Candu
Katekyou Hitman Reborn by Amano Akira
WARNING: AU. OOC. BL. Bad!Fon. Harem!Mammon. Typo tak terelakkan, et cetera
Don't like don't read! Still want to read? Then enjoy~
Chapter 2
Wo Hai Keyi Zuo Ruan, Ren
Mammon tahu benar dia berada di Negeri Sakura bernama Jepang, bukan negara di mana topi fedora itu menjadi tren atau apalah itu. Apa si pria berambut hitam itu sedang ber-cosplay atau seorang turis? Kalau iya, siapapun jawablah mengapa ia mengenakan seragam SMA Namimori? Ha!
'Abaikan saja', si pemuda violet berkata dalam hati, tatapan dialihkan pada tangan yang mengeluarkan sebuah buku dari tas, lalu membaca rentetan tulisan di dalamnya—orang di samping diabaikan dengan cara tak bersahabat.
Pria berfedora sebenarnya sama sekali tak ingin ambil peduli dengan sikap orang yang diduga satu sekolah dengannya itu, namun ada hal janggal yang membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangan pada pemilik surai violet; seragamnya—hei! Dilihat dari sudut manapun manusia yang membaca buku itu perempuan tulen, tapi ada apa dengan seragamnya? Pakai dasi, bukannya pita, pakai celana, bukannya rok. Baik, ini aneh.
"Hei kau, bisa aku bertanya?" Suara berat itu berucap, namun na'as diabaikan. Nafas beratpun dihela ketika yang datang menyahut adalah suara kertas yang dibalik.
"Baik, aku tahu aku orang asing bagimu, tapi diabaikan adalah sesuatu yang tak kusuka." Ucapnya lagi, berharap si gadis dingin menanggapi kali ini untuk menjawab pertanyaan yang berputar di kepalanya. Sungguh, itu mengganggu.
Alis pemakai topi fedora berkerut, dirinya sekali lagi diabaikan. Seorang gadis—yang biasanya adalah makhluk yang dibuat tergila-gila, tapi yang ini malah mengabaikan. 'Brengsek, dua makhluk sinting itu pasti menertawakanku bila tahu ini.'
"Ehm, dengar, aku hanya ingin mengajukan satu pertanyaan singkat. Tak keberatan?"
Sunyi. Srek—suara kertas dibalik mengisi udara. Sirat yang mengatakan 'jangan-mengajakku-berbincang' terlihat jelas di manik violet, pria berkulit tan tentu melihatnya, namun rasa penasaran tentu tak dapat dibunuh begitu saja.
"Apa kau mencoba mengujiku, Nona? Jika ka—"
Suara cukup nyaring dari buku yang ditutup keras memotong nada berat yang tengah melisankan kalimatnya. Tatapan dingin penuh amarah menyusul setelahnya, menatap si fedora penuh benci.
"Jangan sekali-kali berani memanggilku 'Nona', Sialan! Aku ini—"
"Baik, baik… maafkan aku." Ucap pria yang sejak tadi diabaikan sambil terkekeh kecil. Oh, Mammon makin benci pria ini. Cih! Dia sama brengseknya dengan berandal sinting Asia itu, batinnya.
"Argh! Sepertinya kau ingin aku angkat kaki dari sini, tak perlu bertanya, akan kulakukan!" Raga diangkat, hendak membawa diri menjauh dari sosok yang dianggap menyebalkan, pria ber-fedora menghela nafas. 'Perempuan memang sulit dimengerti,' pikirnya seraya menghela nafas.
"Argh, ayolah, aku hanya ingin bertanya, lagipula salahmu yang mengabaikanku terus—membuatku harus memanggilmu nona dengan hormat," kelopak itu menutup kelereng hitam legam. "Tapi sepertinya kau tidak menyukainya, eh… cukup menarik." Sebuah senyum tipis terpatri di wajah yang tertutup bayangan topi fedora itu.
Mammon berbalik sambil tubuhnya menghentak kesal. "Muu! Sebenarnya apa maumu hah! Sumpah benar-benar menyebalkan, sial! Aku hanya ingin membaca dengan tenang di sini, apa diganggu olehmu adalah tiketnya?!" omelnya panjang lebar untuk masalah sepele ini, oh, sebabnya orang sialan ini mengingatkannya pada berandal sinting yang selalu mencari kesempatan mematuk bibirnya. Brengsek, memang.
Pria ber-fedora—sebut saja Kawahira Reborn, memangku dagunya di telapak tangan, memandang Mammon dengan tatapan mata dan senyum yang tak bisa diartikan. "Jawab pertanyaanku, dan aku akan membiarkanmu bermesraan dengan bukumu."
Dengusan. "Cepatlah."
"Oke, ini dia; tak merasa bersalah memakai seragam itu, huh?"
Alis violet bertaut bingung, "Pertanyaan macam apa itu? Kenapa aku harus bersalah memakai seragam ini?" tanyanya balik setengah emosi. Reborn terkekeh mendengar tanggapannya, membuat pemuda cantik itu ingin memukul kepalanya.
"Astaga, betapa menarik, tak kusangka," Reborn terkekeh lagi sambil menutup kedua mata dengan sebelah tangan.
"Muu! Seharusnya aku angkat kaki dari tadi! Melayanimu membuang waktu, sial!"
"Hei, mau bergabung?" Reborn bertanya, respon seperti beberapa menit lalu didapat. Diabaikan. Pemilik surai sebahu mulai berjalan menjauh.
"Dengan perkumpulanku, kerjaan keseharian; menghajar dan memeras dompet pelanggar peraturan sekolah. Bagaimana?" Ia meyakinkan, kali ini Mammon menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Baik, sesuatu tentang memeras kantong memang menggiurkan bagi sulung Dokuro itu.
"Cukup tertarik, tapi apa alasanmu mengajakku, Tuan Fedora yang bayak bicara?"
Reborn berdiri, senyum tipis terpampang di wajah. "Kawahira Reborn, Kouhai. Kenapa bertanya lagi, jawabanmu atas pertanyaanku sudah membuat semuanya jelas." Terangnya. Mammon mengangkat alis tak mengerti. Oh, kalau ditanya dari mana ia tahu kalau Mammon adik kelasnya, jawabannya ia baru sekali ini melihat sosok berjaket gelap itu.
"Bisa kau jelaskan dengan bahasa yang bisa dimengerti manusia?"
'Dia ini gadis cantik yang bodoh atau apa?' tanya Reborn dalam hati, tak bermaksud mengucapkan langsung karena bisa memicu makhluk cantik bermulut sialan di depan berubah pikiran.
"Oh, ayolah. Kelompok berandal mana yang tak tertarik dengan gadis yang tak merasa bersalah memakai seragam laki-laki ditambah bermulut tajam? Otakku pasti sakit jika tak tertarik denganmu, Kouhai," ucapnya santai tanpa menyadari kantong kesabaran Mammon yang pecah. Dipanggil gadis atau sejenisnya merupakan penghinaan besar baginya.
Dan mengingatkan pada Hibari Sulung, tentunya.
"Oh, ngomong-ngomong aku menjanjikan kedudukan bos pa—" suara berat terpotong oleh sebuah buku tebal yang melayang ke wajah, untungnya tangan kanan berhasil menangkap benda itu.
"Kurasa kau perlu mengubah sasaran tawaranmu itu, Kawahira brengsek."
"Alasannya?"
Mammon mendecih, sudah tak kuat dengan pria berfedora itu. "AKU INI LA—"
"Wah wah, Apa yang kutemukan di sini?"
Mammon rasanya mau terjun bebas saat itu juga. Sumpah demi apapun dia kenal betul suara ini, pemuda itu membatu di tempat, tak bergeming sedikitpun. Membiarkan seorang pria lain yang baru datang merangkulnya tanpa perlawanan selama beberapa detik.
"B- brengsek! Lepaskan!" Entah apa yang baru membuatnya baru bisa bergerak saat sudah dikunci tangan kekar seperti ini, mustahil pastinya untuk melepaskan diri.
"Salah satu rekanku… bersama Nona Dokuro-ku yang emosi, huh…" manik caramel itu bergantian melirik dua orang yang disebutnya. "Berani juga kau membuat mainan cantik-ku ini marah, Reborn."
"KAU LEBIH MEMBUATKU MARAH BRENGSEK! LEPASKAN!" teriak pemuda jelita yang sudah emosi tingkat tinggi—melebihi emosi saat menagih hutang pada adik tercinta.
Reborn meletakkan jarinya di dagu, mengamati pose mesra yang dilakukan sepihak itu. "Hmm… jadi ini mainan yang kau maksud, Fon. Kau benar, dia menarik, tadinya aku ingin menjadikannya mademoiselle-ku."
"Dalam mimpimu, Tuan Paranoid." Si pemuda Asia mengeratkan rangkulannya pada sosok mungil. "Dokuro ini milikku, merebutnya, kau harus siapkan liang kubur untuk itu," kata pemuda berdarah Cina itu sambil melayangkan tatapan tajam pada sang rekan. Reborn memberi tatapan sama, bermaksud menantang.
"Tentu, akan kusiapkan, liang lahat khusus untukmu." Sahutnya tanpa ragu, walaupun dipahami bahwa perebutan ini bisa mengakibatkan hal buruk pada geng mereka.
"Hoo… kau yang menantangku Reborn. Tapi camkan ini; jika ada yang bisa mendapatkan Nona Dokuro ini, orang itu tidak lain adalah aku." Fon mengompori, Reborn memamerkan sebuah seringai, dan Mammon menumbuhkan rasa benci yang lain pada si Kawahira.
"BRENGSEK KALIAN PARA BERANDAL SINTING! AKU BUKAN BARANG DAGANGAN YANG DAPAT DIPEREBUTKAN OLEH MAKHLUK TAK PUNYA URAT MALU SEPERTI KALIAN, SHIT! DAN KAU LEPASKAN AKU, HIBARI SIALAN!" omel si pemuda mungil habis kesabaran, sungguh ia sudah lelah dengan kejutan Fon di sekolah tadi.
"Nah, kau dengar sendiri darinya Fon, Violetta Mademoiselle ingin lepas dari perlakuan kasarmu." Reborn mengulurkan tangan kanannya seraya tersenyum menawan. "Seharusnya seorang lady diperlakukan dengan lemah lembut, kan. Yang kutahu kau tidak punya pemahaman akan kosakata itu, jadi…" manik hitam itu melirik wajah cantik yang sedang memasang raut kesal.
"DIAM KAU KAWAHIRA YANG JUGA SIALAN! AKU INI LAKI-LAKI DAN SEBUTAN ITU MERUPAKAN PELECEHAN KEPARAT!" umpat Mammon menunjuk pria keturunan Italia itu. Oh, kali ini Reborn yang mengabaikannya.
"Sebaiknya serahkan dia, lagipula jika diperlakukan seperti itu terus cepat atau lambat dia akan pergi." Lanjut pemilik rambut hitam legam.
"Begitukah?" sahut pria berkepang, lalu memegang dagu si pemuda mungil dan mendekatkan wajahnya pada raut cantik yang mengeras itu. "Aku tak tahu kalau seorang mainan bisa melarikan diri." Lanjutnya sambil mengukir seringai bak serigala lapar.
"Dengan perlakuan kasar semacam itu bisa saja." Tangannya menarik ujung fedoranya. "Dan jauhkan wajahmu darinya, terlihat jelas kalau ia tak suka, Fon."
"Hmm… benarkah itu, Mammon? Kau akan melarikan diri dariku?" tanya pemilik mata caramel mengintimidasi, Mammon menatap dingin wajah senior yang hanya berjarak beberapa senti darinya itu.
"Jauhkan wajah monyetmu dariku, Keparat." Bukan teriakan melengking kali ini, namun sebuah kalimat datar yang menusuk. Fon sempat tersentak beberapa detik, namun segera digantikan kekehan keluar dari mulutnya. Satu tangan tergerak menutup matanya—membiarkan dirinya sedikit lengah dan melepaskan si Dokuro sulung, Mammon tak menyiakan kesempatan tentunya, namun baru saja selangkah berjalan, pergelangan tangannya dipegang erat. Helaan nafas dilakukan pemuda violet sambil memutar bola matanya.
"Astaga, dengan sikap menarikmu itu kau pikir aku akan membiarkanmu melarikan diri? Tentu kau tahu jawabannya kan, Dear?"
Tiba-tiba saja wajah yang dihiasi seringai itu sudah berada dalam jarak terlarang bagi pemuda berwajah jelita, matanya melebar, ketakutan menyergap—dia tidaklah bodoh untuk tak mengetahui apa yang akan dilakukan senior yang tak punya urat malu itu.
"Cukup, Fon. Jangan katakan kau tidak melihat wajah ketakutannya," Suara berat dan tepukan di bahu menghentikan aksi illegal pemuda berkepang. Tak mempedulikan tatapan kesal Fon, Reborn mengamati wajah jelita pemuda bermarga Dokuro.
"Dengan raut ketakutan seperti itu… dia tak terlihat cantik lagi, tahu." Tatapan dialihkan pada sang rekan. "Bukankah kita ada rencana hari ini, Fon? Ingat peraturan kita kan; dilarang bolos dari rencana dua kali berturut-turut, kau yang membuat itu, ingat? Ngomong-ngomong kukembalikan bukumu, Mammon." Lanjutnya seraya menyerahkan buku bersampul biru—yang tadi dilemparkan ke wajahnya—pada si pemilik.
Fon rambut hitamnya pelan. "Iya iya, masih segar dalam ingatanku. Mana Colonello?"
Reborn memperlihatkan ponselnya, terpampang sebuah pesan dari si pirang, "Sedang menderita melakukan hal membosankan bernama menunggu." Ucapnya, membuat si ahli beladiri tertawa kecil.
"Seperti biasa orang itu tak sabaran." Katanya, kemudian kembali mengalihkan focus pada si junior dan tersenyum tipis. "Aku pergi dulu, sampai besok, Dear." Ucapnya pelan.
"M—muu! Si-siapa yang mau menemui makhluk sialan sepertimu besok? Pergi saja sana dan jangan kem—mu!" sentakan menjadi reaksi kala tangan si ahli beladiri mengelus pelan pucuk kepalanya. Mammon hanya diam bersama wajah memerah—untuk alasan yang tidak ia ketahui.
"Melakukannya lebih lama lagi, artinya kau mengajakku berkelahi, Martial Arts sialan," ucap Reborn sambil memasang kuda-kuda bertarung.
"Kalau begitu mari selesaikan di sini saja, huh?" Fon ikut memasang kuda-kuda bertarung, siap menghadapi sang rekan kapanpun.
"Muu! Sudah kubilang kan aku bukan barang rebutan! Apalagi diputuskan dengan cara bodoh semacam berkelahi! Dasar rendahan!" Mammon kembali mengumpat pedas, membuat dua pria di hadapan saling bertukar pandang.
"Daripada emosi, keinginan Lady lebih penting. Lagipula cara paling pro di sini adalah mengambil hatinya," Reborn buka suara.
"Hee… kau mengajakku bersaing secara sehat, Reborn?"
"Aku hanya menghormati keinginan seorang Lady yang cantik, Fon."
"Muuuuu! Bagian mana ucapanku yang menyuruh kalian bersaing secara sehat hah?! Dengar; aku laki-laki dan diperebutkan dua orang ber-gender sama serta dipanggil dengan panggilan untuk perempuan adalah pelecehan yang tidak masuk akal! Jadi, senpai brengsek dan cabul sialan, HENTIKAN KESINTINGAN I—WOI! JANGAN ABAIKAN PROTESKU KEPARAT!" jerit si Dokuro Sulung mendapati dua senpai—sinting—nya berjalan menjauh.
Tep, langkah dua manusia itu berhenti, kepala keduanya menoleh ke belakang, memamerkan senyum tipis semi seringai mereka pada seorang manis bertudung hitam.
"Siapa yang peduli dengan gender, Mammon…" Fon memulai, Mammon meneguk ludah.
"Seorang berandal tak akan berhenti sebelum mendapat apa yang diinginkannya, hanya itu, Mademoseille." Sambung Reborn, Mammon makin merinding dibuatnya, hingga kemudian dua senior itu menghilang dari pandangan, kakinya terasa lemas sampai pemuda mungil itu terduduk.
Tangannya tergerak untuk memijit pelipisnya, entah kenapa kepalanya tiba-tiba pusing, kegilaan dua seniornya bisa dijadikan alasan yang tepat—sungguh, Mammon masih tak mengerti jalan pikir mereka, apa semua berandal segila ini? Atau memang hanya di Namimori saja terkumpul berandal yang egois mendapatkan apapun yang mereka inginkan? Oh, tentu tidak menyenangkan menjadi target keinginan mereka.
Mammon mengatur nafasnya, sebelum berusaha berdiri, daripada memikirkan itu ia harus menjemput dua kece—
"Wah, ternyata Mammon-san diharem-in dua cowo eh…" suara datar memenuhi telinga Mammon, pemuda cantik itu langsung menoleh dan menemukan dua adiknya yang masih berseragam sekolah SMP Namimori.
"Kalian—"
"Jadi Mammon-san, pilih yang mana?" Sepertinya Dokuro Fran memang tak punya urat ragu menanyakan maupun menyatakan hal-hal sinting.
"Siapa yang mau dengan mereka, muu! Yang kuinginkan adalah dua manusia gila itu hilang dari hidupku, sesulit itukah!" omel Mammon mengepalkan tangannya kuat hingga memutih.
"Memang sulit, Mammon-san, apalagi kalau memang sudah jodoh."
Dua buah perempatan muncul di kepala ungu Dokuro Sulung. "Siapa yang kau pikir mau berjodoh dengan sesama jenis apalagi berandal, hah?" kesalnya sambil melangkah menuju si bungsu—diduga untuk melakukan kekerasan pada si rambut hijau.
"Ma- Mammon-san, sabar… Fran memang se- selalu begitu kan…," ucap Chrome pelan, berupaya menenangkan sang kakak dan menyelamatkan nyawa si adik. Beruntung dengan ucapannya si sulung bisa dihentikan.
"Woo… ternyata keduanya ganteng, Mammon-san. Rugi kalau tak memilih, lho." Seolah tak menyadari tanda bahaya dari aura gelap yang tadi sempat keluar dari Mammon, Fran malah memperlihatkan layar ponselnya yang terpampang foto saat pemuda bertudung dielus kepalanya oleh Fon.
"Kau rupanya memang berdoa untuk kehilangan jatah sebulan. Dengar kecebong—ah, lupakan saja, pokoknya dibayar berapapun aku tidak mau memilih yang manapun! Plus, aku ingin kau hapus foto sialan itu." Mammon menunjuk Fran kemudian berbalik dan melangkah kasar. "Ayo pulang."
"Tidak mau, Mammon-san, sebelum kau mengembalikan hartaku dan Chrome-neesan." Jawab Fran tanpa dosa. "Kalau kau tak mengembalikannya besok foto harem-mu akan tersebar, lho."
JDERRRR!
—Oh, sudah terlambat untuk menyadari adik bungsumu punya senjata bagus, Mammon.
Wajah lesu itu kembali menguap, efek kurang tidur karena terus mencari ponsel si bungsu hampir semalaman—memaksa pemiliknya pun berbuah nihil, akhirnya demi melindungi harga diri, di pagi yang indah ini Mammon mengembalikan harta sang adik. Ah, betapa adilnya dunia—ini kata Chrome dan Fran.
"Mammon-san, cepatlah~," seru Fran yang sudah berada di luar, Mammon mendengus sambil mengikat tali sepatunya.
"Muu, semangat orang yang baru dapat harta dengan yang kehilangan beda jauh tau!" si pemuda violet berdiri dan berjalan ke arah pintu. "Duluan saja sana, aku tidak meminta kalian menunggu, muu!"
"Aku dan Chrome-neesan bukan menunggu Mammon-san, ada seseorang yang mengaku berandal-Asia-sialan mencarimu, nih. Aaa, aku merasa kenal dia…" ucap Fran dengan suara datarnya yang khas—dan menyebalkan, bagi Mammon.
"Mi-mirip Hibari-san…" gumam Chrome. "Dan yang kemarin…" lanjutnya masih malu-malu.
Mendengar suara di luar, Mammon sontak tersentak, tanpa memikirkan resikonya si Dokuro itu bergegas mendobrak pintu hanya untuk menemukan seorang Hibari Fon tersenyum elegan ke arahnya.
"Cih, bukan hanya berandal tapi juga merangkap sebagai stalker, sebenarnya apa maumu datang ke sini Hibari brengsek?!" desisnya penuh benci.
"Ah, benar. Mammon-san~. Kusarankan pilih yang ini, dia perhatian menjemputmu lho." Fran menepuk tangannya, tanpa khawatir Mammon sudah ambil langkah untuk mencekiknya. Untungnya—atau sialnya sebelum kekerasan pada si wajah datar terjadi tangan kurus Mammon sudah digenggam oleh si tamu tak diundang.
"Nah, Mammon, adikmu sudah merestui jadi tak perlu ada keraguan lagi, Dear."
"Berisik! Kau tidak mendapat restuku sialan! Lepaskan, aku mau ke sekolah, Keparat!" Jangan ditanya mengenai hasil upaya pemberontakan itu.
"Kalau begitu ayo ke sekolah bersama, Nona." Ucapan tenang itu tak bisa dianggap tawaran, karena apapun jawaban Mammon pasti akan berakhir sesuai keinginan si sulung Hibari itu juga.
"Ajak saja pelacur di—" kalimat itu di-intrupt oleh jari telunjuk yang menyentuh bibir ranum.
"Oh, sayang sekali aku tidak menerima jawaban 'tidak', Dear." Dan keputusan itu bulat, tidak bisa diganggu gugat. Si pemuda Cina melangkah pelan diikuti pemuda cantik yang digandeng—diseretnya. Di belakang mereka Chrome dan Fran mengekor. Terlihat Fran mengeluarkan ponselnya dan memotret momen mesra—sepihak—itu tanpa suara. Foto-foto ini akan menjadi bahan yang bagus untuk mengancam sang kakak pertama.
Mammon menunduk selama perjalanan mereka yang terasa berjam-jam, sesekali melayangkan tatapan penuh benci ke punggung lebar di depan dan pada tangannya yang digenggam berandal yang selalu membuat hari-harinya serasa di neraka. Terlintas pikiran untuk menusuk punggung kekar itu dengan gunting yang ia bawa untuk kelas seni papper craft. Namun imajinasi akan Fon yang berhasil menghindar dan malah memberinya hukuman berupa pelecehan membatalkan niat pembunuhan itu.
"Hm, mereka manis sekali ya, Chrome-neesan?" Fran meminta pendapat. Chrome hanya mengangguk malu-malu, membenarkan pendapat si adik. Mammon menoleh cepat dan menatap garang dua Dokuro lain yang merupakan adiknya itu.
"Fran, berhenti memotret dan mengikutiku! Bukankah kalian harus bergegas? Jarak SMP lebih jauh dibanding SMA!" Bukan alasan utama, sungguh, sebenarnya Mammon takut adik-adiknya melihat aksi illegal yang bisa saja dilakukan Fon tiba-tiba—asli ia tak mengerti jalan pikiran berandal brengsek itu.
"Alasan, Mammon-san hanya tak ingin diganggu saat bermesraan, kan?" sahut Fran tanpa dosa.
"I- iya, ini juga masih jam tujuh…" tanggap Chrome tanpa disangka, kakak pertama makin emosi dibuatnya.
"Muu, siapa yang—"
"Ah, benar sekali, Nona Dokuro-ku ini memang tsundere," Fon menjilat bibirnya sendiri. "Benar-benar manis."
"SIAPA YANG KAU SEBUT TSUNDERE HAH?! AKU MEMANG TIDAK MAU DAN TIDAK SUDI BERMESRAAN DENGANMU, SENPAI SINTING!" bantah Mammon muak dengan setiap perkataan Fon tentang dirinya. Lelaki kelas dua hanya terkekeh, setelah itu suasana jalan mereka kembali sunyi, sampai Fon melangkahkan kakinya ke kawasan taman yang diisi beberapa mainan anak-anak seperti ayunan.
"Ha? Apa ini? Kau mengajakku bermain sebelum sekolah?" Mammon menaikan satu alisnya.
Fon duduk di sebuah ayunan, bibirnya menyunggingkan senyum santai. "Tadinya aku berniat menghabiskan waktu sebentar, masih ada waktu sejam lebih. Tapi bagus juga idemu Nona, bagaimana kalau bermain permainan mendebarkan, huh?" tanyanya enteng, Mammon seketika terkaget dengan semu merah di kedua pipi, entah memang maksud pemuda itu yang mesum atau pikiran Mammon lah yang salah terjemah—baik, pernyataan pertama lebih masuk akal mengingat sikap si pemuda Cina.
"Ja- jangan sembarang bicara kau! Aku bukan orang gila yang sudi melakukan hal itu dengan berandal sepertimu di tempat terbuka ini! Muu!" si pemuda jelita itu menarik-narik tangannya lagi—tentu saja kita sudah tahu hasilnya.
"Baik, baik… ada Love Hotel tak jauh dari sini, bagaimana?" tanya Fon lagi dengan nada menggoda.
"AJAK SAJA PELACUR MURAHAN KE TEMPAT LAKNAT ITU, KEPARAT!" Kali ini upaya membebaskan tangannya makin kuat, namun kekuatan cengkraman Fon juga semakin kuat. Pemuda berkepang terkekeh.
"Lho, kukira kau ingin privasi, Dear?" godanya lagi, raut wajah Mammon mengeras seketika.
"PRIVASI ATAU TIDAK JIKA ARTINYA MELAKUKAN HAL SINTING DENGANMU AKU MENOLAKNYA! JELAS?!" bentak pemuda bermanik violet geram. Entah berapa banyak rasa benci yang keluar dari permata violet itu khusus untuk seorang Hibari Fon. Pemuda ahli beladiri terdiam, kali ini tanpa seringai maupun senyum tipis terukir di bibirnya.
"Whoa, pertengkaran pasangan yang hebat." Suara Fran mewarnai suasana taman yang sempat sunyi sejenak. Mammon terengah-engah, membentak Fon dengan suara tinggi membuat paru-parunya lelah, tubuh pemuda itu tergerak untuk duduk di ayunan sebelah Fon, dengan catatan tangannya masih bertaut dengan milik Hibari Sulung. Selang beberapa detik setelah nafasnya stabil, Mammon tanpa sadar melakukan pergerakan maju-mundur kecil di ayunan yang didudukinya.
Kelereng violet itu melirik tangan kanannya yang digenggam erat, lalu beralih pada sosok yang paling dibencinya. "Oi, Senpai brengsek," mulainya.
"Hm?" respon Fon singkat, Mammon memicingkan matanya.
"Kapan kau hentikan permainan sinting ini? Atau paling tidak bisa kau ganti targetmu?"
Fon tertawa kecil, "Tidak bisa keduanya, Nona."
"Alasannya?"
"Mungkin karena kau terlalu menarik bagiku," jawab pemuda berwajah oriental itu seraya melepas tudung milik orang yang ia klaim sebagai mainan abadinya, memperlihatkan rambut violet sehalus sutra—dan pemiliknya refleks menoleh penuh amarah.
"Muu! Seenaknya kau!" tangan kiri Mammon melayangkan sebuah tinjuan yang tentu saja dapat dicengkram dengan mudah oleh pemuda Cina. Fon menarik tangan si pemuda jelita sembari ia mencondongkan badannya pada Mammon, dan saat wajah cantik yang terkejut itu cukup dekat dengannya aksi illegal yang sempat gagal kemarin berhasil dilakukan.
Bibir ranum nan mungil itu dilumat dan dihisap sepenuh nafsu oleh sang senior, dua penonton yang ada di sana melihat adegan mesra itu tanpa berkedip—mengabaikan Mammon yang meronta-ronta. Fran mengambil foto dengan ponselnya, Chrome memerah menyaksikan dua manusia yang bibirnya tengah menempel itu.
Satu tangan Fon melepas pergelangan tangan Mammon lalu beralih ke kepala bagian belakang si pemuda manis dan menekannya; membuat ciuman mereka makin intens. Oh, dan tau apa yang membuat Hibari Sulung itu makin menikmati ini? Rontaan Mammon, tentunya, itu semakin membuatnya ingin melakukan lebih dalam rangka membuat si makhluk jelita diam—yang artinya ia adalah pemenangnya.
Maka, pria Cina itu memaksa Mammon membuka mulut dan secepat angin memasukkan lidahnya ke dalam mulut yang selalu mengumpat dan menyumpahinya itu. Fon menyeringai saat menjelajahi bagian dalam lisan Nona-nya. Saat paru-parunya meronta meminta pasokan udara, barulah Fon melepaskan ciuman itu—ciuman terlama mereka.
Mammon terbatuk seraya menutupi bibirnya dengan punggung tangan, wajahnya merona hebat sampai ke telinga. Sudah kesal setengah mati ciuman pertamanya diambil sekarang pemuda sialan ini memaksanya melakukan french kiss pertama! Tak bisa dibayangkan sesakit apa otaknya.
"Khh—brengsek!" umpatnya melirik ke arah lain, tak bisa dijelaskan kenapa ada rasa takut untuk menatap pemuda yang lebih tua.
Hibari Fon mengulum senyum tenang seperti biasanya, "Hm, kenapa, Nona?"
"Demi apapun! Bisa tidak melakukan itu di depan siapapun terutama adik-adikku?!"
"Apa yang salah? Kurasa mereka tak keberatan." Sahut Fon santai sambil melirik Chrome yang wajahnya masih merah dan Fran yang melihat-lihat hasil potretannya.
"MEREKA MASIH SMP BODOOOHHH! BAGAIMANA KALAU MEREKA MEREKA MENIRU ADEGAN KEKERASAN YANG KAU LAKUKAN HAH?!"
"Benarkah? Aku tidak melihat adanya kekerasan, No—"
"Ah, maaf! Aku lupa kalau otakmu sakit jadi tidak bisa mengenali kekerasan yang kau lakukan saat mengambil ciuman orang!"
"Hmm…"
"Mengerti? Kalau begitu lepaskan tanganku, aku ingin pergi ke—"
Mammon membelalak, kata-katanya terhenti—begitu juga waktu terasa berhenti kala sebuah ciuman lembut mendarat di dahinya. Tangan Fon tidak lagi mencengkram lengannya, namun beralih merengkuh tubuh mungil si pemuda violet. Sungguh Mammon tak mengerti apa yang membuat dirinya diam membatu seperti ini, bahkan setelah Fon menyudahi ciuman itu dan beralih mencium punggung tangannya singkat—baik, ini membuatnya makin kaget. Setelahnya si pemuda berkepang menatapnya sambil mengulum senyum menawan dan tatapan teduh.
"Wo Hai Keyi Zuo Ruan, Ren." Ucapnya dengan bahasa yang tak bisa dimengerti, Mammon berkedip beberapa kali. "Oh, aku cukup tersinggung dengan perkataan Reborn kemarin, tapi seperti yang kubilang— Wo Hai Keyi Zuo Ruan, My lady."
Kemudian si pemuda berdarah Cina menjauh bersama langkah angin, tangannya terlihat sedang memencet ponsel. "Maaf untuk mengatakan aku harus duluan, Nona. Reborn mencariku dan aku tak ingin ia tahu aku sedang bersamamu, jadi sampai nanti, Dear." Ucapnya sebelum melanjutkan langkah, Mammon masih bingung di tempat—entah ia mendengar kalimat Fon sebelum pergi tadi.
"Kenapa Mammon-san? Belum mau ditinggal pacar? Makanya jangan tsundere dong." Kata Fran sambil menghampiri sang kakak pertama.
"I- imut…" Gumam Dokuro Chrome dengan suara hampir tak terdengar—pasalnya jika Mammon mendengar ini harta karunnya mungkin akan dikuras lagi.
"Diam kau Fran! Dengarkan aku kalian berdua, yang tadi adalah Hibari Fon, dia—"
"Calon kakak ipar kami, kan? Aa—jangan tarik rambutku Mammon-san."
"Terserah, intinya dia kakak pertama dari Hibari Kyouya yang kau ceritakan waktu itu, orang-orang bilang adik bungsunya juga berbahaya, jangan cari masalah atau dekat-dekat dengannya, paham?"
Kedua adiknya mengangguk, kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke sekolah dalam hening, Fran melihat kembali hasil tangkapannya di layar ponsel, Chrome menunduk entah apa yang ia pikirkan, Mammon sendiri terlihat…. berpikir keras.
'Sial, aku tak mengerti bahasa Cina, brengsek!'
Pemuda bersurai violet itu bukannya menyukai ataupun membenci ruang di mana buku berkumpul bernama perpustakaan, namun ada alasan yang membuatnya harus melangkahkan kaki ke sana—rasa penasaran yang setinggi gunung Fuji.
Saat sampai di tempat di mana suara nyaring dilarang itu, Mammon pergi ke bagian kamus—sialnya ia baru tau kalau mencari kamus Cina-Jepang bisa sesulit ini. Oh, sebenarnya ia bisa saja membuka kamus online dengan ponselnya, tapi sayangnya benda itu tidak bisa berfungsi karena kehabisan daya. Hampir saja ia menyerah kalau tidak ada seseorang yang selesai membaca meletakkan kembali kamus yang ia cari. Langsung saja benda itu diambil dan mencari data yang ia inginkan.
Lembar demi lembar dibukanya, mengumpulkan arti dari setiap kata yang diucapkan Hibari Fon tadi pagi.
'Wo… Hai Keyi Zuo Ruan, Ren…. Apa artinya itu?'
Tiga kata sudah berhasil diartikan, empat kata, lima kata, enam… lengkap sudah, Mammon menghela nafas sebelum menyatukan arti kata yang sudah didapatnya.
Hasil yang didapat membuat Mammon menepuk dahinya.
"Berandal sialan itu…"
Entah ia harus percaya pada arti dari enam kata bahasa Cina yang dilontarkan pemuda berandal itu, atau ia harus menertawakan hal gila ini? Atau mungkin ia salah dengar dan otomatis salah mengartikan juga?
Entahlah, namun yang pasti Mammon bersumpah kalimat 'Aku juga bisa berbuat lembut, Nona' adalah hal teraneh yang pernah diucapkan seorang Hibari Fon. Pasti. Oh, atau bahkan cuma lawakan—yang tak seharusnya ia percayai.
TBC
HOLA HOLAAAAAA MINNA-SAAANNNN! Semoga kalian masih ingat FF yang memuat Bad!Fon ini ya ahahahaha takutnya pada lupa abis saya kelamaan bikin chap 2-nya, sebagai catatan makhluk yang membuat chap ini yaitu Harukaze Maulida tengah melakukan kegiatan kampret bernama Shingeki no Tugas /plok/ ditambah keasikan bikin fanart FM dan lupa ngelanjutin ceritanya /lalusayadikepret/ coretsiProfebikinshortficFMfamilymulusihdiFBjadimeselalugatahanbuatgabikinfanart keluargabahagiamerekacoret /dikepretV2/
Oh, ngomong2 itu bahasa Cinanya ngambil di gugel, kalo salah salahin gugel translit /dibegalreaders/ catatan: jam masuk di Jepang sekitar pukul 08.15 pagi.
Haaaa mohon maaf kalo Candu chap 2 ini kurang banget ohok-ohoknya /HEH/ tapi intinya terima kasih banyak buat yang ngebaca, review, fave serta follow fanfiksi dua makhluk—ngenes—yang mencintai FM ini—tapi ga kunjung canon, #KamiItuGaBisaDiginiin #SakitnyaTuhDisini /ERROR404 /SAYADIHANYUTIN/ Ok, dinanti jejak kalian di chap 2 ini~ XD
Halo halo! Saya selaku Profe Fest akan membalas review yang masuk ya XD di sini kelihatannya kami akan membalas setiap review di chapter depan soalnya kami bingung kalo dikirim PM._. Maaf ya semuanya ||_ _)
Lylia00 : MAKASIH KAMU MAU REVIEW~! XD Iya nih, Fon-nya kita buat versi OOC yang bad!Fon tampang berandalan sering menyeringai ala serigala [namun dia tidak mencari darah suci kok]. Pertanyaan tentang hubungan Reborn dan Mammon sudah terjawab di sini kan? Maaf ya kami nggak bisa bales review-mu via PM ||_ _) Arcobaleno yang lain masih jauh dari jangkauan kami nih, tapi ada kemungkinan mereka akan diikutsertakan [entah akan jadi atau tidak]. Review lagi yaa~ XD
Hikage Natsu : BABAAAAANGGG REBOOORRRRNNN KAWAHIRAAAAA /HEH. Perkenalan lengkapnya udah memenuhi asupanmu? :")
Aoi the Cielo : Namanya juga Mammon, pasti dia tsundere :") /dompet saya lalu raib/ come to Fon dong :" /digeplak. Ssiiip~ Makasih dukungannya~ XD ini udah lanjut kok, review yaa~ XD
kuro neko : Fon di sini dibuat mesum, jadi maklum ya XD baguslah kalau kamu mendukung, kami juga soalnya, ayo bersekutu .w.)b Iya nih, tapi tenang saja, perbedaan bukan halangan untuk bersaudara kok :")) Review lagi yaa XD
kiyoharu. gouriki : Udah lanjuuuttt XD Mammon kan memang kawaii XDD doakan saja tugas kami nggak banyak jadi cepet ya XD terima kasih dukungannya! Review lagi ya~ XD
-Salam-
Profe Maulida [Profe Fest and Maulida Harukaze]
