Cast : Wu Yifan - Huang Zitao

Kim Jongin - Park Chanyeol

Do Kyungsoo - Mr. Zhang

Others

Kata pengantar : 1. Aku merasa FF ini mulai membosankan, jadi chapter selanjutnya tamat. Yippie!

2. Oya, aku baca salah satu review yang tanya kenapa anggota OSIS-nya cuma sedikit. Alesannya sih karena murid di SM High School ke sekolah hanya untuk main-main. Jadi yang menjadi anggota OSIS itu sifatnya suka rela. Makanya anggotanya cuma lima orang. Dan buat yang tanya ada apa dengan orang tua Tao, di chapter ini akan kejawab pertanyaannya.

3. Typo is still alive

4. Thanks to: Riyoung Kim, putchanC, Sulay Daughter Forever, Aines, ZiTao99, MeelMeel Aideen, kang hyun yoo, helloimanyi, usw. Yang sudah mendukung FF ini. Terima kasih.

5. Happy reading

### Too Young ###

"Padahal Jongin dan aku sudah tahu masalah Kyungsoo dan Chanyeol-ge sejak SMP, tapi tidak ada yang kami lakukan. Sepertinya kami terlalu sibuk memendam masalah kami masing-masing" lirih Tao sambil berjalan menjauhi ruang OSIS, "ini memalukan, tapi aku mendambakan sosok 'orang tua' dalam dirinya."

'Aku mendambakan sosok orang tua-ku dalam diri Kris-ge' lanjut Zitao dalam hati sambil meremas jantungnya yang entah kenapa berdenyut sakit.

### Too Young ###

"Tao, kamu tidak apa-apa?" tanya Kris yang entah sejak kapan sudah ada disamping Tao, membuatnya begitu terkejut. Karena seingat Tao, ia meninggalkan ruang OSIS secara diam-diam.

"Tidak apa-apa, Kris-ge" jawab Tao sambil menunjukan senyum khasnya, "aku hanya ingin mengambil beberapa contoh surat di ruang dokumen, karena itu aku meninggalkan ruang OSIS."

Kris menganggukan kepalanya tanda mengerti dan menerima alasan Tao. Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka. Hanya ada Kris yang membuntuti Tao ke ruang dokumen yang berada di dalam ruangan Mr. Zhang. Tao terlalu sibuk dengan pikirannya, sementara Kris terlalu sibuk menatap Tao. Kris merasa ada yang salah dengan Tao setelah kejadian Kyungsoo – Chanyeol barusan.

"Selamat siang" sapa Tao saat memasuki ruangan Mr. Zhang, sementara si pemilik ruangan langsung menyambut mereka dengan ucapan, "selamat datang."

"Kami mencari beberapa contoh surat untuk keperluan OSIS, Mr. Zhang. Chanyeol-ge memintaku untuk menanyakannya pada anda karena kami tidak menemukannya di ruang OSIS" kata Tao langsung menyampaikan tujuannya datang ke ruangan tersebut.

"Contoh surat ya?! Tunggu sebentar! Aku letakan dimana ya?!" gumam Mr. Zhang sambil membongkar meja kerjanya, "apa di ruang dokumen?"

Hahh, Tao dan Kris memang harus sedikit bersabar menghadapi Mr. Zhang yang dikenal sebagai guru yang paling mudah melupakan sesuatu. "Zitao, coba kamu cari di ruang dokumen dan kamu, Ketua OSIS, bantu aku mencari di meja kerjaku!" perintah Mr. Zhang.

Tao yang mendengar perintah dari Mr. Zhang segera masuk ke dalam ruang dokumen sementara Kris mendekati meja Mr. Zhang dan mulai membantunya mencari.

"Hubunganmu dan para anggotamu kelihatannya erat sekali ya?! Padahal setahuku jarang-jarang ada yang bisa rukun dengan keempat orang itu" celetuk Mr. Zhang yang sedang membuka beberapa map miliknya, membuat Kris menghentikan acara mencarinya dan tersenyum hambar.

"Aku harap kamu bisa membawa sedikit perubahan untuk mereka" lanjut Mr. Zhang membuat Kris kali ini menatapnya sambil mengerutkan dahinya, bingung.

Dukk... Dukk...

Suara pintu ruang dokumen yang dipukul dari dalam menghentikan obrolan satu arah antara Mr. Zhang dengan Kris. Dan tak lama disusul suara teriakan Tao yang sepertinya terkunci di dalam ruang dokumen, "tolong, aku tidak bisa membuka pintunya dan lampu di dalam juga mati."

Kris serta Mr. Zhang yang berada diluar segera mendekati pintu dan mencoba membukanya dari luar. Kris bahkan sempat ingin mendobrak pintunya, andai Mr. Zhang tak menghentikannya. "Tao, pintunya rusak. Kami juga tak bisa membukanya. Kami akan mencari bantuan. Tunggu sebentar dan tetaplah tenang!" kata Kris yang tak tahu mengapa merasa begitu khawatir pada Tao.

"Tolong ya, Ketua" jawab Tao dari dalam, dan Kris buru-buru pergi dari ruangan Mr. Zhang untuk mencari bantuan. Sementara Mr. Zhang menelpon bagian operasional di SM High School, melapor bahwa pintu ruang dokumen rusak dan seorang siswa sedang terjebak di dalamnya.

Tao yang berada di dalam ruang dokumen yang terkunci hanya menghela nafas pasrah. Jujur saja, Tao tak suka ruangan yang gelap. Gelap membuatnya kesepian dan selalu mengingatkannya pada hal-hal yang menyakitkan. Tapi sekarang ia bisa apa, yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu bantuan yang dijanjikan oleh Kris.

Tao sebenarnya bermaksud menyenderkan tubuhnya di salah satu rak dokumen. Tapi belum sempat ia bersandar, sebuah botol tinta terjatuh dan mengenai bahunya. "Aakhh" ringis Tao sambil menyentuh bagian yang basah pada bahunya, "ternyata cuma tinta."

Walaupun bibir Tao mengatakan kalau itu hanya tinta, nyatanya tubuh Tao merespon lain. Tubuh Tao secara tiba-tiba terhuyung ke belakang, membuatnya menubruk rak dokumen yang ada di belakangnya. "Mual" ringis Tao sambil menutup mulutnya yang ingin mengeluarkan sesuatu. Kepala Tao terasa berputar dan perutnya bergejolak karena bau tinta yang menyengat masih menempel di seragamnya.

Tao tak bisa menahannya lagi, ia muntah sejadi-jadinya sambil menangis. Ia mengeluarkan semuanya dan berakhir dengan tubuhnya yang jatuh di lantai ruang dokumen yang dingin. Tao masih setengah sadar saat otaknya mulai memutar bagian dari ingatan Tao yang paling ia benci. Sekali lagi, Tao membenci gelap karena gelap berarti hitam, dan hitam itu kelam seperti masa lalunya.

Flashback

'Apa mood mereka sedang baik?' kalimat itu adalah kalimat yang selalu Tao kecil tanyakan pada dirinya sendiri setiap ia akan memasuki rumahnya yang begitu besar. Rumah besar yang begitu ramai namun dingin, karena rumah itu bukan ramai dengan tawa dan canda bahagia tapi ramai oleh teriakan pertengkaran dan barang-barang yang berjatuhan.

"Mama, Papa, maafkan Tao" lirih Tao pelan. Tao memang masih berumur tujuh tahun, tapi ia sudah cukup pintar untuk mengerti bahwa orang tuanya sama sekali tak menginginkan kehadirannya. Orang tuanya tak memerlukan kehadiran si kecil Huang Zitao.

Mr. dan Mrs. Huang selalu berpikir jika Zitao adalah kesalahan terbesar mereka, seperti pernikahan mereka yang tak pernah didasari oleh cinta. Orang tua Tao memang menikah atas dasar perjanjian bisnis. Mereka bahkan sudah membuat perjanjian tanpa sepengetahuan keluarga besar mereka, yang isi menyatakan bahwa mereka hanya akan menikah selama tiga tahun sebelum akhirnya bercerai dengan alasan mereka yang tak juga bisa memiliki anak.

Namun takdir berkata lain, dua tahun setelah pernikahan, Mrs. Huang melahirkan seorang putra. Seorang putra yang menjadi penyebab mereka tak bisa melakukan rencana yang telah disepakati dan tersusun rapih. Hal itu terjadi karena keluarga besar mereka yang begitu bahagia karena kehadiran sang calon penerus Huang. Tao kecil memang selalu mendapatkan kebahagian dari nenek dan kakeknya. Mereka semua sangat menyayangi Tao. Tapi hal itu berbeda ketika Tao bersama ibu dan ayahnya. Tao selalu merasa terjebak di antara pemikiran yang tak memiliki ujung, sesuatu yang harusnya tak perlu dirasakan oleh anak kecil seperti dirinya.

Tapi akhirnya pemikiran itu menemui ujungnya. Hal itu dimulai ketika nenek Tao menemukan Tao yang pingsan di depan pintu rumahnya. Dan nenek Tao semakin terkejut, ketika ia mengetahui cucunya memiliki penyakit lambung yang ternyata diabaikan begitu saja oleh orang tua Tao. Dan sedikit demi sedikit nenek dan kakek Tao mengetahui kenyataan di balik drama keluarga bahagia yang selama ini mereka mainkan.

Nenek dan kakek Tao menyerahkan semua keputusan kepada kedua orang tua Tao. Semuanya, kecuali hak asuh Tao yang langsung diambil alih oleh mereka. Mereka berjanji akan memberikan keluarga yang harmonis untuk sang cucu, walaupun tanpa kehadiran sosok ibu dan ayah. Dan mulai hari itu berakhirlah keluarga kecil yang Tao miliki.

"Tao tidak akan pulang ke rumah lagi. Karena Tao tahu kalau Mama dan Papa tidak memerlukan kehadiran Tao. Tao akan pergi ke tempat dimana Mama dan Papa tidak akan menemukan Tao lagi. Selamat tinggal Mama, Papa. Maafkan Tao" pamit Tao di depan kamar orang tuanya.

Kemudian nenek, kakek dan Tao memutuskan untuk pindah dari Qingdao ke Seoul. Memulai keluarga baru yang harmonis, dimana Tao berada di tengah-tengahnya. Di luar maupun di dalam rumah, semuanya membuat Tao bahagia. Tapi, walaupun Tao bisa bermanja-manja dengan nenek dan kakeknya. Masih ada sedikit perasaan di hati Tao yang mendambakan sosok orang tuanya.

End Of Flashback

Trekkk... Druaghh...

"Tao, kamu baik-baik saja?" tanya Kris yang baru berhasil membuka pintu ruang dokumen.

"TAO!" teriak Jongin ngeri. Jongin, Kyungsoo dan Chanyeol memang langsung mengekori Kris ketika mereka melihat Kris yang berlari dengan begitu panik sepanjang lorong sekolah, mengabaikan bel yang berbunyi menandakan pelajaran yang akan dimulai. Dan Jongin makin khawatir ketika Kris mengatakan bahwa Tao terkunci di ruang dokumen yang lampunya mati. Jongin sangat tahu, jika Tao takut berada di tempat yang gelap.

Jongin baru saja akan melangkahkan kakinya menghampiri Tao. Saat ia sadar, kalau ia sudah terlambat. Tubuh lemah Tao sudah terlebih dulu dipeluk oleh seseorang, seseorang yang bahkan melupakan kenyataan jika muntahan Tao mengotori seragamnya. Dan orang itu adalah Kris. Kris sendiri tak tahu kenapa ia tiba-tiba berlari menggapai tubuh Tao yang meringkuk di lantai. Memeluknya dengan erat dan mengabaikan rasa mual yang menderanya saat ia memeluk tubuh si panda SM High School. Yang Kris tahu, ia hanya ingin melindungi dan membuat orang yang berada dalam pelukannya itu merasa nyaman.

### Too Young ###

"Wajahmu sedikit pucat, kamu serius tak mau ikut di rawat?" tanya Jongin yang ikut menjaga Tao bersama Kris di ruang kesehatan. Sementara Chanyeol dan Kyungsoo sudah kembali ke kelasnya masing-masing.

"Tidak usah khawatir. Apa Tao baik-baik saja?" kata Kris. Kris tidak tahu apa yang dikatakan dokter sekolah pada Jongin karena ia baru kembali dari kamar mandi, setelah selesai mengganti seragamnya dengan seragam olah raga milik Chanyeol.

"Zitao baik-baik saja. Lagi pula siapa yang tidak mual jika berada di tempat yang gelap dan sesempit itu, ditambah bau tinta yang menyengat, siapa pun akan merasa pusing dan muntah. Dan mungkin saja membuatmu merasa kesepian dan tiba-tiba mengingat hal yang menyakitkan" balas Jongin sambil mengotak-atik smartphone-nya entah menghubungi siapa.

"Hal-hal yang menyakitkan? Apa itu?" tanya Kris penasaran membuat Jongin langsung melirik Kris dan menghentikan acara mengotak-atik smartphone-nya.

"Ini sebenarnya memalukan dan menyedihkan. Tapi aku pikir, Tao dan aku mengharapkan sesuatu yang sama darimu, Ketua."

Kris menatap Jongin penuh tanya, mengharapkan sesuatu dari Kris? Yang benar saja, Kris tidak sekaya orang tua Jongin dan Tao, apa yang diharapkan mereka darinya? Kris benar-benar tak habis pikir.

"Kami mengharapkan sosok orang tua darimu" lanjut Jongin membuat Kris begitu terkejut.

"Apa hubunganmu dengan orang tuamu juga tidak baik seperti Chanyeol dan Kyungsoo?" tanya Kris lagi, membuat Jongin mengaruk tengkuknya canggung, bingung harus menjawab apa untuk pertanyaan Kris.

"Atau mungkin, kamu merasa tidak cocok dengan orang tuamu?" tebak Kris asal.

Jongin menatap Kris dan menjawab, "mana bisa begitu? Antara anak dan orang tua itu, tidak ada namanya cocok atau tidak cocok. Karena anak tidak bisa memilih siapa orang tuanya, begitupun sebaliknya. Kamu aneh."

"Kamu yang aneh. Di awal kamu mengatakan suatu hal yang sepertinya menjadi sebuah beban, tapi di akhir, kamu malah mengatakannya seperti hal itu adalah sesuatu yang ringan. Sebenarnya apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Kris yang tidak terlalu mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Jongin.

"Kamu tidak mengerti, Ketua. Baiklah, aku akan bercerita walaupun agak panjang" kata Jongin memulai ceritanya, "kami berdua, Tao dan aku, hidup dengan beban yang hampir sama. Beban karena kami tak bisa menumpahkan keluh kesah kami pada seseorang yang sering menyebut mereka ibu dan ayah. Kami tak punya sandaran, karena itu kami mendambakan kebaikan dari dua orang yang menyebut dirinya orang tua."

Jongin menghela nafas sebentar sebelum akhirnya melanjutkan, "aku tak tahu kapan terakhir kali aku mendengar kalimat layaknya orang tua keluar dari mulut ibuku. Itu karena orang tuaku selalu sibuk dengan urusan bisnis mereka. Hahh, tapi mungkin masalahku tidak terlalu berat dibanding masalah Tao."

"Masalah Tao?"

"Apa yang kamu lakukan jika orang tuamu tak menginginkan kelahiranmu?" tanya Jongin balik, alih-alih menjawab pertanyaan Kris.

"Aku... Aku akan..."

"Pergi ke tempat dimana mereka tak bisa menemukanmu" potong Tao yang ternyata sudah sadar dari pingsannya.

Kris dan Jongin segera mengarahkan pandangan mereka kepada Tao yang masih bergelung diatas ranjangnya. Wajahnya yang masih pucat sangat kontras dengan bibirnya yang mengulas sebuah senyum manis.

"Tapi melihat Kris-ge yang menyelesaikan masalah Chanyeol-ge dan Kyungsoo tadi, menumbuhkan perasaan yang sudah lama aku kubur di hatiku. Perasaan ingin menyandarkan tubuhku di pangkuan seseorang dan menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil" lanjut Tao sambil berusaha bangkit dari tidurnya. Jongin yang berdiri tak jauh dari Tao segera membantunya duduk.

"Mendengar Tao mengatakan hal seperti itu membuatku berpikir untuk memperbaiki langkah yang aku ambil, seperti yang Ketua katakan pada Kyungsoo tadi" komentar Jongin saat ia merasa Tao sudah nyaman dengan posisi duduknya.

Tao memanyunkan bibirnya lucu dan menyangkal pernyataan Jongin barusan, "tidak usah diperbaiki juga tidak masalah, biarkan saja tetap salah, nanti juga akan terbiasa."

"Hahahah. Kamu benar, nanti juga terbiasa. Makanya harus tetap dijalani, walaupun kita mulai muak dan kesal" balas Jongin setuju sambil menunjukan jempolnya pada Tao

Lalu Kris?! Ia hanya menatap Tao yang masih berbicara dengan Jongin. Otak Kris jadi berpikir tentang perkataan Mr. Zhang saat Kris membantunya mencari contoh surat di mejanya, 'aku harap kamu bisa membawa sedikit perubahan untuk mereka'. Kris jadi terlanjur berpikir, seandainya ada yang bisa Kris lakukan, agar mereka bisa tertawa bersama dengan lepas dan tanpa beban. Tapi saat ini otak Kris tak bisa memikirkan apa pun, yang ada di kepalanya sekarang hanyalah bayangan Tao yang meringkuk dengan tubuh bergetar karena takut.

"Waaaa, sepertinya sebentar lagi akan ada panda yang di opname" celetuk Chanyeol yang baru saja memasuki ruang kesehatan dan langsung disambut ayunan tiang infus oleh Tao. Hal itu membuat Kris tercengang kaget, ditambah sosok Jongin yang berada dibelakangannya, mencoba mencari perlindungan.

"Kedatangan Chanyeol memang selalu membawa pengaruh buruk" komentar Jongin datar.

"Tapi aku sedikit lega, melihat Tao yang ternyata sudah sesehat ini" balas Kris membuat Jongin menatapnya aneh.

"Aku tak mengerti dengan jalan pikiranmu, Ketua" kata Jongin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

### Too Young ###

"Selamat datang" sapa Kyungsoo sambil tersenyum ketika Mr. Zhang memasuki ruang OSIS yang kosong karena sisa penghuninya ada di ruang kesehatan.

"Wahh, aku sampai kaget melihat Kyungsoo yang tersenyum" komentar Mr. Zhang ketika melihat sambutan dari Kyungsoo, "ketua OSIS kalian itu hebat juga ya."

Kyungsoo tertegun mendengar komentar dari Mr. Zhang, sebelum akhirnya membalas, "tidak juga, dia cuma..."

"anak laki-laki biasa yang baik hati, sampai-sampai ia bisa membuat aura di antara kalian berempat semakin melembut sejak kehadirannya" potong Mr. Zhang sambil menutup pintu ruang OSIS, membiarkan Kyungsoo yang mematung sendirian didalamnya.

### T.B.C ###

Review?! Kritik?! Saran?! Aku tunggu!

See you next time :**