~Un Un Un~
Summary: Deidara mengatakan sebuah kata yaitu………. Rahasia!! *ditendang*
Disclaimer: Naruto punya BlackCard! Naruto punya BlackCard! *teriak pake toa**Dilempar tomat sama seluruh chara Naruto*
Naruto © Masashi Kishimoto
Nyo © Dejiko © Di Gi charat © Koge Donbo
Genre: Humor/ General
Warning: Yah seperti biasanya lah OOC, OC(may be), Lebay, so Crispy, banyak kesalahan tata bahasa dimana-mana dan Author ngelantur nggak jelas.
Main chara: Akatsuki crew.
Chapter 3
-(O.O"T_T^-^)Un!!!-
"Baiklah Dei coba katakan sesuatu!" perintah Pein.
.
.
.
.
.
.
"Nyo." Kata Deidara.
"Yeah, Deidara senpai nggak ngomong 'un' lagi!!" teriak Tobi riang sambil menari-nari dengan gajenya.
"Coba bilang mama, M-A-M-A!" perintah Konan.
"Atau coba bilang papa, P-A-P-A!" perintah Pein.
Deidara pun membuka mulutnya dan berkata…
"Emang gue bayi yg baru bisa bicara apa nyo? Kok disuruh ngomong kayak gituan nyo!"
"Loh, kok ngomongnya ada 'nyo' nya mulu?" tanya Itachi.
"Mana kutahu nyo! Orang aku habis dipijat jadi ngomong 'nyo' mulu nyo!" jawab Deidara.
SREEETT…
Semua mata tertuju pada Pein.
"Eh, kok lagi-lagi gue diliatin mulu! Ngefans ya ama gue?" kata Pein.
-Akatsuki dan Author sweatdrop-
"Ya enggaklah!" kata anggota Akatsuki.
"Terus apaan?" tanya Pein.
"Kok Deidara bukannya sembuh, malah ganti jadi 'nyo' sih?" tanya Kakuzu tak terima (Kakuzu masih dendam, karena uang-chan dibuat bayar tukang pijat urat)
"Lah, aku di chap 2 kan nggak ngomong 'dia bakal sembuh' tapi kan supaya 'nggak ngomong un lagi'." jawab Pein ngeles.
"Iya juga ya!" kata Kakuzu daa(dan anggota Akatsuki lainnya) dengan oonya.
Pagi hari, dihari berikutnya…
"Dei, tau jubah kami nggak?" tanya Itachi dan Sasori pada Deidara yg sedang asyik makan bantet(Baca: bandeng telor tepung).
"Taunyo, ada di kamarnyo, di dekat apa yanyo? Oh, ya di dekatnya mejanyo, terus didekatnya mejanyo ada pintu kamar mandinyo, terus masuk kamar mandinyo, nah didekatnya klosetnyo, kalau nggak salahnyo!" Jawab Deidara.
"Bisa diulang nggak Dei?" tanya Sasori.
"Maafnyo, nggak ada siaran ulangnyo!" kata Deidara.
"Yah, lo ngomong kok nggak jelas pake 'nyo' lagi! Jadi susahkan ngerti maksud lo!" kata Itachi.
"Ya, udah dehnyo, aku ulang laginyo!" kata Deidara.
"Iya iya…" kata Itachi dan Sasori manganguk-anggukkan kepalanya (Inner Sasori dan Itachi: 'ngemeng apa sih lo Dei?')
"Ada di kamarnyo, di dekatnya mejanyo, terus didekatnya mejanyo ada pintu kamar mandinyo, terus masuk kamar mandinyo, nah didekatnya klosetnyo, kalau nggak salah sihnyo!" Kata Deidara.
"Bisa diulang nggak Dei?" tanya Sasori dan Itachi.
300 menit kemudian, dan 60 kali Deidara mengulang apa yg telah dikatakan…
"Ngertinyo?" tanya Deidara.
"Ooooh…" Kata Itachi dan Sasori bareng sambil manganguk-anggukkan kepalanya.
"Ngerti nggak sihnyo?" tanya Deidara.
"Kagak, lo itu sebenarnya ngomong apaan sih?" tanya Sasori dan Itachi kompak.
GUBRAAAKK….
"Jadi nyo! Dari tadi aku nerangin ke kalian sampai 60 kalinyo, masih nggak ngertinyo?" tanya Deidara.
"Sekarang aja kami bingung, lo itu Ssbenarnya ngomong apaan sih?" tanya Itachi dan Sasori kompak lagi.
"Tanya aja ama Author sananyo!" kata Deidara sewot.
PLAAAAKK…
Dan terukirlah sebuah cap sepatu milik Author di kepala Deidara.
"Ngapain lo bawa-bawa gue segala, hah?" tanya Author yg entah muncul darimana dan sudah bersiap dengan sepatu sebelahnya.
"Ya lo kan Authornya nyo! Jadi lo yg mesti ngejelasinnyo!" kata Deidara sambil mengelus-elus kepalanya yg terdapat sebuah cap sepatu.
"Eh, Deidara itu ngomong apaan sih? Gue kagak ngerti!" bisik Author pada Sasori dan Itachi.
"Lah, kamu yg Authornya aja nggak tau! Apa lagi kita?" jawab Sasori dan Itachi kompak dalam bisik.
"Oi nyo! DARI TADI LO DENGERIN GUE AP–" kata Deidara yg terpotong karena tersumpal sebelah sepatunya Author.
"Enak aja lo bentak-bentak gue! Gue Authornya tau! Baru kapok ya kalau gue kutuk jadi batu(?)" kata Author.
"Mmmph….. Nyo, puah… parah banget nih sepatu nyo! Baunya nggak ketulungan nyo!" kata Deidara yg sudah berhasil mencopot sepatu Author dari mulutnya.
"Ya iyalah wong itu belum di cuci selama 5 taon." Celetuk Sasori asal.
"Lo nguntit gue ya? Kok tau kalau sepatu gue belum dicuci selama 5 taon." Tanya Author menyelediki.
"Ala maak nguntit lo, ogah kale! Aku asal nebak aja." Jawab Sasori.
"Oh, berarti kita jodoh! Kebetulan yg hebat ya!" kata Author yg mulai genit.
BLAAAMM… BUAAAAKK…
-Author digiles truk penggemar Sasori-
"Enak aja lo! Sasori itu punya gue!" kata Salah satu Sasori FG dari dalam truk yg ditujukan kepada Author.
"Eh, Sasori itu punya gue tau!" kata salah satu Sasori FG lainya.
"Punyaku."
"Punyaku!"
"Punyaku!!"
1 jam kemudian….
Karena Author udah bosen nonton perdebatan diantara FGnya Sasori.
"Kenapa kalian nggak tanya aja langsung sama Sasori, kalau Sasori itu punya siapa sebenarnya?" usul Author.
SREEEETT…
Semua mata tertuju pada Sasori yg sedang mengendap-endap untuk kabur dari para FGnya.
"SASORI!!! WE LOVE YOU!!!" kata Sasori FG yg banyaknya minta uang(?), dan mengakibatkan gempa 8,8 skala richer dimarkas Akatsuki.
"Mati aku!" runtuk Sasori yg langsung lari ngibrit entah kemana dengan kecepatan cahayanya Eyeshield 21.
"KYAAAA..! SASORI…" teriak Sasori FG sambil mengejar Sasori.
"Ck… ck… Naas tuh Sasori! Pulang tinggal kesing dong tuh! Gue balik dulu ya…" kata Author yg langsung ngibrit entah kemana.
"Dasar author oonnyo! Datang nggak bawa undangannyo, pulang ngibritnyo!" kata Deidara.
CEKLEK..
"MUKYA!!! SEJAK KAPAN RUANG TENGAH MARKAS AKATSUKI TEMBOKNYA BOLONG BESAR KAYAK GINI!?" Teriak Kakuzu yg terkaget-kaget saat masuk kedalam ruang tengah markas Akatsuki.
"Oh, tadi ada tikus yg bolongin tuh tembok." Kata Itachi. (Ps: Sebenarnya itu karena ditabrak truk penggemar Sasori)
"Oh, gitu ya….. TUNGGU! Mana mungkin bisa ada tikus yg buat lobang sebesar ini !?" tanya Kakuzu.
"Ya mungkin aja, orang yg buat nih fanfic Author abal kok!" jawab Itachi yg langsung disambut sebuah sepatu yg terlempar dari tangan Author.
"Lohnyo? Bukanya lo udah kembalinyo?" tanya Deidara.
"Sepatu gue ketinggalan!" jawab Author sambil memunguti sepatunya, setelah itu ngibrit lagi entah kemana.
"Baiklah, mari kita minta peratanggung jawaban atas ini semua kepada leader!!" ajak Kakuzu.
"Aye, Sir!" kata Itachi dan Deidara.
Di tempat kerja Pein…
BUAAKKK…
(Suara pintu dibanting)
"Eh, ada apa kok pada kesini semua?" tanya Pein yg sedang sibuk dengan tumpukan majalah bokepnya.
"Aku kesini ingin meminta pertanggung jawaban dari leadernyo!" kata Deidara yg mewakili seluruh anggota Akatsuki lainya.
"Eh!? Emang aku ngelakuin apa ke kamu, Dei? Kok disuruh tanggung jawab?" tanya Pein.
"Hiks… Hiks… masih mau ngelaknyo! Padahal udah terbukti dengan jelasnya nyo, kamu harus tanggung jawab nyo!" jawab Deidara sambil nangis gaje kaya pemeran wanita tersiksa di opera sabun.
"Tapi Dei, itu sepenuhnya bukan salah aku Dei!" elak Pein dengan gentlenya(HUEEEKK).
Semua anggota Akatsuki yg berada disana sudah duduk anteng dan sedang makan popcorn sambil asyik melihat opera sabun yg sedang diperankan Dei dan Pein. Sementara Author nonton Opera sabunya Dei dan Pein dari atap markas Akatsuki yg bolong.
"Terus salah siapa, hah nyo? Apa itu salah Author nyo?" tanya Deidara.
"Enggak juga sih, tapi kenapa hanya aku saja! Yg punya ide untuk bawa kamu kepijat uratkan bukan aku aja!" jawab Pein.
"CUT! Aduh Pein kamu kalau acting jangan hambar kayak gitu dong! MANA EKSPRESINYA?" kata Zetsu yg obsesi sutradara mode:on.
PLAAAKK… PLAAAKK… PLAAAKK… PLAAAKK… PLAAAKK… PLAAAKK… PLAAAKK…
"Kalian kira opera sabun apanyo! Kita datang kesini kan buat minta pertanggung jawabanyo! Karena gue bukannya sembuhnyo, tapi malah tambah parahnyo!" kata Deidara yg sudah selesai mengecapkan sepatunya disemua pipi anggota Akatsuki yg ada disana.
"Tapi kalau bayar boleh kok nyo!" kata Deidara.
"YEEE…!!" kata anggota Akatsuki bareng sambil ngelempar Deidara pake tomat.
(Darimana Akatsuki mendapatkan Tomat tersebut? Marilah kita lihat)
Kediaman Uchiha…
"Yah tak apalah, rumah hancur yg penting kulkas penuh dengan tomat!" kata Sasuke sambil berjalan diantara puing-puing rumahnya, tujuannya adalah sebuah kulkas yg terletak diantara puing-puing rumahnya
(Ps: Yg tersisa dari kediaman Uchiha tinggal sebuah kulkas yg berisi banyak tomat, di tengah puing-puing rumah)
CEKLEK… (Bunyi pintu kulkas yg dibuka)
"!!!!" Teriak Sasuke menggunakan toa masjidnya sebelah rumah Author, karena mendapati isi kulkas yg kosong oblong, tak ada satu pun tomat. Dan setelah itu ia pingsan.
Kembali ke Akatsuki….
"Tunggu, tambah parah apanya?" tanya Pein.
"Dulukan 'un' cuma dua alphabet nyo! Sekarang jadi 'nyo' yg ada…" kata Deidara yg terpotong karena sibuk menghitung ada berapa huruf dalam kata 'nyo'.
"Tiga alphabetnyo!" kata Deidara sambil mengacungkan ke depan dua jari telunjuknya ke udara.
"Tapi jarimu kok cuma dua yg ngacung? yg satunya mana?" tanya Itachi.
"Yang satunya nanti saya cicil aja ya nyo! Gimana nyo?" tanya Deidara.
"Lo kira mobil apa? pake cicil segala, nggak usahlah nggak penting juga sih!" jawab Itachi.
"Pentingnyo!" kata Deidara.
"Nggak penting!" kata Itachi.
"Pentingnyo!" kata Deidara.
"Nggak penting!" kata Itachi.
"Pentingnyo!" kata Deidara.
"Nggak penting!" kata Itachi.
"Pentingnyo!" kata Deidara.
"Nggak penting!" kata Itachi.
"Pentingnyo!" kata Deidara.
"Nggak penting!" kata Itachi.
"STOP! Saya sebagai ketua yg bijak, mengutus kalian untuk menghentikan kegiatan gaje kalian semua, dan menyuruh kalian semuah agar memikirkan bagaimana cara supaya Deidara bisa sembuh!" kata Pein.
"Aye captain!" kata anggota Akatsuki.
"Nah sementara kalian mikirin caranya, aku mau ngelanjutin baca majalah dulu!" kata Pein.
BUAAAKKK…
"Enak aja lo!" bentak Kisame setelah berhasil membuat sebuah bakpao di kepala Pein.
"Aku punya ide, aku punya ide!!" Teriak Sasori gaje yg tiba-tiba nongol dengan baju compang-camping.
"Apa idenya?" tanya Pein.
"Pssst…. Pssst…" bisik Sasori pada Pein.
"He… he… he…" tawa Sasori dan Pein kompak.
"Baiklah, semua anggota Akatsuki diharap berkumpul di luar markas 1 jam kemudian!" perintah Pein yg setelah itu langsung minggat ke sesuatu tempat bersama majalah bokepnya yg segunung.
'Mau dibawa kemana lagi nih kita?' Inner Akatsuki (-Sasori).
1 jam kemudian…
Di luar markas Akatsuki, semua anggota Akatsuki sedang berkumpul disana.
"Oi, Pein! Sebenarnya kita mau dibawa kemana?" tanya Hidan.
"Itu S-E-C-R-E-T!" jawab Pein.
"Yah, lo Pein udah tau gue nggak lulus Tk! Kok, ngasih jawaban ke gue pake kata ejaan, sih!" keluh Hidan.
"Baka! S-E-C-R-E-T itu dibaca seket (artinya: lima puluh)! Iyakan Pein?" tanya Zetsu.
"Ya Jashin, kok babu-babu gue baka semua sih! S-E-C-R-E-T itu dibaca secret dan artinya rahasia!" kata Pein menerangkan pada anak buahnya.
"Terus kita naik apa senpai? Masa jalan kaki senpai?" tanya Tobi.
"Nggak kita naik merci kok!" jawab Pein.
"Naik mobil merci senpai?" tanya Tobi yg sudah tampak bahagia mendengar jawaban Pein.
"Ya enggaklah! Mana punya gue uang buat beli tuh mobil! Kita itu mercikil(baca: mer-sikil, arti sikil: kaki)" jawab Pein.
"Tapi deketkan jaraknya Pein-sama?" tanya Konan.
"Deket kok! Dari sini lurus, belok kanan, belok kiri, belok kanan, belok kiri, belok kanan nyasar di kuburan, terus belok kiri, terus masuk kali, belok kanan masuk hutan terlarang, terus ngelundung bentar, nyape di amegakure ngesot bentar sampai deh di tempat tujuan! Kira-kira jaraknya 50 km lah!" jawab Pein.
"WHAAAATT…!?" teriak anggota Akatsuki.
"Tapi gue udah nggak mau ngeluarin uang-chan sama sekali!" kata Kakuzu sambil menyembunyikan uang-uangnya di jubahnya.
"Iya deh, nanti kamu nggak ngeluarin uang tapi ngeluarin duit!" kata Pein.
"Sama aja kali!" kata Kakuzu.
"Udah selesaikan debatnya nyo?" tanya Deidara.
"Udah!" jawab Kakuzu dan Pein bareng.
"Gini aja! Soal kendaraan gue pinjemin deh kendaraan?" usul Itachi.
"Boleh." Kata Pein yg setuju dengan usul Itachi.
Mendengar jawaban Pein, Itachi pun membagikan helm sepeda montor satu-satu kepada anggota Akatsuki.
"Kita naik pedah montor Itachi?" tanya Hidan.
"Siapa bilang kita mau naik pedah montor!" jawab Itachi.
"Terus naik apaan?" tanya Hidan lagi.
"Naik itu!" jawab Itachi sambil menunjuk sepedah roda tiga punyanya anak-anak yg baru belajar pedah yg berjumalah dua dan lumayan usang.
"Gila loh! Masa orang sepuluh disuruh naik dua pedah buat anak balita sih!" kata Sasori protes.
"Yah gue cuma punya itu doang! Itu pun bekasnya gue ama Sasuke, lagipula mending naik pedah daripada jalan kaki hayo?" kata Pein ngelak.
"Ya udah deh…" kata Akatsuki bareng.
TIME SKIP
Setelah melalui perjalanan yg lama dan melelahkan mereka pun sampai disebuah tempat…
"Gila nyo? pundak gue capek bener nyo!" kata Deidara.
"Ya iyalah! Siapa yg nggak capek kalau kita naik pedah roda tiga pundaknya pangku-pangkuan?" kata Hidan.
"Apalagi yg bagian ngayuh! Capek bener tau!" kata Sasori protes, karena kaki kayunya pada patah semua buat ngayuh.
"Sudah-sudah! Tentu saja kita capek soalnya satu sepedah dinaiki lima orang." Kata Konan berusaha melerai.
"Oh ya, dimana Itachi senpai?" tanya Tobi.
"Masih pundung di tempat parkiran, karena kedua sepedah roda tiga miliknya ancur lebur habis kita pakek." Jawab Pein.
"sssstt..!! jangan banyak bicara! Dari tadi itu kita udah sampai di tempat tujuan!" kata Sasori memberi tahu.
"Loh bukanya ini tempat…" kata Zetsu sambil memandangi bangunan yg berada di depannya.
To Be Continue…
Mohon maaf sebesar-besarnya atas kegajean, kegaringan, kesalahan, keanehan yg terdapat difanfic ini dan karena nggak bisa Apdet kilat (karena tugas Fisika saya menumpuk dan nggak boleh pegang laptop sama ayah dan mama kalau nggak hari Sabtu-minggu).
Kesamaan nama dan tokoh memang disengaja dan ini hanyalah sebuah fanfic yg abal belakang.
Terimakasih sebesar-besarnya kepada:
My God(tuhan saya), Aira Mitsuhiko, Hatake Nekoshi, Sayurii Dei-chan, dan Resaya.
Karena telah bersedia meripiu dan mengoreksi kesalahan yg terdapat di fanfic ini, saya usahakan chapter depan akan lebih baik.
Review please… * dengan nada melas dan sambil nodong pake sabitnya Hidan*
