Naruto © Masashi Kishimoto
Rate : M
Pairing : SasuHina
Warning : OOC. AU. Typo. Dan kesalahan lain yang bisa ditemukan di dalamnya. Strongly suggest you just leave this page if you don't like the pairing.
.
.
Happy Reading
.
.
A Will and You © Raye Harrogath
Dedicated to Hazelleen
.
.
Hinata masih bisa ingat apa yang membuatnya begitu tertarik kepada Naruto. Senyuman dan kegigihannya. Ya, dua hal itulah yang menjadi alasan utama. Bahkan, hingga saat ini pun senyuman Naruto tanpa sadar masih mampu membuat sudut bibirnya tertarik ke atas tanpa sadar. Yang berbeda hanyalah hilangnya perasaan berdebar yang selalu mengiringinya.
Mungkinkah perasaan itu dapat sedemikian mudah menghilang? Hinata menemukan dirinya bertanya dalam hati. Rasanya baru kemarin ia masih memiliki rencana untuk menangisi kandasnya hubungan mereka? Ia memandang Naruto, yang duduk di hadapannya saat ini dengan pandangan bertanya. Pria itu bahkan terlihat biasa saja, seolah sama sekali tak terbebani dengan perubahan status hubungan mereka. Hinata menghela nafas. Tidak, ia memutuskan dengan tegas. Ia tak akan membiarkan Naruto tahu bahwa ia merasa kacau tanpanya.
"Apa terjadi sesuatu?" Hinata akhirnya bertanya setelah menyadari bahwa tak ada satu orang di antara mereka yang akan memulai pembicaraan. Ia enggan melakukannya, sebenarnya. Tapi ia juga tak mau membuang waktunya hanya dengan duduk diam dan saling pandang. Yah, ia sebenarnya tak masalah melakukan itu. Hanya saja Uchiha Sasuke, yang duduk beberapa meja di belakang Naruto, kini sedang memandang ke arah mereka dengan pandangan tertarik. Dan ia sama sekali tak berminat memberikan pria arogan itu kepuasan dengan mengetahui satu detail kehidupan pribadinya.
Naruto mengerutkan kening. "Apakah harus ada sesuatu yang terjadi jika aku mengunjungimu?" tanyanya bingung.
Hinata mengangkat bahu. "Kau jarang mengunjungiku di sini." Jawabnya terus terang, kembali teringat kenangan lama ketika ia meminta Naruto untuk mampir ke tempatnya bekerja dan pria itu menolak.
Naruto tertawa canggung, satu tangan menggaruk leher belakangnya, yang Hinata tahu sama sekali tak gatal. Pria itu hanya merasa sedikit gugup, dan Hinata cukup mengenal Naruto untuk mengetahui tanda-tanda itu.
"Ah, aku hanya sedang tak bisa tidur. Lalu aku memutuskan untuk berjalan-jalan,dan tanpa sadar kakiku membawaku kemari. Dan kebetulan aku melihatmu sedang bekerja. Lalu aku masuk begitu saja dengan tujuan bertemu dengan teman lama."
Naruto pembohong yang buruk, Hinata kini menyadari itu. Ia tak tahu apa alasan pria itu berbohong, tapi satu hal yang pasti, setahu Hinata apartemen pria itu terletak di luar kota, dan berjarak dua jam perjalanan menggunakan mobil. Kecuali Naruto tiba-tiba berpindah tempat tinggal pasca mereka putus, Hinata sama sekali tak yakin Naruto benar-benar berjalan.
Merasa tindakan yang terbaik adalah diam, Hinata lebih memilih untuk tidak berkomentar. Ia malah sibuk mencuri pandang ke arah Sasuke yang kini terang-terangan memandang ke arah mereka, seakan ia telah menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Aku merindukanmu, Hina. "
Dan begitu saja kata-kata itu terlontar dari mulut Naruto. Hinata menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan sebelum kembali memandang wajah pria itu.
"Oh." katanya.
Memangnya apa lagi yang bisa ia katakan? Naruto mengatakan hal itu tanpa tedeng aling-aling. Mereka udah putus. Naruto tak bisa seenaknya mempermainkan perasaannya seperti ini. Hinata tak pantas mendapatkan itu.
"Apa kau marah padaku? Aku tahu hubungan di antara kita sudah berakhir, tapi bukan berarti bahwa aku menginginkanmu menghilang sepenuhnya dari hidupku."
Marah? Naruto berpikir Hinata marah padanya? Apa dia serius? Hinata kecewa. Ia merasa putus asa dan menyalahkan dirinya sendiri. Perasaannya campur aduk, dan kini pria itu berpikir bahwa ia sekedar marah dan sengaja menghilang.
Mungkin untuk pertama kalinya Hinata bersyukur Naruto memutuskan hubungan kasih di antara mereka, karena pikirannya sekarang setidaknya menjadi jauh lebih jernih ketika menghadapi pria itu. Ia mungkin masih memiliki perasaan padanya, tapi Hinata tahu satu hal yang pasti. Ia jelas tak akan tertarik untuk kembali lagi padanya. Tak peduli semanis apa pria itu berbicara.
"Aku hanya sedikit sibuk." Ia akhirnya menjawab singkat, mengabaikan sepenuhnya komentar Naruto sebelumnya.
"Yah, kupikir juga begitu." Naruto mengiyakan sambil tertawa, "Kau memiliki banyak sekali kerja sambilan, Hina. Cobalah untuk sedikit menguranginya. Kau masih muda, dan hidup ini hanya sekali. Nikmatilah kesenangan yang bisa ditawarkan dunia kepadamu."
Hinata mendengus. "Ketika kau berjuang untuk hidup dan memastikan dapurmu berasap setiap hari, kau tak akan memiliki waktu sama sekali untuk bersenang-senang, Naruto. Bukankah kau juga mengetahui itu?"
"Memang." Naruto mengangguk dan mengaduk kopinya. Untuk sesaat wajahnya terlihat serius. "Tapi terkadang kau juga membutuhkan waktu untuk dirimu sendiri. Untuk bersantai dan menikmati hidup. Beristirahat."
Hinata memiringkan kepalanya. "Itukah yang sedang kau lakukan pada hubungan kita? Beristirahat?" tanyanya tanpa basa-basi. Lalu ia menganggukkan kepalanya seakan mengkonfirmasi sesuatu. "Ya, kau benar. Kita semua butuh istirahat. Oleh karena itu, aku akan kembali ke belakang, tempatku bekerja." Ia terdiam sejenak sebelum menambahkan. "Untuk beristirahat. Jika kau tak tahu, aku sedang menikmati waktu senggangku saat kau datang."
Ia mendorong kursinya belakang lalu berdiri. Naruto masih diam, tak mengatakan apapun.
"Berapa kali aku harus meminta maaf agar kau mau memaafkanku, Hinata?" Suara yang terdengar lelah itu menghentikan langkah Hinata untuk melangkah lebih jauh lagi. "Karena aku akan melakukan itu jika itu bisa membuatmu memandangku seperti dulu lagi."
Sialan. Naruto memang sialan. Mengapa ia tak mengerti sedikitpun bahwa Hinata merasa kecewa. Bahwa ia merasa terluka karena pria itu menyingkirkannya seolah ia hanya seonggok barang yang tak berarti dan bukan seseorang yang sudah ia kenal sepanjang 20 tahun hidupnya?
Ia memang marah tapi lebih dari itu, ia merasa kecewa. Dan bagaimana mungkin Naruto tetap mengharapnya untuk memandang pria itu dengan cara yang sama seperti dulu? Hinata yang dulu mungkin akan selalu memberikan pandangan memujanya.
Tapi itu dulu, sebelum Naruto menamparnya dengan kenyataan bahwa ia tak cukup berarti.
"Kau meminta terlalu banyak kalau begitu."
Dan itu memang benar adanya, Hinata mengakui dalam hati sambil melangkah ke balik counter. Ia segera duduk di kursi belakang dan menelungkupkan wajahnya di balik lengannya. Melupakan sesuatu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan bagi setiap orang. Sudah cukup baik Hinata mau menemuinya malam ini. Tapi memaafkannya, tidak akan segampang itu.
"Hari yang berat?" Akemi, rekan kerjanya selain Miku malam ini, meletakkan secangkir kopi hangat dan duduk di hadapannya, yang dijawab Hinata dengan erangan. Gadis yang berusia dua tahun di atas Hinata itu tertawa, dan mengulurkan tangannya untuk menepuk puncak kepala sang rekan.
"Ayolah. Kupikir tak ada yang lebih buruk daripada didatangi oleh dua pria tampan."
Hinata mendengus mendengarnya.
"Hei, asal kau tahu jika dua orang tadi datang di siang hari, tempat kita ini pasti akan ramai pengunjung. Mereka bisa menjadi magnet untuk menarik pelanggan."
Hinata menegakkan kepalanya. "Tentu saja, mereka akan menjadi magnet hingga salah satu dari mereka mengeluarkan suaranya."
Akemi mengibas-ngibaskan kedua tangannya. "Kalau begitu yang perlu kita lakukan hanyalah memastikan dua orang itu menutup mulutnya. Berarti kita memerlukan selotip yang memiliki daya rekat tinggi. Bagaimana?"
Hinata tersenyum. Bayangan Uchiha Sasuke dengan mulut tertutup rapat oleh selotip entah kenapa memuaskan dirinya.
"Ah, aku melihat sebuah senyum yang bersiap untuk muncul." Akemi berkata kembali dengan antusias. "Oke, saranku malam ini, apapun yang terjadi dengan si pirang tadi, jangan biarkan hal itu mempengaruhimu, Hinata." Tambahnya dengan nada serius.
Raut wajah Hinata mendadak sendu. "Aku berusaha. Tapi ..."
"Tak ada kata tapi jika kau sedang berniat untuk melakukan sesuatu. Itu hanya akan menjadi penghambat dan memberikan sebuah ruang untuk alasan yang mungkin akan jadi penghalangmu untuk meraih hasil yang kau inginkan."
"Aku hanya tak menyangka dia akan muncul di sini. Malam ini. Di sini." Keluhnya.
Akemi menganggukkan kepalanya. "Aku mengerti. Lagipula, itu rasanya seperti mimpi buruk setiap gadis. Mantan pacarmu datang mengunjungimu tengah malam di tempatmu bekerja, dan kau sedang bersama pria lain yang tak kalah tampannya." Ucapnya serius.
Dan Hinata yang sedang meminum kopinya secara otomatis tersedak mendengarnya. Ia terbatuk hebat, wajahnya memerah dan merasa dirinya nyaris kehilangan nafas.
Akemi berdiri panik dan segera mengelus punggung belakangnya. "Hina, kau tak apa?"
Hinata sendiri masih berusaha mengatur nafas dan kontrol dirinya meski sebenenarnya ia ingin sekaali melemparkan pandangan membunuh ke arah Akemi. Tapi, melihat Akemi yang terlihat merasa bersalah langsung membuat Hinata seakan menjadi orang jahat. Ia mengibas-ngibaskan tangannya.
"Ya, tak apa." Jawabnya singkat.
Akemi menyejajarkan pandangan matanya dengan Hinata, berusaha mencari celah kebohongan. "Yakin?"
Ingin segera menyingkirkan Akemi dari pandangannya dan tak igin membuat wanita itu lebih khawatir daripada yang seharusnya, Hinata mengangguk dan tersenyum lebar. "Positif."
"Baiklah kalau begitu." Akemi menegapkan badannya. "Aku akan kembali bertugas. Kau istirahat dulu di sini, dan aku akan bilang pada kekasihmu kalau tugasmu akan berakhir 2 jam lagi. Sepertinya dia sudah terlihat tak sabar."
Dan Hinata kembali, sekali lagi, mendadak kehilangan kemampuannya untuk berkata-kata
.
.
.
.
Mereka berdua duduk di dalam mobil milik Sasuke yang masih terparkir diam di pelataran parkir tempat Hinata bekerja. Sudah 10 menit berlalu tanpa ada tanda-tanda Sasuke yang berniat untuk menyalakan mesin mobil.
"Jika kau masih ingin berdiam diri di sini, aku akan memanggil taksi dan pulang sendiri." Hinata akhirnya berkata. Ia melirik ke samping, menanti reaksi Sasuke.
Pria itu hanya mengetuk-ngetuk jemarinya pada kemudi mobil sebagai jawaban. Merasa percuma berbicara dengan pria itu, Hinata memutuskan untuk membuka pintu mobil dan bersiap turun.
"Kau mau kemana?"
Satu kaki Hinata telah menapak ke jalan, ia menoleh ke belakang. "Pulang. Aku sama sekali tak punya niat untuk tidur di pelataran parkir."
"Tutup kembali pintunya." Sasuke berkata datar dan menyalakan mesin mobil.
Hinata mendelik sebelum akhirnya mengatur kembali posisi duduknya dan membanting pintu mobil hingga tertutup. Kalaupun Sasuke menyadari sikap bar-barnya malam ini , pria itu sama sekali tak mengatakan apapun. Baguslah, Hinata juga sama sekali tak tertarik untuk berdebat dengannya.
Mereka berkendara dalam diam. Masing-masing disibukkan dengan pemikirannya sendiri. Untuk Hinata, ia sedang memikirkan bagaimana caranya mempertahankan pekerjaannya dengan situasinya sekarang. Jika ia mendapatkan giliran kerja malam hari seperti tadi, apa mungkin Sasuke akan terus mengantarnya?
Pemikiran itu membuatnya merasa tak nyaman. Mereka sudah harus bersama-sama di rumah. Jika di tempat kerja pun mereka masih harus terus bersama, Hinata bisa merasa gila. Ia membutuhkan ruangnya sendiri. Dan ia hanya bisa mendapatkan itu di tempat kerjanya.
"Berniat menjelaskan kepadaku kenapa temanmu mengira aku kekasihmu?"
Butuh beberapa saat bagi Hinata untuk mencerna bahwa Uchiha Sasuke benar-benar menanyakan itu padanya. Ia mengerjapkan kedua matanya. "Huh?"
Sasuke sama sekali tak terpancing, dan ia pun sama sekali tak berniat mengulang pertanyaannya tadi.
Hinata mencibir. "Mana aku tahu." Jawabnya sambil mengangkat bahu. "Aku tak memiliki kecakapan untuk mengetahui alasan seseorang melakukan sesuatu."
"Dia memanggilku kekasihmu." Sasuke menekankan sekali lagi. "Apa yang membuatnya berpikir begitu?"
Hinata mengurut pelipisnya, mendadak merasa pening. "Apakah kau selalu harus menemukan alasan di setiap tindakan?" tanyanya. "Kalau kau penasaran dan begitu ingin tahu jawabannya, mengapa tidak sekalian kau putar balik mobil ini dan tanya langsung pada orangnya."
"Dia temanmu."
Hinata memandangnya. "Lalu? Bukan berarti aku tahu segala maksud ucapannya." Katanya. Ia lalu memicingkan matanya. "Begitu pentingkah bagimu untuk tahu jawabannya? Kalau begitu, baik. Kita coba analisa. Kau datang bersamaku malam hari. Meskipun kau tahu keputusan terbaik adalah segera pergi dari tempat itu, kau malah mendudukkan bokongmu ke kursi tamu, dan ikut memesan minuman layaknya pengunjung lain. Kau menghabiskan sebagian waktumu untuk mengamatiku ketika aku sedang bersama Naruto tadi. Kau—"
"─ah! Jadi si blondie tadi bernama Naruto. Siapa dia? Pacarmu?"
Hinata mendelik. "Tak ada hubungannya denganmu!" ujarnya singkat.
Sasuke menginjak rem ketika mereka berada di perempatan lampu merah. Ia menoleh.
"Perlu kuingatkan bahwa kita terikat dalam wasiat dan kesepakatan yang mengikat di dalamnya. Jadi apapun yang berpotensi menggagalkan usaha kita, jelas menjadi urusanku, Nona."
Hinata memandangnya dengan tatapan tak percaya. "Naruto berpotensi menggagalkan …?" bisiknya. "Kau sudah gila. Dia sama sekali tak tahu apapun."
"Dan akan terus seperti itu."
Cara Sasuke mengatakan itu membuat Hinata menyadari bahwa pria yang sedang bersamanya saat ini sama sekali tak tak mempercayainya.
"Naruto tak memiliki hubungan apapun denganku. Kau tak usah khawatir."
"Aku tak khawatir." Sasuke membalas omongan Hinata dengan datar. "Aku hanya mengingatkanmu karena setiap tindakan yang kau ambil bisa mempengaruhi hasil akhir dari wasiat kakek. Dan aku sama sekali tak berniat terlibat dalam kekacauan yang bisa menggagalkan pengorbananku."
Hinata menahan lidahnya untuk tak melontarkan kata makian tepat ke muka Sasuke. Pria itu dan arogansinya yang setinggi langit benar-benar membuat nafas Hinata terasa sesak. Bagaimana mungkin Madara dengan teganya menyuruhnya untuk tinggal bersama pria ini dan tak kehilangan kewarasannya.
Dipikir lagi, ini adalah kesalahan. Ya, ini jelas suatu kesalahan. Menyetujui persyaratan itu jelas kebodohan terbesar yang dilakukan Hinata. Kenapa ia harus melibatkan dirinya dalam percekcokan keluarga mengenai masalah warisan. Uang yang didapatkannya sama sekali tak sebanding dengan kesehatan mentalnya yang terancam terganggu jika ia terus-terusan berada di dekat pria semacam Uchiha Sasuke.
Masih belum terlambat untuk berubah pikiran.
"Apa kau mendengar ucapanku?"
Hinata hanya samar-samar mendengar pria itu berbicara. Ia sedang disibukkan dengan perdebatan kecil yang terjadi dalam dirinya. Antara berhenti, atau meneruskan kegilaan yang telah dilakoninya ini. Ia sama sekali tak berhutang apapun kepada Madara. Ia tak memiliki kewajiban untuk ikut berpartisipasi dalam keinginan terakhir pria renta itu. Ia bisa mundur kapanpun.
Tetapi, pria renta itulah tempatnya berbagi dan bernaung selama ini. Hinata memang tak memiliki hutang apapun kepadanya, tapi ia juga bukan wanita yang tak tahu caranya berterimakasih. Dan semakin dipikirkan, pada akhirnya Hinata akan semakin merasa bersalah karena mempertimbangkan ingin mundur.
Meski begitu, Madara-san pasti memahami kalau tak seorangpun akan sanggup jika berdekatan dengan gelembungan ego terus-menerus., Hinata berpikir. Ia mengamati sekitarnya, dan terperangah kaget mengetahui bahwa mereka telah memasuki pelataran parkir rumah.
"Kau tahu," ia akhirnya menatap Sasuke langsung ke matanya ketika pria itu selesai mematikan mesin mobil dan memberi Hinata seluruh fokusnya. "Apa yang kau katakan tadi itu berlaku dua arah."
"Masudmu?"
"Kekasihmu tak boleh tahu tentang wasiat Kakek Madara." Jawab Hinata blak-blakan, dan ia mengangkat kedua tangannya untuk menghentikan Sasuke yang ingin menyampaikan sanggahannya. "Aku tak peduli seberapa pintar kekasihmu, seberapa trustworthy nya dia, dia tetap tak boleh tahu. Peraturan adalah peraturan, Uchiha."
"Aku tak harus mendengarkanmu." Sasuke mendengus dan membuka pintu mobil lalu turun.
Hinata mengerjap sebelum akhirnya ikut bergegas keluar dari mobil dan mengejar pria itu. "Jadi maksudmu pacarku tak boleh tahu tentang wasiat itu, tapi tidak dengan pacarmu? Pernahkah seseorang mengatakan padamu tentang tidak adilnya dirimu?"
Sasuke menekan remote untuk mengunci mobilnya. "Pacarku adalah seseorang yang bisa menjaga mulutnya, berbeda dengan blondiemu."
"Namanya Naruto. Dan dia jelas seseorang yang bisa kupercaya."
Sasuke tersenyum sinis. "Tapi bisakah dia menjaga mulutnya, Nona?" ia melangkah mendekati Hinata. "Dia pria ceria yang jelas suka berbicara. Dan kau tahu, orang-orang seperti itu sama sekali tak bisa dipercaya dengan rahasia. Kau tak tahu kapan mereka akan kelepasan, dan membuat apa yang seharusnya rahasia menjadi konsumsi publik."
Hanya kontrol diri yang luar biasalah yang membuat Hinata tak mendaratkan telapak tangannya ke pipi pria itu. "Berbicara berdasarkan pengalaman, Uchiha?" sindirnya. Ia lalu mendelik. "Dengarkan aku baik-baik. Kau membutuhkan bantuanku di sini. Hal paling mudah yang bisa kau lakukan adalah menjaga mulutmu. Apa kau pikir aku tak akan mampu melangkah pergi begitu saja? Aku bisa. Ingatkan itu dalam kepala pintarmu!"
Dan Hinata pun membalikkan badannya, melangkah pergi. Jika pria itu berpikir bahwa Hinata takut kehilangan harta atau apapun bagian yang dijanjikan Madara dalam surat wasiat itu, pria itu salah besar. Ia mampu hidup pas-pasan selama ini dan tak pernah mengeluh. Ia tak akan merasa kehilangan sesuatu yang bukan miliknya dari awal.
Melangkah dengan menghentakkan kakinya, Hinata membanting pintu depan hingga tertutup. Ia capek dan membutuhkan istirahat. Namun dengan emosinya yang sedang naik seperti ini, ia pasti hanya akan bolak-balik di tempat tidur dengan resah tanpa mampu terlelap. Mengumpat pelan, Hinata mengubah destinasinya menuju dapur.
Suasananya sepi. Hinata melirik jam di dinding, dan menghela nafas menyadari bahwa sekarang telah lebih dari tengah malam. Ia harusnya menjaga sikapnya dan meminimalisir bunyi yang bisa ia timbulkan, bukannya malah berusaha membanting setiap barang yang bertemu kontak dengannya. Meletakkan tasnya ke atas counter meja dapur, ia lalu berjalan menuju kulkas dan mengeluarkan sekotak susu.
Ia baru saja akan menikmati secangkir susu hangat yang telah ia panaskan ketika sebuah suara bernada datar menginterupsinya.
"Kau benar. Menyetujui keinginan terakhir surat wasiat itu adalah sebuah kesalahan."
Hinata tak bergeming. Ia tak berminat terlibat pertengkaran lagi. Biarkan saja pria itu mengatakan apapun yang ingin dia katakan.
"Belum ada satu minggu kita tinggal bersama, kita pasti sudah akan membunuh satu sama lain."
Ah, dia benar, Hinata mengakui. Tak terhitung berapa kali Hinata membayangkan akan sangat menyenangkan menutup wajah pria itu dengan bantal dan membuatnya tak bernafas semenjak resmi pindah ke rumah ini.
"Karena itu kita harus membicarakan aturan tinggal bersama."
Hinata menoleh, satu alis terangkat. "Kita sudah membicarakan hal itu dari awal jika kau lupa."
"Dan itu tak cukup. Harus ada saksi sehingga membuat aturan itu lebih mengikat …"
"Dan kau berpendapat bahwa itu lebih baik jika kita lakukan sekarang." Hinata berkata datar. "Jika kau tak sadar, semua orang di rumah ini sedang terlelap tidur. Apakah egomu memang setinggi itu sehingga kau sama sekali tak mengerti arti kata toleransi? Dokter macam apa kau ini …"
"Jangan menyangkut-pautkan pekerjaanku dalam masalah ini." Sasuke membalas cepat. Ia menarik kursi dan duduk di hadapan Hinata. "Dan lebih cepat kita menyelesaikan masalah ini, lebih baik."
"Masalah apa?" Hinata balik menantang. "Kita tinggal bersama, oke. Bagian mana dari kalimat jangan mencampuri urusan masing-masing yang tidak kau mengerti, Uchiha? Dan lebih dari itu, kau berani menyindir temanku dengan mengatakan bahwa ia tak bisa dipercaya. Kau bahkan tidak mengenalnya sama sekali."
"Dan apakah kau mengenalnya?"
Hinata menutup mulutnya rapat-rapat. "Kau tahu, berdebat denganmu sama sekali tak sepadan dengan kehilangan waktu tidurku."
Ia mengambil tasnya dan berdiri. Kursi terdorong ke belakang menimbulkan bunyi berderit di ruangan yang sepi itu.
"Selamat malam." Katanya dan berlalu pergi.
Hinata merasa sudah cukup muak berurusan dengan pria itu untuk hari ini.
.
.
.
"Apa yang terjadi padamu?" Karin mengerutkan keningnya sewaktu mendapati Sasuke sedang duduk di dapur menikmati secangkir kopi hitam kental dengan raut wajah mengerikan. Jas dokternya tersampir di kursi. "Trouble in paradise?" tanyanya.
Sasuke mendengus, mengamati wanita itu dengan lincah mempersiapkan sarapan pagi. 'Setidaknya kau bisa berpura-pura bahwa kau terlihat sedih atau prihatin jika itu memang terjadi padaku."
"Kau membenci simpati." Karin menjawab santai dan memecahkan telur ke dalam mangkuk kaca sebelum mengocoknya. "Lagipula kurasa bukan itu yang sebenarnya terjadi." Ia berhenti sesaat sebelum tersenyum ceria memandang Sasuke. "Dan sekedar informasi, jika memang kau sedang ada masalah dengan kekasihmu, aku ─tentu saja─ akan menjadi orang pertama yang bergembira tentang itu."
"Cih."
"Mana Hinata? Dia belum bangun?"
Sasuke berpura-pura tak mendengar omongan wanita itu. Ia mengeluarkan tabletnya dan sibuk membaca mail baru yang masuk. Mata Karin mendadak menyipit curiga melihat Sasuke yang berpura-pura tak mendengar pertanyaannya.
Spatula di satu tangan, dan tangan lain di pinggang, Karin mengangkat alisnya. "Sekarang apa lagi yang kau lakukan padanya?"
Sasuke menghela nafas. Bahkan tanpa kehadiran orangnya pun, gadis itu mampu menimbulkan masalah untuknya. Ia bahkan mampu membuat Karin berbalik arah dan menyerangnya.
"Memangnya apa yang kulakukan?" Sasuke meletakkan tabletnya.
"Aku tak tahu. Menurutmu?" Karin bertanya balik, menantangnya.
Dan sebelum Sasuke mampu membuka mulutnya untuk membela diri ─karena ia merasa sudah cukup lama diam dan membiarkan wanita itu mengambil kesimpulan sendiri─ sumber masalahnya pagi ini masuk bergabung ke dapur, dan berlalu ke counter untuk membuat secangkir teh hangat tanpa sedikitpun melirik ke arahnya.
"Pagi, Karin-san." Sapanya sambil tersenyum. "Ada yang bisa kubantu pagi ini?"
Karin tersenyum cerah dan menggeleng. "Aku hampir selesai membuat sarapan pagi untuk kita. Duduk bergabung saja dengan Sasuke."
"Tak apa." Hinata menolak dengan halus dan menggelengkan kepalanya. Aku lebih nyaman duduk di sini."
Sasuke mendengus mendengarkan penolakan terang-terangan itu. Kelihatannya gadis itu sama sekali tak berniat menutupi ketegangan di antara mereka. Baik. Kalau begitu ia juga tak akan berpura-pura tak ada masalah di antara mereka.
"Takut?" sindirnya.
Hinata melirik ke arahnya untuk kali pertama pagi itu. "Hanya meminimalisir kemungkinan aku tertular sifat angkuhmu." Jawabnya datar. Ia menoleh ke arah Karin dan mengerjapkan kedua matanya sewaktu mendapati wanita berkacamata itu sedang memandangi ia dan Sasuke secara bergantian dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Apa kau tahu, beberapa wanita malah beranggapan bahwa itu adalah salah satu daya tarikku."
Karin berdehem dan mendadak sibuk dengan telur gulungnya ketika Sasuke melemparkan pandangan mengingatkan ke arahnya. Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya. Cangkir di tangannya berhenti sebelum sampai ke bibirnya.
"Sejak kapan sifat angkuh menjadi satu kebanggaan. Otakmu jelas sudah rusak." Katanya sambil meetakkan cangkirnya. "Apa kau yakin pasien-pasienmu akan bisa sembuh total jika ditangani olehmu?"
"Ketidakpercayaanmu akan kemampuanku sungguh menggelikan. Kau mengatakan itu hanya karena aku bangga akan sifatku?" Sasuke tertawa geli. "Nona, lain kali tolong cek latar belakang orang yang ingin kau sindir terlebih dahulu sebelum menyerang mereka."
Hinata meletakkan cangkirnya dengan keras, dan Karin mengerang kecil namun tetap diam tak memprotes. Ia memandang cangkir itu dengan sayang.
"Katakan itu pada dirimu sendiri! Rasanya tidak enak, bukan? Mendengarkan orang lain mengambil kesimpulan tentang dirimu tanpa alasan atau dasar. Dan meski kau sama sekali tak peduli dengan apa omongan orang lain, paling tidak, kau tak perlu memberikan orang lain nasehat yang jelas kau sendiri tak mampu lakukan."
"Teruskan." Sasuke berkata kalem, seolah sama sekali tak terpengaruh dengan omongan Hinata. "Tak usah ditahan, aku yakin masih banyak yang ingin kau katakan."
Dan ketenangan Sasuke semakin menyulut kemarahan Hinata.
"Oh baik!" Hinata berdiri mendadak dari kursinya. Ia mendelik. "Akan aku katakan. Kau adalah pria paling egois, angkuh dan seenaknya sendiri yang pernah kukenal. Kau tak ingin aku menceritakan tentang kejadian yang aku alami sekarang ─terjebak dalam wasiat yang mengikat ini─ pada orang lain, tapi kau sendiri tak bisa melakukan hal yang sama pada dirimu. Dan itu hanya karena kau melihat Naruto sebagai orang yang tak bisa dipercaya."
Bukan berarti Hinata memiliki keinginan untuk menceritakan hal itu pada Naruto, tapi ini lebih karena ketidakadilan Sasuke yang melarangnya untuk bercerita tentang posisinya sekarang pada seseorang.
Karin meletakkan mangkuk nasi di meja, lalu berdehem. "Um, aku tak tahu siapa Naruto, tapi kupikir Sasuke benar untuk melarangmu bercerita dengan orang lain, Hinata. Jumlah harta yang dipertaruhkan dalam surat wasiat itu sama sekali tak main-main. Dan sudah jelas ada beberapa pihak yang akan diuntungkan seumpama kalian gagal."
Hinata melayangkan tatapan tajamnya ke arah Karin dengan begitu cepatnya. "Kalau begitu suruh dia untuk menutup mulutnya dan tak mengatakan apapun pada kekasihnya. Aku tak akan meributkan masalah kecil jika aku mendapatkan perlakuan yang adil. Tapi Tuan Oh-AKu-Lebih-Baik-Dari-Kalian ini sama sekali tak mengerti maksudku."
"Sasuke …" Karin memulai.
"─aku percaya pada kekasihku." Sasuke memandangnya dengan keyakinan tak mendengus, melipat kedua lengannya di depan dada.
"Kau lihat sendiri, kan?" Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya. Rambutnya yang diikat ekor kuda ikut bergerak mengikuti gerakan kepalanya, dan Sasuke untuk sesaat memandanginya dalam tatapan yang sulit diartikan. "Dan Madara-san mengharapkanku untuk hidup bersama dengan orang ini selama 3 bulan? Dia meminta terlalu banyak dariku."
"Hinata …" Karin kehilangan kata-kata. Ia memandang Sasuke dan Hinata secara bergantian di tengah-tengah dapur. Seperti inikah rasanya merasa nyaris putus asa?, Karin berpikir sambil melepas apronnya.
"Dan aku tidak." Hinata membalas ucapan Sasuke sebelumnya. "Posisi kita sama. Aku tak percaya pada kekasihmu, dan begitupun sebaliknya. Kenapa kau tidak bisa melakukan hal yang sama sesuai dengan ucapanmu sendiri? Merasa terlalu pintar untuk bisa dikelabui orang lain?"
"Dan kau bisa mengatakan itu meski kau belum bertemu dengan wanitaku?" Sasuke mengabaikan dengusan Karin yang terdengar jelas ketika wanita itu meletakkan mangkuk miso sup untuknya dengan keras. "Setidaknya aku sudah melihat blondie itu semalam, dan bisa mengambil kesimpulan."
"Semalam?" Karin memotong.
Hinata mengabaikannya. "Memangnya apa kau ini? Profiler?" katanya pada Sasuke. "Demi Tuhan, tidakkah kau mendengar dirimu sendiri? Kau mengambil keputusan seenak dirimu, dan mengharapkan orang lain setuju? Jika kau lupa, kau membutuhkan bantuanku. Dan perlu kuingatkan, bukan aku yang memohon untuk terlibat dalam situasi ini." Ia berjalan menuju pintu penghubung dapur.
Karin bergegas mendekati Hinata dan menahan lengan gadis itu. "Kau mau kemana?"
Dengan lembut Hinata melepaskan cengkraman Karin di lengannya. Ia menggeleng pelan. "Aku tak mau berada satu ruangan dengan orang sepertinya. Maaf."
Dan Karin hanya mampu terdiam selama beberapa saat di tempatnya. Ia mengurut keningnya, berharap tindakan itu mampu menghilangkan pening yang mendadak menyerang kepalanya. Menarik nafas panjang, ia membalikkan badan menghadap Sasuke yang masih santai menghabiskan kopinya.
"Bisakah kau berhenti menjadi pria brengsek, setidaknya untuk di awal hari, Sasuke?" katanya dan mendudukkan bokongnya di kursi tepat di hadapan pria itu. "Gadis itu sudah mengalami banyak masalah, dan sikapmu hanya semakin memperpanjang daftarnya."
Sasuke tak menanggapi.
Karin kembali menghela nafas. "Belum satu minggu dan kalian sudah bertengkar seperti ini. Bagaimana kalian bisa melewati tiga bulan tanpa saling membunuh?" ia menggerutu pelan. "Sasuke, apa sulitnya sih menuruti keinginannya. Kita berdua tahu apa yang ia minta merupakan hal yang wajar."
"Berbicara lembut seperti ini sama sekali tak cocok dengan dirimu, Karin."
Karin menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengingatkan untuk tak terpancing dan membiarkan Sasuke berlalu begitu saja dari masalah yang sedang ia coba selesaikan. Kuatkan hati, begitu ia mengingatkan dirinya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan."
"Aku punya kekasih. Dan dia berhak mendapatkan penjelasan mengapa aku tinggal di rumah milik Kakekku, dan bukan di apartemen milikku sendiri. Lagipula, dia juga pasti ingin tahu kenapa aku tinggal bersama dengan seorang wanita asing. Akan ada banyak pertanyaan yang bermunculan. Aku hanya mencoba menghindari situasi yang merepotkan."
"Kau bisa mengatakan ini semua ada hubungannya dengan wasiat Tuan Madara, dan cukup sampai di situ. Lagipula sejak kapan kau membiarkan seorang wanita mengontrol dirimu."
Sasuke menghela nafas. "Apa ini berarti kau akan membiarkannya datang kemari berkunjung sesuka hati?"
Mata Karin secara otomatis menyipit tajam. "Jangan berani-berani ─"
Sasuke mendengus sembari berdiri dan mengambil jas putihnya yang tersampir di kursi. "Bahkan di akhir usianya pun, Kakek tua itu masih mampu membuatku sengsara."
"Itu salah satu hobinya." Karin mengangkat bahu. Lalu raut wajahnya kembali mendadak serius. "Perbaiki sikapmu, Sasuke. Hinata bukan aku, ataupun salah satu wanitamu. Dia berbeda.".
.
.
.
.
Dia berbeda …
Ucapan Karin kembali bergema dalam pikirannya. Dan Sasuke berusaha menahan dirinya untuk tidak melemparkan status pasien yang sedang ia baca. Sialan wanita itu. Di mana loyalitasnya berada. Kenapa ia malah membela gadis yang baru ia kenal dibandingkan dirinya?
Tentu saja Hinata berbeda. Wanita itu keras kepala. Begitu kerasnya hingga Sasuke memiliki keinginan untuk meletakkan kedua tangannya di lehernya, ataupun mencium─
Wooaah! Tunggu sebentar Uchiha Sasuke, ia mengingatkan dirinya. Kau sama sekali tak memikirkan itu. Tidak!
Sasuke melempar status itu ke meja. Sialan. Sarutobi Hinata memang sialan. Bahkan tanpa kehadiran orangnya pun ia mampu mengacaukan pikirannya. Dan bersamaan dengan itu, raut wajahnya yang mendelik marah ke arahnya pun kembali terbayang.
Sasuke mengerang sembari mengacak rambutnya. Ia jelas tak akan mampu berkonsentrasi jika pikirannya terus menerus kembali pada wanita itu dan pertengkaran mereka. Dan ini berarti ia harus segera menyelesaikan pertikaian mereka sesegera mungkin. Dan mengingat temperamen Hinata yang luar biasa, Sasuke tak yakin ia mampu memenangkan perang di antara mereka berdua tanpa cakaran di tubuhnya.
Ponselnya yang terletak di atas meja bergetar. Dan Sasuke tak bersusah payah menahan umpatan yang keluar dari mulutnya sewaktu melihat nama Shikamaru Nara muncul di layar ponselnya.
Entah kenapa Sasuke memiliki firasat harinya akan semakin bertambah buruk.
*****To Be Continue*****
