—A MinYoon Fanfiction—
Jimin | Yoongi | omegaverse | AU!ABOdynamics | mini series | R-18 | M-Preg later | I don't take any profit with this chara | Beware! '-')/
.
Do not plagiarize!
I warned you.
(Hope you can) enjoy!
.
.
.
"Eomma..." Yoongi berbisik lirih begitu pelukan hangat melingkupi tubuhnya kini. Mengangguk pelan seolah memberi isyarat bahwa dirinya baik-baik saja kepada orang yang disebutnya sebagai seorang ibu.
Jimin terkejut di tempatnya berdiri. Jelas ia mendengar bisikan Yoongi yang mengatakan bahwa lelaki pirang yang memeluknya itu dipanggil ibu. Tetapi... jika Yoongi memanggilnya ibu kenapa ia memiliki aroma alpha yang kuat? Seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya benar-benar seorang alpha.
"Yoon, kenapa bisa begini?" suara lembut diiringi senyuman hangat dan usapan sayang di kepala Yoongi membuat lelaki manis itu balas tersenyum padanya. "Ada seseorang yang mencoba melukaimu?"
Yoongi baru saja ingin menjawab pertanyaan ibunya tetapi perkataan Jimin telah menginterupsinya.
"Maafkan aku. Aku tak sengaja melukainya." Jimin berkata menatap tegas lelaki pirang di hadapannya yang kini mengalihkan perhatiannya dari Yoongi untuk menelisik Jimin secara detil dengan doe eyes-nya yang berwarna cokelat gelap persis seperti Yoongi. Wajahnya begitu menarik, elegan dan tampan namun juga tersirat kelembutan yang mendalam menjadi satu ketika kau melihat raut wajah dan ekspresinya.
"Kau..." lelaki pirang itu mendekati Jimin dan menatapnya lekat. Berjalan mengitari Jimin dan juga ia berdesis tak suka melihat simbol alpha di bawah telinga kiri Jimin. "Kalau kau mengincar darah anakku di sekolah ini sebaiknya—"
"Eomma!" Yoongi tiba-tiba bersuara, ia menatap Jimin sekilas namun ketika kedua mata mereka bertemu Yoongi segera mengalihkannya. "Dia... dia temanku."
Si lelaki pirang yang dipanggil eomma oleh Yoongi itu mendelik tajam pada Jimin yang memandangnya intens. Jimin menatap lehernya yang tersingkap dari kemeja hitam yang dipakainya dan menemukan simbol kecil yang menyatakan bahwa lelaki itu seorang omega. Jimin menahan senyumnya, kalau ibunya seorang omega berarti kemungkinan besar Yoongi juga adalah seorang omega. Mengenai bau feromon alpha yang mereka bawa juga kemungkinan besar mereka di-marking. Oh astaga, kenapa Jimin tak berpikir sejauh itu. Memikirkan bahwa Yoongi mungkin saja di-marking oleh ayahnya sendiri yang seorang alpha?
"Sejak kapan kau berteman dengan alpha, Yoon?" lelaki itu menatap Yoongi penuh tanya yang membuatnya harus menundukkan kepala karena tak ingin ibunya menatapnya marah sebelum kembali menatap Jimin penuh selidik. "Lagipula, seharusnya alpha muda ini menggunakan penangkal hormonmu, nak. Kalau kau mencoba mengincar anakku, aku tak segan akan melaporkanmu ke kepala sekolah dan membuatmu dikeluarkan dari sekolah ini sekaligus membuat malu keluarga pack-mu karena telah mencoba melecehkan seorang omega, hm?"
"Eomma..." Yoongi semakin menunduk dalam. Meremas erat ujung bajunya karena kepalanya mulai pusing. Ia tak suka ibunya berbicara seperti itu pada Jimin yang entah kenapa untuk pertama kalinya Yoongi merasa menentang ibunya dan dirinya lebih ingin berpihak pada Jimin yang bahkan baru dikenalnya hari ini. "Eomma aku ingin pulang!"
Yoongi tanpa sadar berteriak, membuat Jimin dan ibunya menatap terkejut sekaligus khawatir padanya. Terutama Jimin, ia merasa bisa merasakan perasaan terdalam Yoongi yang mengatakan bahwa dirinya ingin memberontak. Jimin tahu bahwa Yoongi menginginkan sedikit kebebasan dari kehidupan yang mengekangnya. Tetapi Jimin tak mengerti bagaimana keadaan kehidupan Yoongi yang sebenarnya. Yang Jimin mengerti adalah perasaannya dengan Yoongi terhubung sejak ia melukainya dan lelaki manis itu berjiwa kuat dalam sebuah kungkungan kasat mata yang dialaminya.
Hal itu membuat insting Jimin bergejolak. Jiwa alphanya memberontak ingin membawa Yoongi pergi, ingin memilikinya dan ingin... memberikannya cinta.
Lelaki pirang itu menghela napas. Ia menatap Jimin tajam sebelum akhirnya mendekati Yoongi untuk merangkulnya dan membawanya pergi dari ruang kesehatan ini.
Jimin hanya bisa menatap kepergian Yoongi dengan menahan kesal. Yoongi menatapnya sendu dengan wajah memerah sesaat ia pergi bersama ibunya keluar dari sana untuk membawanya pulang. Disana Jimin mendengar suara hati Yoongi yang berkata padanya;
"Jimin-ah,aku tak ingin terus seperti ini."
.
Jimin mengepalkan kedua tangannya. Di dalam pikirannya terus bertanya-tanya tentang Yoongi. Ada apa gerangan dengan makhluk manis itu yang kini mampu menyita ruang pikirannya. Jimin menyimpulkan bahwa Yoongi membutuhkan sosok dirinya untuk menolongnya. Tetapi pertolongan macam apa Jimin sungguh tidak mengerti. Ia butuh seseorang untuk menjelaskan secara langsung padanya.
"Hei, Jimin! kau melamun?" seseorang menepuk bahu Jimin, ternyata itu Jungkook yang sudah kembali dan ia melihat sekeliling dengan heran karena sudah sepi dan hanya tinggal Jimin sendiri. "Kok sepi—"
"Aku pergi." Jimin berucap datar namun dengan cepat ia pergi meninggalkan Jungkook yang tak sempat menatapnya karena Jimin menghilang begitu cepat.
"Hei, Jimin! Kita masih ada pelajaran sore ini—aish alpha liar satu ini benar-benar!" Jungkook malah menggerutu di tempat ia berdiri. Ia tak mengerti kenapa Jimin merubah sikapnya sampai sedatar itu dan melihat tidak adanya senior yang tadinya tertidur di ranjang ruang kesehatan itu hanya membuat Jungkook mampu menyimpulkan situasi yang ada.
Jungkook pikir setelah ini mungkin sahabatnya akan sedang di mabuk asmara. Itu artinya kesempatan baginya untuk mendekati si Park bungsu yang biasa ditamengi oleh kakaknya yang kejam itu.
.
.
.
Bukan salah Kim Jaejoong ataupun salah Jung Yunho yang menentang keras keinginan keluarga untuk tetap berada di garis tetap yang terjadi secara turun-temurun. Tetapi takdir menyatukan mereka, bukan dari garis soulmate seperti tradisi keluarga Jung ataupun keluarga Kim yang tak menyangka bahwa takdir benar-benar melewatkan garis batasnya padanya.
Jung Yunho adalah seorang alpha. Keluarganya cukup terpandang karena pack mereka memiliki ciri khas tersendiri di kalangannya. Keluarga Jung sudah sejak ratusan tahun terakhir selalu memiliki garis keturunan yang sama. Hal ini dilihat dari pack mereka yang sebagian besar—hampir seluruhnya terdiri dari alpha sekaligus soulmates. Tak heran keluarga Jung biasanya berpasangan dengan sesama alpha karena hampir seluruh dari mereka merupakan soulmates yang setia. Itulah mengapa keluarga pack Jung patut diberikan tanda sebagai salah satu pack terkuat di negara ini. Dengan 90% anggota alpha, kekuatan mereka tidak bisa diremehkan.
Namun suatu hari Jung Yunho tak bisa seperti apa yang orang-orang sebelumnya dalam keluarga Jung miliki. Yaitu seorang soulmate. Ia tak bisa menemukan seorang soulmate dan dirinya hanya bisa berlabuh dengan seorang omega dari keluarga Kim. Hal itu sungguh mengguncang keluarga pack Jung jika ada salah satu dari mereka yang menikahi seseorang yang bukan soulmate nya sendiri.
Tetapi persetan dengan soulmate, bagi Jung Yunho pendampingnya saat ini bukan tentang belahan jiwa ataupun ciri khas dari keluarga yang diturunkan setiap generasi. Semua ini hanya tentang cinta. Cintanya kepada Kim Jaejoong adalah hal yang murni. Bukan sesuatu yang harus diasingkan apalagi diremehkan. Kenyataan bahwa takdir seorang alpha secara dominan akan selalu bersama omega, pasangan serasi dengan soulmate pun juga tak bisa dibandingkan dengannya. Semua hanya tentang kesetiaan cinta.
Sampai akhirnya Jung Yunho menikahi Kim Jaejoong orang-orang mulai meremehkan mereka. Terlebih menjelang tiga tahun pernikahan, mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Orang-orang mulai mencibirnya dengan karma karena Jung Yunho mengkhianati keluarganya sendiri dengan menikahi seseorang yang bukan soulmate darinya.
Tetapi sekali lagi takdir senang bermain dengan pasangan yang tak mempedulikan apapun selain di mabuk cinta, akhirnya Jaejoong yang kini menyanggah marga Jung seperti suaminya telah melahirkan seorang anak tunggal lelaki manis dengan darah kental seorang omega mengalir di tubuh mungilnya. Namanya Jung Yoongi.
Seakan karma memang menghantui sosok Jung Yunho, karenanya seorang omega di keluarga Jung adalah hal yang langka mengingat pack-nya didominasi oleh alpha. Maka kelahiran seorang omega—terutama omega laki-laki—di keluarga Jung ada yang menyebutnya dengan pembawa sial dan ada yang menyebutnya sebagai aset bagus yang menurut legenda yang beredar seorang omega dari keluarga Jung memiliki darah suci yang akan membuat seorang alpha menjadi lebih kuat jika menjadi pasangannya.
Oleh karena itu, banyak alpha di luar sana yang masih percaya dengan rumor legenda macam itu ingin menyandingi satu-satunya anak omega dari Jung Yunho.
Sebagai orang tua yang baik, Yunho dan Jaejoong hanya ingin melindungi buah hati tersayang mereka dari kejahatan apapun. Yunho terpaksa memberikan Yoongi marking ditubuhnya bahkan sejak ia belum present sekalipun. Pertumbuhan Yoongi yang lebih mengarah sebagai calon omega benar-benar membuatnya sangat khawatir sejak saat itu.
Itulah mengapa Yoongi jadi merasa 'terkurung' dalam lindungan kedua orangtuanya. Meski hal itu demi kebaikannya sendiri, Yoongi merasa dirinya hanya akan menjadi sumber malapetaka bagi orang lain dan orangtuanya karena kehadirannya di dunia pun sudah menyusahkan ayah dan ibunya sendiri.
.
.
.
Hari demi hari berlalu. Sudah setahun semenjak Jimin terakhir kali melihat Yoongi di ruang kesehatan di hari pertamanya mereka berinteraksi, Jimin tidak pernah melihat Yoongi lagi di jajaran senior bahkan sampai Jimin lulus pun murid bernama Yoongi itu tidak pernah kembali lagi.
Jimin kecewa. Sungguh sangat kecewa lelaki manis pujaannya pergi begitu saja tanpa meninggalkan jejak. Tetapi meskipun begitu Jimin tidak pernah melupakan interaksi terakhir mereka. Hari itu Jimin bersumpah, ia akan menjadi seorang alpha yang kuat untuk mendapatkan Yoongi dan melindunginya.
Selama setahun ke belakang Jimin benar-benar menjadi orang yang giat. Ia belajar sungguh-sungguh bahkan terus berlatih bela diri untuk menjaga keseimbangan tubuh dan staminanya sama seperti sang ayah. Di sela-sela kesibukannya ia menggali informasi tentang keluarga Jung. Mencari tahu sejarah tentang keluarga pack mereka bahkan sampai membuat ayahnya terkejut bila Jimin benar-benar memiliki ikatan dengan keluarga pack Jung yang terkenal dengan mayoritas alpha disana.
Jimin juga menyelidiki dirinya sendiri, ia berkonsultasi pada seorang beta yang berprofesi sebagai dokter dinamis kenalan ibunya tentang Jimin yang selalu merasakan getaran aneh di lengan kirinya dan pengalamannya bisa mendengar suara hati seseorang. Dokter tersebut mengatakan bahwa Jimin pernah memegang darah omega yang kemungkinan calon soulmatenya dan itulah mengapa Jimin merasakan ada sesuatu yang terus terikat di lengannya untuk menghubungkan dirinya dengan pemilik darah yang pernah Jimin sentuh. Tetapi untuk benar-benar menjadi soulmates sejati, Jimin harus 'mengikatnya' terlebih dahulu.
Meski Jimin yakin dengan apa yang diucapkan sang dokter dan kata-katanya yang Jimin yakini hal itu merujuk pada Yoongi, tetapi hingga Jimin kini resmi menjadi tangan kanan ayahnya di bisnis perusahaan Property milik keluarga pun Jimin sama sekali tak mengetahui dimana keberadaan sosok manis yang memikat hatinya itu.
Jimin selalu menatap telapak tangannya setiap pagi, rasanya Yoongi itu dekat dengan dirinya namun jauh dalam genggaman tangannya.
.
.
.
Sudah setahun.
Yoongi tersenyum kecil dari gumamannya sendiri ketika ia menandakan sebuah kalender duduk di meja nakas kamarnya dengan sebuah pena warna biru. Yoongi kemudian berjalan menuju sebuah jendela bulat di sudut kamar dengan nuansa biru lembut itu dan membuka celahnya sedikit untuk membiarkan udara luar masuk.
Pagi datang kembali dan Yoongi masih sama seperti setahun yang lalu. Hanya saja semenjak hari dimana ia terluka, dirinya tak menyadari apapun sampai akhirnya ia tiba di rumah ini dan berubah menjadi orang yang jarang sekali keluar dari rumah. Yoongi tak punya teman. Sekolah di universitasnya putus begitu saja dan tak ada teman yang bisa dihubunginya sekalipun. Dunia Yoongi seolah sedang jungkir balik dan kehidupan barunya hanya seputar orangtuanya saja.
Yoongi bahkan jarang keluar rumah, kulitnya yang putih hanya membuatnya terlihat semakin pucat. Sekalipun ia keluar rumah, ibu atau ayahnya pasti berada di sampingnya. Sesungguhnya hal itu membuat Yoongi muak setengah mati. Tetapi apa daya, Yoongi hanya bisa menuruti semua perintah orangtuanya. Yoongi cukup mengerti hidupnya sebagai lelaki omega yang lemah memang kelemahan orangtuanya. Yoongi hanya bisa membuat keduanya merasa bahagia meski dengan hadirnya dirinya sebagai sebuah karma. Yoongi hanya perlu menjadi anak baik meski jiwa Yoongi menolaknya.
Ada perasaan baru yang mulai hadir sejak setahun terakhir. Sesuatu yang menggetarkan lengan kirinya yang membuat Yoongi ingin memberontak keluar. Ingin bebas pergi keluar tanpa khawatir akan orangtuanya. Ingin mengikuti dimana pusat getaran yang mendebarkan jantungnya ini berada.
Jimin... benar.
Lelaki itu terlalu banyak meninggalkan kesan untuknya. Cengkeramannya yang kuat dan dalam, Yoongi masih bisa merasakannya dengan jelas. Yoongi tak bisa melupakan lelaki alpha yang sudah melukainya itu. Sebaliknya, Yoongi justru sangat ingin bertemu dengannya kembali. Ada banyak hal yang ingin Yoongi sampaikan padanya lewat suara hatinya karena hanya Jimin lah yang benar-benar menyahuti apa yang digumamkan dalam hatinya. Orangtuanya yang selalu melindunginya pun bahkan tak bisa mendengar suara hatinya.
Ah, semakin Yoongi memikirkannya semakin dirinya ingin berlari keluar untuk menemukan segala hal yang diinginkannya tanpa rasa takut.
"Yoongi, kau sudah bangun, hm?"
Yoongi menoleh ke arah sumber suara hanya untuk menemukan ibunya—Jaejoong sedang tersenyum lembut padanya di ambang pintu kamarnya. Merentangkan kedua tangannya meminta Yoongi untuk menyambutnya dalam sebuah pelukan hangat.
"Eomma..." Yoongi tersenyum dan berjalan untuk menghampiri ibunya dan memeluknya.
Hangat. Itulah yang selalu Yoongi rasakan bila ibunya memeluknya seperti ini.
"Sayangku, ada yang sedang kau pikirkan?" tanya Jaejoong khawatir. Perlahan namun pasti menyeret Yoongi keluar dari kamarnya untuk menuju meja makan yang sudah mengepulkan asap makanan diatasnya.
Yoongi menggeleng kecil. "Aku hanya sedang memikirkan apa aku cukup kuat untuk menjadi seorang lelaki omega... sepertimu? Aku... aku selalu berada di rumah, apa aku terlalu lemah untuk berada di luar seorang diri?"
Jaejoong menghela napas pelan. Ia mendudukkan Yoongi di salah satu kursi meja makan dan ia sendiri duduk di hadapannya. Menatap putra tunggal satu-satunya dengan sungguh-sungguh. "Kau itu kuat Yoongi. Kau itu berharga bagi kita. Hanya saja dunia di luar sana sulit untuk omega seperti kita. Kau tahu harabeoji pun pernah bilang untuk jangan membiarkanmu terluka sebelum beliau meninggal, bukan?"
Yoongi sangat paham dengan apa yang terjadi di keluarga Jung dan bagaimana perannya di keluarga ini. Yoongi hanya menyesal, kenapa dirinya tidak pernah lahir sebagai seorang alpha agar orangtuanya berhenti melindunginya setiap saat. Yoongi benci dirinya lahir sebagai seorang omega yang tak memiliki kekuatan apapun.
"Yoongi sayang, bagaimana kalau hari ini kita belajar menu masakan baru di restoran bibi Jung? Kita akan minta Appa menjemput sore nanti sepulangnya ia bekerja dan makan malam bersama disana?" Jaejoong segera merubah raut wajahnya dengan ceria untuk menghancurkan atmosfir serius akibat pembicaraan mereka semula. Ia ingin membuat Yoongi merasa senang.
Yoongi seketika tersenyum cerah. Itu artinya ia akan jalan-jalan keluar hari ini. "Huum! Aku juga ingin bertemu bibi Jung."
Jaejoong mengelus rambut cokelat Yoongi dengan gemas. Ia berjanji pada dirinya untuk selalu akan berada di sisi putra manisnya sampai kapan pun.
.
.
Jimin menatap berkas map di mejanya dengan seksama. Itu adalah berkas company profile milik peserta baru anggota pemegang saham yang terpilih sebagai investor utama tahun ini yang akan bekerja sama dengan Park Co,. Yang menarik perhatian Jimin adalah pemilik nama dari usaha terbuka sebuah pabrik elektronik rumah tangga itu bernama Jung Yunho. Entah bagaimana tiba-tiba Jimin segera teringat oleh Yoongi. Marganya yang sama dan wajah di foto profilnya disana benar-benar mengingatkannya pada Yoongi. Seolah mendapatkan secercah harapan, untuk pertama kalinya Jimin kembali merasa bersemangat.
"Hei," tiba-tiba seseorang menghampiri Jimin dan mengambil berkas di tangan Jimin. "Akhirnya yang terpilih milik Yunho-ssi di voting Rapat Umum tadi?"
Itu Park Yoochun, ayahnya yang baru saja tiba setelah kembali dari kantor cabang di luar Seoul. Sebagai gantinya hari ini Jimin yang telah menggantikan kehadirannya dalam sebuah rapat penting tahunan bagi para pemegang saham.
"Ayah, kau sudah kembali." Jimin kemudian menyerahkan berkas-berkas hasil rapat hari ini pada ayahnya. "Ngomong-ngomong kenapa kau memanggilnya seakrab itu? Kau kenal keluarga Jung?"
Yoochun mengangkat satu alisnya dan menatap Jimin penuh tanya. "Jangan bilang kau—"
"Ya, ayah, sepertinya aku langsung menemukan 'ayahnya' disini." Jimin tersenyum miring.
"Yak, Park Jimin, aku tidak mengijinkanmu untuk mencari seorang mate sekarang ini. Fokus dengan pekerjaanmu lebih dulu!" Yoochun memperingati Jimin dengan wajah seriusnya.
Jimin hanya mengiyakan perkataan ayahnya dengan malas.
Lama memandang berkas hasil rapat kali ini, tiba-tiba wajah Yoochun menatap serius. Keluarga Jung menjadi peringkat pertama investor utama di ibukota negara ini dan juga bekerja sama dengan Park Co,. Perusahaan elektronik adalah perusahaan dengan persaingan ketat secara nasional. Banyak yang berlomba-lomba ingin menjadi investor utama di Seoul dalam era kemajuan teknologi seperti ini. Yoochun berharap semoga tahun ini kegiatan perusahaannya tetap lancar seperti biasa. Walau sedikit banyak ia lebih mengkhawatirkan pesaing perusahaan elektronik akan bermain kotor mengingat saat ini orang lebih suka saling bersaing untuk mendapatkan tempat bagus dengan cara apapun.
"Ayah, kau melamun." Jimin menepuk pundak ayahnya ketika menyadari lelaki paruh baya tersebut terdiam di atas kursi.
"Ah, Jimin. Apapun yang terjadi jangan ikut campur urusan bisnis orang lain. Kita tetap fokus pada pembangunan dan arus keuangan tetap stabil." Ayahnya lalu meninggalkan Jimin di ruangannya.
Jimin hanya menatap bingung dengan perkataan ayahnya sendiri. Ia kemudian segera merapikan mejanya dan berniat untuk mengajak Jungkook makan di luar. Omong-omong pemuda tersebut telah menjadi bagian dari Park Co,. di divisi marketing. Wajahnya yang tampan ternyata memang mampu menarik banyak calon pelanggan saham di Property.
.
.
Pesta dadakan di sebuah restoran daging itu membuat Yoongi senang bukan main. Ternyata selain ingin bersenang-senang dan memberi kejutan kepada ayahnya, Yoongi dan Jaejoong malah juga diberi kejutan oleh sang kepala keluarga yang juga ingin berbagi kebahagiaan karena usaha nilai sahamnya tahun ini berada di peringkat tertinggi. Pada akhirnya mereka berpesta bersama disana. Berbagi kehangatan sebuah keluarga kecil penuh canda tawa dan kasih sayang.
Semua berjalan lancar sampai tiba-tiba Yoongi terdiam dan menundukkan kepalanya, ia memegang lengan kirinya erat dan mendadak menggigil. Yunho yang menyadari hal tersebut pertamakali segera merangkul Yoongi untuk menatap wajahnya yang semakin memerah. Yunho juga menyadari bau feromon omega pekat yang khas mulai menguar dari tubuh Yoongi dan ia segera memblokirnya dengan membuat marking yang cukup kuat padanya agar tak ada orang sekitar yang bisa membaui feromon milik Yoongi.
Jaejoong yang menatap suaminya begitu tergesa-gesa juga segera mendekati Yoongi untuk memeluknya dengan khawatir dan mengecek suhu tubuhnya. "Oh tidak, aku hampir melupakan tanggalnya, Yun! Kita pulang sekarang!"
Sang kepala keluarga hanya mengangguk dengan wajah yang terlihat begitu serius namun menyimpan kekhawatiran disana. Ia membopong Yoongi dan membawanya keluar. Jaejoong disana segera berpamitan dengan keluarga bibi Jung di ruang privat restoran itu dan membungkuk sopan karena harus meninggalkan mereka dengan cepat.
"Jaga keponakanku ya, Jae!"
Kemudian Jaejooong segera menyusul suaminya dan juga Yoongi keluar dari sana. Mereka akan pulang sekarang juga karena Yoongi tiba-tiba kedatangan masa heat nya.
.
.
Jimin baru saja memarkirkan mobilnya dan menatap heran lengan kirinya yang tiba-tiba berdenyut aneh dan terasa panas. Ia juga menatap dua orang yang seperti sedang membopong seseorang lainnya itu berlari terburu-buru memasuki sebuah mobil dan melaju cepat keluar dari lingkungan restoran.
Jungkook yang juga mengikuti arah pandang Jimin itu bertanya-tanya dengan hidung yang mengendus, "Mereka kenapa sih? Bau feromonnya... bercampur?"
Jimin kemudian mengepalkan lengan kirinya dan merasakan denyutnya yang menguat dan melemah. "Jungkook-ah, aku kenal bau ini. Jung Yoongi..."
Jungkook berjengit heran. "Maksudmu Yoongi senior waktu itu?" Jungkook kemudian memukul perut Jimin dengan agak kencang. "Kau pasti sedang kelaparan hah?! Atau rut mu sudah akan datang lagi? Ayo cepat kita makan!"
Jungkook kemudian segera berlari ke dalam restoran sebelum Jimin mengeluarkan cakarnya dan berniat merusak wajah tampannya.
Jimin menatap mobil hitam tersebut melaju sampai hilang dari pandangannya.
Ketika ia berbalik, Jungkook sudah memesan makanannya. "Yak Jeon Jungkook kemari kau!"
.
.
.
Jaejoong baru saja membuat Yoongi tertidur dengan memberinya suntikan suppressant 10 miligram yang selalu disediakannya di rumah untuk Yoongi di kala ia sedang mengalami heat setiap tiga bulan sekali. Yoongi tak bisa menelan obat suppressant, jadi ia diberi alternatif dalam bentuk cairan suntikan.
Jaejoong mengusap dahinya lesu kemudian menghampiri suaminya di kamar. "Yun, maafkan aku melupakan jadwal heat Yoongi. Aku menyesal, ia pasti kesakitan."
Yunho hanya menghela napas dan memeluk istrinya. "Tak apa, jangan kau ulangi lagi ya? Apa Yoongi sekarang sudah tidur?"
Jaejoong mengangguk. Ia kemudian menatap Yunho serius. "Yun, apa sudah saatnya kita mencarikan seorang mate untuk Yoongi? aku tak tega setiap melihatnya dalam masa heat harus sendirian menahan sakit. Suppresant itu hanya membuat daya tahan tubuhnya melemah."
"Tidak, Yoongi itu anak yang kuat. Sekarang ini biarkan saja seperti ini. Aku tidak ingin Yoongi terluka oleh alpha lain. Kau tahu, saat ini pekerjaanku sedang beresiko. Aku tak ingin Yoongi muncul di permukaan bila ia memiliki seorang mate dalam waktu dekat. Yoongi adalah anak kita satu-satunya yang berharga." Yunho berucap serius. Menatap istrinya dengan sungguh-sungguh untuk membuatnya percaya kepadanya.
Jaejoong hanya tersenyum kemudian mendengarnya. Ia mengangguk mengerti akan perkataan suaminya. "Baiklah,"
Sedangkan di sisi lain Yoongi tidak sedang tertidur, ia terbangun menahan rasa sakitnya melalui masa heat nya yang sensitif sendirian. Kamarnya di penuhi aroma feromonnya sendiri dan penampilannya kini benar-benar berantakan. Suppressant yang telah disuntikkan oleh Jaejoong sepertinya tidak mampu menembus batasnya. Sepertinya Yoongi butuh suppressant dengan dosis yang lebih tinggi.
Tetapi daripada itu, Yoongi merasa lengan kirinya terus berdenyut sejak di restoran dan itu mengingatkannya pada Jimin. Lelaki alpha itu... mungkinkah berada dekat dengannya?
"Aahh..."
Yoongi menggelengkan kepalanya, tidak mungkin Jimin berada dekat dengannya. Pemuda itu pasti sudah melupakannya mengingat mereka hanya bertemu hari itu setahun yang lalu dan hari itu pula mereka berpisah.
Tetapi entah mengapa bayang-bayang Jimin terus memenuhi kepalanya dan itu membuat masa heat Yoongi kali ini semakin tersiksa.
.
.
.
.
To be continued...
.
.
Nb : teehee! Ketemu lagi, disini alurnya saya bikin cepet sedikit. Tapi bacanya pelan-pelan aja ya biar enak heuheu. Maafkan juga karena saya anak Cassie yang gabisa lupain legend pairingnya jadi jawaban kemaren tuh bukan Jung Hoseok tapi Jung Yunho. Maaf :(
Btw selamat hari raya idul fitri bagi yang merayakan! Maafkan saya seneng bikin yungi menderita :(
Ada satu QnA yang mungkin berguna buat kalian :'D
Q : Penjelasan lebih lanjut tentang omegaverse?
A : saya juga pake basic (chapter 1) yang beredar di internet dan banyak dipake oleh fanficcers. Silahkan kalian bisa baca ke situs ini:
theomegaverse , tumblr , com / rundown
phoenixacademyadmin , weebly , com / abo-basics
archiveofourown , org / works / 8691418
jadi jangan heran kalo liat kemiripan disana ya hehe. Jangan lupa hapus tanda spasi dan ganti koma dengan titik buat kunjungin situsnya.
SPECIAL thanks to kamu yang mau komentar kemarin, I Love You~!
kuramauchihakyu69 / shitae / Vi-kun / fyoochwex / Jimsnoona / icha744 / Re . rest07 / min . xxs / Rizuku / famekillahz / yoongiku / PoppoMing / Bubble tea coffee / yuliita / Iis899 / Park RinHyun-Uchiha / jenbwi / YouMint / Buzlague / ravoletta / chimiesry / bangtaninmylove / Linkz account / rossadilla17 / aya . anezaki / Jibangie / N-Yera48 / RenRenay / naranari II / pinkeualmond / Nury630 / Riani Lee / minyoonlovers / MinReri Kujyou / jkthmhsygsjnj / sugarism / mayuyumi fujimoto wkwk / cicipciel / Yxxx1106 / Jang Taeyoung / Anomalee twentytwo / cheonsa19 / perfecthaugust / Fujonyasar / Dyah Cho / NabillaTaehyung / haneunseok
Thank you!
.
.
With love and respect,
Phylindan. :3
