Judul Chapter: Tell Me
Summary: untuk kedua kalinya, Kyubi berubah profesi kembali menjadi stalker. Tapi kali ini bukan Sasuke dan Naruto korbannya, melainkan Itachi. Lho kok bisa? Mau tahu? Baca aja!
Disclaimer: Naruto dkk bukan punya Mai! Tapi punya Masashi Kishimoto-sensai. Ada yang mau angkat Mai jadi pewarisnya Masashi-sensai?
Pairing: Itakyu, Sasunaru (mungkin)
Genre: kali ini romance yang straight, tapi ada unsure Yaoinya sedikit sih… family juga ada (kayaknya)
Rated: T, kali ini agak berbau M (?)
Warning: Chap kali ini kacau balau! Ceritanya seribu-author atau dalam istilah lainnya PASARAN! Bisa bikin sakit mata. Tapi kalau udah terlanjur baca, wajib REVIEW. Sekali lagi…WAJIB! Kalau nggak Mai bakal ngambek, nangis di pojokan, nggak mau makan dan nggak bakal ngelanjutin FF gaje ini. (Reader: siapa yang peduli!)
Kesimpulannya, baca dengan senang aja deh.
Normal POV
Hari ini adalah hari yang panjang untuk seorang Uzumaki Kyubi, putri pertama dan satu-satunya keluarga Uzumaki yang memiliki paras bak putri-putri di cerita disney. Alasannya? Tak lain dan tak bukan karena sahabatnya dari kecil, Itachi Uchiha.
Kelihatannya sang Gadis belum benar-benar memaafkan pria berambut panjang itu karena tak mau memberitahunya siapa sebenarnya identitas gadis yang telah merebut hati seorang Uchiha sulung yang terkenal sangat JAIM di sentero sekolah.
'Kalau Itachi tak mau memberitahuku, akan kucari tahu sendiri.' Batin gadis berambut merah darah itu sambil mengantongi sebuah note kecil dan sebuah pena ke dalam saku yang ada di rok kotak-kotak seragamnya. 'Pokoknya aku harus tahu!' tekadnya dengan semangat yang luar biasa sampai-sampai menimbulkan latar belakang api yang berkobar-kobal ala komik di belakangnya.
Jangan tanya kenapa gadis ini begitu bernafsu untuk mencari tahu siapa gadis yang entah beruntung atau sial yang disukai Itachi Uchiha.
Tak ada yang tahu pasti alasan sebenarnya, bahkan Author pun tidak. Namun Kyubi selalu meyakinkan dirinya kalau dia mencari gadis itu untuk membantu Itachi mendapatkan kekasih hati. Tapi siapa yang tahu kalau sebenarnya gadis bermata biru cemerlang itu mungkin sebenarnya ingin menyiksa calon kekasih Itachi.
Well, itu mungkin saja sih. Mengingat kalau Uzumaki Kyubi memendam perasaan pada Uchiha Itachi. Walau dia sendiri sama sekali tak mau mengakuinya.
Daripada mendengar Mai ngoceh, mending langsung saja kita lihat apa yang dilakukan gadis berjulukan 'princess' ini.
.
.
.
Kyubi POV
di kelas
Aku memperhatikan Itachi dengan diam-diam tentunya, selama pelajaran Biologi Orochimaru-sensei. Menurut penelitianku, cowok biasanya sering memperhatikan gadis yang disukainya saat bosan menerima pelajaran.
Dan kelas Biologi ini sangat sempurna untuk kualifikasasi itu. Jangan salahkan aku jika aku berkata kalau kelas ini amat sangat membosankan. Apa boleh buat sensei berambut hitam panjang yang dikatakan sering mangkal di pasar kemb*ng jika malam sudah tiba itu hanya mengoceh tidak jelas tentang susunan lambung persis seperti di buku.
Tak heran kalau setengah kelas ini sudah melayang ke alam mimpi sedang setengah lainnya sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Seperti mengecat kuku (seperti yang biasa dilakukan cewek- cewek kecentilan.), baca komik (tentu saja para taku yang melakukannya), atau malah memperhatikan orang lain seperti yang kulakukan dan kuharap dilakukan juga oleh pemuda yang tengah kuamati ini.
Sayang aku harus menelan kecewa. Pemuda itu tengah menatap langit musim panas dengan pandangan terlena. Seolah-olah lupa dengan keberadaan raganya di sana. Mencoba menjelajah angkasa buana dengan pikiran saja.
Itachi menoleh ke arahku. "Jangan menatapku seolah kau ingin menelanjangiku." Bisiknya dengan suara seolah tengah menyanyikan lagu.
"A-apa?!" protesku dengan suara sedikit melengking. Kututup mulutku saat merasakan beberapa pasang mata mengawasiku. "Me-menelanjangimu? Kau pasti sudah kehilangan akal sehatmu." Bantahku dengan wajah yang mulai memunculkan rona merah.
"Lalu kenapa kau memperhatikanku selama dua puluh empat menit enam belas detik terakhir?"
Cih, jadi dia menyadarinya. "Bukan kenapa-kenapa, kok. Hanya saja wajahmu kan 'Good Looking' dan jauh lebih enak dipandang daripada wajah Orochimaru-sensei." Jawabku asal sambil memalingkan wajah, berharap dia tak sempat mengamati kalau wajahku pasti sudah berwarna senada dengan rambutku. Merah.
Dia tertawa kecil mendengarnya. "Aku senang kalau kau menganggapku tampan." Balasnya dengan nada menggoda.
Kembali aku blushing berat. "Terserah." Jawabku sambil berusaha mengalihkan pandanganku ke Orochimaru-sensei yang sedang mengoceh dengan setia mengenai susunan lambung persis seperti buku teks yang sudah kubaca semalam.
Sempat aku mencuri-curi pandang lagi ke arah pemuda itu. Kulihat dia menoleh ke belakang, sebuah senyum tersungging di wajahnya yang –walau tidak rela, kuakui- tampan. Dan matanya tertuju ke… arahku?
Aku mengerucutkan bibir, kesal karena dia sukses membuat wajahku memerah lagi.
Kalau begini terus… aku bisa jatuh ke dalam kekuasaannya lagi deh…
Kutulis catatan kecil di bukuku.
Gadis yang disukai Itachi tidak satu kelas dengan kami. Sepertinya.
Setidaknya aku bisa mengambil satu kesimpulan.
.
.
.
Penelitian di kantin
Aku duduk di kantin masih sambil mengawasi sosok Uchiha Itachi dari jarak yang cukup jauh. Tepatnya empat meja di belakang meja yang dipakai Itachi untuk makan. Bukan jarak yang cukup jauh sebenarnya. Agar aku tak ketahuan lagi, aku memutuskan memesan semangkuk besar ramen yang kugunakan sebagai kedok utuk berada di sini.
Namun aku sama sekali tak berminat untuk memakannya, aku hanya mengaduk-aduk dan menambahkan ini-itu ke dalamnya sementara mataku masih lekat menatap punggung pria yang duduk membelakangiku itu.
"Kyunee-chan! Kok ramennya nggak dimakan sih?" sapa Naruto, adikku yang entah sudah sejak kapan berdiri di belakangku(Aku sama sekali tak menyadari kehadirannya) sambil mengambil posisi duduk di samping kananku. Matanya menatap tergoda pada ramen ukuran jumbo yang tersaji di meja tanpa kumakan. "Kalau tak dimakan, mending untukku saja!" katanya sambil mengambil alih ramen dihadapanku.
"Tu…Tunggu dulu Naruto!" aku berteriak berusaha mencegah adikku yang berambut pirang itu. "Aku sudah menambahkan shoya, saus, sambal, mayones, kecap, garam, kacang, kerupuk dan yang terakhir…"
HUEK!
Naruto memuntahkan ramen itu.
"…sebotol cuka."
"Kytunee-chan! Kamu sudah gila ya?!" teriaknya sambil mengusap-usap lidahnya berusaha menghilangkan rasa ramen yang tadi dimakannya. Walau menurutku itu mustahil, "Pantas saja rasanya aneh!"
Aku hanya mengangkat bahu dan memutar mata malas. Lalu kualihkan lagi mataku pada pemuda bersurai hitam yang tadi sempat kuabaikan barang sesaat. Dan saat itu, kulihat beberapa gadis kecentilan tengah mengerubungi pemuda itu dengan genitnya berusaha mengajak Itachi mengobrol atau makan siang bersama.
'SIAL!' innerku sambi mencengkram erat-erat sumpit tak berdosa yan tadinya hendak kugunakan untuk makan.
CTAK!
"Kyunee-chan!" teriak Naruto kaget. "Kau kenapa?!"
Aku menatap telapak tanganku yang mengeluarkan cairan berwarna merah sepekat warna rambutku, darah. Ternyata aku terlalu kuat mencengkram sumpit itu hinga membuatnya patah menjadi dua. Patahannya yang tajam tak sengaja membuat telapak tanganku tergores hingga mengeluarkan cairan berwarna pekat itu.
Kurasakan rasa perih itu di tanganku bersamaan dengan terciumnya bau anyir yang menyelubungi indra penciumanku.
Kutatap lagi darah yang mulai menetes ke atas meja.
"Aku akan pergi ke UKS saja." Kataku sambil beranjak pergi tanpa menoleh ke belakang lagi. Tak ingin merasa tersakiti, saat melihat gadis-gadis itu bersama Itachi.
Kurasakan tatapan bingung Naruto mengiringi kepergianku, aku mendengar dia berkata pada dirinya sendiri. "Kalau Kyunee-chan pergi di saat seperti ini berarti…" katanya dengan wajah horor. "Aku harus membayar ramen bagiannya, dong! TIDAAAAAAKK!"
Aku melengos mendengarnya. Memang sih, aku belum membayar ramen itu.
Kugelengkan kepalaku sebentar, lalu dengan tangan kiriku yang sudah kulatih untuk menulis sejak kecil, (dengan alasan untuk menyeimbangkan otak tentunya) aku mencatatkan sesuatu di notebook milikku.
Mungkin gadis yang disukai Itachi salah satu daei fansnya. Entahlah.
.
.
.
Penelitian di perpustakaan.
Aku duduk diam di bangku perpustakaan sambil meletakkan buku di hadapanku seolah tengah membaca. Hanya saja, jika kau perhatikan kau akan menyadari kalau perhatianku 100% tidak pada buku itu. Melainkan pada pria bermata hitam yang tengah bejalan di antara rak-rak buku sambil sesekali menarik sebuah buku dari dalamnya dan membaca sepintas yang kulihat dengan menggunakan sudut mataku.
Kulihat seorang gadis anak kelas tiga yang hari ini bertugas sebagai pengurus perpustakaan, datang sambil membawa setumpuk buku ke arah Itachi dengan wajah merona dan sikap tubuh yang malu-malu.
Kulihat ia berbicara dengan Itachi sejenak sambil menunjukkan beberapa buku yang dibawanya. Dan sialnya, Itachi malah tersenyum pada gadis itu.
Aku mengerucutkan bibirku kesal sambil mencengkram buku yang kubawa dengan keras. Namun tiba-tiba kurasakan rasa perih menghampiri tangan kananku yang dibebat perban.
'Kau kenapa, Kyubi? Cemburu?' kudengar suara hatiku mengejek. 'Bukankah kau berniat membantunya. Kenapa sekarang kau malah berniat menyingkirkan semua gadis yang mendekati Itachi Uchiha?' tambahnya dengan nada sinis.
Aku tersadar. Kutarik nafas panjang beberapa kali mencoba menenangkan syaraf-syarafku yang sempat menegang. Lalu aku melirik lagi ke arah pemuda itu.
Dia sudah sendirian saat ini, berdiri bersandar pada rak sambil membaca sebuah buku di tangannya.
"Kyubi-senpai, selamat siang." Kudengar suara bariton datar menyapaku dari arah belakang. Kukenali suara itu milik Uchiha Sasuke, adik laki-laki Itachi sekaligus kekasih adik laki-lakiku, Naruto. Jangan kaget ya, mereka berdua memang sama-sama lelaki. Tapi… kalau sudah cinta, apa boleh buat, kan?
"Se…selamat siang juga, Sasuke-kun." Jawabku dengan sedikit terbata akibat kaget dengan kehadirannya.
Dia menatapku sebentar dengan pandangan bertanya-tanya. Duh, mata onyxnya itu lho… cantik sekali, sama seperti mata Itachi. Hanya saja bulu mata Itachi lebih banyak dan lentik. Namun itu bukan masalahnya. Aku menelan ludah dengan paksa. Jangan-jangan dia tahu kalau sebenarnya aku sedang mengawasi kakaknya.
"Kyubi-senpai… aku tak tahu kalau anda…"
Dia tahu! Dia tahu kalau aku menguntit Itachi!
'Ah! Mau ditaruh di mana harga diriku sebagai seorang Uzumaki Kyubi!' aku berteriak tanpa suara di dalam hati.
"… bisa bahasa Latin."
"Hah?"
Aku membalik buku yang sedang kupegang. Kubaca judul yang ditulis dalam aksara latin itu. 'Malleus Maleficarum'* aku mengernyit sedikit lalu tertawa ragu. "Hahaha…ha?" 'Dasar bodoh, harusnya aku jangan asal ambil buku!' rutukku dalam hati mengamati buku yang bahkan arti judulnya saja tak tahu.
Dia mengangguk pelan seakan mengerti lalu meninggalkanku begitu saja. Kulihat dia menghampiri kakaknya yang saat ini sudah sendirian. Lalu dia mengatakan sesuatu yang membuat Itachi menoleh padaku.
Tak ingin memancing kecurigaan. Kututup bukuku dan beranjak dari tempatku duduk tanpa menleh ke arah duo Uchiha itu.
Sekali lagi kutambahkan catatan kecil di dalam notebook ku.
Mungkin gadis yang beruntung itu adalah penjaga perpustakaan.
Lalu kutatap sebentar tulisan itu. Kuhela nafasku sambil menambahkan sebuah catatan lagi di bawahnya.
Aku cemburu.
.
.
.
Normal POV
Uzumaki Kyubi, gadis berambut merah dan bermata biru yang dijuluki 'princess' oleh murid-murid sekolahnya itu, saat ini sedang mempermalukan dirinya sendiri dengan cara menguntit sahabat sejak kecilnya, Itachi Uchiha, yang saat ini sedang berjalan di lorong-lorong sekolah dengan gaya cool seorang pewaris Uchiha.
Dia mengintip sedikit dari persimpangan lorong sekolah. "Eh, bukankah tadi dia lewat sini." Gumamnya saat tak menangkap lagi sosok pemuda yang tengah diikutinya itu.
Tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan kekar memeluk pinggangnya dan memaksanya merapat ke dada bidang orang itu.
Kyubi sudah hendak memberi pelaku pemelukannya sebuah bogem mentah miliknya yang sudah dilatih sejak kecil di Dojo milik keluarganya andai saja dia tak mendengar suara baritone yang bergema di telinganya.
"Kau tidak berbakat jadi stalker, Kyu." Bisik pemuda itu di telinganya, setiap orang itu membuka mulutnya, Kyubi merasakan bibir dan lidah sang pemuda menyentuh daun telinganya pelan.
"I…Itachi? Kau sadar, ya?" tanya Kyubi sambil menggeliat berusaha menjauhkan telinganya dari jangkauan bibir nakal Itachi.
Namun bukannya menjawab, pemuda itu malah memeluk Kyubi lebih erat dan mulai menggerakkan jari-jarinya meraba tubuh Kyubi yang masih terselubung seragam sekolahnya. Tentu saja Kyubi mulai mendesah pendek dan menggeliatkan tubuhnya tak nyaman dengan sensasi 'menggelikan' yang dirasakan tubuhnya.
Tangan itu berhenti meraba saat merasakan sesuatu menonjol di balik saku rok seragam Kyubi. Dia merogohnya dan mengambil benda itu. "Kutemukan." Katanya sambil tersenyum lembut namun syarat enigma. "Jadi, apa ini?"
Sementara itu Kyubi masih mencoba menetralkan nafasnya yang memburu dan wajahnya yang merona sebagai efek tindakan Itachi tadi. "Aku…" dia ragu mau berbohong atau jujur. "Aku mencoba mencari tahu siapa gadis yang kau sukai." Akhirnya dia memutuskan berkata jujur. Toh, mau bohong atau jujur, Itachi pasti tetap akan membuka notebook itu dan membaca isinya.
"Kenapa?" tanyanya sambil membaca buku itu.
Kyubi mengerucutkan bibirnya gemas. "Aku penasaran, habis kau tak mau bilang, sih." Lalu dia tersenyum manis dengan wajah memohonnya yang sudah diakui oleh PBB sebagai senjata paling berbahaya yang levelnya sama dengan ledakan C4 bom buatan Deidara (?) yang bis sangat jitu jika digunakan untuk memaksa orang bicara. "Jadi beritahu aku, ya…"
Sayang Itachi sudah kebal.
"Tidak." Jawabnya pendek.
"Ukh."
Lalu diambilnya pena dari dalam sakunya dan dia tampak menambahkan sesuatu di notebook milik Kyubi. "Aku tak mau membuatmu terluka, seperti hari ini." Katanya sambil menarik telapak tangan kanan Kyubi yang terluka dan menciumnya lembut. Tentu ini membuat sang gadis dengan tidak senang hati ber-blushing ria. Lalu dia meletakkan notebook itu di tangan Kyubi dan pergi sambil melambaikan sebelah tangannya tanpa berkata apapun lagi.
Di sana tertulis.
Rencana Pencaritahuan siapa Gadis yang disukai Itachi
Gadis yang disukai Itachi tidak satu kelas dengan kami.
Mungkin gadis yang disukai Itachi salah satu daei fansnya. Entahlah.
Mungkin gadis yang beruntung itu adalah penjaga perpustakaan.
Aku cemburu.
Tiga hepotesa pertama telah dicoret dengan tinta berwarna merah, sebagai gantinya dia menulis.
Kau salah, Kyu.
Di sampinng kata 'Aku cemburu.' Kulihat sebuah tulisan ditambahkan.
Thank you.
Aku tersenyum puas.
.
.
.
Kalian penasaran apa yang dikatakan Sasuke pada Itachi saat di perpustakaan? Baiklah, Mai akan ceritakan.
"Itachi."
"Panggil aku 'kakak', Sasuke…"
"Ternyata pilihanmu bagus juga, dia gadis terpelajar."
"Hah?"
Itachi menoleh ke arah Kyubi yang diketahuinya tengah mengawasinya dari bangku perpustakaan. Namun saat itu sang gadis tengah berjalan pergi.
"Kurasa aku tak mungkin meminta Naruto belajar bahasa Latin juga."
"Hah?"
Saat itu Itachi tak tahu apa yang terjadi. Dan tak akan pernah tahu.
… Tell Me End…
Mai come back setelah hiatus seminggu penuh karena baru oprasi. Dan Mai benar-benar bersyukur bisa selamat walau harus koma tiga hari. Anehnya waktu bangun, bukannya bilang 'Aku di mana? Apa yang terjadi?' kalimat klise yang biasa diucapkan tokoh yang baru bangun dari pingsan atau koma layaknya sinetron-sinetron gaje di R*TI, Mai malah bilang, 'Kayaknya aku mimpi aneh…'. Tapi Mai sendiri nggak ingat. Dokternya yang cerita.
Hahaha.
Naruto: Mai minta maap sana, kemarin lupa bales review kan?
Mai: Eh iya, maaf minna-san, kemarin itu 1000% kesalahan Mai yang lupa nyimpen naskahnya setelah menjawab balasan review semua. GOMEN!
Sasuke: BakAuthor.
Mai: (pasang death glare) Aku tak mau dikontari seperti itu olehmu,Solanum lycopersicum lovers.
Sasuke: (pasang Sharingan)
Naruto: daripada ndengerin Teme sama Mai ber-psico war ria. Mending kita bales reviewnya dulu, silahkan Itakyu, yang kali ini akan menjawabnya…
* .devil
Kyubi : terima kasih atas dukungannya…(sambil membungkuk 90 derajat)
Itachi: Maaf jika chapter ini mengecewakan, Author memang sedang agak eror habis oprasi sih. Maklumi saja ya.
*Mrs Kim siFujoshi
Kyubi: Itachi mau berjuang untukku kan? (Pasang puppy eyes)
Itachi: Tentu, tapi di chap depan ya… aku senang bisa akrab lagi dengan Sasuke lho. (sambil nangis-nangis gaje)
Kyubi: dasar Brother Compleks! Sasunaru nggak mbantuin kami kok, mereka sibuk pacaran sendiri. Dasar adik-adik nyebelin! (ikut-ikutan Itachi nangis gaje.)
Mai: (nimbrung, masih sambil psico war dengan Sasuke) um…saya galau memanggil nama pada seorang senior hebat seperti aya-san. Tapi jika itu permintaan Aya-san, saya akan panggil Aya-san saja ya, atau Aya-sama?
*azusa thebadgirl ga bisa login
Kyubi: Tuh kan! Itachi gengsinya tinggi sih! Harusnya aku diterima aja kan?!
Itachi: tapi kalau kuterima… FF ini nggak bakal ada dong?
Kyubi: Ya biar nggak ada. FF gaje ini Cuma memperburuk citraku saja, sih. (Kyubi dilempar panci sama Mai)
*azusa thebadgirl
Itachi : iya kan? Kyu emang dasarnya lemot sih…
Kyubi: (mukul Itachi pake panci yang tadi) jangan salahkan aku. Itu warisan keluarga tahu!
Naruto: (nimbrung) eh? Aku lemot?
Semua: IYA!
*phiare
Kyubi: tentu Mai bakal lanjut kok.
Itachi: tenang dia banyak nganggur kok, selama masih di rumah sakit… kalau udah keluar, baru dia sok sibuk sampai sakit lagi. (Dilempar Mai pake wajan)
Ya, Mai sudahi saja sesi review ya, biar nggak sakit hati lagi mendengar komennya Itakyu.
Ada tiga kata buat minna-san.
Arigato!
Gomen!
Dan Review!
Yang ketiga yang paling penting! Harus REVIEW!
