LET ME IN (Chapter 3)
PDA Presents
A/N: This chapter is full of FLASHBACK, the time when Yoon Jeonghan and his dark past formed and makes him what he is today.
.
.
.
God...
Please forgive him
Because I'm the one... who desires him this much
-oOo-
Disetiap senggang yang kau miliki, terkadang sekelebat masa lalu datang melintas begitu saja tanpa pernah kau minta. Jeonghan, disetiap malam selama hidupnya, selalu menatap refleksinya yang dipantulkan oleh cermin dengan jutaan bayang-bayang masa lalu yang akan diputar kembali oleh memorinya tanpa dapat ia cegah. Selalu ada cerita dibalik lukanya hingga ia sampai ke titik ini, titik dimana ia harus melakukan segala cara agar tetap hidup, memastikan jika nafasnya masih berhembus, dan nyawanya tidak akan pergi selagi cintanya masih tetap disini.
Mulai sekarang, selagi Choi Seungcheol masih ada dalam jangkauannya, Jeonghan tidak akan pergi kemanapun. Ia bertahan dari semua tekanan dan tentangan yang datang, meski itu artinya ia harus melukai orang lain. Karena bagi Jeonghan, tidak ada keadilan yang akan berpihak padanya jika bukan ia sendiri yang membuat keadilan itu untuk dirinya yang malang ini.
Jeonghan memoleskan krim secara perlahan dipermukaan wajahnya yang putih, seputih pintalan kapas dan sehalus lembaran sutra. Kamarnya terkunci. Jam analog didindingnya masih dalam perjalanan menuju 12 tengah malam yang artinya, Jeonghan punya kesempatan untuk membiarkan air matanya turun menodai wajah tegarnya, topeng terbaik yang ia miliki.
"Kau cantik, Yoon Jeonghan... Kau sangat cantik..."
Tangan kanannya pelan-pelan berusaha mengaplikasikan krim pada permukaan kulitnya yang basah, lalu mencoba memperbaiki keadaan dengan mengembangkan sebuah senyum dari bibirnya yang bergetar. Namun ternyata, senyum itu hanya membuatnya terlihat semakin buruk. Jeonghan melihat betapa menyedihkannya ia sekarang, sangat menyedihkan.
Haruskah ia berhenti sebelum semuanya berubah menjadi semakin buruk? Apa sebaiknya ia menyerah pada cintanya dan membiarkan Seungcheol bahagia dengan rumah tangga yang ia miliki?
Jeonghan ingin menghentikan sosok monster yang ada didalam dirinya. Tapi... Apa ia bisa?
.
.
.
Inilah Yoon Jeonghan 3 tahun yang lalu. Fisiknya memang menarik sejak dulu, nilai akademisnya memang tidak begitu gemilang namun semua orang di sekolah ini tetap menyukainya. Beberapa gadis merasa nyaman berteman dengannya, semua guru menyukai Yoon Jeonghan karena sikap manis dan patuhnya, dan tak ada pria disekolah ini yang tidak terjerat oleh pesona yang ia miliki.
Yoon Jeonghan bahagia, hanya dengan mengetahui jika dirinya diterima oleh semua orang disini.
"Yoon Jeonghan, ikut aku."
Seseorang menarik tangannya saat bel istirahat baru saja berbunyi. Bisa dibilang, ini juga yang menjadi sebuah awal berubahnya takdir seorang Yoon Jeonghan, tentang cara pandangnya soal hidup dan mencintai.
"Aku... Aku menyukaimu."
Jeonghan melebarkan irisnya membisu. Pria itu memojokkan tubuhnya diantara dinding belakang sekolah dan kukungan tangannya yang kokoh, serta distraksi dari mata tajam yang membuat jantung Jeonghan berdebar kencang diluar kendali.
"Ta-tapi... Aku..."
"Aku tahu kau pria, aku tahu! Bahkan kukira aku sudah gila karena jatuh cinta pada seseorang yang berdada rata tapi... Sialnya aku memang mencintaimu. Kau mengacaukan selera makanku juga jam tidurku. Kau mengacaukan semuanya, Yoon Jeonghan. Bertanggung jawablah sedikit atas apa yang telah kau lakukan padaku."
Pria itu, pemuda yang dikenal paling tampan dan sempurna disekolahnya, kini menciumnya. Tidak hanya saliva mereka yang bertukar dan lidahnya yang menelusup ke langit-langit mulut Jeonghan, namun permainan tangannya yang meremat dada dibalik seragam itu juga membuat Jeonghan tiba-tiba lumpuh.
"Hah... Ah..."
Nafas Jeonghan panas. Sehun, pria yang menyatakan cinta padanya itu terlihat sudah kalang kabut oleh nafsu. Seperti tak ada lagi yang dapat mencegah pria ini hingga akhirnya, Jeonghan memegang tangan Sehun ketika kancing terakhir kemejanya hampir dilucuti.
"Aku... Aku juga mencintaimu."
Katakan jika ini salah.
Jeonghan sudah menyukai Sehun sejak pertama kali ia menginjakkan kaki disekolah ini. Rasanya sungguh tak mudah mengalihkan pandangan dari sosok pria yang menjadi pusat perhatian semua orang. Dia kaya, dia tampan dan pintar olahraga. Ada hasrat yang menggebu-gebu tumbuh bergejolak didada Jeonghan yang memaksanya untuk segera memiliki pria ini. Dan Jeonghan... Mulai melakukan segala cara agar pria itu menaruh rasa penasaran padanya, menyukainya, kemudian mendekatinya.
Dan Sehun berhasil masuk ke dalam jerat cinta Yoon Jeonghan. Hidupnya kacau karena Yoon Jeonghan membuatnya memiliki perasaan yang ditakuti oleh semua orang;
Cinta sampai rela melakukan apapun demi cintanya.
Sehun memeluknya dan Jeonghan membalas dengan mengalungkan kedua tangan dileher jenjang pria itu. Sehun menjadi miliknya.
Sehun menjadi miliknya.
Kalimat-kalimat itu terus mengulang dikepala Jeonghan, membuat segaris senyum terpahat begitu saja dibibirnya yang pink. Ia tak pernah menemukan kepuasan seperti ini selama hidupnya. Jeonghan berhasil melampaui sesuatu yang orang-orang nilai tidak akan dapat ia jangkau.
Tak akan ada yang mengira jika sekarang, Sehun sudah cinta mati padanya.
.
.
.
Beberapa bulan mereka menjalin cinta, semua berjalan sempurna meski hubungan diantara mereka masih dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Disekolah, Sehun hanya bilang pada semua orang bahwa Jeonghan adalah sahabatnya. Jeonghan akan berkunjung ke rumah mewah Sehun dan ia memperkenalkan diri sebagai teman sekelasnya pada keluarga pemuda itu. Semua terlihat baik-baik saja sampai akhirnya Jeonghan sadar, hubungan mereka hanya akan berjalan ditempat jika terus menerus seperti ini.
Jeonghan mulai muak. Ia tak tahan lagi. Menjadi kekasih Sehun dibelakang semua orang sungguh membuatnya lelah. Ia lelah jika harus terus menerus bersembunyi dari segalanya karena latar belakang cinta terlarang yang ia jalani.
Disuatu malam, kamar hotel yang mereka pesan untuk bercinta menjadi saksi pengakuan Yoon Jeonghan, pengaduannya tentang perasaan yang memberatkannya selama ini. Sudah setahun mereka menjalin kasih, namun tak ada perkembangan apa-apa dan Jeonghan sama sekali tak melihat adanya masa depan bagi mereka berdua nanti. Apa ia harus terus hidup seperti ini?
Bukan hanya soal perbedaan status yang memberatkan hubungan mereka berdua. Sehun sudah memiliki tunangan yang akan ia nikahi saat sudah tiba waktunya ia menjadi seorang pewaris. Tch, klise sekali. Jika dipikir, Jeonghan kira ia hanyalah sampah, pemeran pembantu dari drama kehidupan seorang Oh Sehun.
Ini tidak adil.
"Sayang..."
Ranjang tempat mereka berbaring sedikit berderit. Tubuh telanjang Jeonghan yang terbalut selimut mulai bergerak semakin mendekat agar bisa mengalungkan tangannya memeluk pinggang sang kekasih.
Pria itu hanya membalasnya dengan mendengung, kemudian memanjangkan satu lengannya agar dapat Jeonghan gunakan sebagai bantalan. Sekarang sudah tengah malam. Besok hari libur dan mereka hanya berencana ingin menghabiskan waktu seharian di kamar hotel. Mereka akan bertukar banyak cerita, memeluk satu sama lain sepanjang malam, melepas rindu, kemudian bercinta sampai larut. Bagi Sehun, ini adalah momen terbaik dalam hidupnya, menikmati dunia hanya dengan Yoon Jeonghan seorang tanpa perlu memikirkan apapun yang membebaninya selama ini.
"Boleh aku meminta sesuatu padamu?"
"Apapun, sayang. Katakan saja padaku apapun yang kau inginkan, Jeonghan."
Surai blonde Jeonghan dibelai lembut oleh kekasihnya, kemudian matanya sejenak terpejam saat merasakan bibir Sehun mengecup keningnya penuh perasaan.
"Bisakah kau... katakan pada mereka jika aku ini milikmu, Sehun?"
Dapat Jeonghan rasakan tubuh Sehun yang berada dalam pelukkannya seketika mengejang. Bisu mendominasi dan Jeonghan tahu jika inilah yang akan terjadi. Reaksi Sehun sungguh menyakitinya sampai ke pusat ulu hati, menyayatkan luka-luka di atas palungnya yang tandus dengan belati.
Semustahil itukah permintaannya untuk bisa terwujud?
"Baiklah, aku tahu. Kau tidak bisa."
"Kuharap kau mengerti, Jeonghan."
"Aku selalu mengerti dirimu Sehun, sampai rasanya aku benar-benar lelah. Bahkan aku sempat berpikir untuk segera mengakhiri semua ini secepatnya."
Seketika jantung Sehun serasa dihujam oleh ribuan ton rasa sakit. Kenapa Jeonghan...
Tubuhnya beranjak bangkit. Kilat matanya menyiratkan ketidak percayaan akan perkataan Jeonghan yang barusan didengarnya. Jeonghan berusaha memalingkan wajahnya yang menahan tangis saat tubuh Sehun berada diatasnya, menguncinya dengan kurungan kedua tangan yang bertumpu disisi kepala Jeonghan.
Pelan-pelan Sehun menarik dagu kekasihnya agar tatapan mereka bisa bertemu.
"Apa maksudmu bicara seperti itu, Jeonghan?"
Sehun sekuat tenaga mengontrol nada bicaranya. Tatapan Jeonghan yang memendam jutaan rasa sakit itu seakan membunuhnya pelan-pelan.
"Aku lelah menjadi barang simpananmu! Orang-orang mungkin hanya akan memandang kita sebagai remaja yang menikmati cinta untuk sekedar main-main tapi aku... Aku tidak demikian. Aku serius padamu, Sehun... Kuharap akan ada masa depan untuk kita."
Nafas Jeonghan terengah-engah. Kewarasannya sudah ditelan bulat-bulat oleh emosi yang ia simpan rapat-rapat selama ini.
Namun Jeonghan tak pernah menyangka, jika pipinya akan basah oleh tetesan air mata Sehun yang kini menangis pilu diatasnya.
"Ada masa depan untuk kita, Jeonghan. Aku janji..."
Hati Jeonghan teriris. Pahitnya kenyataan yang membuat mereka harus menderita seperti ini. Untuk sesaat Jeonghan berharap semua yang ada didunia menghilang ditelan oleh pusaran, menyisakan dirinya dan Sehun seorang diri agar mereka bisa hidup bahagia tanpa ada siapapun yang menentang apalagi menghalangi mereka untuk bersama.
Tangannya mendarat diatas wajah penuh air mata milik kekasihnya, membelainya hati-hati seakan Sehun adalah benda paling rapuh yang mampu pecah dengan mudah.
"Akan kuingat janjimu sampai aku mati, Sehun..."
.
.
.
Dipertengahan musim gugur bulan Juni, Jeonghan tidak bisa menemukan keberadaan Sehun dimanapun walau sudah mencarinya disetiap sudut sekolah ini. Saat ia menekan nomor kekasihnya untuk dihubungi, hanya mesin penjawab bodoh itu yang menyapanya berulang-ulang. Jeonghan mengerang frustasi saat mengurung dirinya di bilik toilet sekolah yang sepi. Namun seketika, Jeonghan merasakan satu-persatu persendian ditubuhnya lumpuh saat mendengar obrolan beberapa siswa yang mampir ketoilet untuk mencuci tangan.
"Semalam, ibuku bilang pertunangan antara Oh Sehun dan Minah sepupuku itu secepatnya akan dilangsungkan dalam waktu dekat ini."
"Benarkah? Lalu, bagaimana dengan nasib pendidikan Sehun? Maksudku, kita kan masih ditingkat 2. Masih ada 1 tahun lagi untuk bisa lulus dari SMA."
"Bodoh, tentu saja itu bukan suatu masalah. Kudengar Sehun sudah mengambil program khusus diluar negeri untuk mempelajari hal-hal tentang bisnis dan secepatnya menduduki posisi penting di perusahaan ayahnya."
"Tch, terkadang dunia memang tidak adil. Bagaimana bisa ada orang yang memiliki nasib sebaik Sehun. Dia benar-benar lelaki yang berun-..."
Brak!
Jeonghan sudah tidak sanggup mendengar sesuatu yang lebih dari ini. Ia tak tahan. Air matanya turun deras begitu saja akibat rasa sakit yang menghimpitnya tanpa ada ampunan. Jeonghan menerobos setiap kerumunan yang menghalanginya disepanjang koridor sekolah, mengabaikan tatapan penuh tanya dari mereka serta bisik-bisik tak penting tentang dirinya saat ini.
Dunia disekitarnya seketika runtuh, menyisakan puing-puing tak berharga yang membuatnya kehilangan segala sesuatu yang Jeonghan kira sempat ia miliki. Namun sejak awal, semua ternyata hanya sebuah kebohongan besar.
Sehun mencampakkannya...
Sehun meninggalkannya...
Jeonghan bahkan tak tahu apakah ia benar-benar telah kehilangan Sehun karena...
Apa benar selama ini ia sempat memiliki pria itu dalam genggamannya?
.
.
.
Jeonghan berlari sekencang yang tungkai kakinya bisa lakukan. Tangisnya membuat pandangannya buram dan kabur, namun ia berusaha tetap berlari untuk menemui satu-satunya orang yang bisa menjadi tempat baginya untuk mengadu.
Pintu kecil dirumahnya yang sederhana Jeonghan buka dengan kalang kabut. Ia menemukan sosok Dasom noona berdiri diruang tengah dengan mata membulat kaget melihat kepelungannya yang tiba-tiba. Bahkan dengan berderai air mata.
"Jeonghan sayang... Apa yang terjadi padamu?"
Dasom membalas pelukan Jeonghan dan berusaha menenangkan dengan mengelus-elus pundak adik tirinya.
Jeonghan terperosok duduk saat merasakan ruas-ruas tulangnya melemah. Ia tidak sanggup menceritakan semua yang ia dengar hari ini, bahkan menolak mati-matian jika itu adalah kenyataan.
"Sehun... Oh Sehun mencampakkanku... Dia meninggalkanku sendirian, noona... Apa yang harus kulakukan..."
Jeonghan hancur, benar-benar hancur. Tangan rapuhnya mencoba meremat lantai bisu yang dingin untuk menumpahkan semua rasa sakit yang diterima oleh dadanya. Dasom berlutut dan memeluk Jeonghan sekali lagi. Dapat ia rasakan air mata Jeonghan membasahi pundaknya, dadanya terasa sakit saat melihat Jeonghan begitu menderita.
Dasom tahu jika hari ini akan datang, cepat atau lambat. Ia mengetahui semua yang terjadi antara Sehun dan Jeonghan. Bagaimana cara dan taktik Jeonghan saat mencoba melumpuhkan Sehun di awal, membuat pria itu tertarik padanya, mendekatinya, dan akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih setahun belakangan. Jeonghan membagi semua ceritanya pada Dasom, walau pada akhirnya ia tidak pernah mau mendengarkan saat kakak perempuannya itu mencoba memberi nasihat.
"Relakan dia pergi, Jeonghan... Sehun bukanlah orang yang pantas untukmu. Kau pantas mendapatkan orang yang lebih baik darinya, aku yakin Jeonghan..."
"Tidak, noona. Tidak ada orang yang lebih baik dari Sehun untukku... Aku mencintainya... Dia berjanji akan ada masa depan bagi kami berdua..."
"Tapi dia sudah menyakitimu sampai begini, Jeonghan. Sadarlah... Jangan siksa dirimu terus menerus seperti ini."
"Tapi Sehun-..."
"Dengarkan aku, Yoon Jeonghan!"
Dasom membentaknya. Wanita itu membentak Jeonghan dan tangannya... Tangannya melayang dan hampir mendarat diatas pipi adik kesayangannya itu.
Dasom putus asa. Ini juga sulit untuknya tapi... Dapatkah Jeonghan mengerti betapa khawatirnya ia selama ini? Ia tahu Jeonghan salah sejak awal... Caranya mendapatkan Sehun, status mereka yang tak sederajat dengan pria itu, semuanya... Tapi Dasom gagal mencegah Jeonghan hingga semua jadi seperti ini. Semua sudah terlambat...
Jeonghan tertunduk dalam tangisnya yang semakin dalam. Namun suara ketukan pintu diluar yang terdengar tidak sabaran membuat Dasom tak dapat mengabaikannya.
"Jeonghan! Yoon Jeonghan! Buka pintunya, Jeonghan. Ini aku Oh Sehun!"
Knock knock knock!
Ketukan pintunya semakin lama semakin kuat. Suara Sehun terdengar kalang kabut diluar.
Kepala Jeonghan terangkat. Tangisnya berhenti karena suara Sehun seperti membawa jalan terang yang baru bagi dirinya.
"Tidak, Jeonghan. Tidak akan kuizinkan kau keluar dari rumah ini."
Air mata Dasom meluncur menuruni pipinya tanpa sedikitpun suara isakkan. Tangannya merentang didepan Jeonghan untuk menghalangi langkah pemuda itu melewati pintu. Sudah cukup baginya. Semua harus segera dihentikan sebelum keadaan menjadi semakin buruk.
"Biarkan aku pergi, noona... Aku harus menemui kekasihku.."
"Tidak akan kubiarkan, Yoon Jeonghan! Biarkan pria itu pergi!"
"Sehun tidak akan pergi tanpa aku! Kami sudah berjanji untuk terus bersama!"
"Yoon Jeonghan... Sayang? Kau ada didalam? Buka pintunya Jeonghan..."
"Maafkan aku, noona."
"Jeonghan...!"
Jeonghan berhasil menerobos pertahanan Dasom dan membuka pintunya untuk Sehun.
"Jeonghan!"
Seketika Sehun memeluknya dan mencium kilat kening Jeonghan sambil tak berhenti mengucapkan syukur. Jeonghan masih mau menemuinya... Jeonghan mau memaafkannya.
"Ikutlah denganku, Jeonghan."
"Kita mau kemana?"
"Kemanapun, sayang... Asalkan kita bisa pergi dan menjauh dari orang-orang ini. Aku meninggalkan perjodohan konyol itu dan kabur menemuimu. Kita harus cepat!"
"Jeonghan... Jangan pergi, sayang..."
Dasom berusaha berlari mendekati adiknya tapi...
Terlambat.
.
.
.
Remaja adalah fase tergila yang pasti dilalui oleh setiap manusia. Saat remaja, orang-orang akan dengan mudah dibuat gila hanya kerena cinta. Mereka pikir, cinta adalah komponen paling penting dalam hidup hingga melebihi oksigen yang mereka hirup. Sensasi mencintai dan dicintai akan membutakan semua indera yang mereka miliki, tidak tahu bagaimana cara berpikir rasional, dan melupakan hal-hal penting yang dulunya berharga bagi mereka.
Jeonghan duduk dimobil Sehun dengan jutaan perasaan yang tak dapat ia jelaskan. Disatu sisi ia senang, karena ternyata Sehun memilih untuk tetap bersamanya dari pada mengikuti perjodohan konyol itu. Namun disisi lain, ada bagian didalam dirinya yang mengatakan jika ini semua adalah salah. Tidak seharusnya mereka pergi. Tidak seharusnya mereka meninggalkan semua begitu saja bahkan tanpa pernah ada persiapan sebelumnya.
"Sehun,"
"Eum, ada apa sayang?"
Tatapan Sehun masih fokus pada jalanan yang dibelah oleh kendaraan yang ia kemudikan, namun satu tangannya bergerak untuk meraih tangan Jeonghan dan menggenggamnya erat.
"Apa kau yakin ini akan baik-baik saja?"
Tanya Jeonghan dengan nada yang menyiratkan sedikit keraguan dari hatinya.
Terdengar suara helaan nafas berhembus dari bibir tipis Sehun.
"Justru aku akan mati jika harus menikah dengan orang lain, Jeonghan."
Sorot mata Sehun menyiratkan keseriusan yang mendalam. Jeonghan merasakan semua beban diatas pundak dan dadanya terangkat begitu saja. Sehun selalu tahu bagaimana cara membuatnya tenang.
Jeonghan pikir, ini memang jalan yang terbaik. Mereka akan pergi meninggalkan beban-beban itu dibelakang, dan mulai melangkah untuk merajut hidup baru yang lebih baik.
Semua mimpinya hampir menjadi kenyataan kalau saja...
"Sehun... Si-siapa mereka? Kenapa mobil-mobil ini seperti ingin mencegat kita?"
Jalanan tol yang semula sepi kini tiba-tiba dipenuhi oleh suara-suara kendaraan yang melaju kencang disisi kanan dan kiri mereka.
"Tenanglah sayang, semua akan baik-baik saja."
Sehun berusaha menenangkan kekasihnya walau ia tahu kenyataannya berbalik dengan yang ia ucapkan. Ia tahu siapa pengendara mobil-mobil sedan hitam ini.
Mereka semua adalah orang-orang suruhan Ayahnya.
Tiba-tiba, sebuah mobil dengan cekatan memotong jalan dan berhenti tepat didepan mobil Sehun yang masih melaju. Pria itu refleks menekan rem dan mobil mereka berhenti mendadak, menimbulkan benturan keras antara kepalanya dan setir kemudi.
"Sehun... Kau tidak apa-apa?"
Jeonghan menyentuh kening kekasihnya yang berdarah dengan panik.
Namun Sehun menepisnya pelan dan tersenyum.
"Kau tunggu disini ya, sayang. Jangan pernah keluar dari mobil ini sampai urusanku selesai. Mengerti?"
"Ta-tapi..."
"Apapun yang terjadi, jangan keluar dari mobil ini. Janji?"
Jeonghan tak ingin mengucapkan janjinya. Ia tak ingin menautkan jari kelingkingnya itu pada Sehun. Tapi pria itu memaksanya, dengan senyum hangatnya yang mencoba meyakinkan Jeonghan jika semua akan baik-baik saja.
"Semua akan baik-baik saja, sayang. Aku mencintaimu."
Sehun mengecup keningnya sebelum tangannya membuka pintu mobil.
"Hati-hati sa-..."
Bruk!
Pintu mobilnya keburu ditutup dan Jeonghan tak tahu apa Sehun sempat mendengar kalimat terakhirnya itu atau tidak.
Jeonghan tak bisa melakukan apapun selain tetap memaku pandangannya pada Sehun yang berada diluar. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik mereka dan... Tidak ada hal yang terlihat baik-baik saja. Sempat terjadi beberapa kali adu mulut sampai akhirnya seseorang dari belakang memukul pundak belakang Sehun hingga kekasihnya terjatuh lemas tak berdaya.
Jeonghan menutup mulutnya saat sebuah teriakan histeris refleks keluar dari bibirnya. Air matanya tak terbendung, pikirannya kacau hingga ia harus berulang kali berpikir tindakan apa yang seharusnya ia lakukan.
Tapi Sehun bilang, apapun yang terjadi ia tak boleh meninggalkan mobil ini.
Bodoh.
Jeonghan keluar dari mobil kekasihnya dan berlari sekencang yang ia bisa.
"Sehun...!"
Jeonghan berlutut diaspal dan berusaha merangkul kekasihnya yang terbatuk.
"J-Jeonghan... Cepat lari..."
"Tidak akan! Aku akan tetap disini bersamamu!"
Jeonghan menangis tak terkendali. Kedua tangannya menangkup wajah Sehun dan menciumi bibir pucat kekasihnya bertubi-tubi. Jeonghan tidak akan pernah pergi.
"Oh, jadi ini pemuda kemayu yang bernama Jeonghan?"
Seorang pria bertubuh besar seperti algojo melipat tangannya dibawah dada sambil tersenyum meremehkan.
"Jangan sakiti dia!"
Teriak Sehun keras. Matanya memerah penuh amarah dan dengan sekuat tenaga ia berusaha bangkit.
"Kami tidak akan menyakitinya jika saja dalam satu kali tembakkan, dia langsung mati."
"Aagghh... Lepas-..."
Tangan ringkih Jeonghan ditarik begitu saja hingga tubuhnya terseret dan dipaksa untuk berdiri.
"Katakan selamat tinggal, Tuan Sehun."
Peluru pun di isi kedalam pistol dan Jeonghan hanya mampu menangis meronta walau ia tak berdaya. Seseorang memegangi tubuhnya dari belakang dan seorang lagi siap menekan tembakan tepat 1 meter didepannya.
'Selamat tinggal, Jeonghan. Aku mencintaimu.'
Dar!
Saat itu juga, semua terasa gelap.
Sehun...
"Jeonghan, aku mencintaimu..."
Pria itu tersenyum untuk terakhir kali didepannya sebelum tubuh itu jatuh tak berdaya diatas aspal.
Sehun meninggalkannya...
Sehun mencampakkannya...
Sehun pergi meninggalkannya didunia yang kejam ini sendirian...
Jeonghan kehilangan Sehun bahkan sebelum ia benar-benar memiliki pria itu.
.
.
.
"Aaaagghh!"
Splash!
Jeonghan memukul air yang ditampung oleh washtafle didepannya hingga tumpah.
Pukul 12 tengah malam.
Jeonghan mematut bayangannya yang direfleksikan oleh cermin, menatapnya dengan penuh kemarahan. Matanya memerah, surai panjangnya kini setengah basah dan tangisnya meluncur tanpa sedikitpun suara isakkan yang terdengar.
Oh Sehun...
Sudah mati.
Pria itu mati karena cinta mereka yang tak bisa disatukan.
Apa ia harus mengalami perasaan kehilangan yang sama seperti itu sekali lagi?
Apa merelakan Choi Seungcheol pergi akan membuat keadaan menjadi lebih baik?
Tidak.
Jika ia tak memiliki Seungcheol, maka semua akan berakhir seperti dulu.
Jika dunia tidak tahu bahwa ia mencintai Seungcheol, maka orang-orang akan membawa pria itu pergi darinya.
Jika cintanya dan Seungcheol tak dapat bersatu...
Itu artinya Seungcheol akan berakhir seperti Oh Sehun.
Dan Jeonghan tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tidak akan.
.
.
.
The more you love someone, the more you get scared because the more important that person is, the loss of that person will hurt you even more.
-oOo-
To Be Continued
A/N: Well... Ini chapter yg full-of-flashback. Bukan gaya saya banget sebenernya, menceritakan dengan sangat gamblang cerita masa lalu tokoh utama seperti ini.
Tapi berhubung ini "harus" agar mendukung jalan cerita selanjutnya, ya... Semoga tidak mengecewakan.
If I've done something good to you, leave your comment or review here. See you in next chapter!
