"Hah? Kau punya cinta pertama di umur 7 tahun?" tanya Len, kedua matanya terbelalak tidak percaya.

Rin tersenyum sendu dan mengangguk. "Ya, tapi sepertinya aku salah mengartikan cinta baginya. Itu mungkin hanya kagum atau ... suka," ucapnya pelan. "Tapi ... sayangnya sekarang dia sudah meninggal ..." Sepasang iris azure meredup, menatap salju dengan sendu.

"M-maaf ... aku sama sekali tidak tahu," ucap Len canggung. Ia mengusap tengkuknya, tidak tahu harus bersikap apa ketika mendengar kenyataan pahit itu.

Keduanya melangkah pulang, menapaki salju-salju tebal yang menutupi aspal. Salju mulai berjatuhan kembali, membuat nuasa putih yang indah. Hawa dingin yang menusuk hingga rongga-rongga tulang membuat keduanya mengeratkan jaket dan syal tebal yang dipakainya.

Sudah dua minggu berlalu semenjak penyataan Neru, dan Rin baru memberitahunya sekarang tentang kenapa ia bergumam tidak jelas saat itu. Akhir-akhir ini hubungan mereka tambah dekat dan Len semakin tahu tentang jalan kehidupan Rin.

Len menoleh ke arah ojou-nya yang beraut sedih. Len jadi tidak enak sendiri karena telah menanyakan hal tersebut, terlebih lagi mereka baru akhir-akhir ini menjadi dekat. Namun, mengingat cinta pertama, ia juga mempunyainya saat dirinya masih berumur 6 tahun. Sayangnya ia hanya bisa memerhatikannya dari jauh tanpa bisa mendekatinya karena perempuan itu selalu berada di rumah sakit dan selalu ditemani oleh seorang lelaki kecil.

Len menggeleng pelan, memudarkan bayangannya akan perempuan kecil itu. Bahkan ia sudah lupa dengan nama perempuan itu. Ia sudah melupakannya sejak lama dan menghapus perasaan itu sejak ia pindah ke Voca City.

"Umm ... kalau tidak keberatan ... siapa namanya?" tanya Len tanpa sadar.

Rin menoleh dengan kedua mata terbelalak. Len yang tersadar akan ucapannya langsung gelagapan. "M-ma-maksudku─"

"Piko─" Len terbelalak mendengarnya. "─Piko Utatane,"

─Dan sekarang Len merasa dadanya sesak.


Lonely Heart

Vocaloid © Yamaha and Crypton Production

Warning : typo (s) alur terlalu cepet, gak kerasa feel, dan kekurangan lainnya

Chapter 3 : Hilang Jejak


Rin menghempaskan dirinya ke kasur bernuasa kuning. Sepasang iris azure menutup, punggung tangan kanannya menyentuh dahinya. Ia menghela nafas panjang. Pertanyaan yang dilontarkan oleh bodyguard-nya membuatnya lemas karena telah mengingatkannya pada masa lalu yang pahit.

Sebenarnya Rin tidak mau mengungkitnya –bahkan mengingatnya. Karena kejadian itu pula ia telah menutup pintu hatinya untuk para lelaki.

"Huuh, kenapa Len harus bertanya seperti itu, sih?" geramnya kesal. Jemarinya segera meraba-raba handphone yang tergeletak di meja sebelahnya ketika mendengar benda tersebut berbunyi nyaring.

From : Baka Len

Subject : Gomenasai!

Ano ... ojou, apa anda masih marah? Sungguh saya minta maaf! Saya tidak bermaksud mengingatkan anda pada kejadian pahit itu. Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau saya mentraktir anda di Orange Cafe yang mahal itu?

Rin menghela nafas panjang. Sebenarnya ia tergiur untuk pergi ke cafe tersebut, namun ia juga khawatir kalau Len akan menderita kanker (kantong kering) bulan ini –saking mahalnya makanan di sana.

To : Baka Len

Subject : Re Gomenasai!

Sudah kubilang jangan memakai bahasa formal, Len! Hm ... akan kuterima permintaan maaf itu, tapi apa kau tidak akan kanker bulan ini?

Setelah mengeklik tulisan "SEND!" gadis itu langsung melempar handphone-nya sembarangan. Ia─entah kenapa─tersenyum kecil dan memejamkan matanya. Perasaan senang yang tiba-tiba datang menghampirinya, bahkan ia sendiri tidak tahu rasa apa ini.

Drrrt ...

Handphone-nya bergetar kembali.

From : Baka Len

Subject : Re Gomenasai!

Haah ... arigatou, ojou! Tenang saja, keuanganku masih stabil dan aku perkirakan tidak akan kanker bulan ini ^^. Aku akan menjemputmu jam 1.30. Ok?

Rin terkekeh melihatnya. Senyumannya tak bisa luput dari wajah manisnya. Jemari lentiknya kembali mengetik pesan dengan lincah.

To : Baka Len

Subject : Re Gomenasai!

Baiklah, akan kutunggu! Dan pastikan bahwa uang yang kau bawa cukup untuk membayar pesananku *evil smirk*

Ia kembali melempar handphone-nya ke atas kasur dan beranjak untuk mempersiapkan dirinya. Sepasang manik azure memincing, guna melihat jam dinding yang terpasang di atas pintu kamar. Jam 1. 00. Saatnya bersiap-siap untuk pergi!

Oh, Rin sudah tidak sabar untuk pergi bersama bodyguardnya!

.

.


.

.

Ting! Tong!

Bel berbunyi nyaring, menandakan ada seseorang di luar rumah yang ingin bertamu. Lily segera membukakan pintu dengan tergesa-gesa. Ia tersenyum lebar ketika mengetahui siapa yang datang, Len Kamine.

"Len –chan!" sapa Lily senang. Ia menatap Len dari atas sampai bawah, Len berpakaian lebih rapi dan terlihat cool saat ini. "Apa yang─"

"Uwaah, Len~!" seru seseorang dari belakang Lily. Rin tersenyum senang. "Kau tepat waktu seperti biasa,"

Rin terlihat tampak lebih cantik dari biasa. Ia mengenakan jaket berwarna kuning, rok diatas lutut yang berwarna hitam, syal putih yang membaluti lehernya, sepatu boots berwarna hitam yang tinginya selutut. Rambutnya disisir lebih rapi dan dijepit seperti biasa.

Lily tersenyum geli melihat mereka berdua yang tampak serasi. "Wah,wah, kalian mau kencan nih?" tanya Lily jahil.

Blush!

Rin merona dan salah tingkah. Mulut Rin terbuka, namun tidak mengeluarkan sepatah katapun, rasanya suaranya tercekat di tenggorokan. Beda halnya dengan Len yang bisa mengendalikan tubuhnya.

"Kami tidak kencan, Lily-san. Lagipula itu tidak akan mungkin terjadi," ucap Len sambil terkekeh pelan. "Karena kami hanya sebatas majikan dan pelayan,"

Entah kenapa Rin merasa perasaannya agak aneh ketika mendengarnya. "Y-ya, benar yang dikatakan Len," ucapnya. "Itu tidak akan mungkin,"

Lily menghela nafas berat. "Yah, kuharap kalian akan menyadarinya cepat atau lambat. Cinta itu buta dan tidak memandang status seseorang, loh,"

Len mengusap tengkuknya, bingung ingin membalasnya apa. Yah, sejujurnya ia juga merasakan hal yang aneh dalam dirinya ketika berdekatan dengan ojou-nya akhir-akhir ini. Ini berbeda dari biasanya. Aneh memang, tapi ia tidak terlalu mementingkannya.

"Sudahlah, ayo, kita pergi, Len," ajak Rin yang masih sedikit merona. Yah, sebenarnya ia juga agak canggung dalam keadaan seperti ini.

"Yeah," Len membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan duluan.

Rin baru saja mau melangkah, namun pegangan tangan Lily di lengannya membuatnya terhenti. Rin mengernyit ketika Lily memajukan wajahnya mendekati telinganya.

"Kau harus menyadarinya cepat atau lambat~ Jangan menolak perasaan yang timbul itu sebelum dia diambil seseorang," bisik Lily sambil terkekeh pelan.

Wajah Rin semakin memerah, antara malu dan marah. "Urusai! Apa pedulimu!?" sahutnya cepat. Ia langsung buru-buru meninggalkan Lily yang memperlebar senyumnya dan mengejar Len yang sudah berada di luar pagar.

Lily menunduk ketika menyadari adanya firasat buruk akan keponakan tersayangnya. "Firasat ini ... ada apa?" Ia menatap Rin dari kejauhan. "Rin ... semoga saja kau tidak apa-apa," gumamnya pelan.

"Len! Tunggu!" seru Rin kencang. Ia berlari menyusul bodyguard-nya.

"Ah, Rin. Kau sudah selesai berbicara dengan Lily?" tanya Len sambil menghentikan langkahnya. Ia menoleh lalu rautnya berubah panik. "Err ... ojou, apa kau demam? Wajahmu sangat merah, loh,"

Rin menggeleng cepat. Ia menaikkan syalnya hingga setengah wajahnya tertutupi guna menutupi rona di wajahnya. "Aku tidak apa-apa kok. Aku sehat," ucapnya dingin. "Jangan panggil aku ojou, panggil aku Rin! Sudah kuperingati berapa kali, Len!?" hardiknya marah. Ia menjitak kepala Len dengan kencang hingga membuat pemuda itu mengaduh kesakitan.

"Gomenasai ..." sesal Len.

"Ya, ya, ya," ucap Rin bosan. "Sudah berapa kali kau mengatakan hal yang sama, Len Kamine?" selorohnya tajam. Ia melirik lelaki itu sinis.

"Aaa, sepertinya hampir tiap hari," ucap Len polos. "Yah, tapi aku lebih nyaman memanggilmu seperti itu daripada dengan nama kecilmu,"

Rin menarik sebelah alisnya. "Huh? Memangnya kenapa?"

"Karena aku sudah seharusnya memanggilmu seperti itu," Len tersenyum, namun Rin merasakan kebalikannya. "Yah, status kita kan berbeda, Rin-sama. Aku diperintah untuk melindungimu, bukan untuk keperluan yang lain,"

Rin menunduk hingga poninya menutupi berjatuhan, menutupi kedua matanya. Tanpa sadar, ia menggepal erat. "Ah, kau benar,"

Dan sekarang Len merasa aneh dengan perubahan raut muka itu.

"Aku tidak apa-apa, Len," ucap Rin seakan tahu apa yang ada dipikiran lelaki itu. Rin tersenyum hambar. "Kupikir kau harus mentraktirku lagi sebagai bayarannya,"

Traktir lagi?

"UAPA!? YANG BENAR SAJA!" teriaknya frustasi.

Rin tertawa kecil. Ia menepuk pundak Len sambil tersenyum. "Bercanda. Aku tidak akan membuatmu menderita kanker (kantong kering), kok,"

Len mengelus-elus dadanya sambil menghela nafas lega "Syukurlah. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupanku selanjutnya tanpa uang,"

"Hahaha, kau berlebihan, Len," Rin tersenyum geli. "Dan kau bisa makan di rumahku jika kau tidak punya uang. Lily-san akan membuatkan banyak makanan untukmu,"

Mereka tertawa dan meneruskan perbincangan dengan canda dan tawa. Tanpa mereka sadari, dua orang perempuan mengikutinya secara diam-diam.

"Lihat, Neru! Target kita sudah di depan mata. Sungguh kebetulan sekali bertemu dengan mereka. Untungnya mereka tidak tahu,"

"Huh, lihat saja, Rin! Aku akan membalasmu dengan kekerasan!"

.

.


.

.

"Aku pesan menu spesial hari ini," pesan Rin sambil menunjuk sebuah gambar di daftar pesanan.

"Aku juga," tambah Len dengan nada dingin.

Pelayan itu mengangguk dan mengulang kembali pesanan mereka. "Dua menu spesial, yaitu orange chocolate cake dan coffee latte, pesanan akan diantar dalam beberapa menit." Ia segera membungkuk dan meninggalkan mereka berdua.

Sekarang, mereka telah duduk berhadapan di cafe yang dituju. Suasana yang cukup sepi karena sudah melewati jam makan siang. Hanya ada beberapa orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Derap langkah dan suara sang pelayan menjadi melodi diantara mereka berdua.

"Len," panggilan Rin memecahkan keheningan diantara mereka berdua.

Len tersenyum. "Ada apa, Rin?"

"Kenapa kau selalu bersikap dingin dengan orang lain?" tanya Rin pelan. "Aaa ... maksudku kalau kau ingin memberitahu saja,"

Len awalnya terkejut, namun ia langsung tersenyum geli dan menopang kepalanya dengan punggung tangannya. "Aku senang loh ... ternyata Rin selalu memperhatikanku," ucapnya santai.

Rin kembali merona. "Bukannya begitu, baka!" ia memalingkan muka dengan cepat dan mengipasi wajahnya. "Yah, aku kan hanya bertanya, lagipula siapa juga yang selalu mau memperhatikanmu! Idih, ogah deh,"

Len terkikik pelan. "Banyak kok. Fansku kan bejibun," ia tersenyum sombong. "Mereka tentu saja mau memperhatikanku setiap waktu," ucapnya dengan nada angkuh.

Rin memutar bola matanya bosan. "Ya, whatever lah," ia mengerucutkan bibirnya.

Senyuman licik mengembang di wajah Len. "Kalau kau bertanya seperti itu, berarti kau juga termasuk fansku, dong~!" ucap Len riang. "Dan kau terlihat jealous! Aku sangat senang kalau kau mempunyai perasaan itu, Rin!"

BLUSH!

Rin merasa wajahnya mulai panas. "Baka! Apa yang baru saja kau katakan, idiot!?" sahutnya cepat.

Gadis itu berdiri, menyambar surai kuning di depannya dan menjambaknya kencang hingga membuat pemuda itu kesakitan. Namun sentuhan jemari Len di kedua lengan Rin membuatnya menghentikan aksinya. Len menggenggam kedua lengan itu dan menurunkannya dari rambutnya.

"Rin, kau tidak seharusnya bersikap seperti itu," ucap Len tajam. "Jaga sikapmu! Dan lihat rambutku! Kau membuatku berantakan," keluh Len sambil merapikan rambutnya.

Rin berdecih dan menarik tangannya. Ia duduk dan menghela nafas panjang. "Ya, kupikir aku baru saja out of control," Ia berdeham. "Gomenasai,"

Len tersenyum dan mengangguk sekilas. Ia menatap surai kuning yang sama persis dengan miliknya, entah kenapa itu mengingatkannya pada seseorang. Rin yang merasa risih langusung bertanya, "Apa ada sesuatu di rambutku, huh?"

Len tersentak lalu menggeleng. "Ah, tidak. Aku hanya teringat pada imouto kalau menatap rambutmu. Namun rambutnya panjang, tidak pendek," tuturnya sambil menyengir.

Rin berbinar. "Wah, Len punya imouto? Berapa?"

"Hanya satu. Dia lucu, menarik, dan periang, namun kalau marah akan sangat mengerikan," ucap Len sambil terkekeh pelan, membayangkan betapa seramnya adiknya jika sedang marah.

"Len pasti sangat menyayanginya, ya," Rin bertopang dagu dan mengalihkan pandangan. "Tidak seperti aku yang justru berkebalikan. Padahal sebenarnya aku menginginkan saudara perempuan, tapi justru mendapat saudara laki," Ia mendesah panjang.

"Ahahaha, kau perlu bersabar," ucap Len. Kemudian ia terdiam ketika Rin tidak membalas perkataannya lagi, ia memikirkan sesuatu hal. "Boleh aku bertanya sesuatu?" Ia mengganti topik dan menggantinya dengan suasana tegang.

Rin mengernyit menyadari perubahan pada Len. "Tentu,"

"Piko Utatane ... apa dia memiliki kulit pucat dan rambut putih? Dan hobinya adalah bermain laptop? Dia ... meninggal pada tanggal 14 May 20xx kan?" tanya Len pelan. "Aku bertanya ... karena aku merasa namanya familiar di telingaku,"

Rin terdiam sebentar. "Ya, kau benar," jawab Rin pelan. "Jadi ... kau mengenalnya?"

"Kupikir ... ya," jawab Len pelan. "Dia ... teman masa kecilku –mungkin,"

Rin menghela nafas panjang. "Kalau begitu ... kau pasti tahu apa penyebab kematiannya," Rin tersenyum sendu. "Katakan Len, aku tidak akan marah ataupun menangis,"

Len mengernyit. "Jadi selama ini kau tidak tahu penyebabnya?"

"Aku tidak pernah tau ataupun mau tahu tentang kematiannya. Bahkan mendengarnya saja telah membuat hatiku hancur berkeping-keping," Rin menunduk. "Kumohon beritahu aku,"

"Dia ... diracuni oleh seseorang ..." ucap Len pelan. "Maaf, aku tidak bisa mengatakannya lebih banyak karena aku masih enggan membicarakannya,"

Rin mendongak. "Lalu kenapa kau menanyakan tentang Piko?"

Len menghela nafas panjang. "Aku hanya ingin memastikan kalau aku tidak salah orang. Aku tidak bermaksud yang lain," tuturnya pelan.

Rin hanya bisa diam dan tenggelam dalam pemikirannya. Keduanya berdiam diri hingga sang pelayan membawakan pesanan mereka.

Keduanya segera makan dengan tenang tanpa pembicaraan sedikitpun. Dentingan garpu dan sendok menjadi melodi diantara mereka. Suasana cafe yang sepi menambah keheningan diantara mereka.

Rin mengelap bibirnya ketika ia sudah memakan makanannya sampai habis. "Terima kasih, Len," ujarnya sambil tersenyum.

Len hanya menanggapinya dengan senyuman.

"Ah, aku mau ke toilet dulu, ya," Rin segera melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan Len yang masih menghabiskan makanannya.

Len sudah menghabiskan makanannya dan sekarang ia sedang menunggu Rin yang tidak kunjung kembali. Sudah 15 menit berlalu, namun Rin belum kembali lagi. Ia mengisi kekosongan dengan mendengarkan lagu dari earphone miliknya.

Drrrt ... drrt ...

Handphone Len bergetar, menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Ia segera membuka pesan yang masuk di handphone touch screen-nya.

"Oh, Lily, ada apa, ya?" gumamnya ketika melihat nama sang pengirim.

From : Lily-san

Len! Apa kah Rin bersamamu? Aku mendapat firasat buruk tentangnya! Firasat ini semakin membesar! Pokoknya lindungi dia! Jangan sampai firasatku terjadi! Kumohon, Len!

Len menghela nafas panjang. Menurutnya Lily terlalu overprotective terhadap keponakannya sehingga membuatnya terbayang-bayang akan hal yang negatif.

"Dasar!" gumamnya pelan. "Disini tidak mungkin ada hal kejahatan."

Baru saja Len akan membalas pesannya namun─

"KYAAA! DARAH!"

─tiba-tiba telinganya menangkap sebuah pekikan yang berasal dari toilet wanita.

Len terbelalak. Ia menatap ponselnya dengan gemetar, tidak menyangka bahwa firasat Lily benar-benar terjadi. Pikirannya sekarang hanya berpusat pada satu orang, yaitu Rin.

"Rin!"

God, please save her!

.

.

To Be Continued

.

.

Author's Note :

Aaa ... senen besok UTS TAT jadi kemungkinan chapter berikutnya akan dipost dua minggu lagi. Gomenasai (_ _)

Terimakasih yang udah review chapter kemaren. Maaf saya gak bisa bales review karena saya lagi dihantui oleh tugas yang numpuk ;A; sekali lagi GOMENASAI!

Yak, bagaimana alurnya? Gajekah? Terlalu cepetkah? Apa chapter ini udah bikin penasaran? Udahhh tulis aja di kotak review dan komentar sebanyak-banyaknya agar saya bisa memperbaiki fic abal ini.

Oh ya tentang Piko, adakah yang bisa menebak alur selanjutnya tentang dia? Apa dia beneran meninggal? Hayoo tebak XD

Dan bagaimana dengan Neru yang hanya muncul sekali dalam fic ini? siapa ya temennya? Tebak tebak XD

Baiklah sampai bertemu di chap selanjutnya, bye~