DON'T FORGET LEAVE REVIEW for support the story!
HunHan is REAL! Yo yo yo~
.
Typo is my style gaes typo everywhere ~
.
Enjoy to read nyaaahhh~
.
Chapter 3
HunHan : Once Upon A Time
.
'When i start it with once upon a time i hope that's will be happily ever after'
...
'He's a miracle that i'm never forget it'
Disinilah, di tempat indah ini dimana sehun menemukan satu hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, bertemu dengan sosok manusia setengah peri yang kini menjadi setengah dari hidupnya.
Sehun menatap luhan yang tengah meniup beberapa kelopak bunga bunga dandelion yang sudah bertransformasi, kelopak kelopak yang bertekstur seperti bulu itu terbang terbawa angin ketika luhan meniupnya dengan mulutnya, setelah itu ia akan tersenyum.
Mereka kini sedang duduk di hamparan rumput hijau di sisi tebing yang mengarah langsung ke lautan lepas. Namun kemudian sehun mengernyit ketika ia mengingat sesuatu yang tak sempat ia tanyakan pada luhan kemarin.
"Hhh" luhan menghela lalu menghempaskan punggungnya ke rumput rumput hijau yang menjadi alas mereka, ia memicingkan matanya menatap ke arah langit sambil mengarahkan tangannya ke langit dan menggerakan jemarinya. Ia menutup kelopak matanya lalu tersenyum ketika angin segar menyapa kulit tangannya.
"Apa kau menyesal lu?"
Luhan membuka matanya lalu menatap sehun cepat, ia lalu bangkit dari pembaringannya dan menatap wajah sehun seksama.
"Maksudmu?"
"Karenaku kau kehilangan semuanya"
Luhan tersenyum, matanya kembali mengarah ke arah lautan.
"Ada orang yang bilang ketika kau mengorbankan apapun yang berharga dari dirimu untuk mencapai suatu kebahagiaan maka suatu saat pengorbanan itu akan tergantikan oleh suatu pencapaian yang tak akan pernah kau lupakan" luhan menoleh dan tersenyum pada sehun.
"Baekhyun yang mengatakannya padaku"
Sehun tersenyum miris, satu fakta pahit yang harus ia ketahui adalah kenyataannya luhan tak akan bisa bertahan hidup lebih lama lagi bersamanya. Cepat atau lambat luhan akan meninggalkannya.
"Apa yang akan terjadi padamu nanti lu?"
"Aku akan baik baik saja selama aku masih mempunyai sedikit kekuatan dalam tubuhku" luhan tersenyum.
"Apa nanti rambutmu akan berubah menjadi perak atau putih?"
Luhan terdiam, akhirnya sehun menyadarinya. Menyadari bahwa luhan sangat berbeda dengan peri lainnya yang ia temui tempo hari.
"Yah, ketika aku mati"
Sehun menatap luhan cepat, kalau begitu faktanya sehun tak mau menginginkan luhan memiliki rambut yang sama seperti baekhyun, karena bagaimanapun juga luhan sudah berbeda dengan peri yang lainnya.
.
Luhan sedang duduk di tepi danau sambil melempar beberapa kerikil ke arah danau, sehun tak menemaninya seperti biasa karena sehun bilang ia harus mengantar neneknya berobat.
Hari ini dan detik ini entah apa yang dipikirkannya, namun ia merasa hal baik tak akan terjadi. Sudah beberapa hari ini kekuatannya hampir tidak bisa ia gunakan, serbuk yang ia pakai juga sudah menipis. Padahal kenyataannya luhan masih punya banyak tenaga dan kekuatan untuk bertahan hidup. Dalam kondisi ini manusia sering menyebutnya 'sekarat'
"Oh xiao lu, aku mencarimu dirumahmu ternyata kau sedang disini" luhan cepat bangkit dari posisinya lalu menatap seseorang yang berdiri di hadapannya dengan sebuah busur panah di tangannya.
"Dari mana kau tahu aku ada disini?" pria berpakaian khas prajurit peri itu menatap luhan serius lalu tersenyum setelah melihat wajah tegang luhan.
"Kau tampak sangat menyedihkan, beberapa helai rambutmu memutih"
Luhan terkejut, ia tidak punya kaca kecil untuk ia bawa kemana mana jadi ia tidak tahu seperti apa penampilannya sekarang. Kemudian luhan memasang raut wajah sedih
"Seharusnya kau tidak pergi hanya untuk mencarinya"
"Tidak ada urusannya denganmu"
"Cepat atau lambat kau juga akan mati, kau tidak bisa bertahan hidup dalam keadaan sekarat"
Luhan memicingkan matanya, ia tidak bisa menggunakan sisa kekuatannya dan rambutnya sudah perlahan memutih helai demi helai. Apakah ini waktunya luhan harus meninggalkan sehun, sebelum ia mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya?
"Jika ini waktunya aku tidak bisa menghindar"
"Kembalilah lu, dengan begitu kau masih bisa hidup, aku akan berusaha mencari obat untukmu" mata pria itu menunjukkan sorot mata yang tulus, bukan tanpa alasan pria itu datang mencarinya dan rela mencarikan obat untuk luhan. Karena pria itu adalah orang pertama yang menyukai luhan.
Luhan tersenyum, "langkah yang telah aku ambil tak akan bisa membawaku pada langkah yang telah aku lewati sebelumnya"
"Tidak lu, setidaknya kita berusaha!"
"Kematian adalah takdir yang tak bisa dihindari, bukankah itu fakta? Sekalipun aku tak mengambil langkahku kematian akan tetap datang jika ini sudah waktunya"
"Kenapa kau begitu menyukainya? Karenanya kau kehilangan sayapmu, karenanya kau bertingkah seperti penghianat, karenanya kau kehilangan kekuatanmu dan karenanya kau sekarat lu"
"Kenapa kau begitu membencinya? Jika kau mencintaiku izinkan aku bahagia seperti seharusnya, biarkan aku bahagia dengannya disaat saat terakhirku"
Pria itu menghampiri luhan dan menyentuh pundak luhan lalu mengusapnya lembut.
"Kau tidak akan mati lu, aku akan berusaha membawamu kembali dan menyelamatkanmu sekalipun aku harus berkorban nyawa untukmu"
"Kau tidak perlu melakukan itu, pergilah dan carilah cintamu yang sesungguhnya, berkorbanlah untuknya"
"Tidak! Kau cintaku yang sesungguhnya! Aku akan berkorban untukmu"
"Jangan bodoh! Hadapilah kenyataan, jika sekalipun kau bisa memilikiku, cepat atau lambat aku akan meninggalkanmu"
Pria itu terdiam, luhan juga terdiam, mereka saling diam. Pria itu berpikir luhan terlalu jauh mengambil langkah, jika luhan tahu ia tak akan bisa bertahan lama hidup didunia manusia tanpa kekuatannya untuk apa luhan mau pergi dan meninggalkan semua yang ia milikki, toh pada akhirnya luhan tak akan menemukan akhir cerita yang bahagia jika ia tidak bisa memiliki pria itu bersamanya. Dan pada akhirnya semua pengorbanannya akan sia sia.
"Aku mencintainya, aku mencintai sehun, bersamanya aku seperti memiliki kekuatan baru untuk bertahan hidup, suatu hari kau akan mengerti apa artinya pengorbanan untuk seseorang yang kau cintai, dan itu bukan aku"
Tangan pria itu terkepal di samping tubuhnya, mendengar kata kata luhan entah mengapa ia merasakan hatinya sakit bagai tertusuk ribuan anak panah yang menghujam disatu titik yang sama. Luhan hanya belum tahu bahwa cintanya sangat besar melebihi rasa cinta luhan pada pria bernama sehun itu. Ia hanya ingin membuat luhan sadar bahwa luhan berada di tempat yang salah, ditempat dimana seharusnya ia tidak berada disana.
Sebuah kehidupan yang banyak menimbulkan hal hal yang tidak pernah luhan ketahui sebelumnya. Kehidupan manusia tak pernah seindah yang ia pikirkan, kadang cinta bisa membunuh, dan kadang sesuatu hal yang baik bisa menjadi buruk, dan hal yang buruk bisa menjadi baik. Itulah yang tidak luhan ketahui.
Cintanya pada sehun lambat laun akan menjadi sebuah bumerang yang mematahkan bayangan kebahagiaanya.
"Lambat laun semuanya akan berbalik luhan, yang baik bisa menjadi jahat, yang baik bisa menjadi buruk, dan ada saatnya kau akan menyadari itu semua"
Luhan terdiam, ia mencoba mencerna kata kata pria yang sudah menjadi temannya selama hidupnya. Mencari makna dibalik kata katanya. Luhan menahan tangan pria itu ketika hendak melangkah pergi dari hadapannya.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Tidak ada, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku adalah kebahagiaanmu yang sesungguhnya, kau akan kembali dan meninggalkan kehidupanmu yang menyedihkan ini lu, camkan kata kataku" pria itu menyeringai pada luhan, lalu pergi dari hadapan luhan begitu saja.
"Aku harap kau tidak melakukan hal yang buruk pada sehun"
.
.
"Kau baik baik saja lu? Kau tampak kurang semangat"
Luhan menggeleng lalu tersenyum manis, ia kemudian menatap nenek sehun yang sedang duduk di sofa.
"Bagaimana keadaan nenekmu?"
"Hm.. Dia baik baik saja, rasa pusing yang ia alami hanya pusing biasa" luhan mengangguk lalu menyeruput teh nya.
Sehun berdiri di samping luhan, keduanya menatap jauh keluar jendela. Entah ini hanya sebuah sugesti atau kenyataan, sehun merasa hari ini luhan jauh lebih mengagumkan dari hari hari sebelumnya. Namun hatinya merasa dihujani ribuan jarum ketika melihat beberapa helai rambut luhan mulai memutih, awalnya sehun berpikir itu uban tapi setelah diselidik, warnanya berbeda dari warna putih rambut neneknya.
"Kau baik baik saja lu?"
Luhan mengernyit lalu menatap sehun, "yah"
"Beberapa hari lagi aku akan pulang ke seoul, mungkin aku akan kembali ke tempat ini beberapa minggu selanjutnya, kau mau ikut bersamaku?"
"Tidak, aku senang disini, ini rumahku sehun"
"Tapi kita tidak akan bertemu lu, ikutlah bersamaku, aku akan membawamu ke kota dan melihat hal menakjubkan yang tak pernah kau lihat sebelumnya"
Luhan menggeleng lagi, "kau adalah hal menakjubkan yang tak pernah aku lihat sebelumnya, sekalipun aku mati kita masih akan tetap bersama dengan cara yang lain"
"Apa yang kau katakan? Kita akan tetap bersama, dan kau akan hidup bersamaku lu"
"Yah, kau benar"
Luhan menunduk, melihat bayangan wajahnya di dalam air tehnya.
...
'If i'm the only one his happiness, then i'll do anything to make him happy'
'Tookk tokk'
Luhan berlari cepat ke arah pintu lalu membukanya perlahan lahan.
"Lu?"
"Sehun? Apa yang kau lakukan malam malam begini disini?"
"Mencarimu" luhan terkikik dan bersedekap tangan sambil menaikkan sebelah alisnya ke atas.
"Tidak adakah esok hari?"
"Tidak" jawab sehun santai.
"Ada apa?"
"Ikutlah bersamaku"
"Ke seoul? Aku sudah mengatakan tidak kan sehun? Apa masih kurang jelas?"
Sehun tersenyum, "bukan lu"
"Lalu?"
"Ikutlah bersamaku, aku ingin menunjukan sesuatu padamu"
.
'Even if i'm must be lost with him'
.
"Dimana kita sehun?" sehun terkikik, kedua telapak tangannya menutupi mata luhan hingga luhan tidak bisa melihat. Sehun memijakkan kakinya perlahan lahan.
"Kau siap?" luhan mengangguk, sehun perlahan melepas telapak tangannya dari mata luhan.
Perlahan lahan luhan membuka matanya, ia kemudian tersenyum saat melihat kearah danau. Setengah dari permukaan air itu dihiasi lentera apung yang sangat cantik, hingga sekitar danau yang semula gelap menjadi terang, ditambah lagi kelopak kelopak bunga sakura yang terjatuh tepat di permukaan air danau. Air danau tampak berkilauan setelah terkena cahaya lentera.
"Sehun? Apa kau yang membuatnya?" ucap luhan, matanya tak berpaling sedikitpun dari danau.
"Yah, apa kau menyukainya?"
Luhan menatap sehun cepat lalu melengkungkan senyuman manis khasnya.
"Yah, aku menyukainya!"
Sehun menghampiri luhan lalu memberikan sebuket bunga lili putih pada luhan.
"Bagaimana kau tahu? Lili adalah bunga favoritku" ucap luhan sambil menyesap aroma bunga lili putih itu, sehun bisa menebaknya dengan cepat padahal ia tak pernah mengatakan pada sehun kalau bunga favoritnya adalah bunga lili putih. Entah hanya menebak atau sebuah kebetulan belaka.
"Aku pikir lili putih sangat cocok untukmu" luhan tersenyum lalu tiba tiba memeluk tubuh sehun erat erat.
"Terima kasih sehun"
Sehun mengusap punggung luhan lembut dan mengecup pucuk kepala luhan sekilas.
.
'I'm never planned someday he's gone brought the time and destiny'
Siang ini luhan dan sehun menghabiskan waktu bersama, setelah pergi jalan jalan di pantai luhan dan sehun memutuskan untuk istirahat di bawah pohon besar.
Luhan tersenyum ketika melihat sehun yang sedang asyik memetik beberapa bunga untuk ia pasangkan di mahkota yang ia buat sendiri dari ranting kayu kecil. Meskipun sehun sudah dewasa tapi luhan masih dapat melihat sisi kekanakan dari sehun.
Pandangan luhan tiba tiba terarah ke semak semak yang berada tak jauh darinya, luhan mengernyit ketika mendapati seseorang yang begitu ia kenal tersenyum padanya. Luhan menatapnya lekat, tak ada niatan baginya untuk menghampirinya apalagi membalas senyumnya. Pria itu pria yang sama yang menemuinya tempo hari.
Pria itu menyeringai dan pandangannya fokus pada sehun, luhan mengikuti arah pandangnya. Butuh waktu beberapa detik baginya untuk mencerna apa yang akan temannya itu lakukan pada sehun, ia mengarahkan busur panah beserta anak panahnya sejajar dengan sehun yang sedang membelakanginya.
"Sehun!"
Sehun hendak berbalik namun ia terkejut ketika luhan tiba tiba muncul dihadapannya, wajah luhan tampak tegang dan air mata menetes dari matanya. Bibir sehun bergetar dan matanya mulai berkaca kaca.
Luhan jatuh bersingkut di hadapannya, kedua tangannya memegangi dadanya yang mengeluarkan banyak darah. Luhan mendongkak menatap sehun lalu tersenyum.
"Lu?" suara sehun bergetar, ia cepat cepat merengkuh tubuh luhan erat erat. Bulir bening menetes begitu saja dari pelupuk matanya, kejadian yang begitu cepat dan tak terduga itu membuatnya tidak bisa berkata kata.
Melihat kejadian di hadapannya pria itu menjatuhkan busur panahnya, kakinya melemas dan ia terjatuh dalam posisi berlutut.
"Luhan" ucapnya lirih, tangannya meremas rumput di bawahnya, tangannya bergetar dan seluruh tubuhnya melemas.
"Sehun?"
"Yah lu, aku disini"
Sehun mengenggam tangan luhan yang berlumuran darah dan mengecup punggung tangannya berkali kali membuat luhan terkikik. Entah dari mana datangnya anak panah itu hingga menusuk punggung luhan sampai ke dadanya.
"Kenapa kau menangis?" tanya luhan, nafasnya tersenggal namun sekuat tenaga ia mencoba menstabilkannya. Perlahan helai deni helai rambut luhan mulai memutih.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit, bertahanlah"
Luhan menggeleng, sorot matanya lurus menatap mata sehun.
"Aku mencintaimu sehun, aku... Hanya ingin kau tahu bahwa kaulah satu satunya kebahagiaanku"
"Aku tahu lu, aku tahu, aku mohon jangan tinggalkan aku lu"
"Aku akan selalu bersamamu, sehun, jangan menangis kita masih bisa bersama"
Sehun membisu, air matanya telah mengisyaratkan kesedihannya yang mendalam, tangannya mengusap kepala luhan lalu membaringkan luhan dipahanya. Deru nafas luhan terdengar berat dan tipis
"Katakan kau mencintaiku sehun"
"Jika aku mengatakannya kau akan bertahan?"
Luhan meneteskan air matanya untuk yang kesekian kalinya, dengan lemas ia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Aku mencintaimu luhan"
"Aku juga mencintaimu..." luhan menarik nafasnya panjang
"Sehun" dan menghembuskan nya lalu tersenyum dan tangannya mengenggam tangan sehun.
"Luhan" pria itu terus memanggil nama luhan dari persembunyiannya, ia mengambil busur panahnya lalu berlari menjauh dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Aku mencintaimu luhan"
sehun menahan tangisannya, ia mengecup dahi luhan dan memeluknya. Mata luhan perlahan terpejam dan bersamaan dengan hembusan nafasnya yang terakhir rambut hitamnnya berubah menjadi putih dengan cepat.
"Aku mencintaimu luhan, aku mencintaimu, aku mencintaimu" mengucapkannya berkali kali berharap keajaiban datang pada luhan.
Sehun mengelus setiap lekuk wajah luhan, menatapnya dan mencoba mengukir setiap lekuk wajah luhan dihatinya.
"Aku mencintaimu" air mata yang telah ia bendung jatuhlah sudah, orang yang ia cintai telah pergi dan tak akan pernah kembali.
Sehun terdiam ketika perlahan tubuh luhan mulai dari ujung rambut sampai ujung kepala bercahaya, semakin bercahaya, memudar dan perlahan berubah menjadi serbuk emas yang berterbangan.
"Aku.. Mencintaimu... Luhan" untuk yang terakhir kalinya sebelum luhan benar benar menghilang menjadi cahaya dan serbuk yang terbawa angin.
Bunga lili putih..
Di hadapannya tiba tiba terdapat sebuah lili putih yang tampak bercahaya, tangan sehun terulur mengambil sebatang bunga lili putih itu lalu ia tersenyum.
"Aku tahu kau tak akan pernah meninggalkanku"
.
'But when the time has come, i can't do anything and then he's gone like a dust of crystal'
.
Sehun membuka matanya perlahan ketika semilir angin menerpa wajahnya, ia melihat cahaya matahari yang begitu menyilaukan kemudian ia menghalangi matanya dari kilauan matahari dengan telapak tangannya di depan wajahnya.
Ia terdiam sejenak, melihat ke segala arah hingga akhirnya ia ingat sesuatu!
LuHan!
Sehun hendak bangkit dari tempatnya namun ia mengurungkan niatnya ketika melihat setangkai bunga lili putih ada diantara kedua pahanya. Ia terdiam lagi, mengerjapkan matanya berkali kali sebelum akhirnya ia mengerti apa yang terjadi.
Ia mengambil bunga itu lalu bangkit dari posisinya, ia memutar tubuhnya dan menghadap pohon bunga sakura besar yang menjadi sandarannya ketika ia tertidur tadi. Sehun terperanjat ketika lagi lagi ia mengingat sesuatu. Ponselnya? Dimana ponselnya?
Sehun memutari pohon bunga sakura besar itu lalu tersenyum ketika mendapati ponsel dan earphonenya ada disana dengan sebuah apel merah disampingnya. Sehun mengernyit, lalu membungkuk untuk mengambil ponselnya dan apel merah itu kemudian ia mengarahkan pandangannya ke segala arah.
Manik matanya menatap setangkai bunga lili dan apel merah itu lalu tiba tiba sehun berlari ke arah lain. Entah kemana namun kaki dan hatinya membawanya kesuatu tempat yang tak pernah ia kunjungi sebelumnya.
Sehun berhenti berlari, nafasnya terenggah enggah kemudian ia berjalan perlahan ke sebuah pantai dengan pasir putih yang terlihat berkilauan. Ia memicingkan matanya ketika cahaya matahari mengenai matanya. Sehun berjalan perlahan dan tiba tiba langkahnya terhenti saat menemukan setangkai pagi bunga lili putih di atas pasir putih itu, lagi lagi sehun tersenyum lalu mengambil bunga lili putih itu.
Sehun memutar tubuhnya sambil mengangkat telapak tangannya di atas dahinya, matanya menatap ke arah bukit yang tak jauh dari pantai. Ia lalu berlari kecil ke arah bukit itu.
Ada sebuah batu besar disana di atas batu itu lagi lagi ada setangkai bunga lili putih, sehun berjalan perlahan ke arah batu itu lalu mengambil bunga itu dan mengumpulkannya bersama 2 bunga lainnya yang ia temukan. Ia tersenyum miris sebelum meninggalkan tempat itu.
Kakinya membawanya memasuki sebuah hutan yang dipenuhi pohon tinggi menjulang, ia terus berjalan hingga ia menemukan sebuah tempat yang luas dipenuhi hamparan rumput hijau dan bunga bunga yang bermekaran. Ia melangkahkan kakinya ke arah tempat itu dan lagi lagi sehun menghentikan langkahnya saat menemukan setangkai bunga lili putih kemudian sehun mengambilnya.
Setelah dari hutan sehun terus berjalan menyusuri jalan setapak. Langkahnya membawanya ke sebuah danau dengan air yang tenang dan bening, disana sehun juga menemukan setangkai lili putih yang mengambang di pinggir danau.
"Luhan!" ucapnya lalu berlari ke arah lain dengan tergesa.
Dari kejauhan ia menatap sebuah rumah kecil yang tampak kotor dan tak terurus, di sekitarnya tumbuh tanaman merambat. Tanpa ada rasa takut sehun melangkah kesana, dan membuka pintu rumah itu perlahan lahan. Matanya terpejam ketika indera penciumannya menangkap wangi bebungaan, dan juga wangi tubuh luhan yang menyeruak di dalam rumah itu. Rumah yang sama, tata letak barang dan kebersihannya tetap sama meskipun dari luar rumah ini terlihat tidak terurus.
Sehun melangkahkan kakinya masuk lebih dalam, menatap setiap sudut ruangan dan tiba tiba manik matanya terarah pada sebuah sofa putih yang menghadap ke luar jendela. Di atas sofa itu ada lagi setangkai lili putih di sekitarnya ada serbuk serbuk emas yang berkilau. Sehun mengambilnya lalu tersenyum kecut.
Ia selalu merasa luhan ada di semua tempat yang pernah ia kunjungi bersama luhan.
LuHan...
Entah pertemuan itu nyata atau hanya sebuah mimpi belaka. Yang ia tahu luhan begitu nyata dan amat berarti baginya.
.
"Siang ini kau akan datang ke acara pernikahan saudaramu sehun?"
"Hm? Yah"
"Baiklah, akan ku kosongkan jadwalmu siang ini"
Kai menatap sehun yang asyik berdiri sambil memandangi pemandangan kota dari jendela dengan kaca besar di belakang meja kerjanya. Entah apa yang menarik dari pemandangan kota yang membuat kepala pusing, namun ketika ada waktu senggang sehun selalu berdiri disana sambil memandangi pemandangan kota.
"Aku ingin membeli bunga dan hadiah untuk saudaraku, menurutmu bunga apa yang harus aku berikan padanya?" tanya sehun tiba tiba.
Kai mengetukkan jarinya di dagu sambil melirik ke arah meja kerja sehun, dimana sehun selalu meletakkan vas bunga dengan bunga lili putih didalamnya.
"Lili putih aku rasa cocok untuk seorang pengantin wanita" ucap kai sambil tersenyum.
"Kenapa harus lili putih?"
"Karena lili putih mempunyai arti keanggunan dan kecantikan sejati"
Sehun menatap kai lalu beralih menatap vas bunga yang ada di atas meja kerjanya.
...
Sehun memasukki toko bunga yang cukup terkenal, orang bilang bunga bunga yang dijual disana sangat berkualitas. Untuk hari yang spesial bagi saudaranya, sehun ingin sekali memberikan suatu hadiah dan hal yang istimewa.
Baru satu langkah sehun memasukki toko itu ia tiba tiba menghentikan langkahnya dan mengernyit ketika di dekat kakinya ia menemukan setangkai bunga lili. Ia mengarahkan pandangannya, mungkin bunga ini terjatuh dari vas nya namun ia tak menemukan vas bunga lili di dekat sana, Ia lalu mengambil bunga lili putih itu.
"Bagaimana kalau bunga tulip!?"
"Ah! Bunga mawar saja, bagaimana?"
"Kenapa? Bunga tulip juga bagus"
"Aku tidak suka, kita ambil bunga yang ini saja yahhh?"
Samar samar sehun mendengar percakapan dari arah lain di toko itu, suara orang dewasa dan suara anak kecil yang merengek.
"Bunga lili putih saja bagaimana?"
'Deg!'
Sehun terpaku, ia bagai membatu di tempatnya saat mendengar suara yang begitu ia hafal, suara yang begitu lembut, suara yang selalu ia rindukan. Manik matanya melirik ke arah setangkai lili putih di tangannya, lalu ia kembali terdiam, perlahan ia berjalan mencari asal suara itu.
Serbuk emas berkilauan tiba tiba mengelilingi kakinya, sehun menghentikan langkahnya. Serbuk emas yang tiba tiba muncul itu mengingatkannya pada...
'Tep'
"Luhan"
.
.
Review review ? Yo yo yo~
Cerita ini mengecewakan (yeahiknow). Maaf yah kalau banyak kekurangan dalam ceritanya, ini belum end loh yah! BTW yang jawab sehun daddynya, gua mesti kasih kalian apa yah ? :v
Kalau gk ngerti maksud ceritanya come to ask! Ff gua emang membingungkan :'v Then, yg dimaksud 'pria itu' up to u aja mau anggap itu siapa :v sorry juga baru update ahehe
Thanks to my beloved readers! Semoga gk kapok nunggu chap selanjutnya yah!
See you~ i love you~
