Something special about you

Chapter 3

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pair: GaaNaru

Warning!

Mengandung: unsur BL, Yaoi, Hal yang menyebalkan dan jika tidak suka sebaiknya jangan dibaca untuk menghindari konflik, dan lain sebagainya. (maaf kalau yang sudah bosan baca kalimat ini)

Intinya mah JANGAN BACA KALAU NGGAK SUKA…

-SELAMAT MEMBACA-

Takut… takut…

Dengan segala kekuatan yang kupunya, kudorong tubuhnya yang semakin menekan gerakanku. Kulihat dia terduduk bersandarkan tembok sambil menunduk mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. Tanpa pikir panjang aku berlari keluar kamar meninggalkannya. Segera aku berlari kearah wastafel dilantai bawah, kucuci bibirku berkali-kali.

Perasaanku bercampur…

Kesal, marah, kecewa!

Tak kupedulikan air yang membasuh bibirku mulai berwarna merah mengalir melewati tanganku.

"Aku pulang…"

Cuma itu yang kudengar dari arah luar tempatku membasuh wajah dan bibirku.

Rasanya shock…

Setelah kudengar pintu depan rumah ditutup, aku terduduk shock sambil meremas bajuku kuat-kuat.

Detak jantung yang kencang apa ini?

DRRRRTTT! DRRRRRTTT! DRRRTTT!

Handphone-ku bergetar. Dengan detak jantung yang masih terasa kencang dan tangan bergetar kuambil Handphone-ku dari saku celanaku.

"Hinata" menghubungiku.

'Sayang, bagaimana kabarmu? Aku kangen sekali padamu. Kamu makan dengan teratur kan? Ah… Besok aku ada waktu, bagaimana kalau kita bertemu?'

Begitulah isi SMS yang dia kirim.

Aku menghela nafas, kuputuskan untuk pergi dengannya. Lagipula aku juga sangat merindukannya, seminggu itu waktu yang lama jugakan?

Esoknya…

Aku dan Hinata berjanji bertemu di depan kampusnya, yang tempatnya lumayan jauh dari arah rumahku. Perlu dua kali naik kereta api untuk sampai saja, tapi semakin jauh semakin bagus deh…

Karena aku bisa jauh-jauh darinya.

Kau tahu siapa?

"JANGAN TANYA LAGI?!" teriakku dipinggir pohon depan kampus pacarku 'Hinata'.

Ah, aku terbawa pikiran, cepat-cepat aku menepuk-nepuk wajahku menyadarkan diri.

"S-sayang? K-kamu baik-baik saja?" tanya Hinata melihat gelagatku yang aneh.

"Baik…" Ucapku dengan ekspresi suram.

Hinata hanya tersenyum… Kuperhatikan dandanannya hari ini, manis seperti biasa. Anggun seperti biasa… cantik seperti biasa…

Aaaahhhh… Pacarku yang manis. Aku jadi lupa beban pikiranku kalau bertemu dengannya. Aku tersenyum memandangnya…

"Ada apa?" tanyanya bingung dengan tampang blushing.

Aih~ wajahnya yang memerah membuatnya semakin kelihatan menggemaskan…

"Mmm~ hanya saja kamu membuatku gemas." Jawabku langsung memeluknya dengan erat.

"Ahaha… Dasar Naruto." Ucap Hinata sambil balas memelukku.

Kangennya…

"Kamu manis sayang…"

Langsung kubuka mataku lebar-lebar saat kunikmati pelukanku dengan Hinata. Lalu dengan cepat kudorong Hinata reflek.

A-apa? Yang barusan itu apa? Kenapa suaranya sangat terdengar jelas dikepalaku? Ku letakan tanganku ke keningnku dengan tampang konyol.

"S-sayang. Kamu yakin baik-baik saja?"

"Eh? T-Tentu?! Ahahahaha… Aku baik-baik saja."

Hinata semakin memandangku khawatir melihatku tertawa garing.

Kuso! Kuso! Kenapa aku ingat orang itu disaat seperti ini?

Bahkan setelah kejadian seperti kemarin…

Harusnya aku hapus dari memory-ku. Kupijat-pijat keningku…

Ada yang aneh denganku.

Sesuatu telah berubah, terasa perubahan dari dalam intiku tanpa kusadari.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang dingin menempel dipipiku.

"Minuman untuk menenangkanmu." Senyum Hinata.

Aku hanya bisa meminta maaf padanya, kuraih dan kugenggam tangannya lalu kucium punggung tangannya dengan lembut. Membuat wajahnya menjadi blushing.

Kami berjalan tanpa tujuan berjam-jam, jangan salahkan aku karena itu.

Aku hanya belum bisa berpikir dengan jernih. Pikiranku entah berada dimana, rasanya benar-benar kosong.

Tetapi seharusnya hari ini jadi hari yang menyenangkan mengingat sebenarnya hari ini hari yang kutunggu-tunggu seminggu yang lalu. Lalu dengan entengnya kukacaukan seperti ini?

Kami bergandengan tangan tanpa kata, Hinata juga sepertinya tidak mau mengganggu dan menanyakan apa yang sedang kupikirkan. Dan akupun terlalu bingung dengan apa yang ada dalam isi pikiranku kalau seandainya Hinata bertanya. Jawaban apa yang akan kugunakan?

"…to."

"Naruto..?"

"Eh? Ya ada apa?"

Hinata mengernyitkan dahinya tanda heran.

Ah! Sial, aku ketahuan melamun.

"Temanku barusan menghubungiku dan bilang kalau hari ini ada jadwal tambahan. Dosennya tiba-tiba mengubah jadwal kuliahnya. Jadi aku tidak bisa lama-lama bersamamu. Maaf…"

Terlihat sangat jelas diwajahnya ekspresi menyesal karena tidak bisa menemaniku seharian sesuai janjinya.

Sebenarnya disini akulah yang harus menyesal, toh aku yang membuat hari kencan yang berharga kita jadi berasa hampa dan kosong.

Kukecup kening Hinata lalu kupeluk erat.

"Maaf aku mengacaukan hari ini…"

"Mmm~ aku senang kok hari ini bisa bersamamu." Senyumnya.

Ideal… Wanita ideal yang sempurna. Aku harusnya sudah merasa cukup dengannya… Dan aku memang merasa cukup. Tapi entah kenapa ada bagian yang menolak pikiranku yang seperti itu tentang Hinata.

Setelah kuantar sampai depan gerbangnya dan memastikannya untuk masuk keasramanya, akupun berbalik untuk pulang.

Sebenarnya apa yang kuinginkan? Apa yang kupikirkan? Apa yang berubah dariku?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus menerus berputar dalam pikiranku.

Langkah kakiku yang sedari tadi tak kuhentikan tiba-tiba berhenti didepan jalan dekat rumahku.

Kulihat dia ada disana…

Duduk melihat jam tangannya sambil bersandar didepan gerbang rumahku. Dia menggigit bibirnya sambil sesekali melihat kelangit. Enth kenapa aku merasa dia sedang gelisah menunggu sesuatu.

Kulihat jam di Handphone-ku…

Jam 3 sore…

Apa yang dilakukan Gaara jam segini didepan gerbang rumahku?

Ada rasa aku ingin mendekatinya, tapi mengingat kejadian kemarin. Kakiku menolak untuk mendekat, ingin kabur saat itu juga. Aku bingung…

Apa yang akan kulakukan?

Terus menunggu ditempatku berdiri searang sampa Gaara menyadari keberadaanku atau mendekatinya lalu mengacuhkannya dengan masuk rumah langsung? Atau pergi darii sini sampai dia pulang?

Aku belum memutuskan apapun, tapi ternyata dia sudah menyadari keberadaanku dan langsung berlari mendekati.

Aku belum siap bertemu dengannya. Kupaksakan untuk menghindarinya dengan berbalik arah dan berlari secepat mungkin.

Terlambat!

Dia sudah mengunci tubuhku dengan kedua lengannya , memelukku dengan lembut.

"Maaf… Maaf… Maaf…"

Suaranya terdengar bergetar, menyiratkan penyesalan yang sangat dalam.

Aku hanya terdiam. Berpikir jawaban apa yang akan kukatakan padanya. Entah kenapa ada rasa senang dalam sudut hatiku mengetahui Gaara menungguku untuk meminta maaf.

Rasanya pikiranku yang kacau tadi menghilang seiring dengan tetesan hujan yang turun membasahi tanah dan permintaan maaf dari Gaara. Aku tersenyum, rasa lega yang entah datang darimana membuatku semakin terjatuh kedalam sesuatu yang bukan semestinya.

Mungkinkah hatiku sedikit demi sedikit terseret dalam arus yang dibawa Gaara?

Aku masih belum mengetahui jawabannya.

Sebelum itu benar-benar terjadi, aku harus mengakhiri semua ini! Aku tidak mau menjadi seseorang yang menyakiti seorang gadis yang tulus mencintaiku dan terlebih dahulu kucintai.

"Sayang, hari ini kelihatannya kamu sedikit berbeda?" Ucap Hinata ditengah kencan kami. Semninggu telah berlalu setelah aku memutuskan untuk mengakahiri hubunganku dengan Gaara. Tapi…

DDDRRRRTTTT! DRRRRRTTT! DRRRTTTT!

"Ada SMS."

Kubuka SMS yang kuterima sambil meminum jus jeruk yang dari kudiamkan dimeja tempat dudukku dan Hinata.

"Kau ada dimana? Aku lagi ada ditoko buku yang ada didekat kampusmu."

"BRUUUSSSHHH…" reflek aku menyemburkan jus jeruk yang kuminum (untung nggak kena Hinata) setelah membaca isi SMS yang dikirim Gaara.

"N-naruto? A-ada apa sayang?" Hinata panik sambil mengeluarkan tissue dari dalam tasnya lalu menyeka jus jeruk yang ada dimulutku.

"Sayang, aku ada urusan sebentar. Nanti akan kuhubungi. Maaf…"

Aku berlari cepat-cepat sambil membawa jaketku dan tasku yang tak sempat kupakai dengan semestinya kearah kampus. Tak kupedulikan juga ekspresi wajah Hinata yang terheran-heran dengan kelakuanku akhir-akhir ini.

Dengan wajah berantakan, nafas tersengal-sengal, dan keringat bercucuran akhirnya aku tiba didekat gerbang kampus yang kebetulan Gaara baru saj keluar dari toko buku.

"Yo~" Sapaku dengan suara tertekan karena ngos-ngosan

Dengan tenang Gaara mendekatiku, ekspresinyapun seperti biasa datarnya. "Nggak perlu berlarian begitu untuk menemuiku kan?"

Dan aku baru sadar! Ada apa denganku?! Padahal seminggu lalu aku sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami!

"AAAAAAAARRRGGGHHH!" teriakku tanpa sadar dengan tampang shock.

Itu membuat Gaara tersenyum melihat tingkahku yang bodoh,"Dasar, seperti biasa. Kamu selalu bersemangat. Aku senang…"

Kuso! Kenapa malah aku yang terbawa arusnya sampai sejauh ini?

Dan itu terjadi hampir setiap hari di minggu akhir-akhir ini. Kupegang dadaku sambil berjalan beriringan dengan Gaara. Selama seminggu ini pula kami setiap hari pulang bersama dan sedikit mengobrol. Hanya sedikit, karena aku sebetulnya tidak tahu apa yang bisa kuobrolkan dengan orang dingin kayak dia.

Entah kenapa pula aku merasa nyaman dengan Gaara yang seperti itu. Aku sampai mengacuhkan waktuku bersama Hinata.

Aku benar-benar sudah selingkuh!

Menyadari itupun sepertinya sudah terlambat, aku hany bisa bolak balik berlari antar Hinata dan Gaara. Sepertinya aku sendiri yang akan merasa kelelahan karena ulahku sendiri.

"Aku sudah cukup sadar, kak?! Itu tak perlu dibicarakan lagi, aku akan membuat sisi busuknya dilihat orang-orang!"

Kaget…

Ditengah acara pulang bersama kami, aku dikagetkan ketika dia mulai mengangkat telepon dari kakaknya dan mulai berteriak memaki-maki seseorang. Jarang sekali dia seperti itu, aku hany bisa bengong melihatnya yang seperti itu. Lalu tiba-tiba dia mematikan teleponnya dan dengan tanpa ekspresi lagi meneruskan perjalanannya.

"A-ano…" dengan keberanian yang kupunya aku mencoba bertanya padanya.

"Kalau kau punya masalah, bisa kok bercerita padaku."

Ah… Kata-kata macam apa yang kugunakan ini? Apa ini artinya aku berusaha untuk ingin mengerti Gaara?

"Bukan apa-apa… jangan dipikirkan." Jawa Gaara datar.

Kesal rasanya… akukan juga ingin tahu dia kesal dan marah-marah kenapa? Nggak mungkin bukan apa-apa kan? Jelas sekali bukan "bukan apa-apa" kan?

Soalnya hal langka lihat Gaara yang seperti orang lagi mau bunuh orang gitu marahnya.

"Oh iya, Naruto…"

"Hm?"

"Aku ingin mengatakan hal penting padamu…"

Eh? Mengalihkan pembicaraan ya?

"Apa?" jawabku asal-asalan.

"Aku tipe orang yang pencemburu lho."

Aku langsung menatapnya dengan mata melebar.

"M-maksudnya?"

"Mudah cemburu…"

"Yo… Gaara."

Tiba-tiba ada yang menghentikan pembicaraan diantara kami. Orang aneh itu dengan wajar dan sok akrab mendekati Gaara. Yang bersangkutan membalas dengan ekspresi yang diluar dugaanku. Tersenyum dan kelihatan seperti sedang bersama orang yang benar-benar dekat.

Cih, apa maksudnya itu?

Beda sekali ekspresinya ketika denganku! Entah kenapa aku bisa begitu merasa kesal melihat mereka…

"Ah, kenalkan… Dia Naruto. Pacarku." Ucap Gaara memperkenalkanku.

Aku tersenyum pada orang yang dikenalkan Gaara padaku. Namanya Deidara, teman dari kakaknya yang katanya sering kerumah Gaara sehingga mereka menjadi Akrab.

-3 hari kemudian-

"Yo~ Naruto…" sapa seseorang padaku ketika aku keluar dari gerbang kampusku.

"Deidara-san?"

" Ada yang ingin aku bicarakan padamu."

"Heh?"

Dengan Gaya SKSD-nya ini nggak heran membuat Gaara bisa akrab dengan orang ini pikirku. Sepertinya ini adalah awal dari masalah ketika aku merasa aku mulai dekat dengan Gaara…

"Begitulah… Bagaimana menurutmu?" ucap Deidara-san sambil memain-mainkan sedotan dalam gelas minuman dimeja kafe dekat kampusku.

"Mungkin Deidara-san harus lebih jujur dan mengatakan apa yang diinginkan padanya. Agar tidak terjadi salah paham. Itu menurutku."

Curhat langsung nih… padahal baru kenal juga.

"Begitu ya? Baiklah, terima kasih atas saranmu. Akan kucoba. Jadi, Naruto… aku pamit dulu ya."

Pamitnya lalu pergi setelah membayarkan pesanan kami. Orang yang sedang jatuh cinta sih ya…

Manisnya… aku tersenyum memandang punggung Deidara-san.

Kebetulan HP-ku berbunyi lalu segera kuangkat sambil berjalan keluar dari kafe.

"Ah… Gaara, aku sedang ada di kafe dekat kampus… Kenapa? Masih ada jam belajar tambahan? Iya nggak apa-apa." Telepon kututup. Aku tersenyum memandag panggilan masuk yang baru saja aku angkat.

T-tunggu!

Kenapa aku jadi kayak orang gila gini… buru-buru aku pergi kearah yang biasanya kugunakan untuk berjalan pulang.

Perasaanku mulai nggak enak, terasa seperti ada seseorang yang mengikutiku dari belakang. Kupercepat langkah kaki dengan perasaaan cemas. Lalu aku memberhentikan kakiku dan mencoba untuk menengok kebelakang. Tidak ada siapa-siapa disana…

Dengan perasaan berdebar-debar aku langsung meneruskan perjalanan pulangku.

Tiba-tiba sebuah tangan mencengkram tanganku dengan kuat dari arah belakang sambil mendorongku kearah tembok jalan.

"Ugh!"

Aku tidak bisa melihat siapa yang melakukan ini padaku. Yang kurasakan hanya aura kemarahan yang sangat mendalam dan aura yang nggak segan-segan untuk membunuh yang ditujukan padaku.

Aku merasa takut…

Ya Tuhan, kenapa semua ini terjadi padaku?

"Apa hubunganmu dengan Deidara?"

Suaranya yang dibuat berat membuat darahku berdesir kuat, rasa takut mulai menyelubungiku, aku mulai berkeringat dingin.

"Jawab!" Bentaknya.

"A-aku hanya temannya…"

Cengkramannya pada tanganku semakin kuat membuatku semakin ketakutan.

"Katakan yang sejujurnya!"

Bahaya…

Aku benar-benar merasa dalam bahaya…

TBC

Sekali lagi terima kasih yang sudah mau membaca ceritaku sampai chapter ini… cerita yang semakin nggak jelas sepertinya. Padahal kukira bakal cepat-cepat berakhir, tapi otakku masih nggak mau berhenti untuk memproduksi naskah cerita ini.*malah curhat*

Tapi aku akan mencoba untuk secepatnya menyelesaikannya…

Untuk yang merequest Gaara POV, sepertinya aku benar-benar nggak tau apa yang dipikirkan Gaara. Soalnya ini cerita yang diambil dari kisah nyata seseorang yang kumodifikasi sedikit agak berbeda. Dan ceritanya hanya dari 1 narasumber. Bahkan dia sendiri nggak tahu pikiran yang jadi pacarnya sendiri.*dzig* hontou ni gomenasai… *menunduk*

Sampai jumpa dichapter selanjutnya…