FanFiction
Naruto © Masashi Kishimoto
The character aren't mine but they're my inspiration
You and Me
By Hazu
(Ini hanya imajinasi Author. Hanya beberapa saja yang mirip dengan yang asli. Selebihnya karangan Author)
.
.
.
Chapter 3
.
~*~Don't Like Don't Read~*~
.
Pagi yang cerah. Matahari bersinar terang. Burung-burung berkicau riang. Melantunkan lagu penyemangat pagi hari. Seorang gadis tampak berjalan dengan tenang. Menikmati pemandangan pagi. Tampak beberapa kali ia menghirup nafas dalam menikmati hembusan nafas alam menerpa dirinya yang menyebabkan surai rambutnya melambai-lambai tak tentu arah.
'Sejuknya…' Gumamnya. Ia menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan.
Tap… tap… tap…
Suara sepatunya yang beradu dengan lantai memecah keheningan. Banyak orang langsung menyapanya yang dibalas seulas senyuman oleh sang gadis.
Tap… tap… tap…
Sang gadis menghentikan langkahnya begitu sampai di depan sebuah pintu kayu bercat coklat tua. Ia tampak menghela nafas pelan. Ia memutar kenop pintu dan membukanya.
"Permisi." Kursi yang tadinya menghadap kearah jendela ruangan, membelakangi sang gadis, kini berbalik kearahnya. Menampilkan seorang wanita yang langsung tersenyum begitu melihat sang gadis.
"Permisi. Apakah anda memanggil saya?" Ulangnya. Ia langsung mendudukkan dirinya di kursi di hadapan wanita tadi. Wanita tadi mengangguk pelan. "Ya. Aku memanggilmu."
Sang gadis tersenyum. "Ada apa anda memanggil saya, Tsunade-sama?"
Wanita tersebut, yang dipanggil Tsunade-sama oleh sang gadis langsung menjelaskan maksudnya secara rinci.
"Kau mengerti kan?" Akhirnya dengan sebuah pertanyaan yang langsung dijawab anggukan oleh sang gadis. "Saya mengerti. Ada lagi kah?"
Tsunade menggeleng. "Tidak. Hanya itu. Kau memang muridku, Sakura. Kau sudah boleh meninggalkan ruangan. Selamat bekerja." Tsunade menyodorkan sebuah amplop coklat besar kepada sang gadis yang ternyata bernama Sakura.
"Ha'i. Arigatou gozaimasu, Tsunade-sama. Saya permisi." Ucapnya seraya bangkit dan menunduk hormat yang kemudian keluar ruangan tersebut.
.
.
.
Sakura memasuki ruangan kerjanya. Ia lepas jas dokternya dan langsung mendudukkan dirinya di kursi kerja miliknya. Baru beberapa detik mengistirahatkan dirinya sejenak, sudah terdengar ketukan ringan di pintu ruangannya.
"Masuk."
Seorang gadis yang tampak sebaya dengan Sakura langsung masuk begitu mendapat izin darinya. "Permisi, Sakura-san. Ini dokumen yang baru saja diminta Tsunade-sama untuk anda kerjakan." Jelas sang gadis seraya menyodorkan setumpuk dokumen yang entah apa isinya. Sakura tersenyum. "Ya. Aku akan langsung mengerjakannya." Sakura memijit pelan pelipisnya.
Sang gadis mengernyit heran. "Apa anda tak apa? Anda tampak lelah. Sebaiknya anda istirahat. Tak usah dikerjakan sekarang. Tsunade-sama tak meminta anda menyelesaikannya dalam waktu sesingkat ini."
Sakura menggeleng. "Tak apa Mayu-san. Aku baik-baik saja." Ucapnya berbohong. Mana mungkin ia tak apa-apa setelah melakukan 3 operasi besar sejak tadi?
Mayu tersenyum tipis. "Baiklah. Tetapi jika ada apa-apa, anda lebih baik beristirahat dahulu. Saya permisi."
Bagitu Mayu telah keluar ruangan, Sakura tampak memijit pelipisnya pelan. Ia membolak-balik kertas dokumen tersebut sembari beberapa kali menghela nafas berat. 'Haah… melelahkan.'
Ia mulai mengerjakan dokumen tersebut. Di tengah pekerjaannya, ia merasa kepalanya berdenyut nyeri. Matanya juga mulai tak fokus memeriksa dokumen dihadapannya. Beberapa kali ia coba memijit pelipisnya, sakitnya tak kunjung hilang. "Sakit." Gumamnya yang langsung membereskan dokumen tersebut kemudian beranjak keluar ruangan tak lupa mematikan lampu ruangan terlebih dahulu.
.
.
.
Semburat oranye membentang bak selandang tipis di ujung cakrawala. Sang mentari mulai kembali keperaduannya. Seorang gadis bersurai soft pink tampak berjalan gontai di sebuah taman kecil. Tampak pula beberapa kali ia memijit pelipisnya terus menerus. Mata emeraldnya menatap lurus kedepan. Begitu melihat sesosok orang yang dikenalnya, matanya langsung mengerjap pelan. Tanpa pikir panjang, ia langsung meneriaki memanggil nama orang tersebut.
"Naruto!" Panggilnya setengah berteriak. Ia melambaikan tangannya pelan. Ternyata orang tersebut menoleh dan langsung menghampiri Sakura seraya menyunggingkan senyuman lebarnya.
"Sakura-chan!"
"Naruto, sedang apa kau sore-sore di sini?" Tanya Sakura. Naruto kian memperlebar senyumnya. "Hehehe... hanya mencari udara segar. Sekalian mau beli makan. Kau sendiri juga, tumben kesini."
"Ini kan memang jalan menuju rumah, baka." Cibir Sakura.
"Aiiish! Tak usah meledekku baka." Naruto memasang wajah pura-pura marah. Sakura tertawa melihat wajah Naruto yang menurutnya lucu.
"Hihi… ya… ya… terserah kau."
"Sakura, kau mau ikut?" Tawar Naruto yang langsung membuat Sakura berhanti tertawa. "Kemana?"
"Ayo ikut saja!" Seru Naruto yang langsung menarik tangan Sakura menuju tempat yang ditujunya tanpa menjawab pertanyaan Sakura.
.
.
.
"Naruto! Wah… mau makan lagi ya. Tumben kau ajak temanmu!"
Naruto membalas dengan senyuman. "Ya, paman! Aku ingin makan ramen spesial ukuran besar!" Seru Naruto. Sakura menghela nafas pelan. "Ternyata kau ingin membawaku kesini." Gumamnya pelan yang tentu saja tak bisa didengar sahabat bakanya
Naruto langsung duduk dan menepuk-nepuk kursi di sebelahnya mengisyaratkan Sakura agar duduk di situ. "Kau ingin ramen apa, Sakura-chan?". "Yang biasa saja." Jawabnya. Naruto mengangguk.
"Paman! 1 ramen spesial ukuran besar dan 1 ramen biasa ya!" Pesan Naruto.
"Kau kenapa, Sakura-chan?" Tanya Naruto yang melihat Sakura sedari tadi menundukkan kepalanya sembari memijit pelan pelipisnya.
Sakura tersadar dari kegiatannya akibat pertanyaan Naruto, langsung menoleh. "A…"
"1 ramen spesial ukuran besar dan 1 ramen biasa. Silahkan!"
Naruto yang melihat ramen tersebut langsung terlupa akan pertanyaannya tadi. Ia langsung memakan ramen yang telah tersaji di hadapannya layaknya orang yang kelaparan. Sakura yang melihat tingkah Naruto tersebut menghela nafas lega.
.
.
.
"Arigatou telah mentraktirku,Naruto. Gomen, merepotkanmu." Ucap Sakura begitu mereka telah keluar dari kedai Ichiraku. Naruto tersenyum. "Kau kan sahabatku."
"Kau mau kuantar pulang?" Tawar Naruto. Sakura menggeleng. "Tak usah."
"Oh… ayolah!" Rujuk Naruto. Sakura memilih menuruti kemauan Naruto mengantarkannya daripada harus lama berdebat dengan Naruto yang kan terus memaksanya yang tentunya malah berakibat kepala Sakura akan semakin berdenyut nyeri. "Baiklah."
.
.
.
"Naruto, bagaimana kabar Hinata?" Tanya Sakura di tengah jalannya. Naruto menoleh kemudian menjawab. "Akhir-akhir ini ia sering pingsan jika aku menghampirinya. Aneh sekali." Naruto mengeryit heran.
Sakura terkekeh geli. Tentu saja ia tahu sedari dulu jika Hinata memiliki perasaan khusus kepada sahabat bakanya. Sayangnya ia kurang peka mengenai hal itu.
"Bagaimana dengan Sasuke?" Tanya Naruto tiba-tiba yang langsung membuat Sakura menundukkan kepalanya. Naruto menatap Sakura bingung. "Sakura?"
Sakura menangkat kepalanya menoleh kearah Naruto. "Ah... sudah sampai. Arigatou, Naruto." Sakura memasuki halaman rumah.
Naruto mengangguk kemudian tersenyum. "Ya sudah. Aku pergi. Jaa Sakura!" Naruto melambaikan tangannya sembari melangkah pergi.
"Jaa!" Sakura membalas lambaian tangan Naruto dan langsung masuk ke rumahnya.
.
.
.
Pip. Sakura menyalakan televisi di kamarnya. Ia menonton berbagai suguhan acara sembari menyeruput teh cherry kesukaannya.
"Membosankan." Ia mematikan televisinya.
Sakura langsung menghabiskan teh cherrynya dan beranjak menuju kamarnya.
.
.
.
Pagi hari. Seperti biasa, Sakura menjalani tugasnya sebagai medic-nin. Ia berangkat dengan keadaan fisiknya yang sudah lebih sehat ketimbang kemarin. Ia berjalan dengan riang. Bibir mungilnya melantunkan sebuah lagu. Saking asyiknya hingga ia tidak menyadari ada seseorang di depannya.
Tak sengaja, Sakura menabrak orang tersebut. Ia kehilangan keseimbangan dan langsung terjatuh.
"Kau tidak apa?" Baru saja ia akan memarahi orang yang seenaknya menabraknya, bibirnya langsung kelu mendengar suara baritone orang tersebut. Ia menoleh kearah orang tersebut.
Sakura masih saja terpaku kearah sosok tersebut. Matanya memandang tanpa berkedip seolah kalau ia berkedip, maka sosok di depannya kan hilang. Orang yang diperhatikan oleh Sakura mengernyit heran. Tetapi ekspresinya tak akan terlihat oleh Sakura karena wajahnya tertutup topeng. "Kau tak apa?" Ia mengulurkan tangannya membantu Sakura berdiri.
Sakura langsung tersedar dari perbuatannya. Pipinya langsung merona merah. Malu. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan keadannya kini.
Sakura langsung menyambut uluran tangan orang tersebut. Ia berdiri dan menepuk-nepuk bajunya membersihkan dari debu jalan. "A… arigatou gozaimasu."
"Hn. Aku permisi." Ucap orang tersebut dan langsung berlari melewati Sakura. "Ah… Tung-"
Sakura belum sempat menanyakan nama orang tersebut. Sayangnya ia telah pergi. Ketika ia ingin memanggilnya, sekilas, ia melihat rambut orang tersebut berbentuk chicken butt.
"Eh… Rambutnya tadi seperti…". 'Sepertinya pernah kulihat… benarkah itu…'
Sakura menggeleng menghapus apa yang ada di benaknya. "Tidak! Lupakan itu! Mana mungkin!" Ucapnya pada diri sendiri. Sakura melangkahkan kakinya menuju tempat kerjanya.
.
.
.
Tap… tap… tap…
"Ah… Sakura-san!" Sakura menoleh. "Ada apa Sayuri-san?"
"Baru saja Tsunade-sama memberikan pesan. Beliau meminta anda datang ke kantor hokage sekarang juga." Jelas Sayuri. "Sekarang juga?" Tanya Sakura yang lebih menjurus gumaman kecil. Sayuri mengangguk. "Ya."
Sakura tampak berpikir sebentar. "Hh… baiklah. Arigatou, Sayuri-san." Ia langsung berlari menuju kantor hokage.
Sayuri tersenyum. "Ha'i! Daitashimasta!"
.
.
.
"Permisi, Tsunade-sama. Apa anda memanggil saya?" Tanya Sakura di ambang pintu begitu membuka pintu ruang kerja hokage. Tsunade mengangguk. "Ya. Aku memanggilmu karena aku akan memberikanmu misi." Ucapnya kepada Sakura yang berjalan mendekati meja hokage tersebut.
"Misi kali untuk mereka berdua." Ucap Tsunade seraya menunjuk kedua orang yang mengenakan topeng. "Haruno Sakura. Ku tugaskan kau untuk menyembuhkan jika ada yang terluka. Itu tugasmu sebagai medic-nin. Kau paham?"
Sakura mengangguk paham. "Ya. Saya paham."
"Baiklah, kalian bertiga sudah menjadi tim inti untuk misi ini. Silahkan laksanakan." Ucap Tsunade. "Ha'i!"
.
.
.
"Kita akan melaksanakn dimana?" Tanya Sakura ketika mereka dalam perjalanan. Salah seorang dari mereka menjawab. "Kau ikut saja."
'Mereka siapa? Rasanya aku tak pernah melihat anbu seperti mereka.' Batin Sakura bertanya-tanya.
Sakura tak bertanya apapun lagi. Selama perjalanan tersebut hanya diisi oleh keheningan.
.
.
.
"Disini."
Sakura menghentikan langkahnya begitu anggota satu timnya berhenti. "Disini?" Gumamnya pelan. Sakura melihat sekeliling. Pohon-pohon yang menjulang tinggi. Hampir seluruhnya menutupi cahaya matahari.
Anbu bertopeng anjing mendudukkan dirinya di bawah naungan sebuah pohon besar. Sakura memerhatikan anbu tersebut.
"Apa kau lihat?!" Seru anbu tersebut. Sakura langsung tersadar kemudian mengalihkan pandangannya.
"Hei, Uchiha-san, lebih baik kita istirahat dulu di sini, Kita sudah menghabiskan waktu berjam-jam." Ucap seorang anbu bertopeng monyet kepada anbu bertopeng anjing yang dipanggilnya Uchiha-san.
"Hn. Terserah." Ucap anbu bertopeng anjing tesebut.
Sakura yang mendengar pembicaraan para anbu tersebut terpaku. Pikirannya melayang entah kemana. Setelah mendengar nama anbu bertopeng anjing, Uchiha-san, ia langsung seperti itu.
'Uchiha…? Sasuke kah…?'
"Uchiha…?" Sakura bergumam tak sadar. Ia bergumam pelan namun masih mampu didengar oleh kedua anbu tersebut.
Anbu bertopeng anjing menoleh. "Hn." Ia menatap Sakura dengan tatapan matanya yang dingin dan menusuk. Sakura yang tersadar langsung menelah ludahnya.
"E… eh… tidak apa. Aku hanya merasa pernah mendengarnya. Gomennasai, Uchiha-san." Ucap Sakura sedikit menundukkan kepalanya.
Anbu tersebut langsung memalingkan wajahnya tanpa menggubris perkataan Sakura. Sakura hanya tersenyum kecut lantaran anbu bertopeng anjing tersebut terlalu bersikap dingin padanya.
.
.
.
Malam telah datang. Sakura duduk termenung di bawah naungan sebuah pohon besar. Sesekali ia memerhatikan kedua anbu yang entah sedang membicarakan apa. Mereka sangat serius. Sakura yakin, ia takkan bisa begabung dalam obrolan kedua anbu tersebut. Mana pula salah satunya tampak sangat dingin dan cuek.
Sakura yang tampak bosan, lebih memilih membenamkan kepalanya diantara kedua lututnya. Tubuhnya mulai gemetar kedinginan. Saking menikmati posisinya, ia tak menyadari jika kedua anbu tersebut telah menyelesaikan obrolan mereka. Salah seorang anbu tersebut mendekati gadis pinky itu.
Pluk. Sakura merasa ada yang melemparinya dengan sesuatu. Segera ia mengangkat kepalanya dan ternyata seorang anbu bertopeng anjing berdiri tepat di hadapannya. Anbu tersebut menatap Sakura dengan tatapan dinginnya.
"Hn. Pakai itu." Ucapnya dingin dan datar. Ia langsung berbalik meningalkan Sakura.
"A… Uchiha-san. Arigatou gozaimasu." Ucap Sakura menghentikan langkah sang anbu tersebut.
"Hn." Anbu tersebut kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Sakura menuju tempat anbu bertopeng monyet.
'Kukira ia dingin sekali. Ternyata masih ada sisi baiknya.' Sakura mengunggingkan seulas senyuman ketika sang anbu telah pergi.
.
.
.
Waktu sudah hampir menunjukkan tengah malam. Sakura masih saja tak dapat memejamkan matanya barang sedikit pun. Berbalik dengan para anbu yang sudah tertidur nyenyak. Entah mereka bermimpi apa sampai bisa tertidur sepulas itu.
Sakura beranjak bangkit. Ia berjalan meninggalkan para anbu yang terlelap. Entah ia menuju kemana. Ia melangkah pergi sesuai kehendak kakinya. Hingga…
Srak… srak…
'Apa itu?'
Syuut….. tak tak tak
3 buah kunai menancap di pohon di belakang Sakura. Sakura langsung mengambil kunainya dan bersiap-siap jikalau ada lagi yang menyerangnya.
"Siapa?!" Serunya. Tak ada jawaban.
Srak… srak… suara gemerisik sek-semak kembali terdengar. Sakura menatap kearah semak tersebut.
"Ternyata ninja cewek."
Sakura menatap kearah sumber suara tersebut. Begitu melihatnya, mata emeraldnya membulat sempurna. Ia sangat terkejut dengan jumlah orang di hadapannya. 'Gawat! Ada 40 orang. Mereka membawa senjata yang besar. Sedangkan aku hanya sendirian!'
"Nona, ayo main dengan kami." Ucap salah seorang dari mereka. Sakura langsung melemparkan kunainya.
Jleb. Kunai tersebut menancap tepat di dada orang tersebut. Teman-temannya langsung menyerbu Sakura. Tentu saja Sakura langsung menyiapkan kuda-kudanya dan…
"HYAAAA!"
BUGH!
Orang yang tadi menyerang Sakura ada yang langsung terpental 1000 m begitu terkena pukulan super darinya. Yang tersisa semakin beringas menyerang Sakura. Sakura pun kembali melancangkan pukulannya. Hanya beberapa yang kena. Mereka sudah gampang menghindar dari pukulan maut Sakura.
Sakura yang sedang menyerang orang di depannya tak menyadari kalau ada yang hendak menyerangnya dari belakang. Orang tersebut sudah mengayunkan senjatanya.
"MATI KAU!"
Sakura menoleh kearah belakang. Ia sudah tak sempat mengelak lagi. Ia hanya pasrah dan menutup matanya. 'Tidaaak!'
Chidori! Crash! Bruk!
Sakura tak berani membuka matanya. Hingga ada yang menepuk bahunya pelan.
"Haruno."
Sakura membuka matanya. Ia menatap seseorang di hadapannya. Kini bukanlah lagi musuh yang siap menusuknya dengan senjata melainkan sesosok anbu yang menggunakan topeng anjing.
"U… Uchiha-san?" Gumam Sakura yang masih mampu didengar oleh anbu tersebut.
"Hn. Kau tak apa?" Sakura hnya menjawab dengan anggukan.
"Hidechi! Tolong kau lawan yang di sebelah sana!" Seru anbu tersebut yang langsung direspon oleh anggukan oleh anbu bertopeng monyet.
Sakura terdiam memandang kea rah anbu bertopeng anjing tersebut. Yang ditatap kemudian balas menatap dengan sorot matanya yang menusuk. "Ngapain kau?! Bantu kami!"
Sakura langsung bangkit dan menyerang musuh di hadapannya. Mereka bertiga bertarung saling melindungi antar teman satu tim.
"SHANNARO!" BUAGH!
"Yak! Berhasil!" Ucap Sakura.
"Haruno! Awas!" Seru anbu bertopeng monyet ketika ia melihat salah seorang musuh henda menyerang Sakura dari belakang.
'Eh…?'
Crash
Darah mengucur dari punggung. Sakura yang tadinya memejamkan matanya kini membukanya menampilkan bola mata emeraldnya yang langsung membulat tatkala melihat apa yang ada di hadapannya.
Seorang anbu yang memeluknya. Menjadikan dirinya tameng untuk melindungi gadis pinky tersebut. Punggungnya yang tergores oleh senjata musuh kini telah besimbah darah. Ia telah menggantikan luka yang seharusnya diterima oleh gadis tersebut.
'Ka…kau…'
.
.
.
.
.
.
.
To be Continued
.
.
.
.
A/n:
Thanks for : hanazono yuri, Dhezthy UchihAruno, Uchiha Sasuke, KazuRin shippers, ongkitang, Uchiha Sakura dan untuk para readers yang sudah baca maupun hanya lewat doang!
Gomenne atas kesalahan pengetikan chapter kemarin dan untuk yang kurang berkenan atas fict ini.
Saatnya balas review!
Hanazono yuri : Sudah lanjuuuut….. Bagaimana? :3
Dhezthy UchihAruno : Sedang dalam proses…. Di tunggu aja ya. Ngebut ya? Sudah lanjuuut… :3
Uchiha Sasuke : Hn… Sudah. Baca lagi ya… :)
KazuRin shippers : Kalu soal kembalinya mungkin baru kejawab setengah di chapter ini. Mungkin nanti akan di jawab penuh di chapter depan. Sudah kilat? Arigatou! :)
Ongkitang : Lanjuut? Sudah! :3
Uchiha Sakura : Canon? Maaf bikin kamu bingung. Bandara yang disini tuh di luar konoha. Itu juga bukan pakai pesawat melainkan Gyaku Kuchiyose (Jurus pemanggil terbalik). Aku juga pas lagi ngetik bingung. Bandara? Hahaha… Aneh? Gomen! Makasih sudah ngingetin. Sudah datang nih :)
Sudah selesai….
Jaa…
Review?
