Warning : OC, Kekurangan disana-sini, Alternative-Reality, alur mundur-maju.
Selamat menikmati.
.
Chapter 3 : Tidak pernah dimaksudkan untuk dimiliki
"Aku akan pulang."
"Jika tempat itu yang kau sebut rumah..." pria itu tidak berbalik "...Pergilah."
Dia tidak berbalik saat aku mengatakan akan pergi. Tapi aku tahu dia sedang tertawa. Aku tahu dia sedang menertawai dirinya sendiri. Akupun begitu. Bukankah ini ironi?
Sekarang musim gugur. Meski disebut hutan terlarang tetap saja memiliki kesan indah. Ketika kau melihat dedaunan dihutan ini berwarna merah kecoklatan jatuh satu persatu, bagai latar belakang perpisahan kami. Angin musim gugur menerpa tubuhku yang hanya dibalut mantel tipis abu-abu. Namun aku tak merasakan dingin. Begitupun dia.
"Aku tahu kau kuat..." berkas-berkas cahaya matahari yang membias diantara pepohonan membuat punggungnya terlihat seperti kesepian "...Aku yakin kau akan tetap hidup―" hatiku terluka. Entah karena apa, "―Meski aku melupakanmu."
"Masa depan tidak akan ada yang berubah," sebenarnya itu sebuah pertanyaan dibandingkan pernyataan.
"Jika ada yang berubah..." dia mulai berbalik menghadapku "...Aku pastikan aku yang sekarang akan tetap disini."
Bukankah ini terlihat aneh. Dia –Yang –Namanya –Tak –Boleh –Disebut berkata hal yang tidak aku mengerti. Aku berbalik. Membelakanginya, pergi menjauh darinya. Pergi menjauh dari hutan terlarang. Samar-samar terdengar suara teriakan memilukan diiringi suara debuman keras. Aku ingat dia berteriak Confringo. Namun aku tak berbalik, aku tetap pergi meniggalkannya.
Aku tahu. Seharusnya masa depan tidak boleh berubah. Dan ini yang terbaik, toh aku yakin Harry akan membunuhnya tanpa harus aku mengubah masa ini. Meski aku berulang kali melewati masa dimana aku harus bertempur. Tidak ada yang mesti diubah maupun berubah.
Begitupun dia. Aku rasa.
.
Harry Potter © JK Rowling
Will you be My Parents? © Saitou senichi
.
Langit dengan cahayanya yang menyilaukan.
Angin bertiup pelan menerbangkan beberapa helaian daun dan ranting kecil yang rapuh. Bukankah ini pemandangan yang romantis? Ya romantis jika kau berbaring dirumput hijau dengan kekasihmu atau keluargamu.
"Ssshh― kau mengantuk?" ya aku ditemani oleh Clara.
"Tidak."
Kepalanya kembali terkulai disampingku. Kami berdua―Aku dan Clara berada di hutan terlarang. Aku berbaring direrumputan dengan seekor ular besar―Clara yang melingkariku. Kepalaku sengaja bersandar dibagian samping perut Clara. Setelah hadiah dari suara aneh itu, aku selalu menyempatkan berkunjung ke hutan ini. Tentunya dengan diam-diam. Pernah sekali dua kali aku kedapatan mengendap-endap keluar saat makan siang oleh prefek, setelah itu aku hanya diceramahi beberapa saat. Namun bukan Suri namanya jika langsung menurut.
Aku mengelus sisik dekat mulut Clara "Hey, kau tahu―" Clara hanya mendesis menandakan bahwa ia mendengarkanku "―Aku penasaran dengan suara itu, kau tahu siapa dia?" tanyaku.
Angin bertiup kencang. Gesekan antara dahan ranting menimbulkan suara aneh.
"Ssshh―My Lord― Ssshh."
Aku memutar bola mataku malas. "Clara.. Hari ini aku ditanyai oleh beberapa senior―" aku ingat kejadian beberapa jam yang lalu. Beberapa senior dari Ravenclaw dan Gryffindor menggerumuniku "―Mereka bertanya apa aku cukup pantas mengambil pelajaran yang seharusnya diambil pada tahun ke tiga," seharusnya mereka tanyakan pada profesor McGonagall atau pada profesor Septima Vektor, mengapa aku yang baru tahun pertama dibolehkan mengambil mata pelajaran itu.
"Bukankah mereka bodoh? Menanyakan sesuatu yang bahkan mereka tahu alasannya," aku mendengus.
"Ssshh― mereka iri―Ssshh."
"Iri?" aku tersenyum remeh. Ini adalah kebiasaan baruku, maksudku bercerita apapun yang terjadi di Hogwarts kepada Clara. Kebiasaan baru yang aneh.
Tiba-tiba Clara berdesis tajam dengan kepala mulai berdiri tegak. Ekornya mengitari tubuhku dengan posesif.
"Ada apa Clara?" aku bertanya sembari melemparkan pandanganku kearah pandangannya.
"S..Suri?"
"Albus?" aku menatapnya heran "Clara tak apa dia temanku."
"Ce...Cepat lari dia monster!" dia mengacungkan tongkat sihirnya kearah Clara dengan wajah terlihat ketakutan. Membuat Clara berderak liar. Aku berbisik padanya "Tak apa Clara, dia tak jahat."
"Albus dia bukan monster―" wajah Albus melunak "―dia Clara."
"Clara?" dia sedikit menurunkan tongkat sihirnya.
Aku hanya mengangguk. Sedikit menepuk ekor Clara yang melingkariku, dia mulai melepaskan ku dan memberi jalan kearah Albus.
Belum sampai beberapa meter dari Clara. Albus segera menarikku "Bukankah nama itu terlalu berlebihan untuk seekor ular besar―" ia masih dalam pose menyerang "―Meski ular itu seekor betina."
Aku terkekeh pelan sembari melepaskan lengannya "Memang itu namanya, dia tidak berbahaya. Dia hewan peliharaanku. Sudah seperti teman sih."
Sekarang wajah Albus benar-benar tidak elit. Lihat saja matanya yang melotot dan mulutnya yang berbentuk 'O' "Albus. Jangan pernah beritahu siapapun tentang keberadaan Clara," aku memperingatkan.
"O...Oke, sebaiknya kita segera ke kastil." Albus menarik lenganku. Sebelum benar-benar pergi aku melambaikan tangan kearah Clara.
"Sudah ku duga ada yang aneh denganmu."
Aku menoleh kearah Albus "Aneh?"
"Ya pantas saja kau selalu menghilang saat makan siang. Ternyata kau berdua-dua'an dengan errr Clara."
"Oke maaf," Aku tertawa mendengarkan Albus berkata Clara dengan nada aneh "Apa sekarang kelas Herbology?"
"Ya."
Kami berjalan dan sedikit berlari-lari menuju rumah kaca. Jubahku sepertinya sedikit kotor. Setelah membuka pintu rumah kaca, Albus berkata "Maaf profesor, kami sedikit tersesat."
Sebelah alisku naik, sepertinya aku pernah membuat alasan macam itu.
Profesor yang terlihat ramah itu mempersilahkan kami masuk lalu kembali melanjutkan penjelasan tentang tumbuhan berwarna merah darah tersebut. Kalau dilihat baik-baik, wajah profesor Longbottom terlihat ramah mendekati bodoh. Ya walau memang dia ramah.
"Alasan yang bagus," aku berkata dengan nada geli.
"Diamlah," Albus berkata sembari mendorongku kearah kursi yang kosong dengan tumbuhan aneh dihadapannya.
"―Tumbuhan ini dinamai Plantele ţipa , dinamai seperti itu karena terkadang ia akan menjerit bila bersentuhan dengan sesuatu yang jahat atau sesuatu seperti rasa iri yang mendalam."
Sebelum profesor melanjutkan kalimatnya, beberapa siswa berseru "Whuuuu~" dengan nada dibuat menyeramkan dan tangan mereka terjulur kedepan dengan jari-jemari dibuat bergerak serentak.
"Hei Al, kau kemana saja?" suara familiar itu mengalihkan pandanganku dari orang-orang itu.
"Sedikit tersesat saat mencari Suri,' jawabnya diiringi senyuman.
Wajah Rose menyembul disamping tubuh Albus. Dia tersenyum lalu menyapaku "Hai!"
Aku segera menunduk. Memperhatikan tanaman aneh dengan daun dan batang berwarna merah.
"―Tapi untungnya di Hogwarts tidak memiliki sesuatu yang jahat. Jadi sayang sekali kita tidak bisa mendengarkan jeritan tumbuhan ini," profesor menyentuh tumbuhan itu dengan telunjuknya. Tanaman tersebut tidak bereaksi apa-apa.
"Tapi profesor, bukankah Slytherin bisa dikatagorikan jahat?" celetuk gadis Gryffindor dengan rambut hitam pendeknya.
Siswa Slytherin segera menatap tajam gadis itu sembari mencibir yang ditengahi oleh profesor "Sudah-sudah―" ia memandang gadis itu lalu berkata "Miss Sloper, kau tidak boleh berkata seperti itu," profesor memperingatkan.
Aku memperhatikan tumbuhan aneh itu. tumbuhan yang katanya jika disentuh sesuatu yang jahat maka ia akan menjerit. Aku ingin menyentuhnya.
Coba kau sentuh lalu lihat apa yang terjadi.
Suara itu hadir kembali. Tentu saja aku akan mencobanya sebelum kau menyuruhku. Aku tidak jahat'kan? Saat jari telunjukku sedikit menyentuhnya. Hal yang terlihat adalah tumbuhan itu mengeluarkan cairan merah seperti darah. Lalu terjadi sesuatu yang membuat profesor dan seluruh siswa tak terkecuali aku tersentak hebat.
Terdengar jeritan, tidak bukan jeritan tapi bisa dibilang lolongan sendu menyakitkan hati keluar diantara luka yang tiba-tiba terbuat disisi-sisi cairan merah tersebut. Suaranya mirip Banshee.
Mataku membulat melihat reaksi ini. Semua siswa termasuk profesor melihat tumbuhanku yang tidak berhenti mengeluarkan darah dan lolongan menyakitkan itu. Albus menyentuh bahuku. Aku menggeleng pelan.
"Albus, aku tidak jahat'kan?" aku bertanya sambil memandag wajahnya. Dia tidak menjawab hanya menggeleng pelan.
Profesor mendekati mejaku. Raut keterkejutannya belum hilang "Miss Suri..." ia menggantungkan kalimatnya untuk melihat wajahku "...Ingat tumbuhan ini bila disentuh oleh sesuatu yang jahat akan menjerit―" pandangannya beralih pada tumbuhan yang masih mengeluarkan cairan merah "―Tapi ini melolong―" wajahnya terlihat sedih memperhatikan tumbuhan yang tak henti-hentinya mengeluarkan cairan merah tersebut "―Tenanglah. Kau bukan anak yang jahat," profesor tersenyum kearahku.
Beberapa detik kemudian suara tumbuhan itu menghilang bersamaan dengan darah yang menghilang pula. Apa yang terjadi? Kenapa dia berhenti? Saat aku lebih memperhatikan tumbuhan itu, mataku terbelalak. Tumbuhan itu mati, namun digantikan oleh tunas baru berwarna hijau dengan ujung daun berwarna biru langit.
"Jika didalam buku, tunas ini dinamakan Never Meant to belong.." hah? Apa? "...Tapi aku lebih menyukai nama Harapan baru. Tanaman ini dikatakan mampu membawamu kepada sesuatu yang benar-benar diinginkan atau sebaliknya. kau boleh memilikinya," dia tersenyum lalu mengakhiri kelas.
"Never Meant To Belong? Huh," Albus mendengus "Suri kau bukanlah orang jahat," kalimat Albus diintrupsi oleh Rose "Suri, aku tahu kau anak yang baik," yeah baik.
Semua siswa dikelas ini menghindariku. Terlihat dari cara mereka berjalan dan pandangan mereka. Itu bukanlah suatu yang buruk, akupun tidak menginginkan mereka tuk mendekatiku. Lebih baik aku bergegas menuju asrama untuk beristirahat.
"Suri, kau mau kemana?" Albus bertanya.
Sembari memegang pot dengan tunas baru itu aku berkata "Asrama."
Disepanjang jalan, seluruh siswa menatapku seperti ingin melempar sesuatu kearahku. Ini tidak baik. Siapa juga orang yang tahan akan tatapan tajam dari berbagai arah kepadamu. Oh ayolah aku hanya anak perempuan berusia sebelas tahun!
Never meant to belong.
Suara itu terdengar dingin, aku tetap melangkahkan kakiku menembus beberapa gerombolan siswa.
Seperti keberadaanmu saat itu.
Jantungku berpacu cepat. Apakah keberadaanku tak pernah diinginkan? Siapa kamu? Kenapa kamu sok tahu segalanya tentangku?
Seperti keberadaannya saat itu.
Keberadaannya? Siapa? Bisakah kau menjelaskannya? Aku menghentikan langkahku. Aku menggenggam erat-erat pot tersebut.
Kau adalah Anak –yang –tak –pernah – dimaksudkan –untuk –dimiliki.
Ini tidak benar! Madam Gillu pernah berkata; orangtua pasti menginginkan anaknya. Aku berlari beberapa kali menubruk siswa lain. Ini tidak benar! Suara itu bohong! Aku bukanlah anak yang tidak diinginkan!
Brak
Aku meringis memegangi pinggulku yang sakit. Aku tidak sengaja menubruk seseorang lagi.
"Kau baik-baik saja?" terdengar suara lembut menyentuh pendengaranku.
Saat aku mendongak. "Ya. Ibu," eh? Kenapa aku memanggilnya Ibu? Saat aku memperhatikan raut wajahnya yang terkejut aku tahu bukankah dia wanita yang berada di stasiun dengan Rose?
"Mrs Weasley, Miss Suri.. kalian tidak apa?" profesor McGonagall menghampiri kami.
"Maaf," aku segera mengambil pot tunas tersebut disampingnya.
"Tidak apa profesor," dia menjawab pertanyaan profesor McGonagall, dia membantuku berdiri "Em Suri?"
"Iya?" mataku menatapnya langsung ke bola matanya yang hangat. Entah perasaan apa yang berada dihatiku ini. Tapi saat melihat matanya saja aku merasakan kerinduan dan kehangatan yang tiba-tiba membludak.
"Kau tidak apa?"
Aneh sekali yang kurasakan. Setelah mendengar pertanyaannya aku ingin sekali berkata "Tidak! Tadi aku mendengar suara bahwa aku ini anak yang tidak diinginkan, tadi aku menyentuh tumbuhan yang katanya akan menjerit bila disentuh oleh orang jahat! Tidak, tidak!" tapi aku tidak se-naif itu.
"Iya, maafkan aku."
"Miss Suri, jangan berlarian di lorong jika kau tak ingin terjatuh lagi."
Aku tahu itu suara kepala sekolah. Setelah beberapa kali memberikanku wejangan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan sekitar lorong. Mereka pergi meninggalkanku yang diam membatu. Bukankah dia Hermione Granger? Ibunya Rose?
Bukankah ia wanita yang cantik?
Bukankah Rose beruntung memiliki Ibu seperti dia?
Aku juga ingin memiliki Ibu.
.
.
TBC
.
.
A/n : Maaf untuk Chapter kemarin yang berantakan. Wah saya senang sekali memiliki Readers tetap (Ngelap ingus dibaju Tom). Terimakasih untuk Moku-Chan, Nivellia Neil, Shin2054, Astro O'connor dan kak Ookami (yang aku paksa jadi kakak aku meski dia gapernah mau *grin*) tidak lupa untuk Mrs Malfoy & Istrinya Malfoy(?). Ada pertanyaan tentang Hugo. saya buat Hugo terlahir beberapa menit setelah Rose, jadi seperti sodara kembar tapi ngga kembar (?) jadi usianya 11thn sama ky Rose. diwarning aku cantumin AR untuk Hugo dan beberapa pertanyaan lainnya akan dijelaskan chapter berikutnya.
Terimakasih telah membaca dan juga untuk Silent Reader:D
Review?
