-Broken-

(Naruto's POV)

'Kiba hari ini benar-benar aneh...' begitulah pikirku. Aku memperhatikan white board, di situ tertulis,

'Oda Nobunaga adalah seorang daimyo yang hidup dari zaman Sengoku hingga zaman Azuchi-Momoyama. Lahir sebagai pewaris Oda Nobuhide---' Ya—sekarang jam sejarah, pelajaran yang --paling-- membosankan. Iruka-sensei terus mencatat hal-hal yang penting di white board.

Sebelum mataku sakit melihat tulisan cakar ayamnya, aku mencoba mengalihkan pandanganku keluar jendela. Mata biru langitku bertemu dengan mata lavender-nya Hinata secara tak sengaja. Hinata dengan segera memalingkan mukanya ke arah white board, sedangkan aku mengalihkan pengelihatanku ke buku sejarah yang sedari tadi kupegang.

DEG- DEG—DEG----

Aku bisa merasakan jantungku berdetak lebih cepat. Tidak berirama. Wajahku terasa panas. Aku mencoba fokus pada buku sejarah yang kupegang, tapi kejadian tadi menang terhadap pikiranku. Aku tak bisa fokus.

--Pulang sekolah--

Aku mencari Kiba. Dia sudah menghilang duluan. 'Mungkin Kiba sudah menunggu di atap,' pikiriku. Aku segera melangkahkan kakiku menuju atap. Menaiki tangga satu demi satu. Aku sudah sampai lantai empat, rasanya kaki ini tak sanggup lagi menaiki tangga terakhir. Tapi—

'Kiba pasti sudah lama menunggu,' pikirku lagi.

Setelah melangkah kesekian kalinya, aku bisa melihat pintu. Pintu yang menghubungkan atap dengan tangga terakhir ini. Aku mulai memegang ganggang pintu dan memutarnya. Pintu terbuka, tapi— 'Tak ada siapa-siapa... Jadi Kiba belum datang,' batinku. Aku mulai melangkah mendekati pagar besi. Melihat kerumunan murid lain yang berhamburan keluar sekolah, mungkin saja Kiba ada di antara mereka... Tapi sayangnya Kiba tidak ada.

Sudah 16 menit aku menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda Kiba akan datang. Akupun melangkah menuju pintu, 'Apa Kiba ada urusan mendadak sehingga dia tidak bisa datang ke sini?'

* * *

TAP TAP TAP!!

Hinata berlari menaiki tangga, menuju ke atap, 'Pasti dia sudah menunggu lama-'

Hinata memegang ganggang pintu dan membukanya. Sesaat dia menahan nafas. Matanya terbelalak tak percaya dengan pemandangan yang ada di depannya, 'Ternyata Naruto-kun!' Ada rasa bahagia yang menyerang dirinya. Harapannya sedari tadi tersampaikan.

"Hi—Hinata!" seru Naruto tak percaya. Langkahnya terhenti. Jaraknya dari Hinata ada sekitar satu setengah meter lebih.

"Ma- maaf, Naruto-kun, aku telat. Aku baru selesai dari club shodo[1]." Hinata membungkuk sebagai tanda minta maaf.

"Hah-- telat? Apa maksudmu?" Naruto bingung dengan perkataan Hinata tadi, 'Kenapa harus minta maaf? Aku 'kan menunggu Kiba... Ah, jangan-jangan---'

---

'Mungkin aku bisa membantumu-- Aku akan menunggumu di atas pulang sekolah nanti.'

'Aku ingin mencari suasana yang berbeda saja. Nanti- semua kuserahkan padamu.'

---

Naruto teringat dengan kata-kata yang diucapkan Kiba terakhir kali mereka bicara, 'Jadi—ini maksudnya—! Terima kasih, Kiba! Aku tidak akan menyianyiakan usahamu ini, aku akan menyatakannya sekarang!'

Hinata merogoh saku roknya, dia mengeluarkansebuah surat warna merah jambu. Niat Naruto mencari kata-kata yang indah lenyap begitu saja melihat surat yang dipegang oleh Hinata. Naruto mencoba untuk mengartikan apa maksud dari surat merah jambu itu, 'Apa Hinata akan memberiku surat itu. Sepertinya itu surat cinta, terlihat dari warnanya.'

"Bukannya Naruto-kun yang mengirim ini?" tanya Hinata dengan muka memerah. Ternyata pemikirannya tadi salah total. Naruto yang sama sekali tidak pernah merasa mengirim surat kepada siapapun kaget, "Aku--? Sejak kapan?"

"Tadi pagi aku menemukannya di getabako-ku."

'Getabako? Tadi pagi?' Naruto mencoba untuk meraih surat yang disodorkan Hinata, melihat secara seksama, 'Bukannya ini tulisan Kiba?'

"Naruto-kun?" gumam Hinata. Karena tidak ada jawaban Hinata mencoba untuk mengulangnya lagi dengan agak keras, "Naruto-kun?!"

Lamunan Naruto buyar, "Ah—iya! Aku tidak pernah mengirim surat ini."

"Bukan Naruto-kun? Jadi siapa?" tanya Hinata penasaran. Ternyata prasangkanya salah, bukan Naruto yang mengirimnya. Padahal baru tadi dia merasa bahagia.

"Aku juga tidak tahu," jawab Naruto bohong.

Naruto pergi meninggalkan Hinata sendiri dan membawa surat Hinata tanpa minta izin dulu. Ada perasaan sedih yang menjalar di hati Hinata, 'Jadi Naruto-kun tidak suka padaku?' Air mata Hinata menetes, 'Apa ini yang namanya kecewa?'

* * *

(Kiba's POV)

Pagi ini Naruto tidak banyak bicara, apa karena cintanya ditolak Hinata? Naruto hanya mengatakan ingin bertemu denganku sepulang sekolah nanti di atas. Bagiku tidak masalah, jika dia ingin menunggu agak lama karena pulang nanti aku harus latihan.

--Pulang sekolah, selesai latihan--

Aku berjalan menuju atas dengan masih mengenakan dogi[2]. Membuka ganggang pintu. Naruto memandangku, "Sudah selesai?" tanyanya.

"Ya, maaf lama. Tadi Neji terlalu bersemangat. Bagaimana dengan Hinata? Apa sudah kau nyatakan?" tanyaku. Sebenarnya aku tidak ingin bertanya hal yang menyangkut Hinata lagi, tapi—

"Surat ini kau yang mengirimnya 'kan?" tanya Naruto tanpa menjawab pertanyaanku. Naruto mulai mendekat ke arahku.

"Iya, itu aku."

"Apa maksudmu?!" bentaknya. Naruto mulai menarik kerah dogi-ku.

"Bukannya kau bilang suka pada Hinata? Karena itu aku mengirimkan surat itu dan meletakkannya di getabako Hinata, supaya kalian bisa berbicara berdua!"

"Dia menemukan surat ini kemarin pagi. Aku mengatakan suka Hinata padamu setelah Hinata menemukan surat ini! Seharusnya yang menemui Hinata kemarin bukan aku, tapi—kau!!"

'Ternyata dia tahu!!' batinku kaget. "Tapi a----'

BUUGH—

Naruto meninjuku hingga aku terkapar, darah segar mengalir dari mulutku. Naruto menarik kerah dogi-ku lagi, memaksaku untuk berdiri.

"Kenapa kau melakukannya, Kiba?! Kenapa kau tak pernah bilang kalau kau sebenarnya juga suka pada Hinata, HAH?!" tanyanya dengan nada marah.

"Bokura wa nakama no tame ni[3]"

"Teman? Kau merelakan perasaanmu hanya karena aku temanmu?!"

"..."

"Kenapa diam? Kalau kau kesal pukul saja aku, aku tidak keberatan! Bagimu yang sudah chaobi[5] mudah saja mematahkan tulangku!!"

'Ya memang mudah. Sangat mudah, tapi-- Kekuatan dipergunakan sebagai pilihan terakhir, di mana kemanusiaan dan keadilan tidak dapat mengatasi. Tetapi apabila kepalan dipergunakan dengan bebas tanpa pertimbangan, maka yang melakukan akan kehilangan harga diri dihadapan orang lain[4].' Aku teringat dengan motto yang digunakan oleh karateka. Lagipula aku memang tidak akan memukulnya, apalagi mematahkan tulangnya.

"Cih! Aku tahu kau tak akan melakukannya!" gumamnya. Naruto melepaskan genggamannya dari kerah dogi-ku. Dia beranjak menuju pintu, mungkin dia mau pulang.

Aku hanya diam, melihat punggungnya yang mulai menjauh dan menghilang.

* * *

Sejak kejadian itu, aku keluar dari club karate-ku. Memang sangat di sayangkan karena sebentar lagi aku akan naik ke tingkat Shodan[6]. Aku dan Naruto juga tak pernah saling menyapa. Jangankan menyapa berbicarapun kami tidak pernah. Naruto juga mulai menjauhi Hinata dengan berpindah tempat duduk. Dia tidak menganggapku sebagai temannya lagi. Tapi bagaimanapun juga kau pernah menjadi temanku. Aku tidak akan pernah melupakan pertemanan yang kita jalin selama ini. Tidak akan pernah---

--------------------------------------------------Shimau-------------------------------------------------

Ket:

[1] shodo: kaligrafi/menulis indah. Biasanya menulis huruf-huruf Kanji dan/atau Kana dengan menggunakan kuas dan tinta.

[2] dogi: pakaian karate

[3] bokura wa nakama no tame ni: karena kita teman

[4] salah satu motto karate dari Gichin Funakoshi

[5] chaobi: sabuk cokelat

[6] Shodan: Dan pertama/satu. Jika sudah masuk tingkat Dan, akan menggunakan sabuk hitam

Shimau=owaru: selesai, tamat

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

A/N:

1. Entah kenapa saya menyukai hubungan KibaHinaNaru. Ini sudah yang kedua kalinya saya meminjam karakter mereka bertiga. Di antara mereka bertiga tidak ada karakter yang saya sukai secara khusus, karena dari itu saya mencoba untuk adil.

2. Sebenarnya fic terakhir ini sudah selesai saat saya meng-update fic kedua -saya tidak berbohong-. Tujuan saya tidak meng-update-nya secara bersamaan hanya untuk mengetahui tanggapan pembaca. Ternyata banyak yang beranggapan Naruto akan bersama Hinata T_T

3. Maaf saya tidak bisa membalas review-an minna-san. Komputer saya tidak bisa di gunakan untuk browsing -sudah di putus karena terlalu lama proses loadingnya-. Saya harus ke warnet depan rumah untuk meng-upload/update fic, setiap minggu kerjaan saya ke warnet terus -_-". Hontou ni arigatou, minna-san!

4. Jika kurang puas dengan fic frienship dari saya baca saja kelanjutannya (ONESHOT) yang berjudul 'Instinct!'. Mungkin sudah cukup author note dari saya, ini untuk pertama kalinya saya berbicara banyak. Jaa~ ne ^_^