Diingatkan! Kisah ini hanya untuk 18 ke atas! Mengandung unsur rape, BDSM, bestialty, ryona dan hal ekstrem lainnya! Kalau pembaca masih di bawah umur, silahkan klik tanda 'x' di tab browser pembaca! Jika ingin tahu apa itu 'ryona' coba cek di Google. Sekali lagi saya ingatkan kisah ini untuk 18 ke atas! Terima Kasih :)
Karakter di fanfic ini adalah milik dari anime One Piece dan ada sebagian yang Saya buat sendiri untuk mendukung cerita.
3. Tragedi Pemerkosaan Nami (Part 1)
"Kalian menyebar dan cari tempat persembunyian di sekitar semak itu," perintah Kalifa pada anak buah Alvida yang dari tadi mengikutinya sambil menunjuk ke arah semak belukar di pepohonan tepi sungai, "Aku dan Alvida akan bersembunyi di sini."
Keduapuluh pria itu menyebar di sekitar sungai, mereka bersembunyi di balik semak belukar, persis seperti perintah Kalifa.
"Kerja salah satu anak buahmu bagus sekali, Alvida." Kalifa berkata pada Alvida.
"Geldo memang hebat. Dia penghasut terbaik yang kumiliki. Setelah ini kurasa aku akan mempromosikannya." Alvida tersenyum kecil. "Sesuai janji, setengah dari artefak itu milikku."
"Tidak perlu serius begitu, aku wanita yang selalu menepati janji."
Senyuman terukir di wajah kedua wanita itu. Mereka saling mempercayai satu sama lain. Alvida sama sekali tidak meragukan kata-kata Kalifa, dia hanya ingin melihat seberapa serius wanita pirang itu untuk mendapatkan tujuannya. Lagi pula, hal ini menguntungkannya dan anak buahnya. Hasil dari artefak itu tidak perlu ia berikan pada Buggy yang menjadi pemimpinnya sekarang.
"Oh, lihatlah. Itu dia," Kalifa menunjuk ke arah sungai di mana tubuh Nami yang sedang menghantam air dengan keras, "Sepertinya hewan buas di sana memberi pelajaran yang bagus pada pelacur itu."
Semua anak buah Alvida melihat ke arah Nami yang sedang kesusahan berenang keluar dari sungai.
"Sialan, dia berubah sangat drastis selama hampir dua tahun ini!"
"Lihat payudara itu! Itu tidak mungkin asli!"
"Ohhh... Aku ingin sekali menikmati tubuhnya..."
"Beruntung sekali Geldo bisa meraba-raba tubuhnya."
Bisikkan mesum tentang tubuh Nami mulai keluar dari mulut anak buah Alvida. Mereka terkejut melihat perubahan bentuk tubuh Nami yang sekarang. Tidak ada satupun dari mereka yang tidak ereksi sekarang. Semua penis pria itu berdiri tegak dari balik celananya.
"Cih, selera kalian benar-benar payah. Apa kalian tidak melihat ada wanita yang lebih cantik berdiri di sini?" Alvida menggoda anak buahnya.
"Maaf, kapten. Tubuhmu tidak pantas untuk orang lemah seperti kami,"
Semua anak buah Alvida yang mendengar hal itu tertawa kecil, tidak terkecuali Alvida dan Kalifa.
"Kau benar, pelacur itu lebih cocok dengan kalian."
Pandangan mereka kembali beralih pada Nami yang bersusah payah menghadapi gorila besar itu. Semua laki-laki di sana terkesima melihat kemolekan tubuh Nami yang terbalut bra melawan seekor gorila yang besarnya tiga kali tubuh wanita itu.
"Dia bisa bergerak bebas dengan dada sebesar buah melon itu."
"Luar biasa..."
Semakin banyak komentar mesum yang dilontarkan oleh anak buah Alvida. Kalau saja Nami mendengar hal itu, ia pasti akan memungut uang pada setiap orang yang mengucapkannya. Tidak berapa lama kemudian, Nami berhasil mengalahkan gorila itu dan masuk ke dalam gua.
"Bagus, dia sudah mengalahkannya. Apa kita harus menyerangnya sekarang?" tanya salah seorang anak buah Alvida.
"Tidak," Kalifa memberi isyarat dengan tangannya, "Kita tunggu sampai dia keluar dari dalam sana."
Mereka semua menunggu Sang Navigator Topi Jerami yang masih berada di dalam gua. Tidak perlu waktu lama untuk melihat wanita berambut jingga itu keluar dari sana. Kedua puluh lelaki dan dua wanita itu menunggu Nami melewati mereka di balik pohon dan semak-semak yang mengapit jalan setapak. Mereka menunggu isyarat dari Kalifa.
"Hei, dia berhenti." Bisik salah seorang laki-laki dari balik semak-semak.
"Apa yang terjadi?"
"Lihat! Lihat! Dia akan masturbasi di sini!"
Para lelaki itu melihat Nami yang bersandar di bawah pohon. Dengan posisi tubuh Nami yang menggoda, membuat penis mereka mengacung semakin tegak dari balik celananya.
"Sialan, apa yang terjadi dengan pelacur ini?"
"Apa dia sudah sangat terangsang sampai harus masturbasi di sini?"
"Aku bisa melihat putingnya sudah mengeras dari balik bra-nya, ba-bahhkan klitorisnya juga terlihat dari celana dalamnya!"
"Dia sudah sangat terangsang! Kapten, apa yang harus kita lakukan?"
Alvida melirik ke arah Kalifa dan berkata, "Apa yang terjadi?"
"Artefak itu membawa kutukan," kata Kalifa, "Siapapun yang menyentuhnya pertama kali pada hari itu, maka dialah yang akan membawa kutukannya."
"Apa maksudmu?"
"Kutukannya akan berpindah pada orang yang menyentuh artefak pertama kali pada hari itu dan dalam waktu 24 jam kutukan itu akan diam di dalam dirinya.
"Lalu, apakah dia akan seperti ini selama 24 jam?" tanya Alvida.
"Ya, dia akan seperti ini selama 24 jam, merasakan rangsangan seksual seribu kali lipat selama 24 jam. Dia pasti jadi gila setelah ini."
"Se-seribu kali lipat?" Alvida melihat ke arah Nami yang kini mengeluarkan suara erangan erotis dan menyemburkan air susu serta cairan vaginanya. "Setelah 24 jam, apakah kutukan ini akan menghilang?"
"Kutukan itu tidak menghilang, hanya berhenti saja. Kutukan itu selamanya akan berada di tubuhnya dan muncul tiap kali ia terangsang. Sedikit sentuhan—tidak, tiupan angin kecil saja akan membuat seluruh tubuhnya menjadi sensitif seperti klitoris. Bahkan rasa sakit pun bisa berubah menjadi sebuah kenikmatan baginya, dia akan menjadi pelacur masokis yang hebat!" Kalifa tertawa lepas setelah menjelaskan keadaan Nami pada Alvida.
"Jadi, kau sudah menduga hal ini akan terjadi?" tanya Alvida.
"Tentu saja, kita tidak perlu susah payah melawan makhluk itu dan menanggung kutukan artefaknya. Semuanya senang tanpa harus mengeluarkan keringat."
"Ini pekerjaan termudah dan termahal yang pernah kulakukan." Alvida mengulurkan tangannya, "Akan kutunggu bisnis kita yang lain."
Kalifa menyambut jabat tangan Alvida sambil tersenyum puas.
Beberapa saat kemudian, Nami yang sedang dilanda badai orgasme akhirnya tidak sadarkan diri dengan tubuh yang masih mengeluarkan cairan dari tempat-tempat sensitif di tubuhnya. Tidak ada tanda-tanda kalau air susu dan cairan vaginanya akan berhenti, bahkan saat ia tak sadarkan diri.
Kalifa berjalan keluar dari persembunyiannya. Dia mendekati artefak yang dijatuhkan Nami dan mengambilnya.
"Pekerjaan kita selesai di sini. Aku akan menghubungi pembeliku dan melakukan transaksi di Logue Town." Kata wanita berambut pirang itu, "Kau bisa menemaniku, Alvida. Pembayaranmu kita lakukan di sana."
"Baiklah." balas Alvida.
Semua orang yang bersembunyi kini keluar dari tempatnya masing-masing.
"Kapten, bagaimana dengan bayaran kami?" kata salah seorang anak buah Alvida yang kebingungan.
"Tenang saja. Aku akan mengaturnya untuk kalian." Jawab Alvida santai, "Aku akan ke Logue Town bersama Nona Kalifa."
"Hanya berdua saja?" tanya pria yang lain.
"Ya."
"Lalu apa yang harus kita lakukan sampai kalian kembali?"
Kalifa ikut ke dalam pembicaraan mereka. Ia menunjuk ke arah Nami yang tubuhnya kini bagaikan pancuran air yang terus mengeluarkan cairan, "Kalian bisa bermain dengannya."
"Be-benarkah?"
"Kita bisa melakukan apa saja pada tubuhnya!"
"Ini bukan mimpi! Akhirnya aku bisa menikmati tubuh Nami si Kucing Pencuri!"
Dua puluh lelaki itu bersorak gembira saat Kalifa mempersilahkan mereka menikmati tubuh Nami. Alvida dan Kalifa pergi meninggalkan mereka. Begitu kedua wanita itu hilang dari pandangan, semua lelaki itu membuka pakaian mereka. Terlihat penis mereka kini sudah mengacung tegak melihat Nami yang tidak sadarkan diri sambil menyemburkan cairan dari payudara dan vaginanya.
"Oghhh... Aku tidak percaya ini, selama ini aku menggunakan poster buronannya untuk memuaskan nafsuku, sekarang aku benar-benar bisa menikmati tubuhnya secara langsung." Kata seorang pria sambil mengocok penisnya.
"Benar... Ohhh... Poster buronannya adalah satu-satunya hiburanku di laut."
"Lihat bongkahan dada itu, mereka semakin besar saja."
"Apa yang harus kita lakukan?"
Di tengah kebingungan mereka, salah seorang pria mendekati tubuh Nami dan memeriksa vaginanya.
Pria itu memasukkan dua jarinya ke dalam vagina Nami yang masih mengeluarkan cairan itu, "Hei, teman-teman! Lihat ini! Dia masih perawan!"
"Tidak mungkin..."
"Dengan tubuh seperti itu, dia masih perawan?"
"Aku tidak percaya ini"
"Kukira dia sudah menjual tubuhnya ke banyak orang."
"Aku ingin mengambil perawannya!"
"Tidak! Sudah pasti aku karena aku yang paling tua!"
"Aku belum pernah menyentuh wanita sama sekali, seharusnya aku!"
Semua pria itu berdebat mengenai siapa yang akan mengambil keperawanan Nami. Debat itu seakan tak berujung sampai akhirnya pria yang sedang memeriksa vagina Nami kini menarik jarinya keluar.
"Aku punya ide. Bagaimana kalau kita bawa dia ke gorila itu dan membiarkannya mengambil perawan pelacur ini?" Pria itu menghela nafas, "Debat ini tidak akan berakhir, aku bisa menjaminnya. Tidak ada yang bisa lepas dari godaan tubuh wanita ini, apalagi dengan keadaan tubuhnya yang sekarang.
"Jadi, daripada kita bertengkar satu sama lain, kita biarkan saja gorila itu yang menikmati tubuhnya pertama kali. Lagipula, dia yang bekerja keras melawannya, anggap saja ini hadiah untuknya."
"Agak berat untuk menyetujuinya, tapi itu satu-satunya jalan keluar."
Pria yang lain mengangguk.
"Kita bisa memuaskan diri kita sambil melihatnya 'bermain' dengan gorila itu."
"Benar, anggap saja ini balas dendam kita untuk harta yang dia curi dulu!"
Semua pria itu bersorak kegirangan. Kemudian, salah satu dari mereka mengangkat tubuh Nami yang masih tidak sadarkan diri. Pria itu mengangkat tubuhnya dengan posisi yang sangat memalukan. Tangan yang mengangkat tubuhnya berada di bawah lututnya dan punggung mulus Nami kini bersandar di tubuh pria itu. Pria itu perlahan-lahan membuka kedua kaki Nami dan memamerkan vaginanya yang masih mengeluarkan cairan. Pose Nami yang menggoda itu membuat semua pria dapat melihat vaginanya yang bersih tanpa sehelai rambut sedikit pun dengan jelas.
Bibir vagina yang masih berwarna merah muda segar itu tersaji di hadapan mereka. Cairan yang menyembur keluar semakin menambah keerotisan tubuh Nami yang dalam posisi memalukan itu. Beberapa dari pria itu mulai mengocok penis mereka. Semua pria itu berjalan perlahan mengikuti Nami yang sedang diangkat ke arah gorila itu.
Tidak hanya vaginanya, kini payudara besar Nami juga jadi perhatian semua pria itu. Bongkahan dada yang mengacung tegak yang sedang menyemburkan air susu itu menjadi objek candaan mesum oleh pria-pria itu.
"Lihat payudara itu, dia bagaikan seekor sapi yang siap diperah dengan ukuran sebesar itu!"
"Kalau aku punya sapi seperti dia, aku tidak akan pernah kehabisan susu!"
"Hahahaha! Aku penasaran dengan apa yang dia makan sampai bisa sebesar itu?"
"Entahlah, mungkin sperma hahahaha!"
"Atau mungkin dia meminum air susunya sendiri! Hahahaha!"
Semua pria itu tertawa mendengar hal itu.
"Aku penasaran dengan rasa air susunya."
Salah satu pria itu mendekati Nami. Ia meraba-raba salah satu payudaranya.
"Uogh! Benar-benar lembut! Seperti bantal!"
"Benarkah?"
"Tunggu, biar kuperah susunya. Lagipula, dia kan sapi perah hahahaha."
Pria itu memerah payudara Nami pelan-pelan. Semakin lama gerakannya semakin cepat, ia menambah kekuatan di tangannya dan dengan satu perahan keras, air susu Nami menyemprot keluar dua kali lebih banyak dari yang sebelumnya.
"Whoa! Lihat ini! Ini seperti air mancur! Sayang sekali kalau dibuang."
Pria itu mendekatkan mulutnya ke puting Nami yang berwarna merah muda itu dan meminum air susunya.
"Gluk... Gluk... Gluk... Ahh... Ini enak sekali! Kalian harus mencobanya!"
Beberapa pria itu bergiliran memerah susu dari kedua payudara Nami dan meminumnya sedangkan yang lainnya terus memainkan penis mereka. Merasa ada sesuatu yang aneh di payudaranya, Nami mengerang pelan dan membuka kedua matanya perlahan.
"Uuuhh..."
"He-hei! Dia bangun!"
"Selamat pagi, tuan putri. Apa tidurmu nyenyak?"
"Siapa kalian?" tanya Nami dengan terkejut ketika melihat banyak pria telah mengerumuninya.
"Kami hanya orang yang kebetulan lewat."
Nami melihat ke arah payudaranya, "Apa yang kalian lakukan!? Aahhnn... Apa-apaan... Ahhhnn... Ini?"
"Kami kehausan dan tidak ingin menyia-nyiakan air susumu hahahaha." Kata seorang pria setelah puas meminum air susu Nami.
"Aahhhhnnn... Turunkan aku... Aaahhh... Sekarang... Haaahh..."
"Tenang saja, aku akan menurunkanmu di tempat yang tepat untukmu."
Pria itu menyuruh teman-temannya untuk berhenti menghisap payudara Nami dan memberi isyarat untuk memberinya jalan. Ia membawa gadis itu ke arah gorila yang sudah sadarkan diri dan sedang duduk dengan wajah yang terlihat sedih di pinggir sungai.
"Hei, gorila besar! Aku punya hadiah untukmu!" kata pria yang menggendong Nami.
"UGGOOHH!"
Gorila itu melompat-lompat kegirangan karena melihat lawannya yang tadi mengalahakan dirinya. Penisnya kini mengacung tegak, memamerkan ujungnya yang sebesar kepala bayi itu.
"Tenang, tenang. Aku tahu kau tidak sabar menikmati tubuhnya." Pria yang menggendong Nami kini mendekati gorila itu, "Sekarang tidurlah, biar aku yang bekerja."
Gorila itu menuruti kata-katanya. Ia tidur terlentang, penis besarnya mengacung tegak ke atas.
"Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" Nami memberontak dan berusaha melepaskan diri dari pria yang menggendongnya.
"Jangan banyak bergerak, dasar wanita jalang! Hei, bantu aku menenangkan pelacur ini."
Salah seorang pria mendekati temannya itu. Ia melayangkan tinjunya ke arah perut Nami.
"UGH!"
Seketika saja Nami terdiam karena pukulan telak di perutnya. Tubuhnya menjadi lemas dan tangannya terkulai lemah di samping tubuhnya.
"Haahhh.. Kumohon turunkan aku..."
Pria yang menggendong Nami tidak menghiraukan kata-kata gadis itu. Ia menaiki tubuh gorila yang berbaring itu dengan bantuan teman-temannya. Di atas tubuh gorila itu, ia mengangkat tubuh Nami tepat di atas kepala penis milik gorila yang sudah mengacung tegak.
"Lihatlah! Wanita ini adalah pencuri yang mengambil harta kita dulu, kini dia akan membayar semua hutang-hutangnya pada kita dengan tubuhnya!"
"Yaa!"
"Biarkan dia merasakannya!"
"Cepat masukkan penis itu ke vaginanya!"
Terdengar suara ribut daripara pria itu. Nami yang mendengar hal itu merasa sangat ketakutan, dia tidak menyangka harta yang dicurinya dulu akan ia bayar dengan cara seperti ini. Tangisan Nami sudah tak tertahankan lagi, air matanya mengalir dan memohon kepada pria yang menggendongnya untuk menurunkan tubuhnya.
"Kumohon... Haahh... Aku akan membayarnya.. Haahh..."
"Tenang saja, tubuhmu saja sudah cukup untuk melunasi harta yang kau curi." Bisik pria itu di telinga Nami.
"Aku masih perawan... Aaahh... Tolong... Hentikan..." Isak tangis Nami rupanya tidak membuat pria itu merasa kasihan.
"Aku tahu kau masih perawan. Tapi kusarankan jika kau ingin menjadi pelacur yang hebat, kau harus berlatih dulu. Ini akan sedikit sakit, tapi melihat keadaanmu sekarang dan sifatmu yang memang seperti pelacur murahan itu, kurasa kau akan menikmatinya."
Pria itu menurunkan tubuh Nami dengan perlahan. Bibir vagina Nami yang menyemburkan cairan itu kini bersentuhan dengan ujung penis milik gorila itu. Besar ujungnya yang seperti kepala bayi saja sudah membuat Nami gemetaran. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika penis sepanjang 40 cm itu memasukki vaginanya yang masih sangat sempit itu.
"Tidak, kumohon... Hentikan... Haahh... Hahhh... Tidak... Jangan..."
Pria itu mendorong tubuh Nami ke bawah dengan tiba-tiba.
"TIDAAA— A... A...AH...AKH..."
Setengah dari penis itu sudah memasuki vagina Nami dan merobek selaput daranya dalam sekali dorongan. Darah perlahan mengalir dari sela-sela vaginanya hingga ke penis gorila itu. Air matanya mulai mengalir deras karena rasa sakit di vaginanya. Mulutnya hanya bisa terbuka lebar dan mengeluarkan isakan tangis yang tertahan. Air susunya menyembur ke segala arah, begitu juga dengan cairan vaginanya yang seakan tidak mau kalah.
Sorakan para pria yang melihat Nami kesakitan mengiringi suara memohon dan tangisan gadis itu. Pria yang memegang Nami kini mengangkat tubuhnya perlahan. Rasa perih tidak tertahankan muncul saat batang penis besar itu menggesek dinding vaginanya. Nami menangis sejadi-jadinya akibat hal itu.
"AAAHHHNN! HAAAAHHNNN!"
Teriakan Nami bagaikan nyanyian indah yang merangsang para pria itu. Beberapa dari mereka mulai mengocok penisnya masing-masing. Kata-kata mesum pun mereka lontarkan ke arah Nami yang sedang dipaksa menikmati penis besar itu. Pria yang mengangkat tubuh Nami kini mulai menggerakkan tubuhnya naik turun secara perlahan.
"TIDAAAAKK! HAAAHHNN! HENTIKAAAN!"
Tangisan Nami tidak dihiraukan oleh pria itu. Ia terus menurunkan tubuh gadis itu hingga vaginanya benar-benar menelan hampir seluruh penis besar milik gorila yang sedang mengerang keenakkan.
"GAAAHH! AAAHHHKK! SAKIT! HENTIKAAAN! AAAHHHKK!"
"Hahahahaha! Tenang saja, kau sebentar lagi pasti menikmatinya, aku jamin itu!"
"TIDAAAKK! AAKKHH! TIDAAAKKK! KUMOHON KELUARKAN! AAAHHHHHNNNN!"
Orgasme demi orgasme terus menyerang tubuh Nami yang sudah sangat sensitif. Entah sudah berapa kali ia orgasme sejak penis itu bersarang di dalam vaginanya. Tiap kali penis itu menggesek dinding vaginanya, orgasme selalu datang menerjangnya dan diikuti dengan orgasme yang lainnya.
"Haaahhh... Aahhhh... Haahhnn..."
Sudah lima menit sejak pria itu memainkan tubuh Nami di atas penis gorila itu. Vaginanya kini sudah mulai terbiasa dengan bentuk dan ukuran penis yang sudah mengambil keperawanannya dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan. Erangan protes yang dikeluarkan Nami kini berubah menjadi erangan kenikmatan. Rasa sakit di vaginanya berganti menjadi sensasi yang tidak pernah ia rasakan.
"Aahhhnn... Ahhhhnnn... Haaannn..."
"Sudah kubilang kan? Cepat atau lambat kau pasti menikmatinya." Kata priaitu tanpa menghentikan gerakannya, "Sekarang, kau harus memuaskan penisku dengan lubangmu yang satu lagi."
"Ahhhhnnn.. Tidaaakk.. Jangan di sana... Haahhhnnn..."
Pria itu menghentikan gerakannya pada tubuh Nami dan mengarahkan penisnya ke arah lubang pantat gadis itu. Ujung penis itu menyentuh bagian luar anus Nami. Gadis montok itu terus mengerang dan memohon agar pria itu tidak memasukkan penisnya.
"Sayang kan kalau lubang yang satu ini tidak dipakai sekalian? Rasakan ini!"
Dengan satu dorongan kuat, penis pria itu memasuki lubang pantat Nami yang masih sangat sempit. Nami berteriak kesakitan, tangannya mencengkeram lengan pria itu untuk menahan rasa sakitnya. Pria itu mulai menggerakkan tubuh Nami yang kedua lubang di area selangkangannya dimasukkin oleh dua penis.
Penis milik gorila itu membuat vagina Nami terasa penuh. Terlihat di perut Nami gundukkan yang sangat besar akibat penis itu. Setiap pria itu mengangkat tubuh Nami, perutnya terlihat mengecil karena keluarnya penis gorila itu. Begitu juga sebaliknya, perut gadis berambut panjang itu terlihat membesar lagi ketika penis itu terdorong masuk ke dalam vaginanya.
"Hentikaaann... Haahhhnnn... Aku... Tidak kuat lagi... Ahhhhnnn..."
Tubuh Nami mulai lemas. Tidak ada anggota tubuhnya yang mampu ia gerakkan. Tangannya juga sudah terkulai lemah dan menggantung di samping tubuhnya yang sedang digerayangi oleh gorila dan seorang pria. Lidahnya menjulur keluar karena sensasi kenikmatan yang ia rasakan di dalam vagina dan anusnya. Matanya yang dari tadi mengeluarkan air mata kini menunjukkan mata yang penuh dengan kepuasan dan kenikmatan.
Para lelaki yang mengelilingi tubuh gorila itu melihat Nami dengan penuh nafsu. Sambil terus melontarkan kata-kata mesum dan mengolok-olok Nami dengan sebutan "Si Kucing Pelacur", mereka terus mengocok penis mereka menikmati desahan dan erangan erotis milik gadis dengan dada yang sangat besar itu.
"Lihatlah itu! Dia menikmati setiap sodokan penis di setiap lubang miliknya!"
"Dia benar-benar maniak seks! Lihatlah air susu dan cairan vaginanya! Itu tidak berhenti dari tadi!"
"Dia punya nafsu seks yang sangat kuat! Pantas saja jika dia lebih senang memakai bra kemanapun dia pergi! Hahahahaha!"
Ejekan demi ejekan terus mengarah pada Nami. Walaupun begitu, Sang Navigator tidak menghiraukan ucapan para pria itu karena ia lebih mementingkan kenikmatan yang ia dapat dari dua penis yang memasukki kedua lubang di selangkangannya. Beberapa dari mereka mulai menaiki tubuh gorila itu dan meraba-raba tubuh sensitif Nami.
Payudara Nami yang bergoyang-goyang tiap kali tubuhnya digerakkan, tidak lepas dari sentuhan pria yang berkumpul mengerumuninya. Dengan memainkan putingnya, salah satu pria itu mampu membuat Nami menyemburkan semakin banyak air susu. Ia tidak melewatkan kesempatannya, air susu itu langsung ia hisap dari putingnya. Tanpa ragu lagi, seorang pria lain mengikutinya dan mulai menyusu di payudara Nami bagaikan seorang bayi.
"Oohhh... Jangan minum... Ahhhhnn... Haahhhnn... Mmmhhmmm..."
"Kenapa? Air susumu sangat enak, kenapa kita harus menyia-nyiakannya."
"Hei biarkan aku mencobanya!"
"Ya aku juga!"
Para pria itu bergiliran meminum air susu Nami. Entah sudah berapa mulut yang sudah menghisap air susu dari putingnya yang mengeras sejak tadi karena rangsangan demi rangsangan yang dilakukan mereka. Desahan dan erangan Nami terus bersahut-sahutan. Lidah gadis itu menjulur keluar bersamaan dengan air liurnya karena kenikmatan dari dua penis yang berada di kedua lubangnya. Matanya yang berwarna coklat itu terlihat menunjukkan kalau ia sangat menikmati pemerkosaan ini. Walaupun berkali-kali ia menolak, ia tidak dapat memungkiri kalau dia sangat menikmatinya.
"Hweehhh... Ewwhhheehh... Hentikahhnn... Tidak kuat lagi..."
"Kau berisik sekali dari tadi, apa bibirmu kesepian? Kalau begitu serahkan saja padaku." Kata pria yang menggendong Nami. Ia mencium bibir Nami sambil memainkan lidahnya di dalam mulut gadis itu.
"Sllurrppp... Mmmhhmm... Mmnncchh... Hmmppffhh..."
Keduanya saling beradu lidah, terlihat kalau pria itu yang mendominasi dalam hal itu. Nami hanya bisa mengeluarkan erangan yang tertahan dan pasrah karena permainan lidah pria itu. Mata Nami juga terlihat terbalik ke atas akibat sensasi kenikmatan yang ia rasakan. Tidak ada tubuh Nami yang tidak terjamah oleh para pria itu. Semua tangan memainkan dan meraba-raba tubuhnya, terutama di bagian yang sensitif seperti klitoris dan putingnya.
"Uggoohh! Goohh!"
"Apa ini? Kenapa?"
"Gorila ini tiba-tiba berteriak!"
"He-hei, jangan bilang kalau dia akan mengeluarkan spermanya!"
"Cepat turun dari tubuhnya, jangan sampai dia mengamuk pada kita!"
Para pria itu turun dari tubuh gorila yang sudah sangat terangsang itu. Hanya tersisa pria yang menggendong Nami di atas sana. Pria itu kini mengeluarkan penisnya dari lubang pantat Nami dan terus menggerakkan tubuh Nami dengan naik turun. Setiap kali pria itu mempercepat gerakkannya, erangan dan desahan Nami ikut keluar dengan sangat menggoda.
"Aahhhhnnnn... Aaahhhh... Haahhh... Huuaahhnnn..."
"Guuohh! GUUOOOHH!"
Dengan satu dorongan ke bawah yang kuat, penis itu masuk semakin dalam ke vagina Nami, hingga menembus mulut rahimnya.
"AAKK... AAKH... AAHK..."
Rasa sakit seketika menjalar ke seluruh tubuh Nami ketika penis milik gorila itu masuk sangat dalam di liang kewanitaannya. Kenikmatan yang dirasakannya dari tadi perlahan-lahan digantikan oleh rasa sakit itu. Tubuhnya mengejang, mulutnya menganga lebar dan matanya juga terbuka lebar karena gerakan kejutan yang dilakukan pria itu.
Namun, rasa sakit yang ia rasakan hanya bertahan sebentar saja. Tidak berapa lama kemudian, Nami mengalami orgasme demi orgasme yang membuat tubuhnya berkelojotan tidak karuan. Cairan yang keluar dari vaginanya mengaliri penis besar gorila itu. Kutukan dari artefak yang ia pegang tadi, membuat rasa sakit yang ia derita berubah menjadi rangsangan kenikmatan di tubuhnya.
"OOOOHHHH! AAAHHHNNN! AKU KELUAAARRRHHH! AAAHHHHHHNNN! ENAK SEKALIIII! AAAHHHHNNN!" Ceracau Nami bersamaan dengan orgasmenya.
"Lihat! Dia menikmatinya!"
"Dia keenakan karena penis besar itu! Dia memang pelacur!"
"Gadis pelacur nympho! Hahahahahaha!"
"UGGOOHHH!"
Erangan gorila itu mengalahkan suara tawa dari para anak buah Alvida. Semua pria itu mendadak terdiam. Gorila itu mengayunkan tangannya ke arah pria yang sedang menggendong Nami di selangkangannya. Pria itu terjatuh ke tanah dan meninggalkan Nami dengan penis yang masih menancap dalam di vaginanya.
"Hweeehhh... Fuheehh.. Hweehhh... Lepaskahhnn akuuu... Uuuhnn..."
"Apa-apaan gorila ini?"
"GUUOOHH!"
Gorila itu memegang kedua kaki Nami dan menggerakannya ke naik turun, sama seperti yang dilakukan pria itu.
"AAHHHNN! KYYAAHHHNN! JANGAN LAGI! CUKUP! AAAHHHNNN!"
Nami berteriak kesakitan karena tiap kali gorila itu menurunkan tubuhnya, penisnya selalu masuk sangat dalam sampai ke rahimnya. Namun, tiap kali rasa sakit itu muncul, dengan cepat tubuhnya merespon dan merubahnya menjadi suatu kenikmatan bagi tubuhnya. Ia tenggelam dalam lautan kenikmatan saat penis gorila itu menggesek dinding vaginanya.
Dengan desahannya, ia terus memohon agar gorila itu berhenti memperkosanya. Namun, di dalam pikirannya, ia tidak ingin gorila itu berhenti. Keperawanannya yang ia jaga sampai saat ini, harus hilang dengan cara diperkosa ramai-ramai. Bahkan, pemerkosanya adalah seekor hewan yang memiliki penis yang lebih besar dan panjang dari kedua tangannya.
"AAHHHHNN! AKU MENYERAH! HENTIKAAHHNN! AKU KELUAR! AKU KELUAR LAGIIIII! HHAAAHHHHNNN!"
Sudah tak terhitung jumlah orgasme Nami sampai sekarang. Otaknya kini hanya dipenuhi oleh kenikmatan seksual yang ia dapatkan karena kutukan artefak. Dua bongkah payudara yang besar, bergoyang-goyang sambil mengeluarkan air susu dengan jumlah yang banyak. Vagina yang baru saja kehilangan kesuciannya, kini tengah dihajar habis-habisan oleh penis seekor gorila. Dengan keadaan yang seperti itu, Nami terlihat seperti pelacur yang haus akan seks
"Hei, hei, hei... Gorila itu benar-benar menghancurkannya..."
"Entahlah, teman. Keduanya kelihatan sangat menikmati hal itu."
"Aku tidak tahu dengan kalian, tapi aku benar-benar terangsang dengan hal ini."
"Ini pertama kalinya aku melihat wanita yang menikmati penis seekor hewan."
Pria-pria itu terus mengocok penis mereka sambil melihat gorila itu menguasai tubuh Nami. Kata-kata mesum terus terlontar dari mulut mereka. Beberapa dari mereka menemukan pakaian Nami yang sempat terlepas. Celana dalam dan bra milik Nami kini menjadi objek pemuas nafsu mereka. Salah seorang pria melilitkan bra Nami di penisnya dan mengocok penis dengan itu. Seorang pria lain menciumi aroma celana dalam Nami.
"Hmmmm~ tidak kusangka kalau celana dalamnya seharum ini."
"Betapa beruntungnya bra ini bisa menutup payudara besar si pelacur sapi itu."
Gorila itu mempercepat gerakan tubuh Nami di penisnya. Hal itu membuat desahan dan erangan gadis yang tidak berdaya itu saling bersahutan. Ceracau kesakitan Nami mulai hilang, ia kini sepenuhnya tenggelam dalam kenikmatan.
"UGOH! GUOH! UGGOOOOOOOHHHHH!"
Gorila itu menekan tubuh Nami ke bawah, membuat penisnya semakin menusuk ke tempat terdalam di vagina gadis itu, bahkan masuk ke dalam rahimnya dan menyentuh dinding di dalam rahimnya. Bersamaan dengan itu, ia menyemprotkan spermanya ke dalam rahim Nami.
"HYAAAAAHHHNN! TIDAAAAKK! AKU HANCUURRR! AAAHHHNN! VAGINAKU! VAGINAKU! TIDAAAKK! AAAHHHHHHHNNN!"
Tubuh Nami mengejang dengan hebat. Ia mengalami orgasme yang dahsyat. Kutukan artefak itu membuatnya tetap sadar dengan mengubah rasa sakitnya menjadi kenikmatan. Gorila itu menikmati ejakulasinya, ia terus menggeram dan mengeluarkan spermanya sebanyak mungkin ke dalam vagina Nami.
"GAAAHHH! AAHHHNN! SIAPAPUN HENTIKAN DIAAHHN! HAAHHHNN!"
Nami terus berteriak meminta pertolongan. Namun, semua orang di sekitarnya hanya melihat dan lebih fokus untuk menikmati penderitaannya. Cairan hangat milik gorila itu memenuhi rahimnya. Perutnya perlahan-lahan terlihat membesar karena sperma itu. Ia seperti sedang hamil, namun bukan bayi yang mengisi rahimnya, melainkan sperma.
"Lihat! Perutnya membesar!"
"Gorila itu benar-benar menghabisinya!"
"Ohhh! Ogghh! Aku tidak tahan lagi!"
Sperma gorila itu terus menyembur keluar sampai-sampai rahim Nami tidak mampu menampungnya lagi. Akibatnya, cairan kental itu mengalir keluar melalui sela-sela bibir vagina Nami bersamaan dengan cairan cinta miliknya. Nami sudah tidak mampu berteriak lagi, kini ia hanya mengeluarkan isak tangis dan nafas yang terengah-engah.
"Fuhwehh... Huuwehh... Uuuhh... Huufuuhh..."
Tubuh gadis montok itu gemetaran, kaki dan tangannya tidak dapat ia gerakkan walaupun gorila itu sudah melepaskannya. Lidahnya menjulur keluar dengan air liur yang menetes di ujungnya. Air mata juga membanjiri wajahnya yang sudah memerah karena kenikmatan akibat di perkosa. Air susu dan cairan vaginanya tentu saja masih mengalir keluar, seakan tidak peduli dengan keadaan Nami yang benar-benar hancur akibat pemerkosaan ini.
"Guoohh~"
Gorila itu sudah selesai ejakulasi. Ia melepas tubuh Nami dari penisnya dan melemparkan gadis itu ke tanah.
"Kyah! Ugh..."
Nami mendarat dengan perutnya yang besar itu. Sperma yang tersimpan di rahimnya, kini mengalir keluar karena berat tubuhnya yang menekan perutnya. Gorila itu memberi isyarat tangan untuk memperkosa Nami pada para anak buah Alvida.
"Kau gila ya? Mana mungkin kami memainkan vaginanya yang sudah longgar karena penis besar bodohmu itu?" seru salah seorang pria.
"UGOOH!" gorila itu tidak mengacuhkan kata-kata pria itu dan meninggalkan mereka ke dalam gua.
"Bajingan kau!"
"Sekarang apa yang harus kita lakukan dengan gadis ini?"
Salah seorang pria itu membalikkan tubuh Nami.
"Huhwehh.. Ku-kumohwon... Ahmpfuniw... Akwu... Fuhweh..." Dengan kondisi yang tidak karuan, Nami memohon kepada para pria itu agar tidak memperkosanya.
"Bangsat! Kau kira kau bisa memberi kami perintah!?" pria itu menginjak perut Nami yang berisikan sperma itu dengan sekuat tenaga.
"GAAKKH!"
Sperma yang memenuhi rahim Nami kini menyembur keluar akibat injakan itu. Pria itu melampiaskan kekesalannya pada Nami. Ia terus menginjak-injak perut Nami hingga Nami sendiri tidak mampu berkata apa-apa. Hanya erangan dan rintihan kesakitan yang keluar dari mulut gadis itu. Tiap kali kaki pria itu menyentuh perutnya, Nami mengalami orgasme kecil karena perubahan rasa sakit yang ia terima menjadi kenikmatan yang direspon oleh tubuhnya.
"OHKH!" Hentikakh! Akh!"
"Vaginamu sudah longgar! Kau sudah tidak berguna untuk kami!"
Dengan satu injakan terakhir, seluruh sperma yang mendiami rahim Nami sudah keluar semua. Sperma yang tercampur dengan segala cairan yang dikeluarkan Nami kini membasahi rumput di tempat ia terbaring lemah. Pria itu mengangkat kakinya dari Nami yang sudah mengecil dan kembali ke ukuran normal.
"Tenanglah teman, setidaknya kita masih bisa meraba-raba tubuhnya."
"Benar, kau lihat payudara itu? Tidak ada payudara sebesar itu di East Blue selain miliknya."
"Ini lebih baik daripada menyemprotkan spermamu ke poster buronannya setiap hari."
"Uuhhh... Teman-teman, kalian harus melihat ini.."
Salah seorang pria memeriksa vagina Nami dengan jarinya. Ia memasukkan dua jari ke dalam liang vagina Nami. Masih sadarkan diri, gadis itu menggeliat keenakan saat jari itu menggesek-gesek dinding vaginanya. Cairan vaginanya terus menyembur keluar melewati sela-sela jari pria itu.
"Mmmhnn.. Nnghhnn..."
"Tidak mungkin... Vaginanya kembali seperti semula."
"Yang benar saja!?"
"Aku tidak bohong! Kedua jariku seakan dijepit oleh vaginanya!"
"Coba kulihat!"
Para lelaki itu beramai-ramai mendekati selangkangan Nami. Mereka benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Vagina Nami yang seharusnya sudah 'hancur' karena penis besar gorila itu, kini kembali ke ukuran semula tanpa ada bekas luka sedikitpun.
"Walaupun kembali normal, kurasa keperawanannya tidak kembali."
"Tidak apa! Yang penting kita bisa menikmati tubuhnya sekarang!"
"Ya! Hahaha!"
Semua pria itu bersorak gembira. Mereka memegangi tangan dan kaki Nami dan mengangkatnya ke tengah hutan. Nami hanya bisa memohon dengan suara lemah agar tidak diperkosa lagi. Itu tidak berguna karena semua pria itu sudah termakan oleh nafsu dan balas dendam. Kini mereka akan menggunakan tubuhnya sekali lagi untuk memuaskan nafsunya. Perkosaan dua kali beruntun menimpa dirinya. Mimpi buruknya sepertinya belum selesai.
"Kumohon... Ampuni aku... Jangan perkosa aku lagi..."
"Apa kau sudah siap, Nami Si Kucing Pelacur? Ronde kedua sebentar lagi akan dimulai."
"KAMI AKAN MEMPERKOSAMU SAMPAI PAGI!"
"KAU TIDAK AKAN ISTIRAHAT SAMPAI PAGI NANTI!"
Pria yang mengangkat tubuh Nami kini menjatuhkannya ke atas rumput. Mereka mengelilingi Nami bagaikan orang yang kelaparan. Tubuh Nami gemetaran karena ketakutan. Senyuman jahat muncul dari bibir setiap pria itu.
"Kau milik kami sekarang."
"Kumohon... Jangan lagi.. Aku menyerah... Tidak... TIDAAAAKK!"
AN : Oke, oke. Pertama-tama, judul dari chapter ini sangat explicit! Yah, author sendiri emang ngerasa kalo judulnya emang rada dark gimana gitu, tapi mau gimana lagi, judulnya emang cocok sama isi cerita kok :p
Oh iya, ini peringatan keras, MOHON DIBACA!: GAK ADA YANG NAMANYA PENIS BISA MASUK KE DALEM RAHIM! Kalaupun ada, pasti itu penis panjang banget, lagian kalopun bisa, si cewek pasti akan kesakitan banget. Jadi, untuk pembaca yg pinter2, yg udah punya pasangan secara sah, jangan sekali-kali dicoba atau maksa pengen nyoba, itu berbahaya banget. Itu cuma sekedar fetish aneh dari author (Ketik di google cervix penetration) daaaaann gak! AUTHOR GAK PERNAH TERLIBAT DALAM NAMANYA RAPE ATAU APAPUN, AUTHOR MASIH PUNYA MORAL DAN ETIKA, INI BENER2 MURNI KHAYALAN DAN PELAMPIASAN FETISH DARI AUTHOR. TERIMA KASIH ATAS PENGERTIANNYA.
BTW, author kaget mendadak yg review jadi banyak, perasaan terakhir ngecek baru 3 biji XD kalo ada yg bisa ngasi tau, kalian nemu fic ini darimana lewat PM, soalnya genre kaya gini author rasa kurang peminatnya lol XD
Part 2 dari chapter ini pasti di publish, author masih agak sibuk bulan ini dan bulan selanjutnya, jadinya gak sempet edit2 typo dsb. THANK YOU AND CHEERS!
