Ehm…ada yang masih ingat dengan fict ini? *krik krik* hehehe…sudah saya duga fict ini bakalan slow update karena semakin lama saya semakin sibuk, plus masih ada beberapa fict lagi yang harus saya selesaikan.
Baiklah, kayaknya nggak perlu pake basa-basi lagi ya…? ^^
Enjoy!
"Uhuk…uhuk…"
Seorang anak bersurai violet yang baru saja siuman dari pingsannya tampak terbatuk-batuk. Setelah berhasil mengumpulkan kesadarannya, anak itu bisa melihat bahwa di sekelilingnya tidak ada apapun, atau mungkin bisa dibilang gelap.
"Dimana ini…?" gumamnya pada diri sendiri.
"Fang? Kau sudah sadar?" anak yang dipanggil Fang tersebut menoleh ke asal suara, dan kemudian menghembuskan napas lega melihat seorang anak laki-laki seusianya terduduk tidak jauh dari posisinya.
Tubuhnya yang dibalut jaket tanpa lengan berwarna merah tua dengan hoddie yang menutupi kepalanya tersebut tampak agak lecet, tapi tidak terlihat begitu mengkhawatirkan.
"Blaze? Dimana ini?" tanya Fang setelah Boboiboy Blaze berjalan mendekati dirinya.
"Entahlah. Aku juga belum lama sadar, dan aku sama sekali tidak tau dimana ini," jawab Blaze sambil mengangkat bahu.
"Sepertinya…kita sedang berada di dalam gua," gumam Fang setelah berdiri dan meraba dinding yang ada disekitarnya.
"Kalo begitu kenapa gelap begini?" tanya Blaze sambil membetulkan letak topinya.
"Umm…mungkin kita sedang berada jauh di dalam gua. Oh iya, kau kan sekarang ini sedang berpecah? Kau tidak mengalami hilang ingatan atau semacamnya?" tanya Fang panjang lebar.
"Tidak…aku rasa. Setidaknya aku masih ingat siapa kau, juga tentang pecahan diriku yang lain, dan sebab kenapa sampai kita bisa terdampar disini," jawab Blaze sambil mendengus kesal karena berhasil terkena serangan dari alien hijau berkepala kubus tersebut.
"Jika begitu…mungkin hal yang sama juga terjadi pada Boboiboy yang lain…" Fang segera mengaktifkan jam kuasanya, kemudian mencoba menghubungi teman-temannya yang lain.
"Tidak bisa? Ada apa ini?" Fang dengan bingung menatap hologram yang muncul dari jam kuasanya, menunjukkan bahwa teman-temannya tidak bisa dihubungi.
"Aku pikir kita terdampar sangat jauh sampai sinyal jam kuasa tidak bisa sampai disini," Blaze mengeluarkan pendapat.
"Kalo begitu kita harus pergi dari sini. Yang lain mungkin sedang dalam bahaya sekarang," ucap Fang cemas.
"Oke. Kalo begitu serahkan padaku," Blaze berdiri kemudian mempersiapkan kedua tangannya yang mulai mengeluarkan asap.
"Bebola api bertubi-tubi!" belasan bola api kecil bermunculan, dan dengan cepat Blaze mengarahkan bola-bola api tersebut untuk menghantam dinding gua di depan mereka.
"Yosh! Berhasil," Blaze tersenyum melihat serangannya membuahkan hasil, dan kini dinding batu di depannya sudah lenyap tergantikan dengan lubang besar-cukup besar untuk dilewati mereka berdua.
"Oke, ayo kita pergi," Fang segera mengangkat kakinya keluar diikuti Blaze yang berjalan dengan santai, terlihat tidak secemas teman berwajah oriental di sebelahnya itu.
~0~0~0~
"Wow…tempat apa ini…?" Blaze menatap kagum pemandangan di depannya.
Tampak seperti hutan belantara dengan berbagai jenis pohon yang berbeda ukuran, serta tampak cahaya menyilaukan yang diyakini merupakan pantulan dari sinar matahari yang memang sedang berada di ufuk barat.
"Kita sepertinya terdampar di sebuah pulau asing di suatu Negara," gumam Fang setelah menganalisa hutan di sekelilingnya.
"Pulau? Kalo begitu pasti akan sulit untuk keluar dari sini," ucap Blaze.
"Aku akan gunakan elang bayang. Mungkin jika terbang kita bisa melihat seluas mana pulau ini," Fang sudah mau membentuk elang dengan tangannya, tapi Blaze dengan cepat menahan tangan sahabat sekaligus rivalnya tersebut.
"Hey, apa-apaan kau?" protes Fang agak kesal.
"Uh…matahari sedikit lagi akan terbenam, terus jika kau pakai elang bayang, nanti kita berdua bisa jatuh. Disini sama sekali tidak ada cahaya kan?" ucapan Blaze sedikit membuat Fang tersentak-agak terkejut juga karena ternyata Blaze bisa berpikir sampai sejauh itu.
"Ck…kalo gitu kita harus gimana lagi?" tanya Fang.
"Yah…kenapa tidak berjalan-jalan dulu saja? Siapa tau kita bisa menemukan sesuatu yang bisa membantu kita," usul Blaze yang kemudian berjalan memasuki hutan tanpa menunggu jawaban dari sang rival.
Fang hanya menghela napas kasar dan memutuskan untuk mengikuti Blaze saja daripada hanya berdiam diri tanpa adanya tindakan tersebut.
~0~0~
"Hutan yang aneh…apa benar ada yang seperti ini?" gumam Fang sambil menggaruk pipinya.
Memang benar, hutan disekitaran mereka itu cukup aneh karena bentuk-bentuk pohonnya yang kadang tidak wajar, serta warna dan bentuk daunnya. Di tambah lagi, dengan kemunculan hewan-hewan penghuni hutan yang bentuknya mirip dengan makhluk-makhluk yang biasa ada di buku dongeng.
"Mungkin…kita terdampar di dunia lain?" Fang tersentak begitu mendengar ucapan Blaze tersebut.
"Apa maksudmu?" tanya Fang tidak mengerti.
"Uhm…hanya pendapatku saja sih. Aku memang belum pernah berkeliling dunia, tapi aku pikir tidak ada deh pulau yang seperti ini. Kalo pun ada, harusnya pulau ini dilindungi, bukannya dibiarkan terbengkalai begitu saja," jelas Blaze.
"Aku rasa yang kau ucapkan masuk akal. Mungkin saja Adu du sudah memindahkan kita ke dimensi lain," gumam Fang sambil meletakkan kedua jarinya di bawah dagunya.
"Huh…dasar si kepala kotak ngerepotin. Jika bertemu akan aku bakar dia sampai gosong…" Blaze mendumel kesal dengan kedua tangan yang mengeluarkan percikan api kecil.
"Kita tidak bisa menghubungi yang lain, kita juga tidak tau sekarang kita berada dimana. Satu-satunya cara adalah dengan menunggu pagi tiba sehingga aku bisa menggunakan elang bayang untuk keluar dari sini," jelas Fang.
"Eh? Jadi maksudnya kita harus menginap disini?" kaget Blaze, berharap dirinya akan mendapat balasan gelengan kepala dari Fang namun tentu saja, yang di dapatkannya adalah anggukan mantap dari si pengendali bayangan.
"Tapi kita tidak tau tempat apa ini. Bisa saja ada makhluk ganas berbahaya yang datang dan memakan kita yang dalam keadaan tidak siap," ucap Blaze cemas.
"Oh? Jadi kau takut?" tanya Fang dengan senyum meremehkan, berniat memprovokasi pecahan dari Boboiboy yang paling tempramen serta mudah terprovokasi tersebut.
"Hey! Siapa bilang?! Aku tak takut tau!" dan benar saja, si pengendali api tersebut termakan pancingan Fang.
"Kalo begitu jangan banyak protes. Kita tidak punya pilihan lain selain tetap disini sampai pagi tiba," tukas Fang sambil membetulkan letak kacamatanya, sedangkan bocah berjaket lava tersebut hanya bisa merengut seperti seorang anak kecil yang merajuk.
~0~0~0~
"Boss, alat komunikasi telah berhasil terhubung dengan Bago go," ucap sebuah computer hidup ber'gender' perempuan tersebut setelah berhasil mendapat sinyal dari lawan bicara mereka.
"Oh, bagus. Mari sini," Adu du dengan cepat beranjak menuju monitor yang masih memunculkan symbol loading disana.
"Ah! Apa kabar, bang! Senang berjumpa dengan abang hari ini. Ada lagi senjata yang ingin dibeli kah?" sapa seorang alien hijau berkumis dengan gaya salesmannya seperti biasa.
"Ish! Bukanlah, aku hanya ingin tanya tentang senjata yang baru-baru ini aku beli padamu," sahut Adu du cemberut.
"Oh…begitu ya? Nah, gimana bang? Hebatkan senjatanya? Sudah puas belasah mereka?" tanya Bago go antusias.
"Hiih! Puas apa?! Aku memang berhasil melenyapkan mereka, tapi mereka masih hidup dan terdampar di dunia lain, ditambah lagi, salah satu dari pecahan elemen Boboiboy masih ada disini," ucap Adu du kesal.
"Hmm…itu artinya abang masih belum berpengalaman menggunakan senjata itu ya?" gumam Bago go sambil mengelus dagunya.
"Apa?! Siapa yang kau sebut tak berpengalaman, hah?! Senjata itu aku beli dengan harga 80 juta 80 sen, dan hasilnya masih segitu?!" akhirnya emosi Adu du memuncak sampai ke ubun-ubunnya.
"Tenanglah, bang. Justru harganya hanya 80 juta 80 sen saja, hingga hasilnya begitu. Senjata itu masih belum sempurna, bang…masih ada beberapa komponen-komponen yang belum di sertakan di dalam alat itu. Jika abang ingin tau, harga sebenarnya dari senjata itu 90 juta 90 sen," jelas Bago go masih dengan senyum bisnisnya.
"Hish! Lha terus, bagaimana dong?!" bentak Adu du.
"Sebenarnya ya, bang…saya punya beberapa komponen dari senjata itu. Ah, namanya sih Teleporter of Dragosioner, alat teleportasi yang bisa memindahkan sesuatu atau seseorang di waktu, tempat, bahkan dunia yang berbeda. Sebenarnya abang bisa saja memindahkan mereka ke lubang hitam galaksi sana jika mau, tapi karena komponen dari Dragosioner masih belum lengkap, makanya mereka semua mungkin berpindah tempat secara random," jelas Bago go panjang lebar.
"Kalo kau punya komponennya, cepat serahkan padaku! Aku harus cepat-cepat sempurna kan senjata ini sebelum kembali ke kedai Tok Aba," pinta Adu du.
"Boleh sih, bang. Tapi komponennya tak gratis bang…soalnya semua pelengkap Dragosioner ini terdiri dari berbagai macam benda-benda angkasa yang langka dari berbagai planet," jelas Bago go.
Adu du yang sudah menduga hal itu pun menghela napas, "Ya udah, berapa harganya?" tanya Adu du.
"Hah! Karena abang adalah orang pertama yang mau membeli sisa komponen Dragosioner, maka harga yang akan saya berikan setelah mendapatkan diskon 7 persen adalah…20 juta 20 sen saja~!" seru Bago go sambil joget selebrasi.
Jika saja Adu du tidak memiliki kartu plutonium, sudah habis kaleng-kaleng di dalam markas kotaknya itu di kunyahnya karena karena sekarang Adu du sudah bukan lagi 'alien kotak yang berniat menguasai bumi yang low budget', maka dengan santai Adu du menyetujui harga yang diberikan sang salesman senjata haram tersebut.
"Oke, kasih sudah berbisnis dengan saya, senjatanya akan saya hantarkan empat jam lagi, sampai jumpa~!" komunikasi dengan Bago go terputus, kemudian Adu du berjalan mengambil alat teleportasi portable berbentuk naga itu sambil menyeringai.
"Hehehe…tunggu saja kau, Boboiboy…kali ini aku pasti akan hapuskan kau dalam sekejap mata! Muahahahahahahahaha! Uhuk…uhuk…Probe, air…" gumam Adu du yang tersedak ludahnya sendiri.
~0~0~0~
Brak!
Fang terbangun dari tidurnya kemudian dengan kasar mengusap kepalanya. Setelah memutuskan untuk bermalam di pulau asing itu, Fang dan Blaze beristirahat di sebuah gua yang dekat dengan lautan, dan dengan beralaskan dan berselimutkan daun lebar dari salah satu pohon berdaun kuning, mereka pun beristirahat.
Yah, setidaknya sampai suara benturan dan pukulan itu yang membuat Fang terganggu. Setelah memakai kacamatanya, Fang menyadari bahwa tempat tidur disampingnya kosong, menandakan si pemilik tempat tidur tersebut sedang tidak ada di tempat.
"Ugh…apalagi yang mau anak itu lakukan malam-malam begini…?" desah Fang sambil memijit pelipisnya dan memutuskan untuk beranjak bangun. Jika sesuatu terjadi pada elemen rivalnya yang paling kekanak-kanakkan itu, maka urusannya pasti akan tambah repot.
"Blaze…? Kau disana?" gumam Fang sambil menyipitkan matanya, karena terdapat percikan cahaya yang cukup besar tidak jauh dari sana.
"Oh, Fang…aku membangunkan mu?" tanya Blaze dengan senyum kekanak-kanakkannya.
"Ya…kau berisik. Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Fang melihat Blaze yang duduk bersila di depan sebuah api unggun yang diyakini Fang itu hasil perbuatan Blaze sendiri.
"Hehehe, aku lapar…jadi tadi aku keluar sebentar mencari buah-buahan. Taunya ada ikan yang saaaangat besar melompat dari dalam air, jadi langsung saja aku tangkap. Kau mau coba? Enak lho," ucap Blaze antusias.
Fang sebenarnya ingin menolak, namun gejolak dalam perutnya berkata lain. Jadi Fang hanya menghela napas dan duduk di samping sang pemilik kuasa api, mengambil ranting dan mencongkel sedikit daging ikan yang terpanggang, lalu memakannya.
"Enak," gumam Fang.
"Benarkan? Sepertinya aku lagi beruntung hari ini," ucap Blaze disertai cengiran lebarnya.
Fang yang melihatnya mau tidak mau tersenyum, karena meskipun kekanak-kanakkan, ternyata Blaze juga memiliki jiwa petualang dan insting bertahan hidup yang luar biasa.
Dan harus Fang akui, diantara semua Boboiboy, Blaze bisa dibilang adalah yang paling 'akrab' dengan Fang, mungkin karena kuasa api dan bayang itu memang saling melengkapi ya?
Fang menyudahi lamunannya begitu menyadari wajah Blaze tiba-tiba lesu, dilihat dari iris orange kemerahan itu yang meredup.
"Blaze, kau kenapa?" tanya Fang namun pertanyaan itu tidak dipedulikan oleh Blaze yang kini makan dalam diam.
"Kira-kira yang lain baik-baik saja atau tidak ya…?" gumam Blaze pelan.
Fang sedikit tersentak kemudian menengadahkan kepalanya, menatap langit malam yang cerah bertabur bintang-bintang dan juga bulan purnama yang berpendar indah.
"Menurutmu bagaimana?" tanya Fang tanpa menoleh.
"Umm…entah," Blaze menghela napas kemudian melahap ikan bakarnya kembali.
"Tapi aku tidak perlu cemas. Yang lain itu kuat, aku bisa merasakannya," gumam Blaze.
"Aku harap kau benar-benar percaya pada mereka, Blaze. Sekalipun kalian sekarang terpisah sangat jauh," jelas Fang.
"Tentu saja, mereka 'kan hebat. Halilintar itu cepat dan teliti, lalu Taufan meskipun dia kadang-kadang suka bercanda, pasti ada saatnya dia akan serius dan memanfaatkan kuasanya dengan baik…lalu Gempa itu adalah yang paling kuat dan paling pintar, dia pasti punya rencana. Sedangkan Ice, dia mungkin pemalas, tapi bagaimana pun juga ketenangan adalah sumber kekuatannya. Umm! Aku memang tak perlu khawatir," jelas Blaze sambil tersenyum lebar.
Fang ikut tersenyum, "Tidak hanya itu…teman-teman kita juga tidak lemah, mereka pasti bisa menjaga diri mereka. Kita harus percaya itu dan aku yakin mereka juga pasti percaya bahwa kita baik-baik saja," jelas Fang.
"Kau benar, kita kan masih bisa combo api dan bayang. Terbaik kan, kan?" sahut Blaze dengan antusiasme ala anak kecil.
"Hmm…iya lah," desah Fang seadanya.
"Yosh!" Blaze segera beranjak dari duduknya sambil membersihkan celananya yang sedikit terkena tanah tersebut.
"Kau mau kemana?" tanya Fang.
"Jalan-jalan, aku tak mengantuk dan ingin sekali menjelajah tempat ini," jawab Blaze.
"Aku ikut. Bagaimana pun juga, aku tak bisa meninggalkanmu sendirian," tukas Fang yang ikut berdiri setelah menghabiskan ikan bakar jatahnya.
"Oke, ayo pergi!" seru Blaze penuh semangat berjalan memasuki hutan diikuti Fang yang sibuk memperbaiki letak kacamatanya.
Keduanya sama sekali tidak sadar, bahwa sedari tadi mereka diperhatikan oleh sesosok gadis berambut panjang yang tersenyum di balik pohon.
~0~0~0~
Keduanya terus berjalan menyusuri hutan hingga tiba di suatu bagian pulau yang lebih terbuka dengan banyak bebatuan ketimbang pepohonan, sampai tanpa sadar bahwa cahaya matahari mulai muncul dari timur.
"Ah, sudah mulai pagi. Aku rasa sudah saatnya pergi. Blaze! Ayo kita-"
"Fang, coba lihat ini!"
Ucapan Fang terputus oleh panggilan tiba-tiba dari Blaze yang berhenti melangkah.
"Ada apa? Kita sudah harus pergi," ucap Fang.
"Itu…tempat ini…" gumam Blaze.
Fang ikut menoleh ke depan, dan terkejut melihat pemandangan di depannya ini.
"Apa dulu…pulau ini memiliki penghuni?" tanya Blaze tidak mengerti.
Di depan kedua bocah superhero tersebut, memang terdapat bangunan-bangunan tua yang sudah dipenuhi akar dan batang pohon.
"Bangunan-bangunan ini sudah menyatu dengan pulau. Aku rasa tempat ini sudah ditinggalkan lama sekali," gumam Fang.
"Iya kah? Jadi apa benar tempat ini memang ada penghuninya ya?" Blaze melangkah, memperhatikan setiap sudut tempat yang mirip kota mati tersebut dengan seksama.
"Hati-hati, Blaze. Bisa jadi ada makhluk-makhluk tak diinginkan disini," ucap Fang cepat.
"Tenanglah, jika ada yang menyerang tinggal balas dengan kuasa kita kan?" ucap Blaze santai.
"Haduh, bukan itu…bagaimana kalo…" Fang menyipitkan matanya dan berbisik misterius, "Ada hantu?"
Blaze terdiam sebentar, kemudian tertawa lepas, "Kau ini, mana mungkin? Hahahahahaha!" Blaze masih tertawa lepas.
"Hih! Aku serius lah! Pulau ini terbengkalai, lalu ada kota tua bekas penginggalan orang-orang zaman dahulu, jadi pastinya arwah mereka masih bersemayam disini," jelas Fang.
"Kalo ada hantu, kita tinggal lari kan? Aku bukan Halilintar yang langsung ambruk hanya karena hantu, oke? Sudah, aku mau lanjut," mengabaikan Fang, Blaze terus melangkah memperhatikan sisa-sisa bangunan tua tersebut, hingga di tiba di satu tempat yang bisa dibilang 'pusat kota' tersebut.
"Lihat, bangunan itu seperti lain dari yang lain," Blaze menunjuk sebuah bangunan besar bercat merah-agak pucat karena sudah sangat tua-yang didalamnya terdapat beberapa kursi kayu dan juga meja counter yang sudah retak.
"Tempat itu…mirip bar," gumam Fang.
"Iya, tapi aku rasa tempat itu bukan bar. Lebih terlihat seperti…markas suatu kelompok," komentar Blaze yang memutuskan untuk memasuki bangunan tersebut.
"Oy, Blaze. Sebaiknya kita cepat pergi saja," ucap Fang cemas.
"Kau jangan khawatir, tempat ini bukankah mirip dengan Pulau Apung waktu itu? Seharusnya kau telah terbiasa, Fang," ucap Blaze yang tidak mengerti kenapa Fang mendadak menjadi paranoid begini.
Fang mendesah dan memutuskan untuk ikut melihat bagian dalam bangunan yang diyakini sebagai markas tersebut.
"Hei…daritadi aku perhatikan, symbol itu seperti ada di beberapa bangunan di kota ini," ucap Fang.
"Hmm…" Blaze ikut memperhatikan sebuah lambang berbentuk seekor kadal berwarna merah yang terpampang di dinding atas bangunan tersebut.
"Red…Lizard? Sepertinya itu adalah nama organisasi ini," gumam Fang setelah membaca tulisan berwarna merah yang terletak di bawah symbol kadal tersebut.
"Eh? Jadi Red Lizard itu adalah kelompok yang mungkin Berjaya di masa mereka ya? mereka pasti disegani penduduk kota ini sehingga nama dan symbol mereka banyak terdapat di bangunan-bangunan kota ini," ucap Blaze.
"Bisa juga mereka adalah organisasi jahat yang menguasai kota ini dengan tangan besi. Ah, dan perasaanku bilang orang-orang organisasi ini juga pastinya berbahaya," ucap Fang.
"Nasib baik lah, mereka sudah tak ada disini. Ayo pergi," Blaze segera melangkah keluar dari bangunan tua tersebut. Sedangkan Fang masih sibuk meneliti isi dari bangunan Red Lizard tersebut.
~0~0~0~
"Hah…pulau yang aneh. Kira-kira sekarang kita sedang berada dimana, dan di tahun berapa ya?" desah Blaze sambil melipat kedua tangannya di belakang lehernya dan mengistirahatkan kakinya di sebuah batu besar tak jauh dari bangunan Red Lizard.
"Mungkin kita masih di masa sebelum Masehi. Ditambah lagi, sejauh ini aku tidak melihat adanya kapal atau sejenisnya, apa pulau ini benar-benar terasingkan ya?" gumam Fang.
"Hah…sekarang aku bosan. Aku jadi ingin ada monster yang tiba-tiba muncul sehingga aku bisa menghajarnya…" gumam Blaze tidak jelas.
"Kau gila ya? Kalo itu terjadi, kita malah akan semakin sulit keluar dari sini," ucap Fang sweatdrop, dan tiba-tiba saja tanah yang dipijaknya bergetar.
"Eh? Kenapa ni?" tanya Blaze yang dengan cepat segera beranjak dari duduknya.
"Blaze, getaran ini berasal dari batu yang tadi kau jadikan sandaran," ucap Fang begitu melihat batu besar tersebut bergerak-gerak, hingga tanah disekitarnya koyak.
"Itu…" Fang dengan susah payah menelan salivanya.
"Wow…apa kata-kataku barusan terkabul?" tanya Blaze innocent melihat batu yang tadi dijadikannya tempat istirahat bertransformasi menjadi sesosok makhluk mirip dinosaurus berkulit hijau pucat. Batu yang tadi ternyata adalah ubun-ubun dari makhluk itu.
"Akh! Sekarang gimana dong?" desah Fang sambil menepuk jidatnya.
"Heh…sudah jelas bukan?" jawab Blaze disertai seringai.
"Oy, jangan bilang kau mau…"
"LARIIIIII!"
Blaze dengan kecepatan super langsung lari menjauh meninggalkan Fang bersama si monster yang cengo melihat tingkah Boboiboy yang kekanak-kanakkan itu.
"Oy! Blaze, tunggu aku!" Fang dengan cepat lari menyusul Blaze, di susul auman keras dari si monster yang ikut lari mengejar Fang dan Blaze.
"Ugh! Elang bayang!" Fang memunculkan elang bayang, dan dengan cepat menarik Blaze kemudian melesat ke sembarang arah pulau tersebut.
"Fang! Dia menuju ke arah kitaaa!" teriak Blaze di tengah deru angin akibat cepatnya elang bayang melesat.
"Aku tau lah! Kau ini, sekarang monsternya sudah ada, kenapa kau malah lari?" protes Fang kesal.
"Ehehehe…habis monsternya terlalu besar," jawab Blaze sambil cengengesan.
"Ck…terserahlah, sekarang cepat halang dia," perintah Fang.
"Baik boss!" sahut Blaze patuh dan segera menyerang monster berkepala batu tersebut dengan lemparan chakram apinya.
"Bagus! Dia jadi lambat," seru Blaze yang kemudian mengangkat sebelah tangannya tinggi-tinggi, "Meteor berapi!" dan sedetik kemudian, sebuah batu meteor raksasa muncul dan langsung menghantam tubuh sang monster hingga hangus.
"Hahahaha! Terbaik~!" seru Blaze sambil melompat-lompat kegirangan.
"Woy! Berhenti atau kita berdua akan jatuh!" teriak Fang karena keseimbangan tubuhnya terganggu akibat lompatan Blaze.
~0~0~0~
Setelah berhasil lolos dari kejaran monster batu, Fang dan Blaze yang telah turun dari elang bayang kini melanjutkan perjalanan mereka menyusuri bagian pulau lainnya yang belum mereka datangi.
"Pulau ini ternyata lebih luas dari dugaanku…banyak tempat-tempat tersembunyinya," gumam Fang.
"Benar sekali. Meskipun aku masih gagal paham sebenarnya pulau apa ini," sambung Blaze sambil memperhatikan sekelilingnya.
Kini mereka tiba di tempat yang agak gelap karena tertutupi oleh bebatuan dan dahan pohon yang membentuk terowongan ke suatu tempat yang tersembunyi.
"Blaze…apa kau tak menyadari sesuatu?" tanya Fang setelah berhasil keluar dari terowongan pohon tersebut.
"Apanya?" tanya balik Blaze.
"Aku rasa…kita sekarang sedang berada di pusat dari pulau ini," ucap Fang.
"Hah? pusat?" Blaze mengernyitkan kening tidak mengerti.
"Iya…kau tidak lihat?" Fang menunjuk ke arah sebuah pohon besar yang merupakan pohon tertinggi di pulau itu dan kini pohon itu tepat berada di hadapan mereka.
"Pohon ini bahkan bisa terlihat di tempat kita saat pertama kali tiba di pulau ini. Dan jika kau perhatikan, pohon ini adalah satu-satunya pohon yang tingginya mungkin bisa terlihat dari luar pulau ini," jelas Fang.
"Hmm…mungkin ada sesuatu di pohon ini," Blaze yang rasa penasarannya kambuh segera berlari memasuki dahan pohon yang terbuka lebar.
"Oy, Blaze! Bagaiamana jika disana ada jebakan?" panggil Fang panik.
"Jangan khawatir, Fang. Percayalah padaku," ucap Blaze tanpa berbalik.
Fang mendesah dan ikut masuk ke dalam dahan pohon tersebut, sambil berpikir bahwa mungkin ini adalah konsekuensi karena terperangkap di sebuah pulau asing berdua dengan Boboiboy Blaze.
"Wow…Fang, aku rasa tempat ini memang benar-benar pusat dari pulau ini," ucap Blaze menatap kagum ke arah suatu bangunan terbuat dari batu berwarna putih.
"Blaze, itu makam kan?" ucap Fang.
"Yah…mungkin ini makam dari pemimpin mereka," ucap Blaze.
"Bentuknya agak aneh…dan cahaya apa itu?" gumam Fang begitu melihat ada sepercik cahaya mirip api yang berwarna keemasan yang terletak tepat di atas makam tersebut.
"Blaze, aku rasa sebaiknya kita pergi dari sini. Dan kali ini aku benar-benar serius," ucap Fang.
"Memangnya kenapa? Setelah kau melihat makam kau jadi takut?" tanya Blaze sambil menyeringai.
"Ck! bukanlah! Uh…matahari semakin meninggi nih, yakin kita tidak akan pergi?" tanya Fang.
"Hmm…malam kan masih lama, aku masih ingin melihat-lihat. Kau tau, dari dulu aku ingin sekali menjelajah seperti ini tapi tidak pernah kesampaian karena kami harus bersatu menjadi Boboiboy," jelas Blaze.
Fang mengerutkan kening, tidak mengerti dengan apa yang si pemilik kuasa api ini katakan.
"Tapi bagaimana pun juga, kita harus pergi, Blaze. Kau lihat kan monster yang tadi menyerang kita? Bisa jadi jumlah mereka ada lebih dari satu," jelas Fang.
"Umm…kalo begitu sebentar," Blaze menghela napas kemudian memejamkan matanya, merasakan hembusan angin yang menerpa dirinya.
"Kau sedang apa?" tanya Fang sweatdrop.
"Hanya ingin merasakan sejuknya udara alam," jawab Blaze sekenanya.
"Huft…kita harus pergi, Blaze…firasatku bilang jika kita berlama-lama disini maka kita akan-"
"Fang,"
Sekali lagi kalimat sang pengendali bayangan terpotong, membuat Fang mendesah kasar, "Apalagi?" sahutnya ketus.
"Kau tau, aku yakin sekali bahwa pulau ini sudah tua dan tak berpenghuni," ucap Blaze.
"Lalu?" tanya Fang tidak minat.
"Yah…lalu apa yang sedang dia lakukan disana?" Blaze menunjuk seorang gadis-yang sepertinya seusia mereka-yang sedang duduk di atas dahan pohon sambil bersenandung kecil.
"Apa…sejak kapan dia ada disana?" tanya Fang tidak mengerti.
Gadis itu berhenti bersenandung kemudian menoleh ke arah Blaze dan Fang. "
Dia menoleh ke arah kita?" gumam Fang.
"Aku rasa dia mendengar percakapan kita daritadi," sahut Blaze.
Gadis itu tersenyum, kemudian segera melompat turun dan berlari ke arah Blaze dan Fang yang masih terdiam di depan makam.
"Hai," sapa sang gadis dengan senyum manisnya.
"Umm…hai…?" sahut Fang ragu-ragu.
"Tidak usah takut. Aku tidak akan menyerang kalian, malah...aku senang karena setelah sekian lama ada yang mendatangi pulau ini," jelas sang gadis ceria.
Fang memperhatikan penampilan gadis itu.
Gadis itu memiliki rambut putih keemasan panjang yang mencapai lututnya, telinganya tertutupi oleh semacam hiasan berbentuk sayap burung berwarna putih, serta gaunnya yang berwarna serba putih mencapai bawah lututnya. Kakinya tidak tertutupi oleh sandal atau pun sepatu.
"Setelah sekian lama? Kau…siapa memangnya?" tanya Fang.
Gadis bermata cokelat itu tersenyum, "Bisa dibilang aku yang menjaga pulau ini," jawab gadis tersebut.
"Oh, begitu. Bisa…kau jelaskan sebenarnya ini berada dimana?" tanya Fang.
"Kalian berada di Tenroujima, Fiore," jawaban gadis itu malah semakin membuat Fang tidak mengerti, karena dirinya sama sekali belum pernah mendengar nama tempat itu.
"Fiore?" ulang Fang.
"Iya, nama Negara ini," jawab sang gadis masih dengan intonasi cerianya.
"Oke…" Fang kembali bergumam.
"Aku rasa kita memang benar terperangkap di dunia lain," bisik Blaze.
"Anu…kalo boleh tau, ini tahun berapa ya?" tanya Fang lagi.
"Kalo tidak salah, tahun 791," oke, jawaban gadis itu kali ini membuat Fang hampir tersedak ludahnya sendiri.
"Baiklah, aku rasa…sudah saatnya kita pergi," ucap Fang sambil menggaruk tengkuknya.
"Eh, sebentar. Kita kan belum berkenalan," gadis itu kembali memasang senyum di paras manisnya, "Namaku Mavis Vermillion," ucapnya.
"Oh, aku Fang," ucap Fang ragu-ragu.
"Aku Boboiboy Blaze! Ah, tapi panggil saja aku Blaze," sambung Blaze sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Oh, jadi Fang dan Blaze ya…?" Mavis memperhatikan penampilan dua anak laki-laki di depannya ini, "Pengguna kekuatan bayangan dan elemen api?" tebaknya.
"Iya, bagaimana kau bisa tau?" tanya Fang tidak mengerti.
"Well, cara kalian mengatasi monster tadi itu luar biasa. Kemampuan kalian sedikit mirip dengan Fairy Tail no Natsu Dragneel dan Saber Tooth no Rogue Cheney, ya?" ucap Mavis sambil tertawa kecil.
"Aku tak paham apa maksudmu…pokoknya, kita harus pergi. Kau tau, sebenarnya kami bukan berasal dari sini, kami berasal dari tempat yang sangat jauh dan kami ingin kembali ke tempat asal kami," jelas Fang pelan-pelan.
"Hmm…aku rasa aku bisa mengantarkan kalian ke suatu tempat yang mungkin bisa membantu kalian," ucap Mavis.
"Eh? Kau serius?" tanya Blaze.
"Iya, anggap saja ini bantuan ku untuk kalian, karena kalian berhasil menemukan Red Lizard serta makam ini," jelas Mavis yang kemudian perlahan-lahan melayang ke udara.
"Whoa! Kau bisa terbang?!" kagum Blaze.
"Begitulah, aku akan memindahkan kalian sekarang," Mavis mengangkat sebelah tangannya, bersamaan dengan terangkatnya tubuh Fang dan Blaze ke udara.
"H-hey, ini seperti terkena kuasa gravitasi milik Yaya," ucap Blaze dengan seulas senyum childishnya.
"Kau…mau kau apakan kami? Sebenarnya kau ini siapa?" tanya Fang khawatir.
"Jangan takut, aku hanya ingin memindahkan kalian ke suatu tempat. Dan bukankah sudah aku katakan, namaku Mavis Vermillion, aku adalah penjaga pulau ini," ucap gadis bergaun putih tersebut.
"Oke, satu pertanyaan lagi," kali ini Blaze yang angkat bicara.
"Sebenarnya ini makam siapa?" Fang sedikit tersentak karena pertanyaan yang baru ingin dia lontarkan telah lebih dulu diucapkan oleh Blaze.
Mavis terdiam kemudian tersenyum manis.
"Tentu saja…"
Mavis mengangkat tangannya lebih tinggi, dan cahaya berwarna putih mulai menerpa tubuh Fang dan Blaze yang masih melayang.
"Itu makamku,"
Lanjutan dari ucapan Mavis tersebut masih dicerna oleh kedua superhero Pulau Rintis tersebut.
"Tunggu…jadi maksudmu kau…!" ucapan Fang terpotong, hal terakhir yang dia lihat sebelum pandangannya tertutupi oleh cahaya putih adalah senyum Mavis yang seolah mengatakan, "Semoga berhasil,".
Dan sedetik kemudian, cahaya-cahaya tersebut menghilang, bersama dengan Blaze dan Fang yang juga telah berpindah tempat dari sana.
Mavis tersenyum kemudian memandangi makam berbatu putih yang merupakan makamnya sendiri, kemudian memandang laut lepas bersama dengan langit biru berawan di luar pulau.
"Mereka pasti bisa," gumam Mavis dengan senyum manisnya sebelum tubuhnya berubah menjadi butiran-butiran cahaya kecil dan menghilang.
~0~0~0~
"Umm…Gempa?" panggil sang sfera kuasa berwarna kuning bernama Ochobot tersebut pada salah satu pecahan sahabatnya yang berelemen tanah.
"Ada apa?" tanya Gempa yang sedang sibuk membersihkan cangkir hot chocolate Tok Aba.
"Kau yakin akan menemui Adu du setelah ini? Bagaimana jika dia menyerangmu?" tanya Ochobot khawatir.
"Kau tidak perlu cemas, Ochobot. Aku sudah tau fungsi dari senjatanya, jadi aku bisa menghindarinya. Lagipula, teman-teman beserta pecahanku yang lain terperangkap di dunia lain, jadi aku tak bisa diam saja," jelas Gempa yang kemudian meletakkan gelas yang baru dibersihkannya di atas rak.
"O iya, satu hal lagi. Kenapa bisa kau tidak hilang ingatan setelah selama ini?" tanya Ochobot lagi.
"Kalo soal itu, aku tidak tau. Aku tak bisa menghubungi satu pun dari mereka, tapi aku yakin mereka pasti baik-baik saja," ucap Gempa yakin.
"Kau tidak merasa melupakan sesuatu kan?" tanya Ochobot lagi.
"Mmm…aku Boboiboy Gempa, dan aku punya empat pecahan lagi, yaitu Halilintar, Taufan, Blaze, dan Ice…terus teman-temanku ada Yaya, Ying, Fang dan Gopal, kau adalah sfera kuasa generasi kesembilan yang punya kuasa teleportasi, aku punya atok pemilik kedai ini yaitu Tok Aba, dan cikgu Papa Zola adalah cikgu kami di sekolah," jelas Gempa panjang lebar.
"Oke, aku sekarang takut," komentar Ochobot membuat Gempa sweatdrop.
"Apanya yang kau takutkan? Aku kan masih ingat semuanya," tanya Gempa.
"Justru karena itu…pokoknya aku akan caritau penyebab kenapa bisa sampai jadi begini. Jadi aku akan ikut denganmu ke tempat Adu du," ucap Ochobot.
"Oke, aku pikir akan lebih mudah jika kau menteleport aku kesana biar nggak ribet," sahut Gempa sambil mengangkat bahu.
"Hey! Kuasa teleportasiku itu bukan untuk itu, tau!" protes Ochobot meski tak dipedulikan oleh sang pecahan dominan Boboiboy tersebut.
"Hah…aku harap mereka semua baik-baik saja…" gumam Gempa sambil menopang dagunya.
"Mereka kuat, Gempa. Mereka pasti bisa," ucap Ochobot.
"Iya…tapi kau tau? Halilintar itu orang yang tidak sabaran dan cepat marah, Taufan sulit sekali untuk serius dan terkadang bisa jadi terlalu pesimis atau optimis di saat-saat tertentu, Blaze…aku khawatir dia tidak bisa mengontrol kekuatannya dan Ice, aku harap dia tidak ketiduran," gumam Gempa sambil menerawang ke arah langit.
"Kau ini ngomong seperti Boboiboy saja…" desah Ochobot.
"Tapi aku memang Boboiboy kan?" ucap Gempa.
"Iya sih, tapi…tunggu…"
Ochobot teringat akan sesuatu, dan kemudian dengan cepat menarik tangan Gempa keluar kedai.
"Hei! Kita mau kemana?!" protes Gempa yang tangannya tiba-tiba saja ditarik oleh robot kuning tersebut.
"Ada yang ingin aku pastikan, kita ke tempat Adu du, sekarang!" ucap Ochobot yang entah kenapa terdengar sangat panik tersebut, membuat Gempa bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada sahabat bundarnya ini.
~0~0~0~
Brak!
Adu du yang sedang meminum air hangatnya langsung tersedak secara mendadak karena pintu markas kotaknya di dobrak tiba-tiba.
"Woy! Kalian ini tak ada tata krama ya?!" bentak Adu du begitu melihat yang mendobrak pintunya barusan adalah Boboiboy Gempa bersama Ochobot.
"Maaf soal itu, Adu du…tapi kau harus membantu kami secepatnya untuk menemukan lokasi keempat Boboiboy lain bersama Ying, Yaya, Fang, dan Gopal," jelas Ochobot.
"Aku tak tau kenapa kau jadi terburu-buru begini, Ochobot…tapi aku rasa dia benar. Jika kau mau membantu kami, aku janji akan memberikan satu tong koko untukmu," ucap Gempa yakin.
"Ceh…aku tak yakin apa Tok Aba akan mengizinkanmu melakukannya tapi, aku rasa aku bisa membantu kalian. Dan tidak perlu pakai koko, tadinya aku memang berniat untuk meminta bantuan kalian," jelas Adu du.
Ucapan Adu du tersebut membuat Gempa dan Ochobot terdiam, "Eh? Yang benar…?" ucap Ochobot tak percaya.
"Hmph, sepertinya Adu du ingin berkawan lagi dengan kita…" sambung Gempa sambil tersenyum kecil.
"Benar. Dan satu lagi, kalian harus cepat menemukan teman-teman kalian sebelum terlambat, karena jika terlalu lama, maka mereka tidak akan pernah bisa lagi kembali ke sini," jelas Adu du.
"Hah?! K-kenapa?" tanya Gempa tak percaya.
"Yah, aku baru saja menyadarinya, karena bagaimana pun juga senjata ini belum sempurna," jelas Adu du.
"Kita akan lanjutkan perbincangan kita, tapi sebelum itu, sebaiknya kau scan dulu tubuh Boboiboy Gempa ini, Ochobot," lanjut Adu du.
"Oke…" Ochobot mulai meng-scan tubuh Gempa kemudian mengkalkulasi semua data yang didapatnya.
"A-apa-apan ini…?" kaget Ochobot.
"Ada apa, Ochobot? Apa terjadi sesuatu?" tanya Gempa.
"Datanya…" jika saja Ochobot memiliki mulut, mungkin saja robot tersebut sudah menelan ludah sekarang saking terkejutnya.
"Data dari keempat elemen Boboiboy lainnya…menghilang!"
.
.
.
To Be Continued
Fyuh…selesai juga chapter tiga…maafkan saya yang telat banget update fict yang satu ini. Dan kayaknya saya memang nggak bisa update cepat untuk fict ini karena masih harus nyari referensi juga. Maklum, belum berpengalaman… *di tabok*
Chapter ini sebenarnya mau saya munculkan Blaze dan Fang sama Ice dan Gopal tapi sayangnya ternyata bagian Blaze dan Fangnya kepanjangan jadi akhirnya saya potong untuk chapter selanjutnya aja deh.
Ohohoho…apa ada yang tau di dunia mana Fang dan Blaze terperangkap? Dan kira-kira apa yang membuat Adu du malah berbalik membantu Gempa dan Ochobot? Lalu kenapa Gempa dan pecahan Boboiboy lainnya tidak hilang ingatan meski terpisah sangat jauh dan lama? Well, itu semua akan dijelaskan di chapter selanjutnya bersama dengan bagian Ice dan Gopal.
O iya, soal review-review kalian, maaf saya nggak bisa balas saat ini, tapi saya janji akan membalasnya di chapter berikutnya nanti. Dan bagi yang sudah mereview, mem-fav, follow, dan membaca fict ini saya ucapkan terima kasih yang sebesar-sebesarnya ya~ ^^.
Oke, sampai sini saja. Dan mohon di maklumi, fict ini kayaknya nggak akan lanjut cepat karena masih harus bagi waktu sama fict-fict yang lain… begitulah…tapi saya tetap akan berusaha untuk mengupdate fict ini. Jadi yah, mohon berikan tanggapan kalian di kotak review nanti ya~! ^^
All right, sampai jumpa lagi di next chapter!
Review Please~!
