Gadis berhijab merah muda itu hanya bisa diam seribu bahasa saat mendapati teman sebangkunya yang berkacamata bundar itu datang kesekolah dengan ekspresi tak bersemangst, disaat hari ini ada jadwal ulangan harian matematika.

Untuk murid yang lain, mungkin wajar. Tapi untuk Ying, begitulah gadis berkacamata bundar itu akrab disapa, hal itu bukanlah sesuatu yang wajar.

Biasanya, gadis berketurunan China itu akan sangat bersemangat tatkala ada hal semacam ujian seperti saat ini. Karena Ying dan dirinya akan bersaing dengan ketat demi peringkat terbaik.

Maka, gadis berhijab merah muda yang penyandang nama Yaya itu pun berinisiatif untuk menanyakan hal tersebut kepada yang bersangkutan.

"Hei, Ying. Kau tak apa?" Tanya Yaya sembari menaikkan salah satu alis matanya.

"Eh? Aku tak apa lah! Apasal kau tanya macam tu, wo?" Balas yang bersangkutan sembari membenarkan letak kacamata bundarnya dengan kernyitan didahi.

"Kau nampak tak baik hari ni. Sekarang kan nak ada pemeriksaan matematik." Jawab Yaya sembari memberikan 'pancingan' agar frienemynya itu kembali kepada sosok dirinya yang biasa.

"Eh, benarlah..." Ying mengangguk-anggukkan kepalanya dengan setengah hati sembari menarik buku matematikanya keluar dari tas punggung bernuansa biru laut itu dan lantas menenggelamkan diri dalam lautan rumus-rumus dan kalimat-kalimat jebakan khas pelajaran menghitung itu.

Dan kernyitan tanda tak mengerti pun menghiasi dahi Yaya.

.

.

.

Boboiboy (c) Animonsta Studio

.

.

.

Turn Back Time (c) IT wasn't a thing.

.

.

.

Warning sama dengan chapter sebelumnya dengan tambahan OOC Berat!Fem!Hum!Ochobot yang dipanggil Cho

.

.

.

You've been warned, people~

.

.

.

Ying kembali menoleh kearah kanan. Menatap satu objek sampai sudut bibirnya tertarik keatas sedikit, sebelum kembali mengunci pandangannya pada soal-soal dibuku tulisnya yang tengah dia kencani.

Satu soal sudah terjawab, dan iris sewarna bulu burung gagak itu kembali bergulir kearah yang sama. Kembali menatap satu objek yang sama dalam diam hingga senyum tipis yanh sama kembali terukir diwajah orientalnya yang berkacamata bundar sebelum kembali memfokuskan diri pada buku tugasnya.

Hal yang sama terulang lagi hingga Ying selesai mengerjakan kesepuluh soal Bahasa Melayu yang diberikan oleh sang guru berhijab biru langit bername tag 'Mirah' itu.

Tidak, Ying tidak menyontek jawaban.

Dan kini, saat sang guru meninggalkan kelas diiringi dengan sorakan bahagua dari para murid.

Ying dengan jelasnya menatap sang objek pengamatan dalam diam sembari mengistirahatkan kepalanya diatas mejanya.

Dan kembali, lengkungan pelangi satu warna yang terbalik menghiasi wajah Ying.

"Oi, buang tebiat, ke?"

Suara menyebalkan khas seorang pemuda gempal berkulit hitam khas India langsung membubarkan lakon ekspetasi indah yang tengah bermain dikepala Ying, membuat gadis yang tengah dalam keadaan berbunga-bunga itu langsung diselimuti badai sembari mengangkat kepalanya demi beradu pandang dengan sang pemuda gempal penyandang nama Gopal itu.

"Ish, apa lah kau ni, Gopal! Kacau je ma!" Gerutu Ying sembari membuang mukanya dengan bibir mengerucut.

"Habis, kau senyam-senyum sorang, je sambil tengok Fang tu. Silap-silap, nanti ada hantu ambik tubuh engkau!" Balas Gopal setengah ngawur dengan wajah ketakutan.

Fang.

Mendengar namanya saja sudah membuat puspa hati Ying nyaris mekar sempurna,

Membuat peredaran darah mengutamakan bagian wajahnya,

Dan membuat kedua sudut bibirnya tertarik keatas.

Ying memilih untuk tidak mengacuhkan sang pemuda India yang menatapnya dengan pandangan horror, dan memilih untuk memfokuskan dirinya yang tengah dimabuk cinta untuk menatap atap kelasnya yang berwarna putih bersih. Membiarkan para lakon melanjutkan ekspetasi indah antara dirinya dan Fang dalam benaknya yang tadi sempat terhenti karema berbincangan tak bermutu antara dirinya dan Gopal. Yang sekarang sudah pergi meninggalkan kelas tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.

"Kak Fang!"

Vokal tinggi hasil getaran pita suara tipis yang pastinya dimiliki oleh seorang gadis menggetarkan gendang telinga milik Ying dan juga Fang yang lantas menoleh kearah pintu kelasnya dengan setengah hati.

Dan nampaklah seorang gadis yang nampaknya satu tahun lebih muda daripada Fang (seumuran dengan Ying) dengan rambut pirang dikuncir dua juga bola mata beriris biru laut berdiri diambang pintu kelas dengan senyum manis.

Ying hanya menatap gadis yang memang sudah tak asing lagi itu dengan salah satu alis terangkat. Bingung karena gadis itu biasanya tidak pernah mau kemari kecuali didampingin oleh kakaknya, Boboiboy. Tapi kini?

Sedangkan Fang hanya memberikan tatapan datar sembari memberi isyarat kepada gadis berambut pirang itu untuk memasuki kelas.

Dan gadis itu menurutinya.

"Ada apa, Cho?" Tanya Fang setelah gadis beriris biru laut itu berada didepan mejanya.

Gadis berambut pirang itu, Cho, lantas menempatkan diri pasa kursi kosong yang ada dihadapan Fang sebelum menjawab pertanyaannya.

"Cho ada tugas matematik hari ni. Tapi Cho tak boleh faham lah... Kak Fang boleh tolong ajar?~" Pinta Cho kemudian dengan wajah memelas.

Yang tentu saja menuai tatapan bingung dari Ying yang kehadirannya disana hanya dianggap laksananya sebutir kerikil.

Minta diajari?

Kenapa harus minta ke kakak kelas?

Teman sekelas tak boleh ajar, ke?

"Minta ajar abang kau sahaja, lah." Balas Fang setengah tak acuh sembari bertopang dagu.

"Cho dah jumpa abang tadi. Tapi abang bilang minta ajar sama Kak Fang, je."

"Kawan sekelas kau tak boleh ajar ke, Cho?" Ying yang lelah dianggap angin lalu akhirnya turut menimbrungi obrolan Cho dan Fang.

Cho menoleh, dan nampak terkejut akan kehadiran Ying yang dia golongkan tiba-tiba karena Cho tidak menyadari keberadaan Ying sampai siswi akselerasi itu akhirnya angkat bicara.

"Ah, hai Ying!" Sapa Cho tanpa dosa sedikit pun.

"Kak Ying." Tekan si kacamata bundar sembari meletakkan kacamata yang sudah menjadi ikon baginya itu.

Dan Cho hanya terkekeh kecil.

"Alah, kitorang kan seumuran!" Sanggah Cho.

"Tapi aku nih kakak kelas kau, ma!" Balas Ying.

"Tapi tetap saja kitorang ni seumuran! Eh, tak lah. Aku lagi tua 2 bulan!" Balas Cho lagi, masih menolak untuk memanggil gadis berkacamata bundar itu dengan embel-embel 'Kak'

"Kau ni tak di ajarkan sopan santun, ke?!" Geram Ying sembari memukul meja dan bangkit dari duduknya dengan mata yang memicing. Ying paling tidak suka kalau ada orang yang seharusnya berada satu angkatan dengannya menyinggung tentang akselerasinya hingga bisa melompati 2 kelas sekaligus.

Dan sekarang, si kepala pirang ini malah menguji kesabarannya.

Apa Boboiboy ataupun Tok Aba tak pernah mengajarkan sopan santun kepada Cho?

"Dah lah tu! Korang ni bising betul lah!" Fang yang kehadirannya tadi sempat dianggap angin lalu akhirnya berusaha menengahi adu mulut antara kedua siswi itu.

Tangan Fang yang berbalutkan sarung tangan fingerless menarik tangan Ying agar menjauhkan diri dari Cho.

Ying hanya bisa berdecak kesal sembari menyentak tangan Fang.

Gadis berdarah China itu pun mendudukkan dirinya dibangku lagi tatkala melihat Fang bangkit dari duduknya dan menyeret Cho keluar kelas.

Ying kembali berdecak, sembari berusaha untuk menenangkan gejolak aneh dalam dirinya.

.

.

.

"Abang, abang. Ternyata Kak Fang pandai matenatik sangat lah! Lagi pandai daripada abang!"

"Ape hal kau ni, Cho? Semalam cakap aku lagi pandai!"

Dan perdebatan antara Cho dan abangnya itu, Boboiboy, tak terelakkan sepanjang perjalanan pulang dari sekolah hari itu.

Membuat Yaya, Gopal, dan Fang yang pulang bersama kakak beradik itu hanya bisa geleng-geleng kepala.

Yah, kecuali Ying yang hanya diam dengan bibir mengerucut, sembari menggerutu dalam hati.

"Korang ni tak haus ke? Bising sangat! Penat kitorang dengar tau!" Gopal yang sudah jengah akhirnya angkat suara sembari menatap Cho dan Boboiboy dengan pandangan malas.

"Budak kecik mana bisa diam lagi?" Celetuk Ying pelan sembari menendang batu yang ada didekat kaki kirinya.

Cho yang kebetulan mendengar celetukkan itu, langsung menoleh kearah Ying yang berada dibarisan paling belakang. Seolah-olah tengah mengasingkan diri dari yang lainnya.

"Ying! Kalau kau tak suka dengan aku, cakaplah baik-baik! Jangan macam ni! Mentang-mentang kau boleh telompat kelas kau merasa paling pandai, ye?!" Tanya Cho dengan geram. Lebih mirip gertakan yang langsung membuat kedua mata sipitnya melebar.

Mulutnya terbuka saat mendengar 'semburan' dari adik kelasnya itu, yang dulunya adalah teman sekelasnya.

Gejolak dihatinya memuncak. Membuat kedua mata sipitnya yang tadi membelalak, kini memicing tajam kearah Cho.

"Apa kau cakap?!" Tanya Ying dengan tangan terkepal kuat.

"Kau dengar apa aku cakaplah!" Jawab Cho sekenanya sembari menaikkan dagunya dengan angkuh.

Yang tentu saja menyiramkan bensin pada api amarah Ying yang sudah membara sedari tadi.

"Sudah lah, korang ni! Masalah kecil pun bising sangat." Tegur Yaya sembari menarik Ying menjauhi Cho yang juga ditarik oleh Boboinoy untuk menjauhi Ying.

Gejolak di hati Ying yang tengah dilahap api amarah sudah tak terkontrol lagi, sembari memberontak dari cengkraman Yaya, senandung lembut pengantar maut teralun sanar dari mulut Ying.

"Bulan bersinar..."

Senandung pertama belum terdengar, dan Yaya masih mencengkramnya dengan kuat.

"Lampu berpendar..."

Senandung kedua melantang, membuat yaya mengerjab bingung dan Ying langsung melepaskan diri dari cengkraman Yaya dan beranjak kehadapan Cho yang ada disamping Boboiboy.

"Kembalikan waktu..."

Senyum ganjil yang terukir diwajah Ying membuat teman-temannya yang melihatnya hanya bisa menatapnya bingung.

"Kembalikan semua..."

Senyum ganjil itu melebar saat tungkai Ying tergenti dihadapan Cho. Membuat si kepala pirang sedikit bergidik.

"Yang jadi milikku...~"

Hawa gelap menguar dari tubuh Ying saat alunan lembut yang menyayat hati itu usai.

Senyum ganjilnya bertransformasi menjadi senyum manis saat Ying tanpa ragu meraih tangan Cho.

Hanya sekejab.

Senyum manis itu hanya kedok sekejab.

Sebelum akhirnya dia kembali tersenyum dengan cara yang menakutkan.

"Larian laju!"

Dan si hitam juga si pirang langsung menghilang dalam sekejab mata.

"YING!"

"CHO!"

.

.

.

Andai aku terlahir kembali

Tanpa kekuatan yang menyiksa diri

Tanpa gejolak yang muncul dari dalam hati

Hingga mati dengan damai nanti

.

.

.

TbC or Disc?

.

.

.

A/N: Halo! Saya kembali dengan chapter baru! Saya mohon maaf karena saya tidak bisa membalas review-review anda sekalian karena saya cukup sibuk akan ujian sekolah ini. Ini juga saya buat ditengah-tengah jam istirahat ujian sekolah! /jangancurhat.

Maaf ya kalau tidak memuaskan. Maaf juga Ochobot jadi songong disini. Nama panggilannya aneh lagi, Cho, jadi inget harry potter jadinya /salah.

Oke deh, saya gak bisa banyak bacot. Maaf disini saya gak bisa bales review. Mungkin saya akan balas dichapter depan! Terima kasih atas kesediaan kalian untuk membaca! Terima kasih kepada para reviewers dan juga silent readers! Saya akan update chapter depan secepatnya!

With double winks and a blow kiss,

IT