Part 3: Perpustakaan
.
.
Setelah beberapa lama, mereka masuk kembali ke dalam vila untuk melihat perpustakaan pribadi. Suasana yang begitu menyenangkan, membuat mereka lupa untuk mengabadikan travel dari Pak Danzo ini. Mereka menaiki tangga kayu menuju lantai 2.
Ternyata, lokasi perpustakaan bersebelahan dengan kamar perempuan.
"Kupikir itu ruangan lain. Ternyata perpustakaan ya…" Sakura menggeleng-geleng ketika masuk ke dalamnya. Rak buku yang berjejer dengan rapi, berlangit-langit tinggi, dan berlantai kayu. Meja antik dari kayu berwarna cokelat gelap yang dahulunya digunakan untuk meja kerja, letaknya di pojok ruangan. Dindingnya berwarna cokelat kemerahan, dengan kaca jendela yang tinggi dan ramping dihiasi oleh tirai berwarna putih gading. Sekali lagi, dari jendela terlihat pemandangan yang mengagumkan.
Lampu yang digantung tampak memberi kesan tradisional, berbentuk lampion dengan hiasan mini berupa kipas kecil. Semuanya penuh dengan buku- buku tebal dan tipis, serta beragam macam.
"Perpustakaan ini adalah tempat favorit kakek Naruto dan Sasuke. Buku- buku disini sudah ada yang sebagian lapuk dan tulisannya pudar, namun kakek mereka tidak mau menjualnya," jelas Pak Danzo lalu diiringi oleh anggukan Kiba, Ino, Sakura, dan Hinata.
Di perpustakaan itu ada semacam lemari kaca yang sepertinya memang dirancang untuk menyimpan koleksi. Hidung Kiba terasa gatal tak tertahankan saat pintu lemari kaca itu dibuka. Hinata memilih untuk berada diantara rak-rak buku, mencermati buku-buku yang ada disana. Kebanyakan dari mereka menggunakan bahasa Jepang dan Inggris, membuatnya tertarik.
Lemari kaca itu mengagumkan, ada beberapa patung keramik seperti rupa dewi Amaterasu, sebuah gulungan berdebu dan rapuh, beberapa hiasan cangkang kerang, guci antik, pedang samurai, penghargaan, medali, dan sebuah kipas bundar berwarna sama—namun letaknya dibarisan paling bawah.
Ino tidak habis pikir dengan kipas-kipas yang ia temui di vila ini. "Mengapa dahulu pemiliknya suka sekali mengoleksi kipas berwarna merah putih sih? Apa hubungannya ya?" ia bertanya-tanya dalam hati. Ingin rasanya bertanya pada Pak Danzo, tapi mungkin lain kali saja.
.
Hinata masih asyik berkutat dengan buku- buku disana, tidak menyadari bahwa Pak Danzo dan ketiga temannya sudah pergi dari perpustakaan. Ia mengambil sebuah buku, dilihatnya dahulu, dan diletakkan kembali—mencari buku yang kira-kira membuatnya tertarik. Hanya ia sendiri di perpustakaan itu, dan waktu sudah menunjukkan pukul setengah 3 sore.
Tak sengaja, mata sewarna violet itu melihat sebuah kotak kayu yang berada diantara selipan baris buku paling bawah. Ia penasaran dan hendak meraihnya. Namun, seekor kecoa mengagetkannya dan membuatnya jatuh ke lantai membuat isinya berhamburan. Panik takut dimarahi, ia merapikannya kembali secara acak. Ternyata itu adalah kumpulan foto-foto hitam putih yang tak begitu jelas.
Ia bingung, tidak tahu harus bagaimana. Ia hanya bisa mengamatinya satu per satu, dan merasakan hawa dingin yang melintas diantara kakinya. Sedikit merinding melihat foto-foto itu. Ia memilih untuk menutup kembali kotak kayu itu, meletakkannya ke tempat semula dan segera meninggalkannya.
.
.
Waktu berdalih menjadi senja. Matahari berwarna oranye tampak menerangi cakrawala, tak lupa dengan sentuhan alami sang mega yang indah. Sinar oranye itu membuat pemandangan disekitar villa menjadi sangat fantastis, sekaligus spektakuler.
Sehabis mandi sore di kamar masing-masing, Sasuke memandangi pegunungan dengan latar belakang sunset di balkon. Hawa sedikit dingin sore ini, dan menemukan teman-temannya sedang berlarian seperti anak kecil di halaman villa. Dekat mobil mereka terpakir. Ia sesekali memandang kedua mobil itu. 'Oh aman…'pikirnya.
"Where ever you go, what ever you do
I will be right here waiting for you~"
Handphone Sasuke berbunyi, menandakan ada sebuah pesan masuk. Ia mengambilnya dan melihat sebuah nama tertera di layarnya. "Oh, kaa-san rupanya," gumamnya sembari membuka isi SMS itu. Ia membaca kalimat teks virtual itu.
Hai Sasuke…
Bagaimana liburanmu bersama Naruto dan teman lainnya? Seru'kah? Jaga diri ya, dan jangan repotin Pak Danzo melulu. Kasihan dia, kamu kan sudah besar.
O ya, nanti kaa-san mau pergi kesana minggu depan. Sekalian silahturahmi dengan Pak Danzo
Miss you, kaa-san dan tou-san.
Sasuke mengetikkan beberapa kalimat untuk membalasnya. Tampak senyuman terukir di wajah tampannya. 'Iya, kaa-san. Semua baik-baik saja kok. Kami nggak merepotkan Pak Danzo. Miss you too, kaa-san!' dan tinggal klik 'Send'. Iseng-iseng, ia mengambil foto dari teman-temannya yang masih main dibawah dan juga pemandangan matahari terbenam itu. Lumayan buat dokumentasi.
.
.
Naruto dan teman-temannya terlihat lesu. Rencananya malam ini mereka mau mengadakan api unggun, hitung-hitung menambah kegembiraan mereka. Namun, suara berisik itu sepertinya tidak mau mengalah sejak tadi magrib. Suhu menurun beberapa derajat, dan membuat suasana di vila sedikit kelam.
Terpaksa mereka menonton TV LED 32 inch itu, dengan film yang lumayan seru untuk hujan-hujan begini. Sasuke yang sedang tidak ingin menonton televisi, ia memilih untuk membuka laptopnya. Akamaru turun dari pangkuan Kiba dan mendekati cowok oniks yang sedang duduk bersila di karpet.
"Hei, Akamaru. Sepertinya kau tidak berminat nonton ya?" Sasuke mengelus-ngelus puncak kepala anjing itu. Seperti biasa, ekornya bergoyang-goyang saat merasakan tangan Sasuke membelainya.
Kiba menatap Akamaru dan Sasuke, dengan mata menyipit heran. Mengapa Akamaru bisa menjadi dekat dengannya yah?
"Uwaaa!" opening soundtrack dari sebuah acara di televisi mengagetkan Naruto. Popcorn yang barusan ia masak di microwave, tampak beberapa butir jatuh ke celana dan sofa. Sakura yang tidak suka dengan acara horror segera merebut remote di tangan Naruto.
"Ganti! Aku nggak suka horror!" Sakura berusaha merebut remote itu, tapi Naruto bersikeras untuk menontonnya walau ia sempat terkejut. Alasannya sih, hujan-hujan begini enaknya yang serem-serem.
"Aku maunya acara lain saja!"
"Horor!"
"Acara lain!"
Kiba, Ino, dan Hinata cuma menggeleng-gelengkan kepala. Naruto dan Sakura masih berebut remote dengan sengitnya hingga semua orang khawatir remote-nya rusak. Mood mereka langsung hilang begitu menyaksikan adu mulut antara Naruto dan Sakura yang rasanya tidak akan selesai sampai pagi menyambut. Sebenarnya sih, mereka mau menonton acara horror itu—setuju dengan Naruto yang mau horror. Namun, ketika melihat Sakura mengamuk mereka memilih untuk bungkam.
"Capek lihat mereka rusuh terus," Ino memilih untuk main dengan iPadnya saja, sembari menghela nafas panjang. Kiba mengangguk setuju. "Bener. Nggak ada yang mau ngalah tuh kayaknya."
Hinata naik ke lantai atas, ia memilih untuk berdiam di kamar saja. Setidaknya, ia bisa bermain dengan tabletnya untuk menghibur diri. Sasuke masih asyik berkutat dengan benda berwarna silver didepannya, dengan Akamaru yang bermain bola karet milik Kiba.
"Eh, jam berapa sekarang?" Kiba mencolek bahu Sasuke, dan ia langsung memandang jam tangannya. Sakura dan Naruto masih ribut sedari tadi. "Jam setengah 7."sahutnya lalu memandang kembali layar didepannya.
"Oh…" Kiba mengangguk-angguk, lalu bangkit dari sofa dan pergi ke dapur untuk meminum sesuatu yang hangat. Ia membuka rak kayu antik diatas wastafel cuci piring, dan mencari-cari sebungkus teh hijau. Matanya menangkap sebuah botol tinggi, seperti wine dibagian paling dalam. Penasaran, ia mengambil botol itu dan menyadari bahwa itu adalah sake.
"Cuma sake. Aku tidak begitu suka, ah!" gerutunya sembari meletakkan kembali botol itu, dan mencari teh hijau. Akhirnya, setelah lama mencermati isi rak ia menemukan setoples bubuk teh hijau dan menyeduhnya. Yah, sepertinya keberuntungan masih berpihak padanya...
.
To Be Continue to Chapter 4~
