Kris X Chanyeol
.
.
Do not copy-paste or repost because this story is from my own imagination. I just add names for fill the casts, EXO is belong to their own self.
Close the tab if you don't like it.
Warning! This is YAOI, straight and some sexual contents for some chapters.
Hope you like it~
.
.
.
Disini banyak kejadian dimasa lalu. Tidak hanya KrisYeol, tapi termasuk Luhan, Baekhyun. Sebaiknya jangan di skip soalnya semua potongan itu berhubungan.
Chapter 2
Chanyeol menyentuh bagian rusuknya, merasakan bagaimana debaran penuh ketakutan itu mulai muncul untuk kesekian kali. Demi Tuhan, Chanyeol sudah merasa dirinya manusia yang tidak berhenti mengucapkan syukur pada yang diatas atas segala yang ia punya—dan dihindarkan dari hal-hal tidak baik. Walaupun terkadang mimpi masa lalu itu suka menghantui dan berbayang-bayang diatas pikirannya sendiri pada pagi hari. Ia rela melakukan apapun asal bukan dipertemukan dengan orang itu lagi. Pegangannya mengerat pada meja, mencengkeram dengan kuku-kukunya. Melampiaskan gemuruh dalam hatinya sendiri.
Chanyeol takut. Rasa takut itu muncul lagi.
.
.
Kris Hyung?
.
.
"Daddy Luhan!" Sehun dan Kyungsoo berteriak, berlari terbirit melewati lorong panjang rumah besar mereka saat melihat sosok itu muncul dari balik pintu. Baekhyun yang sedang bersantai diruang tengahnya selepas menyuci pakaian agaknya terkejut dengan suara lantang anak-anaknya yang manis itu. Mereka berdua memeluk kaki-kaki pemuda itu. Luhan hanya bisa tertawa dan berusaha menjaga keseimbangan agar pegangannya pada dua kantung plastik besar itu tidak terlepas. Baekhyun menghampiri tiga orang itu setelah merasa dirinya sudah rapi.
Sedikit terkejut dengan tingkah anak-anaknya, "Ya Tuhan! Kenapa kalian memegangi daddy Luhan seperti itu?" omelnya seperti biasanya, berkacak pinggang dengan cantik. Luhan tersenyum, "Tidak apa-apa. Biarkan saja, Baek."
"Tapi Lu—"
"Aku rindu daddy Luhan!"
"Aku juga!" Sehun menyahut. Mengeratkan pelukan dengan dua tangan kecilnya. Luhan merasakan esensi geli pada kaki-kakinya. Akhirnya Baekhyun tertawa. "Kalian ini. Sini, kantungnya aku bawakan." Baekhyun menawarkan diri, wanita itu menjulurkan tangan kurusnya kearah kantung-kantung berat dan mengambilnya dari genggaman Luhan.
"Baek, awas itu berat!"
Baekhyun tertawa melihat ekpresi Luhan yang menggambarkan kekhawatiran atas dirinya itu. "Iya, aku tahu. Jangan berlebihan begitu." Perempuan itu menenteng barang-barang Luhan menuju dapur. Yakin kalau yang dibawakan itu berisi persediaan makanan yang ia pesankan kemarin. Luhan berjongkok, dan meraih dua anak lelaki itu kepelukannya yang rapat. "Kalian rindu pada daddy, huh?"
"Iya!" sahut kompak dua bocah itu, sambil mengecup-ecup pipi pemuda yang lebih besar. "Kalian menggemaskan sekali sih."
Baekhyun kembali dengan dua mangkuk sereal coklat dikanan-kiri tangannya. "Lihat apa yang daddy bawakan untuk kalian.."
Sehun dan Kyungsoo menoleh, kedua matanya berbinar, itu coco kesukaan mereka. Dua anak itu langsung berlari dan menyerobot mangkuk ditangan Baekhyun dengan tergesa. Selepas itu Baekhyun langsung menarik lengan jaket Luhan, membawa pemuda itu menuju lantai atas setelah mengunci pintu utama.
"Baek—"
Luhan terputus diseperempat katanya, Baekhyun sudah maju untuk menempelkan bibirnya itu. Ia jinjitkan kaki kecilnya, menarik leher Luhan agar mengerat dan merapatkan mereka dengan posisi intim. "Aku rindu padamu tahu."
Perempuan itu memeluk tubuh lelaki didepannya, mengendus-endus aroma yang ada, dan membuat gerakan-gerakan kecil dengan jemarinya agar menari diatas dada Luhan. "Aku selalu tahu itu." Luhan tertawa. Lelaki itu merapatkan dekapan satu sama lain antara mereka.
Keduanya berjalan kecil, menuju ranjang disana. Berbaring sejajar sambil menatap netra satu sama lain. Luhan membelai rambut panjang itu sayang, namun gerakannya terhenti saat melihat sesuatu dileher Baekhyun. Dan wanita itu tidak perlu lambat untuk mengetahui isi pikiran Luhan. "Ini dari Chanyeol." Ia jelaskan dalam rentetan perkataan singkat. Baekhyun berpikir kalau perasaan Luhan selama ini tidak baik-baik saja, namun lelaki itu selalu saja tersenyum untuk menanggapi semuanya. "Aku tahu." Toh, menyelingkuhi istri temannya sudah cukup buruk.
Luhan malah memeluknya, "Kau tidak marah?" Baekhyun bertanya dengan sangat hati-hati. "Tentu saja tidak, Chanyeol kan suamimu dan aku cuma simpanan-mu, buat apa aku marah huh?"
"Luhan..." Baekhyun merasakan hawa tidak enak sendiri pada lingkup antara dirinya dengan Luhan. Lelaki itu bangun, menatap kosong kearah jendela. Baekhyun mendadak merasa bersalah, ia bangun untuk mendekap punggung Xi Luhan yang rapuh didalam. "Maafkan aku," Baekhyun melakukan itu terus menerus, berharap semua diantara mereka akan baik-baik saja. Tapi semua tidak selalu bisa seperti itu.
.
.
.
January, 2005
Sepuluh tahun yang lalu...
Baekhyun bukan wanita pertama yang datang dalam kisah romansa Luhan. Tetapi bisa sebegitu mencuri perhatiannya sejak saat-saat semester pertama ia memulai masa kuliahnya. Luhan tidak menyalahi perasaan normal yang dialami semua orang terhadap lawan jenisnya seperti, jantung yang meletup-letup atau sejenisnya. Dirinya merasakan keberuntungan penuh berada atas dirinya, karena ia bisa satu fakultas dan terkadang bertemu saat kelas-kelas tertentu dengan gadis si pencuri seluruh perhatian miliknya—Byun Baekhyun.
Luhan terlalu sering merenungkan apapun akhir-akhir ini, detik-detik semester akhir, kafe baru dan Baekhyun. Jika dirasa hasratnya sendiri mengganggu, Luhan akan mencari pelarian yang masuk akal seperti perpustakaan. Setidaknya dalam kondisi yang buruk sistem pembelajaran dalam otaknya sendiri tidak kacau. Dan saat-saat itu, adalah sesuatu yang sangat ia tunggu-tunggu. Terkadang ia akan membolos beberapa kelas karena lebih memilih perpustakaan dengan pemandangan yang lebih bagus ketimbang dosen dengan usia tua. Ya, pemandangan bagus. Itu Byun Baekhyun.
Ia akan berlagak seolah tenggelam dalam buku-buku kalkulus sialannya, padahal pandangan mengarah ke paras seorang gadis yang sibuk dengan novel roman disatu tangan. Luhan menyukai tiap ekspresi yang Baekhyun gambarkan, seperti tersenyum kalau-kalau ia berpikir mungkin hanya efek dari sesi romantisnya saja, dan saat menangis—Luhan berpikir disitu Baekhyun terlalu cengeng dengan cerita yang sebenarnya tidak ada. Itu hanya fiksi, yang benar saja. Tetapi Luhan tetap suka. Dan ia tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana ketika Baekhyun menangkapnya tengah melihati Baekhyun, ia jadi malu. Tapi Luhan bukan seseorang yang buruk dalam beracting juga, pasti lelaki itu akan pura-pura membaca buku kembali jika sudah seperti itu. Klasik sekali.
Seperti saat ini, ia tengah duduk membaca buku, fokus pada persoalan-persoalan bisnis dan tips-tips yang mungkin ampuh jika ingin menjadi seorang interpreneur muda. Luhan benci duduk dengan orang asing disebelahnya, siapapun itu. Namun, rasanya ia seperti melihat seseorang duduk dibangku panjang tepat disebelahnya, didekatnya.
Luhan menoleh, ingin menegur tapi gerakkannya terhenti. Sial, itu Byun Baekhyun.
Dan sumpah serapah akan apapun, Luhan berani taruhan kalau sekarang yang ingin ia lakukan adalah memeluk orang disebelahnya, bukan mengusirnya karena ketidaknyamanan konyol yang selalu ia rasakan dengan kehadiran orang lain disisi kosong itu. Tapi Luhan ingin, ia ingin Baekhyun yang menduduki sisi kosong disebelahnya, dimanapun. Walaupun kemauan ingin menancapkan pisau tepat di jantungnya itu ada, Luhan tidak peduli. Dirinya merasa benar-benar bodoh.
Luhan mencoba seperti biasanya, berpura-pura fokus kearah kertas yang ia pegang. Dan tugas-tugas sialannya si perusak suasana. "Aku sering melihatmu diperpustakaan."
Luhan menoleh cepat, benar-benar terlihat seperti orang bodoh. "Maaf?"
Baekhyun tertawa kecil, sadar akan dimana keberadaan mereka. "Aku Baekhyun, Byun Baekhyun."
Perempuan itu menjulurkan jemarinya, ingin meraih apa yang Luhan sembunyikan—tangannya sendiri. Baekhyun menunggu, dan akhirnya dengan segenap kegugupan dan kaki-kaki Luhan yang melemas, ia membalas dengan susah payah. "L-luhan, Xi Luhan."
"Tidak usah gugup begitu." Baekhyun seperti sadar akan apa yang ia rasakan, dan Luhan tidak bisa berhenti untuk menggaruk-garuk tengkuknya, terlihat lebih bodoh lagi. Baekhyun terkikik, membuat kecanggungan diantara mereka pecah. "Kau bisa menanyakan apapun padaku, apapun." seru perempuan itu pengertian. Dan Luhan tidak mau membuangnya begitu saja. Untuk pertama kalinya, ia menghabiskan waktu tiga jam diperpustakaannya untuk mengobrol dengan Baekhyun.
.
.
.
October, 2008
Tujuh tahun yang lalu...
Baekhyun membenarkan syalnya, merasakan udara yang mengacaukan setiap inci nafasnya dengan rasa dingin. Dan hatinya juga. Luhan duduk disebelahnya dengan canggung, Baekhyun ingin membicarakan ini agar semuanya berakhir dengan baik. Tidak seperti ini. Kegugupan yang begitu menyiksa, memicu konflik pada pikirannya sendiri.
"Jadi..."
"Aku tahu," Luhan memotongnya, pemuda itu mengarahkan seluruh perhatiannya kepada Baekhyun. Hanya kepada Baekhyun. Dan itu membuat Baekhyun lebih merasa bersalah beribu-ribu kali lipat dari dugaan dan perkiraan yang sudah dipikirkan sebelum-sebelumnya.
"Kau ingin kita mengakhirinya, aku tahu." Baekhyun menahan segala perasaannya. Ini, semua ini sulit. Baekhyun tidak bisa, Baekhyun tidak sanggup.
"L-Lu.."
"Chanyeol lebih baik dari aku, Baek," pemuda itu berdiri. Menunduk, mendalami iris yang menatap sakit kearahnya. Baekhyun merasa sakit, dan Luhan jauh lebih pedih. Tidak pernah mereka pikirkan selama ini, tiga tahun yang baik-baik saja. Rencana untuk menikah setelah wisuda, semuanya habis. Pupus. Dan itu semua bukan karena perjodohan seperti banyak kisah yang memisahkan sepasang kekasih, hanya Chanyeol dengan segenap keberaniannya datang dan mengajukan permohonannya—untuk menikahi Baekhyun.
Selama ini mereka bertiga baik-baik saja. Baekhyun selalu mengutuk atas segala kebodohannya. Ia bisa saja bilang dengan mudah, Luhan itu kekasihnya, suami impian yang satu-satunya ia harapkan. Namun, persahabatannya dengan Chanyeol sudah lama. Sangat lama. Bagaimana? Ia berpikir kalau semuanya rumit, membelit, membuat dirinya sendiri sulit bernafas.
Setelah mengatakan keunggulan Chanyeol atas dirinya, Luhan berjalan. Pergi meninggalkan Baekhyun. Dan disitu Baekhyun sadar kalau ia mengambil jalan yang salah. Baekhyun tidak akan pernah bahagia, dan setelah ini... Luhan akan terus membayang-bayang, dan memaksa Baekhyun untuk mengenakan topeng kebahagiaan atas pernikahannya nanti. Selamanya berpura-pura.
.
.
.
October 2015
Chanyeol mengumpati setiap hal, membuat kepalanya berputar-putar. Chanyeol tahu, lepas dari pria itu adalah suatu keberuntungan. Sementara. Sayangnya semuanya sudah terlambat. Chanyeol tahu, selalu tahu. Ia mengenal setiap hal dan detail dari pribadi Wu Yifan. Dia itu gila, sakit jiwa dan segala hal maniak ada pada tubuhnya. Chanyeol benci. Setelah 15 tahun nya yang tenang, tak terusik, lelaki itu muncul. Ia mulai berpikir dua kali, kalau-kalau istri dan anaknya mungkin punya firasat buruk atas semuanya. Atas kepergiannya keluar kota. Semuanya terasa biasa saja sebelum-sebelumnya. Tetapi sekarang sangat berbeda, Chanyeol tidak bisa berhenti membalik posisi berbaringnya yang sungguh sangat mengganggu. Semuanya terasa begitu—
"ARGH!" Chanyeol bangkit lalu menjambak-jambak rambutnya sendiri.
Chanyeol tahu, Yifan... Kris... atau apalah itu—lelaki itu masih menginginkannya.
.
.
.
March, 2000
Lima belas tahun yang lalu...
Chanyeol mendengar setiap percakapan rumah tangga antar wanita dewasa yang membingungkan. Semua wanita sama, Chanyeol merasa tidak ada yang spesial dari seorang perempuan. Mereka itu hanya makhluk-makhluk cerewet, suka mencampuri urusan orang, dan terlalu bangga memamerkan tubuh-tubuh mereka yang sebenarnya sama sekali tidak menarik. Chanyeol benci mengakuinya, Ya Tuhan.. ibunya juga sama saja.
Mereka selalu saja memperbincangkan harta-harta tetangga yang lebih mampu, atau perhiasan-perhiasan mahal yang terlalu lama untuk mendapatkannya jika menunggu tabungan. Tetapi Chanyeol merasa ada sesuatu yang mesti ia ketahui.
"Kau tahu, tetangga depan rumahmu Sunghwa eonni?"
Ibu Chanyeol mengernyit dahinya, dan Chanyeol merasa tertarik. "Tetangga? Aku tidak punya tetangga didepan rumahku."
Lawan bicaranya menepuk jidat, Chanyeol rasa itu menggelikan dan tidak penting. Tinggal cerita, apa susahnya. Anak itu masih setia menunggui akhir dari topik itu diantara dinding sekat dapur. Benar-benar seperti penguntit.
"Dia itu orang jahat. Yang kudengar, dia itu penyuka sesama jenis dan masuk penjara karena memperkosa anak remaja tetangga didaerah rumah sepupunya."
Chanyeol membulatkan matanya, Memperkosa? Anak laki-laki? Yang benar saja! Chanyeol tidak pernah tahu hal-hal seperti itu ternyata ada, dan Ya Tuhan... ia baru mendengar ada yang ceritanya seperti itu.
"Kau jangan bercanda!"
"Aku serius. Dan banyak yang bilang, ia akan kembali malam ini untuk menempati rumahnya. Ya, rumah yang ada tepat diseberang rumahmu itu eonni... Masa tahanannya sudah habis."
"Berarti aku punya tetangga seorang kriminal!"
"Iya, dan kau harus hati-hati, anak laki-lakimu itu sangat menggemaskan eonni. Walaupun lelaki itu katanya sudah masuk rehabilitasi, tapi tetap saja. Orientasi seksual seseorang apalagi sampai dewasa sudah sulit untuk dirubah."
Wajah ibu Chanyeol mendadak pucat. "Dia seorang pedofil?"
"Kurang lebih, pedophile—gay."
"Kau jangan bercanda!"
"Aku serius eonni. Kau tahu, aku sudah tinggal disini lima tahun lebih dulu ketimbang dirimu."
Chanyeol mengernyit, Huh? Apa ini? Ia hanya berpikir, mereka hanya bertetangga dengan orang menyimpang orientasi seksual, bukan berarti boleh menudingnya pedofil atau pemerkosa anak orang bukan? Rasional saja, Chanyeol terlalu paham ilmu kewarganegaraan. Ia terlalu banyak membaca buku, manusia akan merasa sedih dan tersisih jika hakikatnya tidak dihargai. Semua orang itu berbeda, tidak ada yang sama. Dan mengucilkan orang sedemikian tidak baik juga. Walaupun begitu, Chanyeol juga merasa dirinya tidak ada urusan lagi. Ia tidak kenal dengan satupun tetangga kecuali Tuan Kim si tua sebatang kara disamping rumahnya.
Anak itu merasa perbincangan ibunya sudah terlalu melebih-lebihkan, jadi ia merasa perlu menyisih saja. Chanyeol beranjak menuju kamarnya.
.
.
.
April, 2000
Chanyeol pulang dari sekolah, menenteng blazer dan sepatunya sembarangan menuju kamar. Senyum terus mengembang walaupun seluruh tubuhnya terasa pegal. Gadis impiannya, sahabatnya—Chanyeol terlalu takut mengakui kalau dirinya tertarik—Ya, Baekhyun. Perempuan itu ternyata mengalihkan semua perkiraan buruknya tentang semua perempuan, dia berbeda. Chanyeol jadi terus memikirkan itu. Baekhyun itu sopan, tidak berlebihan respon seperti perempuan yang lain yang pernah berada disekitarnya, dan dia itu keren. Chanyeol bertanding basket dijam olahraga hari ini, dan gadis itu mengalahkan timnya. Itu keren, sangat keren! Chanyeol berani bertaruh kemampuan milik Baekhyun itu seperti pemain-pemain NBA yang selalu ditonton ayahnya dari saluran mancanegara tiap malam.
Semua lamunannya hancur, ayahnya memanggilnya untuk kedapur. Chanyeol membuang barang yang ia bawa ke sofa tanpa peduli akan diteriakki ibunya nanti. Ia berjalan menyeret-nyeret karena malas. Ayahnya tersenyum maklum, namun ia tidak mau punya anak yang tidak berguna. "Apa ayah?" Chanyeol menengadah dengan sangat malas, sengaja menggambarkan bagaimana lelahnya dia hari ini karena aktifitas sekolah.
Namun sodoran pie membuat Chanyeol mengerutkan kening, "Antarkan ke tetangga seberang kita." Ayahnya tetap tersenyum. Apa? Si lelaki seram itu? Chanyeol menatap piring rata yang kecil itu dengan takut-takut, ayah Chanyeol makin menatap aneh— "Chanyeol, tidak ada tetangga gay, pedofil atau apapun itu, okay? Kau seperti tidak tahu ibumu saja. Dia terlalu suka mengada-ada."
Chanyeol berpikir, mungkin ayahnya benar. Anak itu menanggapi, mengambil piring yang ada ditangan ayahnya dengan sukarela. Chanyeol berjalan menuju pintu tanpa banyak bicara, dan ayahnya tersenyum setelah itu. Ia mengharuskan anak lelaki satu-satunya itu untuk tidak terlalu terpengaruh dengan ocehan-ocehan aneh istrinya.
.
Chanyeol mengetuk sedikit kencang, ini sudah lima menit menunggu tetapi tetangga yang entah siapa itu seperti tidak ingin untuk mengintip siapa yang datang. Chanyeol kesal, punggungnya serasa mau bengkok saja. Ingin ia kembali kerumah kalau saja bayangan ayahnya akan memenggalnya tidak memutar-mutar dikepala.
Chanyeol menghentikan tangannya, membuatnya mengambang. Kepalanya mendongak, lelaki itu—tinggi sekali.
Lelaki itu hanya diam, menatap Chanyeol penuh curiga. Anak itu risih sendiri, ia merasa tidak harus bersikap sopan, tetapi tetap saja... Chanyeol gugup. Selain Tuan Kim, Chanyeol tidak kenal dengan yang lainnya. Tidak pernah. "Aku hanya ingin memberikan ini, ayahku menitipkannya padaku." Chanyeol menyodorkan dengan cepat, membuat lelaki itu menadahkan tangannya dengan refleks. Anak itu bicara lagi, "Kau tidak perlu mengembalikan piringnya, ambil saja!" Chanyeol kembali kerumahnya dengan tergesa.
Anak itu pergi, dan pemuda dengan pie itu tersenyum.
Incaran baru...
.
.
.
October 2015
Chanyeol kembali ke kantor, memapah banyak berkas penting untuk diserahkan. Termasuk beberapa naskah yang sudah ia sunting dengan rapi. Pemuda itu merasa buruk dengan kantung mata miliknya—hitam sekali. Dirinya merasa sangat not felling fresh.
Chanyeol mengetuk ruangan atasannya. Sekretaris yang menunggui bilang kalau bos mereka sedang pergi, jadi Chanyeol dipersilahkan. Pemuda itu masuk, dan berharap bisa keluar dengan cepat. Namun gerakkan tangannya terhenti, disebelah naskah yang ia pegang—itu profil Wu Yifan.
Chanyeol hendak berlalu cepat, namun ia merasa penasaran entah kenapa. Chanyeol cepat-cepat menyelipkan data itu dalam jas musim gugurnya, berniat mencopynya dengan cepat dan membacanya dihotel nanti.
.
.
.
Chanyeol memulai acara membacanya, memasang kacamata melewati hidungnya.
Wu Yifan. Lahir pada tanggal 6 November 1982 di Vancouver, Kanada. Ibunya seorang warna negara RRC. Yifan dibesarkan dengan keluarga yang tidak baik. Memulai menulis novel perdananya yang berjudul 'He's a pedophile' pada tahun 2005. Dan novel kedua dengan judul, 'Pretty Boy' meraih most best-seller yang sama.
"Best-seller?" Chanyeol mengernyit. Ia merasa tidak pernah menemukan novel-novel Yifan atau apapun itu. Tapi, yang benar saja?
"Judulnya menggelikan begitu." Chanyeol mencibir, ia melanjutkan—
Dua novelnya itu ditulis dalam bahasa mandarin, dan ia kembali ke Korea dengan membawakan karya pertamanya dalam 'hangul'.
Chanyeol mengangguk, pantas saja. Chanyeol berpikir, kenapa dirinya harus bersusah-susah. Ini hanya profil Wu Yifan yang benar saja. Dan Chanyeol menimbang-nimbang tentang kenapa pria mesum itu tidak menggunakan nama Kris dan malah menggunakan nama aslinya. Anak itu tidak mau sok ikut campur, namun rasanya aneh saja. Penulis selalu menyamarkan nama aslinya. Tidak semua, tetapi kebanyakan.
Setelah melamun lama, ponselnya berbunyi. Chanyeol hampir saja mengumpat kalau saja tidak mengingat, istrinya bisa saja menelpon. Namun Chanyeol merasakan keanehan lain, nomor itu tidak ada dalam kontaknya. Siapa? Kenapa repot-repot menelpon orang yang tidak dikenal? Tetapi Chanyeol tetap mengangkatnya, sebagai rasa menghargai sesama manusia. Hanya itu.
"Yeoboseyo?"
"..."
Chanyeol menabrakkan alisnya. Orang itu bodoh atau apa?
"Siapa kau? Mencoba menakutiku dengan telpon berisikan nafas horormu itu?" serunya sebal. Orang diseberang masih menghembuskan nafas berat. Chanyeol hanya tidak mengerti. Kepalanya sudah berputar, kedua matanya mengantuk. Ini hanya karena profil Wu Yifan. Chanyeol tidak bisa lebih mengutuk lagi setelah ini.
"..."
"Halo?"
"Chanyeol..."
Chanyeol melotot, "Y-Yifan?"
Orang disana membuang nafasnya, "Kenapa kau memanggil namaku seperti itu?"
Chanyeol merasa semuanya sudah cukup, tidak perlu menggubris dan selesai. Tetapi tangannya tidak beranjak, ia tidak mengerti dengan tubuhnya. Chanyeol hanya tidak mengerti.
"Namamu memang Yifan kan?" Chanyeol bersuara. Ia ingin menyumpahi, dirinya... Yifan... dan semuanya. Tetapi tidak bisa.
"Kau selalu memanggilku Kris. Kris hyung."
Chanyeol mendecih, "Itu bukan gayaku lagi. Yifan terdengar lebih baik."
"Kau kemana selama ini?"
"Apa kau perlu mencampuri segala hal yang kulakukan, hyung?" Chanyeol menyerukan ejekan. Ia kesal. Tetapi selalu menunggu orang itu menjawab. Chanyeol tetap Chanyeol. Ia selalu penasaran dengan Yifan.
"Aku hanya bertanya."
"..."
"Aku senang kalau tahu kau baik-baik saja."
"Oh, begitu?" ia mengolok. Melampiaskan kekesalannya. Chanyeol benci, pemuda yang lebih tua itu terlalu mencoba peduli padahal ia hanya bermain-main.
"Bisakah kita bertemu?"
Chanyeol ingin membuang ponselnya, "Jangan harap."
Ia mematikan telponnya.
.
.
.
To Be Continued—
.
.
Or End?
.
.
Sorry for late update... sorry banget.. eonni tetep mengusahakan yang terbaik. So, langsung aja ya... banyak yang kekurangan asupan KrisYeol T-T jadi terharu...
Thanks To:
[jasminejas] [anniewez] [guest88] [miszshanty05] [FettyEXOL] [laylaa putryfahreiisya] [elidamia98] [LOVELUV] [mashuang] [ParkShita] [Sen] [hominBabeYuNemakMINLopez] [XOXOKimCloud] [Aoa] [HyuieYunnie] [oktaviarita rosita] [afranabilacantik] [bublegum] [1004baekie] [MinYeolKook] [cosmojewel] [Guest] [linglingpandabear] [KimChanMin] [OhVivit]
Wanna give me some reviews again?
