Disclaimer: Harry Potter punya J.K. Rowling. Saya tidak mengambil keuntungan materil apapun dari penulisan fanfiksi ini.

Warning: maybe OOC, uncommon pair, etc.

Bales review dari ZombieEva: Cara buatnya gimana? Jawabnya: Cara buatnya ya... tinggal diketik aja! :D

.

Mrs Weasley mengkhawatirkannya, apakah keluarga Dursley sudah kembali atau belum. Ia juga khawatir apa Harry cukup makan dan bagaimana bisa dia dapat makan. Harry terharu ibu sahabatnya itu masih sempat memikirkannya disaat Mrs Weasley sendiri baru kehilangan dua anak. Makanya Harry heran kalau suatu hari Mrs Weasley ada di depan pintu rumah Dursley. Ada George yang menemaninya, sibuk mengetuk-ngetuk pintu sampai akhirnya Harry membukakan pintu.

"George, ada bel kalau kau mau lebih praktis."

"Bel?"

"Ini," kata Harry, menekan tombol di dekat pintu dan terdengar suara bergema di dalam rumah. Mrs Weasley dan George tampak terkesan. Sebagai keluarga 'pecinta' Muggle, rasanya agak aneh jika mereka tak tahu. Entahlah, mungkin mereka hanya lupa karena kejadian belakangan ini.

"Kabarmu baik, Harry?" kata Mrs Weasley, memegang lembut lengannya.

"Baik. Mrs Figg mengurusku."

"Ah wanita itu... Syukurlah. Dia sudah ada di sini sejak kau tinggal di sini."

Harry tak bisa membawa kedua Weasley ke ruang tamu karena tidak ada sofa, jadi ia membawa mereka ke kamarnya. Ia duduk di kursi dan mempersilakan kedua tamunya duduk di kasur.

Harry memerhatikan dengan seksama kedua orang di depannya. Mrs Weasley kelihatan lelah. Ia tampak berusaha menyembunyikan emosi di balik wajah ramahnya. Sementara George tampak tak sejenaka biasanya. Biasanya hanya dengan melihat wajahnya Harry bisa tertawa—jika tidak sebal. Tapi ini tidak. George yang jenaka sudah tak tampak sama sekali. Alih-alih Harry melihat George yang tampak makin serius.

"Kamarmu tak banyak berubah, Harry," kata George, mengamati ruangan.

"Oh, yeah," jawab Harry.

"Harry, Nak," kata Mrs Weasley. "Kau senang di sini?"

Harry mengangguk. Kalau sebelumnya ia tak betah, kali ini tidak.

"Tapi kau harus segera kembali ke dunia sihir," lanjut Mrs Weasley. "Kami memerlukanmu."

Mrs Weasley mengerling pada George. Pemuda itu mengeluarkan sesuatu dari dalam jubahnya, lalu menyodorkannya pada Harry. "Semua surat dari Kementerian dikirim ke The Burrow. Mereka kira kau ada di rumah kami."

"Para Orde tidak memberitahu?"

"Sepertinya tidak. Orde ingin kau istirahat, kan?" Harry menerima segepok surat dari George. Sebelum membacanya, George berkata lagi, "Banyak undangan sidang. Kau harus memberi kesaksian untuk pengadilan para Pelahap Maut, termasuk keluarga Malfoy."

Mereka kemudian ngobrol cukup lama. Harry cerita tentang Mrs Figg dan Hannah, tapi tak ada satupun mereka yang bicara tentang Fred dan Ginny. Sepertinya itu memang aturan tidak tertulis: jangan membicarakan keluargamu yang sudah meninggal. Harry pun begitu. Ia tak gampang menceritakan perasaannya tentang orangtuanya.

.

XxX

"Ber-Apparate?" tanya Hannah.

"Ya, ber-Apparate. Memangnya kenapa?" tanya Harry balik, heran. "Aku pikir kau pergi ke sini dengan itu."

"Ya... tapi jujur saja, rasanya masih kurang nyaman kalau ber-Apparate. Kau kan sudah biasa ber-Apparate waktu ada di pelarian."

"Kalian kebanyakan ngobrol," sela Mrs Figg. "Masih untung kalian bisa ber-Apparate, tidak sepertiku."

Kedua remaja di depan Mrs Figg itu nyengir. Harry menawarkan lengannya. Malu-malu, Hannah menerimanya. Sempat ia menoleh ke Mrs Figg, yang kemudian tersenyum. Hannah hanya berharap wajahnya tidak merah lagi.

.

XxX

Ron Weasley lagi-lagi memandangi Hannah ketika gadis itu tiba di Kementerian bersama Harry. Tapi setelah melihat sahabat masing-masing, mereka langsung memisahkan diri. Sebelum berjalan ke arah Ernie, Justin, dan Susan, Hannah sempat mendengar Ron berkata pada Harry, "Kau berangkat bareng dia?"

Sidang hari pertama mendengarkan kesaksian anggota Laskar Dumbledore tentang pergerakan mereka selama ini. Dari pertama kali dibentuk ketika Umbridge mengajar di Hogwarts sampai waktu perang di Hogwarts kemarin. Yang banyak berbicara tentu trio Gryffindor ditambah Neville Longbottom dan Luna Lovegood yang banyak memberi informasi tentang Hogwarts selama trio itu melanglang buana.

"Neville Longbottom, kau menjadi pemimpin LD waktu itu, dibantu Luna Lovegood dan Ginevra Weasley, yang sayangnya sekarang sudah tiada?"

"Ya, Pak," terdengar suara Neville yang bergetar. Hannah melihat pemuda itu berusaha keras agar tidak menangis. Hal yang sama juga terlihat pada Ron Weasley. Sementara Harry Potter tampak lebih kuat, dan Hannah bersyukur untuk itu.

Selepas sidang Hannah tidak kembali ke rumah Mrs Figg. Ia kembali lagi ke rumah keluarganya. Ia disambut ayahnya, Dylan, dan kakak laki-lakinya, Alan. Rumah keluarga Abbott dan lingkungan sekitarnya tidak kena dampak perang, tapi mereka bertiga tidak diam saja. Dylan dan Alan yang alumni Hogwarts ikut merenovasi sekolah. Hannah juga. Tapi itu sebelum ia pergi menginap ke rumah Mrs Figg.

"Bagaimana dengan si Potter? Sukses?" tanya Alan.

"Bagaimana dengan Annie? Sudah berapa persen?"

"Ditanya kok balik nanya," kata Alan, mengacak rambut pirang adiknya. "Sudah delapan puluh persen, tapi kami tidak akan menikah dekat ini. Suasana masih kacau."

"Aku apalagi."

"Kau serius sama si Potter?" Alan membelalakkan matanya. "Kukira itu cuma cinta monyet."

Wajah Hannah jadi merah lagi. "Bukan itu maksudku. Dan, tidak. Ini bukan cinta monyet."

"Yakin sekali kau, Nak," ayahnya ikutan nimbrung. "Ayah bisa bedakan mana cinta orang dewasa dan cinta monyet."

"Ya. Dari usia orangnya, kan?" kata Hannah.

Ayahnya menggeleng, dan kakaknya menyahut lagi. "Kau belum jawab pertanyaanku. Bagaimana kau sama si Potter?"

"Berhenti memanggilnya 'si Potter'. Namanya Harry."

"Potter juga namanya, kan?"

Hannah memutar matanya, tapi sejenak kemudian ia tersenyum. "Harry tidak bisa masak dan tidak ada makanan di rumahnya. Setiap makan dia selalu datang ke rumah Bella."

"Nah, itu memuaskan, bukan?" sahut kakaknya. "Lalu apalagi?"

Hannah cerita semuanya. Dia dan Harry sudah pergi jalan-jalan berdua tiga kali. Dari main ayunan di taman perumahan, mengulang pelajaran sekolah bersama, sampai mencoba naik bus Muggle yang normal. Ia bahkan cerita tentang bioskop, film, komputer, sampai sepeda motor. Tapi tentu ia tidak cerita tentang insiden di depan kamar mandi itu.

.

XxX

Rasanya Diagon Alley tak pernah seramai ini. Hogwarts pun sudah dipastikan tetap menerima murid-murid baru, yang berarti jumlah murid Hogwarts jadi lebih banyak.

Sebagian besar murid seangkatan Neville mengulang tahun terakhir mereka. Tapi sayangnya, Harry Potter tak kembali ke Hogwarts. Itu informasi dari Neville.

"Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku sudah menghabiskan waktu di rumah Arabella, tapi Harry malah tak kembali ke sekolah!"

Tanpa diketahui banyak orang, ternyata pemuda itu yang menyuplai Hannah informasi tentang Harry. Ini tidak sulit. Hannah dan Neville teman baik karena kelas Herbologi yang sama-sama mereka kuasai, dan Neville teman baik Harry karena mereka tidur satu kamar selama enam tahun.

Neville tahu alamat Harry dari Ron. Hannah tahu kalau rumah Mrs Figg ternyata dekat dengan rumah Harry. Dan kebetulan pula, Neville tahu dari Ron kalau waktu itu Harry ingin kembali ke rumahnya untuk beberapa hari.

Hannah bersandar di kursi kedai es krim Florean Fortescue, melipat lengannya. Neville di depannya menyendok es krim rasa melon.

"Terus kau tidak mau kembali lagi ke Hogwarts, begitu?" tanya Neville, ikut-ikutan bersandar juga.

"Aku capek sekolah. Kita semua kembali ke sekolah. Kau mengulang tahun ketujuh dan aku mengulang tahun keenam! Membosankan sekali harus duduk di kelas enam sampai tiga kali."

Neville tertawa, tapi ia setuju dengan Hannah. "Aku juga malas. Tapi kata McGonagall sebaiknya kita mengulang. Hogwarts dibawah kekuasaan Voldemort kemarin kurikulumnya banyak yang diganti."

Hannah mengangguk-angguk, menyendok es krimnya lagi. "Setidaknya tidak ada hukuman mengerikan dan pelajaran tentang Muggle yang tidak manusiawi itu," katanya. "Mungkin aku paham kenapa Harry tidak sekolah lagi... tapi Ron Weasley? Kurasa dia tidak cukup kalau tidak lulus sekolah."

"Tapi mereka pahlawan dunia sihir!"

"Tapi Hermione Granger masih mau sekolah."

"Itu beda. Kau tidak bisa menyamakan Hermione dengan Ron."

Mereka tertawa lagi, tapi tidak berani keras-keras. Mereka baru saja membicarakan tentang dua orang yang bagai bumi dan langit itu.

"Tapi," kata Neville, "kalau masih mau tahu caranya survive dengan Harry, dekati saja Hermione. Dia dan Ron juga akan berhubungan jarak jauh. Hermione juga pasti tahu banyak tentang Harry."

"Apa?" pekik Hannah. Ia terkejut dengan dua hal sekaligus. Hermione dengan Ron? Tapi tidak begitu juga, sih. Mereka sudah lama kenal dekat dan yang seperti itu tidak mengejutkan.

Dan yang kedua, kata-kata Neville sebelumnya, 'survive dengan Harry'... Memikirkannya wajahnya jadi memanas.

"Oh," kata Neville, nyengir.

"Apa menurutmu," kata Hannah menunduk, berusaha menyembunyikan warna merah di wajahnya, "aku harus jadi sahabatnya dulu?"

"Emm," kata Neville sambil memegang dagunya, "boleh saja. Tapi cinta tidak harus selalu diawali dengan persahabatan."

"Tapi Hermione dan Ron?"

"Tapi kau dan Ernie? Atau Justin?" Neville bertanya balik.

Hannah mengangguk pelan, paham maksud Neville. Ia merasa tak ada cara lain. Jika saja Harry memilih untuk terus tinggal di Privet Drive, tak mungkin juga Hannah tinggal di rumah Mrs Figg terus, kan? Ia kan harus sekolah. Lalu harus bagaimana? Akan lebih baik kalau Harry ikut melanjutkan sekolah juga, tapi kata Neville keputusan Harry itu sudah final.

.

XxX

Harry sengaja tak mengantar Hermione ke Peron 9 ¾. Ia yakin disana sudah cukup ramai dengan tambahan murid kelas satu yang sekarang jadi dua kali lipat. Belum lagi dengan pamor Hermione yang kini jadi seterkenal Harry.

"Bagaimana, Dad?" tanya Ron ketika ayahnya sudah datang dari King's Cross.

"Suasana gaduh. Hermione benar-benar terkenal. Untung saja kalian tidak ada. Tapi—" kata Mr Weasley. "Sebenarnya aku tetap berharap kalian berdua mau lanjut sekolah."

Harry dan Ron kompak menggeleng.

"Mana ibumu?" tanya Mr Weasley.

"Sedang di halaman belakang, mungkin."

Setelah Mr Weasley menyusul ke belakang, Harry izin pergi ke kamar Ron di atas. Sejak selesai menghadiri berbagai sidang, Harry menghabiskan waktu di The Burrow. Dan yang membuatnya merasa aneh, ia sebaiknya kembali ke Privet Drive. Dan ternyata beberapa hari lalu Hestia Jones, anggota Orde, bilang kalau keluarga Dursley akan kembali.

"Mereka tampak lebih baik!" kata Hestia ceria. "Kurasa mereka akan bersikap lebih baik padamu. Kau harus pulang!"

"Kau yakin?"

"Yaa... mereka tidak tanya apa kau akan kembali, tapi mereka sudah lebih sopan."

Ya, memang kenapa kalau Harry akan kembali? Ia akan mencobanya. Apalagi ketika membaca ulang surat Bibi Petunia pada Dumbledore, Harry sudah tahu maksudnya. Ia menghubungkan itu dengan kenangan Snape yang ia lihat. Mungkin bibinya itu hanya iri... Bagaimana kakak adik yang awalnya sangat dekat bisa tercerai karena perbedaan dan perlakuan kurang adil dari orangtua mereka. Harry bahkan merasa agak kesal dengan kakek dan neneknya itu. Sosok kakek dan nenek yang tak pernah dikenalnya.

Tapi emang kenapa kalau Harry akan kembali? Toh ia tidak akan tinggal terlalu lama, karena pelatihan Auror akan segera dimulai.

.

XxX

Ini akan jadi keempat kalinya Hannah jadi Prefek disaat ia masih kelas enam. Ketika ia kelas tujuh nanti, akan jadi kelima kalinya. Mungkin ini akan jadi rekor jabatan Prefek terlama. Tapi Hannah tidak akan bangga karena itu. Ia bukan Hermione Granger yang akan berbangga hati menjadi Prefek selama mungkin. Tapi mungkin ia baru merasa bangga setelah mendapatkan Harry Potter.

Hannah melipat tangan mendengar penjelasan Ketua Murid. Ia bosan. Ia melirik tidak berminat pada pemuda di sebelahnya. Bukan karena tidak suka, tapi pemuda yang seharusnya jadi juniornya itu sejak tahun lalu jadi partner Prefek setingkatnya. Tahun lalu dan tahun ini posisi 'normal'nya diberikan pada Megan Jones karena posisi Prefek kelas tujuh Hufflepuff kosong. Ernie menjadi jadi Ketua Murid bersama Padma Patil hingga sekarang.

Sedang Hermione tidak lagi menjadi Prefek sejak ia meninggalkan Hogwarts tahun lalu. Posisinya dan Ron diberikan pada Dean Thomas dan Parvati Patil.

Hannah jadi teringat lagi dengan Ron Weasley. Bagaimana ya perasaan Hermione sekarang setelah berpisah dengan Ron? Tadi Hannah sempat mencuri kesempatan mencari Harry di stasiun. Kalau memang dia tidak pergi ke Hogwarts, setidaknya ia akan mengantar Hermione. Tapi sedikit banyak Hannah sudah mengenal Harry. Pemuda itu bukan tipe orang yang suka menerima banyak perhatian. Itu membuatnya risih. Jadi kemungkinan Harry tidak akan ke stasiun. Lagipula ia juga tak akan ke Hogwarts.

Setelah Ernie dan Padma membubarkan para Prefek, mereka bergerak masing-masing ke tempat yang berbeda untuk patroli. Hannah pergi bersama Louis rekan setingkatnya itu.

"Hmmm... Hogwarts Express kelihatan tambah penuh saja," kata Hannah pada Louis. "Apa aku kelihatan tua untuk ukuran murid kelas enam?"

"Tidak. Kau tampak cantik seperti biasanya," kata Louis terkesan. Hannah menghela napas. Tak ada hubungannya. Duh, apa ia satu-satunya perempuan yang pernah menarik hati si kutu buku itu?

Mereka menyusuri lorong yang penuh dengan suara murid-murid. Mereka melewati Draco Malfoy yang bertugas bersama Megan Jones. Pemuda itu tampak tak sesombong biasanya. Sudah cukup lama dia seperti itu, waktu mereka sama-sama kelas enam. Tapi kali ini ia terlihat... ya begitulah. Keluarganya mengalami rasa malu yang begitu besar. Ernie benar memasangkannya dengan Megan yang bisa lebih tegas menyita barang-barang aneh dari seorang murid.

Hannah dan Louis menemukan Hermione yang sedang kewalahan menerima tamu tak diundang yang masuk kompartemennya. Dua murid junior yang ikut duduk disana terlihat tak berdaya, ditimbun murid-murid yang mengerubungi Hermione dan dua orang lainnya yang ternyata Luna Lovegood dan Neville.

"Hei!" tegur Hannah. "Ada apa ini?"

"Hannah!" teriak Neville.

Hannah dan Louis menyibak kerumunan murid-murid itu, menyuruh mereka minggir.

"Kalian tidak bisa seperti ini," kata Hannah. "Mereka nanti tak nyaman kalau kalian ganggu terus."

Beberapa orang terlihat tidak suka, namun tak bisa berbuat banyak ketika melihat lencana Prefek di jubah Hannah dan Louis. Satu per satu mereka meninggalkan kompartemen Hermione.

"Terima kasih," kata Hermione. "Tapi aku tidak yakin mereka—atau yang lain—tidak kembali ke sini lagi."

"Aku bisa kesini nanti setelah patroli. Tampaknya harus ada paling tidak satu Prefek di sini."

Hermione tampak berterima kasih lagi, tapi wajahnya jadi agak sedih. Ketika Hermione memandang lencana Prefek Hannah dan Louis bergantian, Hannah tahu sebabnya. Apalagi seharusnya di tahun ketujuhnya Hermione bisa menjadi Ketua Murid. Tentu itu jadi salah satu keinginannya selama ini.

Setelah patroli Hannah menepati perkataannya. Ia masuk ke kompartemen Hermione, duduk satu bangku dengan Luna dan seorang anak Ravenclaw kelas enam.

"Hai, Mary," sapa Hannah. Ia jadi agak aneh, baru ingat kalau Mary yang disapanya ini teman sekelasnya sendiri. Luna juga.

"Hai, Hannah. Mengulang tahun keenam, eh?"

"Tentu. Apa yang bisa kulakukan?" kata Hannah muram. "Aku amat bosan. Kalau bisa aku ingin sudah lulus dari Hogwarts saja. Atau tidak melanjutkan sekolah nampaknya asyik."

Mata Hannah menatap satu per satu teman kompartemennya, bahkan satu gadis lain yang tidak dikenalnya itu. Ia mengira mungkin gadis itu adik Mary karena terlihat mirip.

"Tidak melanjutkan sekolah?" sahut Neville. "Tidak kedengaran seperti dirimu. Bukannya menurutmu sekolah itu penting?"

"Tidak begitu kalau sudah punya bekal cukup. Jadi," ujar Hannah, "kenapa kau mau kembali ke sekolah, Hermione?"

Hermione menjelaskan panjang lebar, alpha kali beta dibagi seratus kuadrat lalu di akar. Tapi ia sama sekali tidak menyinggung Harry ataupun Ron.

"Kalau kau tidak sekolah," kata Luna, mata menonjolnya menyembul dari balik buku yang dibacanya, "berarti kau sama saja dengan Harry dan Ron."

"Nah, itu," kata Hannah tiba-tiba ceria. Ia memperbaiki posisi duduknya. "Memangnya kenapa mereka tidak melanjutkan sekolah?" tanya Hannah pada Hermione. Ia sengaja menunggu ada orang yang menyebut Harry.

"Katanya dia sudah bosan. Dia sudah ingin langsung berkarir. Sebentar lagi dia akan mulai pelatihan Auror."

Hannah tersenyum terkesan. Segera saja murid-murid sekompartemen itu mengobrol seru. Tanya-tanya tentang Harry—atau kadang-kadang Ron. Juga cerita tentang petualangan mereka bertiga sebelum ini.

Ketika langit sudah gelap, Draco Malfoy berjalan melewati kompartemen Hannah bersama Pansy Parkinson. Mereka menatap Hannah sejenak, kemudian pergi.

"Aku harus pergi," ujar Hannah. "Mengawasi murid-murid turun dari kereta."

"Draco Malfoy jadi aneh," kata Neville.

"Bukannya dia memang aneh?" gumam Luna, membuat yang lain nyengir.

"Dia jadi diam sekali setelah perang," kata Hermione. "Baguslah, aku lebih suka dia yang itu. Tapi kenapa dia masih jadi Prefek?" Hermione tiba-tiba terdengar tak terima.

"Parkinson itu juga," sahut Neville.

"Itu masih jadi misteri tak terpecahkan sampai sekarang," kata Hannah nyengir. "Sudah, ya. Sampai jumpa di sekolah."

.

.

.

.

Bersambung