3.
Sungmin tidak berani melihat pantulan wajahnya di depan cermin. Barangkali, seluruh wajahnya dipenuhi dengan warna kemerahan yang mengering. Mungkin, ia telah menangis darah karena persediaan air matanya telah habis.
Ia menangis, terus menangis hingga suaranya serak tertelan jeritan, namun Lee Kangin hanya berdiri di sudut ruangan, memperhatikannya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Akan tetapi, dari ruangan sebelah pun, raungan Saeun lebih lantang terdengar. Raungannya terdengar penuh amarah, sumpah kutukkan, dan mengumpat nama Lee Sungmin agar gadis itu mati. Park Jungsoo yang begitu menyanjung putrinya, sedari tadi kelabakan untuk menenangkan Saeun yang hampir saja berniat untuk bunuh diri.
Semuanya karena Lee Sungmin, si anak haram yang akan menjelma menjadi ratu penuh kuasa sebentar lagi, dan Saeun akan menjadi debu yang menempel di telapak sepatunya.
Jikalau Saeun membenci dirinya dan meneriakkan hal itu pada seluruh dunia, Sungmin akan menjawabnya dengan tak kalah lantang, bahkan dengan seluruh kekuatan suara yang dimilikinya. Ia lebih membenci dirinya sendiri. Jauh sebelum Saeun mengharapkan Sungmin untuk mati, ia sudah berniat untuk membunuh dirinya sendiri. Kalau saja tidak dengan kata-kata semangat dari Tuan Shin- pemilik perpustakaan yang baik hati, dan kebaikan-kebaikan dari para wanita penjual roti yang bahu-membahu mengurusinya sejak ibunya mati, Sungmin sudah lama terkubur di dalam tanah, lalu terkurung dalam peti mayat.
Sang raja New Korea yang baru naik takhta, Cho Kyuhyun, yang dulunya merupakan seorang putra mahkota yang tak pernah muncul di hadapan publik, meminta agar Sungmin menikahinya. Tidak, bukan meminta, Sungmin tertawa dalam hati. Pria itu mengancamnya! Ucapannya semudah seorang pedagang balon yang menawarkan balon merah atau biru yang akan dibeli oleh seorang anak kecil, demi Tuhan, ancaman pilihan yang dilontarkan pria itu bukan hanya 'menikah denganku atau aku akan mati bunuh diri', melainkan 'menikah denganku dan mengorbankan hidupmu atau Seoul akan terjadi pertumpahan darah yang dahsyat.'
Kalau begini, bagaimana mungkin ia tega melihat banyak jiwa yang harus lenyap hanya karena keegoisannya- menolak menyerahkan separuh hidupnya untuk si badebah Cho Kyuhyun lalu mensyukurinya? Kehilangan satu jiwa saja - ibunya, membuat Sungmin hampir menusuk jantungnya sendiri dengan pisau dapur berkarat. Bagaimana dengan ratusan, bahkan jutaan jiwa? Sungmin bukan orang sekeji itu walaupun ia tidak peduli dengan politik dan pemerintahan Seoul!
Aku akan mengatur agar kebenaran akan ibumu terungkap.
Begitu katanya.
Lee Kangin dan keluarganya harus mendapatkan balasan hukum yang setimpal.
Sudah lama sejujurnya, ia menantikan hal ini akan datang, namun Sungmin tidak memiliki keberanian sama sekali. Jauh di dalam sisi gelap dirinya, ia ingin menghabisi Kangin dan keluarga bahagianya itu, dengan kedua tangaannya sendiri, agar para bajingan itu merasakan sakit yang diderita ibunya. Merasakan patah hati ibunya, dan segera mungkin mengantarkan mereka menuju neraka!
Tetapi, ia akan menjadi seorang pembunuh, dan apa bedanya ia dengan Lee Kangin dan istrinya?
Aku berusaha memaafkan kau dan mereka. Sungmin menatap ke arah Kangin yang juga turut menatapnya. Menerima Cho Kyuhyun, bukan karena aku ingin membalaskan dendamku kepada kalian. Semua demi jiwa-jiwa yang tidak berdosa.
Kangin nampak seperti patung batu yang siap menindih Sungmin hingga mati kapan saja, tetapi Sungmin tidak berniat untuk bangkit dari lantai, berbaring meringkuk menatap ke arahnya dengan kedua mata yang perih karena tangis.
Meskipun si brengsek Cho Kyuhyun pada akhirnya hanya menjadikan ratu sebagai alat untuk menghancurkan kekuasaanmu lalu menguasai Seoul sepenuhnya. Tak apa, aku rasa, demi berhentinya darah yang bercucuran.
"Sihir hitam apa yang kau pergunakan?" Kangin membuka suaranya, serak, ruangan tempat Sungmin berbaring cukup kecil, biasanya yang dipergunakan para pelayan di rumah Kangin sebagai kamar. Tidak ada penerangan, hanya terang sinar rembulan yang menyusup pada jendela kaca, dan tubuh Sungmin yang meringkuk tepat membelakangi jendela, hingga cahaya bulan samar-samar menerpa rambut hitamnya.
Sungmin tidak berniat untuk membalas tuduhan Kangin. Kerongkongannya masih sakit saat ia menelan ludah. Sungmin takut jika kerongkongannya menjadi parah.
Kangin yang tadinya terpaku bak patung yang berdiri pada sudut ruangan, perlahan mendekati Sungmin, hingga ujung kaki pria itu menghadap pada ujung hidung Sungmin. Pria itu tidak merunduk agar dapat melihat wajah Sungmin lebih jelas. Ia masih berdiri, namun mengarahkan pandangannya ke bawah. Batu safir yang melingkari tangan Sungmin sedari tadi mengusik pandangannya, apalagi ketika cahaya bulan menerpa batu itu.
"Kau benar-benar mendapatkan semuanya." Kangin menyunggingkan seringai, mencondongkan tubuhnya ke arah jari manis Sungmin yang dilingkari dengan cincin batu safir itu. "Cho Kyuhyun bahkan berani memberikan batu permata turun-temurun milik para ratu New Korea kepadamu. Kau nampaknya terlihat sangat spesial di mata bocah itu."
Sungmin hanya ingin memejamkan matanya sejenak.
Lalu tiba-tiba saja, Kangin mencengkeram jemari Sungmin, kemudian ia akhirnya berjongkok, di hadapan Sungmin, dan melihati batu safir itu dengan sinis.
"Kau bukan wanita yang bodoh, anakku." Kangin tertawa kecil, terdengar riang, namun Sungmin bersumpah ia tidak pernah melihat wajah Kangin begitu mengerikan seperti itu. "Betapa pintarnya kau, menghasut bocah itu dengan cerita menyedihkanmu, betapa menyentuh! Seorang anak yang tidak diakui oleh ayahnya, lalu kemudian baru diakui dua tahun terakhir… bukankah begitu menyedihkan? Saat Cho Kyuhyun mengasihanimu, kau menggunakkan sihir hitam untuk memikatnya!"
Sungmin sama sekali tidak berniat untuk membantah. Lagipula, kenyataannya, dirinya yang menjadi korban disini, bukan Cho Kyuhyun! Lee Kangin tidak akan mengerti apa yang sebenarnya terjadi, pria itu terlalu kecewa dan menerka-nerka, memandang seluruh hal yang negatif pada alam semesta ini dan mengaitkannya pada Sungmin. Bagaimana mungkin ia bisa melayangkan kutukan sihir hitam kepada pria itu, bahkan melihat wajahnya saja Sungmin cukup takut! Sungguh, Sungmin tidak berniat untuk memiliki Cho Kyuhyun, apalagi menjadi seorang ratu! Bahkan sekarang, menjauh dan terlepas dari pria itu merupakan salah satu dari cita-cita Sungmin!
Toh, ia sedang tidak ingin bermain hati dengan pria manapun.
"Atau hartakah yang kau mau?" Kangin bersuara lagi, kali ini pandangan matanya terlihat menerawang ke arah Sungmin yang bisu dan semakin terlihat menyedihkan. "Apakah kau muak hidup melarat selama ini, anakku?"
"Tidak." Suara itu akhirnya keluar, walau dengan sangat parau. Sungmin ingin mengakhiri percakapan ini, dan ia hanya perlu tertidur di sini, barangkali satu jam hingga dua jam. Ia ingin melupakan sejenak semua yang terjadi hari ini. Tolonglah, hanya sekejap. Tolong.
"Begitukah?" Kangin mendengus, pria itu beralih untuk meraih kedua pipi Sungmin dan mencengkeramnya dengan satu telapak tangannya. Kuku-kukunya mencancap pada kulit pipi gadis itu, namun Sungmin berusaha sekuat tenaga untuk menghipnotis pipinya agar mati rasa. "Atau kebenarankah yang ingin kau dapatkan, Sungmin?"
Saat itu juga, kedua pipi Sungmin benar-benar mati rasa, dan jantungnya terasa memompa dengan sangat cepat.
"Apa maksudmu?"
"Aku bertanya-tanya selama ini, apakah kau akan penasaran dengan siapa orang tua aslimu?" Kangin tertawa, kali ini terbahak, meredam suara raungan Saeun yang tak kunjung henti dari ruangan sebelah. "Tetapi sepertinya, kau lebih tetarik dengan gelar ratu dan semua uang bocah itu, ketimbang dengan orang tua yang telah membuang dan mencampakkan mu!"
"Apakah kau tengah menghujat dirimu sendiri, ayah?" Sungmin berusaha berucap, dengan suara paling parau yang pernah ia dengar seumur hidupnya, hingga dirinya sendiri ketakutan saat mendengarnya. Kangin masih tersenyum riang, cengkeraman jemarinya pada kedua pipi Sungmin makin menancap erat, hingga Kangin samar-samar dapat melihat kedua pipi gadis itu mulai memerah karena lecet.
"Aku menghujat ayah dan ibu kandungmu, bukan seorang pelacur dan laki-laki simpanannya, seperti yang kau ketahui selama ini."
"Ibu kandungku telah mati mencekik lehernya sendiri, dan ayahku begitu mendukung kematiannya. Apakah kau ingin agar aku menceritakan kisah mereka berdua selaku kedua orang tua kandungku, ayah?"
Sungmin kira, ia telah berhasil menyindir Lee Kangin agar pria itu malu, dan Kangin semakin tertawa saat mendapati raut wajah penuh amarah- raut wajah sama persis yang dilayangkan kepadanya saat awal-awal kematian pelacur itu, Jung Soojung. Sungguh, gadis yang malang, betapa malangnya perempuan di hadapannya ini! Melihat raut wajah Sungmin dengan kobaran dendam terlihat begitu indah bagi Kangin.
"Aku takut kalau cerita yang ingin kau bagikan kepadaku merupakan cerita kedua orang tua palsumu." Kangin tertawa, begitu riang. "Tidakkah kau tahu Sungmin, kau tidak semenyedihkan yang kau kira. Aku kadang tidak bisa menyembunyikan tawa saat kau menangisi mayat seorang pelacur yang sama sekali tidak ada hubungan darah denganmu!"
"Jaga ucapanmu!" Sungmin berteriak, nyalang- lalu kemudian menepis cengkeraman tangan Kangin lalu kemudian bangkit berdiri dari pembaringannya, mengumpulkan seluruh harga dirinya dan ibunya yang ia punya, lalu menatap Kangin dengan bercak-bercak air mata yang telah kering pada pipinya, dan bekas lecet ulah jemari Kangin yang barusan menancap. "Betapa busuknya kau, Lee Kangin! Beraninya kau mengatakan omong kosong yang begitu keji pada ibuku, sementara kau dan istrimu yang menyebabkan kematiannya! Ibuku bukan pelacur!"
"Memang. Ibu kandungmu bukan pelacur, melainkan ibu sandiwaramu lah yang pelacur." Kangin mengangkat kedua bahunya. "Jung Soojung, pelacur itu, membawa mati semua rahasia tentang dirimu dan hanya akulah satu-satunya manusia di dunia ini yang mengetahui semuanya!" Kangin mencondongkan tubuhnya, mendekati tubuh mungil Sungmin yang bergetar, lalu ia mendapati gadis itu memeluk tubuhnya sendiri dengan tatapan kosong. "Aku begitu baik menampungmu sebagai anak yang sempat tidak aku akui, walaupun memang benar kenyataannya. Aku dan pelacur itu memang memiliki hubungan, namun kau bukan sebuah kesalahan dari pesetubuhan kami, melainkan dari dosa keji Jung Soojung! Melihat kau yang tampak berguna sekarang, akibat raja itu, mengundangku untuk menawarkan timbal balik yang menguntungkan padamu."
Kemudian, Kangin mendekatkan bibirnya yang menyeringai menuju telinga kanan Sungmin. "Setelah kau menikahi Cho Kyuhyun, keruk semua hartanya, hancurkan kerajaannya lalu buat negeri itu menjadi perpanjangan Seoul. Selagi kau melancarkan semua tugas itu, bunuh ia perlahan, secara bertahap, hingga saat New Korea hancur dan bocah itu mati, berikan gelar penguasamu itu kepadaku, lalu kau akan mendapatkan kebenaran yang nantinya sungguh akan menguntungkanmu! Kehangatan keluarga dan sebagian harta Cho Kyuhyun yang sukar untuk habis juga akan menjadi milikmu!"
.
.
.
Ketika Kyuhyun membuka kedua matanya, tidak ada seorang pun di sana.
Tentu saja. Kyuhyun menggeram dan mendapati punggung dan lehernya dalam keadaan sakit luar biasa, lalu rasa kantuk yang menjalarinya perlahan menghilang.
Setahunya, ia telah cukup lama melupakan bagaimana rasanya tertidur. Kepalanya terasa sangat sakit dan berdenyut tadi, lalu ia memutuskan untuk membaringkan tubuhnya kemudian ia memejam. Tidak apa, toh barang lima menit saja. Ia tidak akan tertidur.
Tetapi, ruangan pribadinya tampak membiaskan cahaya yang terhalang oleh tirai, dan suara cicitan burung terdengar seperti teguran untuknya.
Ia nampaknya tengah tertidur semalaman.
Tidak nyenyak. Kyuhyun mendengus. Padahal, ia telah dari jauh-jauh hari memperingatkan mata dan otaknya agar tidak boleh tertidur. Kyuhyun tidak boleh tidur walaupun ia ingin, namun tubuhnya seakan tidak mau berkompromi. Kedua matanya dan seluruh inderanya harus selalu terjaga. Setiap waktu, sepanjang malam, dan cerobohnya, ia malah tertidur semalaman!
Setelah ini, ia akan memastikan jika genangan teh herbal dalam cangkir emas di mejanya yang mendingin semalaman harus dilenyapkan dan berganti dengan secangkir kopi panas yang paling pahit. Para pelayan yang tidak berguna itulah yang akan melakukannya!
Kemudian, ketukan pintu yang terdengar penuh keraguan menggema, lalu diiringi suara Kim Yesung- kaki tangan kerajaan (dan raja sebelumnya) yang setia. Suaranya agak gemetaran sedikit.
"Yang Mulia Raja, bolehkah saya masuk ke dalam untuk membahas hal yang penting?"
Kyuhyun langsung tertawa meremehkan. Suara orang itu terdengar seperti cicitan burung gereja yang hampir mati karena dicekik oleh satu telapak tangan.
"Cepat masuk sebelum aku merobek isi perutmu!"
Pintu ruangannya dibuka dengan tergepoh-gepoh. Kim Yesung masuk dengan wajah yang pucat pasi, serasi dengan antrean para pelayan yang menunduk semakin menjauh di belakangnya. Kyuhyun masih terduduk di kursinya, walaupun ia berusaha untuk tidak mengeluarkan pandangan malas ke arah Yesung, pria itu tertangkap jelas bak seorang buronan yang sebentar lagi akan dieksekusi mati. Pandangan mata Kyuhyun kelewat tajam, seperti ingin mencabik seluruh tubuh Yesung hingga menjadi serpihan. Ya Tuhan, Yesung bahkan menganggap sang raja tengah pingsan atau mati karena ia tidak pernah mendapati Kyuhyun masih disini, sesiang ini.
"Semoga kejayaan senantiasa menaungi Raja dan New Korea!" Yesung membungkuk dalam, sebisa mungkin menjauhkan pandangannya ke arah mata hitam Kyuhyun yang berkilat.
Kyuhyun bertanya-tanya apakah para manusia dungu di New Korea akan mengganti ucapan salam yang terdengar sangat membosankan itu.
"Sudah berapa lama kau mengetuk pintuku?" Kyuhyun membuka suaranya, dan ia cukup kaget mengapa suaranya terdengar begitu berat. "Tiga jam? Empat jam?"
"Sejak matahari mulai terbit, Yang Mulia."
"Apakah sesuatu yang penting itu adalah memastikan bahwa aku sudah mati di dalam sini, Kim Yesung?"
Wajah Yesung pucat pasi, seperti mayat. Tiba-tiba saja tubuhnya menggigil kedinginan, dan Kyuhyun tampak meraih cangkir emasnya, memandangi teh herbal yang seingat Yesung disiapkan oleh para pelayan kemarin malam, setelah kepulangannya dari Seoul.
"Apakah kau ingin secangkir?"
"Ampun Yang Mulia, saya tidak berani!"
Semoga Kyuhyun mau melepaskannya. Yesung tak henti-hentinya berdoa dalam hati agar ia masih bisa bernapas dengan lancar setelah keluar dari ruangan menakutkan ini. Sebenarnya, memang benar, Yesung tak henti-hentinya menduga bahwa sang raja tengah pingsan atau mati di dalam peraduannya. Kyuhyun selalu meninggalkan ruangannya sebelum matahari terbit, saat langit masih berwarna biru dongker kehitaman. Akan tetapi, kali ini ada yang berbeda, semenjak kepulangan sang raja dari Seoul. Cho Kyuhyun yang tidak sukar untuk terlelap, apalagi kesiangan, berbanding terbalik di hadapannya kini.
"Katakan kepentinganmu."
Kyuhyun tidak memandang Yesung sama sekali. Bola matanya dialihkan menuju lantai, memilih memandangi jemari kakinya.
"Perihal kunjungan kerabat Anda, bangsawan Song pada siang ini, Yang Mulia," Yesung menelan ludahnya gugup. "Kami meminta arahan dari Yang Mulia apakah bangsawan Song akan diundang pada jamuan minum teh dari Anda seperti biasa, karena para pelayan membutuhkan waktu lumayan lama untuk mengurusinya."
"Begitukah? Mereka datang hari ini?" Kyuhyun beralih menyandarkan punggungnya yang masih kaku pada sandaran sofa tempat ia berbaring barusan. "Tidak ada jamuan untuk mereka."
Yesung rasa, ia tidak perlu berucap apapun selain tundukan hormat dan secepat mungkin mengangkat kedua telapak kakinya dari ruangan pribadi sang raja. Keringat dingin yang membanjiri tubuhnya perlahan menghilang, lalu rasa gemetaran yang sedari tadi ditanggungnya juga lambat laun mulai lenyap. Saat Yesung mulai meraih gagang pintu ruangan raja dan berpikiran secepat mungkin menyingkir dari sana, suara Kyuhyun yang dalam kembali menginterupsi.
"Panggil Jenderal Lee kemari!" Ucapnya, tidak semenakutkan yang biasa. "Sekarang juga!"
.
.
.
"Yang Mulia raja ingin bertemu dengan anda, Jenderal!"
Brengsek. Baru saja ia ingin minum seteguk.
Jenderal Lee Donghae menggerutu, buru-buru ditaruhnya kembali satu borol wine merah merlot yang hampir saja mengalir mennggoda di kerongkongannya. Desas-desus istana yang menghebohkan, tentang sang raja yang mungkin saja mati kini telah surut, berganti dengan 'apakah raja meminum obat tidur dan ingin membunuh dirinya sendiri?'
Jenderal Donghae tidak peduli. Toh menurutnya, Cho Kyuhyun tidak mungkin mati semudah itu, dan dugaannya benar. Sang raja rupanya berhasil untuk tertidur. Tidak ada masalah yang serius.
Para wanita pelayan membungkuk dengan pipi bersemu merah saat Jenderal Donghae berjalan melewati mereka, walaupun ia membalas dengan senyum kikuk. Ia tidak paham apa yang terjadi, tentang mengapa para pelayan wanita begitu senang mengerumuninya ketika ia tengah sendiri, atau sekadar mengintipnya malu-malu dari kejauhan.
Lagi-lagi, langkah kakinya dibalas dengan wajah merona dua orang pelayan wanita yang berseri melihatnya.
Nanti dulu mengurusi para wanita. Sang jenderal menguatkan dirinya. Yang penting sekarang, ia harus menghadap sang raja yang temperamen dan siap untuk menelannya bulat-bulat. Donghae lalu tertawa. Ia tidak akan menerima amuk Kyuhyun hari ini. Sang raja akan mendapat kabar gembira sebentar lagi darinya!
"Semoga kejayaan senantiasa menaungi Raja dan New Korea!"
Donghae yang memboyong rasa percaya diri yang begitu tinggi saat ini harus berbesar hati menanggalkannya di tempat ketika ia melihat wajah sang raja yang tampak muram.
"Sudah kau tembak perut wanita itu?"
Kalimat pembukaan yang begitu vulgar. Donghae meringis, lalu membungkuk begitu hormat di hadapan Kyuhyun.
"Semua sesuai rencana awal, Yang Mulia. Selir Oh telah mati kemarin malam."
"Buat seakan-akan penyusup dari Seoul yang melakukannya!" Kyuhyun berucap cepat, dengan nada suara yang tinggi. "Batasi liputan publik dan para wartawan itu, cukup sekadar Selir Oh mati dibunuh oleh penyusup dari Seoul, dan Sang Raja tengah berkabung. Buat berita jika para penyusup itu memberontak karena tidak ingin New Korea dan Seoul bersatu!"
"Laksanakan, Yang Mulia."
Sepertinya, suasana hati Kyuhyun agak mulai membaik berkat 'kabar gembira' itu walaupun tidak terlalu puas. Donghae melirik lagi, Kyuhyun tegah mengganti pakaiannya dengan kemeja hitam yang nampak begitu mahal, kemudian ia bertanya-tanya, kapan terakhir kali pria itu mengenakan setelan resmi kerajaan, sebagai seorang raja yang baru, kecuali pada hari pelantikannya tempo hari. Padahal, bangsawan Song akan berkunjung sebentar lagi.
"Tidak boleh ada yang tersisa, Jenderal." Kyuhyun telah berhasil mengancingkan kancing terakhir pada kemejanya. "Aku harap Selir Oh merupakan selir terakhir ayahku yang telah lenyap, tanpa ada yang tersembunyi."
"Saya berani bertaruh atas nyawa saya dan seluruh keluarga saya. Selir Oh merupakan yang terakhir, Yang Mulia."
"Bagus." Kyuhyun menepuk tangan, satu kali. Samar. Dan Donghae merasa cukup tersanjung karena ia tahu jelas, Kyuhyun akan melakukan hal itu apabila ia cukup senang atas kerja kerasnya. "Bukankah akar pemberontak kerajaan harus dihabisi sampai tuntas?"
Donghae mengangguk, sambil menundukkan kepala lagi dengan hormat di hadapan Kyuhyun. Selang beberapa detik, saat Donghae berinisiatif untuk mulai mengangkat kepalanya, suara ketukan dari depan ruangan tidur Sang Raja mulai terdengar dan teriakan bahwa Keluarga Bangsawan Song telah datang lebih awal menggema. Saat Donghae mengangkat wajahnya, ia berhadapan dengan pemandangan di mana Sang Raja tengah tersenyum sinis, penuh ironi, lalu kemudian tertawa terbahak-bahak.
Sang jenderal tidak berani berucap apapun. Mengembuskan napas hingga terdengar suara sekecil apapun, ia juga tidak berani. Suara tawa Sang Raja makin keras, dan Kyuhyun nampaknya tidak berniat untuk berhenti tertawa. Donghae menelan ludah, dan kali ini agak susah. Ia sudah melayani Kyuhyun dengan setia selama sebelas tahun, dan dari situ ia sudah bertekad untuk menjelma sebagai tameng di depan pria itu, kemudian melindunginya dari semua terjangan. Jenderal Lee Donghae tidak menganggap dirinya sebagai seorang individu yang memiliki hak asasi sejak saat itu, hidupnya untuk New Korea dan Sang Raja.
Tawa ini bukanlah tawa riang atau merasa geli akan sesuatu. Tawa ini merupakan tawa yang biasa pria itu keluarkan apabila ia berhasil dan atau ingin melenyapkan jiwa seseorang.
"Apakah aku harus menghabisi para pemberontak itu nantinya dengan kedua tanganku, Jenderal?" Kyuhyun masih tertawa, menyodorkan telapak tangannya ke arah Donghae kemudian suara pecah yang nyaring memenuhi isi ruangan. Jambangan bunga yang terbuat dari keramik mahal telah menjadi keping, berserakan di lantai peraduan Sang Raja.
"Aku sudah membatasi diriku sebaik mungkin, untuk tidak membunuh bangsawan yang tersisa, tetapi apa boleh buat? Keluarga bangsawan Song sepertinya telah bosan untuk hidup. Haruskah aku menyiapkan tempat pemakaman untuk mereka sekeluarga di sebelah Selir Oh? Atau haruskah aku melenyapkan mereka secara diam-diam, beriringan dengan para penduduk sipil rendahan yang juga turut memberontak?"
"Apa yang terjadi dengan Bangsawan Song, Yang Mulia? Mengapa Anda tiba-tiba mengecap mereka sebagai pemberontak?"
"Bangsawan tengik itu sudah datang." Kyuhyun berucap dengan cepat, masih diiringi tawa pelan yang begitu mencekam, kemudian beralih menatap Donghae dengan matanya yang menusuk. "Apa yang ada dalam benakmu tentang mereka, Jenderal? Sekumpulan manusia rendah yang haus kekuasaankah? Bagaimana mungkin mereka dapat bersikap sebagai kerabat kerajaan yang mendukung dengan sepenuh hati, setelah mereka mengetahui kunci menuju kekuasaan mereka itu sudah menemukan lubang pintu yang lain?"
Bibir Donghae terasa lengket seperti lem. Pria itu tidak dapat mengeluarkan kata-kata walaupun ia ingin berteriak agar enyah dari situ, menyelamatkan diri di hadapan Kyuhyun yang tampak begitu ngeri.
.
.
.
Saat melihat sosok Kyuhyun yang tengah berdiri pada ruang pertemuan kerajaan dengan kemeja hitam, alih-alih dengan setelan resmi kerajaaan, Cho Hyena menyunggingkan seringai tipis sambil mengeratkan tas tangan yang sedari tadi ia genggam. Pria itu telah meremehkannya dan keluarga Song! Beraninya!
Sang Raja tidak memberikan senyuman ramah selamat datang seperti tata krama keluarga kerajaan New Korea yang seharusnya. Cho Hyena juga melirik ke seluruh penjuru ruangan pertemuan yang tidak menampilkan adanya perjamuan kecil, seperti hidangan teh atau kue misalnya. Yang ada hanya tumpukan kertas dokumen dan beberapa tablet hitam cukup besar. Layarnya menampilkan tulisan-tulisan panjang yang dari jauh tidak dapat dibaca oleh Hyena. Disudut ruangan, terdapat layar monitor besar yang menampilkan lambang logo kerajaan New Korea yang memenuhi isi layar, dua naga merah yang mengapit mahkota emas di tengah-tengahnya. Sungguh, lambang yang membuat Hyena terlempar lagi pada ingatan masa kecilnya.
Saat ia masih menjadi putri kerajaan.
Pria di hadapannya ini, yang dijuluki sebagai "Raja Besi" baru-baru ini oleh rakyat New Korea, merupakan putra kakak kandungnya, Cho Hangeng yang baru saja mangkat. Tentu saja, kematian tidak bisa dicegah. Kakaknya tidak mungkin menjadi raja abadi yang dapat memerintah New Korea selamanya. Dengan tergesa-gesa, kerajaan langsung menunjuk bocah itu, Cho Kyuhyun sebagai raja selanjutnya dengan alasan bahwa ialah satu-satunya yang mewarisi darah raja. Betapa naifnya!
"Selir ayahku mati dibunuh oleh pemberontak tadi pagi, dan kau datang di hadapanku seperti perayaan. Di mana hormatmu, bibi?"
Hyena tersenyum lebar, menertawakan mulut tajam Kyuhyun dalam hati sambil melirik sedikit ke arah gaun merah formal selutut yang ia kenakan.
"Lalu, apakah pakaian hitam yang Anda kenakan merupakan bentuk berkabung, Yang Mulia?"
"Jika warna hitam memang benar sebagai warna berduka cita, bukannya warna bersuka cita seperti merah, maka jawabanku adalah iya."
Brengsek! Hyena meringis, masih menyunggingkan senyum yang tidak boleh ia lepaskan sama sekali.
"Selir raja hanya selingan, sebagai pemuas raja, saya rasa tidak perlu menunjukkan rasa berkabung yang mendalam, seperti selir-selir raja sebelumnya yang mati." Hyena mendekat ke arah Kyuhyun, beralih membalas tatapan nyalang pria itu. "Saya yakin, Anda tidak memberikan penghormatan khusus pada selir-selir sebelumnya. Anda bahkan menolak untuk diwawancarai secara spesifik oleh media mengenai kematian mereka!"
"Selir-selir ayahku sebelumnya mati bunuh diri." Kyuhyun mendengus. "Selir yang ini mati dibunuh! Cepatlah kau menuntaskan maksud kedatanganmu kemari karena aku punya banyak urusan yang harus aku urusi tentang perempuan itu!"
"Oh ya benar, mereka bunuh diri…" Hyena memicingkan matanya. "Yang Mulia, apakah Anda masih menganggap saya sebagai anggota kerajaan inti?"
"Ya, selama kau masih belum mati." Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari Hyena, beralih mendekati tumpukan kertas dan menyambar tablet hitam di sebelahnya. "Katakan kemauanmu, setelah itu enyah dari sini!"
"Anda bahkan berbicara kurang ajar, secara tidak formal pada adik ayah Anda!" Hyena meninggikan suaranya, namun Kyuhyun tidak terlihat terusik sama sekali. "Apakah perbuatan seperti ini yang Anda bilang masih menganggap?"
"Nyonya Bangsawan Song, Mantan Putri Kerajaan New Korea, Cho Hyena." Kyuhyun menggeram, membanting tabletnya di atas meja marmer ditengah ruangan sembari memandang perempuan itu dengan tatapan menghunus bak belati. "Apakah seorang raja yang memiliki kekuasaan paling tinggi di negara ini, diwajibkan untuk menghormatimu yang tidak menyandang gelar apa-apa lagi sekarang selain sebagai mantan putri kerajaan?"
"Jaga ucapan Anda, Yang Mulia!" Hyena berteriak, begitu keras hingga suara lengkingannya menggema. "Kedatangan saya secara baik-baik kemari ialah sebagai seorang bibi yang cemas akan nasib keponakannya dan negeri ini! Bagaimana mungkin Anda, seorang raja menikahi penduduk negara musuh? Wanita itu bahkan anak haram presidennya yang tidak diakui! Sungguh merupakan penghinaan kepada New Korea!"
"Keputusan menikahi penduduk negara musuh merupakan rencana mendiang raja sebelumnya, bibi." Kyuhyun menyeringai, lalu beralih untuk bersedekap. "Sebagai anak yang berbakti, aku meneruskan wasiat ayahku untuk menjalankan tugas mendamaikan kedua negara yang tengah berperang!"
"Perjanjian awal ayah Anda ialah dengan putri yang sah, bukan anak haram!"
"Aku memiliki alasan tersendiri memilih wanita itu, dan keputusanku bukan merupakan urusanmu." Kyuhyun dengan cepat mengarahkan telunjuk kananya, mengacung ke arah pintu ruangan pertemuan yang berwarna hitam gelap. "Enyah dari sini jika keperluanmu denganku telah selesai!"
Hyena tertawa begitu kencang setelahnya, lalu Kyuhyun menatap jika tubuh wanita itu berguncang mengiringi suara tawanya yang terlihat begitu riang, menertawakan dirinya yang terlihat begitu lucu di mata wanita itu. Kedua bola mata coklat wanita itu berair, lalu tangan ramping wanita itu beralih untuk menyeka sudut matanya.
"Walaupun begitu, saya harap Anda tidak melupakan wasiat mendiang ayah Anda dan raja sebelumnya, Yang Mulia." Tatapan mata Hyena berubah tajam dan dingin, membalas milik Kyuhyun yang juga menatap seakan ingin mencabik tubuh wanita itu. "Sebelum mati, kakek Anda, ayah dari mendiang Raja Cho Hangeng, bukankah berbisik di hadapan wajah Anda lima belas tahun yang lalu bahwa Victoria lah yang hanya boleh Anda nikahi? Bukankah Anda menerimanya dengan hati yang riang pula, Yang Mulia? Tetapi demi mendamaikan kedua negara, apa boleh buat. Bukankah sang raja harus berkorban demi rakyat dan negaranya?"
Kemudian Kyuhyun membeku. Sekujur tubuhnya terasa begitu kaku hingga rasa nyeri menyelinap masuk, nyalang menghinggapi sekujur tubuhnya. Sudah lama, ia tidak mengingat nama itu dan tiba-tiba dadanya terasa dibelah paksa dengan belati, sekadar ingin memasukkan nama itu kembali ke dalamnya. Sudah begitu lama hingga ia lupa peristiwa itu, dan ia lupa bagaimana ia bisa tersenyum.
Sang Raja mengepalkan kedua tangannya hingga kuku jarinya menancap pada telapak tangannya. Menancapkannya sedalam mungkin hingga nama dan wajah itu hilang dari benaknya, seperti yang sudah berhasil ia lakukan beberapa tahun terakhir.
"Yang Mulia, Bibi Bangsawan Song, bolehkah saya masuk ke dalam?"
Dan suara itu mengalun dengan lembut, bagai deburan ombak di pantai yang menenangkan hati, kemudian, denting piano dengan nada lagu yang Kyuhyun benci tiba-tiba menerobos telinganya bagai hipnotis.
Serpihan itu datang lagi, dan semoga bentuknya telah berubah seiringnya waktu, hingga tidak dapat membentuk cinta yang Kyuhyun ingini.
Kali ini, semoga membentuk benci. Selalu.
