SOUL
.
By donini
.
Jongin, Kim
Kyungsoo, Do (GS)
Luhan, Xi
Joonmyeon, Kim
.
.
.
Matahari sudah menggelincir kembali ke singgasananya, digantikan oleh bulan yang malam ini tak begitu menampilkan sinar terangnya yang indah. Dan Luhan masih saja berdiam diri di dalam rumah kecilnya, tak berniat sedikit pun untuk keluar menghampiri Kyungsoo yag sekarang entah ia masih baik-baik saja atau sudah...
Sudahlah tak perlu dipikirkan!
Luhan bukannya tak mau menghampiri Kyungsoo yang sekarang—mungkin—sedang bersama orang tuanya. Ia bisa saja pergi ke rumahhantu Kyungso dan menyeret gadis kecil itu keluar dari sana dan kembali membawanya ke rumahnya. Hanya saja... Entahlah. Ada sesuatu tak kasat mata yang menghalanginya untuk melakukan itu semua.
Luhan takut orang tua Kyungsoo akan menghajarnya karena telah membawa mereka ke rumah sakit jiwa. Luhan masih sembilan belas tahun dan dia tak mau hidupnya berakhir secepat itu. Bisa sajakan orang tua Kyungsoo menyiramnya dengan cairan asam? Mereka 'kan gila!
Semua lamunan Luhan buyar ketika ia mendengar suara pintu rumahnya diketuk. Kyungsoo kah itu? Atau justru orang tua gadis itu? Bagaimana ini? Kedua kemungkinan itu bisa terjadi 'kan? Apa yang harus pemuda itu lakukan? Membukakan pintu atau membiarkan seseorang itu tetap disana?
"Ini aku, Lu. Yifan." Heol! Kedua kemungkinan yang ia perkirakan tak ada yang benar. Ternyata Yifan si pelaku atas terketuknya pintu rumah Luhan.
Menghela napas lega, Luhan melangkah untuk membukakan pintu. Yifan berdiri disana dengan setelan kerja yang masih melekat di tubuh tegapnya.
"Ada apa?" Luhan memang bukan seorang tuan rumah yang baik, bukannya mempersilahkan tamunya masuk, ia malah langsung bertanya. Salahkan saja pada sikap tak suka basa-basinya.
"Kau tak mempersilahkan aku masuk terlebih dahulu?" Bersyukurlah Yifan itu kakak sepupu yang baik. Meskipun lama tak bertemu dengan Luhan, ia masih hapal dengan benar segala kebiasaan Luhan.
Tanpa berkata, Luhan menggeser tubuhnya sedikit, memberikan celah untuk Yifan masuk ke dalam rumahnya. Sedikit mengintip ke rumah Kyungsoo yang terlihat lebih layak—sepertinya seseorang baru saja merapikan rumah itu—sebelum menutup kembali pintu itu.
Kini Yifan sudah duduk di sofa single bulat yang pemandangannya langsung mengarah ke rumah Kyungsoo.
"Kenapa tadi kau tak kesana?" Tanya Yifan begitu Luhan kembali dari dapur, mengambil dua kaleng minuman dingin. Untuk yang satu ini sudah kebiasaan Luhan dan Yifan jika bersama.
Sambil menenguk minuman kaleng rasa jeruknya, Luhan mengangkat bahunya acuh. Luhan saja tak tahu harus menjawab apa.
"Maafkan aku." Luhan menatap Yifan dengan sebelah alis yang terangkat. Minta maaf untuk apa?
"Setahun lalu aku tak lagi menangani mereka. Yixing yang menggantikanku untuk menangani mereka. Dan entah megapa Yixing bilang jika mereka sebenarnya tak sakit. Saat aku periksa pun mereka baik-baik saja. Aku tak mengerti. Padahal sebelumnya jelas-jelas mereka sakit."
Luhan menegakkan tubuhnya, tak percaya dengan apa yang kakak sepupunya itu katakan. Tak mungkin sakit seperti orang tua Kyungsoo bisa sembuh dalam sekejap. Yifan bilang juga tak mungkin, tapi mengapa ini terjadi?
"Kau menjaminnya? Menjamin jika Kyungsoo akan baik-baik saja?" Luhan menatap Yifan dengan penuh harap. Berharap supaya Yifan berkata 'tidak' maka dengan cepat Luhan akan langsung membawa Kyungsoo kembali ke rumahnya. Harapan yang buruk memang.
"Ya." Sial! Kau seharusnya tak bilang begitu, Yifan! Seharusnya kau bilang tidak supaya adik sepupumu ini bahagia! "Kami sudah menguji mereka selama setahun. Dan mereka benar-benar normal. Mereka seperti manusia yang sehat. Kami menjamin Kyungsoo baik-baik saja."
Luhan mengacak surai coklat madunya frustasi. Pasti ada yang tak beres! Ada sesuatu yang tak benar di balik semua ini! Tapi apa?! Mengapa otak Luhan tak bisa bekerja dengan benar seharian ini?!
"Harry!" Luhan tersadar begitu televisi layar datarnya sedang menayangkan film Harry Potter yang sengaja ia setel untuk menghilangkan kesunyian. Itu suara Hermaone yang sedang mengejar Harry.
Itu dia! Orang tua Kyungsoo itu ilmuan penganut ilmu hitam! Apa mungkin mereka menggunakan ilmu hitam itu untuk mengelabuhi semua staff rumah sakit? Mungkin saja 'kan?
Dulu Luhan juga pernah terkena ilmu hitam orang tua Kyungsoo. Luhan bersikap seperti seorang idiot selama seminggu hingga ia di bawa ke gereja oleh orang tua Sehun, sahabatnya di sekolah. Untunglah Sehun sedikit banyak mengerti tentang itu. Sehun bilang orang tuanya yang mengajarkan itu semua. Untuk berjaga-jaga.
Dugaan Luhan semakin menguat saat ditatapnya mata Yifan. Ada yang berbeda di mata itu. Sesuatu yang hitam menyelimuti mata Yifan. Dulu mata Luhan juga seperti itu, kata Sehun.
"Bisakah kau hubungi Yixing jie, sekarang? Aku ingin membawa kalian ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Gereja."
.
Kini Luhan, Yifan, Yixing, dan Sehun, sudah berada di sebuah gereja dekat rumah Sehun. Di seberang rumah Sehun tepatnya. Awalnya mereka ingin mengajak serta orang tua Sehun, tapi sayang, orang tua Sehun sedang pergi ke luar kota untuk mengunjungi nenek Sehun yang sedang sakit. Beruntunglah mereka karena Sehun sedikit banyak bisa mengerti cara untuk menghilangkan sihir hitam pada diri seseorang.
Kini Sehun tengah mengucapkan beberapa ayat dan sebuah mantra yang entah apa itu pada Yifan dan juga Yixing. Mata Yixing ternyata sama seperti Yifan, terselimuti sesuatu yang hitam. Tubuh Yifan dan Yixing mengejang, seperti orang ayan. Sehun tak mengerti, ia salah baca atau bagaimana? Tapi ia yakin semua yang ia lakukan ini sudah benar, seperti apa yang ayahnya lakukan dulu pada Luhan.
"Hun, Mereka baik-baik saja 'kan?" Luhan panik melihat Yifan dan juga Yixing yang seperti orang ayan.
"Aku yakin mereka baik-baik saja. Hanya saja sepertinya sihir yang mereka gunaan kali ini lebih berat dari dulu yang mereka gunakan untukmu."
Beberapa menit, Yifan dan Yixing sudah kembali tenang. Kini mereka tengah mencoba untuk kembali menetralkan napas.
"Ge, are you okay?" Luhan menatap Yifan yang masih menutup matanya.
"Ya. Aku okay." Segera setelah Yifan membuka mata, Sehun mengecek kembali, apakah sihir itu masih ada atau tidak. Dan, untung saja selimut hitam itu sudah hilang. Sehun berhasil melakukannya. Begitu juga dengan Yixing. Tak ada lagi selimut hitam di mata wanita berdimple itu.
.
Keesokan harinya, Yifan—kemarin pria itu menginap di rumah Luhan—dan Luhan menyambangi rumah Kyungsoo. Demi semua koleksi novel yang ia punya, Luhan melihat ibu Kyungsoo dengan penampilan normal. Dress selutut berwarna kuning cerah, rambut yang di potong pendek sebahu, make up natural. Bahkan ibu Kyungsoo terlihat lebih muda dari usianya. Tak seperti dulu yang terlihat begitu seram dan menakutkan.
Ayah Kyungsoo juga sama. Biasanya pria itu selalu menggunakan baju seorang profesor yang sudah kumal. Rambutnya terlihat lengket dan berminyak. Tapi sekarang? Pria itu mengenakan kemeja press body yang lengannya ia lipat hingga siku, serta celana bahan hitam. Rambutnya juga tersisir rapih, tampak halus dan terurus.
Mereka itu masih orang yang sama seperti dua tahun lalu 'kan?
"Kalian sudah sarapan?" Luhan dan Yifan kini sudah duduk di ruang tamu rumah Kyungsoo.
Bahkan rumah ini tampak sangat berbeda. Dulu, saat Luhan pertama kali menyambangi rumah Kyungsoo, rumah itu sangat berantakan. Yang tertata rapi hanya beberapa botol dengan berbagai macam ramuan maupun cairan kimia berbahaya. Lebih pantas disebut laboraturium daripada tempat tinggal.
Perabotannya tertata rapi, majalah lama tertumpuk di kolong meja ruang tamu. Sofa bersih tanpa ada pakaian atau cairan yang tertempel disana. Dinding rumah juga tak lagi ditempeli sarang laba-laba. Luhan juga tak terkena sihir itu kan?
"Gege!" Lamunan Luhan buyar begitu suara yang mengiang di telinganya semalaman itu terdengar, diikuti dengan seorang gadis yang masih terbalut piyama tidur menuruni tangga. Kyungsoo tampak begitu segar.
"Kau tidur nyenyak sayang?" Ibu Kyungsoo bertanya dari dalam dapur, sedang menyiapkan sarapan.
"Ne, eomma."Luhan kira Kyungsoo akan langsung menghampirinya, tapi tidak. Gadis itu menghampiri ibunya, memeluknya dari belakang. Terlihat normal.
.
Luhan tak lagi menaruh curiga pada orang tua Kyungsoo. Sebulan ini mereka bersikap normal. Tak ada yang mencurigakan. Kyungsoo juga masih sering mengunjungi rumah Luhan.
Hari ke hari Luhan tak lagi mengkhawatirkan Kyungsoo. Menurutnya Kyungsoo justru terlihat semakin bahagia. Pipinya semakin gembil.
Tapi sebulan kemudian Luhan kembali menaruh curiga. Pasalnya Kyungsoo tak lagi seceria kemarin. Kyungsoo sekarang lebih sering diam. Biasanya Kyungsoo sangat aktif tapi kini gadis itu sangat pasif. Kyungsoo tak lagi tertarik pergi ke festival setiap bulan yang di adakan di dekat rumah mereka. Kyungsoo jadi jarang bicara.
"Soo, aku bingung." Kyungsoo mengalihkan tatapannya pada Luhan.
"Bingung kenapa, ge?" Luhan tak bisa menemukan tatapan mata yang penasaran pada mata Kyungsoo. Biasanya Kyungsoo selalu penasaran dengan apa yang akan dikatakan Luhan.
"Sebenarnya apa ini-" Luhan mengapit kacang panjang yang di potong pendek di antara sumpitnya."-kacang panjang, atau kacang pendek?" Luhan menatap Kyungsoo dengan mata rusanya yang dibuat selucu mungkin. Kyungsoo selalu tertawa melihat ekspresi Luhan seperti itu.
"Itu kacang panjang, ge." Kyungsoo kembali mengacuhkan Luhan, kembali fokus pada makanannya. Mereka sedang makan siang bersama di rumah Luhan.
"Tapi kan ini sudah tak panjang lagi, Soo." Luhan masih mencoba menarik perhatian Kyungsoo.
"Tapi namanya tetap kacang panjang, ge." Kyungsoo bahkan tak melihat Luhan saat mengatakan itu. Tak biasanya Kyungsoo seperti itu. Kenapa Kyungsoo mengacuhkannya? Apa ia melakukan salah? Biasanya Kyungsoo selalu memarahinya balik jika Luhan marah. Tapi mengapa sekarang gadis itu diam jika memang Luhan melakukan salah?
Luhan tahu Kyungsoo sekarang berusia sembilan tahun. Sudah bukan anak kecil lagi. Apa ini cara terbaru Kyungsoo saat sedang marah terhadap Luhan?
"Kau marah padaku?" Luhan menaruh sumpitnya. Selera makannya menghilang seketika.
"Marah? Untuk apa?" Biasanya Kyungsoo selalu memiringkan kepalanya ke kanan jika dalam mode penasaran. Tapi lihat, Kyungsoo bahkan tak menegakkan kepalanya.
"Kau mengacuhkanku."
"Aku sedang makan."
"Biasanya saat kita makan juga tak masalah jika sambil berbincang."
"Kebiasaan buruk. Hentikan. Itu tak baik." Kyungsoo memasukkan suapan nasi terakhirnya, menatap Luhan datar.
"Dulu kau tak mempermasalahkan itu. Kau justru kesal jika kita makan dalam keadaan hening. Sebenarnya kau kenapa, Soo?"
"Memangnya aku harus kenapa?" Meletakkan kembali dengan hati-hati gelas yang baru saja ia teguk habis isinya.
"Soo."
"Hm?" Kyungsoo biasanya akan menjawab dengan manja 'ada apa, ge' atau 'ne, ge' tapi sekarang? Sangat singkat. Kau sedang puasa bicara atau apa, Kyungsoo?
.
Detik berganti menit, menit berganti jam, dan jam berganti hari. Semakin hari sikap Kyungsoo semakin membuat Luhan frustasi. Gadis sembilan tahun itu bersikap acuh seperti wanita usia dua puluhan yang sedang bertengkar dengan kekasihnya. Sangat dingin dan acuh. Padahal mereka bukan sepasang kekasih, dan hey! Luhan bahkan hanya menganggap Kyungsoo sebagai adiknya. Sungguh!
Sore ini, seperti sore sebelumnya. Kyungsoo dan Luhan meyibukan diri dengan merapikan tanaman yang rusak ataupun menanam tanaman yang baru. Meskipun taman di belakang rumah Luhan tidak begitu luas, tapi cukup untuk menanam beberapa tanaman.
Selama mereka melakukan kegiatan merapikan dan menanam tanaman, Kyungsoo hanya diam. Fokus pada apa yang ia kerjakan. Luhan juga begitu. Tak ada perbincangan disela-sela kegiatan mereka seperti sore hari beberapa bulan lalu. Luhan sudah mulai lelah dengan sikap acuh Kyungsoo.
Semua kegiatan yang mereka lakukan telah selesai. Luhan menyeka keringat yang mengaliri dahi dan pelipisnya. Biasanya Kyungsoo yang melakukan itu, tapi lihat sekarang. Gadis bermata bulat itu sibuk membersihkan dirinya sendiri tanpa menoleh sedikitpun ke arah Luhan.
Ini tak bisa dibiarkan. Pasti ada yang salah dengan Kyungsoo.
Luhan menghampiri Kyungsoo yang kini tengah duduk di ayunan pinggir taman. Luhan membelinya untuk Kyungsoo. Gadis itu sangat suka menghabiskan waktunya di atas ayunan.
"Soo." Luhan mengambil tempat di sebelah kanan Kyungsoo.
"Hm?" Luhan mendesah. Kyungsoo hanya menjawabnya dengan dua huruf. H dan M.
"Soo, apa kau okay?"
Kyungsoo menoleh. "Aku okay, ge." Kyungsoo menjawab dengan nada datar tanpa intonasi. Mimik wajahnya juga tak berubah. Setidaknya ia harus merubah mimik wajahnya menjadi ceria untuk meyakinkan Luhan bahwa ia okay.
"Look at me, Soo." Seperti robot, Kyungsoo langsung menatap Luhan tepat ke manik mata rusa pemuda yang lebih tua sepuluh tahun darinya itu.
Luhan merasakan sesuatu yang hilang di balik mata bulat coklat Kyungsoo. Ada tempat yang seharusnya terisi, tapi sekarang tempat itu kosong. Luhan menggigit bibir bawahnya. Sekarang apalagi? Apalagi yang terjadi dengan Kyungsoo? Sesuatu itu tidak buruk 'kan?
Luhan menatap semakin dalam ke manik mata Kyungsoo. Masih terus berusaha mencari sesuatu yang tak ia temukan itu. Sesuatu yang seharusnya ada namun sekarang tak ada, hilang. Dan Luhan tahu apa sesuatu yang seharusnya ada tapi sekarang tak ada itu.
Jiwa dan emosi Kyungsoo.
Mata coklat bulat itu kini terasa hampa. Coklat, tapi terasa kelam. Terbuka, tapi seperti tertutup. Hidup, tapi seperti mati. Dan Luhan merasa mata rusanya mulai memanas. Sesuatu juga sudah mengumpul di mata rusanya, mengaburkan pandangannya.
Luhan masih merasa tak yakin dengan pendapatnya itu. Ia masih merasa semua dugaannya itu salah. Sebenarnya Luhan mengharapkan itu, sebuah harapan yang Luhan saja tidak bisa terlalu berharap pada itu semua.
Tangan kurus yang kini sedikit berbentuk itu menyentuh pipi gembil Kyungsoo dengan keras. Tangannya bahkan sampai memerah. Pipi Kyungsoo juga tak beda jauh. Pipi gembilnya memerah seperti bunga yang baru merekah. Memerah bukan karena merona, tapi karena tangan Luhan yang bergesekan dengan pipinya dengan begitu keras.
Respon Kyungsoo? Gadis itu tetap diam seperti tak ada yang terjadi. Mata bulatnya tak mengeluarkan sebulir pun airmata. Bibirnya juga tak ia gigit seperti biasa saat ia merasakan sakit yang amat sangat. Kyungsoo kini sungguhan telah berubah.
"Apa yang mereka lakukan padamu, Soo?" Luhan membawa Kyungsoo kepelukannya. Air mata sudah mengantri untuk turun melewati pipi Luhan. Biasanya Luhan paling anti untuk memperlihatkan airmatanya di hadapan orang lain. Tapi demi Kyungsoo, pemuda itu rela menangis seperti bayi yang kehausan.
Bukannya menjawab, Kyungsoo tak bergeming. Tetap pada posisi semulanya. Duduk di sebelah kiri Luhan dengan pipi memerah dan tatapan kosong.
"Kau harus ikut denganku, Soo. Aku tak mau mereka memperparahmu lagi. Kita akan pergi dari sini, okay?"
Luhan kembali membawa Kyungsoo ke dekapan hangatnya. Membelai punggung sempit adiknya dan membiarkan airmatanya mengalir seperti air di sungai. Masa bodo dengan imagemanly yang selama ini ia tanamkan. Kyungsoo terlalu pandai untuk menghapus semua yang telah Luhan buat dalam waktu sekejap.
.
Matahari telah digantikan rembulan. Luhan tak membiarkan Kyungsoo pulang ke rumahnya. Toh, orang tua Kyungsoo juga tak akan memperdulikan Kyungsoo yang tak pulang ke rumah. Kyungsoo hanya dibutuhkan saat mereka menemukan sesuatu yang baru dan mencobanya pada Kyungsoo.
Luhan kini tengah menatap televisi yang sedang dalam keadaan mati. Jemarinya masih sibuk mengotak-atik ponselnya, mencoba menghubungi sesorang. Bibir mungilnya tak berhenti mengeluarkan umpatan saat seseorang yang ia coba hubungi tak menjawab panggilannya. Mama, maafkan anakmu yang suka mengumpat ini.
"Cepat angkat panggilanku, ge." Ini sudah kesepuluh kalinya Yifan tak menjawab panggilan Luhan. Ya, sedari tadi Luhan memang mencoba untuk menghubungi kakak sepupunya itu.
Panggilan kelima belas, dan Yifan baru menjawab panggilannya. Luhan baru bisa benapas lega.
"Kenapa kau baru jawab panggilanku, ge?" Selain bukan tuan rumah yang baik, Luhan juga bukan seseorang dengan sopan santun saat menelepon orang dengan keadaan emosi. Luhan bilang itu tak masalah, kebanyakan orang juga seperti itu.
"..."
"Besok, datang ke rumahku. Bawa juga beberapa staff dan mungkin polisi kedengaran bagus."
"..."
"Mereka kembali berulah, ge! Kyungsoo kehilangan jiwa dan emosinya kali ini! Kyungsoo jadi seperti mayat hidup!" Ucap Luhan menggebu-gebu. Cukup sudah kesabarannya dan kebodohannya selama tiga bulan ini.
"..."
"Aku tunggu." Luhan memutuskan sambungan telepon terlebih dahulu. Menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa dan menghembuskan napas dengan kasar.
.
Luhan tak biasanya bangun sepagi ini. Ini masih pukul delapan pagi dan ini hari minggu. Biasanya Luhan baru bangun pukul sembilan atau mungkin jam sepuluh. Itupun dibantu Kyungsoo yang menyambangi rumahnya, jika tidak, Luhan bisa tidur sampai sore. Tapi lihat sekarang? Luhan sudah terlihat segar dengan kemeja santai kotak biru hitam dan juga celana jeans yang membalut kaki jenjangnya.
Mata rusanya tampak berbinar khawatir menatap jalanan. Ia menunggu sebuah mobil dari tempat Yifan bekerja. Membawa pergi orang tua Kyungsoo sejauh mungkin, maka Luhan akan tenang membawa Kyungsoo pergi.
"Ge, kau tak sarapan dulu?" Kyungsoo membuyarkan konsentrasi Luhan.
"Aku sudah sarapan."
"Tapi aku belum." Luhan memukul dahi lebarnya. Ia lupa. Tadi Luhan hanya menyiapkan sarapan untuknya sendiri, Luhan lupa menyiapkan sarapan untuk Kyungsoo. Luhan terbiasa menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri beberapa bulan ini. Sejak Kyungsoo kembali tinggal bersama orang tuanya lebih tepatnya.
"Biar aku buatkan." Luhan kembali masuk ke dalam rumahnya dengan Kyungsoo yang membuntuti.
Sembilan belas tahun usia yang bisa dibilang masih muda. Memang masih muda. Kebanyakan dari remaja seusianya tak bisa memasak. Luhan bahkan tak yakin mereka pernah mengunjungi dapur. Untuk yang wanita juga Luhan tak yakin. Tapi Luhan, ia sembilan belas tahun, dan ia pria. Keterampilannya dalam memasak begitu handal. Tangannya dengan cekatan mengolah bahan bahan menjadi sajian yang lezat dan bergizi.
Lima menit, Luhan sudah selesai menyiapkan sarapan untuk Kyungsoo. Menyajikannya di hadapan Kyungsoo, dan sang gadis langsung menyantapnya tanpa banyak bicara. Kyungsoo bahkan tak masalah makan seorang diri. Biasanya kan ia akan merajuk minta ditemani. Luhan harus membiasakan diri dengan keheningan Kyungsoo yang sekarang. Atau mungkin ia yang harus mencoba lebih berisik?
Telinga si mata rusa menangkap sebuah ketukan di pintu rumahnya. Yifan sudah sampai?
"Tunggu disini dan makanlah dengan tenang. Gege akan membukakan pintu untuk tamu." Kyungsoo mengangguk. Si mata bulat bahkan tak mengangkat wajahnya. Entah karena begitu menikmati masakan Luhan atau karena memang ia tak peduli.
Pintu sudah dibuka oleh si pemuda mata rusa, seorang pemuda yang lebih tua sudah berdiri menjulang di hadapannya dengan beberapa orang lainnya di belakang si pria yang lebih tua.
"Masuklah, Kyungsoo sedang sarapan." Yifan menaikkan sebelah alisnya. Tumben sekali Luhan menjadi tuan rumah yang baik.
Saat masuk kedalam ruang tamu, Kyungsoo sudah selesai dengan sarapannya. Gadis sembilan tahun itu sedang berdiri di pintu yang menyambungkan ruang tamu dan dapur.
"Hai, Kyungsoo." Yifan menyapa Kyungsoo yang hanya ditanggapi sebuah tatapan kosong oleh si empunya nama. Kyungsoo tak begitu mengenal Yifan, well, sebenarnya mereka pernah bertemu, hanya saja mereka tak pernah bertegur sapa.
"Responnya padaku juga sama seperti itu." Luhan mengedikkan bahunya. Bibirnya tersenyum miring, bukan meremehkan, terkesan seperti mengasihani diri sendiri.
.
Kini Luhan, Yifan, dan Kyungsoo, serta beberapa staff rumah sakit sedang berkumpul di ruang tamu sederhana Luhan. Mereka ingin memastikan perkataan Luhan yang mengatakan Kyungsoo tak punya jiwa dan juga emosi lagi.
Beberapa pemeriksaan telah dilakukan. Yifan memastikan semuanya berjalan sesuai prosedur dan dilakukan dengan benar. Dan hasilnya juga benar sesuai dengan perkataan Luhan. Kyungsoo kosong. Jiwa dan emosinya entah hilang kemana. Kyungsoo jadi seperti mayat hidup jika saja wajahnya pucat dengan lingkar mata hitam yang menyeramkan.
"Aku ingin kali ini mereka benar-benar dirawat. Tak lagi keluar dan tak lagi bisa menemui Kyungsoo." Ucap Luhan final. Ia sudah terlanjur menyayangi Kyungsoo dan tak ingin gadis itu kembali menderita.
"Kami lakukan yang terbaik, Lu."
.
Rumah Kyungsoo sudah terkepung dengan para personil polisi dan beberapa staff rumah sakit yang siap membawa orang tua Kyungsoo kembali ke rumah sakit.
Awalnya mereka menyangkal semua yang dituduhkan Luhan, namun semua tak bertahan lama. Orang tua Kyungsoo mengamuk seperti dua tahun lalu. Menjerit seperti orang kerasukan arwah. Memberontak seperti seekor sapi yang akan disembelih. Dan Luhan tak peduli. Bahkan Kyungsoo yang dua tahun lalu menangis, kini nampak tak peduli. Jelas saja, gadis itu tak lagi memiliki jiwa dan emosi.
Semua personil polisi, staff rumah sakit, dan juga orang tua Kyungsoo sudah pergi. Kali ini tidak utuk kembali. Luhan kini tengah membantu Kyungsoo merapikan barang-barangnya. Besok Luhan akan membawa Kyungsoo ke China. Luhan sudah selesai dengan sekolahnya, dan ia berencana untuk mencari pekerjaan di negara kelahirannya itu. Ia juga berniat untuk merawat—mungkin mengadopsi—Kyungsoo bersama orang tuanya. Menjadikan gadis itu bagian dari keluarganya.
.
.
.
To be continue.
.
Nini lupa kasih tau kalian kalau chap ini dan sebelumnya memang masih flashback. Mungkin chap berikutnya juga masih flashback. Nini bikin ini cerita jadi alur mundur. Mungkin cuma ada satu chap dengan alur maju. Masih bingung juga hehe.
.
Terima kasih yang sudah mereview, follow, fav.
.
Review juseyo?
.
Donini.
