ketika bocah itu sampai di depannya.
"Sudah saatnya kembali ke Daegu, kawan. Liburan musim panasmu sudah hampir selesai."
Raut wajah Taehyung berubah murung. Ia lupa kalau kedatangannya ke Busan hanya untuk berlibur, sekaligus mengunjungi kakek dan neneknya yang memang tinggal di sini. "Apa harus sekarang juga, Papa?"
Tuan Kim yang menyadari kesedihan Taehyung langsung mengelus bahu putranya itu. Ia tahu sang anak baru saja mendapat teman dan juga 'adik' baru di sini. "Jangan sedih begitu. Kau masih bisa mengunjungi Wonwoo dan Kookie saat liburan selanjutnya."
Bujukan itu sedikit berhasil membuat Taehyung tersenyum.
"Nah, sekarang ayo kita pamit pada keluarga Jeon."
Taehyung segera berlari ke dalam dan kembali duduk, kali ini di depan Jungkook yang hampir selesai menggambar wajahnya. "Kookie, Taetae Hyung pamit pulang yah. Hyung harus kembali ke Daegu sekarang."
Jungkook mendongak dan menatap Taehyung dengan bola mata bulatnya yang berkilat bingung. "Daegu? Apa itu jauh dari rumah Halmeoni Kim, Hyung?"
Taehyung tersenyum dan mengacak surai kelam Jungkook. "iya, jauh sekali. Tapi, Hyung janji akan sering berkunjung ke sini jika liburan nanti. Asal Kookie jangan lupakan Hyung, yah?"
"Um!" Jungkook mengangguk semangat hingga surainya bergerak-gerak pelan. "Yaksok?" ia mengulurkan jari kelingkingnya dan langsung disambut Taehyung tanpa pikir panjang.
"Ne, Yaksokhae."
Dan hari itu Jungkook melepas kepulangan Taehyung sambil melambai semangat hingga mobil yang Taehyung naiki menghilang di persimpangan jalan.
.
.
.
Busan, Tahun 2011
Delapan tahun, dan selama itu juga Taehyung tak pernah lagi berkunjung ke Busan. Kehidupannya berubah drastis sejak ia kembali ke Daegu. Dimulai dari perceraian kedua orang tuanya, yang membuat ia harus tinggal berdua saja dengan sang Mama. Sekolah yang terasa lebih memuakkan dari biasanya dan juga sang Mama yang mulai sakit-sakitan. Membuat Taehyung menjadi tumpuan di usianya yang masih sangat muda. Lalu puncaknya tiga bulan lalu, ketika sang mama akhirnya meninggal, dunia Taehyung serasa runtuh seketika. Dan di sinilah Taehyung sekarang, kembali ke Busan, berniat untuk tinggal dengan Kakek dan Neneknya karena ia tak tahan hidup sebatang kara di Daegu sana.
Tapi di balik itu semua, Taehyung tidak lupa dengan bocah lima tahun yang ia temui delapan tahun silam, bersama segenap janji yang mereka ucapkan di hari perpisahan. Membuat Taehyung sibuk bergumul dengan kecamuk pikirannya sepanjang perjalanan.
Apakah Jungkook marah karena ia tak menepati janjinya?
Atau mungkinkah Jungkook sudah melupakannya?
Dan pikiran-pikiran itu terus membayang di kepala Taehyung hingga ia sampai di depan kediaman keluarga Jeon. Baru saja ia membuka pagar kayu di depan halaman rumah, ia sudah mendengar pekikan dan suara ribut di sudut halaman.
"Kemari kau, dasar Park Jimin bantet!"
Seruan itu kian terdengar ketika Taehyung memasuki pekarangan. Di sana ia melihat dua anak usia belasan tengah bergumul dan bertengkar. Satu bocah berpipi chubby tengah menindih tubuh bocah lain yang telungkup di tanah.
Sebelah alis Taehyung terangkat. Ada apa ini?
Bocah yang telungkup dan di tindih kemudian menoleh ke arah Taehyung dan menyadari keberadaannya.
"Hei kau yang di sana, cepat tolong aku! Kau tidak lihat kelinci gendut ini hampir meremukkan tulang-tulangku?" pekik pemuda itu sambil menggapai-gapai tangannya ke arah Taehyung.
Sementara bocah yang menindihnya menatap nyalang ke arah pemuda di bawahnya. "Gendut kau bilang? Siapa yang kau panggil kelinci gendut, hah?! Apa matamu sudah katarak? Akan ku congkel bola matamu sekalian biar kau tidak bisa lagi melihat dengan benar!" ia menyalak sambil memiting tangan pemuda di bawahnya. Menghasilkan pekikan horor yang memekakan telinga.
Taehyung meringis. Astaga, mereka itu apa-apaan sih?
Belum sempat Taehyung melerai, seorang pemuda lain dari arah belakangnya datang terburu-buru dan menghampiri dua bocah yang tengah bertengkar itu.
"Astaga Jungkookie, kenapa kau menindih Jimin begitu sih?" tanya pemuda yang mungkin seumuran dengan Taehyung, sambil menarik bocah yang ia panggil Jungkookie agar bangkit dari tubuh temannya, lalu menjawil telinga bocah itu.
"Ah! Ah! Sakit, Hyung. Kenapa malah menjewer telingaku?" sungut Jungkook tak terima. Sementara Jimin bangkit sambil memegangi pinggangnya kemudian bernapas lega.
"Ya Ampun, Wonwoo-ya. Untung kau cepat datang. Kalau tidak mungkin kelinci galakmu ini sudah mencongkel bola mataku."
Jungkook yang mendengar itu melotot tak terima dan hendak kembali menyerang Jimin, tapi Wonwoo lebih sigap menahan pergerakannya.
"Sudah, sudah! Kalian ini..."
"Jimin yang mulai, Hyung! Dia terus saja menggangguku sejak tadi." Adu Jungkook pada abangnya.
"Hyung Kook, Hyung. Aku ini lebih tua TIGA tahun darimu." Koreksi Jimin dengan menekankan kata tiga dalam kalimatnya.
Jungkook mendengus, "Masa bodoh, kau bahkan lebih pendek dariku."
"A-apa? Aish, bocah ini!"
"Hentikan kalian berdua! Ya ampun..." Wonwoo memijit pelipisnya frustasi, kemudian pandangannya tak sengaja bertemu dengan Taehyung yang berdiri canggung beberapa meter di depannya. Menyaksikan perdebatan mereka bertiga.
"Eh, kau? Nugu?" Wonwoo bertanya. Dan itu sukses membuat dua orang yang lain ikut mengalihkan tatapan mereka ke arah yang sama.
Dan ketika sepasang mata bulat sekelam malam memandang Taehyung penuh atensi, jantung Taehyung berdebar kencang penuh antisipasi. Kira-kira reaksi apa yang akan Jungkook berikan padanya nanti?
Taehyung tersenyum kikuk. Berjalan lebih dekat ke arah tiga pemuda lain kemudian memperkenalkan diri.
"Uh, Kalian pasti Wonwoo dan Jungkook kan? Juga temannya," ia melirik dan tersenyum sekilas ke arah Jimin. "Aku Taehyung. Kim Taehyung. Apa kalian masih ingat aku?"
Wonwoo dan Jungkook nampak berpikir. Namun tak sampai semenit, Wonwoo langsung memekik seolah teringat. "Ah! Kau Kim Taehyung cucunya Haraboji Kim? Kim Taehyung, bocah Daegu yang itu?" Wonwoo bertanya memastikan dan Taehyung menjawabnya dengan anggukan serta senyum lebar.
Sementara Jungkook masih terlihat berpikir. "Kim Taehyung? Siapa?" bisiknya menatap Taehyung bingung.
Wonwoo segera mendekat dan merangkul bahu Taehyung. "Astaga Kookie, masa' kau tidak ingat dia? Kim Taehyung, alien yang wajahnya selalu kau gambar di buku gambarmu. Taetae Hyungmu yang itu."
Sepersekian detik selanjutnya manik kembar Jungkook membola, ia sepertinya sudah ingat.
"Oh, Aku tidak ingat jelas, Hyung." Jawabnya kemudian. "Tapi seingatku, dulu memang ada seseorang yang berjanji akan berkunjung kesini setiap libur sekolah, tapi nyatanya orang itu tak pernah muncul lagi sampai sekarang. Dan itu kurang lebih sudah... berapa?" Jungkook mengangkat jari-jarinya, menghitung. "Delapan tahun!" ujarnya sinis dan melotot galak ke arah Taehyung.
Yang di pelototi meringis kecut, "Maafkan Hyung, Kookie-ya." Tapi Jungkook malah membuang muka sambil cemberut.
Wonwoo terkekeh, "Nah, jangan di pikirkan Taehyung-ah. Jungkook hanya merajuk karena Hyung kesayangannya lama sekali tak datang berkunjung." Ujarnya, bermaksud menggoda adiknya itu.
"Wonwoo benar. Beberapa kali setiap main kesini, aku sering dengar Jungkook merengek seperti 'kapan Taetae hyung datang?' atau 'Taetae hyung kenapa lama sekali?' atau seperti 'Aku kangen Taetae Hyung' begitu." Jimin menimpali sambil menirukan kata-kata Jungkook.
Yang di goda memicing sadis dengan pipi merona, "Hyung!" protesnya kesal. Tapi, Wonwoo dan Jimin malah tergelak karena reaksi yang Jungkook berikan menurut mereka terlihat sangat menggemaskan. "Aish, kalian menyebalkan!" bocah itu berbalik dan berjalan masuk ke rumah dengan kaki di hentakkan. Sementara Wonwoo dan Jimin semakin tergelak.
"Jangan di ambil hati Taehyung-ah. Kau hanya harus mendekatinya lagi. Jungkook memang sudah berhenti menanyakanmu sejak lima tahun terakhir, tapi dia pasti masih menunggu kau datang kemari." Wonwoo berucap dan menepuk pelan punggung Taehyung.
"Hei, ngomong-ngomong aku Jimin. Jika kau adalah teman Wonwoo dan Jungkook, berarti kau temanku juga mulai sekarang." Jimin menyela sambil nyengir dan mengulurkan tangannya pada Taehyung.
Taehyung menyambut uluran tangan itu dengan senyum lebar yang sama. "Ne, Jimin-ah. Aku Taehyung, mari berteman."
.
.
.
Busan, Tahun 2013
Taehyung dan Jungkook tengah menghabiskan waktu senja di pinggir pantai yang lumayan dekat dengan rumah Nenek Kim. Angin laut berhembus cukup kuat dan udara lumayan dingin karena sudah hampir memasuki musim gugur. Taehyung sebenarnya merasa enggan, tapi kekasih manisnya itu terus saja merengek ingin ke pantai dengan dalih melihat sunset berdua dengannya.
Kekasih?
Yap, Jeon Jungkook sudah resmi menjadi kekasih Kim Taehyung. Tepatnya sejak satu tahun lalu, setelah Taehyung berjuang tak kenal lelah untuk mendapatkan maaf dan juga hati Jungkook lagi, sekaligus mendapatkan restu dari temannya yang merangkap sebagai kakak Jungkook, Jeon Wonwoo.
"Hyung-ah!"
Teriakan Jungkook di kejauhan meyentak lamunan Taehyung. Kekasihnya itu tengah menghadap ke arahnya, membelakangi bias senja karena matahari yang hampir tenggelam di ujung sana. Angin laut yang berhembus memainkan surai kelam Jungkook dengan manja, membuat pemuda Jeon terlihat semakin mempesona di matanya.
"Taetae Hyung, ayo ke sini. Sebentar lagi mataharinya terbenam." Ia memanggil dan melambaikan tangannya dengan semangat. Taehyung tak tahan untuk tidak terkekeh dan segera bangkit untuk menghampiri kekasih imutnya itu.
Mereka berdua kemudian sama-sama menghadap ke arah laut. Sesekali ombak membelai kaki-kaki mereka yang telanjang tanpa sepatu. Dingin, tapi terasa begitu menyejukkan.
"indahnya..." Jungkook bergumam pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Taehyung.
"Kau ini. Rumahmu kan juga cukup dekat dengan pantai. Kenapa seolah-olah kau baru saja melihat pemandangan yang seperti ini?" yang lebih tua berujar sambil menjawil pipi yang lebih muda.
"Memang sudah sering." Aku Jungkook, ia menoleh dan tersenyum menatap Taehyung kemudian, "Tapi, menyaksikannya berdua dengan Hyung seperti ini adalah baru pertama kali."
Taehyung balas tersenyum dan merangkul bahu Jungkook lebih dekat. Dan Jungkook tanpa menunggu lama langsung menyandarkan kepalanya di bahu Taehyung, dengan tangan kanan yang memeluk pinggang pemuda Kim.
"Aku masih tidak percaya kita akhirnya menjadi sepasang kekasih." Bisik Jingkook dan menyamankan posisinya di dekapan Taehyung.
Taehyung menumpukan kepalanya di atas kepala Jungkook. Memeluk sang kekasih semakin erat. "Hm... aku juga masih tidak percaya kalau kau melupakanku waktu itu. Maksudku, apa kau benar-benar lupa padaku, Kook-ah?"
Jungkook tertawa pelan, "Aku masih kecil waktu itu, Hyung. Dan yah, ingatanku memang sedikit buruk." Ia mendongak dan menatap Taehyung. "Lagipula kau banyak berubah dari yang terakhir aku ingat, terutama rambutmu ini." Tangan kirinya terangkat, memainkan surai Taehyung yang kini berwarna lilac.
"Kau tahu, Hyung? Kau semakin tampan." Bisik Jungkook kemudian.
Taehyung terkekeh, mengusak kening dan ujung hidungnya ke pelipis Jungkook.
"Tapi, serius Kook-ah. Bagaimana bila nanti sewaktu-waktu kau melupakan Hyung lagi?"
Alis Jungkook mengerut bingung, "Memangnya Hyung akan pergi jauh lagi setelah ini?" nada suaranya terdengar tak suka.
Taehyung buru-buru menggeleng. "Bukan begitu, sayang. Hanya saja siapa yang tahu ingatan payahmu itu sanggup menyimpan sosok tampanku ini di kepalamu atau tidak?" ia berkata sambil kembali mengusak keningnya di kepala Jungkook gemas, membuat Pemuda Jeon itu tergelak.
"Hyung tenang saja. Meskipun ingatanku payah, tapi hatiku yang mencintai Hyung ini takkan mungkin melupakan Taetae hyung begitu saja."
Taehyung tersenyum. "Aigoo, apa Jungkookie sedang mencoba merayu Hyung, eum?" ia menaik turunkan alisnya kemudian.
"Aku tidak."
"Aih, kau begitu menggemaskan. Hyung jadi ingin 'memakan'mu."
Jungkook kembali tergelak. "Enak saja, aku ini masih di bawah umur, Hyung!"
"Hm? Kalau begitu Hyung akan menunggu sampai Jungkookie cukup umur kemudian menggigit Jungkookie sepuasnya, tanpa ampun." Mata Taehyung berkilat antusias saat mengatakannya. Membuat Jungkook melepas rangkulan pemuda itu dan mundur perlahan, sambil memperlihatkan seringai di wajahnya.
"Kalau begitu cobalah jika kau bisa, dasar Taetae Hyung Mesum!" ia menjulurkan lidah, lalu lari sambil terbahak meninggalkan Taehyung yang terperangah.
"Kau menantangku? Hei, kemari kau kelinci kecil! Akan ku gigit dan ku lumat habis pipi gembilmu itu." Serunya kemudian ikut lari mengejar Jungkook.
Mereka lalu tertawa-tawa sambil berlarian di bibir pantai. Bermain cipratan air dengan backgroud sunset yang kemerahan.
Terlihat begitu bahagia dan sempurna bersama.
Flashback end
.
.
.
Jungkook mengerang pelan, ketika sinar matahari yang mengintip dari celah gorden jendela mengusik tidur lelapnya. Mengerjap beberapa kali untuk kemudian menyadari kalau ia sedang berada di kamarnya.
Jungkook mengernyit bingung, seingatnya semalam ia tertidur di sofa karena lelah menangis sambil menunggu Kakaknya pulang. Lalu, kenapa sekarang ia bisa berada di kamar?
Memutuskan untuk tak berpikir lebih jauh, Jungkook akhirnya beranjak dari tempat tidur dan bersiap-siap untuk sekolah. Mungkin saja semalam Ayahnya pulang lalu memindahkan ia ke kamar, begitu pikirnya.
Tak lama kemudian Jungkook telah rapi dan bergegas menuju dapur untuk sarapan. Rumahnya terlihat sepi seperti biasa, tapi Jungkook bisa mendengar suara aktifitas memasak di dapur. Ia kira itu Ayahnya yang sedang membuat sarapan tapi ternyata bukan. Itu Hyungnimnya.
"Uh, Hyungnim. Selamat pagi." Sapa nya kikuk. Ia duduk di kursi meja makan, menghadap Taehyung yang tengah berkutat di kompor. Dari baunya Jungkook bisa menebak jika yang sedang di buat oleh hyungnya adalah pancake.
"Hn. Selamat pagi."
Jungkook sedikit tersentak mendengar jawaban pelan itu. Hyungnimnya menjawab sapaannya? Well, itu hal yang sangat jarang terjadi.
Beberapa saat setelahnya, Taehyung berbalik dan membawa sepiring pancake yang sudah matang di tangannya. Jungkook kira Hyungnya itu hanya akan memasak sarapan untuk dirinya saja, seperti hari-hari sebelumnya. Jadi Jungkook sudah akan bangkit dari kursi untuk membuat sarapan sendiri, tepat ketika sepiring pancake itu kemudian di sodorkan padanya, membuat gerakan Jungkook terhenti.
"U-untukku?" jawabnya terbata. Nyaris tak percaya.
"Hm. Aku sudah sarapan." Jawab Taehyung sekenanya.
Jungkook sama sekali tak bisa menyembunyikan senyum dan juga binar di matanya. Hyungnimnya membuatkan ia sarapan? Tuhan, apakah Jungkook tengah bermimpi sekarang?
Ia buru-buru meraih piring itu kemudian kembali duduk. Wangi pancake yag sudah di balur madu menembus indra penciuman Jungkook.
Lalu, sepintas ingatan membuat Jungkook takut-takut kembali membuka suara, "Hyungnim, itu... apa Appa sudah pulang?"
Taehyung yang tengah mencuci piring kotor bekas sarapannya tadi terdiam sesaat sebelum menjawab. "Belum, Mungkin siang nanti baru sampai."
Sesuatu dalam dada Jungkook berdesir saat mendengarnya. Ayahnya belum pulang? Lalu siapa yang memindahkannya ke kamar semalam?
Ia menatap punggung Hyungnya dalam-dalam, begitu ingin bertanya untuk memastikan apa yang ada di pikirannya sekarang. Tapi urung ia lakukan, karena takut Hyungnya akan marah dan kembali mendiamkannya.
Taehyung kemudian berbalik dan mengeringkan tangan. Lalu menatap arloji biru yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Habiskan sarapanmu lalu berangkat ke sekolah. Aku berangkat. Sudah terlambat."
Jungkook hanya mengangguk dan menunduk ketika Taehyung berjalan hendak melewatinya. Ia pikir Hyungnya akan berlalu begitu saja, tapi sebuah usapan halus di kepalanya membuat Jungkook mematung seketika. Hanya tiga detik saja, lalu usapan itu sudah tak lagi terasa.
Apa yang barusan itu nyata?
Secepat kilat ia menolehkan kepala, hanya untuk melihat punggung hyungnya berjalan menjauh tanpa menoleh ke arahnya, seolah tak terjadi apa-apa.
Jungkook menyentuh kepalanya, lalu menatap sepiring pancake yang belum tersentuh di depannya. Dadanya terasa sesak luar biasa. Tapi itu bukanlah sesak yang biasanya ia rasakan, melainkan perasaan baru yang membuncah. Perasaan bahagia.
Ia meraba dadanya yang berdesir dan berdetak tak karuan. Air mata sudah menggenang di kedua maniknya yang berkaca-kaca ketika ia kembali memikirkan kejadian yang baru saja di alaminya.
Seseorang yang memindahkannya ke kamar tadi malam, sepiring pancake untuk sarapan dan usapan singkat di kepala.
"Wonu Hyung..." bisiknya pelan. Hatinya terasa begitu hangat ketika nama itu kembali terucap dari bibirnya.
Air mata akhirnya tumpah. Namun senyuman di bibirnya terlihat semakin melebar.
Tuhan, bolehkah Jungkook berharap jika Hyungnimnya sudah mulai mau membuka hati untuk menyayanginya?
Jungkook kembali menatap piring pancake di depannya, mulai memotong kemudian melahapnya. Rasanya sedikit gosong dan terlalu manis, tapi Jungkook suka. Itu adalah pancake terenak yang pernah Jungkook makan, karena itu buatan Hyungnya.
Ia melahap pancake dengan senyum dan juga air mata yang tak juga sirna. Jungkook bahagia. Amat sangat bahagia.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
A/N :
Holla~~~
Sebagian masa lalu mereka udah saya ungkap di chapter ini. Semoga itu menjawab pertanyaan kalian dan ga bikin Readers-san tambah bingung yah... kekeke...
