Hello Everyone,
Sorry about the late update, hehe. I didn't realize it has been almost two months since my last update.
Well, long story short, I happened to had this Original fiction project I've been worked on for a year or more.
And while I was so caught onto that, due to the fact that working on your own novel didn't require an internet connection and such.
I'm start to lose this, just the update pace though, don't worry. It won't be like Snow White and The Seven Huntsman, although their story concept kind of look-a-like, and I'd still be updating this one. So, at ease.
This chapter might be short, I happened to realize when I uploaded it that this even shorter than the second one. But it was the first chapter that introducing those smokin' hotties in PLANTs.
So, I hope you guys enjoy this as much as I am when I wrote it.
Happy Reading~
Disclaimer: Mobile Suit Gundam SEED and all of its characters belongs to Yoshiyuki Tomino, Sunrise, and Bandai respectively
Rate: T, well, this chapter sounds light, but I think just in case for later chapters
Genre(s): Drama, Friendship, Family, etc
Warning(s): Next Generation Fic, Post-GSD, OOC-ness, Typo(s), ER, FT, etc
Pairing(s): None for this chapter, may change in later chapters
Daughter of Spring and Autumn
Dark Spectrum's Plans Out
Kaoru Hiyama
2015
Maius City, PLANTs, CE 85
Mobil sedan hitam klasik itu baru saja melaju meninggalkan rumah kediaman keluarga Hibiki, membawa pergi seorang gadis kecil berusia delapan tahun bernama Maple, dan… baiklah, kedua orangtuanya.
Kira menghela napas.
Ketika berbicara dengan Cagalli untuk kedua kalinya di transmisi sambungan pribadi sore kemarin—saat anak itu sudah pulang dari acara berjalan-jalan keliling kompleksnya bersama Lacus—rasanya ia mendengar Maple berkata dengan jelas kepada kedua orangtuanya kalau mereka tak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Sebagaimana ia bisa datang ke PLANTs sendiri, ia juga bisa kembali ke ORB sendiri, tak perlu ditemani apalagi dijemput. Tapi mereka sama sekali tidak kelihatan mau berkompromi.
Kira menghembuskan napas panjang.
Sepertinya menjadi orangtua memang mengubah beberapa orang.
Dan kedua orang itu—Athrun dan Cagalli—termasuk salah satunya.
Atau setidaknya salah satu dari mereka.
Ia teringat masa kecilnya secara tiba-tiba. Sepertinya sentakan pemikiran mengenai orang-orang tertentu dapat membuat ingatan tentang mereka di masa lalu kembali ke permukaan, seperti melemparkan batu pada salah satu permukaan sungai secara spefisik. Hanya ingatan tentang orang itu yang mengambang kembali.
Athrun tidak berubah. Ia memang selalu seperti itu.
Dulu saat masih sama-sama sekolah di Copernicus, Athrun adalah orang selalu mengkhawatirkan ini-itu, mengomel macam-macam, dan ia selalu saja mejadi yang diomeli. Ia bahkan mengingat bagaimana reaksi Athrun setiap kali ia membuat kesalahan ketika sahabatnya itu datang dengan maksud untuk membantu Kira mengerjakan proyek sekolahnya dan bagaimana pada akhirnya dia-lah yang mengerjakan hampir semuanya? Oh, dia juga ingat.
"Papa! Aku mau sekolah di ORB!"
Suara kedua putranya terdengar dari depan dan saat Kira benar-benar kembali ke alam nyata, ia menyadari bahwa kedua putranya sudah memegangi kedua tangannya. Sepertinya tadi mereka mengatakannya bersamaan.
"Ara, ara. Noir, Blanc… memangnya kenapa dengan sekolah di PLANTs?" Lacus menghampiri keduanya yang masih memegang—bukan, memeluk—lengan ayahnya, Kira tersenyum ke arah Lacus, lalu kedua putranya.
"Karena sekolah di PLANTs tidak ada anak perempuannya!" jerit Blanc seketika, sementara di belakangnya, Noir hanya tersenyum dengan alis melengkung ke bawah.
Ia menghela napas, "Blanc, bukannya aku tidak ada di pihakmu, tapi… kau kan tidak perlu sampai sehisteris itu cuma karena Maple baru pulang."
Kira berpikir untuk mengucapkan sesuatu, begitu juga dengan Lacus, tetapi sebelum keduanya sempat mengatakan apapun, Blanc menyahuti saudara kembarnya lebih dulu, "Bah, kalau kau seperti itu, Noi, bisa-bisa gadis yang kau taksir keburu dipacari orang lho!"
"Blanc," itu suara Lacus, alisnya berkerut dengan ekspresi yang membuat Kira—bahkan Kira—tidak berpikir untuk menyelaknya. Itu ekspresi yang sama dengan yang biasanya terlihat di wajah Lacus setiap kali wanita itu sedang bersikap 'intimidatif'. Sedikit berbeda dengan sikap 'persuasif' yang biasanya diikuti dengan mata membulat—memelas—dan senyum yang membuat Kira kesulitan mengatakan 'tidak' untuk alasan yang sama sekali berbeda dengan saat ini. Meskipun keduanya sama-sama sisi dari Lacus yang tak pernah diketahuinya sebelum mereka menikah dan memiliki si kembar, "Coba ulangi yang kau katakan barusan."
Lacus mendekati putra bungsunya dan raut keras kepala di wajah Blanc langsung memudar, berganti dengan semacam ekspresi yang seolah mengatakan oh-tidak-aku-salah-bicara dan bercampur dengan senyuman beralasan. Tetapi Lacus tentu saja tidak termakan dengan cepat. Sementara Kira sama sekali tidak berpikir untuk menolong Blanc—mengingat situasinya—jadi ia menyesakkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan berkata, "Ayo masuk, Noi."
Noir menoleh pada ayahnya, lalu pada Blanc. Terlihat dilema untuk beberapa saat, lalu mengangkat baru. Sudut matanya terarah pada Blanc dengan tatapan meminta maaf, kemudian ia kembali menoleh pada ayahnya dengan tatapan yang sama sekali lain. Matanya menyiratkan persekongkolan saat ia berkata pada ayahnya dengan suara pelan, "Ayo."
"Rester, apa kau tahu kenapa Dad mengubah nama belakangnya?"
Alis pegawai rumah Hibiki itu terangkat saat ia mendengar pertanyaan yang diajukan majikan kecilnya, Noir, pada siang hari ketika ia baru saja menjemputnya dari December Daycare. Ia memang sudah bekerja pada keluarga itu selama sepuluh tahun, tapi pertanyaan itulah yang membuatnya kembali teringat pada kisah peperangan yang didengarnya sewaktu masih kecil. Tentang keluarga Zala, Profesor Hibiki, dan… pilot legendaris Freedom, Kira Yamato.
"Wah," katanya, tersenyum pada bocah bermata amethyst itu, "Saya juga tidak tahu, Tuan Noir. Mungkin Anda harus menanyakannya sendiri pada Tuan Besar nanti."
Bibir Noir mengerut, ia menghela napas pelan dengan raut yang tampak sedikit lebih tua dari usianya yang baru sembilan tahun. Sorot matanya mengingatkan pria itu akan ayah si bocah. "Yah, sudahlah. Mungkin aku memang harus bertanya sendiri pada Dad."
Ada jeda sesaat, kemudian, "Kalau teman-temanku tak bertanya, mungkin aku tidak akan merasa penasaran seperti ini."
Pegawai itu kembali tersenyum, "Apa saya harus menghubungi Dewan Hibiki agar Anda bisa berbicara langsung dengannya dan menanyakannya?"
Noir menoleh dan menengadahkan kepalanya untuk menatap si pegawai. Perbedaan usia membuat perbedaan tinggi badan dan postur mereka berkesan drastis. Diam-diam ia bertanya pada diri sendiri apakah jika sudah besar nanti, ia akan setinggi dan setegap Rester. Kemudian ia teringat pernyataan sebelumnya, juga pertanyaannya sendiri, dan menggeleng, "Tidak usah, sekarang Dad pasti sedang sibuk dan aku tidak mau membuatnya stres."
"Oh, begitu," pria itu mengangguk setuju pada ucapan si bocah, "Oh ya, Tuan Noir, mungkin Anda bisa menanyakannya pada Nyonya."
"Mom?" sekarang alis Noir yang terangkat. Ia membayangkan dirinya bertanya pada ibunya mengenai hal sepele itu dan benaknya menjalankan dua skenario sehubungan dengan pertanyaan itu. Pada skenario pertama—yang baik—ia langsung mendapatkan jawabannya, meski berakhir dengan kisah panjang-lebar ala dongeng-dongeng sebelum tidur yang sering didengarnya dari sang ibu.
Skenario kedua—yang buruk—ibunya tidak terlalu menyukai pertanyaan itu, atau hanya tidak tahu jawabannya saja. Tapi ia malah berakhir dengan jawaban berputar-putar dan memusingkan versi ibunya yang sering ia dengar setiap kali sang ibu berusaha menjawab pertanyaan yang ia sendiri pun tidak tahu jawabannya. Atau mungkin yang paling buruk, ia hanya akan mendapatkan pengalihan pembicaraan bila ibunya memang tidak menyukai pertanyaan itu.
Noir kembali menghela napas, "Rasanya lebih baik aku bersabar dan menunggu Dad pulang, lalu bertanya sendiri kepadanya."
Rester kembali mengangguk dan tersenyum, "Mungkin memang lebih baik begitu, Tuan Noir."
Kemudian tiba-tiba si pegawai teringat sesuatu, "Oh ya, ngomong-ngomong, kenapa Tuan Blanc tidak datang hari ini?"
Bocah bermata amethyst itu terdiam, lalu kepalanya ditundukkan dan matanya menatap jalan setapak di bawah kakinya sesaat sebelum ia kembali mengangkat pandangannya dan tersenyum.
Mengangkat bahunya, Noir berkata, "Yah, itu karena Blanc sedang merajuk, dia minta dipindahkan ke ORB secepatnya."
"Oh," Rester tampak sedikit terkejut, ia sudah mendengar tentang kedatangan keponakan majikannya beberapa hari yang lalu, meski tidak menduga majikan kecilnya yang satu itu masih mempermasalahkannya, "Saya kira Tuan Blanc sedang demam."
"Demam?" Noir tersenyum sepintas, kalau tarikan ke atas sekilas di bibirnya itu tidak bisa disebut menyeringai tentu saja, "Mana mungkin, demam kan takut padanya."
"Oh ya?" tanya Rester, "Kenapa Anda bisa berkata seperti itu, Tuan Noir?"
"Karena," Noir mengangkat bahu, nada suaranya terdengar seperti mengejek atau sedang bersenang-senang, "Yah, karena itu kenyataannya."
Enam tahun kemudian…
Noir Hibiki menguap sesaat, memijat batang hidungnya, dan kembali memusatkan perhatian pada layar laptopnya. Desain sebuah poster berlatar hitam-perak dan dipenuhi gambar-gambar bernuansa rock memenuhi layarnya. Menghela napas, Noir menggerakkan stylus pen-nya di atas tablet-nya, mengutak-atik proporsi dan letak gambar-gambar pada desain posternya. Kalimat 'Dark Spectrum' tertera besar-besar di tengah poster, dalam bentuk huruf kursif yang rumit dan tampak seolah-olah sulit dibaca. Kesan pertama yang tampak di matanya sejelas dan segamblang nuansa dan penata-letakkan kalimat itu. Bahwa ia sedang mendesain poster untuk sebuah band dengan nama Dark Spectrum.
Kedua telinganya disumbat earphone yang ujung kabelnya tersambung dengan laptopnya sendiri, di sudut kanan layar terdapat sebuah miniplayer yang bertuliskan dua baris kalimat; baris pertama Chrome Howl, dan kedua Dark Spectrum. Musik rock menghentak-hentak langsung dari dalam earphone ke gendang telinganya, beruntung ia cukup pandai untuk tidak mendengarkannya dalam volume besar saat sedang menggunakan earphone, bisa tuli dia nanti. Suara si vokalis lantang membelah nada-nada yang melatari lagunya sendiri. Liriknya dipenuhi gejolak pemberontakan khas anak muda, namun tersusun rapi seperti puisi lama, bahkan rimanya pas dan tidak terasa janggal apalagi dipaksakan.
Lagu yang ini memang adalah karya seni, dan termasuk favoritnya. Meskipun tentu saja, tidak akan pernah mendapatkan persetujuan ibunya jika mengingat bahwa wanita itu dulunya adalah seorang diva di genre pop.
Noir menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi di belakangnya, matanya menatap hasil karyanya dengan penuh perhatian. Bukan untuk mengagumi, tapi untuk mencari kesalahan. Ia—seperti yang selalu dikatakan oleh ayah dan adik kembarnya—adalah tipe pekerja perfeksionis.
Pintu kamar tidurnya berderit terbuka dan kepala adik kembarnya menyembul di celah daun pintu. Dan, meskipun sedang tersenyum, ekspresi di wajahnya jelas-jelas menunjukkan tuntutan, "Sudah selesai kah?"
Noir mengangkat kedua lengannya dan menyatukannya di tengkuk sementara kakinya menendang tepi meja dan membuat kursinya—yang beroda—terdorong beberapa langkah ke belakang, "Belum," katanya, mengangkat bahu sekilas, "Aku sedang melakukan pengecekan terakhir."
Blanc melebarkan celah di pintu dan masuk ke dalam kamar mereka. Ia berdiri di belakang kursi Noir dan mendorong kursinya ke depan hingga keduanya sama-sama menatap layar komputer dengan jarak sempurna. Kepalanya menggangguk-angguk saat Noir kembali meraih tablet-nya dan memperlihatkan bentuk posternya secara utuh. "Bagaimana menurutmu?"
"Sudah cukup bagus," komentar Blanc, matanya masih menelusuri poster itu, gambar-gambarnya, dan tulisan nama band-nya yang tercetak tepat di tengah-tengah poster, memberi kesan penting. "Tapi mungkin aku akan menanyai Nate, kau tahu kan, sekedar mencari second opinion."
Noir menghela napas, menurunkan kedua lengannya dan mengangkat bahu, "Terserah kau saja, Dark Spectrum kan milikmu."
"Milik kita, Noi," protes Blanc, nada suaranya menunjukkan ia tidak suka bila saudaranya melepaskan kepemilikannya pada band yang mereka bentuk bersama setahun terakhir. Dengan satu misi yang sangat jelas; yakni mendapatkan izin untuk pergi keliling dunia secara resmi. "Jangan coba-coba mengelak hanya karena kau merasa ini tidak penting."
"Dan ini memang tidak penting, Blanc," sahut Noir, membela diri. Sejak awal, ia sudah menduga kalau alasan Blanc, Max, Rei, dan Nate membentuk band yang dulunya bernama Earthsea ini adalah agar mereka bisa mendapatkan alasan resmi untuk keluar dari PLANTs, atau—misi rahasianya—berkenalan dengan gadis-gadis di luar PLANTs. Tapi ia tak keberatan bergabung sebagai anggota di balik layar, begitu juga dengan Nate, untuk alasan solidaritas.
Namun setelah setahun, ia kehilangan minatnya. Baginya berkenalan dengan gadis atau mencari pacar tidaklah sepenting menentukan masa depannya. Blanc tidak sepakat dalam masalah ini, menurutnya, jika Noir menghabiskan masa mudanya dengan merencanakan bagaimana masa depannya, maka pada masa tuanya ia akan menjadi pak tua tukang gerutu yang menyesal karena tidak membuat banyak pengalaman seru di masa mudanya.
"Kita sudah tidak lagi hidup di masa perang," ia teringat kata-kata Blanc waktu itu, juga cara bicaranya yang seolah sedang memberi nasehat paling bijaksana sejagat raya, "Nikmatilah setiap harinya sebagai tanda terima kasih kita pada para remaja yang telah merelakan masa muda mereka demi generasi kita."
Tapi mereka yang berkorban itu adalah orangtua kita, tambah Noir dalam hati.
Blanc menegakkan tubuhnya dan merenggangkannya, kemudian berdecak dengan nada sebal, "Kau tahu, di dunia yang luas ini, hanya kau yang berpikiran sempit seperti itu," katanya, jelas-jelas mengomel.
"Aku tidak berpikiran sempit," Noir mengelak tuduhan yang dilontarkan Blanc kepadaya dengan kekeraskepalaan yang sama, "Hanya bersikap realistis."
"Ah, sudah-sudah," Blanc berjalan keluar kamar, berusaha mengakhiri perdebatan tak berujung soal cara hidup ini. Ia sudah bosan melakukannya selama berbulan-bulan. Dan Noir—dengan egonya sebagai seorang kakak, barangkali—tak pernah mau mengalah dan berhenti lebih dulu. Tampaknya ia sama sekali tidak merasa bahwa perdebatan itu sia-sia. Atau bahwa mereka berdua tak akan pernah mencapai kesepakatan dalam hal ini. Mungkin saja dia beranggapan—atau hanya berharap—Blanc akan membenarkannya cepat atau lambat. Yang Blanc tahu pasti tak akan. Harapan atau anggapan itu sesia-sia usahanya mencoba membuat Noir melihat kesenangan yang ditawarkan masa muda dan melepaskan beban hari esok dari pundaknya. Sungguh disayangkan. Sebesar keyakinannya pada anggapan bahwa masa muda adalah untuk dinikmati dan membuat kesalahan, sebesar itu pula keyakinan saudaranya bahwa ia telah menyia-nyiakan sepuluh tahunnya yang kedua dengan bermain-main.
Tangan Blanc memegang gagang pintu sementara ia beranjak keluar, setelah menarik napas panjang, ia berhasil tersenyum, "Aku akan menelepon Nate dan memintanya kesini, sementara itu, jangan diubah-ubah dulu."
Dan ia menutup pintu dengan gerakan tenang.
Nathaniel Joule—atau yang lebih dikenal teman-temannya dengan nama Nate Joule—adalah anak laki-laki tunggal keluarga Joule yang mewarisi rambut lurus putih keperakan ayahnya dan mata keunguan ibunya. Kedua orangtuanya lebih tega daripada pasangan Hibiki kalau soal mendidik anak. Ia sudah menghabiskan hampir seumur hidupnya di asrama, berbeda dengan si kembar Hibiki yang baru masuk asrama ketika berusia dua belas tahun.
Mengikuti jejak keluarganya—ayah, ibu, dan neneknya—Nate telah memutuskan untuk masuk sekolah militer setelah ia lulus dari PLANTs Academy nanti. Suatu keputusan yang disambut dengan sukacita oleh kedua orangtuanya, namun tidak begitu disetujui oleh teman-temannya. Tapi Nate tak terlalu peduli soal anggapan teman-temannya. Tidak sampai terbentuknya band Dark Spectrum setahun yang lalu.
Ia memang tidak mengubah keputusannya mengenai sekolah militer dan seterusnya. Tapi setidaknya band ini dan misi rahasianya akan menjadi sesuatu yang bisa dijadikannya sebagai tolak ukur di masa depan nanti. Dan ia tidak keberatan, lagipula dimana lagi dia akan mendapatkan kesempatan bermain musik tanpa terkesan melankolis jika ia menolak untuk bergabung dengan band rock-nya Blanc—yeah, Nate cukup mengenal si kembar untuk tahu kalau Noir pasti tidak sepenuhnya menaruh minat pada band ini seperti Blanc—dan lagi, kesempatan seperti ini tak akan terjadi dua kali dalam hidupnya. Dan masa depannya kan sudah jelas, ia akan menjadi prajurit.
Tapi sebelum menjadi prajurit, sepertinya mencari pacar bukan ide yang buruk.
Di Dark Spectrum, ia berperan sebagai pemain gitar utama. Dan di luar dugaan, rupanya setelah setahun ia mulai merasa cocok dengan perannya dalam band tersebut, meskipun pada awalnya ia tidak mau. Menurutnya main gitar itu bersifat adiktif. Ia bisa dan akan ketagihan untuk memainkan gitarnya setiap ada kesempatan. Dan untuk itulah, ia harus bersiap-siap.
Sebab—menurut Max Elthman si tetangga sebelah rumah super berisik yang mengaku bercita-cita menjadi playboy kaya raya seperti Oliver Queen di Arrow—efek samping dari menjadi pemain band selain kecanduan bermain musik adalah kecanduan menyanyi juga. Nate ngeri setiap memikirkannya, ia tidak sanggup membayangkan dirinya menyanyi di setiap kesempatan atau setiap ada suasana mendukung dan membuat hidupnya jadi seperti tayangan drama musikal yang suka ditonton mamanya setiap Senin sore.
Tapi karena kegandrungannya pada drama tv musikal itulah Shiho Joule—Ibu Nate—jadi longgar dan mudah dibujuk untuk membiarkan anaknya menjadi pemain band, berbeda dengan ayahnya, Yzak Joule yang harus dibujuk dengan susah payah. Bahkan butuh bantuan dari pembujuk profesional sekelas rekan-rekan dewan merangkap teman masa remajanya.
Hari itu Sabtu—dalam rangkaian Golden Week yang berarti semua anak yang bersekolah di PLANTs Academy sedang pulang ke rumah—dan Nate Joule baru saja menyelesaikan latihan pra-militernya di pagi hari, yang dilanjutkan dengan mengerjakan PR Biologi sepanjang siang, dan sedang membantu ibunya mempersiapkan makan malam untuk menyambut kepulangan ayahnya di akhir pekan ketika ponselnya yang tergeletak di atas meja kopi di ruang keluarga yang bersebelahan dengan dapur berbunyi.
Ibunya menoleh, mengenali nada dering ponselnya. "Angkat teleponmu, Nate," katanya, mengangkat dagu sekilas, merujuk pada ponselnya yang terletak di ruangan lain, "Barangkali penting."
Nate baru akan memasukkan seloyang strudel apel yang akan menjadi makanan penutup mereka malam itu ke dalam oven di bawah kompor, dan ia memilih untuk meneruskan pekerjaannya terlebih dahulu sebelum mengangkat telepon. "Percayalah, Bu. Kalau kau pernah kenal orang macam si Max, kau tidak akan mau mengangkat telepon pada dering pertama."
Alis Shiho terangkat sebelah, ia memasang wajah keheranan sementara tangannya masih memotong sayuran dengan cekatan, "Kenapa?"
"Karena Max bilang padaku," Nate berlutut dan memutar beberapa tombol di kompor untuk mendapatkan waktu dan suhu yang tepat untuk memanggang strudelnya, "Mengangkat telepon pada dering pertama berarti, kau menunggu telepon dari si penelepon."
Shiho tertawa, "Ada-ada saja, temanmu itu," katanya, kemudian melanjutkan tawanya. Tak lama wanita itu berhenti dan tampak berpikir sambil meletakkan telunjuknya di dagu, mengangguk-angguk sesaat, dan berkata, "Ternyata benar juga. Aku selalu mengangkat telepon dari ayahmu pada dering pertama selama sebulan sejak kami menikah."
Nate otomatis merona, ia menunduk untuk menutupi rona merah di wajahnya, rasa malu tiba-tiba terasa di ulu hatinya begitu mendengar penuturan ibunya.
Shiho melirik anaknya, dan tersenyum, "Kau persis ayahmu kalau sedang menyembunyikan sesuatu. Biar kutebak, wajahmu pasti merona gara-gara cerita itu kan?"
Nate semakin menundukkan wajahnya, "Itu karena ibu bercerita hal-hal semacam itu!" protesnya, suaranya mengingatkan Shiho pada suara suaminya ketika mereka masih lebih muda, dipenuhi emosi dan nadanya itu, sok galak kalau menurut Shiho. "Aku kan malu mendengarnya!"
Begitu tak terduga, dan Shiho sudah begitu di ujung tanduk hingga tawanya meledak. Ia menghentikan aktivitasnya memotong-motong sayuran dan membiarkan tawanya mengalir. Nate menyaksikan tingkah ibunya dan tampak semakin malu. Tapi suara ibunya setelah wanita itu selesai menertawakannya terdengar dan menyadarkannya akan sesuatu, "Kau tidak mengangkat teleponnya?"
Nate terenyak dan langsung melesat meninggalkan dapur untuk mengambil ponselnya di atas meja kopi di ruang keluarga. Dari Blanc, tentu saja, dan sepertinya ia terlalu lama tidak mengangkatnya hingga temannya itu akhirnya mengirim pesan. Ia hanya butuh lima detik untuk memahaminya karena pesan itu berbunyi, Posternya sudah selesai, aku ingin meminta pendapatmu sebelum Noir mengubahnya lagi. Datanglah.
Hari sudah mulai gelap sewaktu Nate tiba di ruang tamu rumah Hibiki, dan—seperti dugaannya—ia bukan satu-satunya anggota DS—Dark Spectrum—yang dipanggil ke rumah Hibiki sore itu.
Rei Asuka sudah melesak di sofa besar dari beledu sambil memain-mainkan kedua stik drumnya. Ialah pemain drum di DS, dan perannya itu jelas telah menunjukkan efek samping jangka pendeknya. Beberapa bulan terakhir, Rei tampak selalu membawa stik-nya kemana-mana. Ia membawanya ketika di kelas, saat olahraga, bahkan saat ia menghadiri acara ulang tahun teman-teman seangkatannya. Tapi tampaknya kedua orangtua Rei berhasil membujuknya untuk tidak membawa stik drum sewaktu mereka menghadiri acara gala tahunan untuk merayakan perdamaian yang tercipta antara Coodinator dan Natural; yang juga berarti perdamaian antara PLANTs dan Bumi. Sebab kalau tidak, ia akan membuat acara bersifat formal itu tampak seperti pesta prom anak SMA alih-alih gala resmi.
Dampak lain yang mudah dikenali juga adalah gaya berpakaiannya. Dulu, sebelum pembentukan DS, Rei adalah anak yang selalu berpakaian rapi dan necis. Ia biasanya mengenakan polo shirt dan celana jeans 7/8, memakai kaos kaki, dan sepasang sepatu keds kalau mereka sedang bermain bersama. Tapi sepertinya perannya sebagai penabuh drum di DS mengubah selera itu secara drastis. Rei yang duduk santai di sofa itu mengenakan kaos tanpa lengan warna abu-abu dan rompi selutut berparka merah gelap. Celana denim 7/8-nya berwarna biru gelap dan lebar—agak kurang matching— dan ia juga mengenakan sneakers sebetis warna hitam sebagai sepatunya.
Menurut Nate—yang merasa normal karena hanya mengenakan kemeja putih dan jeans, dan sepasang sneakers—gaya berpakaian Rei tampak seperti persilangan absurd antara emo dan anak punk jalanan. Tapi sebagai teman yang baik, untuk sementara ia tak akan banyak berkomentar. Meskipun melihat anting kehitaman yang berada di telinga kiri Rei membuatnya ingin melontarkan sindiran yang harus ditahannya dengan susah payah.
Max disisi lain, tidak banyak berubah. Mungkin karena ia hanya ditugasi memainkan keyboard—dan terkadang—membuat musik latar dengan keahliannya me-remix lagu dan selera musik yang bisa diacungi jempol, makanya ia tidak banyak berubah. Mungkin juga karena Max memang sudah seperti itu dari dulu. Bergaya ala jock—kelompok sosial yang terdiri dari atlet—dengan jaket baseball dan kaos serta celana training yang sudah seperti pakaian sehari-harinya. Terkadang ia mengenakan sweater berparka, atau kaos dan seragam basket, tapi yang jelas, gaya Max selalu sporty. Dan ini tidak berubah dari sejak mereka kecil dulu.
Max memang penggemar berat segala macam olahraga; mulai dari tenis sampai rugby.
Blanc duduk di sofa paling ujung—dekat tembok yang membatasi ruang tamu—dan Noir seperti biasa ada di sampingnya, menatap layar komputer. Jari-jarinya membuat gerakan seolah sedang mengetik meski tangannya jelas-jelas tidak berada di atas keyboard. Sementara tangan Blanc terkatup, dan terlihat di atas meja.
"Oke, semua sudah berkumpul kan?" kata Blanc, membuka pembicaraan.
Ketiga temannya yang lain—Nate, Max, dan Rei—saling bertukar pandang, seolah mengabsen kehadiran satu sama lain sebelum kembali memfokuskan perhatian mereka pada si kembar.
"Sudah," Rei semakin melesakkan diri ke dalam sofa hingga ia nyaris tampak seperti orang yang sedang duduk di kursi santai alih-alih sedang rapat.
"Bagus," Blanc mengangguk, matanya yang ia warisi dari sang ibu melirik ke arah Noir, "Noi, perlihatkan."
Noir menghela napas berat, tampak seolah-olah ia adalah seorang karyawan suatu perusahaan yang sedang rapat dan akan menunjukkan proposalnya di depan para pemilik saham. Ini jelas bukan gambaran yang tepat, seharusnya ia tidak kelihatan setegang itu. Tapi Noir adalah Noir, dan ia memang selalu kelihatan tegang setiap akan menunjukkan hasil karyanya. Sekalipun ia boleh dikatakan jenius dalam hal mendesain berkat perhitungannya.
Pemuda bermata amethyst itu menundukkan kepala, mengarahkan jari-jarinya ke keyboard, dan mengetikkan beberapa perintah. Lalu, selang beberapa detik setelahnya, sebuah poster bernuansa hitam-perak muncul di layar hologram di tengah-tengah ruangan.
Max yang pertama memberi komentar, "Whoa," katanya, terkagum-kagum.
Rei yang kelihatannya tidak begitu peduli—dan tidak mengerti—soal seni dan semacamnya—lihat saja bajunya—hanya mengangguk dan memberi respon singkat, padat, dan jelas. "Sepertinya bisa dipakai."
Nate baru akan memberikan komentarnya, tapi Blanc keburu berkata, "Guys, aku meminta kalian kesini untuk memberi saran dan komentar, bukan langsung menyetujui," bibirnya mengerucut sebal. Nampaknya ia berharap terlalu tinggi pada teman-temannya.
"Kurasa ini sudah cukup bagus, Blanc," kata Nate akhirnya, merespon pernyataan Blanc, "Memangnya mau diubah bagaimana lagi? Ini poster untuk debut kan? Mungkin sebaiknya tidak terlalu heboh."
"Trims," sahut Blanc, menyandarkan tubuh ke sandaran sofa di belakangnya dan menghela napas, "Kau memang selalu bisa diandalkan, Nate."
Noir melemaskan bahu dan menoleh pada Blanc, "Kubilang juga apa, kita hanya perlu mengajak Nate untuk melihatnya kan? Kalau mereka," ia menunjuk Rei dan Max, "Diundangnya nanti saja, waktu sudah benar-benar rampung."
"Teganya kau," kata Max, membela diri, "Tapi kan setidaknya kami memberi kontrubusi, pendapat seperti apapun boleh kan, Noi?"
"Yang benar 'kontribusi'," koreksi Noir, "Dan ya, pendapat seperti apapun boleh, kecuali kalimat singkat seperti 'whoa' atau 'kerennya', itu tidak bisa dikategorikan sebagai komentar. Max."
"Oh ya, ngomong-ngomong," Rei tiba-tiba menegakkan tubuhnya, menarik perhatian keempat temannya yang lain.
"Apa?" tanya Blanc, mewakili ketiga temannya.
Rei kembali bersandar, kemudian merenggangkan bahunya, "Tidak jadi, soalnya tidak seru kalau kalian belum mendengar langsung."
Alis-alis para pemuda di ruangan itu melengkung penasaran, Max-lah yang kali ini mewakili mereka, "Spill it out, Rei."
Pemuda berambut merah itu—mewarisi rambut ibunya, Lunamaria Hawke—baru akan mengatakan sesuatu ketika Lacus, mama Blanc, memasuki ruangan dengan membawa Freedert dalam gendongannya. Senyum ramah wanita itu, dan kedatangannya, menarik perhatian mereka semua.
"Blanc, Noir, kalian tidak menyiapkan sesuatu untuk tamu-tamu kalian?"
Merasa tersindir, baik Noir maupun Blanc langsung berdiri dan menuju ke dapur, mengikuti anjuran ibu mereka. Keduanya lalu kembali beberapa saat kemudian dengan membawa dua nampan di masing-masing orang. Nampan yang dipegang Noir berisi minuman berwarna coklat jernih—yang tampak seperti soda—sedangkan Blanc membawa sebongkah besar roti di atas nampannya.
"Silahkan," kata mereka bersamaan, seraya meletakkan kedua nampan di atas meja.
Lacus menimang-nimang Freedert dalam dekapannya dan tersenyum pada anak-anak di hadapannya. Senyum di wajahnya membuat ia tampak seperti bidadari yang sedang mampir untuk memastikan anak-anak di ruang tamunya disuguhkan sesuatu oleh kedua anaknya. Tanpa melepaskan senyuman, perempuan itu berbalik dan meninggalkan ruangan. Freedert menoleh ke arah kakak-kakaknya dan mengulurkan tangan, seolah meminta diikut-sertakan dalam diskusi seru pemuda-pemuda itu.
"Sampai mana kita tadi?" Max mencabik roti di atas meja dan bertanya, lalu memasukkan potongan itu ke mulutnya.
"Kukira Rei akan menyampaikan sesuatu, kalau tidak salah," jawab Nate, mengambil gelas dan meminumnya. Ternyata hanya jus apel.
"Oh ya," Rei kembali menegakkan tubuhnya, "Begini."
Keempat pemuda di ruangan itu langsung memasang telinga baik-baik.
"Kemarin, sewaktu aku main di rumah bibiku—kalian tahu kan bibiku tukang gosip?—aku mendengar sesuatu."
"Apa?" tanya Max, mewakili teman-temannya yang sama penasarannya.
"Katanya…" Rei berdehem, kelihatannya ia berpikir untuk menambahkan efek dramatis pada berita itu, "Sepupu cantik si kembar ini akan melanjutkan sekolah ke Copernicus High."
Anti-klimaks.
Blanc menyandarkan tubuhnya ke sofa, tampak bosan. "Itu sih, aku juga sudah dengar," katanya, "Kupikir ada isu lain."
Rei mengangkat bahu, "Well," ia menghela napas, "Bagaimana kalau kukatakan bahwa ibuku mengizinkan aku melanjutkan sekolah di Copernicus juga."
"Apa?" Max mengangkat sebelah alis, "Kau tidak serius kan Rei?"
"Licik," komentar Nate, sesinis kedengarannya, "Itu namanya mencuri start, kita semua kan merencanakan DS supaya bisa pergi keluar, kenapa kau malah mau meneruskan sekolah di Copernicus High?"
"Habis," Rei membela diri, "Aku sudah tidak tahan disini."
Ada jeda sesaat, kemudian, "Bayangkan, DS belum ada saja, aku sudah dapat surat cinta—yang, ngomong-ngomong, tidak mungkin dari cewek—bagaimana kalau DS ada nanti! Ikh, aku tidak mau membayangkannya!"
"Iya juga sih," timpal Nate, menoleh ke arah Noir dan Blanc, "Bulan Februari kemarin, aku juga menemukan coklat di loker, kupikir iseng, ternyata sungguhan. Dari adik kelas yang berwajah imut-imut itu."
Tapi lalu Nate mengeluarkan ekspresi seolah melihat sesuatu yang menjijikan—seperti bekicot atau semacamnya—"Tapi Demi Tuhan! Dia kan laki-laki!"
Menyadari Nate bisa meledak kapan saja, Max yang duduk di sebelahnya langsung menyodorkan segelas jus apel dinginnya. Nate mengambilnya dan meminum habis isi gelas itu dalam satu teguk. Lalu menarik napas panjang, mencoba meredakan emosinya sebelum mengatakan, "Kupikir setelah Dark Spectrum debut, kita harus segera pindah dari sini. Aku tidak mau dikerubungi penggemar laki-laki."
"Well," kata Noir, terlihat setenang air danau yang sangat dalam di pedalaman hutan, "Sepertinya kita bisa sepakat dalam hal itu."
"Kalian benar," kata Blanc, berdiri seolah ialah pemimpin Dark Spectrum, dan menatap teman-temannya, "Jika debut Dark Spectrum berhasil, aku akan segera merencanakan tur agar kita bisa meninggalkan PLANTs untuk sementara waktu."
A/N: Finally!
Hahahaha, this is the first time I've wrote about them all, spilled out the names of those cute boys in PLANTs.
I could say I'm proud of this chapter, though it consist none of Maple except for the brief description in the first line.
Don't worry, Maple would get involved with them in no time!
Anyway, thank you for making time to read this, I could express how much it means to me knowing you guys like it, and more...
Is it true that this story got to this year's IFA? Why'd I never heard that?
I was only hoping that this story could light up your day, it was so much more than just taking some reward.
To make my reader happy is why I wrote this, so I wish for your happiness and well-being in this great of a Tuesday.
Cheers,
.
K. Hiyama
(P. S. If you had any suggestions for this story continuation, I'd be more than happy to hear them. Who knows, maybe some day I'll be needing them.)
(P. S.S. Who among those boys you'd think might be Maple's crush in the future? Let me know your guess!)
