Truthly love part III

-Kau tahu, dendam dan kebencian tidak akan membawa apapun dalam hidupmu. Tapi sekali lagi ini adalah jalanku untuk mendapatkanmu. Aku tidak peduli jika harus mengotori tanganku asalkan nanti diakhirnya aku bersamamu, ini tidak apa-apa.

*note all JAE POV

Biarlah aku menutup mataku, melupakan kejadian ini.

.

.

"Heiii... Jae.. Wake up.. Bangunlah..." Bisik seseorang yang lembut pada telingaku.

Mendengar suara yang lembut itu, seakan memintaku untuk membuka mataku agar dapat melihat dunia atau mungkin lebih tepat dikatakan bahwa melihat keadaan yang ada.

Perlahan tetapi pasti aku membuka mataku dan mulai membiasakan dengan sinar matahari yang sudah nampak tinggi tampaknya.

"Ummmm ini dimana? Jam berapa sekarang?" Tanyaku pelan seraya melihat keadaan sekitar yang tentu amat sangat berbeda dengan keadaan apartemenku.

"Ini apartemenku. Sekarang sudah jam 11.00 sebaiknya kau segera makan, kau tidak makan semalaman bukan? ucapnya dengan suara lembut

"Apa yang terjadi dengan diriku? Mengapa aku sampai ada diapartemenmu? Ucapku penasaran sambil menatapnya lembut

"Kemarin saat polisi datang, kau pingsan. Jadi kuputuskan saja membawamu ke apartemenku, lagipula kau mau tinggal dimana? Bukankah apartemenmu sekarang menjadi tempat tkp?" Ucap yunho lembut

Ahhh iyaa aku ingat sekarang, kemarin sandara dibunuh ditempatku. Sekarang pasti tempat itu penuh dengan polisi.

Aku tidak menyadari bahwa suara lembut itu adalah suara yunho. Ketika aku menoleh kearahnya dan menyadari itu adalah suara yunho, berdetaklah didadaku yang akan agak cepat dan seketika aku menjadi gugup dihadapannya.

Yunho yang sedari tadi memperhatikanku, segeralah menghampiriku dan mengelus rambutku pelan.

'Hei.. Bisakah kalian bekerja sama denganku... Mengapa setiap sentuhannya membuatku hilang kendali seperti ini...' Kataku dalam hati sambil memegang dada kiriku yang berdetak dengan cepatnya.

"Segera bersiaplah jae, habis ini kita akan bertemu dengan polisi yang mengurus kematian sandara" Ucap yunho lembut

Aku hanya menganggukkan kepalaku seraya mengiyakan ucapannya. Tanpa aba-aba yunho keluar dari kamar dan aku memperhatikannya.

"Aaaaaaa yunhoo..." Teriakku pelan bahagia

Saat yunho menyentuhku selembut itu didadaku berdetak lebih kencang dan bahkan seakan-akan membuncah rasa didada.

'Bisakah yun untuk kali ini aku berharap padamu bahwa kau akan mencintaiku seperti aku mencintaimu? Bisakah kau membalas perasaanku? Bisakah kau merasakan perasaanku padamu?' kataku dalam hati

Jujur aku bahagia, sangat bahagia dengan sentuhan lembut yang dilakukan yunho olehku. Bolehkah kali ini aku berharap lebih untuknya?

Bisakah dia menyadari bahwa aku mencintainya?

.

.

"Kami meminta kalian berdua kesini, untuk meminta keterangan kalian. Bisakah kalian ceritakan tentang malam sebelum boa dibunuh?" Ucap detektif tersebut tegas

"Boa?! Bukankah kasus itu ditutup dengan dugaan bunuh diri?" Ucap yunho pelan

"Itu benar, tapi menurutku kasus boa terlalu janggal jika disebutkan sebagai kasus bunuh diri karena semua bukti mengarahkan bahwa dia dibunuh tapi meskipun kasus itu sudah ditutup kita tetap tidak bisa mengabaikannya bahwa kasus itu kasus pembunuhan dan pembunuhnya masih berkeliaran diluar sana" Ucap detektif itu tegas

"Baiklah kuceritakan..." Ucapku pelan sambil mengenggam tangan yunho erat karena aku tidak ingin membuang waktuku hanya untuk menunda-nunda hal ini.

•••• Flash back••••

Ini adalah botol bir ke kesekian kalinya yang datang ke meja kami. Ya, kami sedang merayakan keberhasilan yang dicapai. Aku mungkin sudah minum beberapa botol karena dapat kurasakan aku ingin membuang air kecil di toilet. Aku tidak menyadari jika boa mengikutiku. Mungkin dia bermaksud membuang air kecil juga karena sungguh aku tidak tahu maksud dan tujuannya. Tidak hanya boa namun ahra juga mengikutiku untuk pergi ke toilet. Saat aku hendak keluar untuk mengumpul lagi bersama yang lain, ada seseorang yang memukul tengkukku hingga membuat aku pingsan. Aku tidak sadar apa yang terjadi padaku. Aku tidak ingat apapun, yang aku tahu dan aku ingat bahwa ada seseorang yang tengah berusaha memainkan tubuhku. Aku tidak tahu pasti mengingat pengaruh alkohol saat itu. Tak berapa lama aku tersadar dengan tubuh polos, bau sperma dan khas sex dimana-mana. Aku menarik selimut sambil ketakutan. Aku takut hingga tidak berani kemana-mana. Sampai akhirnya yunho menemukanku tak lama. Dia menemukanku dan menanyakan keadaanku. Hingga kamu sadar ada genangan yang keluar dari toilet. Genangan itu seperti air namun berwarna merah. Kami tidak tahu, sungguh tidak tahu jika itu adalah darah boa. Karena kami penasaran langsung kami menghampiri pintu toilet dan mendapati boa tampak di bath up seperti sedang berendam dan ahra disampingnya sambil memegang pisau yang berlumuran darah.

•••• End flash back••••

"Aku masih ingat di sekeliling tangan, dan leher boa terdapat luka tusukkan. Tapi dibagian leher lukanya begitu parah. Karena aku tidak kuat melihat luka begitu banyak ditambah tubuh boa yang direndam dengan darah membuatku pusing dan mendadak aku pingsan. Dari sana aku tidak tahu apa-apa lagi" Ucapku sambil meremah erat dan lembut tangan yunho. Aku takut mengingat kematian boa yang cukup tragis

"Saat jae pergi membuang air kecil, aku menunggunya. Aku menunggunya hingga aku menyadari bahwa jae sudah pergi terlalu lama. Segeralah aku menyusul ke toilet tapi disana aku tidak mendapati siapapun, aku bergegas mencari jae. Hingga tanpa sengaja ku temukan kalung yang biasa digunakan jae dan kalung itu mengarahkanku kepada sosok jae yang tampak dibawa oleh seseorang. Aku tidak tahu pasti karena aku tidak melihatnya secara jelas. Segeralah aku mengikutinya diam-diam sampai mereka tiba di sebuah kamar. Hingga aku tahu boa dibunuh dan ahra berada disampingnya sambil memegang pisau dan tak lama jae pingsan, segera aku memanggil polisi dan membawa jaejoong ke tempat terdekat. Aku ingin membawa kerumahnya atau apartemennya tapi aku tidak tahu dimana letaknya. Jika aku membawanya ke apartemenku letaknya cukup jauh dan itu akan membuat polisi curiga kepada kami. Kami ingin membantu sebisa kami tentang kasus ini. Tapi kami bahkan belum dimintai pernyataan seperti ini, kasus boa keburu ditutup dahulu." Ucap yunho pelan

"Kalian tahu, kalian sangat membantu" Ucapnya tegas

"Pak, bolehkah saya tahu tentang perkembangan kasus boa? Saya tahu bahwa kasus ini sudah ditutup tapi bukankah bapak sudah mengatakan bahwa kasus ini terlalu janggal untuk dikatakan sebagai kasus bunuh diri." Ucap yunho penasaran

"Aku beritahu, tapi ingat jangan beritahu siapapun. Sehabis kalian menelepon polisi dan polisi memeriksa tempat kejadian tersebut. Kami mendapati bahwa kasus ini memang pembunuhan. Disekujur tubuh boa tidak terdapat perlawanan sama sekali. Pertama kami mengira boa dibius atau boa mabuk hingga tidak sadar. Aku meminta agar darah boa diperiksa sekalian memeriksa kadar alkohol didalam tubuhnya. Betapa kagetnya aku ketika tahu boa tidak dalam keadaan 100% mabuk dan boa tidak dibius sama sekali. Dalam arti keadaan boa bisa jadi sangat sadar ketika hal tersebut terjadi. Boa seakan-akan pasrah menerima serangan demi serangan yang dilayangkan kepadanya." Ucap detektif itu tegas

"Boa sadar? Tapi mengapa tidak melakukan perlawanan? Bukankah itu aneh?" Tanya yunho penasaran

"Kami menduga yang membunuhnya adalah orang terdekatnya. Tapi kami tidak mau terlalu menduga hingga membuat kami tidak objektif. Akhirnya kami mencoba lebih teliti lagi meneliti kasus ini. Kasus pembunuhan boa terbilang sangat rapi dan sangat hati-hati pelakunya dapat memperhitungkan segala bentuk tindakan yang akan diambilnya. Jika memang ahra pelakunya maka kami tidak heran karena semua bukti memang mengarah kepadanya tapi jika bukan maka pelakunya dapat kukatakan sangat memperhitungan apa yang akan terjadi berikutnya. Dia sangat teliti dan cermat dalam memperhitungkan tindakannya. Karena tidak ada satu bukti pun yang mengarah kepadanya." Ucap detektif itu tegas

"Jadi memang ahrakah pelakunya?" Ucap yunho pelan sambil memikirkan pelan tentang kasus pembunuhan boa.

"Kami belum tahu secara jelas mengingat kini kasus tersebut sudah ditutup ditambah dengan boa hamil. Sebenarnya kehamilan boa cukup membantu kami, untuk tahu siapa yang membunuhnya. Tapi sekali lagi kami tidak diberi wewenang menyelidiki kasus ini lebih dalam lagi" Ucap kepala polisi itu dengan tegas

"Apa?! Boa hamil?! Bagaimana bisa? Siapa yang melakukannya kepada boa?!" Ucap yunho kaget

"Kami tidak tahu secara jelas, tapi menurut penyelidikan kami, boa memang hamil. Usia kamdungannya sudah mencapai 4 minggu" Ucap kepala polisi itu

'Boa hamil? Bagaimana bisa?! Apa yunho...' Kataku dalam hati

Sungguh aku kecewa jika yunho menurutku sampai menghamili boa. Bukankah mereka bersahabat sedari kecil. Bagaimana bisa yunho menghancurkan kepercayaan keluarganya dan menghancurkan harapanku. Meskipun boa sudah meninggal tapi bukankah yunho sudah tidak perjaka (?) bukankah aku seharusnya yang merasakan keperjakaan yunho (?)

"Lalu bagaimana dengan kasus sandara? Apa nasibnya akan sama dengan kasus boa?" Tanyaku penasaran mencoba mengalihkan meskipun aku penasaran akan hal itu.

"Untuk saat ini kasus sandara terbilang cukup unik. Karena sandara mati dalam keadaan mabuk. Dalam arti kadar alkohol didalam tubuhnya sangat tinggi sehingga membuat dia hilang kendali. Kami menduga sebelum dia ketempat anda tuan jaejoong, dia pergi ke club atau diskotik atau tempat-tempat seperti itu hingga membuat dirinya mabuk tak sadarkan diri. Dia masuk secara perlahan dan melihat nona go ditempat anda. Dia cemburu dan berusaha membunuhnya namun justru dia yang tertusuk hingga menyebabkan kematian." Ucap kepala polisi itu tegas

"Tidak seperti itu, sandara bukanlah orang yang suka mabuk. Dia lebih memilih meminum obat penenang dibanding minuman alkohol" Ucapku tidak percaya

"Tapi itu baru dugaan kami tuan jaejoong, karena kami menemukan kadar alkohol yang cukup tinggi didalam tubuhnya. Ditambah disekujur tubuh sandara terdapat memar-memar seperti habis bertengkar hingga terjadi pemukulan" Ucap kepala polisi itu tegas

"Jangan katakan kepadaku bahwa sandara dan ahra bertengkar memperebutkan sesuatu hingga membuat ahra membunuh sandara" Ucapku tidak percaya

"kalau begitu ceritakan padaku malam kematian sandara" Ucapnya tegas

•••• Flash back••••

Sehabis yunho memberitahu maksud dan tujuannya untuk memperbaiki hubungannya dengan ahra, sandara memang keruanganku. Kami sedikit bertengkar mengingat hubungan ini sudah memang tidak bisa dipertahankan lagi. Sandara dan aku memang sering bertengkar setiap kali kami bertemu tapi bukan berarti aku membunuhnya. Sandara terlalu egois jika mengharapkan aku akan menunggunya. Dia ingin mewujudkan impiannya sebagai desainer. Untuk menjadi desainer yang terkenal maka sandara memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke paris dan itu membutuhkan waktu setidaknya 6 sampai 7 tahun. Aku sungguh tidak sanggup jika harus menunggu selama itu. Dia ingin pergi namun tidak ingin putus denganku, bukankah itu terdengar egois.

Aku memutuskan untuk memasak makan malamku dan tidur dikasurku yang nyaman tanpa mau memikirkan hal-hal lain yang akan terjadi.

Aku tidak tahu yunho dan ahra akan datang ketempatku untuk memberitahu kabar bahwa mereka akan kembali bersama. Begitu aku selesai memasak, aku mandi. Tidak ada perasaan apapun dan tidak ada yang aneh. Semua berjalan seperti biasa. Baru aku selesai mandi, terdengar suara ketukkan pintu dan langsung saja aku membukanya.

Melihat ahra dan yunho didepan apartemenku. Aku tampak sedikit terkejut namun aku tidak mau menyimpulkan apapun. Aku tahu mungkin maksud mereka datang adalah untuk memberitahu kabar bahwa kini mereka kembali.

Segeralah aku menyuruh mereka masuk kedalam ruanganku. Begitu kami duduk, baru aku ingin menawarkan minuman dan cemil-cemilan. Terdengar suara gaduh dari arah luar. Awalnya aku mengira tetanggaku karena sering membuat suara gaduh sekalian untuk melihat siapa yang membuat suara gaduh. Segeralah aku beranjak keluar rumah untuk melihat keadaan sekitar.

Aku berkeliling dan tidak mendapati siapapun bahkan tetangga yang biasa membuat berisik, dia tidak ada ditempat. Lalu suara berisik siapa itu?. Aku tidak ingin berfikir macam-macam tentang hal ini sampai yunho datang menghampiriku.

Yunho mengatakan bahwa ahra khawatir dengan keadaan diriku. Aku dan yunho hanya melihat keadaan sekitar yang cukup sepi, kemudian memutuskan untuk kembali kedalam ruangan. Begitu kami baru beberapa melangkah tiba-tiba lampu mati. Aku terkejut dan kaget hingga aku mengenggam tangan yunho. Yunho pun dapat kurasakan ketakutannya namun ia mencoba untuk tenang dan tidak takut. Mungkin ketakutan terbesarnya adalah ahra akan dibunuh.

Kami berada diambang batas pintu masuk kedalam apartemenku, masih dengan keadaan yang sama. Keadaan sunyi, senyap dan gelap gulita. Aku makin mengenggam erat tangan yunho, guna menyalurkan ketakutanku.

Entah apa yang kami pikirkan, yang jelas tak lama setelah lampu menyala kami baru masuk kedalam apartemenku dan mendapat keadaan yang cukup kacau balau seperti habis dirampok. Ketika aku dan yunho melihat masuk kedalam ruangan makan terlihatnya sandara yang meninggal dengan keadaan yang mengenaskan. Dia meninggal dengan mata menyalang dan disekujur tubuhnya terdapat luka tusukkan. Luka yang paling parah terdapat di lehernya. Luka tusukkannya sampai ke leher hingga tertusuk sangat dalam.

Setelah aku masuk kedalam kamarku mencoba menenangkan diri.

•••• End flashback••••

"Ahra khawatir dia akan memintaku untuk menemui jae dan semua terjadi begitu saja. Aku tampak kaget saat melihat ahra mengenggam sepotong pecahan yang berlumuran darah dan dihadapannya sandara yang tewas terbunuh dengan tusukkan dileher yang cukup dalam hingga mengenai tenggorokkan dan leher" Ucap yunho pelan

"Bukankah seharusnya jika terdengar suatu pertengkaran maka akan menimbulkan suara yang berisik? Lalu mengapa kau tidak menelepon polisi?" Tanya kepala itu menginterogasi

"Aku tidak tahu mengapa tidak terdengar suara teriakkan, kecuali itu dilakukan dikamarku. Karena hanya kamarku yang kupasang alat kedap suara. Saat itu aku sedang kalut mengingat mantanku meninggal. Kukira yunho akan menelepon polisi" Ucapku terdengar pelan

Begitu aku selesai mengucapkan kalimat tersebut, tak lama terdengar suara ketukkan dari depan pintu.

Tok... Tok... Tok...

"Masuk..." Ucapnya pelan

Dan tak lama anak buah dari kepala polisi tersenut masuk dan memberikan sebuah map yang aku dan yunho tidak tahu apa isinya.

"Maaf pak, ini berkas tentang korban sandara. Baru saja selesai di lakukan pemeriksaan lebih lanjut" Ucapnya pelan sambil menyerahkan map tersebut dan tak lama dia pergi meninggalkan kami.

"Maaf pak, bolehkah saya tahu tentang isi dari map ini?" Tanyaku penasaran

Kepala polisi itu hanya menganggukkan kepala sambil membuka isi map tersebut.

"Apa?! Bagaimana bisa?!" Ucapnya kaget

"Ada apa pak, kalau saya boleh tahu?" Tanyaku penasaran

"Menurut kami pembunuh dari sandara dan boa adalah orang yang sama. Motif dari boa adalah dendam, kebencian dan ketidaksukaan sedangkan motif dari sandara adalah sakit hati, dan pengkhiatan. Terlihat dari motifnya yang merendam seluruh tubuh boa. Terkadang seseorang ingin membalas rasa sakit hatinya dengan membunuh seseorang. Dia mencelupkan seluruh tubuh boa kedalam air hingga tidak bisa bernafas. Terkadang seseorang yang membenci orang lain, ingin merasakan bagaimana penderitaan orang yang dibenci itu. Begitulah yang dialami boa, dia disiksa sampai akhirnya dia tusuk sedangkan sandara dianggap sebagai penganggu, penganggu yang membuat seseorang sakit hati hingga menusuknya ke bagian terdalam. Jika seseorang memiliki dendam kepada orang lain maka dia akan menusuk orang itu hingga di bagian terdalam, mengoyakknya hingga orang yang dibencinya merasakan rasa sakit yang tiada akhir. Begitulah yang dialami sandara" Ucap kepala polisi tersebut

"Jadi maksud bapak, seseorang yang membunuh mereka mempunyai dendam, sakit hati atau mungkin membenci mereka hingga membuat dia menyiksa boa dan sandara agar merasakan seperti apa yang orang tersebut rasakan?" Tanyaku penasaran

"Benar, itulah yang ku maksud" Ucap kepala polisi tegas

"Lalu siapa pelakunya? Benarkah ahra yang melakukannya?" Tanyaku penasaran

"Sampai sejauh ini semua bukti mengarah ke ahra, tidak mengarah orang lain" Ucap kepala polisi tersebut

Aku mengangguk lemah, mungkinkah memang ahra pelakunya.

"Kalau begitu, kami pamit pak. Maaf menganggu waktu bapak" Ucapku lemah

Yunho melihat kearahku dengan tatapan lembut dan khawatir. Yunho khawatir jika hal ini akan mengusik dan mengangguku. Dalam arti akan menguras pikiran dan tenagaku. Yunho tidak mau sampai aku jatuh sakit. Dia tahu bahwa membiarkan kasus ini di tangani polisi akan berhasil.

.

.

Ting... Tong... Ting... Tong...

"Yun, bukalah pintunya. Itu mengangguku" Ucapku lemah

Aku kini berada diapartemen yunho dan kami sedang menonton televisi. Yunho berusaha mengalihkan pikiranku yang masih terbayang-bayang dengan kematian sandara. Apartemen yang terbilang cukup rapi dan mewah untuk di tinggali sendiri dan akan terasa jauh nyaman jika ditinggali berdua. Mungkin ini awalnya dipersiapkan yunho untuk pernikahan dia dengan ahra. Mungkin, yaa aku tidak tahu secara pasti mengingat aku tidak ingin mencampuri urusan yunho meskipun aku sudah sangat ingin mengetahuinya.

Aku tidak tahu jika yang datang adalah ahra. Dia tampak kusut dan terlihat sangat kucel bukan seperti ahra yang biasa. Biasanya ahra akan tampil modis, elegan dan sexy namun ini dia terlihat seperti bukan ahra yang biasa. Dia terlihat sangat berbeda.

Hubunganku dengan ahra pada akhirnya menjadimm memburuk. Aku selalu bersikap sinis dan dingin. Dalam arti aku tidak mungkin bersahabat dengan pembunuh mantanku seperti biasa-biasa saja seolah-olah tidak ada apa-apa.

"Yunho oppa, aku... Aku minta maaf... Aku mohon apa tidak ada jalankah untuk kita kembali..." Ucap ahra memelas

"Maaf ahra, aku tidak bisa. Aku seperti tidak mengenal dirimu, kau tampak bukan seperti ahra yang kukenal. Kau berubah menjadi seseorang yang baru dan aku tidak mengenalnya. Jika kau masih seperti yang dulu, aku tidak akan ragu-ragu tapi kini aku tidak yakin dapat bahagia bersamamu" Ucap yunho pelan sambil mengucapkan kekecewaanya.

"Siapa yang datang?!" Tanyaku mencoba menghampiri mereka yang kini berada didepan pintu.

"Oppa... Kalian tinggal bersama?" Ucap ahra memekik kaget melihatku berada diapartemen yunho

"Mengapa? Ada masalah denganmu nonna go? Bukankah itu bukan urusan anda lagi" Ucapku sinis

"Tentu saja, aku tidak mau yunho oppa di cap gay oleh semua orang. Hanya karena kalian tinggal bersama" Ucap ahra tidak setuju

"Kalau kami tinggal bersama, kurasa itu bukan hal yang perlu kau pusingkan lagi" Ucapku menusuk ahra

"Sudahlah sudah seharusnya kalian tidak meributkan ini. Kalian sudah dewasa masa meributkan hal-hal kecil seperti ini" Ucap yunho lembut

"Tapi..." Ucapku mencoba memotong

"Sudahlah aku tidak ingin membahas ini. Ahra pulanglah" Ucap yunho mulai kesal sambil menyuruh ahra segera pulang

"Aku mau pulang asal oppa berjanji padaku bahwa oppa tetap tunanganku dan kita tetap menikah" Pinta ahra memelas

"Sudah kukatakan ahra, aku tidak bisa. Aku tidak bisa jika harus bersamamu, mengertilah" Ucap yunho mencoba memberikan pengertian

"Tidak, aku tidak mau mengerti sampai kapanpun tidak akan mau." Ucap ahra sambil berteriak histeris

"Ahra ya, kau menganggu tahu. Biarkan saja yunho dengan pilihannya" Ucapku mulai kesal

Aku kesal dengan sikap ahra yang seperti ini. Sikapnya yang seperti anak kecil, dan tidak mau mengertinya. Sikap egoisnya yang lebih mementingkan perasaannya daripada mementingkan perasaan yunho.

"Katakan padaku oppa kalau kau tidak gay. Kau masih normal oppa, kau masih menyukai wanita" Ucap ahra memelas

"Lalu kalau yunho adalah gay, kau mau apa?" Tantangku

Lama-lama ahra menjadi menjengkelkan dan membuatku muak. Sikapnya yang selama ini ditunjukkan seakan-akan hanya pura-pura saja.

"Kau... Tidak... Oppa tidak boleh menjadi gay" Pekik ahra tidak suka

"Maaf ahra, aku..." Ucap yunho lembut mencoba memberikan pengertian

Namun aku yang tahu hal itu akan sia-sia, mengingat ahra adalah orang keras kepala. Tanpa banyak waktu segeralah menarik yunho yang ada disampingku, mendekatkan dirinya ke diriku. Kemudian aku menarik baju yang kini sedang dikenakan yunho. Menariknya hingga aku bisa melumat bibir yunho lembut dan ganas.

Ahra yang melihat hal itu hanya bisa terkejut. Awalnya dia shock, namun melihat reaksi yunho dan aku yang tampak menikmati hal tersebut segeralah ahra pulang sambil marah-marah.

"Maafkan aku... Aku hanya ingin mengusir ahra" Ucapku pelan begitu ahra pulang sambil marah-marah

"Tidak apa-apa jae, tapi bibirmu terasa manis" Ucapnya lembut

Deg... Deg...

Bolehkah untuk kali ini saja aku berharap kau akan membalas perasaanku, untuk kali ini saja.

Sungguh jika aku diberi kesempatan untuk merasakan cintamu maka aku berjanji aku tidak akan menyia-nyiakannya.

'Tunggulah... Dan aku akan menantimu disini...'

TBC._.

Aku kembali :D

Happy anniv buat mommy jae dan daddy yunho :-* longlast buat kalian :-*

Tadinya mau kubuat sampai 4 chapter tapi sepertinya ceritanya akan mengebut banget. Takutnya entar kalian jadi bingung lagi. Jadi kutambah beberapa chapter lagi. Maaf yaa sebelumnya ^^.

Ada merindukan ff ini? Ff ini kubuat agak sedikit berbeda dari ffku sebelumnya karena di ff ini gak ada unsur romance"nya.

Oia di chapter depan bakalan ada bunuh"an lagi. Siapa yang akan dibunuh? Yang pasti bukan ahra, jj atau yunho.

Trus ada yang bilang ffku kaya diary. Makasih yaaa ^_~. Maaf kalo mungkin ffku agak berbeda dari ff-ff author lain.

Aku masih belajar jadi kalau ada kesalahan baik disengaja atau tidak, mohon dimaafkan yaa ^_~.

Makasih juga buat yang sudah ngereview, ngefav, ngefollow ff abal-abalku ini. Ffku masih jauh dari kata sempurna ^_^.

Balasan review :

Gothiclolita : hayo siapa hihi. Pokoknya antara ahra, jj atau yunho bukan orang lain ^^.

Boojoongie : hayoo siapa hihihi. Pokoknya tersangka utamanya cuma yunho, ahra sama jj. Yunho telepon koq. Nah itulah teka-tekinya. Kenapa gak ada suara jeritan sama sekali. Kekeke gpp koq, aku mah orangnya santai" saja ^_~.

Vic89 : siapa hayoo ^^. Maunya siapa (?)

Dadayu : Sippo ^^

Shanzec : kayana siapa O.O

Mpreg lovers : iya mpreg cuma iyaa nanti gak sekarang ._.

Iche. Cassiopeaijaejoong : gpp ^_^ iaa pelakunya cuma dia bertiga itu yunho, jj, atau ahra ^_~.

Hannazono Aikawa : hmm kalo kaya gitu kurang sadis dunk (?) kekeke tapi bolehlah ;)

Yuri : mwo? Bisa jadi bisa jadi ^_~. Yunho kan ceritanya sadis" gimana gitu yaa. Tapi yaa gitu pelakunya masih diantara yunho, jj, ahra.

Desi2121 : hayoo siapa ^_~. JJ kah atau ahra kah atau yunho kah. Sippo ^_~.

Lady ze : hellow~~ :P penasaran yaa :-P sabarr yaa :-P

Artemis Jung : mwo? Siapa suruhan emak O_O sippo

Lady ze : siapa hayoo :-P

Makasih yaaa buat yang sempet-sempet ngereview, ngefav, nge follow ffku yang abal-abal ini. Makasih juga silent readers ^_~.

Mind to review?

See you next chapter ^_~.