Sungmin's Surrender [ Re-make ]

One of the great stories [ Sarah's Surrender ] By Lydia Chance

Casts : Cho Kyuhyun [ as John Garrett ] | Lee Sungmin [ as Sarah McAlister ] KyuMin

Rated : M

Chapter : 3 / 10

Warning : GS | NC [ Sex activity ] | Typo and Misstypo | OOC

Genre : Romance | Angst | Drama

Disclaimer : Story line by Lydia Chance, and was posted on Portal Novel [ Thanx before for admin and translator in PN ]

Note : Ini satu lagi Novella rekomendasi saya XD John Garrett salah satu chara cowok favorit saya sepanjang saya membaca Novel/ Novella .d

Awalnya mau buat Siwon, tapi entah kenapa, sifat cemburuan dan tempramen John lebih cocok buat Kyuhyun ._.a

Ah, saya mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya buat yang sdh review di FF sebelumnya, semoga FF ini (walau Re-make) tetap bisa menyenangkan dan diterima dengan baik ^o^

Mari saling menghargai, Jika tidak suka silahkan tinggalkan page ini :)

Selamat menikmati~

.

/

.

/

.

Tiga hari kemudian, Sungmin masuk melewati pagar besi tempa yang dibatasi oleh tiang batu tinggi yang merupakan pintu gerbang peternakan Philip Cho Kyuhyun. Semua di sekelilingnya saat ini meneriakkan uang dan dalam jumlah yang banyak.

Tanah lapang yang segar dan hijau serta jalan pribadi berkelok-kelok mulai dari pintu gerbang merupakan jalan aspal, sangat berbeda dengan jalan tanah merah di 200 hektar miliknya. Situasi yang sangat berbeda dengannya ini cukup mencolok. Rute biasanya untuk sampai ke rumah adalah pagar tua yang sudah dimakan cuaca dan usia. Kakeknya yang membuatnya sendiri. Kakeknya menggunakan pohon Mesquite untuk tiang pagar dan kawat berduri yang sudah berkarat dan longgar karena sudah begitu lama berada di sana. Pagar besi tempa hitam yang digunakan di sini merupakan perbedaan mencolok dari apa yang biasa dia lihat setiap harinya.

Saat dia pelan-pelan masuk ke pekarangan depan rumah dengan jalur yang melingkar, Sungmin menarik nafas panjang dan mematikan mesin mobilnya. Dia belum bicara langsung dengan pria ini, hanya kepada pembantu rumah tangganya saat dia menelphone dan hendak membuat janji.

Sungmin memandang kayu dan tugu batu yang merupakan rumah pria ini, dan diam-diam dia berdoa pria ini semurah hati seperti yang orang ceritakan padanya.

Dia menarik nafas dalam, mengambil tasnya, dan siap-siap menempatkan hatinya ke jalur yang dia yakini benar.

.

.

.

.

Kyuhyun mengencangkan busi mobil jeep tuanya dan meraih lap untuk membersihkan minyak pelumas dari tangannya sebelum dia mengangkat teleponnya.

"Apa?" Kyuhyun menjawab dengan nada suara kasar.

"Wanita dari sekolah itu sudah datang." Pembantu rumah tangganya, Kim Ahjumma, menjawab. Kyuhyun tahu ia terbiasa mengabaikan nada kasar pada suaranya.

"Wanita apa?"

"Aku memberitahumu tentang dia kemarin. Dia memohon untuk membuat janji." Ia mengingatkan Kyuhyun.

"Sekolah Shunceon?" kebingungan membuat alisnya berkerut. Dia baru saja mengunjungi sekolah itu minggu kemarin. Apa lagi yang mereka inginkan dalam waktu sesingkat ini?

"Bukan. Di Soejong." Kim Ahjumma menjawabnya.

Hanya dengan mendengar nama kota sialan itu saja rasa Frustasi menghantamnya. Kyuhyun tidak ingin pengingat apapun saat ini. Dia mengertakkan giginya.

"Usir dia."

"Tidak , Aku tidak akan," Kim Ahjumma Menjawab dengan tegas.

"Kau saja yang usir dia." Sahutnya lagi.

"Aku akan memecatmu suatu hari nanti." Kyuhyun berkata kepada wanita yang lebih tua darinya itu yang sudah bekerja 10 tahun padanya dan wanita yang telah memanjakannya dengan sangat buruk, Kyuhyun tahu dengan sangat baik dia sangat membutuhkannya.

"Aku akan berhenti suatu hari nanti." Kim Ahjumma menanggapi tanpa ragu.

"Angkat pantatmu itu ke dalam rumah dan berurusan sendirilah dengannya. Aku tidak paham kenapa kau setuju untuk menemuinya jika kau tidak menginginkannya. "

"Karena aku pria yang baik." Kyuhyun menjawab dengan nada sarkastik.

Kim Ahjumma membuat suara keraguan.

"Buktikan. Wanita itu tampak cukup gugup."

"Baiklah, itu satu nilai untuknya. Biasanya mereka semua begitu berani dan semangat yang berapi api saat mereka menginginkan uangku."

"Bersikap baiklah padanya. Kau akan berpikir dia seperti akan menemui seorang putra mahkota, dia terlihat begitu gugup."

"Aku akan menemuinya sebentar lagi." Kyuhyun memutus telephone dan mencuci tangannya di westafel. Kejengkelan menguasai dirinya. Jika saja dia memiliki manager yayasan maka dia tidak akan harus menghadapi hal seperti ini. Dia tidak akan harus berhubungan dengan hal seperti ini sama sekali.

Saat dia berjalan menyebrangi halaman tertutup menuju rumahnya, Kyuhyun merasa seakan-akan dia sedang berusaha untuk mengunyah dan menelan kuku, kefrustasiannya begitu tinggi. Mengetahui bahwa pembantu rumah tangganya benar dan dia tidak bisa mengusir wanita dari sekolah wilayah itu dengan alasannya. Untuk sementara dia menyerah dan mengeluarkan korek api dari kantong celananya lalu menyalakan rokoknya. Saat dia menghisap rokoknya kelegaan yang berasal dari tembakau hadir, dia ragu-ragu apakah dia akan pernah bisa untuk berhenti merokok.

Itu merupakan satu hal dalam hidupnya yang akan gagal dia lakukan. Secara berulang akan gagal, Itu satu hal dan tentunya hal lain adalah pernikahan. Pernikahannya telah menjadi suatu kesalahan dan satu hal yang tidak bermaksud untuk dia ulangi.

Kyuhyun menjepit rahangnya dan mencoba untuk mengontrol ketidaksabaran yang merasuki pembuluh darahnya. Dia sudah marah dengan wanita yang tidak dia kenal ini. Hanya fakta bahwa dia berasal dari Soejong dan menginginkan uangnya, sudah merupakan dua pukulan bagi dirinya.

.

.

.

.

Sungmin berdiri di kantor Kyuhyun dan mencoba untuk menenangkan kegelisahannya yang membuat tubuhnya gemetar. Dia tidak bisa duduk dan menunggu dengan santai, sehingga dia melihat ke sekeliling kantor ini, dan sekarang dia berdiri di depan rak buku, mempelajari barang-barangnya.

Tidak ada foto pribadi di sekelilingnya, tapi hanya ada satu bingkai dengan gambar tambang minyak. Gambar itu memperlihatkan proses penambangan minyak dari awal sampai akhir.

Jadi begini cara pria ini menghasilkan jutaan kekayaannya.

Dia melarikan pandangannya ke banyak hal di rak buku pria ini. Pria ini memiliki banyak sekali koleksi benda-benda tua yang dipajang. Benda-benda ini tidak mengkilap dan gemerlap. Sebagian besar dari mereka patina tua yang sudah berkarat dan kayu tua.

Banyak benda yang tidak Sungmin ketahui, tapi dia bisa mengenali tulisan yang tertempel pada mereka menunjukkan mereka setidaknya berumur 60 tahun. Mata Sungmin meluncur meninggalkan mereka dan mendarat pada kotak kayu segiempat dengan panjang sekitar 16 inchi. Kotak ini berdebu, mungkin debu yang berasal saat kotak ini jatuh ke tanah beberapa tahun lalu dan dibiarkan saja disitu. Kayu itu terlihat telah digunakan selama tahunan dan Sungmin mengenali peralatan untuk apa ini. Sebuah Waterpas (alat yang digunakan untuk mengukur tingkat kemiringan).

Peralatan tukang kayu yang sederhana. Pengecualian yang ini bukan lagi sesuatu yang sederhana. Karena mungkin sekarang benda ini sudah pasti berusia hampir seabad. Atau mungkin lebih tua. Sungmin mengambil waterpas ini dan mempelajarinya, walau rasa bersalah karena telah memegang benda-benda milik pria ini menghinggapinya. Sungmin selalu mencintai benda-benda tua. Dia suka buku-buku tua, Furniture tua dan rajutan tua. Sungmin tidak terlalu perduli apakah mereka sebenarnya antik atau tidak, hanya menyentuh mereka dan berpikir tentang orang-orang yang telah menggunakan mereka setiap hari selama hidupnya mengasyikkan buat dirinya. Setiap benda seperti mempunyai hal untuk diceritakan.

Saat dia mempelajari waterpas ini, Dia menyadari dengan kekaguman bahwa walau satu gelembung pecah, gelembung satunya lagi tetap utuh dan faktanya hal ini masih bisa menahan cairan pengukur di dalamnya.

Dia melangkah menjauhi rak buku dan membalikkan waterpas tua itu dengan kekaguman di tangannya.

"letakkan benda itu."

Punggung Sungmin hampir menghadap pintu dan suara keras itu mengirimkan aliran tanda bahaya kepadanya. Lututnya mulai bergoyang dan dengan gelombang ketidakpercayaan yang ganas. Dia berbalik dengan gerakkan kaget untuk berhadapan dengan pria yang berdiri di pintu masuk.

Tangannya mulai gemetar dan waterpas jatuh tergelincir dari jari-jarinya dan menghantam ubin lantai dengan kencang, suara yang sangat keras.

Sarah melihat mata pria ini melihat ke tabung yang pecah di kakinya.

"Sialan!" Pria itu menggeram. Mata pria ini lalu meninggalkan lantai dan berjalan menuju tubuhnya dan berhenti di wajahnya dan dengan cepat mengenalinya.

"Sialan!" dia mengumpat lagi.

Mereka saling memandang satu sama lain dari arah yang saling bersebrangan sementara denyut jantung Sungmin berdetak keras hendak berlari tetapi dia tidak bisa karena kakinya menempel di lantai. Sungmin memandang dengan kekagetan saat rasa paham tergambar jelas di wajahnya.

Pria ini menangkap kesadarannya sebelum Sungmin, dan berbalik untuk menutup dan mengunci pintu kantornya. Saat dia mengeksekusi manufer ancamannya, dia meletakkan rokoknya diantara bibirnya dan menahannya disitu. Sungmin memandangnya saat otaknya mulai pelan-pelan berfungsi lagi.

" Kau merokok? " Sungmin bertanya dengan nada tidak setuju dan jijik yang tidak bisa dia tahan dengan cukup cepat.

Sungmin tidak paham kenapa dia begitu kaget kalau pria itu merokok. Karena dia sangat membenci rokok dan mungkin itu merupakan satu aturan dalam hidupnya yang tidak akan pernah dia langgar? Dia tidak pernah berkencan dengan pria yang merokok. Tidak pernah.

Kenapa dia tidak lebih terkejut bahwa Cho Kyuhyun adalah Kyuhyun ? Kyuhyun nya.

Kyuhyun nya? Darimana pemikiran seperti ini berasal?

"Kau memecahkan waterpas ku," Kyuhyun menggeram.

Sungmin mengedipkan matanya dari Kyuhyun dan memandang ke kekacauan di kakinya. Tampaknya dia sudah sangat ceroboh. Tatapan kesedihan untuk barang tua itu menembus dirinya saat dia menarik nafas dan melihat kembali kepada Kyuhyun

"Kau merokok?" Sungmin mengulangi tanpa sadar.

"Kenapa begitu sulit untuk mempercayai itu?" Kyuhyun bergerak ke dalam ruangan dan mengambil kayu tua dan pecahan tabung waterpas. Dia menempatkan keduanya ke rak buku dan bergerak untuk bersandar pada mejanya.

Sungmin berbalik untuk memandangnya.

"Aku tidak tahu, kenapa kau merokok?"

"Apakah kau bercanda, Nona? Kau pikir kau punya hak untuk bertanya hal pribadi padaku?"

Sungmin masih terlalu kehilanganan keseimbangan untuk mengikuti percakapan dengan logika. Terlalu banyak hal menyerang otaknya dalam satu waktu. Kyuhyun merokok; dan dia benci itu dan hal itu mengirimkan kekecewaan ke dalam perutnya. Dan Sungmin telah memecahkan sesuatu yang Kyuhyun sukai. Dan namanya Cho Kyuhyun, dan dia tidak akan mungkin memberikannya uang. Sungmin akhirnya menyadari itu dengan rasa kecewa yang sakit. Rumah jompo itu tidak akan dibangun. Sekolah akan tutup.

Dan Kyuhyun merokok.

Saat Sungmin melihat Kyuhyun menghisap rokok dengan dalam lalu menghembuskan asapnya keluar, Sungmin bertemu dengan tatapan Kyuhyun dan Sungmin berusaha untuk mengumpulkan kekacauannya. Sungmin menjilat bibirnya untuk membasahi mulutnya yang kering.

" Aku Minta Maaf."

"Untuk mencampuri urusan orang lain atau untuk bersikap ceroboh?."

Sungmin menggigit bibirnya dan mengalihkan pandangannya. Dia tiba-tiba ingin menangis. Bukan tangisan tersedu-sedu, tapi hanya tangisan yang air matanya bisa membuat penglihatannya kabur dan membuat nya merasa sedih. Tapi Sungmin tahu dia tidak bisa, Sungmin memiliki harga diri yang terlalu tinggi.

Dia melancarkan tenggorokannya.

" Aku minta maaf aku memecahkan waterpas mu. Itu sangat indah dan sekarang Itu—tidak sama lagi."

Kyuhyun mengangguk sekali untuk menandai permintaan maaf Sungmin dan memegang rokoknya secara vertikal ke depan wajahnya seperti dia memiliki pertanyaan.

"Apa?" Sungmin bertanya dengan pelan.

Kyuhyun melihat air mata mengalir di matanya dan tidak perduli sama sekali. Air mata itu membuat Kyuhyun tampak seperti seseorang yang harus disalahkan, seperti dia telah melakukan sesuatu yang salah. Salahkah dia? Air mata itu akan mengalir atau tidak mengalir. Bencana.

Awalnya pom bensin, lalu dancehall, dan sekarang ini. Sungmin menginginkan uangnya. Bukankah itu yang dia inginkan? Agar Sungmin menginginkan uangnya? Kemarin Kyuhyun tidak terlalu perduli hal itu, tapi sekarang, Kyuhyun harus mengakui, itu mengganggunya.

Kyuhyun merasa seperti anak kecil dan itu membuatnya marah. Kyuhyun ingin Sungmin menyukainya.

Sialan.

Tetap, realisasi tidak menghentikannya untuk mengatakan apa yang dia rasakan saat ini.

" Kau ingin aku mematikan rokok ini?"

Ekspresi wajah Kyuhyun tidak terduga olah Sungmin dan dia pelan-pelan menggelengkan kepalanya.

" Tidak, kau benar. Ini benar-benar bukan urusanku. Ini rumahmu dan kesehatanmu."

Seperti Sungmin tidak pernah bicara, Kyuhyun menghisap lagi rokoknya dan menghembuskan asapnya dan mengambil asbak di atas meja lalu mematikan rokoknya.

Saat Kyuhyun berbalik kembali untuk memandang Sungmin dengan ekspresi seram, Sungmin melihat bahunya menegang menarik bahan kaosnya. Bahan Kaosnya seperti pernah putih, tapi sekarang hampir semua bagian terdapat noda - noda bergaris panjang di sisi kirinya tampak seperti minyak pelumas. Lengan bajunya benar-benar dipotong, dan tubuhnya mempertontonkan kekuatan maskulin yang membuat hati Sungmin ingin menabrak kearah tulang dadanya.

Apapun yang sedang dilakukan oleh Kyuhyun saat dia tiba disini pasti bukan hal psikis, yang mana dia tidak pernah membayangkan seorang multi-milliuner akan menghabiskan waktunya untuk melakukan itu.

Sungmin membiarkan pandangannya jatuh dari tubuh Kyuhyun dan memandang jeans nya dan sepatu bot kerjanya. Barang-barang itu juga, begitu tidak bereputasi, dan mengingatkan Sungmin apa yang dipakai Kyuhyun saat pertama kali bertemu dengannya. Maka, Pria ini adalah pria yang berpakaian hanya untuk kenyamanan pribadinya, dan dia tidak harus merasa perduli dengan seperti apa penampilannya.

Baiklah, tidak satu pun dari hal itu yang menjadi masalah lagi sekarang, karena Sungmin sudah menolaknya dan menghinanya sejak pertama kali mereka bertemu. Tidak mungkin Kyuhyun akan menolongnya, waktu atau uang yang dia butuhkan dari Kyuhyun. Sungmin memutuskan dia bahkan tidak akan membuang nafasnya untuk bertanya. Dan hampir dengan segera dia mempertanyakan keputusan itu. Setiap orang yang dia ajak bicara telah mengatakan kepadanya bahwa Kyuhyun lebih dari bersedia untuk memberi. Mungkin Kyuhyun memiliki sifat dermawan yang kuat yang tidak akan terpengaruh dengan konflik yang ada di antara mereka. Sejujurnya, Sungmin tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Tiba-tiba, pikiran untuk meminta uang kepada pria ini tampak berbahaya. Secara acak berbahaya.

Tapi Sungmin harus mengatakan sesuatu. Dan mencari topic yang tidak mempunyai tujuan.

"Jadi kau Cho Kyuhyun?" Sungmin berusaha untuk mempertahankan nada datar pada suaranya pada percakapan yang merupakan pertanyaan ringan.

Kyuhyun mengangguk sekali.

"ya, Kyuhyun."

"Kyuhyun." Sungmin mencoba nama itu keluar di bibirnya.

Kyuhyun dengan berani menyapukan matanya ke atas dan ke bawah sepanjang tubuh Sungmin, seperti dia punya hak untuk melakukan itu.

"Dan kau adalah Choi Sungmin."

"Ya. Dunia begitu kecil," permainan kata-kata bodoh tergelincir dari mulut Sungmin sebelum dia bisa mencegahnya.

"Terutama di wilayah sini." Kyuhyun setuju, memandangnya terus-menerus.

Kyuhyun bersandar ke mejanya dan menunggu Sungmin untuk mengatakan sesuatu. Menunggu dia untuk meminta uangnya. Untuk apa, Kyuhyun tidak tahu. Tidak jelas apa yang dibutuhkan oleh Sekolah di Soejong. Atau seberapa besar Sungmin ingin sekolah itu untuk memilikinya. Kyuhyun belum tahu.

Tetapi untuk pertama kali dalam hidupnya, Kyuhyun merasa begitu sangat puas bahwa seseorang menginginkan uangnya. Bahwa Sungmin menginginkan uangnya. Apakah dia bisa mendapatkan Sungmin tanpa uang yang berdiri diantara mereka? Tentu saja. Tapi Sungmin lebih dari segan, dan tanpa sedikit pancingan, Kyuhyun tidak akan mendapatkan kesempatan dari Sungmin.

Jadi Kyuhyun harus sangat bersyukur dia memiliki sesuatu yang Sungmin butuhkan.

"Aku minta maaf aku telah menjatuhkan waterpass-mu." Suara Sungmin seperti menjilat perasaan Kyuhyun saat dia sekali lagi minta maaf.

"Jangan khawatir soal itu." Kyuhyun akan tidak bersikap seperti ini jika ada orang lain yang memegang barang-barangnya dengan cara yang sembarangan.

Tampak jelas Sungmin menelan ludah dan memandang ke sekeliling kantor Kyuhyun.

Kyuhyuntahu Sungmin gugup, dan Sungmin tidak membuat satu tindakan pun untuk membuat percakapan ini menjurus pada alasan untuk apa dia datang ke sini. Kyuhyun memutuskan untuk membantunya sedikit.

"Kau bekerja untuk sekolah di Soejong?"

"Tidak." Sungmin tidak menjelaskan lebih panjang.

"Kau bekerja di administrasi sekolah?" Kyuhyun bertanya lebih lanjut.

"Tidak. Aku seorang pengajar, tapi aku tinggal dan bekerja di Daegu."

Kyuhyun merasa bingung sebentar. Dia bersumpah pertama kali Sungmin bertemu dengannya, dia mengatakan dia berasal dari Soejong. Dan sebutan Daegu membuat dahinya mulai berdenyut. Kyuhyun memandang sekilas ke bawah ke tangan kiri Sungmin dan Kyuhyun segera melihat kilauan Solitaire di jari manisnya.

Gelombang kemarahan dan kebencian menerpa dirinya.

"kau mengatakan kepadaku kau berasal dari Soejong," Kyuhyun mengatakannya lewat gigi yang menggertak.

"Aku —aku Ya aku berasal dari Soejong. Semacam itu. Kakek-nenekku meninggalkan pertanian kecil dan aku menghabiskan setiap liburan musim panasku di sini. Orang tuaku tinggal di Daegu dan aku dibesarkan di sana. Aku bekerja di Daegu. Aku seorang guru matematika murid kelas 10."

"Kau di sini hanya untuk liburan musim panas?"

"Ya."

"Apa hubunganmu dengan Sekolah di Soejong?"

"Tidak ada sebenarnya."

"Itu tidak masuk akal, Nona."

"Aku berasal dari Daegu tapi hatiku ada di Soejong. Sebagai seorang pengajar, perhatianku untuk anak-anak, Aku tidak ingin melihat sekolah itu tutup karena kurangnya pendaftar. Anak-anak harus naik bis hampir satu jam. Mungkin ke daerah ini (Suncheon) . Itu akan memakan waktu dua jam dalam sehari bagi mereka. Dua jam yang berarti bagi masa kecil mereka akan dibuang di bis. Aku telah melihat ini terjadi sebelumnya, dan tidak ada hal baik dari itu. "

"Dan kau telah memutuskan untuk membuat hal ini sebagai sebagai perjuangan pribadimu?" Kyuhyun mengangkat satu alisnya dan menunggu.

"Aku tidak ingin melihat kota juga mati. Jika sekolah tutup, pekerjaan-pekerjaan itu akan hilang juga. Aku sudah bicara dengan banyak orang, dan mereka tentu saja sangat perduli, tapi sebagian besar dari mereka terlalu sibuk bekerja dan berusaha untuk membangun keluarga untuk bisa menerima tantangan ini. Aku memiliki tiga bulan musim panas ini. Dan ya, aku membuat hal ini sebagai perjuangan pribadiku."

"kau punya rencana? Berapa besar uang yang harus aku keluarkan?"

Sungmin untuk sebentar menjadi ragu.

"Aku sudah melakukan banyak penelitian. Kota membutuhkan pekerjaan dalam bentuk lain. Sesuatu yang akan menarik orang untuk bekerja, sehingga ada anak-anak untuk sekolah." Kyuhyun memandang Sungmin saat dia menggigit bibirnya dan menarik nafasnya sebelum melanjutkan.

"Soejong butuh untuk membangun rumah jompo."

Kyuhyun merasa pernyataan itu berakibat seperti pukulan di perutnya. Tanggapan segeranya adalah penolakkan, dan dia mengeluarkannya dengan satu hembusan nafas

"Tidak."

Sungmin meremas-remas tangannya.

"Tolonglah – bisakah kita mendiskusikan ini?"

Kyuhyun memandang tangan putih lembut itu mengepal bersama-sama. Nyaris tidak ada hiasan pada tangannya, selain cincin yang sekarang menghias tangan kirinya. Kapan dia mendapatkan cincin itu? Apakah dia bertemu dengan laki-laki sialan itu?

Kyuhyun fokus pada tangan kirinya. Itu bukan cincin yang mencolok, itu cincin yang kecil dan cantik. Tidak, cincin itu sendiri tidak mencolok; tapi arti dari cincin itu.

Sungmin, milik pria lain.

Kyuhyun melakukan perhitungan cepat dalam kecemburuan halusnya. Apa yang sedang dibicarakan oleh Sungmin berarti jutaan Won, bukan beberapa ribu dollar seperti apa yang dia harapkan akan ia minta. Tapi dalam jarak beberapa detik, dia bisa melihat kebenaran dari apa yang dia sarankan. Sungmin bicara soal rumah jompo, fasilitas pelayanan jangka panjang akan membawa pekerja ke kota. Ini rencana yang baik. Dan rencana yang pernah dicoba dulu tapi tidak ada dana untuk menjalankannya. Tapi kenapa pula dia harus membiayainya.

Sejujurnya, dia tidak tertarik dengan sekolah di Soejong atau sekolah di wilayah lain untuk masalah ini. Pendidikan bukan sesuatu dipikirannya yang menyita banyak waktunya. Dia bukan seorang pahlawan dan permasalahan seperti ini sebaiknya diserahkan kepada mereka yang memiliki ambisi politik. Orang-orang yang memiliki ambisi politik atau do-gooders ( *seseorang yang ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan manusia dan reformasi sosial) yang ingin menyelamatkan dunia.

Dia bukan seseorang yang berambisi pada politik dan dia yakin dia bukan seorang do-gooders. Ini adalah alasan pasti kenapa dia membutuhkan sebuah yayasan. Jutaan uang yang Sungmin bicarakan dipertimbangkan, tapi tidak dipikirkan. Kyuhyun mampu, jika dia mau. Kyuhyun hanya tidak mau. Tapi project besar seperti ini dapat membuat orang lain jauh darinya untuk sementara dan itu bisa menjadi sebuah bonus.

Tapi alasan utama kenapa Kyuhyun menemukan dirinya mempertimbangkan hal ini adalah karena Sungmin. Kyuhyun punya rencana untuk Sungmin. Rencana-rencana yang melibatkan berakhirnya pertunangannya dan kulit telanjang Sungmin untuknya. Dan pada akhirnya, Sungmin di bawah kekuasaannya. Kapan sebenarnya perhatian Kyuhyun pada Sungmin berubah? Setiap kali dia melihat Sungmin, keinginan untuk mendapatkannya semakin besar, semakin kuat. Kyuhyun ragu keinginan itu akan pergi setelah dia menidurinya. Hanya dengan melihatnya saja sekarang menyebabkan obsesi dalam dirinya untuk menyentuh Sungmin, dan tetap membuatnya dekat. Kyuhyun tidak menyukai ini, tapi sial jika dia harus melawan perasaan ini.

Untuk saat ini Kyuhyun butuh waktu untuk memikirkan tindakannya. Maka dia butuh waktu beberapa jam. Tapi jelas sekali dia harus mengikat Sungmin dulu untuk janji pertemuan berikutnya.

"Aku akan menjemputmu malam ini dan kita akan pergi makan malam dan mendiskusikan hal ini."

Sungmin merasa pusing. Kenapa berubah pikiran? Awalnya dia bilang "tidak" dan sekarang dia mau untuk mendiskusikannya? Sungmin tidak benar-benar bodoh. Reaksi awal Kyuhyun merupakan penolakan. Apakah ini jebakan? Ini pasti sebuah bentuk penyiksaan.

"Bisakah kita mendiskusikannya sekarang?"

"Aku tidak punya waktu, aku punya pekerjaan yang harus dilakukan. Malam ini?"

"Tapi _"

"Aku akan menjemput mu jam lima. Pakai pakaian yang nyaman. Kita akan ke kota. Tidak ada tempat yang enak di sekitar sini."

Sungmin tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Ya ampun, Tidak, tidak pantas mengingat dia meminta bantuan uang jutaan Won.

" Aku tidak ingin ada masalah, aku bisa kembali kemari besok, atau saat kau punya waktu."

"Aku punya waktu malam ini."

"Ya, Tapi_"

"Sungmin, Kau mau uang sialan itu atau pun tidak, Aku sungguh tidak perduli. Dalam minggu ini akan ada orang lain yang datang dan menginginkannya untuk hal yang lain. Jadi jika kau ingin aku mendengar soal permainanmu, itu malam ini. Makan malam. "

Sungmin memandang Kyuhyun dengan curiga. Perasaannya tidak enak. Kyuhyun benar-benar sangat menarik. Tapi dia akan mampu untuk tetap menjaga jarak dengan Kyuhyun untuk satu malam. Dia akan punya cukup waktu untuk mengetahui apakah Kyuhyun benar-benar serius soal ini. Apakah Kyuhyun benar-benar akan memberikan uang kepada Soejong? Atau Kyuhyun akan mendapatkan Sungmin di dalam mobilnya yang gelap, bermil-mil dari rumahnya, dan kemudian mengatakan kepadanya bahwa dia kurang beruntung? Kyuhyun akan melakukan itu, iya kan?

Sungmin tidak akan mengatakan sesuatu yang membuatnya marah. Tampaknya Kyuhyun saat ini berada pada sikap terbaiknya, Mematikan rokoknya, mengatakan kepadanya bahwa ia akan mempertimbangkan rencananya, tapi Sungmin akan terus mengamati gerak geriknya. Sungmin menelan ludah saat kenangan tangannya dijepit ke dinding menekan perutnya dan membuat dia merasa ada banyak kupu-kupu di perutnya. 'Kau ingin tidur denganku'. Pria ini sekarang bersandar di meja dan secara nyata mengatakan itu semua kepadanya. Dan ia ingin Sungmin setuju untuk pergi dengan mobilnya, pergi dengan jarak ratusan mil hanya berdua dengannya dan lalu menemaninya untuk beberapa jam ke depan ?

Bagaimana mungkin ini terjadi? Kurang dari satu jam yang lalu, Sungmin pikir dia akan bertemu dengan pria yang lebih tua, pria yang berumur enam puluhan atau tujuh puluhan, seseorang yang lebih dermawan dari pada Sungmin? Kenapa? Kenapa hal ini terjadi padanya?

Sungmin pasti terlalu lama menjawab pertanyaan dari Kyuhyun karena Kyuhyun mulai berjalan menuju pintu sambil bicara. Kenapa setiap gerakannya membuat Sungmin merasa seperti dia sedang diuntit.

"Aku punya pekerjaan yang harus dilakukan. Tinggalkan petunjuk rute rumahmu pada Kim Ahjumma. GPS tidak berfungsi disini."

Saat Kyuhyun melalui Sungmin menuju pintu, Sungmin kaget mendapati tangannya meraih lengan Kyuhyun untuk menahannya. Kulit Kyuhyun seperti baja di bawah jari-jari Sungmin; otot-otot Kyuhyun terjalin bagai tali dan Sungmin merasakan suhu tubuh Kyuhyun yang panas.

Kyuhyun berhenti dan menegang di sebelah Sungmin. Mata Kyuhyun terkunci pada matanya, bertanya-tanya. Sungmin membuka mulutnya dan berkata, walau dengan pelan terdengar di telinganya.

"Kau berjanji?"

"Berjanji apa?" Lubang hidungnya melebar dan pertanyaan itu bergetar jauh di dalam dadanya.

"Apakah kau berjanji akan benar-benar mendengarkan aku? Apakah kau berjanji akan benar-benar mempertimbangkan hal ini?" Sekarang Sungmin mendapatkan perhatian dari Kyuhyun maka dia melepaskan lengan Kyuhyun. Tapi baru saja Sungmin melepaskan lengan pria itu, Kyuhyun telah memegang lengan Sungmin dan Ia berpikir Kyuhyun berusaha untuk memelihara koneksi diantara mereka.

"Apakah aku sudah pernah berbohong padamu?" Kyuhyun berdiri dengan tegang dan jarak diantara mereka seperti tidak ada. Kyuhyun melangkah maju kearah Sungmin dan menjalinkan jemarinya pada jemari Sungmin. Ibu jari Kyuhyun mengusap belakang telapak tangan Sungmin.

Sungmin bertanya-tanya apakah dia bahkan sadar apa yang dilakukan Kyuhyun padanya.

Saat Sungmin memandang bintik-bintik di mata Kyuhyun, Sungmin berpikir dengan tajam, hal-hal yang tidak terucap dari Kyuhyun kepadanya. Tidak ada yang merupakan kebohongan.

"Tidak. Kau belum. Tapi ini tidak bisa menjadi sebuah kencan." Sungmin mengangkat dagunya. Sungmin tegas soal yang satu itu.

" Aku ingin kau tahu itu. Ini soal sekolah. Aku tidak akan pergi dengan mu untuk alasan lain."

"Kau tampak begitu yakin soal itu," Kyuhyun mengatakan hal itu saat dia kembali melangkah beberapa inchi lagi mendekati Sungmin.

Saat Kyuhyun melangkah lebih dekat, Sungmin harus mengangkat dagunya lebih tinggi untuk mempertahankan kontak mata.

"Aku sudah bertunangan."

"Untuk saat ini." Kata-kata Kyuhyun terdengar seperti tantangan bagi Sungmin. Atau ancaman?

Sungmin menarik nafas pada keyakinan Kyuhyun.

"Tidak, Aku bertunangan sampai aku menikah."

Kyuhyun merasa kata-kata itu bagai pukulan untuknya. Reaksi mendadaknya adalah mencium Sungmin, menelanjanginya, dan menidurinya dengan keras dan cepat sehingga Sungmin tidak mampu untuk berpikir. Tapi Kyuhyun ingat bahwa hanya dengan membenamkan mulutnya saja pada Sungmin sebelum dia bisa melakukan hal lainnya, hanya akan membuat Sungmin lari. Kyuhyun tidak bisa mengambil resiko itu. Kyuhyun menginginkan lebih dari hanya pembaringan cepat. Kyuhyun menginginkan Sungmin berada di bawahnya dari waktu ke waktu. Kyuhyun ingin mempunyai hak untuk memanggil Sungmin sebagai miliknya, untuk memiliki tubuhnya dan hanya untuk dirinya seorang.

Ya, Motif nya kini sudah benar-benar berubah. Semakin Sungmin lari, semakin Kyuhyun sulit mengejarnya. Kyuhyun mengetahui satu hal dengan pasti. Saat Sungmin menjadi miliknya, Kyuhyun tidak akan membaginya. Pemikiran bahwa Sungmin tidur dan menjalin hubungan dengan pria lain sungguh tidak bisa diterima.

Pemikiran bahwa Sungmin tidur dengan tunangannya yang tidak diketahuinya itu, membawa guratan kemarahan padanya yang hampir terasa bagai kekerasan. Tentunya, bagus dia tidak mengetahui siapa pria itu atau dimana pastinya dia tinggal. Ini harus tetap seperti itu.

Tapi jelas wanita ini berada dalam masalah. Perasaan posesif mengalir di dalam diri Kyuhyun. Ini hanya masalah waktu.

Kyuhyun ingin menjadi kekasihnya dan Kyuhyun harus tetap mengingat hal itu dan tetap fokus pada tujuannya. Tidak ada keraguan dalam pikirannya bahwa Kyuhyun dapat saja merayu Sungmin untuk melakukan hubungan singkat. Tetapi bukan itu yang Kyuhyun inginkan.

Kyuhyun menginginkan Sungmin secara ekslusif. Kyuhyun ingin memiliki hak untuk mendapatkan Sungmin di atas tempat tidurnya dari satu malam ke malam selanjutnya dan melakukan apapun yang ingin dia lakukan pada tubuhnya. Dan untuk itu, Kyuhyun harus membuat Sungmin melepaskan pria sialan di Daegu itu.

Ya, Itu langkah pertama. Dan Kyuhyun seorang yang pandai dengan rencana, Sesuatu yang tidak layak diperjuangkan tidak layak didapatkan. Jadi Kyuhyun harus berjuang untuk mendapatkan Sungmin, dia bisa melakukan itu. Tapi Kyuhyun tidak bisa berhenti untuk menyentuh Sungmin.

Kyuhyun memastikan agar Sungmin tidak bergerak saat dia meraih dan menyapukan tangannya ke rambut Sungmin yang lembut. Kyuhyun bermaksud untuk melembutkan belaiannya, dan menangkupkan tangannya di pipi Sungmin. Sungmin menarik nafas dengan cepat, dan Kyuhyun sangat ingin untuk membaringkan pantatnya agar nafas Sungmin bisa tenang. Kyuhyun tidak gila untuk tipu muslihat yang akan dia lakukan pada Sungmin, Tapi terkadang kau harus melakukan apa yang harus kau lakukan. Dan dengan Sungmin, Kyuhyun menemukan bahwa dia akan melakukan apapun.

"kau menginginkan uangku, dan aku butuh kepastian lain. Aku ingin itu menjadi sebuah kepastian yang berarti." Kyuhyun memandang pada bibir Sungmin yang gemetar sebelum dia kembali memandang matanya.

"Kita berdua akan memandang malam ini sebagai urusan bisnis. Oke?"

Kyuhyun merasa Sungmin memindahkan berat tubuhnya dari satu kaki ke kaki yang lain, menggambarkan getaran pada tubuhnya. Antisipasi baru saja dilakukan oleh Kyuhyun. Sabar, Kyuhyun dia berkata pada dirinya sendiri.

Kyuhyun melihat kebulatan tekat dalam ayunan dagu Sungmin dan mendengar suara Sungmin sedikit gemetar saat ia menjawab.

"Ini sebuah bisnis."

Sialan tentu saja bukan. Ini bukan sebuah bisnis. Ini tidak ada sedikitpun hubungannya dengan bisnis.

"tentu saja, hanya bisnis, oke?" Kyuhyun berusaha untuk menjaga suaranya tetap datar; Kyuhyun butuh persetujuan Sungmin soal ini. Kyuhyun membutuhkan kesempatan untuk merayunya agar bisa setuju dengan pikirannya. Satu persatu.

"Oke."

Satu kalimat persetujuan yang terucap mengirimkan antisipasi dan kemenangan pada aliran darah Kyuhyun, tetapi pria itu berhati-hati untuk menjaga agar ekspresinya tetap netral.

"Bagus kalau begitu. Aku akan menjemputmu pukul lima."

.

.

.

.

.

Sepuluh menit kemudian, Kyuhyun berlama-lama di halaman dekat gudang gandum. Kyuhyun memandang Sarah yang menjalankan kendaraannya pelan-pelan menuju jalan. Kyuhyun mengeluarkan telephone nya dan menelphone Kim Ahjumma.

"Wanita itu meninggalkan rute menuju rumahnya?"

"Ya."

"Bagus. Aku tidak butuh makan malam hari ini." Kyuhyun mengakhiri telephone dan menyalakan rokoknya. Dia mungkin harus menikmati tembakau selagi dia masih bisa. Kyuhyun mendapat firasat dia tidak akan bisa merasakan kenikmatan merokok lagi untuk beberapa waktu ke depan. Sungmin jelas membenci itu, dan setidaknya Kyuhyun memang sedang berusaha untuk berhenti.

Kyuhyun berdiri di bawah pohon yang rindang dan memandang ke arah lahannya yang terawat sementara dia menghisap rokoknya beberapa kali lagi. Setelah beberapa saat, dia berbalik dan mematikan rokoknya. Dia berjalan kembali ke dalam rumah, berpikir keras.

Dia harus mempersiapkan diri untuk malam ini. Kyuhyun butuh sedikit waktu untuk membuka internet dan mempelajari beberapa hal dasar terkait apa yang Sungmin ajukan dan apa yang sebenarnya dibutuhkan untuk membangun sebuah rumah jompo. Tidak seperti dia akan benar-benar membangunnya, tapi setidaknya Kyuhyun harus bisa untuk meyakinkan Sungmin bahwa Ia tertarik.

.

.

.

.

.

Sungmin duduk di atas ayunan tua di beranda depan rumahnya dan menunggu Kyuhyun datang. Ketegangan yang dia rasakan menggumpal di perutnya. Kenapa dia begitu takut? Dan merasa begitu bersalah? Ketakutan, dia sadari berasal dari rasa bersalahnya. Apakah itu masuk akal? Dia tidak takut pada Kyuhyun—Baiklah, tidak sepenuhnya. Perasaan keragu-raguan yang bersampur dengan rasa takut yang disebabkan oleh Kyuhyun ini merupakan permasalahan lain. Apa yang ditakuti Sungmin saat ini adalah dia akan melakukan sesuatu yang salah secara moral. Sungmin takut dia melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang wanita yang sudah bertunangan dengan pria lain.

Setiap kali dia melihat Cho Kyuhyun, pria ini bertambah sexy, Setiap kali dia mendengar suara Kyuhyun yang dalam itu, aura sensual Kyuhyun membungkusnya, dan menjadi semakin kuat. Dan setiap kali dia berpikir tentang Kyuhyun, godaan untuk menyerah kepada Kyuhyun merayap dengan diam-diam kepada Sungmin.

Sungmin seharusnya tidak merasakan hal seperti ini kepada Kyuhyun sementara dia bertunangan dengan Jungmo. Jika Sungmin benar-benar mencintai Jungmo, Dia tidak akan merasakan hal seperti ini kepada Kyuhyun.

Dan pada saat itulah Sungmin menyadari bahwa pertunangan ini merupakan sebuah kesalahan.

Pertunangan ini terlihat seperti sebuah ide yang bagus saat itu. Jungmo seorang pengacara sukses; Jungmo perduli padanya dan benar-benar santai. Jungmo tidak seperti Siwon, Jungmo tidak egois dan Jungmo tidak berusaha untuk mengontrol Sungmin. Dan Sungmin benar-benar ragu jika Jungmo akan menjadi tukang selingkuh seperti apa yang dilakukan oleh mantan suaminya dulu.

Itu adalah semua hal yang dia pikirkan saat dia menerima lamaran Jungmo kepadanya. Bahwa hati Sungmin akan aman dari patah hati lagi dan Jungmo akan perduli kepadanya dan menjadi orang yang bisa dipercaya. Mereka belum berpacaran lama saat Sungmin pergi untuk liburan musim panas ini, dan Jungmo tampak bertekat untuk mendapatkan persetujuan Sungmin sebelum Sungmin pergi.

Tetapi sekarang ungmin sadar ini sebuah kesalahan, Sungmin memutar-mutar berlian di jarinya dan mengangkatnya untuk menangkap bias matahari sore hari.

Kyuhyun akan menjadi laki-laki yang akan menyakitinya. Kyuhyun adalah laki-laki yang sangat hebat bahkan lebih hebat dari Siwon.

Dan Kyuhyun hanya ingin tidur dengan Sungmin. Kyuhyun akan membuatnya tanpa ikatan. Dan sejak ciuman di dancehall, Sungmin punya sedikit firasat Kyuhyun akan menjadi kekasih seperti apa nantinya.

Fantastis tapi kejam. Kyuhyun akan tidur dengannya sampai bosan, lalu mencari wanita baru. Itu adalah apa yang selalu dilakukan oleh pria seperti Kyuhyun. Mereka terus melanjutkan hidup. Sungmin jelas tidak memiliki hal dalam dirinya yang bisa menahan Kyuhyun, untuk membuat Kyuhyun setia. Kyuhyun lebih menarik secara fisik dari Sungmin. Sungmin tidak bisa bersaing, dan itu menempatkan dirinya pada posisi yang tidak menguntungkan.

Kyuhyun menginginkan hubungan yang cepat dan hubungan percintaan sepintas lalu, dan itu tidak akan menjadi sebuah hubungan percintaan sama sekali buat Sungmin.

Kenapa pria selalu percaya bahwa wanita harus terprogram seperti mereka? Kenapa mereka percaya bahwa kegiatan tidur bersama, hubungan seksual bisa sepintas lalu? Mungkin Sungmin menghakimi bahwa semua pria sama, mengelompokkan mereka sama, tidak memberikan satu pun dari mereka keuntungan dari keraguan. Itu alasan sehingga dia mengatakan Ya kepada Jungmo. Jungmo sepertinya berbeda. Lebih lembut, lebih baik, entah bagaimana, tapi Sungmin tidak mencintainya dan tidak berpikir bahwa dia akan benar-benar akan mencintainya. Sungmin menyukai dan menghargai Jungmo, tentu saja. Pernikahan membutuhkan ketertarikan seksual yang mengakar kuat. Dan Sungmin tidak memiliki itu dengan Jungmo.

Sungmin harus menelphone dan memutuskan pertunangan ini, sebelum ini menjadi terlalu jauh. Sungmin harus berlaku sejujur mungkin kepada Jungmo. Entah apa yang terjadi atau apa yang tidak terjadi dengan Kyuhyun nantinya, Sungmin tidak akan berlaku tidak jujur kepada Jungmo.

Sungmin menarik nafas dalam-dalam dan merasa lebih baik, Setidaknya dia telah membuat keputusan di dalam kepalanya. Itu sebuah awal.

.

.

.

.

.

Kyuhyun membawa Cadillac Escalade SUV-nya ke dalam halaman rumah Sungmin tepat jam lima dan tidak mau sibuk-sibuk mengamati situasi pekarangan rumah Sungmin. Mata Kyuhyun menuju ke arah rumahnya, dan Kyuhyun langsung mendapati Sungmin, duduk di ayunan di serambi. Sungmin sedang berayun-ayun pelan tapi saat Ia melihat mobil Kyuhyun datang, kaki nya langsung mendarat ke atas lantai dan berhenti berayun. Kyuhyun tetap berada di dalam mobilnya dan memandang Sungmin saat wanita itu pelan-pelan berdiri.

Sungmin mengambil tas kecil dari meja rotan di sebelahnya dan menyelempangkan tasnya di bahu melintasi dadanya seperti hal itu akan memberikannya perlindungan, Sungmin mulai berjalan ke arah Kyuhyun, dan Kyuhyun duduk di belakang kemudi, membiarkan mobil tetap menyala saat Sungmin mendekat.

Kyuhyun membuka pintu penumpang dari dalam dan Sungmin menarik pintunya untuk membukanya lebih lebar dan sekarang Sungmin berdiri di depan pintu mobil yang sudah terbuka. Sungmin memainkan tali tasnya, dan cincin berliannya menangkap sinar matahari, berkilau dengan terang.

Kemarahan Kyuhyun berubah menjadi mendidih dan kesabarannya menghilang. Kyuhyun akan melepaskan cincin sialan itu dari jarinya malam ini.

"masuk."

Kyuhyun tahu suaranya kasar, dan keraguan yang dia lihat dari Sungmin makin meyakinkannya. Sungmin berhenti dari sikap hendak naik ke atas mobil. Kakinya siap berlari sejauh yang dia bisa sebelum dia mengangkat matanya untuk memandang Kyuhyun dengan tatapan kehatian-hatian yang ekstrim.

Kyuhyun mencoba untuk mengontrol suaranya, Tapi dia tahu itu usaha yang sia-sia.

"Masuk ke dalam mobil Sungmin."

Kyuhyun mengamati saat Sungmin menjilat bibirnya dan mengambil nafas dalam-dalam. Sungmin mengangkat dirinya untuk naik ke atas jok kulit mewah dan menarik pintu mobil dan menutupnya.

Kyuhyun langsung mengaktifkan kunci pintu.

Pandangan Sungmin melayang kepada Kyuhyun dan Kyuhyun bersandar ke arah Sungmin, menarik sabuk pengaman Sungmin melalui bahunya. Kyuhyun bisa merasakan Sungmin sedikit gemetar dan tahu bahwa Sungmin mungkin merasa takut. Kyuhyun tidak bisa mendapatkan dirinya perduli kepada hal itu; Sungmin sudah membuat Kyuhyun berada di tepian bahaya sejak pertama kali mereka bertemu. Kyuhyun benar-benar marah dengan cincin yang sekarang ada di jarinya dan merasa perlu untuk menghukum Sungmin untuk itu. Kyuhyun memasangkan ujung sabuk pengaman dengan suara click kemudian mengangkat dagu Sungmin dan menjepitnya diantara jarinya.

"Kau tidak berpikir aku berniat untuk melepaskanmu saat ini kan?"

Desisan suara pintu yang mengunci, Klik pada sabuk pengaman dan konotasi dari tindakan Kyuhyun mengirimkan panah peringatan pada Sungmin. Sungmin merasakan panas yang berasal dari tubuh Kyuhyun saat Ia berada disekitarnya. Nafas Sungmin menyentak saat jari-jari kapalan Kyuhyun menjalar di rambutnya dan mata Sungmin tertangkap oleh tatapan Kyuhyun. Kata-kata Kyuhyun merupakan ancaman verbal yang dimaksudkan untuk mengintimidasinya.

Sungmin meluruskan punggungnya. Apa yang Kyuhyun coba mainkan? Sungmin berharap omong kosong ini pergi dari Kyuhyun malam ini, Itu akan menjadi sebuah berkah, Tapi Sungmin tidak mengharapkannya begitu cepat. Mereka bahkan belum meninggalkan rumah Sungmin.

Sungmin menarik nafas dalam-dalam dan berdesis.

" Apa maksud mu dengan perkataan seperti itu?"

Ibu jari Kyuhyun menyentuh bibir bahwa Sungmin dengan kuat dan halilintar menusuk ke dalam diri Sungmin.

" Persis seperti apa yang baru saja aku katakan"

Kata-kata Kyuhyun tidak mengatakan apapun kepada Sungmin. Sungmin tidak memiliki pilihan lain selain membantah.

"Kau sudah berjanji. Kau bilang kita akan bicara soal rencana untuk tetap membuat sekolah berjalan."

"Ya, Kita akan." Suara Kyuhyun menjadi terdengar seperti berbicara masalah bisnis, tapi Kyuhyun meneruskan pukulan pelan ibu jarinya di bibir bawah Sungmin.

" Kau sudah datang dengan rencana yang baik. Apakah kau sendiri berpikir soal itu?"

Pujiannya mengirimkan perasaan bahagia kepada Sungmin, Tapi Sungmin tidak bisa merasa terpuji dengan ide yang dia berikan.

" Tidak sama sekali. Ada beberapa wilayah di Negara ini yang telah melakukan hal yang sama. Dan itu tampaknya berhasil."

"Kita akan membicarakan hal ini saat makan malam." Kata-katanya mengakhiri dan sebelum Sungmin bisa menyetujui, Kyuhyun meluncurkan tangannya ke rambut Sungmin dan merendahkan mulutnya ke arah mulut Sungmin, menciumnya dengan ciuman yang sangat efektif hingga Sungmin hampir saja lupa siapa dia sebenarnya.

Mulut Kyuhyun terbuka di atas Mulut Sungmin sepenuhnya dan memaksa bibir Sungmin untuk memisah. Lidah Kyuhyun menyerang masuk ke dalam mulut Sungmin seperti dia memilikinya dan Sungmin benar-benar tenggelam dalam energi sensual Kyuhyun. Kyuhyun bergerak semakin dekat kepada Sungmin seakan-akan dia tidak bisa merasa cukup; tangannya menyiku di kepala Sungmin sehingga ciuman itu bisa menjadi lebih dalam.

Proses di dalam otak Sungmin benar-benar gagal dan Sungmin tergantung dalam keseimbangan dimana kewaspadaan seksual menyerah kepada kebutuhan seksual yang dalam. Sungmin mencoba untuk membalas ciuman Kyuhyun, tapi apa yang benar-benar bisa dia lakukan adalah duduk di atas jok kulit dan menikmati jenis ciuman seperti ini yang dia ketahui jarang ada. Benar-benar jarang. Detak jantung Sungmin mulai berdetak dengan liar, lututnya mulai gemetar dan saat Ia mulai mengingat realisasi tajam bahwa di masa depan setiap pengalaman ciumannya akan dia bandingan dengan pengalaman ciuman kali ini, Kyuhyun mengangkat kepalanya.

Mata Kyuhyun menyatu dengan mata Sungmin dan Sungmin sadar nafas Kyuhyun sama terengah-engahnya dengan nafasnya. Tangan Kyuhyun masih membuai kepalanya, dan dahinya menempel di dahi Sungmin seperti Kyuhyun sedang mengambil udara dengan begitu banyaknya. Suara Kyuhyun serak saat dia bicara.

"Aku butuh itu." Kata-kata itu terdengar sangat jujur, hampir telanjang dan kata-kata itu mengirimkan proses penghancuran pikiran ke dalam kebingungan kepada Sungmin.

Sebelum Sungmin dapat mencoba untuk memikirkan tindakannya, Kyuhyun mencium dahinya dan kembali bersandar ke kursi kemudinya dan membawa kendaraan ke arah yang berlawanan dengan saat dia datang.

Kyuhyun mengendarai mobilnya ke jalan desa yang tidak beraspal, dan mengendarai dengan pelan sampai dia mencapai jalan raya beraspal, dimana dia kemudian mempercepat laju mobilnya.

Tidak sampai 10 atau 15 menit dari berkendaraan akhirnya otak Sungmin bisa mulai berfungsi lagi.

Dan saat otaknya berfungsi, itu tidak baik.

Sungmin tidak merasakan apapun kecuali kumpulan saraf yang kacau tapi Sungmin tahu satu hal. Dia sekarang berada dalam kekacauan. Pelukan singkat di Dancehall waktu itu tidak membuatnya siap untuk menyadari bahwa ciuman Cho Kyuhyun dapat ditolak saat pria itu menginginkannya.

Sungmin akan kalah dalam pertarungan seksual yang berkecamuk diantara mereka ini. Sungmin tiba-tiba yakin soal itu. Jadi sekarang hanya ada dua pertanyaan yang tertinggal. Apakah Kyuhyun tahu dia akan kalah? Dan berapa lama Sungmin dapat menahannya?

Sungmin hanyut dalam pikirannya sendiri dan saat kesunyian melanda, Sungmin menyadari bahwa dia tersesat di dalam diri Kyuhyun juga. Sungmin mengalihkan pandangannya kepada Kyuhyun sebentar. Mata Kyuhyun memandang jalan dan rahangnya terjepit, wajahnya tajam. Kyuhyun tampak setegang Sungmin. Apa yang Kyuhyun pikirkan?

Saat mereka sekitar 50 mil dari kota, ditengah jalan diantah barantah, Kyuhyun masuk ke dalam area piknik terpencil. Sungmin melihat sekeliling dengan ketakutan. Ini bukan rest area yang biasa dijadikan tempat pelancong berhenti untuk menggunakan fasilitas di dalamnya atau membeli sesuatu dari mesin penjualan makanan atau minuman. Ini hanya sebuah tempat pemberhentian darurat kecil, cukup luas untuk satu atau dua kendaraan saja dan ditempat ini hanya ada meja piknik dan tempat sampah.

Dan tempat ini kosong. Mobil mereka adalah satu-satunya mobil yang ada disekitar sini, dan walau hari belum gelap, matahari mulai terbenam pelan-pelan dan ancaman kegelapan mengelilinginya. Ancaman kepanikan ringan melandanya.

Kyuhyun membawa mobilnya masuk, memarkirnya dan tidak mematikan mesinnya. Meletakkan tangannya di atas kemudi, Kyuhyun memalingkan kepalanya memandang langsung ke arah Sungmin. Sungmin membalikkan badannya dengan hati-hati dan menyandarkan punggungnya di pintu mobil agar bisa berhadapan dengan Kyuhyun. Kulit wajah Kyuhyun mengencang pada tulang pipinya dan lubang hidungnya melebar dalam sikap bertahannya.

Untuk beberapa saat Kyuhyun memandang Sungmin dengan diam lalu dia berkata dengan suara yang dalam.

"Aku tahu kau menyukai ciuman tadi."

Sungmin tidak mencoba untuk mengingkari hal itu, karena itu akan sia-sia.

" Itu tidak bisa terjadi lagi." Walaupun Sungmin berkata seperti itu, dia tahu bahwa itu dia katakan hanya untuk mencoba menunda sesuatu yang tidak bisa terelakan.

Kyuhyun mengabaikan Sungmin seolah-olah Ia tidak berkata apa-apa.

"Kita punya dua masalah. Masalah pribadi, masalah seksual diantara kita dan kita punya bisnis soal rumah jompo yang harus kita pikirkan. Menurutku begini cara untuk menghadapi kedua masalah ini. Kedua masalah ini harus tetap terpisah."

Sungmin menyerang balik.

"Kita tidak punya masalah pribadi, masalah seksual diantara kita, aku sudah bertunangan dengan orang lain."

Kyuhyun memandang Sungmin dengan pandangan yang menghina.

"Jangan mencoba untuk berkata omong kosong seperti itu padaku, Sungmin. Aku bilang kita harus memisahkan kedua masalah ini. Aku pikir aku bisa melakukan hal itu. Aku bertanya padamu apakah kau bisa?"

Sungmin menyilangkan kedua tangannya kedepan dadanya dan menajamkan pandangannya.

"Ya."

"Aku akan memegang perkataanmu itu."

"Baik." Suara Sungmin tetap datar.

Kyuhyun memandang sekilas ke arah tangan kiri Sungmin.

"Apa kau bertemu dengan dia lagi baru-baru ini?"

Sungmin memandang Kyuhyun dengan hati-hati.

"Tidak."

"Bagaimana kau mendapatkan cincin itu?" Kyuhyun bahkan tidak berusaha untuk mengontrol suaranya, Kyuhyun tahu dia terdengar lancang.

"U.P.S"

Dengan jawaban Sungmin, Kyuhyun merasa sedikit lega sebelum dia kembali memandang wanita itu lewat interior mobil yang gelap.

" Kau tahu aku tidak akan pernah secara fisik menyakitimu?"

Detak jantung Sungmin berhenti sebentar sebelum kembali berdetak dengan irama yang terlalu cepat. Apa maksudnya bertanya seperti itu? Jika pertanyaan itu dimaksudkan agar Sungmin tidak khawatir, Kyuhyun sudah benar-benar gagal. Perkataan Kyuhyun memberikan efek yang justru sebaliknya. Wajah Sungmin pucat dan terus memandang Kyuhyun dari sisi dimana Sungmin duduk.

Seperti sambaran halilintar, Kyuhyun meraih pergelangan tangan kiri Sungmin dan menarik menjauhi tubuhnya, mengangkat dan menahannya di udara dengan genggaman yang bermaksud untuk menguasainya.

"lepaskan cincinmu, Sungmin.''

Rasa kaget dan marah mengalir ke tulang punggung Sungmin.

"Tidak". Dia akan memutuskan pertunangannya kapan dan dimana seperti keinginannya. Tidak saat Kyuhyun yang memerintahkannya.

Genggaman Kyuhyun semakin erat, Lengan dan wajah Kyuhyun mendekat kepada Sungmin.

"lepaskan cincin sialan itu Sekarang."

"Tidak."

"Aku merasa terhina dengan cara kau menciumku seperti tadi tapi kau menggunakan cincin dari Pria lain!" Kyuhyun meledakkan kata-kata terakhirnya kepada Sungmin.

"Aku tidak menciummu. Kau yang menciumku!"

"Kau membalas ciumanku."

"Tidak, aku tidak."

Kyuhyun meraih dan menggenggam pergelangan tangan Sungmin yang lain dan mendorong lengannya ke atas menjauhi tubuhnya. Wajah Kyuhyun mendekat hanya beberapa millimeter dari wajah Sungmin.

"Kau pikir begitu? Kau butuh bukti lagi?" Suara Kyuhyun pelan tajam mematikan.

Sungmin mulai terengah-engah. Ya Tuhan, Sungmin tidak bisa menghindar. Dia didominasi secara fisik. Tubuh Kyuhyun mengancam Sungmin secara seksual. Aroma tubuh Kyuhyun mengelilinginya. Meracuni Sungmin untuk melakukan sesuatu yang bodoh. Sungmin tidak pernah bertemu dengan pria seperti ini sebelumnya. Sungmin mengetahui dengan cepat bahwa dia tidak akan pernah bertemu dengan pria seperti Kyuhyun lagi.

Kyuhyun memindahkan kedua pergelangan tangan Sungmin pada satu tangannya yang kuat. Membuka sabuk pengaman Sungmin dan menarik Sungmin sampai dia berada di tengah-tengah mobil. Nafas mereka tidak beraturan saat muka mereka saling bertemu. Pelan-pelan, beraturan, Kyuhyun meraih payudara Sungmin. Kyuhyun meremasnya dengan kuat dan menyapukan ibu jarinya ke puting payudaranya sampai putingnya menonjol melawan kemauan Sungmin, Ia melenguh mencari udara.

Mulut Kyuhyun mendarat di mulut Sungmin dan dia berusaha untuk menangkap nafasnya, lidah Kyuhyun menerobos masuk ke dalam mulut Sungmin dan berduel dengan lidahnya.

Mulut Kyuhyun bergerak ke telinga Sungmin. Tetap menahan tawanannya.

"Pria itu tidak bisa membuat kau merasakan apa yang bisa aku buat padamu. Jika dia bisa, kau akan berada di Daegu Denganya." Kyuhyun merenggut daun telinga Sungmin diantara giginya dan Sungmin merasakan gulungan rasa panas menjalar dari telinganya ke payudaranya dan berakhir di antara pahanya.

Nafas Sungmin bercampur aduk dengan nafas Kyuhyun dan mereka mendesah bersama lalu mulut Kyuhyun kembali ke mulut Sungmin. Sungmin tidak bisa menolak ciuman Kyuhyun lagi dan Sungmin membuka bibirnya saat mereka membagi hubungan yang lebih intim dari hubungan manapun yang Sungmin pernah alami.

Kyuhyun melepaskan tangannya dari payudara Sungmin dan Sungmin merintih karena hilangnya belaian. Kyuhyun menarik tangan kiri Sungmin kearah mereka. Saat Kyuhyun melepaskan mulutnya dari mulut Sungmin, Kyuhyun mulai melepaskan cincin dari jari Sungmin.

Tangan Sungmin gemetar dan Ia mencoba untuk menggenggamkan tangannya agar cincin itu tidak terlepas. Tapi Ia tidak mampu, Energinya hilang, tangannya sangat gemetar dan Ia tidak bisa mengontrolnya.

"Berikan cincin itu kepadaku, Sayang." Kyuhyun membujuknya.

"Kau tidak tercipta untuk Pria itu." Kyuhyun memandang kebawah ke antara mereka, dan membongkar genggaman jari-jari Sungmin. Cincin itu tidak seerat seharusnya, cincin itu meluncur terbuka dari jarinya dengan mudah.

Kyuhyun memegang cincin itu diantara jarinya di depan wajah Sungmin seperti bertanya. Sungmin menjilat bibirnya yang kering dan memandang Kyuhyun dengan hati-hati, tubuhnya gemetar.

"Pertunangan sudah berakhir. Mengerti?" Jawaban yang Kyuhyun inginkan membuat Sungmin merasa dia akan jatuh ke dalam jurang. Sungmin membutuhkan pertunangan itu hanya sebagai penghalang yang berdiri diantara mereka. Tapi Sungmin tahu itu tidak adil bagi Jungmo. Tapi Sungmin membutuhkan sesuatu yang bisa membuat Kyuhyun menjauh sedikit lebih lama lagi. Tapi jelas, Sungmin tidak akan bisa mendapatkan hal itu.

"Aku harus mengatakan kepadanya."

Mendengar kata-kata Sungmin, Kyuhyun merasa beban berat terangkat dari dadanya. Dengan gerakan yang meyakinkan, Kyuhyun membuka kompartemen dan memasukkan cincin itu ke dalamnya. Kyuhyun memastikan ekspresi wajahnya tidak berubah, dan menoleh kearah Sungmin kembali.

"Ya, kau harus memberitahu dia. Kau akan melakukan itu besok, lalu kau tidak akan pernah bicara dengan dia lagi, mengerti ?"

"Kyu, Aku tidak_"

Kyuhyun memegang lengan Sungmin dan mencengkramnya dengan erat.

"Kau tidak akan bicara dengan dia lagi. Tidak juga SMS, tidak apapun. Kau tidak akan mencoba untuk menjadi temannya, kau akan mengakhirinya dengan cara baik-baik. Itu yang akan terjadi. "

"Kau tidak punya hak untuk mengatakan kepadaku bagaimana aku harus menjalankan hidupku dan dengan siapa aku berteman."

"Aku tidak akan membagimu dengan orang lain. Aku sangat yakin aku tidak ingin membagimu dengan mantan tunanganmu"

"Aku bukan milikmu untuk dibagi."

Kyuhyun langsung menyerang balik Sungmin. Kepercayaan diri terselip di suaranya.

"Kau akan menjadi milikku."

Kyuhyun memandangnya saat Sungmin menarik nafas dan mulai menggeliatkan tangannya yang masih dipegang Kyuhyun.

Ini sudah cukup dengan mendapatkan persetujuan dari Sungmin bahwa dia akan mengakhiri pertunangannya. Cukup untuk saat ini. Kyuhyun melepaskan tangan Sungmin dan kembali ke kursi kemudinya. Saat Sungmin kembali ke posisinya, Kyuhyun mulai mengendarai mobilnya siap-siap untuk kembali ke jalan.

Kyuhyun memandang Sungmin untuk terakhir kali, meraih dan mengangkat wajah Sungmin yang lembut ke arahnya. Kyuhyun menempelkan bibirnya ke bibir Sungmin sekali.

"Pasang Sabuk pengamanmu."

.

.

.

.

.

Mereka duduk saling berseberangan di sudut gelap sebuah restoran di jalan tepi sungai perkebunan Suncheon. Sungmin pernah sekali ke tempat wisata ini dulu, beberapa tahun lalu, tapi pada saat itu dia tidak mengunjungi restoran dimana mereka berada sekarang.

Mereka tiba sekitar satu jam yang lalu, dan sejak saat itu Kyuhyun duduk di seberangnya dengan wajah puas. Ada satu botol White wine di atas meja, Tapi mereka hanya meminumnya saat mereka makan, masing-masing dengan alasannya sendiri. Sungmin yang putus asa untuk membuat pikirannya jernih sementara Ia berpikir Kyuhyun tidak mau minum terlalu banyak karena dia akan menyetir saat pulang nanti.

Sejak mereka duduk, mereka tidak melakukan apapun selain mengobrol ringan, hanya obrolan yang tidak berbahaya sejak pelayan menanyakan pesanan mereka sampai mereka menyajikan makanan. Sungmin menggesekkan tangannya, memainkan jari-jarinya di atas gelas wine, dan Ia fokus untuk membawa percakapan ke permasalahan inti sebenarnya yang menjadi sebab kenapa mereka berada di tempat ini sekarang.

"Aku sudah menghitung berapa angkanya."

"Kau sudah?" Suara Kyuhyun terdengar datar.

"Ya."

"Dan?"

Sungmin menarik nafas dan menahannya.

"Akan memakan biaya beberapa juta Won."

"Aku sadar itu, Sayang," Nada suara Kyuhyun ringan, tetapi Sungmin pikir itu tidak merepleksikan apa yang sebenarnya Kyuhyun rasakan dalam dirinya.

"Ini rencana yang bagus, Aku tahu kau tinggal di kota yang lain, Tapi jika kau ingat beberapa tahun lalu ada pemilihan."

"Ya, aku ingat. Tapi tidak menang."

"Tidak. Jelas tidak. Tapi itu ide yang bagus. Soejong adalah kota dengan pendapatan per kapita yang rendah. Itu alasan kenapa tidak menang. Pemilih tidak dapat menanggung kenaikan pajak, idenya sebenarnya dapat berhasil. "

"Mungkin, Tapi ini sesuatu yang besar untuk dilakukan oleh perseorangan. Kau tahu apa yang kau coba untuk lakukan? Komisi regional, izin mendirikan bangunan ? "

"Ya. Harus lebih dari satu orang untuk menanganinya. Dan akan memakan waktu cukup lama yang tidak bisa selesai bahkan saat aku kembali ke Daegu."

Sungmin melihat Kyuhyun menjadi muram. Wajahnya mengkerut, air mukanya menjadi gelap dan menggertak. Apakah itu hanya disebabkan oleh kata-katanya yang menyebutkan Daegu? Pria ini membingungkan, itu sudah pasti.

"Katakan padaku kenapa aku harus mendanai semua itu." Kyuhyun mengatakannya dengan suara kemarahan sambil dia meneguk wine.

"Seperti yang kubilang, ini jaminan yang menguntungkan dan akan berguna bagi kota_"

"Aku tinggal di kota yang berbeda," Kyuhyun membantah.

"Ya, tapi ini akan menjadi hal yang berguna bagi anak-anak_"

Kyuhyun memutus kata-kata Sungmin lagi.

"Faktanya, sebenarnya lebih baik bagi kota tempat tinggalku jika sekolah di Soejong tutup semua sehingga anak-anak bisa naik bis ke Suncheon sehingga kami bisa memperoleh pajak."

"Ya, Tapi_"

"Jadi katakan padaku bagaimana cara mendanai project ini tapi tidak akan menikam dari belakang teman-temanku sendiri dan tetangga-tetanggaku?"

"Menikam mereka dari belakang?"

"Ya. Bagaimana bisa menghabiskan uangku di sekolahmu, kotamu, berguna untukku?"

"Aku belum memikirkan hal itu. Tapi Aku tidak berpikir bahwa membantu Soejong dapat menyakiti Suncheon. Suncheon tidak mempunyai pajak saat ini dan mereka sebenarnya tidak membutuhkannya, "

"Masyarakat Suncheon tidak akan melihat masalah ini dengan cara begitu. Apa yang mereka lihat adalah aku, menghabiskan uangku di tempat lain sementara sebenarnya lebih baik jika uang itu aku habiskan di tempatku sendiri."

Sungmin diam - diam mempelajari Kyuhyun dan mencoba untuk mengatakan sesuatu yang akan paling mengganggunya, ego nya.

"Kau tidak tampak seperti laki-laki yang akan membiarkan orang lain mengajarimu bagaimana caranya untuk menghabiskan uangmu."

"Percobaan yang bagus untuk menyerangku Sayang, tapi bukankah kau sekarang sedang mencoba untuk memberi tahu aku bagaimana cara untuk menghabiskan uangku kan?"

"Apa yang kau inginkan untuk aku katakan?" Sungmin bertanya padanya dengan pelan.

"Aku ingin alasan kenapa menghabiskan uangku untuk keuntungan Soejong." Kyuhyun menyingkirkan gelas wine nya dan mengambil air mineral sembari dia menunggu jawaban dari Sungmin.

Sungmin berdalih dengan singkat.

"karena itu hal yang baik untuk dilakukan."

"Itu tidak menjawab pertanyaan Sungmin."

Dada Sungmin bergejolak.

"kau bilang kau akan mempertimbangkannya!"

"Aku sedang mempertimbangkannya. Tapi kau tidak memberikan aku fakta."

"Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan lagi padamu! Soejong akan mati jika tidak ada yang dilakukan." Sungmin berhenti sejenak dan memandang wajah Kyuhyun.

"Tolong, Aku tidak ingin itu terjadi. Aku tidak ingin Soejong menyusut dan mati. Aku ingin _"

"Bagaimana dengan yang aku mau?" Kyuhyun bertanya pada Sungmin blak-blakan.

Sungmin dan Kyuhyun saling memandang. Mata Kyuhyun meradiasi dengan buas, Aliran Api di dalam matanya menjalar panas menjilat Sungmin. Tatapan Kyuhyun tajam, menilai Sungmin seperti Ia tahu suatu rahasia yang tidak diketahui wanita itu. Rahasia yang tidak akan disukai Sungmin.

Tubuh Sungmin menegang dengan kentara dan dia lebih meluruskan duduknya.

"Apa yang kau mau?"

Sungmin tetap tidak bergerak saat tangan Kyuhyun melintasi meja untuk mengangkat tangan kirinya dan memasukkan jari-jari tangannya di jari-jari tangan Sungmin, telapak tangan mereka bersentuhan. Cengkramannya menjadi erat tapi lalu mengendur, kemudian erat kembali dalam ritme yang mengirimkan radiasi sensual ke dalam diri Sungmin dan mendarat seperti jutaan kupu-kupu di dalam perutnya.

"Yang pertama, aku ingin kau sadar bahwa aku sudah mendonasikan lebih dari sekedar dana yang biasa aku donasikan untuk amal. Cukup untuk menentramkan hati nurani, dan bahkan lebih dari apa yang diharapkan dari ku oleh orang baik dari gereja. Dan Aku ingin kau mengerti bahwa satu-satu nya alasan, satu-satunya alasan sialan kenapa aku mempertimbangkan hal ini adalah karena kau yang memintaku."

"Tapi_aku pikir kita akan tetap menjaga _masalah-masalah_secara terpisah."

"Ya, Kita akan," Kyuhyun menjawab dengan tegas,

"Tapi aku tidak mengerti_"

"Kita akan menjaga agar masalah-masalah itu terpisah sebanyak yang kita mampu." Kyuhyun berhenti sebentar dan menyapukan ibu jarinya ke jari manis Sungmin yang kini sudah tidak mengenakan cincin lagi.

"Tapi tidak bisa dipungkiri faktanya jika kau bukan siapa kau yang kukenal, aku akan menolaknya saat kau berada di kantor ku tadi."

Sungmin menutup matanya.

"Tidak, aku tidak ingin hal ini menjadi seperti ini. Jangan dilanjutkan lagi."

Kyuhyun mengabaikan permintaan Sungmin dan tetap bicara.

"Kita masih harus melanjutkan. Apakah kau sudah melakukan cukup penelitian berapa lama Soejong dapat tetap berfungsi dengan keadaan seperti sekarang?"

Sungmin mencoba untuk fokus pada pertanyaan Kyuhyun dan memikirkannya.

" mungkin Tiga atau empat tahun."

"Oke," Kyuhyun terus menyapukan ibu jarinya di kulit Sungmin dengan pola melingkar.

"Ini apa yang akan kita lakukan. Kita akan menyimpan permasalahan ini dulu untuk sementara. Kita perlu mengenal satu sama lain sedikit lebih banyak _"

"Tidak, tolong _"

"Sungmin." Nada suara Kyuhyun seperti perintah agar Sungmin memperhatikan dan mata Sungmin melayang dari jari-jari tangan Kyuhyun di tangannya lalu kembali ke wajah Kyuhyun.

"Jika aku memberikan uang itu padamu sekarang, kau akan memberikan semua kotoran air seni itu kepadaku dan mulai bertingkah seperti itu adalah bayaran untuk seks dan itu tidak akan terjadi."

kyuhyun memandang wajah Sungmin berubah menjadi pucat pasi dan pada saat yang sama Sungmin mencoba untuk membebaskan tangannya dari tangan Kyuhyun.

Kyuhyun mengepalkan jari-jari tangan Sungmin kepada jari-jarinya dan menahannya.

Mata Sungmin tetap memandang Kyuhyun yang ada diseberang meja.

"Aku tidak sedang berhubungan seks denganmu."

"Oh ya. Akan segera."

"Hanya karena aku melepaskan cincin itu tidak berarti_"

Jari-jari Kyuhyun meremas dengan kasar.

"Ya, itu jelas berarti. Kau harus menegaskan hal itu di kepalamu sekarang. Aku muak dengan mu yang menolak sesuatu yang sebenarnya tidak dapat kau elakan. Aku tidak akan membiarkan kau melakukan permainan omong kosong seperti kau sulit untuk didapatkan. Mungkin jika kau tinggal di sini satu tahun aku akan membiarkan kau melakukannya. Tapi itu tidak akan terjadi sayang. Kau tidak akan berkeliaran disekitar ku untuk enam atau delapan minggu dan kemudian saat akhirnya kau mendapatkanku kecanduan dengan vaginamu yang manis_"

"Oh Tuhanku!"

"_saat akhirnya kau mendapatkanku kecanduan kepadamu, lalu kau berdiri dan pergi? Omong kosong. Itu tidak akan terjadi. Jangan berpikir kau akan bisa mengatur aku, Karena kau tidak akan bia."

"Siapa yang membesarkanmu?" Sungmin mulai menarik tangannya dengan semua kekuatan yang dia bisa tanpa memandang kepada tangannya.

"Siapa yang membuat kau begitu arogan, sombong, kepala batu sehingga kau bisa mengancam wanita dengan cara yang kau lakukan ini?"

Sungmin akhirnya bisa membuat tangannya terlepas. Lalu Kyuhyun menyandarkan tubuhnya ke belakang ke kursinya, menyilangkan tangannya di dadanya dan tetap memandang Sungmin untuk beberapa waktu.

"Aku tidak memperlakukan wanita seperti ini." Mata Kyuhyun menyapu wajah Sungmin lalu jatuh ke dadanya.

"Hanya kau."

"Hanya aku?" Sungmin bernafas dengan kasar.

"Apakah aku harus merasa tersanjung?"

Kyuhyun menarik bahunya.

" Kau tidak harus merasa apapun. Aku hanya mengatakan kepadamu bagaimana ini akan berjalan, Beberapa waktu Sial_ beberapa waktu tidak akan cukup. Kita butuh waktu untuk mengerjakan semua ini bersama."

"Mengerjakan semua ini bersama?" Nada suara Sungmin terdengar meragukan.

"Ya."

Sungmin memalingkan kepalanya dari Kyuhyun dan bergumam pada dirinya sendiri.

"Oh Tuhan, tuhanku, tolong aku." Lalu Sungmin kembali menatap Kyuhyun.

"Kau pikir kau bisa melakukan semua ini karena kau kaya, betul kan? Begitu menjijikkan, kaya dan sedap dipandang mata sehingga kau bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan."

Kyuhyun memandang Sungmin cukup lama, emosi sebentar lalu dia tersenyum.

" Kau pikir aku sedap dipandang mata?"

Sungmin balik memandang Kyuhyun beberapa saat sebelum dia bisa mengucapkan sepatah katapun.

"Hanya itu perkataan yang kau bisa serap dari semua kalimat?"

"Aku pikir kau seseksi semua yang bisa terserap." Kyuhyun balik menyerang.

Mata Sungmin melebar saat dia mendengar perkataan Kyuhyun. Dia tidak tahu apa yang harus dia pikirkan. Dia sama sekali tidak tahu apa yang harus dia pikirkan. Dia tidak dapat berkata apa-apa. Kyuhyun benar-benar lebih dari sekedar arogan; Kyuhyun lebih dari sekedar egois. Kyuhyun Menyebalkan, menjengkelkan dan diluar batas , dan benar-benar sangat seksi melebihi kebaikan dirinya sendiri.

Apa yang sebenarnya Sungmin lihat dari diri Kyuhyum? Kyuhyun sombong, suka mengatur, cabul dan tidak tulus. Dan jelas, Sungmin adalah wanita hidup yang paling bodoh karena sarah berpikir mempertimbangkan secara serius untuk memulai sesuatu dengan Kyuhyun. Sungmin begitu amat ingin tidur dengan Kyuhyun, begitu inginnya sehingga dia tidak bisa berpikir dengan jernih. Kesombongan bawaan lahir itu.

Kyuhyun seorang bad-boy. Dan Sungmin tertarik padanya. Lebih dari hanya sekedar tertarik. Sungmin mulai merasa rindu terhadapnya. Ini pasti karena kesombongannya; caranya berjalan dengan sepatu botnya. Sepatu bot yang lecet dan berdebu itu saat Sungmin tahu bahwa dia bisa mempunyai sepatu bot yang lebih baik.

Pikiran Sungmin terpotong-potong saat dia terus berpikir untuk mencoba mencarikan dirinya alasan.

Kenapa tidak dia tidur dengan Kyuhyun? Itu mungkin sedikit rendahan, Tapi tunggu, kau hanya hidup sekali. Dan hanya sekali, Sungmin menginginkan apa yang dia inginkan. Kyuhyun tampak seperti semua kesombongan yang bisa dibenarkan. Kyuhyun mungkin tahu bagaimana caranya membuat seorang wanita klimaks, dan mungkin lebih dari satu cara.

Benar, Sungmin tidak pernah melakukan hubungan seks dengan seseorang seperti ini. Sungmin selalu menunggu sampai dia berpikir hubungan mereka mengarah kepada satu tujuan. Dan Sungmin tidak mempunyai pasangan yang banyak. Hanya beberapa sebenarnya. Sungmin terlambat dalam memulai hubungan percintaan dan saat dia telah terbakar oleh pernikahannya, dan menderita oleh patah hati kemudian keguguran, Lalu dia menjauhi laki-laki untuk waktu yang lama.

Ya, Hanya sekali, pemikiran itu menghampirinya bahwa dia sepertinya akan kalah dalam pertempuran ini.

Tetapi kenapa membiarkan Kyuhyun mengetahuinya begitu cepat? Kenapa membiarkannya merasa menang? Kekuasaannya sombong dan vulgar dan dia pantas untuk dikecewakan.

Sungmin hendak akan mengatakan sesuatu yang tidak akan disukai oleh Kyuhyun. Sungmin tidak percaya untuk bermain-main dalam sebuah hubungan, tetapi Kyuhyun tidak pernah punya maksud untuk memiliki sebuah hubungan , iya kan? Dan walaupun sekarang Sungmin tahu dia harus menelphone untuk memutuskan pertunangannya, tetapi dia tidak berpikir bahwa Cho Kyuhyun akan membuat sebuah hubungan yang lama.

Sungmin mengambil nafas dan mempersiapkan satu pukulan kata-kata untuk Kyuhyun.

"Kau, sejauh ini, adalah pria yang sikapnya paling sakit dan sombong yang pernah aku temui dalam hidupku. Terima kasih telah mengingatkanku betapa gentlemannya Jungmo. Saat kita kembali ke mobilmu, aku ingin cincinku kembali." Secara tekhnik tidak ada dari kata-kata itu yang merupakan sebuah kebohongan; Jungmo seorang gentleman dan Sungmin bermaksud untuk memastikan bahwa Jungmo mendapatkan cincinnya kembali.

Kyuhyun menajamkan pandangannya kepada Sungmin dari seberang meja. Kyuhyun tidak percaya pada ancaman Sungmin satu detikpun, dan itu membuatnya marah bahwa Sungmin bermaksud untuk memanipulasi dirinya, Kyuhyun berusaha untuk meredakan kemarahan yang mengalir dalam darahnya.

"Kau wanita yang sangat berani, Iya kan, sayang?"

Beberapa emosi yang Kyuhyun tidak dapat kenali memancar secara jelas di mata Sungmin dan Kyuhyun memandang nya dengan seksama sehingga Ia bisa melihat Sungmin menarik nafas dan menahannya. Ketegangan diantara mereka meningkat saat Sungmin tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun secara verbal. Sungmin bernafas dengan dangkal, dan Kyuhyun berpikir Sungmin saat ini hanya berani untuk menahan tatapannya.

Kyuhyun mengurungkan niatnya untuk melanjutkan hal lain yang ingin dikatakannya; Sungmin sudah cukup terlihat gemetar. Tidak ada alasan untuk meneruskan hal ini di restoran, Kyuhyun tidak bisa mengatakan apa yang ingin dia katakan di hadapan begitu banyak orang saat ini. Sungmin membuatnya marah dan Ia akan harus mengetahui hal itu.

Kyuhyun menangkap mata seorang pelayan, memberi kode bahwa dia menginginkan bonnya. Kyuhyun meletakkan jumlah yang cukup besar di atas meja yang akan lebih dari cukup untuk membayar makanannya. Kyuhyun mendorong kursinya ke belakang tubuhnya, berjalan mengelilingi meja dan menempatkan tangannya di belakang leher Sungmin dan meremasnya.

"Ayo pergi." Kyuhyun mencoba untuk mengendalikan nada serak pada suaranya dan tekanan pada leher Sungmin, tapi itu tidak berhasil karena dia lalu mencengkram Sungmin dengan erat.

.

/

.

/ TBC /

.

/

.

Author's note :

Huah~ Dasar mas Kuyu arogan tingkat dewa -_- Kayaknya mereka muter2 doank di masalah yg sama ya kan? Ngeselin banged ~ *ditoyor*
Intinya mereka sama-sama parno, sama-sama ga jujur, dan kurang percaya sama pasangan masing-masing, makanya, terjadilah kesalah pahaman yg berlarut-larut gitu ~_~ *ala sherlock holmes* #hailah

Waduh, saya baru nyelesein ini jam 4.10 pagi +_+ Jadi mianhae belum bisa balas review satu-satu, dan dimaklumi ya kalo ada typo yang nyelip XDv

Kemarin ada yang tanya, Pekerjaan Kyu ama Ming apaan, petani yak?

Saya malah ngakak bacanya, ga kebayang juga liat Kyu nyangkul O.o *ditakol* lol

Jadi Kyu itu punya pertambangan minyak, dia miliarder, tapi usahanya diurus sama orang, dy tinggal terima bersih, dan lebih milih tinggal di Suncheon kota pertanian kecil yang asri dan nyaman, dan kota itu bersebelahan dengan kampung halamannya Ming, Soejong. Ming pekerjaannya guru MTK kelas 10, tapi ngajarnya di Daegu, jadi dia Cuma liburan doank di Soejong O.o

Terus Yang tanya NC, mungkin baru muncul di ch 5 O.O Agak lama sih, tapi setelah chapter itu bakal ada nc terus menerus, tenang aja deh~ XD N*sinyal yadong menyala* lol

Baru sadar ternyata satu babnya ini novel minimal sampe 7000 words ==" ini aja 9000 wprds lebih, Pantes kebelenger ngeditnya *usap peluh* orz

Okelah, saya capek ngebacot, ini akang Buble tersayang udah ngajak bobok *ditampol* XD

Silahkan reviewnya ya readers tersayang :*

Yue bakal update 2 chapter kalo kalian banyak review~ kkkkk XDDDD

Oke deh, See u in next ch (^o^)/~

Sign

Akiyuerahime :**