Title : Someone Like You

Genre :Drama/Romance

Pair : HaeHyuk

Disclaimer : This story line © Akira Yuuki. The cast belong to themselves. And Someone Like You © Adele.

Warning : Boy x Boy. Suck storyline, may be boring plot, Many Typos

.

.

.

CHAPTER 3

.

.

.

Sosok namja memandang nanar jendela kaca yang terpasang indah di kamar tempatnya berada saat ini. Berbagai pikiran membebaninya saat ini. Dan itu membuatnya larut dalam alam imajinernya. Mengabaikan keadaan sekitar.

Sementara di ambang pintu. Sosok lain berambut brunette menatapnya dengan hawatir. Ada hal yang mengganggu pikiran sahabatnya. Dan ia merasa wajib untuk membantunya.

Perlahan dihampirinya sosok yang sedang termenung di atas kasur empuk itu. Meskipun arah pandangnya menembus kaca, tapi dapat terlihat dengan jelas jika di manic indah itu hanya ada kekosongan.

"Hyukkie…" Panggilnya lembut. Perlahan diguncangnya bahu namja yang menjadi bagian dari kehidupannya itu. Dan hal itu membuat sosok blonde dihadapannya terkejut.

"Ah! Kau mengagetkanku…" Ucapnya seraya mengelus dada kirinya yang berdetak kencang.

"Wae? Aku melihatmu sedang melamun. Apa ada masalah?" Tanya namja bernama Donghae itu dengan raut serius. Ia memang selalu bersikap kekanakan di depan Hyukjae, atau kadang dia terkesan cuek dan cool dihadapan para penggemarnya. Namun jika menyangkut sang sahabat, ia bisa lebih dari serius.

"Aniya… jangan hawatir Hae. Tidak ada apa-apa…"

"Bohong!" Potong Donghae cepat. Ia hapal benar karakter sahabatnya itu. Dan dia tak akan membiarkan Hyukjae kesayangannya ini menyimpan masalah sendiri. "Katakan padaku…" Perintahnya.

"Ini belum saatnya kau tahu…" Hyukjae masih keras kepala. Tentu ia tak mungkin mengatakan secara gamblang pada Donghae jika yang menjadi beban pikirannya saat ini adalah dirinya.

Benar, Hyukjae sedang dirundung dilemma saat ia meng-iya-kan permintaan Yoona—untuk membantu mendekati Donghae—.

"Mengapa begitu? Tak biasanya kau menyembunyikan sesuatu dariku Hyukkie…"

"Aku tak bisa mengatakannya Hae. Aku sudah terlanjur berjanji…"

"Berjanji?" Tanya Donghae sangsi.

"Walau aku tidak mengatakannya secara langsung. Tapi aku yakin dia juga tidak akan mengizinkanku mengatakannya padamu…" Hyukjae menunduk sekilas. Perasaannya semakin tak menentu.

Setiap ia berusaha meyakinkan diri untuk membantu Yoona, saat itu pula hatinya mengatakan lain. Terlebih perhatian yang Donghae berikan padanya, membuatnya merasa tak rela jika harus membiarkan sahabatnya jauh darinya.

Namun, disisi lain. Ia memaki dirinya yang sangat egois. Ia hanya ingin mendapatkan perhatian dan waktu Donghae hanya untuknya. Dan ia takut setelah Donghae dekat dengan Yoona. Kebersamaan mereka tidak akan sama lagi.

Itulah yang membebani pikirannya. Antara menuruti ego dan membatalkan perjanjian dengan Yoona. Atau memenuhi janjinya dengan perasaan takut yang menghantui. 'Ottokhe?' Batin Hyukjae.

"Huft… baiklah Hyukkie. Aku akan menunggu sampai kau mau cerita. Sekarang tidurlah." Ucap Donghae dengan menepuk pelan kepala Hyukjae. Hal yang biasa ia lakukan, namun terasa sangat menyenangkan saat ini. Entahlah.

"Jangan terlalu dipikirkan. Istirahatlah dulu…" Donghae segera memaksa Hyukjae berbaring di atas kasurnya. Dan saat ia selesai menyamankan selimut Hyukjae dan berniat mengambil tempat di kasur seberang Hyukjae. Sebuah tangan menggenggam lengannya kuat. Mencagahnya untuk pergi dari sana.

"Wae?" Tanya Donghae heran.

"Tidurlah bersamaku… aku…" Ucap Hyukjae pelan. Wajahnya dipenuhi semburat merah yang tersamarkan oleh gelapnya ruangan. Namun sama sekali tak berhasil mengelabuhi penglihatan Donghae.

Dengan senyum yang merekah di bibirnya. Donghae segera menyibak selimut Hyukjae. Menyamankan dirinya sebelum akhirnya memeluk erat tubuh sahabatnya.

"Arra… cepat tidur…"

Dan tanpa banyak bicara, keduanya telah terlelap dalam balutan mimpi. Kedekatan keduanya terasa berbeda. Itulah yang mereka rasakan saat ini. Terasa lebih hangat dan nyaman dalam dekapan satu sama lain.

Dan… manis. Rasanya manis karena dapat menghirup aroma yang menguar dari tubuh satu sama lain. Dan yang mereka belum sadari, keberadaan keduanya bukan karena saling membutuhkan. Tapi saling mengisi dan melengkapi.

.

.

.

"Donghae oppa!" Sapa suara ceria dari ujung koridor. Sosok yang belakangan ini sangat dikenal oleh namja tampan itu semakin mendekat. Sementara sang empunya hanya bisa mendengus pasrah.

Bukan karena ia membenci yeoja itu. Hanya saja, ia merasa muak dengannya. Karena setiap ada yeoja tersebut, sahabatnya pasti akan bertingkah aneh dan pergi meninggalkannya.

"Ah… sepertinya aku harus pergi Hae-ah. Aku tak mau mengganggu waktumu dengannya." Ucapnya sebelum beranjak dari tempat itu. Tak lupa ia merapikan kotak makan yang telah selesai ia habiskan.

"Tunggu!" Cegah Donghae, ia menggenggam erat lengan Hyukjae yang hendak pergi. "Kau tetap disini. Dan tidak ada kata 'tidak'." Katanya.

Pasrah. Hyukjae mengikuti kemauan Donghae dan kembali duduk disebelah sahabatnya itu.

"Oppa… bisa kita makan bersama?" Tanya yeoja cantik bernama Yoona itu dengan diselingi senyuman hangat. Namun tatapannya berubah saat ia melihat Hyukjae yang duduk disebelah Donghae.

Mengetahui arah pandang Yoona, Donghae segera menjawab dengan nada datar yang biasa ia ucapkan saat sedang dalam mood tak baik. "Aku sudah makan dengan Hyukkie."

"Ah… gwenchana…" Balas Yoona pelan. Lalu tanpa sepatah katapun ia pergi dari tempat itu. Meninggalkan Donghae yang tersenyum senang dan tatapan tak percaya dari Hyukjae.

Setelah sosok Yoona benar-benar menghilang, Hyukjae segera menyenggol bahu Donghae. Ditatapnya sahabatnya itu dengan seksama, seolah mencari sebuah jawaban atas tindakan bodoh sahabatnya. "Wae?" Hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya.

"Hm? Apanya yang wae?" Tanya Donghae bingung.

"Kau…" Tunjuk Hyukjae pada Donghae yang menatapnya bingung. "Kenapa kau menyia-nyiakan kesempatan makan bersama gadis secantik Yoona-sshi?" Lanjutnya.

"Aku tak suka dengan yeoja itu. Dan walau dulu kita pernah kenal, tapi aku tidak suka padanya. Dia dulu polos dan lugu, tapi sekarang terkesan genit, aku tak suka." Katanya lugas. Hyukjae hanya memandang aneh sahabatnya itu.

"Kau ini memang tak waras atau bagaimana sih? Dulu kau dan Jessica putus karena alasan tak jelas, sekarang ada yeoja yang jelas-jelas suka denganmu malah kau bersikap cuek. Aish!" Gerutu Hyukjae.

"Hey! Aku putus dengannya karena dia yang mau. Lagipula dia bilang kalau aku tidak benar-benar mencintainya. Dan itu benar."

"Kau tak mencintainya?"

"Tidak terlalu cinta… hanya sedikit cinta. Dan dia bilang kemungkinan karena aku…" Donghae menjadi ragu, haruskah ia mengatakan apa yang Jessica katakan padanya? 'Itu sama sekali tidak lucu. Dihadapanku ada 'dia'!' batinnya.

"Karena apa?" Tanya Hyukjae penasaran. Ia tanpa sadar mendekatkan wajahnya pada Donghae, membuat sang sahabat semakin sulit untuk mengeluarkan kata-kata yang sudah ada di ujung lidahnya.

"Ka-karena… ak-aku… gay."

"Oh… jadi hanya karena kau Ga—Apa?" Hyukjae segera menutup mulutnya tak percaya, mata almond shape nya membulat lucu. Membuat Donghae dilanda dilemma, antara ingin tertawa dan takut sahabatnya akan membencinya.

"Kata Sicca, aku gay untukmu."

'Blush~'

Wajah Donghae memerah, begitu pula wajah Hyukjae. Karena tanpa sadar ia juga mengingat Jessica pernah menyebut dirinya sebagai orang yang—mungkin—dicintai Donghae.

"Di-dia bilang begitu?"

Donghae hanya bisa menunduk dan mengangguk mengiyakan. Ia tak berani menatap sahabatnya itu. Dia takut Hyukjae akan marah bahkan membencinya.

"Dia… juga pernah bilang begitu padaku." Jawaban lirih Hyukjae mampu membuat Donghae mengalihkan pandangannya pada namja blonde itu. Disana sang sahabat tengah menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menyembunyikan wajah merahnya yang sudah seperti buah favoritnya.

"Jinja?"

"Ne…"

"Kau tak pernah bilang!" Seru Donghae.

"Aku malu mengatakannya. Pabbo…"

"Aish… dia gadis yang aneh… tapi mungkin benar juga apa yang dia katakan."

"Hah?" Hyukjae memandang Donghae dengan mata membulat dan jantung yang berdetak tak karuan.

"Kurasa aku memang gay. Tapi aku juga belum yakin. Karena aku memang tak suka dengan gadis-gadis centil itu. Aku lebih nyaman denganmu Hyukkie." Ucap Donghae. "Kumohon jangan benci aku." Tambahnya lirih.

"Ani! Aku juga nyaman bersamamu… jadi aku tak mungkin membencimu." Ucapnya tegas. "Sudahlah… kita tak perlu pedulikan apa kita gay atau bukan, kita nikmati saja waktu kita bersama. Asal bahagia, itu sudah cukup kan?" Ucap Hyukjae sambil memeluk Donghae dari samping.

Dan sebagai balasan, Donghae mengecup pipi kenyal Hyukjae dan tertawa bersama. Tentu, memang akan lebih baik jika tak terlalu peduli dengan gay atau tidak, karena mereka sama-sama tak mengerti isi hati mereka saat ini.

Biarlah seperti ini, selalu bersama dan tak terpisahkan. Biarkan perasaan itu mengalir, walau belum tahu cinta atau bukan, selama bisa bersama orang yang berharga bagi mereka—untuk saat ini—cukup.

.

.

.

_TBC_

Nah, karena saya sudah tak dapat ide untuk FF ini jadi saya berhentikan disini. Mian jika hasilnya sangat buruk, tapi memang sih saya sedang banyak pikiran—sok iya. Kalau udah ada ide bakal dilanjut, tapi kalau memang tak ada ide terpaksa saya bikin cerita baru—plak. Mian jika saya orang paling tak bertanggung jawab, tapi setidaknya, saya akan lanjutkan FF totally captivated. Ini sampai disini dulu, bakal saya usahain dapat ide deh… kalo ada

Thanks n Sorry for :

dhian kyuhae elf

Dyna

ressijewelll

Kim Ryu Min

nyukkunyuk

Cho Miku

PumpkinKyu

AnchovyIsMine

YeWookBaby a.k.a SMD

Lee Minmi

Chwyn

Anchofishy

dhian kyuhae elf

Mian tidak saya balas 1 per 1, tapi terima kasih atas semua dukungan dan juga semua doa dari kalian. Hanya dengan satu kata saja dari kalian sangat berarti bagi saya. Saya tetap akan kembali jika ide sudah kembali