Devil's Love Triangle

Disclaimer: Riichiro Inagaki-Yusuke Murata

By: LalaNur Aprilia, Luchia Hiruma, Mayou Fietry.

Pair: HiruMamoAgon

*jantunganbertiga*

Genre: Humor/Romence yang gagal…

Chapter 3

Summary: Agon dan Hiruma sama-sama menyimpan 'rasa' ke Mamori. Tapi siapa yang bakal Mamori pilih? Se-ekstrem apa pertarungan AgonHiru?

Cekidot.


Greek.

Mamori membuka pintu ruang klub perlahan. Pagi ini ia agak terlambat dari biasanya. Mamori sendiri bingung, bagaimana bisa ia hampir tidak bisa tidur semalaman karena pembicaraannya dengan Hiruma di telepon, ditambah lagi pria itu sangat baik padanya kemarin. Semalam, jantung Mamori bahkan tidak bisa berdegup dengan normal, rasanya ingin sekali pagi datang lebih cepat, agar bisa cepat bertemu dengan Hiruma. Dan akhirnya Mamori malah terlambat bangun setelah hanya empat jam terpejam. Konyol? Mungkin. Gadis itu bahkan sekarang tersenyum kecil mengingat kelakuannya sendiri.

"Mamori-chan,"

Mamori tersentak dan kembali ke alam nyata saat mendengar suara itu. Ia langsung menoleh ke belakang, tempat suara itu berasal, dan mendapati Agon tengah berdiri dalam jarak sangat dekat dengannya.

"A-Agon-kun!" Mamori yang masih kaget akhirnya memekik.

"Aku mau lewat," Agon tersenyum kecil sambil menunjuk pintu di depan Mamori yang sedikit terbuka.

"Ah? Go-gomen," Mamori langsung menyingkir agar Agon bisa lewat.

Tapi bukannya cepat-cepat masuk, Agon malah tersenyum lagi pada Mamori. "Akhir-akhir ini kau selalu gugup saat bicara denganku. Apa aku membuatmu gugup?" ia memajukan wajahnya agar mendekat pada Mamori.

"Bu-bukan, hanya saja… aku belum terbiasa. Yah, mungkin karena kita jarang mengobrol kecuali untuk urusan klub."

"Mulai sekarang sebaiknya kita lebih akrab." Lagi-lagi Agon tersenyum. Setelah melihat Mamori mengangguk, ia melangkah masuk ke ruang klub diikuti Mamori.

Gadis itu mempercepat langkahnya saat melihat sang kapten sudah duduk manis di meja favoritenya. Laptop menyala, dan asap tipis mengepul dari secangkir kopi hitam di sampingnya.

"Lelet." Komentar Hiruma tanpa melirik Mamori.

"Gomen, semalam aku insomnia, dan baru bisa tidur sekitar jam—"

"Nggak usah memberikan informasi kelewat nggak penting begitu, manajer sialan!" potong Hiruma cepat.

Bibir Mamori mengerucut. Tidak penting ya? Mamori harap selamanya setan itu tidak tahu apa penyebab insomnia yang dialaminya semalam.

"Kakimu sudah sembuh?"

"Eh?" Mamori menoleh kearah Hiruma dengan cepat, tidak percaya pada apa yang ia dengar barusan.

"Aku tanya, kakimu sembuh?" Hiruma mengulangi pertanyaannya tanpa mengalihkan perhatian dari laptop.

"Iya, terima kasih banyak, Hiruma-kun." Mamori mengulum senyum.

"Hooaahm… sampah! Sok perhatian!" komentar Agon sambil merebahkan diri di sofa, ia bersiap untuk tidur.

"Mamori-chan, bangunkan aku kalau sudah waktunya pulang. Aku akan mengantarmu lagi." Agon tersenyum sesaat sebelum memejamkan matanya.

Gerakan tangan Hiruma di atas keyboard mendadak berhenti, garis wajahnya langsung mengeras. "Apa maksudnya?" suaranya pelan namun sangat tegas dan menakutkan.

"Eh… itu… kemarin aku tidak sengaja bertemu dengannya di kereta, lalu—"

"Pulang bersama?!" Hiruma lagi-lagi memotong perkataan Mamori. Kali ini lebih tegas. Ia bangkit dari posisinya dan menatap tajam Mamori.

"Iya, itu karena dia—"

"Kau benar-benar tidak bisa dipercaya, manajer sialan!" sentak Hiruma yang sekali lagi menyela perkataan Mamori.

"Aku punya alasan, Hiruma-kun! Apa kau tidak bisa mendengarku dulu?!"

"Cih! Kau memang senang bersama si dread sialan itu, padahal kau tahu seperti apa dia. Kau murahan!"

PLAK!

"ASAL KAU TAHU SAJA, AKU BERSYUKUR BISA BERTEMU DIA! KALAU DIA TIDAK MENOLONGKU, MUNGKIN SAJA AKU AKAN JADI KORBAN PELECEHAN SEKSUAL!" teriak Mamori. Ia bisa merasakan matanya panas, tapi Mamori tidak ingin menangis, tidak di depan Hiruma. "Aku sangat berterima kasih pada Agon-kun." Ucap Mamori pelan. Gadis itu lalu keluar ruang klub sebelum air matanya jatuh.

Hiruma diam di tempatnya. Sakit. Tamparan Mamori sungguh menyakitkan. Tapi ada yang jauh lebih sakit di hatinya.

"Hooaamhh… Kau mengganggu tidurku, sampah!" Agon merubah posisinya yang tadi tidur menjadi duduk. Ia menyeringai penuh kemenangan pada Hiruma. "Kuperingatkan kau, sampah. Jangan dekati dia lagi. Sekarang dia milikku! Khukhukhu…!" Agon tertawa nista dan langsung keluar ruang klub. Menang. Akhirnya dia bisa menang dari setan itu.

"SIALAN!" Hiruma menendang meja di depannya sampai terbalik. Menyebalkan. Sangat menyebalkan. Pria itu mengusap rambut pirangnya dan menghempaskan diri di sofa. Ia harus menenangkan pikiran.


Mamori rasanya kehabisan nafas. Sesak. Sesakit inikah bertengkar dengan Hiruma? Bukankah biasanya ia selalu bertengkar dengan pria itu. Tapi kenapa saat ini rasanya sangat sesak. Bodoh. Apa yang pria bodoh itu pikirkan. Benar-benar egois. Gadis itu menyandarkan punggungnya di dinding atap Saikyoudai. Ia sangat butuh ketenangan.

"Mamori-chan,"

Mamori tersentak dan langsung menoleh ke asal suara. "A-Agon-kun," suara Mamori terdengar serak.

Agon tersenyum dan memposisikan diri di samping Mamori. "Menangislah." Ujarnya.

"Maaf, kurasa aku ingin menenangkan diri." Saat ini sebenarnya Mamori hanya ingin sendirian. Dia tidak ingin menangis, apa lagi di depan Agon.

"Sampah itu memang keterlaluan padamu. Dia memang mengenalku sejak lama, dan dia juga tahu karekterku. Makanya, dia mengatkan seperti itu. Tapi, Mamori-chan, aku tidak suka dia bilang kau murahan. Aku bukan orang yang suka jalan dengan sembarang wanita. Memang, teman wanitaku banyak, tapi bukan berarti aku berhubungan dengan mereka semua. Aku ingin orang yang spesial, seperti kau."

Mamori hanya tersenyum kecil mendengar penuturan Agon. Tidak tahu, ia sendiri bingung harus bersikap bagaimana pada pria menakutkan di sebelahnya ini.

"Aku dan Hiruma-kun hanya sama-sama emosi." Ungkap Mamori. "Kurasa dia tidak bermaksud menjelekanmu."

"Eh, Mamori-chan, kau mau pergi?" ajak Agon yang mengalihkan pembicaraan.

"Kemana?"

"Ke tempat yang pasti akan kau sukai." Agon tersenyum dan langsung menyambar tangan Mamori, setengah menyeretnya keluar dari tempat ini.

"Hey… bagaimana dengan latihannya?"

"Sampah itu bisa mengurusnya."

"Lalu kuliah?"

"Kau tidak pernah bolos 'kan?"

Mamori terbelalak. Ia ingin menolak, tapi Agon seperti memaksanya. Pria itu terus menyeret Mamori hingga mereka keluar Universitas.

"Kita mau kemana?" tanya Mamori lagi. Ia tidak pernah bolos. Untuk latihan, apa lagi kuliah. Rasanya ia tidak bisa begitu saja menerima ajakan Agon.

"Aku tidak ingin melihatmu sedih, mungkin kau butuh hiburan."

Mamori terdiam, mungkin pria itu benar, ia butuh hiburan. Mungkin tidak masalah jika sekali-kali bolos, pikir Mamori.

Setelah sampai di stasiun, mereka segera membeli tiket dan menunggu Japan Railway yang akan membawa mereka ke tujuan. Mamori diam, ia tidak tahu apa yang dimaksud Agon dengan hiburan. Ia berharap pria ini mengajaknya ke tempat yang normal. Kalau tidak, ia akan menyuruh Hiruma untuk mengubur Agon hidup-hidup.

Deg.

Mamori tersentak oleh lamunannya sendiri. Hiruma? Perlukah dia memikirkan orang itu sekarang? Mungkin dia sedang marah-marah pada semua anggota Wizard karena Mamori dan Agon mangkir latihan. Kasihan. Tugasnya pasti jadi lebih banyak.

"Keretanya sudah datang, ayo…." Agon menarik tangan Mamori lagi dan menyeretnya menuju garis kuning, menunggu kereta berhenti dan penumpang turun.

Setelahnya, lagi-lagi Agon menarik tangan Mamori agar masuk ke kereta. Ia mengusir seorang anak SMA agar mendapatkan tempat duduk.

"Kau seharusnya tidak begitu, Agon-kun. Tidak apa-apa kalau misalnya kita berdiri." Mamori menasehati.

"Haah, kau bilang sesuatu, Mamori-chan?" Agon malah memutar bola matanya dengan tampang malas.

Mamori menghela nafas dan akhirnya mengalihkan pandangan. Rasanya sedikit tidak nyaman.

Kereta akhirnya berhenti setelah melakukan perjalanan selama dua puluh menit. Agon dan Mamori keluar setelah Kereta berhenti di peron. Mereka melangkah menuju pintu keluar stasiun, lalu berjalan kaki sebentar sampai akhirnya Agon memberikan instruksi untuk berhenti.

"Kita ke sana." Agon menunjuk sebuah papan nama besar di seberang jalan.

"Uso." Bisik Mamori pelan.

"Kau suka?" tanya Agon.

"Disney land?! Tentu saja! Ayo masuk!" kali ini giliran Mamori menarik tangan Agon. Begitu tiba di tempat penjualan tiket masuk, Mamori langsung merogoh tasnya untuk mencari dompet. Tapi sebelum benda putih bergambar Rocket Bear itu ditemukan, Agon sudah menyeretnya masuk.

"Bemainlah sepuasmu." Ucap Agon.

"Terima kasih, Agon-kun." Mamori membungkuk sebelum akhirnya berlari menuju wahana pertama yang ia lihat. Sementara Agon hanya berjalan santai sambil sesekali melirik beberapa cewek yang berpapasan dengannya.

"Agon-kun! Fotokan aku ya!" Mamori melambai pada Agon sambil mengacungkan handphonenya, ia lalu bergaya manis di depan sebuah tempat yang mirip istana di negeri dongeng.

Agon menuruti kata-kata Mamori, seharian ini mereka menghabiskan waktu untuk mencoba berbagai wahana, melihat karnaval. Cukup menyenangkan.

"Agon-kun, ayo kita pulang." Ajak Mamori. Ia melirik arloji di pergelangan tangan kirinya, sudah jam empat sore.

"Kau sudah ingin pulang?" tanya Agon yang sepertinya belum puas bermain.

"Iya, ini sudah sore. Aku tidak boleh pulang terlambat."

"Baiklah," pria itu akhirnya mengalah. Mereka keluar dari Disneyland lalu kembali ke stasiun, tapi kali ini mereka membeli tiket untuk ke Deimon.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya kereta yang mereka tunggu tiba. Tanpa berlama-lama lagi, keduanya melangkah masuk. Agon sudah siap mengusir orang lagi kalau Mamori tidak mengancamnya. Pria ini, terkadang mirip dengan Hiruma.

Lagi-lagi pikiran Mamori menuju pria menyebalkan itu. Mamori akhirnya hanya mendengus sebal sambil membuang muka. Ia berharap pria itu tidak datang lagi ke pikirannya.

"Kau tidak mau mampir untuk makan dulu, Mamori-chan?" tanya Agon tepat sebelum kereta yang mereka tumpangi berhenti di stasiun Deimon.

"Tidak, aku mau menemani ibu makan di rumah. Hari ini ayahku sedang tugas. Jadi aku harus menemani ibu." Tolak Mamori. Sebenarnya ia berbohong tentang ayahnya yang tidak ada di rumah. Mamori hanya ingin segera pulang sekarang.

Mereka berdua akhirnya melangkah keluar stasiun. Rumah Mamori hanya dua blok dari sini, jarak yang sangat dekat.

"Mamori-chan, ada yang ingin kukatakan." Agon memulai pembicaraan.

"Ya?"

"Kau mau jadi pacarku?" pria itu tersenyum manis sambil menatap Mamori.

Mamori terdiam. Ia menatap Agon lekat, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Kau… apa?" tanya Mamori.

"Jadi pacarku?" Agon mengulangi pertanyaannya.

"Kau serius?" alis Mamori terangkat.

Agon malah tersenyum kecil. "Aku tidak kelihatan sedang serius ya?" ia melepas kaca matanya dan menatap Mamori lagi.

"Bukan, hanya saja… aneh," ungkap Mamori pelan. Ia tidak ingin menyinggung perasaan Agon.

"Hm… kau tidak pacaran dengan sampah itu 'kan?"

Mamori terbelalak. Ia sangat tidak suka saat Agon memanggil orang lain dengan sebutan sampah. Meski karekternya sama dengan Hiruma, tapi tetap saja, ucapan Agon terdengar lebih kasar.

"Aku tidak menjalin hubungan dengan siapa pun," ungkap Mamori. "Dan sepertinya, aku sedang ingin sendiri." Ia melanjutkan.

"Jadi, itu artinya…?"

"Maafkan aku." Mamori membungkuk.

"Bukan berarti aku menyerah," bisik Agon di telinga Mamori.

Gadis itu tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya membulat, dan wajahnya menunjukan raut terkejut. Bukan, bukan karena perkataan Agon barusan, tapi karena sesuatu yang ditangkap matanya.

Tidak jauh dari tempatnya, Mamori melihat seorang pria yang sangat ia kenal. Rambut spike pirang, telinga runcing, AK-47. Hiruma Youichi. Apa yang dilakukan pria itu di depan rumahnya?!

"Sampah." Desis Agon yang juga melihat pria itu. "Ne, Mamori-chan, sudah sampai rumah. Terima kasih untuk hari ini ya!" Agon menghentikan langkahnya di depan rumah Mamori. Ia tersenyum semanis mungkin pada Mamori yang masih kelihatan shock karena pria yang kini tengah bersandar santai di pagar rumahnya.

Mamori menoleh pada Agon. "Iya, terima kasih juga." Ia melirik si pria yang tidak menunjukan reaksi apa pun, hanya diam sambil memalingkan wajah.

"Sampai jumpa besok." Agon mengacak rambut Mamori sebelum ia beranjak pulang. Saat melewati si spike pirang, Agon tersenyum mengejek padanya.

"Sudah lama?" tanya Mamori pada Hiruma.

Hiruma menoleh dengan malas. "Kau bolos latihan dan tidak hadir di kelas karena pergi dengan playboy bodoh itu?!"

"Aku lelah, Hiruma-kun. Kalau tidak ada yang mau kau katakan, aku akan masuk."

Greb.

Mamori melotot. Ia bisa merasakan jantungnya hampir melompat keluar saat Hiruma dengan sangat tiba-tiba memeluknya erat.

"Apa permintaanku begitu sulit?"

DEG.

Kali ini Mamori merasa mendapat serangan jantung. Suara Hiruma barusan, benar-benar terdengar penuh kekecewaan. Mamori ingin menangis. Ia merasa bersalah pada Hiruma. Tapi karena apa? Ia sendiri juga tidak tahu.

"Pulanglah," ucap Mamori sambil melepaskan diri dari pelukan Hiruma. "Pulang dan istirahatlah. Aku akan mengerjakan semua tugas yang kutinggalkan."

Hiruma menatapnya lekat. Ia lalu memejamkan matanya sebentar sebelum berbalik meninggalkan Mamori.

"Hiruma-kun!" panggil Mamori menghentikan langkah Hiruma. "Maaf sudah menamparmu."

Mamori tidak mendengar jawaban, tidak melihat reaksi. Yang ada Hiruma hanya melanjutkan langkahnya.

Hampa.

Ada yang hampa dalam hatinya melihat pria itu pergi. Dia sendiri yang menyuruh Hiruma pulang 'kan? Tapi kenapa rasanya sesak. Mamori menghela nafas berat sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.

"Tadaima…." Mamori melepas sepatunya dan segera melangkah masuk.

"Okaeri, Mamo-chan!" sapa ibunya dari ruang keluarga.

Mamori tersenyum kecil lalu melanjutkan langkah ke kamar.

"Kau bolos kuliah?"

Langkah Mamori terhenti saat mendengar suara ibunya. Gadis itu menoleh perlahan, dan mendapati sang ibu sudah berdiri di belakangnya. "Gomenasai." Ucapnya penuh penyesalan.

"Haah…" Mami Anezaki menghela nafas pelan, ia merangkul bahu putrinya lalu membimbing gadis itu ke kamar. "Ada yang mencarimu tadi. Dia bilang tadi pagi kau sudah ada di kampus, tapi tiba-tiba saja kau menghilang. Dia sudah menghubungimu tapi kau tidak menjawab panggilannya."

Mamori tersentak mendengar cerita ibunya. Cepat-cepat ia merogoh tas pundak yang ia sandang untuk mengambil handphonenya. Begitu mendapatkannya, ia langsung melihan display benda itu. Ada satu panggilan tidak terjawab dari Hiruma.

"Si-siapa memangnya yang mencariku sampai kemari?" tanya Mamori. Ia berharap bukan nama Hiruma yang keluar dari bibir Mami.

"Si pirang, dia membawakanmu itu." Mami menunjuk sebuah kotak di atas meja belajar Mamori.

Gadis itu segera membuka kotak yang ditunjukan Mami. Cream puff. Dan selembar kertas hitam dengan tulisan tangan yang sangat ia kenal dari tinta berwarna putih. "Gomen."

"Hiruma," Mamori bergumam pelan sambil menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Mendadak hatinya merasa bersalah pada pria itu.

"Kalian sedang bertengkar? Wajahnya tadi seperti orang yang kecewa. Apa pun yang dia lakukan padamu, sepertinya dia menyesal." Mami menempatkan diri di samping putrinya.

"A… aku tadi menamparnya." Mamori menjawab lirih. "Aku rasa aku sangat keterlaluan padanya. Bahkan sampai dia datang kemari."

Mami tersenyum pahit. "Ibu tidak pernah mengajarimu kasar pada orang lain, Mamori-chan." Ia mengusap rambut putrinya pelan. "Sebaiknya kau hubungi dia."

"Tidak, aku sudah bertemu dia di depan."

Mami melotot menatap putrinya. "Kau bercanda? Apa dia menunggumu di depan?"

"Memangnya kapan dia kemari?"

"Mungkin sudah hampir tiga jam."

Hati Mamori mencelos. Apa dia sebegitu jahat. "Ibu, apa yang harus aku lakukan?" Mamori hampir merengek.

"Minta maaf padanya."

"Baiklah, aku akan minta maaf padanya."

"Sekarang kau bersihkan dulu dirimu." Mami tersenyum lalu beranjak dari kamar putrinya. Mungkin Mamori membutuhkan ketenangan.

Mamori mengangguk dan langsung melesat ke kamar mandi, ia berendam sebentar membersihkan sisa-sisa keletihan dirinya setelah manghadapi hari yang lumayan berat. Setelah selasai mandi Mamori merebahkan tubuhnya di atas kasur, berniat untuk segera tidur. Tapi ia tiba-tiba teringat dengan Hiruma yang baru saja bertemu dengannya didepan rumah dan meminta maaf. Mamori segera terbangun dan menyambar tas yang terletak di atas meja belajarnya.

"Aku harus minta maaf padanya sekarang juga." Kata Mamori.

"Mamo-chan.. mau kemana kau malam-malam begini?" tanya Mami yang melihat putrinya yang sudah akan pergi lagi.

"Kaa-san, aku pergi dulu." Mamori pamit dan menghiraukan pertanyaan sang ibu sebelumnya.

"Tapi tidak sekarang juga, Mamo-chan…" sepertinya perkataan Mami Anezaki sama sekali tidak didengar oleh Mamori sendiri.

"Biarkan saja dia menyelesaikan masalahnya sendiri." Tateo mencoba untuk menenangkan istrinya.


Mamori berlari kearah stasiun kereta yang untungnya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Gadis itu melirik jam tangannya untuk memastikan kalau saat ini ia belum terlambat. Ia ingin menemui Hiruma dan minta maaf padanya.

Belum.

Mamori masih mendapatkan tiket JR terakhir untuk malam ini. Saat kereta itu berhenti di stasiun Deimon, Mamori segera masuk dan mencari tempat duduk. Ia memejamkan mata sebentar sambil menghela nafas pelan. Rasanya konyol sekali. Apa ia benar-benar harus datang ke apartement seorang pria malam-malam begini?

Tapi mengingat apa yang sudah terjadi hari ini membuat rasa bersalah menumpuk di hatinya. Mamori tidak ingin menundanya sampai besok, dia juga tidak ingin meminta maaf lewat telepon. Ia ingin bertemu. Ingin sekali bertemu Hiruma.

Tidak membutuhkan waktu lama, kereta sudah berhenti di stasiun. Mamori segera bangkit dan keluar dari kereta yang tidak begitu padat. Ia melangkah menuju bangunan super megah yang menjadi tempat tinggal sang setan. Ia berharap Hiruma belum tidur, atau sedang tidak di tempat. Mamori harap kedatangannya tidak sia-sia.

Mamori menarik nafas dalam-dalam dan menyiapkan mental saat tiba di depan gedung apartement tempat tinggal Hiruma. Ia melangkahkan kakinya dengan pasti memasuki loby di apartemen yang terbilang cukup mewah tersebut.

Kini Mamori sudah berada didepan pintu bernomor 121, dengan gugup, Mamori memencet bel yang tersedia di dekat pintu tersebut.

TING TONG.

Bel sudah dibunyikan, Mamori harap-harap cemas jika sang pemilik kamar itu sudah tidur seperti yang ia pikirkan sebelumnya. Tapi ia juga takut jika penghuni kamar itu malah memarahinya karena sudah mengganggu jam istirahatnya.

Cklek.

Pintu itu terbuka dan keluarlah seorang pria berambut spike pirang yang menggunakan kaos putih dan celana panjang abu-abu. Pria tersebut tampaknya terkejut mengetahui siapa yang sudah berani mengganggu waktu istirahatnya.

"Mau apa kau malam-malam seperti ini, manajer sialan?" tanya Hiruma yang menyembunyikan keterkejutannya.

"A-aku..."

"Bicara yang jelas, menejer sialan." Kata Hiruma tegas dan tampaknya dia sedang malas menghadapi manajer sialannya itu.

Mamori tersentak mendengar perkataan Hiruma yang terdengar marah.

"Hiruma-kun… aku… uhm… minta maaf karena sudah menamparmu tadi pagi, aku juga tidak mengangkat telepon darimu, aku minta maaf karena sudah membuatmu menunggu diluar rumah selama berjam-jam, dan maaf sudah mengganggumu malam-malam begini." Mamori membungkukan badannya dalam-dalam.

"Aku tidak mempedulikan hal itu, kuso mane!" balas Hiruma dingin.

Mamori mengangkat tubuhnya dan menatap Hiruma dengan pandangan penuh kekecewaan.

" Daripada itu, kenapa kau keluar rumah malam-malam begini tanpa menggunakan jaket sialan?!" tanya Hiruma tajam tanpa mempedulikan ekspresi Mamori.

"Eh?" Mamori terkejut mendengar pertanyaan Hiruma. Gadis itu menundukan wajah. "Tadi itu aku buru-buru pergi Hiruma-kun." Mamori menjawab pelan.

"Ck! Padahal kau bisa melakukan hal sialan seperti ini besok, 'kan?"

"Aku tidak bisa menunggu sampai besok." Mamori masih menundukan wajahnya, ada rona merah di pipi gadis cantik itu.

Hiruma menyeringai melihat wajah Mamori yang mulai memerah. "Oh ya…. Atau jangan-jangan kau sangat merindukanku ya. Ma-mo-ri…?" tanyanya dengan nada nakal

"Mou…. Jangan meledekku, Hiruma-kun. Aku tidak mungkin merindukanmu. Lagi pula kalau besok aku takut tidak akan bisa menemuimu!" sanggah Mamori yang sudah mulai berani menatap Hiruma lagi.

"Kau bisa menemuiku saat latihan, kuso mane."

"I-itu…" Mamori malah jadi gugup. Ia tidak punya alasan pasti untuk menjawab Hiruma. Malam ini ia hanya mengikuti kata hatinya.

"Keh, kau akan menerima hukuman dariku, manajer sialan!"

"Kenapa?!" protes Mamori.

Tapi sepertinya pria itu tidak mendengarkan, Hiruma hanya berbalik masuk ke apartementnya."Aku sudah memaafkanmu," ucap Hiruma dengan suara yang hampir tidak terdengar oleh telinga Mamori.

"Eh.. kau bilang sesuatu Hiruma-kun?" tanya Mamori yang tampaknya agak sedikit penasaran dengan kalimat yang baru saja diucapkan Hiruma.

"Aku bilang tunggu dulu disitu, aku akan mengantarmu pulang."

"Eh…?!" Mamori sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Hiruma. Hiruma bilang kalau dia akan mengantar pulang Mamori.

Tidak lama setelah itu Hiruma keluar dengan menggunakan jaket kulit hitam, celana jeans hitam, lengkap dengan menggunakan sepatu hitam dan juga dua buah helm dan sebuah jaket kulit yang senada dengan jaket yang dipakai Hiruma.

"Ambil ini dan cepat kau pakai!" perintah Hiruma sambil memberikan jaket dan helm yang ia bawa pada Mamori.

"Tapi Hiruma-kun…."

"Aku akan mengantarmu pulang. Memangnya kau mau menginap di apartementku dan tidur di satu ranjang yang sama denganku?" tanya Hiruma dengan santai.

"Mou…. Aku tidak mau! Berikan jaket dan helm itu padaku!"

"Cih. Dasar merepotkan."

Hiruma dan Mamori pun pergi parkiran bawah tanah, tempat motor Hiruma berada. Deru mesin mulai terdengar saat Hiruma memanaskan motornya.

"Naik!" perintah Hiruma yang sudah siap.

Mamori mengangguk dan langsung naik di belakang Hiruma. "Jangan ngebut," ia berpesan.

"Hm." Gumaman itu tentu saja artinya bukan 'iya' karena Hiruma mengendarai motornya dengan kecepatan yang tidak bisa dianggap normal. Mamori pun yang menjadi penumpang hanya bisa memeluk tubuh atletis Hiruma yang berbalut jaket kulit dengan sangat erat agar dirinya tidak jatuh.

"Hiruma-kun, bisa tidak kau pelankan sedikit kecepatannya?" tanya Mamori yang sedang menutup matanya karena takut.

"Haah… kau bilang sesuatu menejer sialan?" sahut Hiruma yang pura-pura tidak mendengar perkataan Mamori.

"Pelankan kecepatannya, Hiruma-kun!" Mamori mulai mengencangkan volume suaranya agar Hiruma mendengarnya.

"Aku tidak mendengarmu!"

Bukannya mengurangi kecepatan motornya Hiruma malah menambah kecepatan, sampai akhrinya motor itu berhenti secara mendadak di depan rumah Mamori. Dan karena itu tubuh Mamori sukses membentur punggung Hiruma.

"Mau sampai kapan kau memelukku, kuso mane?" tanya Hiruma setelah melepaskan helmnya.

Mamori membuka mata lalu melepaskan pelukannya"Eh…ma-maaf… Hiruma-kun." Ucap Mamori gugup sambil turun dari motor Hiruma. Ia memberikan helm yang tadi dipakainya padanya si pemilik. "Hiruma-kun, kau mau mampir dulu?" ia menawarkan.

"Dasar manajer sialan bodoh! Aku tidak mungkin mampir ke rumahmu malam-malam seperti ini 'kan?!" kata Hiruma sambil melemparkan deathglare pada Mamori.

"Benar juga ya? Tapi kau jangan menatapku seperti itu, Hiruma-kun." jawab Mamori dengan nada sedikit takut karena Hiruma memberikan deathglare padanya.

"Cih, cepat sekarang kau masuk!" perintah Hiruma.

Mamori mengangguk, ia siap menuruti perintah kaptennya.

"Ah.. .Mamo-chan kau sudah pulang?" tiba-tiba saja Mami Anezaki keluar dari rumah setelah mendengar suara motor yang berada didepan rumahnya.

"Ibu!" Mamori sedikit memekik kaget karena melihat sang ibu keluar dari rumah.

"Kenapa kalian berdua tidak masuk? Ayo kau mampir dulu." Mami menatap Hiruma dengan pandangan lembut.

"Baiklah." Jawab Hiruma dengan nada bicara seperti biasa.

Mami tersenyum dan melangkah masuk terlebih dahulu, disusul Mamori lalu Hiruma yang bahkan tidak mengucapkan salam.

"Tidak pernah belajar sopan santun saat bertamu ya?" sindir Mamori sambil menatap tajam Hiruma.

"Tidak." Jawab Hiruma enteng sambil mengangsurkan jaket yang dipakainya pada Mamori.

Gadis itu cemberut tapi tidak menjawab. Ia menggantung jaket yang mereka pakai di gantungan yang berada di dekat pintu masuk.

"Ayah, kita kedatangan tamu, lho…" Mami berbicara pada suaminya agar menyambut Hiruma yang baru saja masuk.

Tateo Anezaki tersenyum kecil yang dibalas anggukan kepala oleh Hiruma. "Duduklah, anggap saja rumah sendiri." Ujar Tateo.

Hiruma kembali mengangguk dan duduk di sofa yang berseberangan dengan Tateo.

"Kau mau minum apa?" tanya Mami dari pintu dapur

"Kopi hitam." Singkat, jelas, dan padat. Itulah jawaban yang diberikan Hiruma pada Mami.

"Baiklah, akan aku buatkan. Kalau boleh tau, siapa namamu?"

"Hiruma Youichi"

"Nama yang bagus. Tunggu sebentar aku akan membuatkanmu minum. Mamo-chan tolong temani Youichi ya..." kata Mami yang kemudian segera pergi ke dapur untuk membuatkan minum.

"Tadi kau bilang tidak mau mampir?!" tanya Mamori yang sedikit marah karena tadi Hiruma sempat menolak tawarannya untuk mampir kerumahnya, tapi Hiruma malah mengiyakan tawaran dari ibunya.

"Bukan urusanmu!"

Tateo melirik putrinya dan Hiruma sekilas. "Apa ayah mengganggu? Kalau iya, ayah akan pindah ke ruang makan."

"A-apa maksud ayah?" Mamori bisa merasakan wajahnya memanas mendengar pertanyaan ayahnya.

"Hahaha… santai saja, Mamori." Tateo tersenyum kecil lalu melirik Hiruma. "Ini pertama kalinya buat Mamo, aku percaya padamu, Youichi."

"Ayah tidak perlu memberikan informasi tidak penting begitu padanya!" wajah Mamori benar-benar merah sekarang. Sementara sang ayah sudah melesat ke ruang makan yang jadi satu dengan dapur, sepertinya Tateo sedang membicarakan sesuatu dengan istrinya.

Mamori menghela nafas lalu duduk dengan malas di samping Hiruma yang sedang menyeringai. "Hoo… Jadi manajer sialan yang terkenal punya banyak fans itu baru sekali menerima tamu laki-laki?"

"Diam saja kau!" sahut Mamori galak.

"Kekekeke… wah, seram!" Hiruma malah meledeknya

"Awas saja kalau kau berbicara kasar pada orang tuaku." Ancam Mamori.

"Cih."

"Maaf sudah menunggu lama ya? Ini silahkan diminum." Mami akhirnya keluar dari dapur bersama Tateo di belakangnya. Mereka berdua duduk bersebrangan dengan Hiruma dan Mamori.

"Hn." Mamori menginjak kaki Hiruma karena mendengar jawaban yang diberikan Hiruma.

"Ada yang ingin aku tanyakan pada kalian." Mami membuka pembicaran.

"Apa yang ingin ibu tanyakan?" tanya Mamori bingung.

"Soal pertengkaran kalian berdua."

"Eh? Se-sebenarnya itu bukan masalah yang perlu diungkit lagi, ibu."

"Benarkah? Tapi tadi itu bukannya kau sangat merasa bersalah dan bersikeras untuk pergi buat meminta maaf?" kali ini Tateo yang bertanya.

"I-itu…"

"Keh, jadi begitu ya?" Hiruma memiringkan kepalanya melirik Mamori sambil memamerkan sebuah seringai yang menyebalkan.

"Apanya yang begitu, Hiruma-kun?" Mamori yang kemarahannya sudah hampir memuncak berniat untuk mengambil sapu. Sayangnya hal itu tidak ia lakukan karena orang tuanya sedang ada di sana.

"Jadi kau datang ke apartementku malam-malam begini memang karena tidak bisa lama-lama marahan denganku 'kan?"

Mamori sudah siap memukul Hiruma dengan bantal kalau saja tidak mendengar ayah dan ibunya tertawa. Ia menoleh kearah orang tuanya dengan pandangan bingung.

"Sudah jangan bertengkar lagi." Mami tersenyum kecil pada putrinya dan Hiruma. "Ne, lalu hubungan kalian sudah sampai mana?"

"Hu―Ibu! Apa yang ibu maksud dengan hubungan itu?" tanya Mamori yang kaget mendengar pertanyaan ibunya.

"Bukannya kalian itu pacaran?" Mami dan Tateo menanyakannya bersamaan.

"A―a…?!Mana mungkin, itu tidak akan terjadi." Mamori membantah. Wajahnya sudah sangat merah sekarang.

"Benarkah itu? Berarti kalau si dread itu yang menjadi pasanganmu kau tidak menolak?" Hiruma mendekat dan meletakan lengannya di bahu Mamori sambil menyeringai jahil.

"Aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan Agon-kun! Curigaan!" bantah Mamori sembari menjauh dari Hiruma.

"Aku mau pulang." Ekspresi Hiruma langsung berubah serius.

"Eh?" Mamori menatap Hiruma dengan tampang bingung. "Apa aku salah bicara?"

"Bodoh. Ini sudah malam. Aku harus pulang, atau kau mau aku menginap di sini?!"

Mamori menggelembungkan pipinya dan memalingkan wajah. "Habis tiba-tiba kau seperti itu."

"Aku pulang dulu." Hiruma menatap Mami dan Tateo yang tersenyum padanya.

"Baiklah, hati-hati di jalan ya. Ini sudah malam, jangan ngebut." Pesan Mami seraya berdiri.

Hiruma mengangguk, meski dalam hati ia merutuk. 'Ibu dan anak sama saja cerewet.'

"Mamo-chan, sebaiknya kau antar Youichi sampai depan rumah." Perintah Mami.

"Benar, mungkin kalian mau melakukan sesuatu…."

"Apa maksud ayah?!" Mamori kembali memerah. Ia cemberut tapi tetap melaksanakan perintah orang tuanya mengantar Hiruma sampai luar. "Hiruma-kun, apa kau marah padaku?" tanya Mamori saat mereka tiba di luar sambil mengangsurkan jaket Hiruma.

"Menurutmu?!"

"Etto… Maaf kalau kata-kataku tadi menyinggung perasaanmu. Tapi aku benar-benar tidak punya hubungan apapun dengan Agon-kun." Mamori menarik nafas dan mencoba melanjutkan pembicaraannya. "Walaupun tadi sebelum pulang Agon-kun menyatakan perasaannya padaku."

Hiruma mengepalkan tangannya dengan keras. Matanya yang hijau menatap Mamori lekat, seolah meminta penjelasan lebih.

"Tapi aku langsung menolaknya, karena aku hanya menganggapnya sebagai teman saja." Lanjut Mamori.

Ekspresi Hiruma perlahan kembali berubah. "Lebih baik sekarang kau masuk." Ujar Hiruma.

"Aku akan masuk kalau kau sudah jalan," Mamori menyerahkan jaket yang Hiruma pinjamkan padanya tadi.

"Buatmu saja! Aku tidak mau terkontaminasi bekas tubuhmu! Apalagi kalau aku sampai ketularan bau kue menjijikan itu!"

"Mou! Apa maksudmu?!"

"Oyasumi, menejer sialan" Hiruma mengabaikan protes dari Mamori, ia menghidupkan mesin motornya dan bersiap untuk pulang.

Mamori yang sudah ingin marah langsung tersenyum kecil."Oyasumi Hiruma-kun. Hati-hati di jalan ya."

"Cerewet kau!"

Mamori menggelembungkan pipinya. "Aku 'kan khawatir," ia bergumam pelan.

"Kekekeke… kau tidak perlu mengkhawatirkanku, manajer sialan. Justru aku yang khawatir padamu kalau kau mulai tidak waras karena kehabisan stock cream puff sialan!" Hiruma menyeringai sambil mengenakan helm.

"Tidak lucu!" protes Mamori. "Cepat sana kau pulang!"

"Iya, iya, tidak perlu mengusirku. Aku juga tidak betah lama-lama di sini!"

Mamori cemberut, meski ia tahu Hiruma hanya bercanda. "Terima kasih, kau sudah memaafkanku."

Mata hijau Hiruma kembali menatap tajam Mamori. "Tidak akan aku maafkan kalau sampai hal sialan seperti itu terulang."

Mamori mengangguk mengerti. "Sampai jumpa besok."

Hiruma menggangguk dan mulai menjalankan motornya keluar rumah Mamori.

Gadis itu menatapnya sambil tersenyum kecil, setelah Hiruma menghilang dari pandangnnya, Mamori melangkah masuk rumahnya dan mengunci pintu. Ia segera menuju dapur untuk membantu ibunya.

"Youichi sudah pulang?" tanya Mami sambil menoleh pada putrinya.

Mamori hanya mengangguk menjawab pertanyaan sang ibu.

"Dia itu orang baik 'kan?" Mami kembali bertanya.

"Dia orang menyebalkan, keras kepala, seenaknya sendiri, egois―"

"Hahahaha…." Mami tertawa sebelum putrinya selesai bicara.

"Eh?" Mamori menatap sang ibu dengan pandangan bingung. Ia tidak mengerti apa yang membuat ibunya tertawa seperti itu.

Mami tersenyum dan menatap Mamori dengan pandangan lembut. "Ibu harap dia pria baik-baik, meskipun penampilannya seperti itu."

"Err… dia sebenarnya memang baik kok," jawab Mamori pelan. "Dia cuma tidak suka orang lain tahu kebaikannya. Dia menutupinya dengan penampilan jahat seperti itu. Buktinya, berkat dia, Sena sekarang sudah jadi atlet hebat." Mamori tersenyum kecil.

Mami membulatkan matanya mendengar pernyataan Mamori. "Jadi, dia… yang menemukan bakat terpendam Sena?"

Mamori mengangguk sambil tersenyum bangga, membuat Mami ikut tersenyum juga.

"Dia hebat," ucap Mami pelan. Mamori mengagguk lagi menyetujui pendapat ibunya.


Malam masih belum berakhir, dan malaikat itu masih terlelap dalam tidurnya yang nyenyak. Ia tidak sadar sama sekali saat perlahan-lahan jendela besar di kamarnya terbuka, memperlihatkan sesosok bayangan yang mulai melangkah memasuki kamarnya. Pelan-pelan, tanpa menimbulkan suara sedikitpun, karena ia tidak ingin malaikat yang jadi targetnya ini terbangun.

Sebuah senyum kecil terukir di bibir sosok itu, tangannya terulur mengusap rambut malaikat cantik―Anezaki Mamori dengan lembut dan penuh kasih sayang. Kemudian dengan tangannya yang kekar, ia membopong tubuh Mamori dengan selembut mungkin, agar gadis cantik ini tidak terbangun dan menjerit.

Dengan perlahan, sosok itu berjalan menuju jendela, lalu menghilang bersama kegelapan malam.


TBC


Haaaaaiiiiiiii… semuanyaaaa…

Gomen ya kalo updatenya kelamaan. Itu karena kita akhir-akhir ini agak sibuk sama urusan masing-masing.

Gimana chapter kali ini? Cukup memuaskan atau ngga? (H2C)

Daripada banyak omong aku mau bales review yang ga login.


Guest: terima kasih udah review… maaf ya kalo agak lama updatenya ^^

Raiha Laf Qyaza: untuk AgonMamo udah kita banyakin porsinya, semoga kamu suka. Jangan bosen buat review lagi ya…

Animealover Yaha: terima kasih karena kamu sudah memberikan semangat pada kami dan juga untuk reviewnya. Untuk tanggal lahir Hiruma dia lahir tanggal 7 february

Chayesung: Hiruma emang harus perhatian sama Mamori kan… (#plaaak apaan sih?! -_- ). Makasih buat reviewnya…


Makasih buat review dari kalian semua ya…. Karena review dari kalian adalah semangat untuk kami.

Jangan lupa buat REVIEW di chapter 3 ya… ^^