..
Langit malam begitu indah. Awan – awan putih melayang diatas langit bersama Bulan dan Bintang. Semilir angin tertiup pelan. Di tempat itu, dia duduk termenung memikirkan sesuatu. Bibirnya sesekali ia kulum lalu kembali menatap pantulan wajahnya dipermukaan air sambil mencelupkan kaki – kaki nya kedalam air yang dingin, menarik perhatian beberapa ikan kecil untuk mendekat. Ia menghela nafas lagi—entah untuk keberapa kalinya. Tak lama kemudian pantulan nya bertambah, seseorang muncul di sampingnya. Menyampirkan selimut tipis menutupi punggung sempit si mungil. Kepalanya terdongak, menatap pemuda tinggi disampingnya.
"Udara dingin saat malam hari, Baekhyuna! Kenapa kau tidak memakai mantelmu?" Pria yang lebih tinggi ikut mendudukan tubuhnya tepat di samping Baekhyun, merapatkan tubuh untuk mendapat kehangatan. Baekhyun tidak keberatan tentunya justru ia merasa nyaman.
Baekhyun—pria mungil itu mengeratkan pelukan selimut di tubuhnya lalu tertawa pelan "Maaf, aku lupa..."
"Apa yang kau lakukan disini? Sedang memikirkan sesuatu?"
"Hm.."Ia memberi jeda "Ya. Sedikit."
Tanpa takut, pria itu mengelus puncak kepala Baekhyun dengan tangan besarnya. Lagi – lagi Baekhyun tidak menolak. Justru kepalanya ia sandarkan di bahu lebar pria albino itu dengan nyamannya "Aku tau kau sedang memikirkannya, bukan? Ck. Berani sekali ya dia melakukan itu padamu! Aku jadi gemas ingin mematahkan lehernya.."Ia berucap sambil mengepalkan tangannya diudara
Si mungil diam saja, nampak tak berniat untuk menjawab. Sehun—pemuda albino di sampinya itu berdehem sebentar lalu menarik tangan Baekhyun pelan membuat si empunya mendongak untuk menatapnya. Manik hijaunya bertemu dengan manik biru cerah didepannya. Ia tau pria mungilnya ini sedang dalam keadaan tidak baik dan dia mencoba menghiburnya tadi—walau gagal sih.
"Tolong jangan seperti ini! Aku tau kau terluka.."ia menatap lekat wajah Baekhyun. Tangannya menangkup pipi si mungil, mengelusi pipi berisi itu penuh kasih sayang "Jangan bersedih! Ingatlah, aku akan jadi orang pertama yang ada untukmu."
Baekhyun tercengang sesaat lalu kembali menunjukkan senyum bulan sabitnya "Terimakasih."Ia memegang kedua tangan Sehun, menyingkirkan tangan itu dari wajahnya untuk ia genggam "Lagipula, tidak ada gunanya marah dan bersedih. Yang perlu ku lakukan adalah tetap berada di sisinya, menunggu dan menyakinkannya, benarkan?" Pandanganya teralih, menatap pantulan bulan dibawahnya. Kakinya mengayun pelan membuat pantulan wajahnya ikut bergetar.
"Karena itulah tugasku.."
.
.
Another World
.
A Story by
Izahina98
.
"Bahkan jika kau berulang kali mengingkarinya. Aku akan tetap mencintaimu.."
.
Warning : Mengandung unsur Boys Love, yaoi, boyxboy, Mature content, Drama banget, Cerita pasaran
Don't Like? Don't Read!
.
Happy Reading!
...
...
.
"Ah! Chanhh, jangan digigit!"
Ia berkata begitu. Namun, tangannya menekan kepala Chanyeol semakin dalam. Dadanya membusung seolah menantang pria jangkung itu. Chanyeol menyeringai. Ia kembali menjilat, mengemut dan mengigiti tonjolan pink menggemaskan itu. Sebelah tangannya ia gunakan untuk bermain di tonjolan yang lain. Ia mumutar dan memelintir benda itu membuat si empunya melenguh keenakan.
Chanyeol menatap tubuh Baekhyun dibawahnya. Meneliti tiap lekukan indah tubuh suami mungilnya "Kau indah sekali, sayang.." ia membasahi bibirnya.
Ia kembali merunduk untuk kembali mengecupi leher si mungil. Menyesap lalu menjilatnya sesaat, meninggalkan jejak merah keunguan disana sebagai tanda jika pria mungil ini adalah miliknya. Ia terseyum ketika menatap penis tegang pria mungilnya. Ia memegang ujung penis Baekhyun yang sudah mengeluarkan precum nya. Memainkan jarinya di sekitar lubang kecil itu sambil menyeringai.
"Ahhnn!"
Chanyeol mencolek cairan itu dengan jarinya lalu beralih menatap lubang berkedut dibawahnya. Jarinya bermain di sana, mencoba melecehkan lubang Baekhyun yang seperti siap menyantap jemarinya. ia menggerakan jarinya memutari lubang dengan gaya sensual. Menekannya sedikit lalu menyapu bagian itu dengan lidahnya. "Hmp..Channhh.." Baekhyun kembali melenguh. Ia menyentuh penis kecilnya. Menaik turunkan tangannya untuk mencari kenikmatan sendiri. Karena jujur saja dia sudah tidak tahan.
Sudut bibirnya terangkat. Chanyeol membawa tangan besarnya untuk menyingkirkan poni basah yang menutupi wajah pria nya, mengelap peluh dengan jemarinya yang panjang. Chanyeol mengecupi dahi Baekhyun berulang kali lalu beralih pada belahan merah kenyal itu. Ia meraup bibir ranum Baekhyun gemas. Menghisap, mengigit dan menyedot nya sedikit kasar. Kepalanya bergerak ke kanan dan kekiri untuk mencari kenikmatannya. Lidahnya menjilati bibir itu, menekan belahan nya agar terbuka. Baekhyun yang mengerti segera memberikan izin. Tanpa buang waktu Chanyeol segera melesatkan lidahnya masuk. Menjelajahi tiap inchi rongga mulut prianya. Chanyeol menarik – narik benda tak bertulang pria nya, menautkan benda itu dengan miliknya.
"Hmpptt.. Chanhh..yeollh.."
Baekhyun memejamkan matanya, kepalanya tanpa sadar ikut bergerak mencoba mengimbangi permainan Chanyeol. Pertarungan sengit terjadi didalam. Chanyeol dengan gemas menarik – narik lidah Baekhyun. Liurnya terlihat menetes disudut bibir Baekhyun karna tautan mereka. Membuat bunyi kecipak terdengar disela ciuman panas mereka. Beberapa detik kemudian Chanyeol melepas tautan itu untuk mengirup oksigen sebanyak - banyaknya. Dia kembali menatap wajah memerah Baekhyun. Matanya berubah sayu dengan bibir kemerahan dan sedikit bengkak. Itu terlihat sangat menggairahkan bagi Chanyeol. Ia selalu menyukai belahan bibir itu. Terasa manis seperti permen kapas dan selalu membuatnya ketagihan. Ia kembali menyesap bibir Baekhyun sambil kembali memainkan puting itu dengan gemas.
"Chanh.. Cepatlah! Masukann.. ah! aku..sudaahh tidak..tahanhh.."
Chanyeol menyeringai lagi "Haha sabar sayang! Apa segitu ingin kah kau ku memasuki?
Baekhyun menangguk "Ahn! Cepatlahhhn.."
Pria itu mengangkat kedua kaki Baekhyun hingga menyentuh bahu, membuat si mungil mengangkang sempurna di depannya. Chanyeol dengan cepat mencengkram kebanggaannya lalu mengocokknya sebentar, melumuri kepalanya dengan cairan precum. Perlahan namun pasti ia mengarahkan penis besarnya kearah lubang sempit di depannya.
"Mhhmm!" Chanyeol berhasil memasukkan kepalanya. Ia kembali menatap Baekhyun yang tengah memejamkan matanya.
"Kau siap?"tanyanya memastikan
Baekhyun mengangguk lagi. Matanya tertutup rapat merasakan rasa sakit dan nikmat di lubangnya secara bersamaan. Kedua tangan Chanyeol mencengram pinggang si mungil. Ia melesatkan kebanggaan nya dalam sekali hentak hingga membuat tubuh Baekhyun menggelinjang
"AH!"Kepalanya sontak terdongak. Membuat leher mulusnya terekspos. Kembali ia menyesap leher Baekhyun kasar, menambah banyak tanda—lagi.
"Kau baik – baik saja? Bisakah aku bergerak sekarang?"Baekhyun membuka matanya membuat mata mereka saling bertemu. Baekhyun mengangkat kedua tangannya, mengalungkan kedua lengannya di leher Chanyeol. Pria mungil itu menarik Chanyeol mendekat lalu mengulum telinga lebarnya, kemudian berbisik pelan..
"Bergeraklah."
Chanyeol terkekeh "Kau tidak sabaran ya, nakal sekali istriku ini.."
Wajah Baekhyun memerah hebat sekarang. Malu. Ia palingkan wajahnya kearah lain. Chanyeol dengan cepat menangkup pipi Baekhyun agar tetap menatapnya "Tatap mataku, sayang! Aku ingin melihat ekspresi wajahmu saat mencapainya…"
Baekhyun memanyunkan bibirnya "Berhentilah! Kau membuatku malu.."
Chanyeol tertawa lagi. Ia kembali memegangi kedua sisi pinggang ramping Baekhyun lalu mulai memaju mundurkan pinggulnya perlahan. Tanpa sadar Baekhyun juga ikut menggerakkan pinggulnya, membuat tautan itu semakin dalam. Prostatnya tertubruk berulang kali membuat desahan – desahan nikmat lolos dari mulutnya.
"Ahn! Yahh! Disanahh..Chanh.."
Suara derit kasur semakin kencang bercampur menjadi satu dengan suara kulit tubuh mereka yang saling bersentuhan. Sesekali Chanyeol akan memainkan kedua tonjolan itu lagi yang mana membuat penisnya semakin terjepit didalam. Baekhyun mendesah dan Chanyeol menggeram.
"Ouch! Kau sempit sekali, sayang.."
Ia terus menyodok lubang itu semakin kencang, membuat Baekhyun terhentak – hentak dibawahnya. Pria mungil itu mencengkram selimut di sekitarnya, ia akan menjemput kenikmatannya sebentar lagi. Hingga di dua sodokan terakhir mereka mencapai kenikmatan mereka bersamaan.
"Ahhnnn.. Chanyeollll.."Ia melolong nikmat. Tubuh Baekhyun melengkung keatas seiiringan dengan cairan putih kental yang keluar dari penis kecilnya. Begitupula dengan Chanyeol yang berhasil memenuhi Baekhyun dengan cairannya.
Bruk.
Chanyeol terlonjak. Ia bangun dengan nafas terengah. Matanya bergulir menatap sekelilingnya, diluar masih nampak gelap. Matanya sontak melirik jam di dinding ruangan. Tepat tengah malam. Kepalanya ia tolehkan, menatap sisi kasurnya yang kosong. Tidak ada Baekhyun disana, hanya dia seorang diri. Ia mengelap kasar keringat yang meluncur di daerah dahinya.
"Astaga! Mimpi apa aku barusan?" ia memekik
Matanya lantas membola, tersentak ketika merasakan sesuatu. Ia menyibak selimut tebalnya lalu mengintip sesuatu dibalik celana piyama baby blue yang ia gunakan. Basah. Ia memejamkan mata sambil mendesah frustasi.
"Aish! Memalukan sekali.."
-Another World-
Sepertinya memang benar, Baekhyun tidak tidur dengannya semalam. Buktinya ia tidak mendapati pria mungil itu di ranjangnya. Rasa bersalah dan malu terus menderanya. Bersalah karna perbuatannya kemarin dan malu karena mimpi nya tadi pagi. Bahkan gambaran mimpi itu terus berputar dengan jelas diotaknya. Bagaimana wajah memerah Baekhyun, kedua mata sayu yang menatapnya, bibir merekah itu. Chanyeol menggelengkan kepalanya cepat, buru – buru menghilangkan pikiran kotor dari otaknya.
Ia sudah membulatkan tekad untuk meminta maaf pada pria mungil yang mengaku menjadi istrinya itu. Sepertia biasa, ia akan menyusuri lorong – lorong panjang hanya untuk mencapai ruangan makan. Ia tersenyum saat beberapa kali berpapasan dengan pelayan atau prajurit yang melintas atau sedang berjaga. Pintu besar berwarna cokelat kemerahan menyambutnya—itu ruang makan. Ia mendorong kedua pegangannya secara bersamaan.
Sebuah meja makan panjang dengan beberapa kursi disetiap sisinya terpasang sempurna di tengah ruangan. Hiasan lampu kaca berwarna bening menggantung di langit – langit, menjutai diatas meja makan. Menambah elegan ruangan ini. Ia menarik satu kursi paling unjung yang memang disediakan untuknya. Dihadapannya kini segala jenis makanan sudah terhidang. Ia memang tidak terlalu mengenal nama makanan tersebut. Tapi tidak masalah, yang penting makanan ini sehat dan juga mengenyangkan. Rasanya juga sangat enak, seperti hidangan di restoran berbintang. Ia melirik sekitar. Pria mungilnya belum ada di seberang kursi nya. Apa dia sakit? Atau telat bangun? Ah sepertinya yang terakhir itu tidak mungkin. Baekhyun sangat rajin. Bahkan dia selalu bangun lebih awal dari Chanyeol.
"Kemana dia?"
Tak lama kemudian pintu kembali terbuka, menampilkan sosok yang memang sedang ia tunggu kehadiran nya. Hanya perasaannya atau memang Baekhyun terlihat semakin cantik saja hari ini. Refleks ia membenahi pakaian kerajaan berwarna merah yang ia kenakan, menyisir sebentar rambut hitamnya dengan jemari agar terlihat rapih. Namun sayang, senyum merekahnya kembali redup ketika menyadari keberadaan pria albino dibelakang Baekhyun. "Ck, dia lagi.."Chanyeol mengumpat dalam hati.
Baekhyun menatap Chanyeol sesaat, sedikit membungkukkan badannya untuk memberi salam pada sang Raja lalu menempati tempat duduknya. Tidak ada senyuman manis tersuguh di wajah nya seperti yang sering dia tunjukkan. Dan itu membuat sesuatu terasa berbeda. Acara makan pagi dimulai setelah Chanyeol mempersilahkan. Ruang makan terasa sepi. Tidak ada yang memulai pembicaraan, hanya suara dentingan sendok dan piring yang mendominasi. Chanyeol sesekali melirik Baekhyun yang terlihat tenang melahap daging panggang dipiringnya. Ia menarik nafas dalam lalu memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
"Hm, Baek? Kau masih marah padaku?"Ia bertanya ragu
"…"
Chanyeol mengatupkan bibirnya kembali, menarik nafas sesaat untuk kembali bicara "Ternyata kau masih marah ya? Serius. Aku tidak bermaksud. Kemarin itu aku hany—"
"Dilarang berbica saat dimeja makan"Sehun memperingati
Chanyeol mendelik. Sehun menatapnya balik dengan ekspresi datar andalannya. Hell—biasanya juga dia selalu berbica pada Baekhyun saat sarapan. Apa – apaan si albino ini? Chanyeol menatapnya sinis "Diamlah. Aku ingin berbica dengannya.."
Pria jangkung itu berniat melayangkan sebuah pertanyaan lagi namun urung saat Baekhyun menatapnya.
"Bisakah aku menikmati sarapanku dengan tenang?"
Chanyeol memanyunkan bibirnya sesaat lalu mengangguk dengan patuh. Dan demi apa dia bisa lihat senyum kemenangan yang diberikan Sehun padanya barusan. Chanyeol menatapnya tak suka lalu menghela nafas setelahnya. Percuma saja jika harus memaksa berbicara. Mungkin setelah sarapan dia akan kembali bicara pada Baekhyun.
Dan masih dengan usahanya. Chanyeol terus mengekori Baekhyun kemanapun ia pergi. Bahkan ia sampai melupakan tumpukan kertas penting di meja kantornya lalu bertengkar dengan Sehun hanya untuk berebut posisi disamping pria mungilnya. Tapi lama – lama lelah juga. Chanyeol mendudukan dirinya, sambil sesekali menghela nafas. Saat ini Baekhyun sedang berlatih. Dia tidak mungkin mengganggunya. Di sana, terpasang beberapa target kayu pipih berbentuk manusia dengan beberapa titik berwarna merah sebagai targetnya. Baekhyun mengambil anak panah di punggungnya lalu memasang ancang – ancang. Matanya fokus menatap bulatan merah didepannya.
Shuuut.
Tak!
Anak panah itu mengenai sasarannya dengan tepat dan itu adalah anak panah kelima yang ia luncurkan. Semua tepat mengenai target. Ternyata apa yang dia bilang kemarin itu memang benar, ia ahli dalam membidik. Chanyeol bertepuk tangan kagum sambil bersorak kegirangan seperti anak bocak sekolah dasar, mau menarik perhatian Baekhyun sebenarnya. Dan berhasil walau hanya sebentar.
Baekhyun meliriknya sesaat lalu menaruh busurnya ketempat semula. Kakinya ia langkahkan menjauhi arena latihan. Chanyeol segera menyusul tentunya. Ia sedikit berlari agar bisa mensejajarkan tubuhnya. Para pelayan hanya terseyum sambil berbisik saat melihat tingkah Raja mereka.
"Baek! Ayolah aku ingin bicara..."Rengeknya
Baekhyun sebenarnya tidak benar – benar marah pada Chanyeol. Ia hanya sedikit kesal karena kejadian kemarin. Chanyeol menangkap tangan Baekhyun lalu menariknya keras hingga membuat tubuh mereka bertubrukan.
"Baekhyun! Dengarkan aku."
Baekhyun berbalik mendorong dada Chanyeol pelan untuk membuat jarak diantara mereka. Ia melipat tangannya didepan dada dengan ekspresi wajah datar "Yasudah. Bicaralah.."
Ditatap seperti itu malah membuatnya gugup tiba – tiba. Dan yang lebih parah lagi, memori tentang mimpinya tadi malam ikut berputar tanpa ia suruh. Matanya bergulir dengan gusar. Kalimat yang telah ia susun sedemikian rupa menghilang begitu saja. Otaknya blank. Lidahnya seolah kelu tak bisa mengeluarkan kata. Didepannya Baekhyun masih setia menunggu nya untuk bicara.
"Aku..mm..itu.."Ia tergagap
"Bicaralah yang jelas.."Baekhyun terlihat mulai kesal sekarang
Oke. Chanyeol menyerah. Setengah jam berlalu dan Ia tak kunjung menemukan kalimat yang ingin ia sampaikan. Chanyeol menggaruk belakang kepalanya kikuk "Ti—tidak. Maaf, tidak jadi.."
Baekhyun memutar bola matanya jengah. Menunggu lama hanya untuk mendengar dia berbicara begitu? menyebalkan sekali. Ia berdecih lalu tanpa kata segera meninggalkan Chanyeol ditempatnya.
"Ah sial! Kenapa kau sebodoh ini?"Chanyeol memaki dirinya sendiri.
Dan hari berlalu begitu saja. Ia selalu berusaha mengajak Baekhyun bicara namun selalu berakhir dengan cara yang sama. Ia terus menyalahkan mimpi bodohnya tempo hari yang selalu keluar di waktu dan tempat yang salah. Jantungnya akan berdegup kencang dan wajahnya akan memanas tiba – tiba ketika bertemu pandang dengan Baekhyun dan berakhir dengan Chanyeol yang kemudian menghindarinya. Jujur saja—ia baru merasakan perasaan aneh ini. Dan bodohnya dia tidak bisa menyimpulkan perasaannya sendiri.
Sementara itu..
"Baekhyuna! Kau sudah berjam – jam berlatih, istirahat saja dulu.."
Yang diajak bicara justru tetap memfokuskan arah bidikannya. Ia kembali melesatkan satu anak panah kearah target namun kembali meleset—tidak seperti biasanya. Sehun menyadari itu. Baekhyun memang terlihat aneh beberapa hari ini. Pria albino itu segera mengambil paksa busur dari tangan Baekhyun lalu melemparnya ketanah dengan kasar.
"Dengar! Kau harus istirahat, oke? Lihat tangan mu sampai lecet begini.."Sehun membuka telapak tangan Baekhyun yang terlihat memerah
"Aku baik – baik saja! Kau itu—"
"Hei ada yang bisa aku bantu? Sepertinya kau sedang kesulitan.."Baekhyun dan Sehun lantas menoleh kearah asal suara
Itu Chanyeol dan si mata bulat. "Ck—"Sehun berdecih. Semakin lama Chanyeol memang semakin dekat dengan pelayan baru itu. Baekhyun memutar matanya tak peduli. Dengan cepat ia merangkul lengan Sehun—membuat pria yang dirangkul bingung tentu saja. Sehun melirik Baekhyun dengan kerutan didahinya namun Baekhyun malah menanggapi nya dengan sebuah senyuman manis. Sedangkan. Dari kejauhan, Chanyeol melirik Baekhyun sekilas. Raut tidak suka terlihat jelas disana. Aneh sekali. Mereka itu terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang saling membuat pasangannya cemburu. Semacam balas dendam.
Malam menjelang. Lagi – lagi Chanyeol tidak menemukan Baekhyun disisi ranjangnya. Sudah berhari – hari ia tidur seorang diri, seperti keinginannya diawal. Tapi tidak sekarang. ia menjadi sulit terlelap kini. Sering terjaga sepanjang malam hanya untuk memikirkan hal – hal yang tidak jelas. Warna kehitaman terlihat dibawah matanya. Ia menghela nafas lagi lalu memejamkan matanya perlahan. Matanya memberat. Sebelum benar – benar tertutup Chanyeol bisa melihat pintu kamarnya yang terbuka, menampakkan sosok mungil diambang pintu. Tersenyum manis kearah nya
"Baekhyun…"
-Another World-
Seorang pria paruh baya nampak berlari mengejar dua orang yang berjalan di depannya "Yang mulia!"Ia memanggil
Kedua orang itu sontak berhenti dan berbalik secara bersamaan. Pria paruh baya itu nampak terengah. Ia mengirup nafas dalam lalu kembali fokus menatap dua orang di hadapannya. Tubuhnya ia bungkukkan sesaat untuk memberi salam.
"Ada apa penasehat Shin?"Pria bermata biru itu bertanya
"Maaf Yang mulia. Hari sudah menjelang siang tapi saya tidak menemukan Yang Mulia raja di kantornya. Sebentar lagi Raja dari negeri Hyra akan segera tiba. Saya sudah mencoba membangunkan beliau dikamarnya tadi pagi namun beliau tidak kunjung datang.."Ia menjelaskan. Raut cemas terlihat jelas di wajahnya
Baekhyun dan Sehun saling berpandangan sebentar lalu kembali menatap penasehat Shin dihadapannya "Baiklah. Aku akan coba membangunkannya.."
Tanpa buang waktu lagi Baekhyun dan Sehun bergegas menuju kamar sang Raja. Di depan kamar tidak terlihat pengawal yang berdiri disana seperti biasanya. Baekhyun mengerutkan keningnya—merasa ada yang aneh. Pintu tinggi itu ia buka sedikit kasar, sengaja supaya membangunkan penghuni didalamnya. Benar saja, kamar masih terlihat berantakan dengan pakaian yang berceceran diatas lantai. Baekhyun berjalan mendekati ranjang Chanyeol. Terlihat gundukan di dalam selimut itu.
"Chanyeol! Bagunlah ini sudah siang.."Baekhyun mengguncang gundukan itu sambil sedikit menarik – narik selimutnya
Tak lama kemudian terlihat kepala menyembul dari balik selimut tersebut. Itu Chanyeol. Wajahnya terlihat masih mengantuk dengan mata yang terpejam sebelah, rambutnya berantakan dan garis panjang tercetak di wajah tampannya. Baekhyun berubah iba. Tadinya ia ingin mengomelinya habis - habisan namun urung ketika melihat wajah kelelahannya.
"Baek..hyun?"Ia mengedipkan kedua matanya berkali – kali lalu mengusap matanya "Kenapa kau ada disitu?"Chanyeol melanjutkan.
Baekhyun menatapnya dengan wajah kebingungan begitu pula dengan Sehun yang berdiri di sampingnya "Huh? Apa maksudmu?"
"Tidak. Bukannya kau tidur di sebelahku ya?"tanyanya kembali
Baekhyun semakin mengerutkan keningnya tak mengerti. Apa kepalanya terbentur sesuatu sampai tingkahnya aneh pagi – pagi begini? Atau terlalu banyak tidur? Pikir Baekhyun
"Apa – apaan! Semalam aku tidak tidur dikamarmu. Kau bisa tanyakan Sehun jika tidak percaya.."
Kini giliran Chanyeol yang menatapnya kebingungan. Ia melirik selimutnya "Lalu semalam siapa yang datang kekamarku?"
Sehun menatapnya datar. Ia memegang ujung selimut Chanyeol, hendak menariknya... "Kau ini bicara apa sih! Sudahlah. Lebih baik kau bergegas kare—"
…Namun terdiam ketika melihat sosok lain dibalik selimut. Masih dengan mata terpejam dengan tubuh meringkuk tanpa balutan apapun. Bukan hanya Sehun. Baekhyun dan Chanyeol pun terkejut ketika menatapnya. "Eungh.. apa sudah pagi?"Orang itu melenguh. Ia bangkit dan mendudukan tubuhnya.
"Ba—bagaimana bisa kau ada dikasurku? Bukankah semalam itu..."Chanyeol melirik Baekhyun yang masih terlihat bergeming ditempatnya lalu kembali melirik sosok mungil disampingnya. Mata bulatnya ia usap lalu menguap setelahnya.
"Bukankah Yang mulia yang memintaku tidur disini?"ucapnya enteng
Chanyeol menggeleng cepat lalu segera melompat turun dari kasurnya. Ia ingin meraih tangan Baekhyun namun Sehun segera menyembunyikan Baekhyun dibalik tubuhnya. Tangan pria albino itu terkepal kuat, giginya bergemeletuk menahan amarah.
"Please Baekhyun! De—dengarkan aku dulu.." Ia menatap Baekhyun yang memalingkan wajahnya "Sumpah, aku tidak melakukan apapun!"ujarnya panik
"Kau..Kau selalu bilang jika hubungan ini tidak seharusnya ada. Tapi yang sekarang aku lihat ini apa?"Baekhyun menatapnya nanar. Ia memang tidak menangis namun Chanyeol bisa melihat raut kekecewaan disana.
"Tapi aku berani bersumpah jika semalam yang aku lihat itu kau, Baekhyuna!"Ia berteriak frustasi.
Chanyeol mendorong tubuh Sehun agar pria itu menyingkir dari jalannya. Ia meraih tangan Baekhyun cepat lalu memaksanya untuk menatap matanya kini.
"Baek, aku serius! Ini tidak seperti yang kau piki—"
"Lepas!"potongnya cepat
Pria tinggi itu menggelengkan kepalanya. Tangan Baekhyun semakin kuat ia genggam seolah tidak ingin melepasnya barang sedetik pun "Aku tidak akan melepasnya sebelum kau mendengarkan aku.."
Baekhyun tertawa kecil "Memangnya apa yang mau kau jelaskan? Aku sudah melihat buktinya jadi kurasa tidak ada yang perlu aku dengar lagi.."
"Kumohon, Baekhyun.."ia memelas
Baekhyun menghela nafas "Chanyeol, kenapa kau selalu mengombang ambing perasanku seperti ini? Jika kau memang tidak mencintaiku, lebih baik kau lepaskan tanganku dan semua akan berakhir sampai disini..."
"Tapi aku tidak mau.."
"Lalu apa kau mencintaiku?"Baekhyun kembali bertanya. Chanyeol malah terdiam ditempat. Pikirannya melayang. Ia bertanya – tanya dalam hati, Apa dia mencintainya? Mencintai pria mungil didepannya? Ia menghela nafas untuk kembali menatap Baekhyun—ingin menjawab namun Baekhyun sudah melepas genggaman tangannya terlebih dulu.
"Sudah kuduga. Kau memang tidak mencintaiku lagi bukan? Haha—bodohnya aku yang masih bertahan.." Baekhyun sebenarnya tidak mau seperti ini. Namun sesuatu didalam hatinya seolah melarangnya keras untuk kembali percaya pada Chanyeol. Membuat dada kirinya kembali berdenyut sakit.
"Tapi—"
"Cukup! Aku tidak mau melanjutkan nya lagi.."Ia menekan dada kirinya, mencoba meredam rasa sakit yang mendera sebelum akhirnya berbalik pergi. Chanyeol ingin mengejar namun Sehun sudah lebih dulu mendaratkan pukulannya. Ia sudah cukup bersabar tadi. Lagipula ia tidak mungkin menghajar Chanyeol dihadapan Baekhyun. Lihat? Chanyeol langsung jatuh tersungkur hanya dalam satu pukulan. Bibirnya sobek dan pipinya berubah kemerahan.
"Brengsek kau! Aku sudah memperingati mu waktu itu. Aku akan benar – benar mematahkan lehermu sekarang juga, sialan!"Sehun berteriak. Ia menarik piyama Chanyeol, mengangkat tubuhnya keudara hingga kakinya tak lagi menapak. Tangannya sudah siap mengudara sebelum akhirnya…
Prok.
Prok.
Prok.
Mereka menoleh bersamaan. Kyungsoo—pria bermata bulat itu kini telah berpakaian lengkap. Ia duduk di tepi ranjang sambil mengangkat sebelah kakinya. Sayap hitamnya terbentang lebar di balik punggung. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringaian "Ternyata tidak sulit juga. Dengan begini tugasku sudah selesai…"
Bola mata Sehun melebar "Jangan bilang makhluk licik itu yang mengirim mu kesini?"Sehun berujar tak percaya
Pria bermata bulat itu mengangguk "Seperti biasa kau selalu telat menyadarinya, Sehun! Oh ya, sebaiknya kau cepat cari Baekhyun mu itu sebelum dia berhasil mendapatkannya lebih dulu."Ia tertawa lalu menghilang di balik sayapnya
"Shit!"Sehun mengumpat, ia menghempaskan tubuh Chanyeol dengan kasar ke lantai.
Sementara itu. Baekhyun berjalan cepat ke arah tempat dimana kuda – kuda istana di letakkan. Awan hitam telah terlihat diatas langit diiringi dengan kilatan cahaya. Namun langkahnya terhenti ketika ia merasa jika ada seseorang yang mencengkram bahu kanannya dari belakang.
"Sudah ku bilang, aku tidak mau bicara lagi dengan—"Ia terdiam
Pria di depannya tersenyum. Refleks Baekhyun segera melompat kebelakang—menghindar. Ia menggumamkan sesuatu, memunculkan sebuah belati dari ruang hampa dan bersiap menerjang pria didepannya kapan saja. Baekhyun menaikan ujung belatinya, tidak lebih tinggi dari kepala dan tidak lebih rendah dari perut. Ia memasang kuda – kuda sedang kedua matanya fokus menatap objek didepannya.
pria itu beranjak mendekati Baekhyun "Ayolah! Aku hanya ingin membawamu ikut bersama ku, Baekhyuna.."
"Brengsek! Jangan harap itu terjadi!"
Baekhyun mengarahkan belatinya. Pria itu menaruh tangan kanannya di depan wajah, memblok serangan Baekhyun dari manapun ia menyerang. Pria berpakaian hitam itu sesekali menghindar tanpa berniat membalas. Kaki kanan Baekhyun melayang untuk mendaratkan sebuah tendangan tepat di sekitar tulang rusuknya. Tubuhnya oleng dan dengan cepat Baekhyun mengarahkan belatinya—lagi kearah pria berjubah hitam itu namun berhasil dihalau. Perutnya ia tendang hingga membuat Baekhyun terpental cukup jauh.
"Argh!"Baekhyun berteriak. Dia merasakan sakit dan panas di perutnya. Darah segar taunya sudah keluar dari sudut bibir si mungil. Di usapnya kasar cairan itu lalu kembali menatap nyalang pria tinggi tersebut
"Keparat kau!" Ia tidak menyerah. Sekali lagi ia mencoba bangkit. Baekhyun menarik nafas panjang setelah memungut belati nya yang sempat terjatuh barusan, menggenggam benda itu semakin kuat.
Baekhyun kembali berlari menerjang. Ia menusuk, menyerang leher pria tersebut namun sang pria berhasil mengelak membuat bidikan ujung belatinya meleset. Pria itu menggenggam pergelangan tangan Baekhyun. Dengan gerakan lihai, ia memutar tangan si mungil dan menjatuhkan tubuhnya dengan mudah ketanah. Pria itu menghimpit tubuh Baekhyun hingga membuat si mungil tidak bisa bergerak. Baekhyun menggeram dan meronta. Pria misterius itu merendahkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya tepat ke telinga si mungil.
"Bodoh!"Gerutunya "Seharusnya kau sadar jika yang kau lakukan ini hanya sia – sia saja, Baek."
Di sisi lain. Keadaan istana berubah kacau. Para pengawal dan pelayan berlarian kesana kemari hanya untuk mencari keberadaan Baekhyun. Diluar langit berubah gelap. Angin bertiup dengan kencang. Disaat yang sama gerbang depan istana hancur karena hantaman makhluk menyeramkan yang datang dalam jumlah banyak. Dilangit beberapa Imp terlihat mengudara. Makhluk sejenis iblis dengan tanduk kecil diatas kepalanya dan terbang menggunakan sayap menyerupai kelelawar.
Sedangkan dibawah para Minotaur dan bangsa Ogre sudah menyerang. Para pengawal berkemampuan khusus di tempatkan di barisan paling depan. Mereka membangun benteng tanah menggunakan kekuatan yang mereka punya. Bangsa Ogre, dengan tubuhnya yang besar dan kuat mereka menerjang perisai tanah itu dengan tubuhnya berkali – kali hingga hancur tak berbentuk. Sedangkan para Minotaur segera memanfaatkannya, mereka bergerak melewati perisai yang telah hancur tersebut. Makhluk dengan tubuh bagian atas Banteng dan bagian bawah manusia. Mereka menyerang siapa saja dengan melayangkan serangan menggunakan senjata berbentuk pemukul bassball di tanganya—walau ukurannya jauh lebih besar.
Sehun memutar otak—berusaha mencari strategi yang tepat. Ia harus segera menyelesaikan masalah ini agar ia bisa menemukan Baekhyun. Hingga Akhirnya ia memutuskan untuk melepas Lyan dari kandangnya. Cukup ampuh. Singa itu menerjang beberapa Minotaur dengan tubuh besarnya hingga terjatuh sebagian diantaranya.
Para prajurit hanya tersisa sedikit dan musuh masih tersisa lumayan banyak di sana. Sehun bahkan sudah mematahkan 2 pedang sekaligus dalam pertarungannya barusan. Ia terengah. Hingga tiba - tiba saja puluhan anak panah melesat cepat dari arah gerbang. Sehun memicingkan matanya lalu tersenyum kemudian. Ia menatap pria berkulit tan yang ikut masuk memimpin dengan menunggangi sebuah kuda bersama para Centaurus—Manusia bertubuh kuda di bagian bawahnya. Beberapa dari mereka melesatkan puluhan anak panah pada musuh di depannya sedang sebagian lagi terlihat bertarung dengan pedang dan tombak.
Mereka bertemu di tengah arena pertarungan. Si kulit tan melompat turun dari kudanya, mendekati Sehun lalu berdiri saling membelakangi "Hai sobat! Kupikir kau tak akan datang."Sehun berujar dibelakangnya
Ia menggidikan bahunya "Haha—saat melihat awan hitam diatas istana kupikir kau akan membutuhkan bantuanku."
Mereka berputar, saling menebas musuh yang datang mendekat. Mereka kembali tersenyum "Kemampuanmu tidak berubah juga!"
"Tentu saja! Kau akan takjub saat melihat kemampuan baru ku, Jongin-ya!"
Sementara itu Chanyeol masih sibuk menyusuri sekitar istana untuk menemukan Baekhyun. Perasaan nya berubah tak enak. Dan benar saja. Didepan sana, ia melihat Baekhyun yang sedang berusaha melepaskan diri dari musuhnya. Ia menggeram. Tubuhnya memanas tiba – tiba dan ia bisa melihat dengan jelas lambang Phoenix yang muncul di punggung tangannya. Dua pedang kembar yang sama panjangnya tau – tau sudah melayang di depannya, seolah meminta Chanyeol untuk menggunakannya. Ia terdiam sesaat. "Wow! Apa ini senjataku?" Kedua tanganya meraih benda itu dan ia dapat merasakan kekuatan aneh mengalir di dalam tubuhnya.
Tanpa sepengetahuannya, rambutnya kembali berubah merah dengan aura api di sekitar melesat cepat, menyerang pria berjubah itu dengan gerakan memutar. Pria berjubah itu sontak melompat menjauh ketika Chanyeol mengayunkan sebelah pedangnya. Baekhyun termangu ditempat.
"Baekhyun larilah!"Ia berteriak
Ia memang pernah memenangkan kejuaraan bela diri dulu. Namun kemampuan berpedangnya di bawah rata – rata. Dia bahkan tak pernah memegang benda semacam ini seumur hidupnya. Tapi aneh nya tubuhnya kini bisa bergerak dengan sendirinya, mengimbangi gerakan gesit pria misterius di depannya. Menganyun dan menebas musuh didepannya dengan gerakan cepat dan tepat, ia seperti sudah hafal dengan gerakan – gerakan ini.
Pria berjubah itu berdiri diatas pohon. Merapalkan mantra hingga memunculkan pedang di tangannya. Sebuah benda panjang berwarna hijau keluar dari bagian bawah pedang, seperti sebuah batang bunga mawar yang berduri—bergerak untuk melilit pegelangan tangan nya "Demor, minumlah darahku." Duri itu seketika menancap di kulitnya, menyedot darah si pemilik. Pedang berubah merah seperti darah. Ia menatap tajam Chanyeol dari atas sana "Hebat juga kau bisa melepas sedikit segel yang kubuat itu! Aku tidak menyangka…"
Baekhyun segera mendekati Chanyeol. Belati di tangannya kini telah berganti menjadi busur. Ia mengarahkan tangan kanan kosongnya keudara disaat yang bersamaan pula pohon yang ditempati pria misterius itu bergerak. Batangnya bergerak untuk memerangkap tubuh pria itu dengan kuat. Tapi didetik berikutnya ia menghilang dan muncul tepat beberapa meter di depan Chanyeol dan Baekkhyun.
"Percuma saja! Kekuatanmu terlalu lemah, Baekhyuna.."Ia tertawa remeh
Chanyeol bergeser, menutupi tubuh mungil Baekhyun dibelakang tubuh nya yang menjulang—berusaha melindungi lalu menatap waspada pria berjubah itu. Matanya memicing dengan dahi berkerut. Tanpa menoleh, ia berkata "Kau sebaiknya pergi dan temui Sehun!"Chanyeol mencengkram lengan Baekhyun
Pria itu menggeleng tidak setuju "Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan membantumu mengalahkannya dengan kemampuanku."
Chanyeol menghela nafas berat "Baiklah. Tapi tetap waspada! Aku merasa jika dia itu lawan yang kuat."
Kedua pedangnya kembali di selimuti sinar kemerahan—mirip seperti api. Namun ia tak merasa panas sama sekali. Chanyeol menganyunkan kedua pedangnya bersamaan dari arah yang berbeda. Suara pedang beradu mulai terdengar mendominasi. Baekhyun akan melesatkan anak panahnya jika pria berjubah itu menjauh. Pria itu menggeram marah. Ia melesat secepat kilat menuju Chanyeol dan dengan mudah pria itu bisa mengimbangi walau ia sudah mendapatkan beberapa luka gores di tubuhnya.
Baekhyun menghirup nafas perlahan lalu membuangnya. Ia kembali mengangkat busurnya dan kembali melesatkan anak panah nya dari jarak sekitar 15 meter menuju kearah target, bertepatan saat pria misterius itu melompat untuk menjauhi serangan Chanyeol. Dan anak panah itu menancap tepat dibahu kanannya, membuat pedang yang tadi ada digenggamannya sontak terjatuh.
"Sialan kalian! Mau bermain – main denganku rupanya!"kembali menggeram, ia menangkap sabetan pedang Chanyeol dengan tangan kosong. Tidak tergores sama sekali. Chanyeol semakin kuat mendorong kedua pedangnya namun tubuhnya justru terpelanting jauh membentur dinding lalu sebuah perisai tiba - tiba muncul dan memenjarakan tubuh Chanyeol didalam.
"Keparat kau!"Baekhyun mengumpat "Kau akan membayar untuk ini!"
Sebelum Baekhyun sempat mencapainya, pria itu sudah berpindah tempat. Mencengkram kuat leher si mungil, mengangkat tubuh itu hingga membuatnya melayang diudara. Kris tersenyum miring lalu dengan sebelah tangannya ia mencabut anak panah di bahunya.
"KRISS!"
Baekhyun melirik dari ekor matanya. Itu Sehun.
"Brengsek kau! Lepaskan Baekhyun.."
Cengkramannya jutru menguat. Baekhyun terus meronta, kedua kakinya menendang – nendang di udara. Ia mulai kesulian bernafas kini. Sehun mengayunkan tangan kanannya, Sebuah angin kencang tiba – tiba saja menerjang tubuh Kris hingga cengkramannya terlepas membuat tubuh Baekhyun terhempas dengan keras ketanah. Tubuhnya berguling ditanah dan berhenti tidak jauh dari Chanyeol. Matanya terpejam dengan nafas yang terdengar putus – putus.
"Baek? Baekhyuna!"Sehun berteriak. Ia ingin mendekat namun pria itu lagi – lagi melayangkan bola api padanya namun berhasil ia tepis.
Sehun mengatupkan mulutnya geram. Kris mengumpat, ia berpindah tempat dan menerjang Sehun. Dengan refleks, Sehun menyilangkan kedua tangannya kedepan wajah sebagai bentuk perlindungan. Angin kencang berputar disekelilingnya membentuk perisai agar Kris tidak dapat mencapainya.
"Kau tidak akan bisa menandinginku!"
Angin yang sama muncul menerjang perisai yang dibuat Sehun. Lebih kencang dengan warna hitam pekat. Angin melawan angin. Tubuh Sehun mulai terseret beberapa meter kebelakang. Akhirnya tubuhnya pun terpental. Kris tak membuang waktu. Rantai – rantai hitam tiba – tiba muncul dan melingkari kaki dan tangan Sehun.
Chanyeol semakin brutal menerjang perisai ketika melihat si mungil tak lagi bergerak, matanya sudah tertutup rapat kini. Ia menebas aura kehitaman di sekelilingnya dengan pedang kembar miliknya namun tak membuahkan hasil "Baekhyun! Baek, buka matamu!"Ia berteriak
Kris hanya tersenyum mengejek pada Chanyeol "Sebaiknya kau diam dan nikmati pertunjukkannya adikku sayang..."
"Cih!Kau bahkan tidak pantas disebut seorang kakak, brengsek!"Sehun menatapnya tajam
"Yak! Mau kau apakan Baekhyun eoh? Lepaskan dia!"Chanyeol memekik. Chanyeol semakin histeris ketika tubuh tak sadarkan diri Baekhyun melayang diudara, bergerak pelan kearah Kris. Pria itu tersenyum. Ia menggapai tubuh Baekhyun lalu menggendongnya dilengan. Tak lama Kyungsoo muncul di belakang Kris.
"Sudah kubilang bukan? Kalian tidak mungkin mengalahkanku.."
"Keparat kau Kris!"desisnya "Cepat lepaskan Baekhyun, brengsek!" Sehun mengumpat, tubuhnya bergerak secara brutal untuk melepaskan diri dari rantai yang menjeratnya
Kris tertawa lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya seolah mengejek tindakan sia – sia dua orang pria didepannya. Ia menelengkan kepalanya—menatap remeh Chanyeol dan Sehun "Melepaskannya?"Ia melirik Baekhyun sebentar, menyingkar helaian poni di dahi si mungil sebelum kembali menatap kedua pria itu lagi "Tidak akan! Sudah ya, aku ingin menikmati waktu ku dengan nya dulu.."Ia berujar
Sebuah pintu muncul di belakang pria itu. Terbuka lebar hingga menampakkan kegelapan pekat didalamnya. Kris berbalik. Ia mengangkat sebelah tangan nya—melambai diudara "Sampai jumpa lagi, adikku sayang..."
Dia menghilang di balik pintu besar yang perlahan menutup diikuti dengan Kyungsoo dibelakangnya. Menyeringai tipis sebelum pintunya benar – benar tertutup rapat.
Awan berubah terang ketika pintu itu menghilang. Rantai yang membelit Sehun pun ikut lenyap. Sehun memejamkan matanya, berteriak frustasi sambil meninju tanah dibawahnya kuat hingga membuat lubang tercetak disana "Brengsek! Sialan kau, Kris!"
Bukan cuma Sehun. Disana Chanyeol masih termangu di tempatnya. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri. Ia mengepalkan tangannya kuat hingga kukunya memutih.
"Aku akan membawa mu kembali apapun yang terjadi!"
To Be Countinue…
.
.
Hai apa kabar? Balik lagi bawa lanjutan chapter kemarin nih..
Gimana? Agak aneh ya ceritanya? Jujur aku agak kurang puas sama hasil chapter yang ini. Boring gak sih? Hampir semua adegannya berantem :'v
tapi emang ini yang aku rencanain buat chap yang ini, kepala ku sampai pusing buat jabarin nya *curhat
Tuh yang kemarin minta adegan enaena an Chanbaek udah aku kabulin. Walau gak full sih ya. Maklum aja waktu nya juga belum pas. Dan kalau boleh jujur lagi sih. Ini kali pertama aku bikin ff dengan konten Mature. Makanya kalau adegan ranjangnya kurang panas tolong dimaklumi ya. Masih belajar soalnya xD
Oke deh. Kritik dan Saran? Atau ada yang mau memberikan aku ide mungkin? Silahkan…
Jangan lupa tinggalin jejak di kotak review ya, jangan sampai engga loh *maksa :3
Sampai jumpa di Chapter selanjut nya dan Salam Chanbaek Shipper :*
#ChanBaekIsReal!
