A/N: Mianhae readerdeul.. Ini adalah murni kesalahan author. Ada beberapa istilah yang harusnya Inchan jelasin diakhir cerita tapi malah enggak ditulis . Di akhir chapter ini, bakalan aku tulis istilah-istilah yang mungkin kalian nggak tau atau hanya sekadar info tambahan saja. Oia, di chapter2 sebelum ini, waktu saya lihat lagi ternyata dikit banget ya jadinya? hahaHahaha mianhae, ide mepet nih XD
Nah sekarang waktunya bales rivew!
Fitria JungsooholiCamomile: sip! nih udah update XD
SuMaYeol: gomawo chingu ^^ ni lanjutannya
Minnie Chagiy4: sip! ini dah tak banyakin kangteuknya. untuk kyumin mungkin agak susah soalnya ini povnya teuki. mosok ortu umbar kemesraan didepan anaknya? nggak lucu doong.. hehe
shin young rin : DING DONG! Seratus buat kamu, seratus ribu buat aku #plak. Maksudku, emang ide automail dr FMA. hehe..
Sayu: haha, ini otak author kadang2 ber-ide fairy ataupun sci-fi gini. tp romannya tetep ada doong. saya kan cewek tulen *apa hubungannya?*
Akai Vieh Kawaii : ne ne XD gomawo
HyukAimimi fishy : hahha, makasih karena udah terharu. author aja mbaca ini malah ngakak *reader: sarap lu thor! | author: ya biar!* ni udah update, mian kalo nggak terlalu kilat ^^
park lyna : sip! Ini udah dilajutiin
Sarilovesteukie : hehe, aku lupa masukin di warningnya klo ini ff OOC banget sebanget bangetnya *reader: aish lebay lu, thor*
Nikwon: Penasaran? bener penasaran? Kita lanjutkan setelah yang satu ini. Jamaah! ooh, jamaah! #geplaked hehe, itu ada bbrp masalalu Kangin yang bakalan makin terungkap. keep riding #plak keep reading yaa XD
Chapter sebelumnya…
"K-kangin, apa yang..," belum selesai aku bicara, dia mengalihkan pandanganku ke dalam matanya yang sipit itu. Terlihat ada yang beda antara mata kanan dan kirinya. Diturunkannya kedua tanganku yang sejak adegan 'cium cincin' tadi terjadi masih dalam genggamannya. Tangan kananku yang di jari tengahnya tersemat cincin berwarna sapphire blue mengelus pelan pipinya.
Didalam wajah ini, tersimpan ekspresi yang misterius. Didalam mata kirinya yang berwarna sedikit hijau itu, tersimpan keajaiban ilmu mekanik appa dan timnya. Didalam mata kanannya yag hitam itu terlihat kepekatan masa lalu yang tak semua orang boleh mengerti alurnya.
Kuelus sayang pipi kanannya. Mengingat cerita appa tadi tentang namja ini membuat pikiranku terhadapnya sedikit berubah. Sedikit. Berubah.
"Chagi, sedang apa kau?" tanya umma saat mataku semakin penasaran dengan apa yang ada didalam mata kirinya itu.
Kelabakan aku melepas pipi Kangin yang sedari tadi kutakup dengan tanganku. Pipiku memerah sednagkan Kangin ah hanya memandang tanpa ekspresi pad aumma.
"Ani, umma. Aku hanya penasaran dengan matanya," ujarku jujur.
"Oh, ya sudah. Sebaiknya kalian segera bersiap karena hari ini appa akan membawa kalian berdua ke labolatoriumnya," ujar umma sambil menutup pintu kamarku.
Ke labolatorium appa? Untuk apa?
Inchan aka. Inchangel aka. Jung ChungHee
~Proudly present~
GUARDIAN & ANGEL
(Chapter 3)
.oOo.
Mobil appa membawa kami berempat menuju sebuah tempat ditengah kota yang merupakan tempat kerja appa. Labolatorium apalah itu aku tak mengerti. Yang jelas disanalah tempat appa, sebagai ketua dari timnya yang sejauh ini kuketahui namanya "Genetic Aranging Team" atau GAT. AKu tahu soal tim itu juga karena di jas labolarotium, jaket, tas, topi, hingga kaus yang saat ini appa gunakan terbordir nama itu, GAT.
"Ne, disinilah Kangin ah mendapatkan 'pendidikan' selama 2 tahun ini. Yak an, Kangin ah?" ujar appa pada Kangin yang duduk disebelahku. Dia menjawab hanya dengan anggukan yang entah apakah appa mengetahuinya atau tidak.
Kami berhenti didepan gedung putih yang sepertinya memiliki 7 lantai. Disini tidak rindang karena tanaman-tanaman yan ada tidak terlalu besar. Mungkin baru saja ditanam, sekitar setahun yang lalu mungkin?
Appa keluar dari mobil, disusul umma. Aku ditarik oleh Kangin agar keluar bersamanya dari pintu sebelah kanan, tempat ia duduk di kursi belakang bersamaku selama perjalanan tadi.
Deg deg.
Mengapa aku canggung? Apa karena tadi secara tak sengaja aku menyentuh pipnya? Karena aku memandang matanya? Karena aku dipergoki umma tengah mendekatkan diri padanya? Karena dia adalah namja?
"Umma, apakah aku juga harus masuk?" tanyaku saat Kangin dan appa sudah masuk duluan. Terlihat sekali appa sangat menyayangi Kangin. Sejak dulu appa ingin sekali memiliki seorang anak namja, namun umma selalu saja keguguran sehingga pupus sudah harapan appa memberiku adik namja.
"Tentu saja, chagi. Ini masalah kalian berdua," ucap umma sambil menarik lenganku. Aku nurut aja deh..
Kulewati pintu kaca yang terlihat modern itu. Didalamnya terlihat banyak orang yang berhilir mudik. Mereka semua terlihat sibuk sekali. Apakah karena ini adalah labolatorium penelitian milik pemerintah sehingga pekerjaan mereka begitu bertumpuk? Entah, itu hanya pikiran gilaku.
Seorang yeoja yang manis datang menghampiri appa. Dia berambut sebahu dengan bando putih yang menahan poninya agar tak tergerai. Atau dia memang tak berponi?
Kacamata besar seperti milik perenang itu menutupi mata jernih yeoja itu. Ia menjabat tangan appa dengan penuh kehormatan. Memperlihatkan sebuah papan kerja yang terselip banyak kertas dan dapat kuintip sedikit isinya seperti grafik-grafik seperti itu.
"Teuki ah, perkenalkan ini Wookie. Dia asisten pribadi appa disini. Dia pula lah yang menjadi pengawas perkembangan kesehatan Kangin ah selama di'latih' disini," ucap appa memperkenalkan yeoja itu padaku.
"Annyeong, Teuki ah," sapanya hormat
"Annyeong," jawabku.
.oOo.
"Zhoumi! Berikan laporan perkembangan cyborg 3156!" ucap appa sambil memakai jas labolatoriumnya. Aku hanya disuruh berdiri diruang samping tempat asisten appa dan Kangin. He? Sedang apa Kangin didalam sana? Apa jangan-jangan…
Ruangan yang akan dimasuki appa itu sepertinya adalah ruang periksa. Warnanya putih semua, aku sangat menyukainya. Tubuh Kangin dibaringkan dan ia hanya menurut kata yeoja asisten appa yang bernama Wookie itu.
Kangin menoleh kearahku. Aku kelabakan lagi, ketahuan sedang melihatnya.
"Chagi, masuklah," ucap umma sambil mendorongku menuju pintu yang sebelumnya dimasuki oleh appa.
"Untuk apa?"
"Pemeriksaan kali ini adalah untuk mengikat Kangin dengan dirimu," ucap appa tanpa menoleh kearahku.
'mengikat'? Kesannya seperti pernikahan saja..
.oOo.
Dengan perlahan aku duduk di sebelah Kangin yang sedang berbaring. Tempat untuk kami berbaring ada 2, satu untuknya dan satu lagi untukku. Kangin terlihat santai sekali dengan kaus hijau membalut tubuh bagian atasnya dan celana hitam di kakinya. Wajahnya? Datar seperti biasa.
"Nona, berbaringlah. Tak perlu takut," ujarnya sambil masih memejamkan matanya.
"Ne, aku akan berbaring,"
Setelah membenarkan bajuku, aku mulai berbaring mengambil posisi senyaman mungkin. Kukerlingkan manic mataku kearah kanan, kearah Kangin.
Wajah itu, wajah dengan tanpa ekspresi yang belum ada satu hari sejak pertemuan pertama kami. Wajah yang menyimpan ekspresi sesungguhnya dari seorang Kangin yang jelas-jelas belum aku ketahui.
Tangannya, kekar. Kanan dan kiri, terlihat sekali bahwa ia sangat kuat. Dibalik kulit pucat lengannya itu terpatri logam outomail yang kekuatannya tidak bisa diremehkan lagi.
"Leeteuk, perhatikan lampu diatasmu," ujar sebuah suara yang kuyakini adalah suara Zhoumi ahjussi.
Kulihat lampu itu. Berwarna putih yang sangat menycolok. Hanya satu namun membuatku tertarik kedalamnya. Mengapa sangat nyaman? Seperti, aku sudah pernah merasakannya. Suatu perasaan rindu akan kehangatan dekapan seorang ibu saat masih balita dulu.
"Baik, terima kasih Leeteuk-ssi. Kau bisa keluar dari ruangan ini," ujar Zhoumi ahjussi. Aku bangun dan mencuri pandang kearah Kangin. Apa-apaan ini?
"Kangin! Kau kenapa?" tanyaku panik. Bagaimana tidak? Kabel-kabel berserakan keluar dari lengan kirinya, tempat automail yang membutuhkan waktu setahun untuk memasangnya didalam tubuh Kangin.
"Gwenchana. Ini hanyalah pemeriksaan berkala. Namun kata Zhoumi, ini adalah pemeriksaan terakhirku disini sehingga harus diteliti hingga bagian terkecilnya," ujar Kangin yang tahu kekagetanku. Ia memandangku.
"Err, baiklah…," aku mulai bangkit dari tempat berbaringku. Sedikit heran, apa yang barusaja dilakukan mereka padaku dan Kangin?
.oOo.
"Jadi, pemeriksaan tadi dilakukan untuk memastikan Kangin siap menjadi bodyguardmu atau tidak. Kekuatan tangannya sedikit dikecilkan karena kekuatan normalnya kami rasa terlalu besar. Lalu untuk matanya, kami memberi focus yang lebih tajam. Kekuatannya pandangannya lebih jauh, hingga 2 kilometer dan kejelasan pandangan serta data yang diperoleh menjadi 3 kali lebih lengkap," ujar Zhoumi melaporkan padaku dan umma serta appa. Appa manggut-manggut mengerti. Umma tersenyum senang. Aku menggeleng. Tak paham!
"Untuk apa itu semua? Ayolah, aku hanya sedang dikejar penculik biasa. Tidak ada yang spesial dari diriku. Aku hanya yeoja anak dari ketua GAT, tim pengutak-atik gen milik pemerintah untuk urusan kenegaraan yang keberadaannya hanya diketahui pemerintah dan kepolisian! Aku tak butuh pengawalan secanggih itu," ucapku sarkastis. Benar kan yang aku katakana? Bahkan seorang menteri yang dilindungi bodyguarg saja tak seekstrim ini.
"Leeteuk-ssi. Siapa bilang kau anak biasa? Kau..,"
"Justru karena kau adalah anakku!" kata-kata Zhooumi ahjussi dipotong oleh appa dengan sedikit membentak. Sepertinya appa benar-benar sudah tak tahan dengan sikapku. Ya bagaimana lagi? Aku benar-benar tak biasa dengan segala kecanggihan yang ditawarkan ahjussi dan appa itu. Kangin..
"Justru karena kau adalah anakku makanya kau harus dilindungi dengan sangat ketat. Appa adalah ketua dari tim yang dirahasiakan. Mengapa dirahasiakan? Karena sesungguhnya tim ini tak boleh ada," ucap appa.
"Kyuhyun!" tegas Zhoumi ahjussi. Sepertinya ahjussi memang dekat dengan appa, ia memanggi appa langsung dengan namanya. Tak seperti yang lainnya memanggil appa dengan nama Ketua Cho.
"Untuk apa disembunyikan? Memang begitu kenyataannya," ujar appa santai. Sepertinya appa memang ada rencana membeberkan sesuatu agar aku mau menerima tawarannya itu.
Belum juga appa menjelaskan, Kangin masuk kedalam ruangan dimana kami berdiskusi saat ini. Mataku terpana melihatnya. Ia mengenakan kaus putih yang dibalut kemeja putih bergaris biru. Celananya kain putih yang membentuk kakinya itu. Rambutnya, entah ia menatanya seperti itu atau tidak tapi terlihat rapi sekali meskipun ada beberapa yang tak rapi. (kalau nggak dong, liat Kangin yang di MV Cooking Cooking. Aku paling naksir Kangin yang disituu XD)
Ia duduk disebelahku. Wajahnya terlihat lebih berekspresi sekarang. Ekspresi, senang.
"Kau sudah selesai?" tanyaku peduli. Hei! Aku memang peduli padanya!
"Ne, nona," jawabnya singkat namun dengan senyum tipis menyungging di ujung bibirnya. Sangat tipis hingga bila tak memperhatikan dengan seksama pasti tak akan menyadarinya. Aku? Aku memang suka sekali memperhatikan wajah orang yang kuajak bicara.
"Kangin ah! Ayo sekarang kita lakukan penggabungannya,"
Apa? Penggabungan? Apa maksud perkataan Zhoumi ahjussi ini? Sepertinya ia senang sekali berbicara hingga beberapa kata-katanya tak dapat kupahami.
"Sekarang? Baiklah," ujarnya sambil mulai menggenggam tanganku yang tersemat cincin pemberiannya. Dengan perlahan ia melepaskan cincin itu, seakan-akan jariku sangat rapuh bila ia sedikit lebih kuat dari yang dilakukannya sekarang. Namun aku bisa merasakan aliran udara yang menggelitik jari manisku saat cincin itu raib dari jariku.
Terasa romantic huh? Tentu, karena itulah keahlianku, hiperbola!
Sebenarnya Kangin hanya mengambil cincin dari jariku yang kurus ini dengan sedikit paksa. Mungkin ingin cepat-cepat. Ekspresi senang yang tadi aku cantumkan sebenarnya hanya khayalanku saja. Cih, aku ini kenapa? (Elo mulai suka ma Kangin, Teuki chagii *digampar angels*)
"Lakukan!" teriak Zhoumi ahjussi.
Kangin mulai meneteskan sesuatu berwarna kemerahan dari sebuah pipet ke mata cincin itu. Selanjutnya, ia mengiris telunjuk kanannya sendiri dengan pisau yang tersembunyi di jari manis lengan automailnya.
DEG!
Jantungku terasa sakit sekali. Entah apa yang sedang terjadi pada tubuhku saat ini tapi rasanya panas, pusing dan lemas sekali. Aku…
.oOo.
Kubuka mataku. Berat sekali. Rasanya seperti beribu batu menimpuk indah diatas ubun-ubun kepalaku.
"Kalau kau sudah bisa duduk, duduklah sendiri. Kepalamu itu berat tahu," ujar seseorang yang suaranya aku sedikit kenal… er.. KANGIN?
Aku kelabakan (lagi) karenanya. Kududkkan badanku dengan sedikit tidak elit. Celana panjangku kurapikan dan poniku kusisir dengan jari, sedikit merapikan dan menutupi rasa malu ku (awalnya mau nulis "menutupi ke-malu-anku" tapi kok rasanya bukan rated T lagi ya? Hehhe *digaplok missal*)
"Mengapa aku pingsan?" tanyaku padanya. Tapi wajahnya terlihat tidak suka, dia hanya memicingkan pandangannya di ujung ekor matanya. Lalu menghadap depan lagi.
"Lihatlah ke cermin!" perintahnya.
"Hei, aku ini nona-mu! Mengapa kau perintah-perintah aku?"
"Sudah lihat saja!" bentaknya. Ish, menyebalkan sekali!
Aku mulai mengambil langkah menuju cermin yang sedang ditatap Kangin. Tidak ada apa-apa. Hanya aku dan Kangin yang ter reflek disana karena diruangan itu memang hanya ada aku dan Kangin.
"apa maksudmu? Tidak ada apa-apa…,"
"Buka bajumu,"
"MWO? Kupikir kau itu lelaki dewasa! Ternyata kau yadong! Pervert!" ucapku berteriak sambil mengambil posisi "cross hand" di depan dada untuk menunjukkan ekspresi 'aku nggak mau!'
"Babo! Maksudku lihat lambing yang ada didadamu itu!" ucapnya sambil menunduk. Semburat merah kulihat di pipinya. Ah, dia marah..
"Mian, akan ku cek lagi,"
Kubuka kerah polo shirtku. Satu persatu dari ketiga kancing itu sudah terlepas dari ikatannya. Kutarik dan terpampang pundakku. Kulihat apakah ada yang aneh atau tidak. Oh, ada. Ada sebuah tato bergambar sayap disana.
APA? TATO?
"Ya, Kangin! Apa-apaan inI? Kenapa ada tato gambar beginian disini?" tanyaku sambil memamerkan bahuku yang ada tato sayap aneh itu.
"Itu adalah lambang kita,"
"Lambang… kita?"
"Iya. Itu adalah lambang bahwa kita terikat perjanjian. Aku tak bisa berkhianat dan berbalik menyerangmu. Sejak tato itu terukir di bahu kirimu dan di bahu kananku, kita telah terikat. Aku telah secara resmi, sah secara hukum Negara menjadi bodyguard pribadimu," ujar Kangin.
"Dan cincin itu. Seperti perjanjian awal, bila kau membutuhkanku cukup panggil namaku sambil memegang cincin itu. Didalamnya sudah ada pelacak yang aku beri data DNAmu dan DNAku. Contohnya sekarang. Bila kau memanggil namaku sambil menyentuh cincin itu, maka dari retinaku ini akan terpampang data tentang keberadaanmu. Kondisimu, lokasimu, lokasi sekitarmu, jarak dari aku berdiri hingga tempatmu berada saat ini," lanjut Kangin.
"Lalu anting-anting itu," lanjutnya. Aku yang seperti dihipnotis menyentuh kedua daun telingaku dan menoleh kearah cermin kembali.
"Cantik," komentarku terhadap berlian yang terpasang indah dikedua telingaku. Hei, apakah orang-orang GAT sebegitu sukanya dengan permata dan perhiasan-perhiasan seperti itu?"
"Bukannya suka. Kami hanya menyesuaikan keadaanmu yang seorang yeoja. Aneh kan kalau kau memakai peralatan-peralatan canggih itu dalam bentuk lain selain perhiasan?" tanyanya yang sepertinya tak perlu aku jawab sebab dia langsung melenggang pergi dari ruangan itu. Meninggalkan aku yang masih terbengong-bengong 'bagaimana dia bisa tahu yang aku pikirkan?'
"Hei Kangin! Berhenti kau!" panggilku padanya yang sudah berjarak sekitar 10 meter di lorong luar ruangan tadi. Ia berhenti. Aku mulai lari untuk mengejar ketertinggalanku.
"Hooh, haoh, haish," ucapku tak karuan karena berusaha bicara sambil mengisi oksigen sebanyak-banyaknya didalam paru-paruku ini.
"Ya! Baru lari segitu aja udah ngos-ngosan. Gimana kalu mau ini," ucapnya sambil memegang daguku dan mulai mendekatkan wajahnya padakau. Aku sadar apa yang akan dia lakukan, langsung mendorong sekuat tenagaku.
"Babo! Haah, haah, haah. Aku nggak butuh!" ujarku sambil berjalan didepannya dia dengan langkah tegap yang dibuat-buat. Ia hanya tertawa pelan.
Sial, pasti Zhoumi ahjussi membuat karakter Kangin berubah saat pemeriksaan tadi. Kangin dibuat dari karakter dingin dan misterius menjadi genit dan suka menghina! Aih, aku akan mencari Zhoumi ahjussi secepatnya agar karakter orang ini segera diperbaiki seperti sediakala.
.oOo.
"Kenapa mau ganti?," ucap Zhoumi ahjussi yang sedang duduk disamping seorang wanita.
"Aku tak suka dengan kepribadiannya yang sekarang. Dia jadi genit, yadong dan super duper pervert! Lihat! Tangannya menggrepe-nggrepe pinggangku!" teriakku sambil menepis lengan besarnya yang sedikit demi sedikit melingkar di pinggangku. Empunya lengan cuman nyengir ala raccoon.
"Dengar, karakter seperti itu cocok dengan drama yang akan kalian perankan nantinya. Kalian boleh menjadi nona dan bodyguardnya. Namun didepan public, kalian harus terlihat sebagai speasang kekasih!" ujar Zhoumi sambil mengelus rambut halus wanita disebelahnya.
KE . KA . SIH ?
KEKASIH?
AKU YEOJACHINGUNYA ORANG ITU?
DIA NAMJACHINGUKU?
ANDWEEE!
*TBC (peringatan sekali lagi, ini bukan penyakit Tuberculosis maupun Penyakit Buta Cinta *siapa yg bikin?| author: gue! | digeplak reader*
Huwaah, akhirnya part 3 selesai. Gimana? makin abal ya? kayaknya makin menjauh dari rencana awal, tp yesungdah lah..
Oia, buat yang merasa fic ini masih banyak kurangnya saya mohon banget buat reviewnya agar chap-chap selanjutnya bisa lebih baik. Pengen kan ceritanya jadi makin nyenengin? Makanya tolong jangan diem aja, share kan uneg2 kalian. Kalo nggak bisa disini ya silakan di account fb saya di Kurnia Aprinta Herastuti atau di twitter inchan1004
Salam damai dan goyang dangdut! #geplaked
#Inchan
