Ia menghitung senja, sekali lagi. Memandang sorot jingga dari balik jendela dengan kaca penuh debu di sudut-sudutnya. Ia letakkan jemari pada bingkai kayu di sekeliling sosok dengan dominasi warna monokrom yang menguning di sudut kanan atas, termakan usia.
"Mungkin aku pun akan meletakkan sisa kenangan hanya kepada waktu."
Iris sewarna lelehan karamel beralih tatap pada jam hitam yang melingkar apik di tangan kirinya seraya mencampur tatap dengan sedikit kebencian.
"karena kematian sangat mencintaiku."
Dan jarum jam yang terhenti detakannya enggan kembali bekerja hanya membisu, menyisakan senja dan sunyi dari desisan angin yang menyertai uluran tangan kematian dibalik kegelapan.
LITTLE PAPER
(A Letter From Heaven)
Story by
Ryuuza Nakazawa
Warning: Yaoi! dan Typo adalah bagian dari kehidupan.
Chapter 3: Whatever sorrow ambush us, Just smile, We'll back to the sky
"Jadi, itu cerita karanganmu?" Lee Taeyong bertanya dengan nada bingung. Pria muda itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Tatapannya berfokus pada layar laptop yang menyala di hadapannya. Sesekali ia menatap Nakamoto Yuta yang terlihat frustasi di seberang.
"ya." Nakamoto Yuta menjawab dengan lesu. Jemarinya sibuk mengaduk ramen di dalam mangkuk yang masih mengepulkan asap, sedangkan matanya menatap Lee Taeyong yang menekuni laptop miliknya.
Minggu ketiga musim gugur membawa hawa dingin yang lebih. Untuk sejenak Lee Taeyong lebih memilih mengamati lamat-lamat bunga mawar di balik jendela, menatap bagaimana pohonnya bergoyang tertiup angin dan sesekali mengetuk kaca di sampingnya. Suaranya pelan dan tidak beraturan.
"Bagaimana?" Pertanyaan yang terlontar mengambil alih atensi Taeyong. Diliriknya Yuta dan mangkuk ramennya yang hanya bersisa kuah, membuat pria muda itu sadar tentang waktu yang banyak berlalu dan ia sia-siakan.
"Bagaimana ceritaku?"
"Hmm…"
"Bagaimana?"
"Membingungkan."
"Maksudnya?"
Lee Taeyong menggerakkan kursor di laptop di hadapannya, menelusuri kembali paragraf-pararaf cerita yang dibuat Yuta.
"Kau tahu? Kata-kata yang kau tulis seperti bukan ditujukan untuk khalayak umum yang tidak begitu mengetahui tentang sastra."
"Ya." Taeyong melihat Yuta mengangguk. Pemuda Jepang itu menggaruk pipinya beberapa kali, lalu meminum es teh hingga bersisa setengahnya saja.
"Kalau boleh jujur, aku tidak bisa menulis hal-hal yang sederhana seperti itu, yang mudah dimengerti orang-orang." Taeyong bisa melihat bahu Yuta menurun.
"Aku_kurasa aku memang tidak bisa menciptakan sesuatu yang sederhana."
"Kau hanya harus belajar dari lingkungan di sekitarmu." Kali ini Taeyong melihat bahu Yuta menegang. Ia sudah bisa menebak hal ini, tetapi_
"Aku tahu ini sulit untukmu."
Taeyong tetap tidak suka melihatnya secara langsung.
Entah kenapa, mulutnya tidak ingin berhenti berbicara. Terus mengucapkan kata-kata yang bermunculan di dalam kepalanya. Kata-kata yang tidak ingin ia ucapkan, tapi selalu muncul dalam pikiran Yuta. Taeyong membenci dirinya, selalu seperti itu.
"Tapi, kalau kau terus bersembunyi hanya karena kekuranganmu, kalau kau terus bersembunyi hanya karena tidak ingin mendengar orang-orang mencemoohmu, kalu kau terus seperti itu, kau pikir kau bisa menebus dosa-dosamu? Kau pikir kau bisa melangkah maju?"
Hentikan! Kumohon hentikan aku.
Kali ini, mata Yuta terbelalak, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Pandangan yang Taeyong sangat tahu maksudnya. Pandangan yang dibencinya.
Taeyong menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya diam-diam. Setelah hening yang cukup lama, ia menatap Yuta yang masih dengan wajah terkejutnya, lantas tersenyum lebar.
"Kurasa, kata-kata seperti itulah yang ingin kusampaikan untuk tokoh di dalam ceritamu." Taeyong tertawa.
"Dia terlalu pengecut untuk menghadapi kenyataan masa lalunya, karena itu dia hanya bisa mengenangnya sampai dia mati, tentu saja dengan beban masa lalu yang belum dia lepaskan." Untuk saat ini, Taeyong bersyukur bisa melihat Yuta tersenyum kecil lagi.
"Jadi, aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan agar cerita ini lebih hidup?" Yuta bertanya. Taeyong terkekeh sesaat, lalu tangannya bergerak menuju kepala Yuta dan mengacak rambut hitam yang tumbuh lebat disana.
"Kau bisa mempermanis suasana di dalam ceritamu. Jujur saja, aku lebih menyukai cerita yang happy ending daripada sad ending."
"Mempermanis suasana? Bagaimana?"
"Mendatangkan sosok yang tampan dan ceria sepertiku, mungkin?"
Dan mereka tertawa begitu saja, diiringi tatapan mendung Jung Jaehyun di balik pianonya.
"Hyung."
0~0~0~0
Yuta membuka pintu apartemennya dengan tangan gemetar, lantas ditutupnya lambat-lambat. Tasnya terjatuh ke lantai diikuti dengan tubuhnya sendiri. Yuta memeluk lututnya sembari menyandarkan punggung pada daun pintu. Matanya menatap dinding kamarnya yang tiba-tiba terasa mendekat, menghimpit dan membuat napasnya sesak.
"Dia tahu?"
Kenangan masa lalu tiba-tiba saja hadir. Berputar-putar dengan menyebalkan, acak dan menyakitkan.
Tatapan iba dan mencemooh.
Uluran tangan yang menariknya terlalu keras, membuatnya terjatuh.
Wajah-wajah yang berpaling dan mentertawakannya .
Bibir yang menekuk ke bawah dan pandangan tajam.
Air mata.
Pelukan yang mencekik.
Kalimat-kalimat permohonan yang memaksa.
Ruangan yang kosong.
Tali-tali yang mengekang tubuh.
Mulut yang terbuka lebar mengucapkan kata-kata yang tidak ia ketahui.
Pukulan.
Juga penghianatan.
Yuta merasa perutnya bergolak. Ia menutup mulutnya dan memaksa kakinya berlari menuju kamar mandi, memuntahkan isi perutnya disana.
"Aku tidak ingin melakukan penebusan dosa. Aku juga tidak bersembunyi." Yuta menatap pantulan wajahnya di cermin. Begitu menyedihkan, Yuta berdecih untuk itu.
"Aku tidak bersembunyi, karena orang-orang itulah yang tidak menginginkanku."
0~0~0~0
Taeyong menyesap espresso dalam cangkir putih dengan corak daun maple khas musim gugur. Tatapannya mengarah pada jendela yang menyajikan pemandangan hiruk pikuk jalanan di malam hari. Masih di tempat duduk yang sama, Taeyong larut dalam perenungan panjang.
"Hyung." Jung Jaehyun memanggilnya dari seberang meja. Begitu Taeyong berpaling, ada tatapan mendung milik pegawainya itu.
"Apa kau baik-baik saja?"
Hening sejenak, sebelum akhirnya Taeyong membuka mulutnya, melontarkan kalimat bermakna abstrak.
"Menurutmu?"
Jaehyun terdiam. Dirematnya bolpoin bertinta hitam di bawah meja, sebisa mungkin menghindarkan tatapan iba dari matanya.
"Hyung hilang kendali lagi?"
Taeyong mengangguk. Pria muda itu meletakkan cangkir espressonya ke atas meja, lalu meletakkan serta kedua tangannya disana.
"Jaehyun-ah, menurutmu apa dia tahu?"
Jaehyun menghembuskan napasnya kasar. Telapak tangannya mengusap wajahnya sekali untuk memberanikan diri menatap laki-laki yang berusia 3 tahun lebih tua darinya.
"Aku tidak tahu." Jaehyun menggeleng lalu menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi. Merasa lelah sendiri dengan masalah orang lain.
"Dari hasil pengamatanku, dia sama sepertimu hyung." Taeyong tertarik.
"Sama-sama memakai topeng untuk menyembunyikan luka dari masa lalu."
Jaehyun diam, mencoba mengamati reaksi Taeyong atas pernyataannya.
"Aku_"
Taeyong membasahi bibirnya yang terasa kering tiba-tiba, berat untuk mengatakan kenyataan.
"Aku mendengarnya."
"Pikiran-pikiran Yuta, aku mendengarnya." Taeyong mengusap wajahnya kasar.
"Pikirannya penuh dengan teriakan. Bukan teriakan dari kenangannya, tapi teriakannya sendiri. Dia meneriaki dirinya sendiri dengan kata-kata yang begitu kasar dan sebagian lagi tidak aku mengerti. Aku tidak bisa mengendalikan diri. Itu_"
"Sangat menyakitkan?" Jaehyun mencoba menebak begitu dirasanya Taeyong kehilangan kata-kata.
"Ya." Taeyong mengangguk.
"Rasanya seperti sedang bercermin dengan masa laluku sendiri."
"Lalu_" Jaehyun menyela.
"_apa yang akan hyung lakukan?"
"Kurasa, aku tidak sanggup."
Jaehyun mengernyit.
"Tapi_"
"Aku tidak sanggup berada di sampingnya, Jaehyun-ah."
"Tapi_" Jaehyun menatap aneh Taeyong.
"_kau sudah memberinya harapan, membuatnya tertawa dan_"
"Itu karena aku tidak tahu." Taeyong berseru frustasi. Espresso yang tersisa setengahnya bergelombang karena getaran pada meja.
"Aku tidak tahu kalau dia memiliki luka yang sama sepertiku. Aku_"
"Aku tidak ingin mengingatnya lagi."
Jaehyun terdiam di tempatnya, enggan bersuara lagi atau itu hanya akan memperparah keadaan. Pemuda itu melemparkan tatapan ke arah jendela, mengamati orang-orang yang berlalu lalang sampai matanya lelah sendiri.
Terkadang Jaehyun ingin mengutuk kebiasaannya mengamati perilaku orang-orang juga rasa penasarannya yang tinggi. Kerap kali ia terjebak dalam masalah orang lain, terseret arus lalu terluka begitu mudah. Yang menyakitkan dari semua itu adalah ketika ia terluka tetapi harus mengobati luka orang lain, mengabaikan lukanya sendiri.
Tanpa sadar, Jaehyun mengetukkan jemarinya pada meja, kebiasaannya ketika berpikir terlalu keras. Mulutnya terbuka, berusaha mengatakan sesuatu namun urung. Ditariknya napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan keberanian.
"Hyung, kau bilang kau tidak sanggup berada di samping Yuta-hyung, kan?"
Lee Taeyong mengangkat kepalanya, menatap lurus bola mata Jaehyun yang bersorot dingin, seperti bukan Jaehyun yang biasanya.
"Karena kau sudah memberikannya harapan_" Jaehyun melontarkan senyuman kecil-atau bisa lebih disebut senyuman sinis-.
"_Bagaimana kalau aku menggantikanmu di sampingnya?"
0~0~0~0
Karena pada akhirnya, luka yang kubawa harus kutanggung sendiri.
Dosa yang melekat harus kutebus sendiri.
Dan kenangan yang menyakitkan harus terus kusaksikan seorang diri.
Entah itu akan menguliti kesabaranku
Entah itu akan menguras tawaku
Entah itu akan menghancurkan harapanku
Karena pada dasarnya itu adalah kesalahanku.
-Nakamoto Yuta-
TBC
Holla...
I'm back! Yeah!
Perjuangan banget nyelesain chapter ini. Ketik, delete, ketik ulang, delete lagi. Huaaaaaaahhhhhhhhh. Oke oke. Anggap saja ini THR buat nanti lebaran. *ANAK KOST MAU PULKAM, YEEEEAAAAAYYYYY*
Maklumin anak yang udah 4 bulan gak pulkam.
Akhir kata, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan, juga selamat hari raya idul fitri...!
Kedepannya, kan aku udah mau kelas XII, jadi mungkin bakal sulit curi-curi waktu ngetik cerita. Kenapa? Kena efek kebanyakan dispen .
Terakhir banget, thanks buat yang udah read, review, favorit dan follow.
Sekian, terima saran, kritik, cacian dan makian.
See you...
With love
Ryuuza Nakazawa
