*DON'T LEAVE ME * PART 3
CAST:
KIM JONGIN
OH SEHUN
PARK CHANYEOL
HWANG ZI TAO
LUHAN
KIM MINSEOK
BYUN BAEKHYUN
.
.
.
.
Maaf ff nya lama banget di terusinya dan terimakasih kepada para pembaca karna udah mau nunggu ini ff. ok aku gak mau banyak intro.
.
.
SELAMAT MEMBACA. BAGI YANG GAK SUKA MENDING GAK USAH BACA. GOMAWO
.
.
.
Seorang namja manis berdiri di depan pintu kayu yang kini tertutup sangat rapat, senyum manis terlukis di wajah manisnya, jari jari lentiknya mengelus bulu halus seekor kucing berwarna kuning yang berada di pangkuannya.
PUK
Sebuah tepukan mendarat di pundak namja manis itu dan dia mengalihkan pandangnnya kepada sang pelaku penepukan, di lihatnya seorang namja tak kalah manis darinya, namja dengan hanbok ungu itu menatap namja manis itu penuh Tanya.
" apa yang sedang kau lakukan di sini jongin ?"
Namja yang di panggil jongin kembali mengalikan pandangannya ke pintu kayu yang sedari tadi menjadi objek pandangannya.
"aku hanya ingin melihat anak panda itu minseok hyung"
"oh anak itu, sejak malam itu dia tak pernah keluar kamarnya dan tidak menyentuh makanannya, kurasa dia berniat ingin membusuk di kamar itu"
"sungguh? "
"yah dan kurasa dia memang telah membusuk perlu aku periksa apa anak itu sudah mati atau belum"
"yah lakukanlah minseok hyung"
Namja yang di panggil minseok itu melangkahkan kakinya ke pintu kamar tersebut, tangan lentiknya menyentuh pintu tersebut dan saat minseok menggeser pintu tersebut berniat membukanya.
SREKK
BRAKKKK
"ARGHTT BERENGSEK KAU "
"hahahaha"
Minseok menatap tajam namaja manis yang kini sedang tertawa cukup keras hingga membuatnya merasa jengkel, bagai mana minseok tak jengkel saat dia mencoba membuka pintu itu, tiba tiba pintu itu kembali di dorong sangat keras hingga membuat jari tangan minseok terjepit, dan minseok bersumpah akan mencincang anak panda itu jika anak itu keluar.
Jongin tersenyum lebar kearah minseok.
"anak panda itu masih hidup"
Setelah mengatakan itu jongin segera melangkah menjauhi kamar tersebut.
Tok
Tok
Tok
Minseok mengetuk pintu kamar itu namun tak ada jawaban dari sang pemilik kamar.
"jika kau ingin pergi pergilah sekarang, jangan sampai kau mati di sini, kau mengerti bocah?"
Tak ada jawaban yang di dapat minseok hanya keheningn.
"diam ku anggap kau mengerti"
.
.
.
Minseok menatap jemarinya ini benar benar menghawatirkan, minseok yakin jika bekas luka ini tak akan hilang dalam waktu singkat.
Minseok menghelankan nafas, tiba tiba langkahnya terhenti saat minseok melihat luhan yang kini sedang berlatih di ruang latihan, ke dua tangan minseok di lipat di dada dan punggungnya ia tempelkan di dinding yang ada di belakangnya, matanya hanya menatap satu objek di depannya, minseok tersenyum, melihat objek di depannya, dengan baju latihan, pedang kayu yang ada di tangannya, dan jangan lupa keringat yang mengalir dari dahinya membuat senyum minseok semakin lebar.
"aku tau aku tampan tapi kau tak perlu melihatku sampai segitunya minseok, kau mulai tertarik padaku, apa sekarang kita resmi menjalin hubungan "
Minseok hanya mendengus dan memutar arah untuk kembali ke ruangannya, minseok menyesali tingkah bodohnya di depan rusa sialan yang sok tampan yang sayangnya memang tampan.
"kau mau pergi ke mana manis? Tak maukah kau menemaniku malam ini?"
"tutup mulutmu sebelum aku potong lidah mu itu luhan "
"jika memotong lidahku bisa membuatmu menjadi miliku kau boleh melakukannya "
"pergilah "
"aku tak mau, aku luhan akan terus mengikuti minseok ku tercinta "
"meski aku pergi ke neraka sekalipun?"
"kenapa tidak "
"kau benar benar gila "
"kaulah yang membuat aku tergila gila "
Minseok menghelankan nafasnya dan melangkah lebih cepat lagi.
.
.
.
Jongin tersenyum lembut dan mengusap kepala seorang namja yang tertidur di pangkuannya.
"dia baik baik saja"
"siapa yang kau maksud sehun-ah?"
"tentu saja peliharaan baru mu itu"
"ah anak panda itu? Kurasa dia baik baik saja "
"kau memang seperti itu yah "
Jongin tersenyum manis dan menatap wajah tampan yang ada di pankuannya tersebut.
"menurut mu bagai mana apa anak itu akan bertahan? "
"anak manja yang hanya bisa menangis saat melihat pembunuhan yang kita lakukan, menurutmu apa yang akan aku katakan?"
"dia tak akan bertahan lama"
"kau memang mengerti aku "
"yah karna aku sudah terlalu terbiasa bersamamu , sehun , apa kau mendengar kabar dari nya ?"
"siapa yang kau maksud ?"
"kau tak tau siapa yang aku maksud?"
"tidak dan aku tak mau tau jadi jangan sebut namanya saat kau bersamaku "
"oh ayolah sehun, kau dan dia kan "
"AKU BILANG BERHENTI MEMBAHASNYA "
Sehun bangkit dari tidurnya dan mencengkram ke dua bahu jongin menatap bola mata itu tajam, jongin kembali menunjukan senyum manisnya dan mencoba melepaskan cengkraman keras sehun. namun nihil cengkraman itu begitu keras dan jongin sadar jika kini sehun sungguh sungguh sedang marah.
"maafkan aku sehun, aku tak akan meninggalkan mu, sungguh aku tak akan pernah meninggalkanmu di sini sendiri, aku kim jongin bersumpah tak akan meninggalkan oh sehun di neraka ini sendiri "
Sehun menatap mata jongin lembut dan perlahan cengkraman di bahunya melonggar, dan hal itu di manfaat kan oleh jongin, ke dua tangannya terangkat dan membawa kepala sehun bersandar di bahu sempit jongin, jongin memeluk erat sehun dan mengusap rambut sehun dengan lembut.
Jongin tau dan jongin sadar jika sehun takut ditinggalkan olehnya, sehun yang sedari kecil terus bersamanya, menginjak tanah yang sama, berada di bawah atap yang sama, menghirup udara yang sama , makan di meja yang sama, tidur di tempat yang sama. Tentu hal tersebut membuat rasa takut di tinggalkan semakin besar. Dan jongin tau sedingin apapun sehun dia tetap manusia yang membutuhkan seseorang untuk bersandar, jongin pun sadar jika hanya dia yang menjadi tempat sandaran sehun sekarang.
Tapi jauh di dalam lubuk hati jongin, jongin merindukan orang lain, orang yang dulu selalu bersamanya orang yang mengajarinya, orang yang membuatnya kuat hingga sekarang dan orang yang pernah di cintainya juga sekaligus hampir di bunuhnya. Jongin akui jika dia memang naif dan serakah, di dekapanya ada sehun namun dia memikirkan orang yang jauh entah di mana.
.
.
.
.
Minseok menatap pintu kayu yang masih tertutup rapat itu sekali lagi, minseok menghelankan nafasnya dan berjalan mendekati pintu tersebut, punggungnya ia sandarkan di balik pintu kayu itu, dan matanya memandang langit malam yang kelam.
"heh bocah sampai kapan kau kan sepertiini?"
"…"
"apa kau kemari hanya berniat untuk membusuk di dalam sana ?"
"…"
"kau datang dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi namun berahir di ruangan sempit ini bukankah ini lucu?"
Tak ada jawaban sama sekali, namun minseok yakin jika penghuni kamar itu masih mendengarnya, minseok bisa mendengar nafas yang memburu di dalam sana.
Minseok menyerah, dia berpikir jika bocah itu akan keluar sendirinya entah itu hidup atau mati.
.
.
.
Minseok berjalan di sekitar markas, dan matanya tak sengaja melihat sesosok namja yang duduk di atas batu besar di pinggir kolam, minseok menghelan nafas dan melangkah mendekai namja tersebut.
"kau belum tidur jongin?"
Namja yang ternyata jongin tersebut segera memalingkan wajahnya melihat pemilik suara tersebut.
"ah minseok hyung, yah seperti yang kau lihat aku belum tidur"
"memikirkan sesuatu?"
"yah aku sedang memikirkan sesuatu"
"mau bercerita?"
"apa yang harus ku ceritakan hyung "
"apa saja yang ingin kau ceritakan padaku agar membuatmu sedikit lebih tenang"
"aku sekarang sedang bingung hyung "
"apa yang membuatmu bingung "
"beberapa hari yang lalu aku bertemu dengannya "
"dengannya. Siapa?"
"park chanyeol"
Minseok memandang jongin tak percaya, melihat raut wajah yang di tunjukan jongin sekarang membuatnya ragu untuk mempercayai apa yang di katakana oleh jongin sekarang.
"aku sungguh sungguh bertemu denganya, tak ada yang berubah darinya, hanya dia semakin tinggi dan tampan saja "
"jongin"
Jongin menatap minseok yang kini mengubah nada suaranya menjadi serius, minseok manatap mata jongin dalam.
"apa sehun tau?"
"aku tak bisa bercerita padanya, itu akan menjadi tekanan tersendiri untuknya"
"jong, aku tau kalian bertiga bersahabat, tapi kau harus ingat jongin chanyeol adalah seorang penghianat dan jika kau berhubungan dengannya tanpa sepengetahuan ketua dan hal itu terdengar oleh orang orang pemerintahan itu, maka kau akan di anggap sebagai mata mata seorang penghianat, kau akan di hukum jongin, jadi mulai sekarang jika kau bertemu dengannya segera laporkan "
"tidak"
"jongin"
"HYUNG , chanyeol hyung sama berharganya seperti sehun untuk ku, aku bersyukur dia masih baik baik saja "
"lalu bagai mana dengan sehun?"
"sehun"
Jongin kembali menatap langit yang kelam tanpa bintang
"sehun dia tidak akan baik baik saja, aku tau dia pasti akan terluka, tapi aku bisa apa?"
"jongin "
"sudah malam aku mengantuk aku ingin tidur "
Jongin menegakkan tubuhnya dan melangkan meninggalkan minseok yang menatap punggung nya.
.
.
.
Seorang namja berhanbok biru sedang duduk di atas atap rumah, dan namja lainnya berdiri di belakang namja tersebut dengan sebuah kipas yang ada di tangannya.
"malam yang membosankan bukan park "
"tak bisakah kau meninggalkan aku sendiri byun?"
"meninggalkan mu sendiri memberi resiko besar untuk ku"
"kau benar benar cukup menyebalkan,beruntung aku masih memiliki belas kasihan untuk tidak membunuhmu"
"membunuhku jangan bercanda park membuhuh seekor kupu kupu saja kautak mampu apalagi membunuhku"
"karna kupu kupu itu jauh lebih berharga daripada kau"
"sialan kau park, aku tak perduli, kau tak boleh mengacaukan rencana kita, kau sudah bergabung denganku jadi kau adalah tanggung jawabku"
"kau tak perlu serepot itu lagi pula aku belum memutuskan untuk menjadi kawanmu, mungkin saja besok aku kan menjadi lawanmu"
"terserah, tapi kau kan tanggung resikonya "
Namja byun itu mulai meninggalkan chanyeol sendiri, chanyeol menggenggam erat lengannya hingga kuku-kukunya memutih.
"sialan kau byun baekhyun, aku bersumpah akan mengulitimu jika kau melakukannya."
.
.
.
Jongin menetap nyalang pintu di depannya, kini batas kesabaranya sudah hilang mau tak mau dia harus menyeret panda itu keluar dari sarangnya, dan jongin bersumpah jika cara ini masih gagal dia akan membuka sarung pedangnya dan akan menguliti panda itu sekarang juga.
Suasana di depan kamar tao megitu menyeramkan terlebih lagi saat aura membunuh milik jongin keluar, ini terjadi bukan tanpa alasan, sejak tadi pagi jongin sudah berkata sangat lembut untuk membuat namja yang bersemayan di kamar itu untuk makan atau keluar walau hanya untuk menghirup udara di luar, namun bukan nya keluar namja di dalam malah semakin merapatkan pintu kamarnya, jongin yang masih bersikap lembut mencoba membuka pintu itu, saat pintu itu terbuka namja panda itu mendorongnya keras hingga membuat tangan jongin terjepit dan membuat tangan lentik itu memar dan berdarah, itu lah yang membuat jongin merasa kesal, karna tangannya sangat berharga baginya, tanpa tangannya dia tak akan bisa mengayunkan pedang yang sangat berharga untuknya.
"aku peringatkan sekali lagi, buka pintunya atau aku akan memaksamu membuka pitu itu"
Nada dingin keluar dari bibir tebalnya, tak ada lagi senyum lembut yang sering ia tunjukan untuk semua orang, yang ada hanya hawa membunuh yang begitu kental.
BRAKKKK
Jongin menendang pintu tersebut hingga pintu itu terpental dan membuat tao, penghuni kamar itu meringkuk ketakutan di ujung ruangan, jongin melangkahkan kakinya mendekati tao, tao kini bisa melihat kaki jongin yang ada di hadapannya.
"apa ini yang kau ingin kan? Kau ingin mati, jika begitu biarkan aku membunuhmu di sini sekarang "
Mendengar kata membunuh keluar dari mulut jongin, tubuh tao meregang seketika dan rasa takut yang semakin menghantuinya, tubuhnya bergetar, dan jongin jelas melihat itu namun jongin tetaplah jongin, dia tak akan perduli keadaan di hadapannya, jongin menarik kerah hanbok tao dan melemparkan anak itu ke luar ruangan, punggung tao rasanya mati rasa saat punggungnya dengan mulus menyentuh tanah, tao menatap takut jongin yang melangkah mendekatinya , langkah demi langkah tao mundur menjauhi jongin hingga punggungnya menyentuh dinding pembatas markas pasukan khusus, matanya membulat ketika dia melihat di tangan jongin sudah ada pedang, tao menutup matanya saat jongin mengayunkan pedangnya ke arahnya.
TENGGG
SING
Jongin menatap tajam sehun yang menangkis serangannya.
"letakkan pedang mu jongin"
Jongin tersenyum miring dan menatap sehun tajam.
"coba buat aku melakukannya oh sehun "
Sehun menghelankan nafasnya panjang, dia sadar ini akan menjadi pertarungan yang cukup melelahkan.
"minseok hyung bawa anak itu pergi, aku harus menjinakkan beruang manisku ini"
"wekk menjijikan,"
Minseok berlagak ingin muntah dan membopong tao untuk menjauh.
"kumohon jangan merusak ok, lakukan dengan baik "
Sehun hanya menatap minseok jengah, ini mungkin sudah sangat biasa di lihat oleh minseok, karna minseok tau yang bisa meredam amarah jongin hanya sehun, jadi dia hanya membiarkan mereka melakukan apapun yang mereka inginkan.
.
.
.
Minseok membantu mengobati luka tao, minseok tau saat ini tao pasti sedang merasa tertekan.
"kau melihatnya? Orang itu adalah jongin, jongin yang manis dengan senyum yang selalu ada di wajahnya"
"dia iblis"
"hahahaha"
Minseok tertawa renyah mendengar perkataan tao.
"iblis yah, kau benar jongin adalah iblis, tapi jika jongin iblis lalu aku apa? Iblis juga, lalu luhan? Sehun? dan semua penghuni pasukan khusus ? bukan kan dari awal sudah di katakana jika tempat ini tak seperti apa yang kau pikirkan, kami di sini bisa membunuh saudara kami sendiri, teman sahabat bahkan orang tua mu sendiri, inilah tempat yang sanggat ingin kau masuki, inilah kami mesin pembunuh yang di ciptakan oleh pemerintah "
Tao menatap mata minseok, mencari kebohongan yang ada di matanya namun nihil, seperti semua yang minseok katakana adalah kebenaran.
"jika kau tak mampu bertahan di sini kau bisa pergi kapan saja "
"tapi kau pasti akan mati setelah keluar dari sini bocah"
JLEB
TRENG
Luhan tersenyum bangga setelah menghindari dan menangkis kunai yang di lempar minseok ke arahnya.
"aku belum memiliki niat untuk membunuhmu luhan, jika saatnya tiba kau akan mati di tanganku"
"aku rela mati di tanganmu dari pada aku harus mati di tangan orang lain sayang "
Minseok menghelankan nafasnya jengah, namja itu benar benar menyebalkan menurutnya.
"tak bisakah kau menutup mulutmu"
"minseok sayang, lebih baik dia tau sekarang daripada dia menjadi hantu gentayangan."
"oh tuhan luhan. Tak bisakah kau diam saja "
Luhan melangkah kearah tao dan menyentuh bahu namja panda tersebut dan mendekatkan bibirnya di telinga tao.
"kau sudah memilih ada di sini dan saat kau menyerah kau hanya punya 2 pilihan bunuh diri atau di bunuh"
SHING
Luhan tersenyum menatap minseok yang sekarang mengarahkan pedang pendeknya di lehernya.
"biarkan dia mengetahui kenyataan ini minseok, ""
"kenapa mulutmu itu tak bisa diam "
"bibirku akan diam jika bibir manis mu bisa menempel di sini "
Luhan menunjuk bibirnya sendiri membuat minseok merasa jiji dan kembali memasukan pedangnya.
"kau akan mempu membunuhku sayang "
"berhenti memanggilku sayang "
"sayang syang sayang "
Minseok segera pergi dari tempat itu sebelum dia benar benar memuntahkan makannan yang sudah ia makan tadi pagi.
Setelah kepergian minseok luhan menatap tao yang tak bergerak sejak tadi.
"apa yang aku katakana itu kenyataan, orang yang sudah masuk ke mari tak akan pernah bisa pergi lagi kecuali kau ingin mati, atau jika tuhan masih memberimu keajaiban kau mungkin bisa selamat, tapi itu tak mungkin. "
Luhan melangkahkan kakinya pergi menjauh dari tempat itu, sedangkan tao hanya dapat meringkuk ketakutan tangannya memeluk kakinya dan kepalanya ia tundukan, lelehan air mata terus mengalir dari pelupuk matanya.
"appa eomma tao takut, apa ini aku membuat kesalahan dengan datang kemari hiks hiks"
.
.
.
Jongin menatap wajah sehun yang duduk di hadapannya dengan telaten mengobati luka memar yang ada di tangannya, mata jongin tertuju pada pipi sehun yang terdapat sedikit goresan, tangan jongin terangkat menyentuh pipi sehun, sehun yang merasakan tangan jongin menyentuh pipinya segera menatap wajah jongin , dan benar saja matanya kini berkaca kaca, sehun menghelankan nafasnya dan menangkup pipi jongin menatap matanya langsung.
"luka itu pasti karna aku"
"tak apa, ini bukan apa apa"
"apanya yang bukan apa apa, kau terluka sehun dan luka itu di sebabkan olehku"
"aku ini kuat ini hanya goresan jongin "
"tapi kenyataan aku sekarang bisa melukaimu, membuatku takut suatu saat nanti aku akan membunuh mu"
Sehun menghelankan nafasnya, tak bisa di pungkiri kemampuan jongin memang sangat hebat dan kenyataan bahwa suatu saat nanti dia akan mati, tapi sehun bahagia jika harus mati di tangan jongin, yah dia sangat rela jika yang menghabisi nywanya dalah jongin.
Sehun menarik jongin ke dalam pelukannya dan mengelus punggungnya lembut sedangkan jongin hanya bisa diam menerima perlakuan sehun terhadapnya.
.
.
.
Minseok memasuki kamar sehun dan melihat jongin yang sedang tidur di paha sehun.
"dia sudah tidur?"
"yah seperti yang kau lihat "
"syukurlah"
Minseok segera menghampiri jongin dan menyentuh dahinya, lalu mengecek keadaan tubuhnya, sehun hanya mengamati apa yang di lakukan oleh minseok.
"saat dia bangun berikanlah teh ini untuknya "
"yah aku mengerti"
"dia terlihat baik baik saja "
"terlihat, aku tak suka kalimat itu hyung "
"aku harus berkata apa karna itulah yang terjadi "
Minseok menepuk bahu sehun dan tersenyum lembutke arahnya
"jagalah dia. Hanya kau yang bisa melakukannya sehun"
"yah, terimakasih "
Minseok keluar dan sedikit melirik jongin yang tidur dengan lelap di samping sehun, senyum terulas di bibir minseok.
Sehun mengelus rambut jongin sayang matanya tak dapat beralih dari wajah manis jongin
.
.
.
Minseok menatap langit malam yang penuh dengan bintang. Hingga seseorang berdiri di sampingnya, matanya tetap tak beralih dari objek pandangnya.
"apa bintang di langit lebih menarik dari aku?"
"tentu saja."
"sampai kapan kau kan mengacuhkan ku dan menyangkal kenyataan bahwa kau pun mencintaiku"
"cinta? Kau bercanda luhan, tak ada kata cinta dalam hidupku "
"kau haya menyangkal "
"aku bukan kau yang datang kemari dengan perasaan cintamu itu. Aku datang kemari hanya untuk memenuhi keinginan orang tua ku"
"keinginan orang tua mu? Orang tua mu yang mana?"
"tutup mulutmu."
"orang tua, yang melindungi anaknya dan mengusirmu lalu membuangmu kemari, orang tua yang menganggap kau sampah dan berulangkali mencoba membunuhmu, atau orang tua yang menganggap mu sebagai pembawa sial atau orang tua yang memang pantas untuk ku bunuh"
"mereka bukan membuangku ke mari,mereka hanya ingin agar aku belajar di sini, mereka tak menganggap ku pembawa sial, mereka hanya terlalu menyayangiku. Yah mereka hanya terlalu mencintaiku "
"perlukah aku pergi dan membawakan kepala mereka ke hadapan mu sekarang "
"luhan hentikan, itu tak perlu kau lakukan mereka sudah bahagia sekarang "
"aku bisa membunuh orang tua ku sendiri demi dirimu, jadi sangat mudah bagiku untuk membunuh orang tua mu dan hyung sialan mu itu"
"kau tak perlu melakukanya, lagipula aku percaya perlakuan mereka padaku hanya rasa cinta yang berlebihan "
"terus saja kau berpikir seperti itu, tapi jika sampai hyung sialan mu itu berani menyentuhmu lagi, dengan atau tanpa persetujuan mu aku akan membunuhnya saat itu juga "
"hem"
Hanya deheman yang keluar dari bibir tipis minseok, senyum terlukis di wajah manisnya matanya terus mengarah ke langit, namun hati luhan seakan di tusuk oleh belatih saat dengan kuarng ajarnya air mata itu jatuh bagai aliran sungai, mata indah itu memerah dan luhan bersumpah akan membunuh keluarga minseok jika dia melihat batang hidung mereka, luhan melangkah berdiri di depan minseok dan menariknya ke pelukannya, luhan tak akan pernah melepaskan minseok. Luhan terlalu mencintai namja manis di dalam pelukannya ini.
Luhan menang telah di butakan oleh cinta, saat pertama kali luhan melihat minseok adalah saat di mana minseok akan membunuhnya, luhan sadar benar bahwa minseok datang ke kediamannya untuk mengambil nyawanya dan keluarganya, karna luhan tau ayahnya telah menentang raja, dan kematian sudah pasti untuk keluarganya, namun luhan jatuh cinta pada pandangan pertama pada orang yang saat itu bertugas untuk membunuhnya, luhan mengiyanati keluarganya menghaisi mereka tana sisa lalu pergi kemana minseok melangkah.
Luhan adalah bunga matahari dan minseok adalah matahari bagi luhan, dia akan mengikuti kemanapun matahari pergi. Dan luhan semakin jatuh kedalam cinta yang ia miliki untuk minseok saat tau latar belakang minseok, minseok adalah anak haram dari salah satu keluarga bangsawan, tak ada yang mencintainya di keluarga tersebut, dia sering di perlakukan kasar, dan sering di lecehkan oleh hyungnya, dan berahir di depan gerbang pasukan khusus. Minseok yang saat itu baru berusia 8 tahun tak mengerti kenapa dia di biarkan diam di situ oleh ibu dan hyungnya, namun semakin ia dewasa semakin dia mengerti bahwa minseok tegah di buang.
.
.
.
Jongin tersenyum lembut pada minseok dan luhan yang datang bersama.
"apa yang terjadi? Kalian sudah resmi sekarang?"
Jongin menatap minseok nakal
"berhenti berkata seperti itu. "
"ah wajahmu memerah minseok hyung"
"yak kim minseok aku bilang hentikan "
"sudah hentikan jongin, kau tak melihat minseok seperti akan membunuhmu sekarang?"
"baik sehun aku akan diam "
"kau hanya patuh pada sehun hah"
Jongin hanya tersenyum membenarkan perkataan minseok, minseok hanya mendengus kesal, sedangkan luhan hanya menatap gemas minseok.
Sehun berdehem dan menatap ke tiga orang yang ada di depannya.
"malam ini kita harus mendapatkan informasi lebih kalian mengerti"
"yah kami mengerti" jawab mereka serempak
"aku akan berkeliling seperti biasa"
"aku akan mengawasi keadaan sekitar"
Jongin menatap luhan dengan menaik turunkan alisnya dan senyum jailnya
"kau akan mengawasi sekitar atau hanya memperhatikan minseok hyung luhan hyung?"
"heh bocah tutup mulut mu "
"ah kan, ketua lihat dia hanya akan mengawasi minseok hyung"
"kau hanya tinggal membunuhnya minseok "
"tentu aku akan melakukannya jika rusa ini menghalangiku ketua "
Luhan menatap jongin tak suka sedangkan jongin hanya tersenyum menampilkan eyesmile nya.
.
.
.
Jongin berjalan berkeliling udara begitu dingin malam ini dan jongin benar benar tak suka udara seperti ini.
Uhuk uhuk uhuk
Jongin menghentikan langkahnya dadanya terasa sesak, dan tenggorokanya terasa sakit sekali, jongin benci jika ini terjadi.
"apa anda baik baik saja ?"
Jongin mengalihkan pandanganya ke sumbersuara, di sana di depan matanya jongin melihat seorang namja berhanbok ungu tubuhnya lebih kecil darinya dan wajahnya yang cantik juga jari jari lentiknya yang memengang sebuah kipas tersenyum ke jongin dan menghampirinya, jongin tersenyum lembut kearah namja tersebut.
"tenang saja aku baik baik saja, mungkin karna udara mala mini sangat dingin "
"ah benerkah, sepertinya benar udara di sini sangat dingin, kau harusnya menjaga kesehatan mu"
Namja itu melangkah mendekati jongin dan menepuk dahunya lembut.
"seharusnya kau tak berjalan sendirian di tengah kegelapan seperti ini, apalagi dengan tanpang manismu itu"
"bukan kah kalimat itu lebih tepat di tunjukkan untukmu yang memiliki wajah cantik "
"ah kau benar, seharusnya aku kemari bersama seseorang, tapi jika aku pergi dengannya dan bertemu denganmu aku takut dia akan menghiyanatiku danpergi kesamping mu"
Jongin menatap dengan ekor matanya namja yang kini berada di belakangnya.
"apa maksudmu ?"
"aku kemari bersamanya dan dia sangat menyukai namja manis sepertimu. Jadi karna itu kau harus menjaga kesehatanmu kim jongin"
Jongin segera memutar tubuhnya dan nihil namja itu telah menghilang entah kemana.
.
.
.
Minseok merapihkan pakayannya dan tatanan rambutnya, menunggu seseorang memasuki kamarnya, dia berulangkali menghelankan nafasnya, perasaannya gelisah entah karna apa.
SREKKK
Pintu kamar itu terbuka minseok bersiap berdiri dengan hanbok ala gisaeng nya, namun saat minseok melihat siapa orang yang datang mata minseok membola wajahnya tiba tiba pucat pasi, tubuhnya tiba tiba sulit untuk di gerakkan, hingga ahirnya tubuhnya kembali terjatuh.
"ah lama tak berjumpa kim minseok"
.
.
.
.
.
TBC
Hahahahahahah #tetawa ala setan
Terimakasih jika ada yang masih ingat ini ff , hehe aku sadar diri kok ff ku ini gak menarik jadi makasih udah mau maba sampai ahir ^_^
Hampir setahun lebih aku baru bisa nerusin ini cerita, sebenarnya aku udah ogah buat nerusinya gak dapet inspirasi aja gitu, beberpapakali aku rombak tapi tetep aja gak begitu menarik,di tambah lagi aku udah terlanjur masukin tao ke ff ini, makin membuat aku males nerusinya, tapi kalo gak di terusin aku selalu merasa bersalah sama yang nunggu ff ini jadi harus aku lanjut. Semoga aku bisa melanjutkannya sampai end yah
