Chapter kemarin saya mendapat kejutan yang sangat saya impikan selama setahun mendekam (?) di FFN, yakni review yang berisi SARAN UNTUK IMPROVEMENT! Terus terang saya jarang dapat review yang membangun seperti itu. Flame juga, belom deh kayaknya # tapi Alhamdulillah kemarin rdb-san datang dan meluangkan waktunya memberi review yang sangat membangun buat saya (sekaligus mengingatkan saya agar rajin proofreading =w=) dan semuanya saya terima dengan senang hati!
Sekedar informasi gak penting, kemarin waktu bikin chapter 2 saya sedang galau memikirkan nilai UTS saya yang ga jauh-jauh amat dari do re mi :( SOAL SNMPTN DIKASIH KE MURID KELAS X YANG BOLOT KAYA SAYA, YA IYALAH NILAI SAYA SEGITU! *alah mulai curhat
Author-tachi yang lain juga gitu dong. Jangan mentang-mentang saya udah setahun di sini saya dianggap pro #najispedeloe. Saya ini udah setahun, tapi jarang ngepublish fic (sekalinya ngepublish pasti abal) and remember, nobody's perfect in this world. Ayo, semuanya, budayakan memberi saran dan kritik demi membangun semangat untuk lebih baik! *ngiket headband
OOT: Ayoo, ngaku siapa yang ngecheat di game Harvest Moon Mineral Town? *SAYAAA!*
Ya sudah, sekarang tanpa perlu berbacot-bacot lagi, saya persembahkan chapter ketiga dari serial Bleach: Friends of Soul Society ini. Enjoy your read, Minna-san.
Disclaimer: Bleach aja bukan punya saya, apalagi Harvest Moon? #maksudnyaapatuh
Chapter 3: I Wanna See Your Smile
Pair: IshiNemu
"Nii-san, mau kemana?"
Aku memutar tubuh, dan menemukan adikku Orihime tengah berkacak pinggang di depan kandang ayam. Tangannya tengah menenteng wadah botol animal medicine. Raut wajahnya tampak sangat kesal. Aku menghela napas dan kembali masuk ke dalam peternakan, padahal kakiku sudah satu langkah menjauh dari pagar rumah.
"Aku mau ke Seireitei Waterfall sebentar." Jawabku tenang. Hime menggembungkan pipinya.
"Mau apa?"
"Hanya untuk menyegarkan pikiranku sejenak. Aku agak jenuh akhir-akhir ini."
"Aaaaah, masa Nii-san tak mau membantuku sih?" Hime menggoyang-goyangkan keranjang putih berlabel tanda tambah merah besar yang biasa dijadikan wadah botol animal medicine. Aku tahu, akhir-akhir ini banyak sekali ayam yang sakit. Sakitnya tak terlalu parah, namun kalau tak segera ditangani bisa membahayakan, baik bagi ayamhnya maupun bagi lingkungan sekitarnya. Kalian tentu sudah kenal dengan virus sebangsa H5N1 atau H1N1 dan berbagai macam nama virus lainnya. Tidak lucu kan kalau game Harvest Moon mendadak tamat gara-gara virus flu burung menyebar dan membuat semua tokohnya almarhum dengan tidak terhormatnya?
"Apa ini?" aku berlagak bodoh. Aku tahu Hime mau memintaku membantunya. Ia tak mungkin bisa menangani ayam-ayam itu sendirian, dan rasanya lebih tak mungkin pekerjaan ini akan bisa dilakukan dengan benar dengan kepala yang terasa berat ini. Siapa yang mau ambil resiko kalau aku malah meminumkan animal medicine pada Hime?
"Bantu aku." tuntut Hime.
Aku mengeluh. "Jangan sekarang ya, Hime?"
Ia malah merengut. Lama-lama aku jadi kesal. Atau sebaiknya aku benar-benar meminumkan isi botol-botol di depanku ini padanya.
"Ayolah Hime, aku tak pernah melarang-larangmu bertemu dengan Ulquiorra sialan itu kan? Aku sampai harus bekerja sendirian merawat ayam-ayam dan aku pernah mengeluh? Tidak. Aku pernah sampai melarangmu menemuinya? Tidak kan?"
Mendadak pipi Hime memerah. Wajahnya masih terlihat sebal.
"Iya, tapi kan tak saat ayam-ayam sedang sakit!"
Ah, sudahlah. Percuma mendebat Hime kalau keinginannya benar-benar kuat. Kusambar keranjang animal medicine di tangannya dan masuk ke kandang ayam, meninggalkan Hime sendirian di luar.
"Nii-san jelek!"
Aku dengar, tapi pura-pura tak dengar.
Sore hari setelah menyelesaikan pekerjaanku, aku segera menuju ke Seireitei Waterfall, tempat yang sangat ingin kutuju sejak pagi hari. Aku duduk sambil mencelupkan kakiku ke dalam air danau yang sejuk. Simfoni gemuruh percikan air terdengar semerdu Beethoven Virus. Beberapa tetes air yang mampir di wajahku terasa sangat sejuk. Aku memejamkan mataku untuk berelaksasi sejenak, sebelum ada sentuhan tangan yang mampir di pundakku.
"Ishida-san?"
Aku menoleh. Tangan itu milik gadis yang tengah berdiri di belakangku-Nemu Kurotsuchi. Putri pemilik supermarket di kota ini.
"Eh…Kurotsuchi-san?"
Hening sejenak.
"Sedang apa kau/Ishida-san disini?"
Pertanyaan itu keluar dalam waktu yang bersamaan dari mulut kami masing-masing. Sejenak kami berpandangan. Aku memasang ekspresi heran, sementara Kurotsuchi-san masih dengan ekspresi datarnya. Kemudian aku tertawa kecil.
"Apa yang lucu, Ishida-san?"
"Ah? Tidak, tidak apa-apa." Sejujurnya aku merasa geli dengan wajahnya yang tak pernah berubah dalam setiap mood yang dirasakannya. "Jadi Kurotsuchi-san, sedang apa kau disini?"
"Setiap Selasa sore saya memang kesini, karena supermarket tutup saya bisa jalan-jalan." Jawabnya formal, masih tanpa ekspresi. "Kalau Ishida-san sendiri?"
"Aku sedang ingin menyegarkan pikiran."
"Kalau begitu Ishida-san datang ke tempat yang tepat."
Ia duduk menyebelahiku setelah melepas sepatunya dan ikut mencelupkan kakinya ke danau. Dari wajahnya, meskipun tak terlihat ekspresi apa-apa, aku bisa menebak ia sangat menikmati berelaksasi di air terjun ini.
"Kau pernah mencoba onsen di sana?" tanyaku, memulai pembicaraan dengan topik yang kusesali-mengapa mesti onsen?
"Tidak. Saya tak suka onsen. Saya lebih suka di sini…Ishida-san sendiri?"
"Belum pernah." Aku memberikan sebuah cengiran tak jelas.
Lagi-lagi hening.
Hime, bagaimana kalau kau kemari dan ajak Gin si pemilik toko wine itu kemari agar suasana tak terlalu kaku? Kurotsuchi cukup dekat dengan orang itu karena ia sering membeli wine darinya—Kurotsuchi menyukai wine.
"Apa ada yang sedang kaupikirkan, Ishida-san?"
"Eh?" Aku terkejut, tak menyangka ia akan bertanya duluan.
"Saya bisa lihat dari raut wajah Ishida-san…"
Hebat sekali. Ia tak punya ekspresi tapi bisa menebak ekspresi orang lain.
"Yah… aku hanya…" aku mengangkat bahu. Sebenarnya aku sedikit segan menceritakan masalah ini pada orang lain. Ini tergolong privasi, tapi tampaknya Kurotsuchi ingin tahu. Ia ingin tahu masalah yang membuat otakku berkabut seperti ini.
"Saya mungkin bisa membantu kalau Ishida-san bercerita pada saya." Tawarnya. Mataku membulat, tak percaya bisa mendengar Nemu Kurotsuchi bisa bicara seperti itu. Aku terlalu heran, sehingga ia mengambil giliran bicara lagi.
"Saya selalu diingatkan oleh ayah saya agar bisa berguna bagi orang lain. Jika ada masalah, Ishida-san bisa bercerita pada saya, saya mungkin bisa membantu."
Aku berusaha mempercayai telingaku. Manusia tanpa ekspresi seperti Nemu Kurotsuchi menawarkan diri untuk membantuku? Wow, fantastis. Sebetulnya aku masih ragu. Aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya karena-siapa yang bisa membaca kertas putih polos yang belum ditulisi apa-apa, tolong acungkan tangan.
Oke, aku coba saja bercerita, semoga saja ia tak berniat memanfaatkanku.
"Ini soal ayahku."
Ia tampak mendengarkan dengan seksama.
"Saya pernah dengar dari Orihime-san, kalau Ishida-san selalu menyalahkan ayah kalian." Ia menanggapi. "Benarkah begitu?"
"Tentu saja ia salah. Ia tega meninggalkan kami dengan alasan mencari obat untuk Kaa-san. Namun ia tak pernah kembali. Padahal Kaa-san lebih suka jika ia tetap disini bersama kami." Kulanjutkan ceritaku. "Tapi, aku…"
"Mencemaskannya, begitukah?"
Ia menyambar, ia tampak sangat paham persoalanku ini.
"Darimana kau tahu?"
"Saya bisa melihatnya dari mata Ishida-san kalau Ishida-san tak sepenuhnya menyalahkan ayah kalian. Saya juga seorang anak… saya tahu perasaan seperti itu."
Aku terdiam. Kurotsuchi benar. Aku memang mencemaskannya. Aku takut terjadi apa-apa padanya sehingga ia tak bisa berkumpul lagi bersama kami disini. Aku takut ia mengalami hal-hal yang sangat berat dalam perjalanannya mencari obat, dan ia tak mampu menanggungnya… kami bertiga sangat membutuhkan dia. Berharap ia segera kembali. Secepatnya. Demi Kaa-san, demi Hime…
"Ishida-san, bergembiralah."
Hah, apa katanya tadi?
"Jangan terlalu cemas… percayalah, kau akan mendapatkan yang terbaik. Ayah Ishida-san akan baik-baik saja." Ia menepuk pundakku dengan lembut. "Ishida-san tak perlu khawatir. Dia ayah Ishida-san, ia pasti orang yang hebat karena Ishida-san juga orang yang hebat."
Ahahaha. Aku tertawa kecil mendengar kata-katanya tadi. Sekarang aku tak mempedulikan segala kedatarannya.
"Nah, sekarang Ishida-san tinggal tersenyum untuk menghilangkan segala kekalutan."
Ia menarik ujung-ujung bibirnya dengan jari telunjuk-berusaha membentuk senyuman-dan menghasilkan sebuah…sebuah…yah sebuah senyuman aneh yang tak tega kusebutkan seperti apa. Kutahan tawaku, ingin rasanya aku tertawa sambil berguling-guling melihat ekspresi artifisial yang terpasang di wajahnya itu.
"Kalau tersenyum kan enak dilihat ya, Ishida-san."
"Bagaimana kalau Kurotsuchi-san juga tersenyum?" godaku.
"Eh, kan tadi sudah."
Kali ini tak bisa kutahan tawaku. Astaga, Nemu Kurotsuchi. Kau memang gadis yang lucu, ya.
*CHAP 3 ENDS*
#nowlisteningto: SS501-A Song Calling for You, yang MV-nya kocak bangetlah wkwk ^^*
Flu burung di HM. Untung HM bukan punya saya =.=a
Aaaa, Beethoven Virus! Jadi inget kemarin anak-anak Musik Klasik 3 mainin Beethoven Virus pas demonstrasi ekskul, wkwk. Keren banget, ah, jadi pengen belajar biola juga ==" Minimal masuk MK3 lah… paling jadi divisi angkut-angkut…#eaeamulairamblingan
Ada yang bisa menyebutkan perbedaan chapter ini sama chapter sebelumnya? XD
Susah banget nyesuain karakter Nemu sama Karen di sini. Makanya jadinya begini. Karen OOC, Nemu apalagi. Haaah *plak
Chap ini Ishi ama Nemunya masih formal-formalan. Tunggu chapter selanjutnya. Khu khu khu.
Oke, makasih atas apresiasinya Minna-san!
Don't hesitate to leave critics on my review page, danke schoen... ^^
