.
CONFESSION (고백)
.
.
CHAPTER 3
.
"Kyungsoo, kau mau makan bersamaku dan Luhan hyung?" Baekhyun bertanya dengan nada lirih pada Kyungsoo, seolah takut kalau Kyungsoo akan menolak ajakannya. Terlebih beberapa hari ini Kyungsoo selalu bersama Chanyeol. Sedikit banyak Baekhyun merasa menjadi pengganggu juga. Kyungsoo terlihat mengetuk dagunya dengan jari telunjuknya kemudian tersenyum dan mengangguk mantap. "Baiklah ayo." Baru saja Baekhyun membalikkan badan, tubuh mungilnya sudah dihalangi oleh sosok Chanyeol yang tengah memandang remeh padanya.
"Kau mau mengajak Kyungsoo kemana?" Chanyeol bertanya dengan wajah yang sangat datar. Baekhyun membuang nafas perlahan. Berusaha untuk tenang dan tidak meledak karena emosi. Ia tahu betul, Chanyeol selalu datang hanya untuk membuatnya kesal saja. Chanyeol meraih tangan kanan Kyungsoo dan menariknya hingga badan mungil Kyungsoo berada dalam dekapannya. "Sudah kubilang kalau waktu istirahat adalah waktuku bersama Kyungsoo kan?" Baekhyun mengangguk pelan. "Kalau begitu pergilah dan jangan mengganggu kami." Baekhyun hanya menghela nafas dan mulai melangkah keluar kelas.
"Chanyeol, apa yang kau lakukan? Kasihan kan Baekhyun." Kyungsoo melepaskan dekapan Chanyeol dan menatap punggung Baekhyun yang baru saja menghilang di balik pintu.
"Sudah—biarkan saja baby."
Baekhyun melangkah kakinya menuju taman dengan cepat, sementara kedua tangannya mencengkeram kotak bekalnya kuat – kuat. Apa salahnya pada Chanyeol? Kenapa dia selalu saja membully nya? Dan sekarang ia telah berhasil menjauhkannya dari Kyungsoo. Begitu senangkah Chanyeol membuatnya menderita? Selalu seperti ini, setiap Chanyeol membully nya –entah secara langsung atau tidak langsung, matanya selalu saja memanas, seolah ada sesuatu yang mendesak ingin keluar. Namun ia selalu berhasil menahannya walau pun dadanya harus merasa sesak seolah kehilangan udara di sekitarnya.
"Baek—" Sebuah tepukan di pundaknya berhasil menyadarkan Baekhyun. Ia berbalik dan mendapati Kai tengah tersenyum padanya. Baekhyun meneguk salivanya sebelum akhirnya memaksa bibirnya untuk ikut tersenyum. Dan sepertinya berhasil. Kai tak menyadari raut wajah sedih Baekhyun barusan. "Kau mau kemana?" Ia menenteng kotak makannya ke depan wajah Kai.
"Makan siang bersama Luhan hyung." Baekhyun tersenyum lagi. Kai menyengitkan dahi sebelum akhirnya menyeringai dan menyeret tangan Baekhyun untuk mengikutinya. "K-Kai—Ya! Kai! Kita kemana?" Kai berhenti sebentar dan menatap Baekhyun dengan raut wajah yang tak dapat digambarkan.
"Aku juga lapar baby—aku ingin ikut makan bersamamu dan Luhan hyung." Kai merengek manja membuat Baekhyun langsung sweetdrop. Aneh juga melihat seorang Kim Jongin yang terkesan dingin pada orang lain kini merajuk padanya. Tanpa menunggu lagi, Baekhyun beralih menggenggam tangan Kai dan menyeretnya kearah taman sekolah. Baekhyun melepaskan genggaman tangannya pada Kai dan berlari – lari kecil kearah Luhan yang sudah menunggunya di bawah pohon oak di taman sekolah mereka. Luhan pun melambai – lambai antusias. Kai yang berada di belakang Baekhyun hanya terkekeh pelan dan mengikuti setiap pergerakan Baekhyun.
"Hyung sudah lama?" Baekhyun bertanya dengan nada khawatir. Luhan tersenyum simpul dan mengusak surai Baekhyun.
"Tidak kok." Luhan kini beralih menatap Kai. "Kai—kau belum cerita kenapa kau tiba – tiba kembali kesini. Sini—sini." Luhan menepuk – nepuk akar pohon oak disampingnya. Kai hanya tersenyum sebelum akhirnya duduk disamping Luhan. Mereka pun memulai acara makan siang mereka. Terkadang diselingi guyonan atau pukulan kecil pada Kai karena mengingatkan masa kecil mereka bertiga yang terasa konyol. Suasananya terasa hangat dan akan membuat siapa pun iri pada mereka bertiga. Tanpa disadari mereka, Kyungsoo tengah menatap nanar kearah mereka bertiga. Ia bahkan belum bertegur sapa dengan Kai tetapi sudah harus menerima kenyataan kalau Kai dekat dengan Baekhyun.
"Baby Soo! Kau akhir – akhir ini selalu melamun." Kyungsoo tersentak dan menggeleng pelan. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Chanyeol, mencari kenyamanan. Entah kenapa jantungnya berdenyut sakit melihat keakraban Kai dengan Baekhyun. 'Oh—ayolah Kyungsoo, kau hanya bertemu sekali dengan Kai, tapi kenapa perasaanmu sudah seperti itu? Ada apa denganku?'
Confession © ChanBaek
"Panggilkan Baekhyun, Keluarga Oh sudah datang." Mendengar penuturan ibunya, Luhan menghela nafas kasar dan berbalik kearah kamar Baekhyun. Ia memandangi pintu bercat putih itu ragu. Haruskah dia mengetuknya dan mengatakan pada Baekhyun kalau Keluarga Oh sudah datang? Bukankah itu berarti dia semakin menyakiti adiknya? Sungguh—dia menjadi serba salah sekarang. Akhirnya dengan segenap keyakinannya sendiri, Luhan mengangkat tangannya dan mengetuk pintu itu.
Tookk.
Tookk.
Cklek—
"Ah—hyung?! Apa Keluarga Oh sudah datang?" Mata Luhan membulat. Tangannya masih bertengger di udara kosong sebelum akhirnya kepalanya mengangguk pelan. Bagaimana tidak kaget kalau orang yang kau lihat beberapa hari ini murung, tiba – tiba terlihat begitu gembira dan sangat ceria, seolah tak pernah terjadi sesuatu sebelumnya. "Ah, aku sudah siap. Kalau begitu ayo turun." Baekhyun menggeser tubuh Luhan yang mematung dan menutup pintu kamarnya. Ia meraih tangan Luhan lalu menariknya ke bawah. 'Drama apa lagi yang kau mainkan, Baekhyun.' Luhan tersenyum miris. Melihat pundak yang ringkih itu, tak mungkin perasaan Baekhyun baik – baik saja. Ia pasti menderita karena memikul semua bebannya sendiri.
"Ah—itu mereka." Nyonya Byun berseru membuat beberapa pasang mata menatap dua orang pemuda yang tengah menuruni tangga itu. Baekhyun tampak berjalan beriringan dengan Luhan yang sedari tadi menampakkan muka masam. Baekhyun tersenyum kecil dan membungkuk kearah Keluarga Oh. Ia melirik Luhan dan menyenggol sedikit lengannya. Luhan yang tengah melamun langsung tersadar dan membungkuk juga kearah Keluarga Oh. Sejenak matanya bertemu dengan Sehun. Sehun tersenyum tipis namun Luhan hanya memalingkan wajahnya, berpura – pura tak melihatnya. Dan tentu saja itu membuat Sehun merasakan nyeri di hatinya.
Di tengah – tengah acara makan malam kedua belah pihak nampaknya mendiskusikan masalah pernikahan Luhan dan Sehun. Luhan berulang kali mendengus kesal, sedangkan Baekhyun di sampingnya hanya menggenggam tangannya dan menggeleng pelan, seolah meminta Luhan untuk menjaga kesopanannya di depan Keluarga Oh. Lagi – lagi Luhan selalu luluh oleh adiknya. Matanya menatap Sehun kesal, sedangkan pemuda yang ditatap hanya menampilkan senyuman tipis yang entah mengapa membuat hatinya menghangat. Yeah, walau pun kelihatannya Luhan sangat tak menyukai Sehun, namun jauh di lubuk hatinya, ia merasakan kehangatan dari tatapan itu. Namun terlalu jauh hingga Luhan berhasil menutupi perasaan itu dengan kekesalan tak beralasan pada Oh Sehun.
"Luhannie sangat manis~ aku yakin mereka berdua akan cocok." Mendengar ucapan Nyonya Oh, Luhan hanya tersenyum simpul. "Oh ya, Luhan juga termasuk murid berprestasi di sekolahnya kan?" Tawa kecil mengiringi pembicaraan itu.
"Iya benar—dibandingnya adiknya yang bandel itu, Luhan lebih cantik dan pintar. Baekhyunnie kadang masih manja, maka dari itu kami rasa Luhan yang akan lebih pantas bersama Sehun yang juga luar biasa ini. Bukankah Sehun sangat mengagumkan, Luhannie?"
"Ah—kau berlebihan Nyonya Byun." Mereka kembali tertawa, kecuali BaekHunHan tentunya. Baekhyun yang mendengar penuturan ibunya hanya bisa menunduk dalam, sedangkan Luhan? Tangannya mengepal kuat dan selera makannya langsung hilang, menguar entah kemana. Sehun sendiri memilih diam—tidak terlalu memperdulikan pembicaraan seperti itu. Ingin sekali rasanya Luhan menarik Baekhyun pergi, keluar dari pembicaraan memuakkan yang terjadi di tengah – tengah rumah besar mereka ini. Sehun yang melihat gelagat Luhan hanya menatapnya dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Saat mata mereka bertemu, Sehun mengisyaratkan pada Luhan untuk mengikutinya. Luhan tampak berfikir sebentar. Ia memandang orang tuanya dan Baekhyun secara bergantian sebelum akhirnya mengangguk pelan. Ia juga perlu bicara dengan Oh Sehun.
"Maaf—bolehkah aku dan Luhan keluar sebentar? Mungkin ada yang harus kami bicarakan."
"Ah—tentu saja Sehun. Kau boleh keluar bersama Luhan." Sehun tersenyum tipis dan beranjak berdiri. Ia menatap Luhan yang masih terlihat ragu, kemudian Luhan berdiri dan membungkuk kepada Keluarga Oh. Kedua pemuda itu akhirnya melangkah keluar bersama, mengabaikan pandangan luka yang ditunjukkan Baekhyun. Tidak—bukan mengabaikan, tapi mereka memang tak tahu kalau Baekhyun tersenyum miris melihat punggung mereka yang hilang di balik pintu utama.
"Bukankah mereka sangat cocok?" Tuan Byun berucap.
"Tentu saja." –dan disetujui oleh yang lainnya, kecuali Baekhyun tentunya. Sedari tadi ia hanya memainkan pisau dagingnya, tanpa berniat mengiris daging panggang di piringnya. Ia memang tak berselera sedari tadi. Banyak pikiran yang memenuhi otaknya sekarang. Entah kenapa kepalanya terasa sakit, seolah penuh tekanan. Melihat bagaimana Sehun memandang kakaknya, sudah cukup membuktikan kalau Sehun memang menyukai Luhan. Dan itu seperti hujaman tersendiri di sudut hatinya. Kepalanya semakin berdenyut sakit. Bayangan bagaimana Chanyeol melarangnya bersama Kyungsoo, bagaimana Sehun dan Luhan, benar – benar membuat kepalanya semakin sakit. Perlahan ia meletakkan pisaunya diatas meja makan.
"Eo—eomma, a—aku ijin ke kamar. Kepalaku sedikit sakit." Baekhyun beru saja berdiri tapi ayahnya sudah menatapnya tajam.
"Baekhyun! Kau tak sopan. Kau mau meninggalkan ruang makan sedangkan Keluarga Oh ada disini?" Ayahnya berujar dingin, menambah intensitas rasa sakit di kepalanya –terlebih di hatinya juga.
"Eh—tidak apa-apa Tuan Byun. Baekhyun, kenapa kau terlihat pucat heum? Sudah sana istirahatlah." Nyonya Oh berujar dengan nada khawatir dan itu cukup membuat Baekhyun tersenyum kecil. Ia membungkuk pelan sebelum akhirnya berjalan tertatih ke kamarnya.
Cklek.
—dan tepat saat ia membuka pintu kamarnya, tubuhnya ambruk disusul dengan mata yang perlahan terpejam. Ia pingsan.
Ditempat lain –atau mungkin di taman belakang rumah Luhan, Luhan dan Sehun tengah duduk di kursi pinggir kolam renang disana. Luhan memandang kearah langit dengan ekspresi wajah sedih yang kentara, sedangkan Sehun sendiri tengah menikmati wajah yang dikaguminya ini. Ia bingung, apa yang membuat Luhan begitu murung seperti ini. Seolah banyak pikiran yang berkecamuk di otaknya, seolah ia memiliki masalah berat dalam hidupnya.
"Kau baik – baik saja?" Sehun bertanya khawatir. Luhan hanya memandangnya sebentar kemudian mengalihkan pandangannya lagi.
"Aku baik."
"Kau ada masalah?"
"Banyak." Sehun menyerngitkan dahi.
"Kau bisa bercerita padaku mungkin." Luhan tersenyum kecil dan menggeleng pelan. Yeah, walau pun hanya senyuman kecil, namun itu berhasil membuat hati Sehun menghangat. Dan mungkin, ia perlu menyelidiki apa yang membuat Luhan seperti ini. Lagipula wajah sedih itu benar – benar tak cocok dengan wajah cantik Luhan yang biasanya ceria dan Sehun tak suka itu. 'Ahh—sepertinya aku benar – benar jatuh cinta pada Luhan.'
"Jadi—kau mau membicarakan apa?" Luhan bertanya dengan nada dingin.
"Bukan hal yang penting." Sehun menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. "Aku hanya heran, kenapa kau terlihat sangat tidak menyukaiku? Apa karena perjodohan ini?"
"Kau sudah tau kan? Kenapa bertanya?" Sehun menghela nafas –lagi, setelah mendengar jawaban ketus dari Luhan barusan. Luhan menoleh perlahan dan tatapan jengkelnya tadi berubah menjadi tatapan sendu. "Ada sesuatu yang membuatku ragu untuk mencoba mencintaimu." aku Luhan. Sehun Pemuda berkulit putih itu tersenyum simpul. Ia meraih tangan kanan Luhan, menggenggamnya hangat dan meletakkannya diatas pahanya.
"Aku yang akan menghapus keraguan itu. Jadi, percayalah padaku." Dan untuk pertama kalinya, Luhan tersenyum tulus padanya.
Confession © ChanBaek
"Baekhyun—hiks." Baekhyun mengerjap – kerjapkan matanya. Suara isakan kecil yang baru saja di dengarnya berhasil membangunkannya dari tidur mendadaknya tadi. Ia menoleh ke kiri dan mendapati Luhan tengah menangis sembari mengusap rambutnya pelan. Melihat Baekhyun yang telah membuka mata, Luhan langsung memeluknya. "Mianh—mianhae Baekhyunnie~ Mianhae~" Tangan Baekhyun terangkat, mengusap – usap pundak Luhan sayang.
"Aku tidak apa-apa hyung. Kenapa kau menangis eoh?"
"Ini pasti gara – gara makan malam ini kan?" Baekhyun menggeleng pelan.
"Tidak hyung—tenang saja." Baekhyun mendudukkan dirinya dan mengusap pundak hyungnya. "Aku hanya terlalu lelah."
"Astaga Baekhyunnie~ kau sudah sadar sayang, apa kau tidak apa-apa?" Nyonya Byun yang baru saja masuk langsung mengusap surai Baekhyun sebentar. "Kau tidak apa-apa kan?" Baekhyun mengangguk lemah dengan senyuman yang dipaksa di bibirnya. "Kalau begitu appa dan eomma akan pergi sebentar, kami akan membicarakan masalah perusahaan dengan Keluarga Oh. Kau tak apa-apa 'kan sendiri?" Baekhyun memandang bingung ibunya. "Luhan harus ikut ke perusahaan bersama kita, Sehun juga disana. Para maid akan menjagamu. Ayo Luhan."
"Eomma—Baekhyun sedang sakit, kita harus menjaganya."
"Baekhyunnie akan baik – baik saja sayang. Baekhyun hanya kelelahan. Tidak apa-apa kan, honey?" Nyonya Byun menatap Baekhyun seolah mendesaknya. Akhirnya Baekhyun hanya mengangguk pelan. Ia mengigit bibir bawahnya dan meremas pelan selimutnya. Luhan sendiri menatap nanar adiknya yang menunduk. Ia tahu, pasti Baekhyun menahan tangisnya lagi. Pasti sakit rasanya.
"Tidak eomma, aku akan—"
"Luhan! Ini mendesak. Mereka sudah menunggu. Kita tak boleh mengecewakan Keluarga Oh yang telah baik pada kita." Ibunya langsung menyeret Luhan keluar dari kamar Baekhyun. Dan bunyi 'brak' dari pintu yang ditutup kasar oleh ibunya menandakan kalau mereka benar – benar pergi. Baekhyun memeluk kedua lututnya, membenamkan kepalanya diantara lipatan lututnya, menangis sendiri, entah sudah keberapa kalinya.
Confession © ChanBaek
"Hhh—" Kyungsoo menghela nafas kesal, membuat Baekhyun terkikik kecil.
"Kau kenapa?"
"Ada yang aneh dengan Chanyeol—" Pemuda bermata bulat itu menghela nafas lagi. "Dia jarang menghubungiku. Dan juga—akhir – akhir ini dia terlihat bersama seorang sunbae berwajah manis. Apa kau kenal?" Baekhyun hanya menggedikkan bahu. Kyungsoo kembali menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangannya. Tiba – tiba terdengar pekikan kecil dari beberapa murid di kelas itu. Tak urung Baekhyun dan Kyungsoo mengikuti arah pandang semua siswa yang ternyata bertumpu pada sosok tinggi dan tampan yang tengah celingukan di depan pintu kelas mereka. Baekhyun tersenyum simpul sebelum akhirnya melambai pada sosok itu.
"Kai!" Yang dipanggil pun menoleh dan tersenyum tampan. Ia bergegas kearah bangku Baekhyun. Mengabaikan berbagai decak kagum murid – murid disana. Baekhyun memang duduk berhadapan dengan Kyungsoo, namun sosok Kai justru memilih duduk tepat di samping Kyungsoo, membuat pemuda bermata doe itu salah tingkah dengan wajah yang mulai memerah –entah karena apa, dan beruntung tak ada yang menyadarinya.
"Kau Kyungsoo kan?" Kyungsoo mengangguk pelan.
"Loh? Kalian saling kenal?" heran Baekhyun.
"Yeah, dia nona manis yang kukenal di jalan itu." Blush~ wajah Kyungsoo langsung memerah. Dia memang benci dikatai mirip perempuan, tapi entah kenapa jika Kai yang mengatakannya reaksinya menjadi seperti ini. Semua terasa tiba – tiba aneh dan dia tak mengerti. Akhirnya, beberapa menit mereka habiskan dengan percakapan kecil, sesekali Kai menggoda Kyungsoo dan Baekhyun akan terpingkal setelahnya.
"Aku ke toilet dulu." Baekhyun berucap di sela – sela percakapan mereka. Kyungsoo dan Kai mengangguk bersamaan. "Euh—kalian benar – benar kompak. Ihhihi." Baekhyun segera melesat pergi sebelum sebuah sepatu mengenai kepalanya. Calon pelakunya? Tentu saja Kyungsoo dengan wajah yang kembali memerah, entah karena marah atau karena—hhoho.
Di lorong kelas, Baekhyun sesekali tersenyum saat mengingat tingkah Kyungsoo dan Kai di kelas tadi. Dia tak menyangka kalau mereka akan akrab dengan begitu cepat. Pasalnya Kyungsoo itu pendiam dan sedikit pemalu, tidak menyangka akan sangat cocok bersama Kai, terlebih saat Kai menggodanya, gelagat aneh Kyungsoo tentu membuat pikiran Baekhyun kemana – mana. Asal main tebak, misalnya, Kyungsoo jatuh cinta pada Kai? Tapi sepertinya tidak mungkin karena Kyungsoo memiliki—
"Ommo!"
—Chanyeol.
Mata Baekhyun membulat sempurna. Baru saja dia membuka toilet ia sudah disuguhi oleh sepasang pemuda yang tengah berciuman panas di depan pintu salah satu bilik toilet. Tapi bukan itu masalahnya, disini sudah sering terjadi hal seperti itu. Tapi pelakunyalah yang menjadi titik permasalahan. Pemuda yang tengah memeluk pinggang pemuda yang lebih kecil itu—Park Chanyeol kan? Sepertinya dia tak menyadari kehadiran Baekhyun, karena mereka masih sama – sama saling memagut lidah. Baekhyun meneguk paksa liurnya yang entah kenapa tiba – tiba terasa berhenti di tenggorokan. Dengan tangan gemetar, dia memanggil nomor Kyungsoo. Dia tak bisa membiarkan ini. Chanyeol akan semakin menyakiti Kyungsoo jika Baekhyun diam saja.
"Ke toilet sekarang." Baekhyun berbisik pelan.
2 minutes later...
Brakkk
"Baek—ada ap—Chanyeol?!" Chanyeol langsung mendorong tubuh pemuda di depannya dengan sekali hentakan. Mata bulatnya langsung melebar saat melihat Kyungsoo tengah menatapnya dengan wajah yang sudah tak bisa digambarkan lagi. Antara sedih, kecewa, marah—semua rasa yang membuat dada Kyungsoo seperti tertekan benda berat. Pemuda yang dicium Chanyeol tadi langsung bergerak pergi. Baekhyun sendiri di belakang Kyungsoo hanya menatap was was mereka berdua secara bergantian. "A—aku tidak menyangka kau—hiks. Kau menghianatiku, Chanyeol—hiks." Wajah Kyungsoo mulai basah.
"Kyungie—ini tak seperti yang kau lihat. Kami tadi hanya—"
"HANYA APA?! Kau—hiks membohongiku Park Chanyeol! Kau berbohong padaku! Hiks." Chanyeol baru saja ingin menyentuh pundak Kyungsoo namun Kyungsoo langsung berbalik dan berlari pergi. Baekhyun sempat melihat Kai –yang baru menyusul mereka– langsung membawa Kyungsoo pergi. Entah kemana asalkan perasaan Kyungsoo bisa tenang. Chanyeol mendekati Baekhyun dan mencengkeram pundak pemuda itu hingga ia meringis kesakitan.
"Pasti ini gara – gara kau, Byun Baekhyun." Baekhyun tersenyum remeh.
"Seharusnya kau menyadari kesalahanmu Chanyeol-sshi. Kenapa kau menyalahkanku atas kejadian ini? Ini adalah resikomu menjadi seorang pembohong! Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kau perbuat, Chanyeol-sshi." Baekhyun melepas paksa cengkeraman Chanyeol dan menghempaskan tangan yang lebih besar itu. Ia berbalik dan ingin pergi. Namun baru dua langkah, ia menoleh pada Chanyeol. "Jauhi Kyungsoo, kau hanya akan menyakitinya." Dan Baekhyun pun benar – benar pergi dari tempat itu. Meninggalkan Chanyeol yang menggeram dengan rahang mengeras. Ia mengepalkan tangannya kuat – kuat.
"Brengsek! Akan aku buat kau menjauh dariku dan Kyungsoo, Byun Baekhyun."
Confession © ChanBaek
"Kau sudah merasa lebih baik?" Kai bertanya dengan hati – hati. Melihat Kyungsoo sesegukan tak urung membuat hatinya ikut bersedih. Walau Kai tidak melihat kejadian tadi secara keseluruhan, tapi dia bisa menangkap 'inti' dari pertengkaran di toilet tadi. Kekasih Kyungsoo –yang dia tak tahu siapa namanya, telah berselingkuh bahkan berciuman di depannya. Kai tak bisa membayangkan kalau dirinya ada di posisi Kyungsoo. Pasti dia sudah mencakar atau kurang lebih memukul kekasihnya. Heum—mungkin.
"A—aku—hhh, aku baik – baik saja, Kai." Kyungsoo mencoba tersenyum, walau harus ia akui itu terasa sangat sulit dan Kai yang melihatnya merasa senyuman itu sangatlah aneh. "Terima kasih sudah meminjamkan bahumu."
"Oh—no problem." Kai tersenyum tampan. Membuat hati Kyungsoo sedikit menghangat karenanya.
"Ehh—omong – omong Baekhyun dimana?" Kyungsoo celingukan dan beberapa detik setelahnya Kai juga melakukan hal yang sama.
"Entahlah—" Kai menggedikkan bahu lalu menatap Kyungsoo lagi. "Aku rasa dia tadi tidak mengikuti kita, mungkin dia langsung ke kelas." Tentu saja, jam pelajaran sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Sedangkan Kai dan Kyungsoo berada di taman sekolah sekarang. Tidak mungkin kan Kai membawanya kembali ke kelas? Apa kata teman – teman sekelas Kyungsoo nanti? Bisa – bisa Kai dikira meng'apa – apa'kan Kyungsoo.
Di dalam kelas, Baekhyun bergerak – gerak gelisah di bangkunya. Pelajaran yang disampaikan guru benar – benar tak ada yang masuk ke dalam otaknya. Dia celingukan kesana – kemari, mengkhawatirkan keadaan Kyungsoo. 'Semoga saja Kai bisa menjaganya'. Dia tadi tidak tahu kemana Kai membawa Kyungsoo dan sialnya saat dia kembali ke kelas tadi, Han seonsaeng sudah memasuki kelas. Kalau saja dia tak bilang dari toilet, mungkin dia takkan diijinkan masuk. Dan lihat—bangku Chanyeol kosong, dia takut kalau Chanyeol mencari – cari Kyungsoo dan menimbulkan masalah lagi. Baekhyun benar – benar terjebak dalam situasi sulit sekarang.
"Baby Soo!" Kyungsoo benar – benar mengumpat dalam hati saat mendengar suara bariton dari arah belakangnya, sudah dapat dipastikan kalau Chanyeol menemukannya sekarang. Pemuda berperawakan tinggi itu langsung menarik lengan Kyungsoo dan membalikkan badannya. Kyungsoo mengigit bibir bawahnya saat merasakan kuku Chanyeol menusuk kedua lengannya. "Aku mohon dengarkan aku, Kyungie."
"Pergilah, Park Chanyeol. Aku tak mau bertemu denganmu lagi." tegas Kyungsoo.
"Tidak—kau salah paham, Kyungsoo."
"Aku melihatnya Chanyeol! Berhenti berbohong padaku."
"AKU TIDAK BOHONG!"
"AKH!" Kyungsoo meringis pelan, lengannya besar – besar sakit. Perlakuan Chanyeol sungguh kasar. Biarpun dia lelaki tetapi perbedaan fisik mereka tak urung membuat Kyungsoo menjadi lemah.
"Hei, kau menyakitinya, Chanyeol-sshi." Kai yang hanya diam sedari tadi akhirnya menengahi. Chanyeol berpaling. Menatap tajam kearah Kai seolah – olah Kai adalah virus penganggu.
"Kau siapa? Kau tidak usah ikut campur urusanku." Entah kenapa Kai jadi merasa sebal pada pemuda jangkung itu. Apa dia tidak bisa melihat kalau perlakuan kasarnya itu menyakiti Kyungsoo? Kai bergerak maju dan menyentuh tangan Chanyeol di lengan Kyungsoo.
"Kasihan Kyungsoo, dia kesakitan."
Bukk.
Kai tersungkur ke belakang saat satu bogeman dari Chanyeol mendarat di pipinya. Chanyeol yang sedang emosi mulai mendekati Kai dan mencengkeram erat kerah Kai. Menatapnya tajam. Sedangkan Kai hanya meringis pelan, memegangi sudut bibirnya yang berdarah. Bukannya Kai lemah dan tidak bisa membalas, hanya saja dia tak mau berkelahi dengan orang yang sedang emosi. Itu bukan ide yang baik. Dan hanya akan membuat urusan tambah runyam nantinya.
"Dasar brengsek—"
"Hentikan Chanyeol!" Kyungsoo berteriak, menghentikan pergerakan tangan Chanyeol yang telah mengambil ancang – ancang untuk memukul Kai lagi. "Jangan sakiti dia! Kai tidak tahu apa – apa. Kalau kau memang ingin menjelaskannya, aku akan mengikutimu. Jangan menganggunya Chanyeol." Chanyeol mendecih kasar sebelum akhirnya menghempaskan tubuh Kai ke tanah. Chanyeol berdiri dan segera menarik Kyungsoo pergi. Mata bulat Kyungsoo kembali berkaca – kaca saat melihat tatapan sendu Kai padanya. 'Maaf Kai.' batinnya.
Confession © ChanBaek
Brukk.
"Mau apa lagi kau Park Chanyeol?" ketus Baekhyun. Ia sudah muak dengan semua perlakuan Chanyeol padanya. Punggungnya terasa sangat sakit saat Chanyeol mendorongnya begitu kuat. Koridor sangat sepi, takkan ada seorang yang tahu jika Chanyeol akan membunuhnya sekarang juga. Dan sepertinya inilah yang diinginkan Baekhyun, mati.
"Dasar brengsek! Jangan mendekati Kyungsoo ku lagi, Byun Baekhyun. Kau hanya pengganggu!" Chanyeol mencengkeram erat kerah bajunya. Bahkan Baekhyun merasakan lehernya sudah akan tercekik oleh kerah bajunya sendiri, apalagi ia harus berjinjit karena Chanyeol mengangkat tinggi kerah bajunya. Wajahnya memerah karena lehernya mulai terasa sakit. Namun sebisa mungkin ia tenang, tak mau menunjukkan raut wajah ketakutan pada Chanyeol, karena ia tahu Chanyeol akan semakin senang melihatnya menderita. Baekhyun tersenyum meremehkan.
"Aku tak pernah mendekati Kyungsoo, Chanyeol-sshi. Bukankah kau sendiri yang menjauhkannya dariku? Jadi bukan salahku jika Kyungsoo mencariku. Kami sudah menjadi teman bahkan sebelum kau hadir dalam kehidupan kami."
"Ck, sialan. Kau hanya menghalangi hubunganku saja. Berani – beraninya kau mengatakan padanya kalau aku berselingkuh dengan Key hyung hah! Aku tahu, kau kan memberitahunya tadi?!" Chanyeol menatap tajam kearah Baekhyun.
"Hey, aku mengatakan kebenaran Tuan Park. Lagi pula dia melihat sendiri bagaimana kau mencium Key Kim—uhhuk." Cengkeraman Chanyeol yang semakin kuat membuat Baekhyun terbatuk pada akhir kalimatnya. Sungguh, ia tercekik sekarang.
"Ck, bodoh! Brengsek kau Byun Baekhyun! Dasar sialan! Apa perlu aku membuat Kyungsoo membencimu hah?"
"Silahkan sakh-jah kalau kauhh bisaa-akh!" Nafas Baekhyun tercekat. Chanyeol mencekiknya dengan sangat kuat. Entah berapa lama lagi dia bisa bertahan dengan nafas yang mengumpul di tenggorokannya karena tak bisa leluasa keluar. Chanyeol menghempaskannya hingga tubuhnya menabrak tembok dan jatuh. Chanyeol melayangkan satu tinjukan pada Baekhyun hingga sudut bibirnya pecah dan berdarah. Baekhyun bangkit dan balas mencengkeram kerah Chanyeol hingga wajah Chanyeol mendekat. Bahkan nafasnya sudah menerpa wajah Baekhyun. "Aku takkan membiarkanmu menyakiti sahabatku, brengsek!"
"Hhh, kau pikir siapa kau?!" Chanyeol tampak melirik kearah samping dan menyeringai. "Kau sendiri yang akan menyakiti Kyungsoo."
"Kau—mpph." Tiba – tiba saja Chanyeol membungkam bibir Baekhyun dengan bibirnya. Menghisap kuat hingga rasa darah di sudut bibir Baekhyun terasa oleh Chanyeol. Lidahnya dengan seenaknya memaksa masuk kedalam mulut Baekhyun. Baekhyun yang masih shock hanya bisa mematung tanpa bisa memberi perlawanan. Tangannya yang masih setia mencengkeram kerah Chanyeol seolah membuat Baekhyun lah yang menciumnya. Benar – benar mendukung rencana Chanyeol karena—
"Baek—Baekhyun—" Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol hingga ia tersungkur di lantai. Mata Baekhyun membulat saat mendapati Kyungsoo memandangnya dengan mata yang berkaca – kaca. Sekarang Baekhyun tahu, Chanyeol sengaja melakukannya karena Kyungsoo ada disana. Yeah, dan Chanyeol berhasil menjebaknya.
"Kyung-Kyungsoo-ya." Baekhyun terbata. Ia berjalan bahkan seolah menyeret kakinya menuju kearah Kyungsoo. Bulir – bulir bening mulai muncul di permukaan wajah Kyungsoo. Kyungsoo beringsut mundur saat tangan Baekhyun akan menggapainya. Chanyeol yang masih terduduk mengusap bibirnya kasar dan menyeringai puas.
"Kau lihat sayang, Baekhyun lah yang berkhianat padamu. Dia mencintaiku. Karena itu dia menjebakku dengan Key hyung tadi."
"Tidak Kyungsoo, dia berbohong. Tidak. Aku tidak melakukannya." Mata Baekhyun memanas. Dia tahu, Kyungsoo tak mungkin akan mempercayainya kali ini. Kyungsoo akan membencinya. Lagi – lagi saat ia mendekat, Kyungsoo melangkah mundur. Seolah jijik jika dia menyentuhnya. Tatapan kecewa Kyungsoo benar – benar menyayat hatinya. Chanyeol berdiri. Menepuk – nepuk bahunya seolah menghilangkan bekas Baekhyun darisana.
"Kau membohongiku Baekhyun. Ak-aku tidak menyangka kau membohongiku. Hiks." Kyungsoo berbalik cepat dan berlari pergi. Sebelum Baekhyun mengejarnya, tangannya sudah dicengkeram oleh Chanyeol. Ia menatap Chanyeol penuh kebencian. Ia memutar badannya dan meraih kerah Chanyeol hendak melayangkan pukulan ke wajah tampan yang membuatnya menderita ini.
"Kau kalah Byun Baekhyun. Bahkan kau takkan bisa menyentuhku seujung kuku pun." Chanyeol tersenyum meremehkan. Ia menyentak tangan Baekhyun di kerahnya dan membenarkan kerahnya dalam sekali kibasan. Ia mendorong bahu Baekhyun dan beranjak pergi. Meninggalkan Baekhyun yang tengah mematung disana. Rasanya Baekhyun ingin menangis, tapi entah mengapa tak ada air mata yang mampu keluar. Membuat rasa sesak itu kian menguat.
"Kyungsoo-ya." Baekhyun ambruk. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Tak ada isakan yang mampu meringankan bebannya. Dia sangat ingin mati sekarang juga.
Bel jam akhir pelajaran baru saja berdenting. Baekhyun terpaksa bolos di jam pelajaran sehabis istirahat tadi karena Chanyeol menyeretnya pergi, dan tentang masalah di koridor tadi, ia belum berani berhadapan dengan Kyungsoo. Apa yang harus dikatakannya nanti? Ia yakin Kyungsoo takkan mempercayainya lagi.
"Ck, sial." runtuknya saat sudut bibirnya terasa perih. Ia membuka pintu kelasnya perlahan. Karena bel sekolah baru saja berbunyi, dan guru baru saja keluar. Keadaan kelas begitu ramai. Ia sangat bersyukur saat para siswa yang lain tengah sibuk dengan urusannya sendiri, sehingga takkan ada yang memperhatikannya. Bukankah sangat memalukan jika datang dengan wajah babak belur seperti itu?
"Eoh, Jongdae? Kenapa duduk disini?" Baekhyun bertanya karena kaget melihat Jongdae yang menempati bangkunya.
"Kyungsoo tadi meminta tukar tempat. Tak apa-apa kan?" Dada Baekhyun terasa sesak kembali. Ia mengedarkan pandangannya dan melihat Kyungsoo tengah duduk bersama Huang Zitao. Mata mereka bertemu, namun Kyungsoo buru – buru mengalihkan perhatiannya pada Tao dan tertawa lepas karena guyonan Tao. Baekhyun menghela nafas kemudian duduk di bangkunya.
"Baekhyun-sshi, apa kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat dan sudut bibirmu berdarah. Kau baru saja dipukul orang?" Baekhyun hanya mengulas senyum simpul.
"Aku tidak apa-apa Jongdae-sshi, hanya kelelahan. Aku tadi terbentur tembok saat kembali ke kelas, jadinya bibirku berdarah." Jongdae hanya mengangguk – angguk mempercayainya. Baekhyun melipat kedua tangannya dan menyembunyikan wajahnya disana. Apa ia bisa hidup tenang setelah ini? Apa dia harus pergi seperti perkataan Chanyeol? Apakah dia akan kalah kali ini? Entahlah.
Dan Baekhyun rasa—cinta di dunia ini sudah menghilang. Dia hidup bukan di lingkungan orang yang menginginkannya. Dia hidup, di lingkungan orang – orang yang membencinya, membuat Baekhyun berharap Tuhan akan mengambil nyawanya sekarang juga.
'Tak ada cinta untukmu, Baekhyun. Tak ada kasih sayang yang bisa kau dapatkan lagi. Kau tak di inginkan di dunia ini—'
.
"To be continued—"
.
Special Thanks For ::
[ babybyunsoo ][ GreifannyGS ][ Jung Eunhee ][ Lee eun san ][ Nicha][ sweetyYeollie][ Babylu ][ Guest ][ samkou ][ ChanLoveBaek ][ HyunRa ][ indaah'cqupp ][ Ayyes ][ jungsssi ][ ChoiHyoSoo ][ AnjarW ][ ajib4ff ]
