Cute Boy Beside Me

(ChanBaek, HunHan, KaiSoo)

Romance & drama

BoyxBoy

T → Err(?)

A fanfic by Fujocouple23

Summary

Niat untuk mengalahkan playboy kelas kakap di sekolahnya, Baekhyun, Luhan, dan Kyungsoo membuat ramuan agar menjadi manly. Tapi, bukannya manly yang didapat, melainkan menjadi laki-laki yang cantik dan menggemaskan. Akankah para playboy kelas kakap tersebut terjerat dalam pesona mereka?

~Happy Reading~

Chapter 3

Luhan benar-benar shock saat melihat Sehun, yang dengan berani mencium bibirnya, tepat di belakang Sehun ada Jung Seongsengnim dengan mata membelalak kaget. Luhan pastikan, Jung Seongsengnim juga sama terkejut melihat apa yang telah dilakukan Sehun kepadanya. Salahkan saja kebodohan Sehun, selalu membuat kepalanya hampir pecah dengan tingkah mesumnya.

"Ma-maaf pak, Se-sehun—"

"Cepat cari apa yang kau butuhkan di Perpustakaan, Luhan. Sebelum kelasmu masuk." Setalah berucap seperti itu, Jung Seongsengnim meninggalkan Luhan sendiri dengan wajah gelisah. Ia berharap Jung Seongsengnim tidak melaporkannya kepada Yoora seongsengnim, karena kejadian yang dilihatnya tadi.

Luhan kesal sekali dengan sikap Sehun yang selalu mengganggunya. Terutama kontak fisik yang membuatnya harus mati-matian menahan jantungnya agar tidak melompat keluar. Apa yang Sehun pikirkan? Kenapa selalu melakukan itu dengannya?

Bertemu lagi denganku, maka bersiaplah untuk mati Oh Sehun!—Batin Luhan sanmbil melangkahkan kedua kakinya untuk masuk ke ruang perpustakaan.

[KAISOO PRESENT]

Kyungsoo sangat kesal melihat Baekhyun yang tak kunjung datang setelah meminta izin ingin pergi ke toilet. Sebentar lagi pelajaran akan segera dimulai, Baekhyun belum menampakkan batang hidungnya sedari tadi. Apa dia ingin membolos? Kalau benar, maka setelah pulang nanti ia akan menelepon ayahnya untuk memotong uang sakunya. Melirik ke arah Kai, membuat Kyungsoo berdecak kesal. Apalagi tatapannya itu tidak pernah berhenti untuk menatapnya.

"Berhenti menatapku, Kai! Atau aku akan mencolok matamu!" Kyungsoo menatap Kai dengan mata bulatnya, tapi justru semakin menggemaskan di mata Kai.

"Well, aku tidak melihatmu, tapi malaikat itu bersembunyi di belakangmu terus." Kai terkekeh melihat Kyungsoo yang terdiam beberapa detik, dan tiba-tiba menatapnya datar. Kyungsoo tidak ingin berdebat lagi dengan Kai, dan ia lebih memilih untuk mengeluarkan buku pelajaran sebelum pelajaran di mulai.

Kai melirik sebentar kursi Baekhyun dan Chanyeol, yang tampaknya akan kosong hingga pelajaran selesai. Ia bersmirk ria mengingat pesan Chanyeol tadi malam, bahwa ia akan menculik Baekhyun seharian. Daripada Chan-Hun yang jatuh cinta dengan Baekhyun Luhan dan, ia merasa mendapatkan Kyungsoo jauh lebih susah. Kyungsoo terlihat susah dijinakkan, karena sifatnya memang terlihat lebih dewasa daripada Luhan yang berstatus sebagai kakak tingkatnya. Kai mengeluarkan buku di dalam tasnya, dan berjalan ke arah tempat duduk Kyungsoo. Kai duduk di tempat biasanya Baekhyun duduk, melirik sekilas ke arah Kyungsoo yang sedikit terkejut melihatnya

"Ya! Kenapa kau duduk di tempat Baekhyun!" Kyungsoo berteriak sambil menatap Kai dengan tatapan kesal, Kai yang melihat itu pun seakan menulikan pendengarannya.

"Diamlah, Kyung. Kalau kau ribut, apa kata mereka? Kau ketua kelas." Kyungsoo mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas, dan melihat teman-temannya menatapnya dengan tatapan aneh. Kai tersenyum melihat Kyungsoo yang langsung terdiam. Ini mungkin bisa menjadi sebuah trik untuk mendapatkan Kyungsoo. Yah, selama Baekhyun tidak ada maka mendekati Kyungsoo tidak akan sulit. Kai berharap Chanyeol mau membantunya, untuk menculik Baekhyun sebulan agar tidak bertemu Kyungsoo. Haha …

Kai tidak mau berhenti menatap wajah Kyungsoo yang menggemaskan. Melihat wajah menggemaskan Kyungsoo, seakan melihat anak kecil yang baru berusia lima tahun. Walau Kyungsoo terlihat lebih manly daripada LuBaek, tetap saja dimatanya, Kyungsoo adalah anak kecil yang ingin sekali ia sodomi. Astaga! Apa dirinya terlihat seorang pedofil sekarang.

Saat pelajaran dimulai, Kai biasanya akan memejamkan kedua matanya, dan berkata dengan Sehun —teman sebangkunya untuk meminjamkan buku catatan, karena ia tidak akan mendengarkan penjelasan apapun dari guru. Tapi, melihat Sehun juga tidak ada di kelas sejak tadi, membuat Kai mengernyitkan dahinya. Kenapa hari ini Sehun juga tidak masuk sekolah? Apa karena Luhan sunbae? Entahlah Kai tidak ingin memikirkan Sehun, lebih baik melihat Kyungsoo yang seperti kafein di matanya, karena rasa kantuknya tiba-tiba menghilang melihat wajah manis Kyungsoo.

"Kyung … aku memikirkan bagaimana wajahmu saat ada di bawahku, mendesahkan namaku, dan memintaku untuk terus menghujami lubang ketatmu." Kai berucap dengan nada frontal, membuat Kyungsoo menolehkan kepalanya ke arah Kai yang menampilkan wajah mesumnya.

"Jangan membuatku, menjadikanmu orang yang pertama mati ditanganku, Kai."Kyungsoo menanggapi apa yang diucap Kai dengan nada serius dan penuh penekanan.

"Well, Kyung … aku lebih suka kau menjadikanku orang pertama yang membuatmu mendesah diatas ranjangmu."Kai mengabaikan wajah Kyungsoo yang penuh amarah, dengan menuliskan apa yang ditulis oleh guru di papan tulis.

Untuk saat ini berdebat dengan Kai membuang-buang waktu saja, tapi sungguh mendengar ocehannya membuat Kyungsoo semakin muak. Kai bahkan dengan berani memegang, mencium, dan mengelusnya tangannya, Kyungsoo memberikan death-glare kepada Kai, tapi Kai justru mendekatkan wajahnya ke arah Kyungsoo. Semua siswa-siswi tentu saja tidak ada yang memperhatikan mereka, karena semua fokus dengan penjelasan Ahn Seongsengnim.

"Kai, berhentilah membuat tanganku gatal untuk memukulmu! Apa kau tau bahwa menyentuhku akan membuatmu mati?" Kyungsoo menggerak-gerakkan tangannya untuk melepaskan genggaman tangan besar Kai. Ia juga tidak mau menimbulkan sebuah keributan, dan guru-guru menganggapnya tidak pantas menjadi ketua kelas.

"Ada apa dengan tanganmu, Kyung?" Kai mengelus tangan Kyungsoo dan menciumnya bak putri raja. "Aku lebih suka tanganmu menyentuh milikku dan kau akan mendapatkan kepuasannya, manis."

Oh cukup sudah! Kai membuat darahnya mendidih. Apa yang sudah dikatakan Kai sejak tadi, membuatnya ingin menampar keras wajah mesum itu. Sebenarnya otak Kai terbuat dari apa? Apa isi otaknya hanya penuh dengan desahan atau hal berbau seksual? Hanya Kai yang tahu itu semua. Dan melihat sikap Kai yang mengganggunya seperti ini, membuatnya tidak sabar untuk melaporkan Kai kepada Yoora—guru BK.

Saat jam pelajaran pertama selesai, Kyungsoo masih saja dihujami ocehan Kai yang memanggilnya dengan sebutan 'bokong seksi'. Kyungsoo sudah tidak peduli lagi dengan itu semua. Kai membuat mood-nya hancur selama tiga jam pelajaran Matematika. Itu juga mengganggu konsentrasinya belajar. Kyungsoo bergegas memasukkan buku pelajarannya ke dalam laci, meninggalkan Kai yang menatapnya tanpa berhenti.

"Kyungsoo, jangan pergi sendiri untuk istirahat! Aku tidak mau kau diambil orang!" Kai berusaha memasukkan asal buku-buku ke dalam tasnya dan mengejar Kyungsoo. Ia tahu kemana langkah kaki itu berjalan. Yup! Ruang neraka kedua setelah kelas —ruang BK! Kai mengejar Kyungsoo yang sudah lebih dulu berjalan cepat. Demi Tuhan! Pinguin itu cepat sekali.

Kai mengambil jalan pintas berseberangan dengan ruang kelas Luhan, dan dibelakang adalah ruang BK. Itu adalah jalan tercepat untuk bisamenyusul Kyungsoo. Dengan kecepatan full, Kai bisa mencegat Kyungsoo di pertengahan koridor. Koridor belum cukup ramai, karena sebagian guru masih betah mengajar di kelas, dan Kai masih menahan kedua bahu Kyungsoo dengan keringat bercucuran.

Kai menatap Kyungsoo tajam, berbeda dari sebelumnya yang hanya menampilkan wajah konyolnya. Kyungsoo dapat melihat perubahan itu dari Kai yang tiba-tiba menariknya untuk ikut bersama menuju …..toilet! Entah apa yang membuat Kai menjadi hilang kendali sekarang, dan berani menarik Kyungsoo ke toilet. Kyungsoo bahkan hanya bisa terdiam kaku, saat Kai berusaha memojokkannya ke dinding. Kai membawa kedua tangan Kyungsoo ke atas kepala, dan berusaha mencium bibir Kyungsoo.

"Berhenti Kai-ya!" Kyungsoo berusaha melepaskan genggaman Kai di tangannya. Apa yang mau dilakukan oleh manusia mesum ini.

"Apa dari sikapku membuatmu berpikir aku akan berhenti?" Kai mendekatkan wajahnya ke wajah Kyungsoo, membuat jarak mereka kian menipis. Kai mencoba menyentuh bibir Kyungsoo, tapi Kyungsoo menolehkan kepalanya. Sial! Kenapa ia benar-benar tergoda dengan Kyungsoo.

"Apapun yang ingin kau lakukan! Aku akan membunuhmu, Kai! Aku akan minta Park Yoora melaporkanmu kepada kepala sekolah karena melakukan pelecehan dan kau dikeluarkan!" Kyungsoo sebenarnya sudah mulai takut dengan sikap Kai yang seperti ini, belum lagi Kai tidak melepaskan smirk andalan dari wajahnya.

"Jika itu terjadi, maka tubuhmu sebagai bayarannya. Aku tidak ingin bermain kasar, jika kau mau menurut sedikit saja. Bisakah?" Kai mencium leher Kyungsoo dengan lembut, dan kedua kakinya juga sudah menahan pergerakan agar mangsanya tidak kabur. Kai sedikit menggigit leher milik Kyungsoo, dan membuat Kyungsoo dengan cepat mengatup kedua bibirnya agar tidak mengeluarkan suara sialan itu. "Suara indah itu jangan ditahan, Kyung."

Kai membuat Kyungsoo ingin menangis, tangannya pun terasa sakit sekarang akibat genggaman Kai yang terlalu kuat. Kyungsoo juga sudah merasa dilecehkan, karena Kai mencium bibirnya. Ia tidak mengerti kenapa Kai bisa memiliki sikap buruk terhadapnya? Apa ia pernah memiliki kesalahan dimasa lampau? Airmata Kyungsoo menetes dikedua pipinya. Kai yang melihat itu pun sadar 100%, dengan apa yang sudah ia lakukan terhadap orang yang disukainya. Kai melihat Kyungsoo yang terus menangis dengan wajah tertunduk.

"Ma-maafkan aku, Kyung. A-aku tidak ber—"

"Aku salah apa, Kai-ya! Apa aku pernah melakukan kesalahan denganmu! Aku sudah muak melihat sikapmu yang seenaknya seperti itu!" Kyungsoo menepis tangan Kai yang ingin menyentuh wajahnya, dan mendorong dada Kai yang masih mengukungnya. Kyungsoo keluar dari toilet dengan wajah sembam, dan meninggalkan Kai sendiri. Ia tidak ingin menangis di depan teman-teman sekelasnya, dan lebih baik jika ia pulang lebih awal sebelum bel masuk berbunyi.

Kai baru sadar apa yang ia lakukan sekarang. Dengan cepat ia mengejar Kyungsoo yang sudah menghilang dari koridor sekolah. Kyungsoo sangat marah dengannya, karena perbuatan brengseknya tadi. Shit! Nasi sudah menjadi bubur, akan sangat sulit untuknya meminta maaf dengan Kyungsoo kalau sudah seperti ini. Kai yakin kalau melihatnya pun Kyungsoo tak akan sudi. Dasar bodoh! Apa yang kau lakukan!—Umpat Kai

Kyungsoo duduk di halte sendirian. Tidak pernah terpikir sebelumnya, bahwa dirinya akan dilecehkan dengan teman sekelasnya sendiri. Ini memang tidak seberapa, karena Kai sendiri belum melakukan hal yang terlalu jauh dengannya. Kyungsoo hanya berpikir tentang harga dirinya sebagai laki-laki. Dan mengingat wajah Kai sudah cukup membuat Kyungsoo benar-benar muak. Kai memang selalu seenaknya dengan ucapannya, tapi ia tidak menyangka akan diperlakukan seperti itu dengan Kai.

"Asshole!" ucap seseorang yang sedang berdiri di depannya.

Kyungsoo menyeka airmatanya karena tidak ingin terlihat cengeng di mata orang lain, apalagi harus menangis karena perlakuan buruk laki-laki. Tidak! Harga dirinya akan semakin runtuh. Kyungsoo melihat perawakan laki-laki tersebut dengan seksama, dan merasa yakin dengan penglihatannya, ia mencoba menyapa dengan nada pelan tapi masih terdengar di telinga laki-laki itu.

"K-kris Sunbae?" laki-laki tersebut menoleh ke arah Kyungsoo. Matanya yang cukup sembam membuat laki-laki berperawakan tinggi itu dengan cepat menghampirinya. "Kyungsoo! Kau kenapa?" laki-laki yang bernama Kris tersebut menatap wajah Kyungsoo yang sembam akibat menangis.

"A-ku baik-baik saja, sunbae." Kris mendekatkan dirinya dan duduk di samping Kyungsoo. Ia menoba menenangkan tubuh mungil Kyungsoo yang bergetar. Makhluk mungil di sampingnya ini tidak mungkin bisa berbohong dengan keadaan mata sembam dan airmata yang sedikit mengalir. "Kau bukan orang yang bisa berbohong, Kyung. Katakan kau kenapa?"

Kris terkejut saat merasakan kedua tangan Kyungsoo yang memeluk pinggangnya, dan menenggelamkan wajahnya di dada bidangnya. Detak jantungnya bertalu dengan cepat, saat sebuah isakan itu tertangkap indera pendengarannya. Kris mengusap halus punggung Kyungsoo dengan lembut. Tubuhnya yang mungil pun, direngkuh oleh Kris dengan hati-hati, dan membuat sepasang mata menatapnya sambil mengepalkan kedua tangannya.

Merasa ditatapi oleh tatapan tajam, Kris menolehkan matanya hingga bertubrukan dengan manik mata Kai. Kris tersenyum remeh kepada Kai yang masih mengepalkan tangannya. Dengan wajah penuh kemenangan, Kris memberikan gesture kepada Kai dengan mengacungkan jempolnya kebawah. Gesture itu diberikan sebagai tanda, bahwa Kai sudah kalah.

Wajah kesal Kai sudah tidak bisa dijelaskan lagi, ia tidak mau Kyungsoo jatuh ke tangan laki-laki yang brengsek lebih darinya. Ia tidak mau Kyungsoo dijadikan bahan mainan, dan membuangnya seperti sampah saat bosan. Kai tulus menyukai Kyungsoo tanpa meminta apapun. Kalau Kyungsoo menolaknya seribu kali, maka seribu kali pula ia akan berjuang untuk mendapatkan Kyungsoo. Ia tidak ingin hidup dramatis seperti film, karena putus cinta dan berakhir bunuh diri. Ia ingin Kyungsoo bisa membuka mata hatinya untuk menerimanya. Kai —yang tulus mencintainya.

"Aku tidak akan membiarkanmu dengan orang yang lebih brengsek, Kyung! Dan aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Kyungsoo!" Kai meninggalkan Kyungsoo yang masih berada dipelukan si brengsek Kris.

[KAISOO OFF]

[HUNHAN PRESENT]

Luhan sudah mengirimkan pesan untuk Kyungsoo dan Baekhyun, bahwa ia akan menghabiskan waktu istirahatnya di rooftop untuk belajar. Alasannya belajar di sana agar tidak bertemu dengan Sehun lagi. Luhan selalu merasa terganggu dengan kehadiran Sehun didekatnya. Entahlah jangan bertanya bagaimana perasaannya sekarang, karena ia hanya merasa perlakuan Sehun terhadapanya, membuat jantungnya berdetak semakin cepat. Apa dirinya menyukai Sehun? Ah! Bodoh yang benar saja Luhan menyukai playboy kelas kakap seperti Sehun.

Berjalan dengan buku-buku di tangannya membuat Luhan harus mendesah pelan. Ia harus belajar lebih ekstra daripada Kyungsoo dan Baekhyun supaya bisa masuk ke universitas idamannya. Terkadang dirinya harus bekerja Part time untuk membiayai sekolahnya. Luhan tidak ingin menyusahkan orangtuanya yang berada di China, walaupun orangtuanya cukup mampu dalam hal ekonomi. Ia ingin menanamkan sifat mandiri dalam dirinya dan berhasil dengan kemampuannya.

Berjalan menyusuri koridor yang sangat ramai, membuat langkah kaki Luhan semakin cepat untuk mencapai anak tangga di depan sana. Anak tangga yang akan membawanya menuju rooftop sekolah. Biasanya itu dijadikan sebagai tempat membolos, tapi karena selalu dikunci dan kunci itu ada ditangannya, itu berarti tidak ada siapa pun di rooftop sekarang. Luhan membuka pintu itu dengan wajah sumringah, ia beruntung sekali kalau guru Ahn mempercayainya untuk memegang kunci tersebut.

"Hah~ udara di sini sejuk sekali. Rasanya tidur lebih nikmat daripada belajar." Luhan berjalan menuju tempat duduk yang sudah disediakan setelah mengunci pintu tersebut. Ia tidak mau ada siswa-siswi yang masuk dan mengganggu ketenangannya untuk belajar.

Luhan mulai menyalakan ponselnya untuk memutar lagu yang cocok untuk menyerap proses belajarnya. Ya! Luhan adalah tipe siswa yang belajar dengan gaya auditori. Ia harus mendengarkan musik untuk bisa memahami materi-materi yang akan ia pelajari. Membuka halaman dan berusaha mengerjakan beberapa soal-soal untuk persiapan ujian. Hari yang tenang sebelum sebuah suara … mengganggu pendengarannya.

"Hey, bukankah kita berjodoh." Sehun berjalan dengan wajah bahagia, sedikit terkejut melihat sang pujaan hati berada di rooftop sekolah sendirian.

"Kenapa kau bisa ada di sini, Sehun!" Luhan menutup bukunya kasar dan menatap Sehun tajam. Luhan sangat kesal kenapa selalu bertemu dengan Sehun setiap saat. Bahkan mengganggu hari belajar tenangnya.

"Selama ada cinta, apapun bisa," Sehun merebahkan kepalanya di paha Luhan. Ia tertawa melihat wajah Luhan yang memerah. "Aku tidak menyangka, teman masa kecilku sangat cantik seperti ini." Sehun menyentuh dagu runcing Luhan dan ingin menciumnya sebelum sebuah tangan menepisnya.

Luhan sudah tidak bisa mengontrol jantungnya yang ingin melompat sekarang. Bodoh! Untuk apa Sehun kembali mengingatkannya dengan masa kecilnya. Tidak ada hal menarik selain perpisahan lima tahun yang lalu. Luhan bahkan sudah membuang nama Sehun jauh-jauh karena itu. Sudahlah lebih baik ia menjauh daripada Sehun mengganggunya lagi. Luhan beranjak dari tempat duduknya, membuat Sehun langsung terduduk. Kali ini ia tidak mau Luhannya kabur dan menghindarinya. Tidak akan!

"Jangan menghindariku terus, Hyung!" Sehun memegang tangan Luhan erat. Luhan terkejut saat mendengar Sehun memanggilnya 'Hyung' lagi sama seperti lima tahun yang lalu. "Aku tidak ingin kau menghindariku lagi karena kejadian lima tahun yang lalu!" Sehun menarik Luhan agar duduk dipangkuannya dan memeluk laki-laki cantik ini agar tidak lagi pergi meninggalkannya. Luhan bergerak ke sana-sini untuk melepaskan pelukan Sehun, tetapi gagal karena Sehun semakin mengeratkan pelukannya.

"Apa kau pikir aku bodoh, Sehunnie? Awalnya aku berpikir kau akan menemuiku seperti janjimu dulu! Kau berjanji akan menemuiku di rooftop sekolah ini dan ternyata apa yang aku lihat, hah! Aku meli—"

Ucapan laki-laki manis itu terputus, saat Sehun sudah mempertemukan bibirnya dengan bibir Luhan. Sehun merasa sakit mengingat kejadian satu tahun yang lalu, di mana dengan sialannya Irene mencium bibirnya tepat di hadapan Luhan. Wajah penuh kekecewaan, kesal bahkan rasa benci pun sudah menyatu. Ya! Luhan tidak melihat kejadian itu sampai selesai. Luhan hanya melihat bagian di mana Irene datang dan langsung menyambar bibirnya, dan setelah melihat itu Luhan pergi dengan airmata di kedua pipinya.

Luhan merasa apa yang telah ia tutupi tentang Sehun runtuh. Selama ini Ia berusaha mengubur nama Sehun jauh di dasar hatinya, dan tidak ada yang boleh tahu tentang hubungannya dengan Sehun. Tapi, Sehun selalu berusaha mengingatkannya kembali. Apa dia lupa sudah membohonginya, berkhianat dan lebih memilih perempuan itu. Luhan selalu berpikir bahwa yang dirinya lihat bukan Sehun, bukan orang yang sudah ia tunggu lima tahun yang lalu. Luhan mendorong Sehun agar melepaskan tautan bibir mereka.

"APA KAU GILA, SEHUN!"

Luhan meronta terus-menerus meminta Sehun untuk melepaskan pelukannya, tetapi tidak sedikit pun membuat pelukan Sehun goyah. Sehun membiarkan Luhan yang kembali menetaskan airmatanya. Sungguh lebih baik melihat Luhan yang memarahi kemesumannya, daripada melihat tangisan itu lagi. Sehun sudah cukup bersabar membiarkan Luhan seperti tidak mengenalnya. Sekarang ia tidak mau itu terjadi lagi.

"Ya! Aku gila karenamu, Hyung. Aku tau karena saat itu membiarkanmu pergi begitu saja! Aku berusaha menjelaskan untukmu, tapi kau selalu berusaha menghindariku. Kau menganggapku orang asing yang muncul dikehidupanmu dan itu membuatku tersiksa!" Sehun melepaskan pelukannya membiarkan airmatanya mengucur begitu saja. Luhan yang merasa pelukan itu melonggar segera berdiri dari pangkuan Sehun. "Kau boleh menamparku hingga kau puas, Hyung. Kau boleh membunuhku juga! Asal jangan abaikan aku, hyung. Aku cukup tersiksa seperti ini. Aku mencintaimu, Luhan."

Luhan membelalakan matanya mendengar apa yang diucapkan Sehun. Rasa cinta ini sebesar apapun dihindari akan tetap muncul. Luhan melihat mata Sehun yang sudah basah karena airmata. Ia menyentuh wajah Sehun dan mencium bibir Sehun lembut. Berawal dari sebuah kecupan, kini Sehun yang mendominasi ciuman tersebut.

Sehun melumat bibir Luhan yang menjadi candu layaknya narkotika, dan menggigit bibir bawahnya. Luhan membuka mulutnya untuk mempermudah Sehun melesatkan lidahnya, dan menjelajahi apapun yang ada di mulut Luhan. Luhan hanya mampu mendesah dengan kedua tangannya yang dikalungkan dileher Sehun, membiarkan lidah Sehun bermain dengan sangat lihai.

"Mmph…nngh…" Luhan mendesah tak karuan saat lidah Sehun bermain di leher jenjangnya.

Mendengar desahan indah dari mulut Luhan, membuat libido Sehun meningkat. Sehun mengecup, menjilat, dan menggigit setiap inchi leher Luhan hingga menimbulkan bercak kemerahan yang cukup kentara. Desahan Luhan pun kian mengalun seperti melodi, saat kedua putingnya dimanjakan oleh Sehun.

"Nnghh…" Luhan memejamkan matanya erat, merasakan sensasi geli saat lidah basahnya Sehun mengemut putingnya hingga menegang. Kedua tangan Sehun merayap untuk bisa menyentuh setiap inchi tubuh Luhan yang seperti narkotika itu. Mendengarkan erangan kenikmatan yang diterima langsung oleh Luhan.

"Ahhh…nggh…teruushh..se-sehun…ahhh" Sehun semakin terangsang melihat desahan Luhan yang sangat merdu untuk didengar. Kesensitifan kulit Luhan semakin terasa saat jilatan halus didadanya semakin membuatnya frustrasi.

"Aaah …Sehunnnhh…kumohoonh"

Seakan mengerti dengan tatapan sayu yang diberikan Luhan, Sehun memposisikan penisnya untuk bersentuhan dengan lubang surgawinya. Memberikan Luhan sedikit ketenangan agar tidak terlalu tegang saat penisnya yang cukup besar itu menerobos masuk ke anus Luhan. Dengan perlahan, Sehun mulai memasukkan ujung penisnya ke dalam lubang hangat milik Luhan.

"Aaakh ..mmhh!" Luhan sudah merasa ujung batang kejantanan Sehun sudah masuk ke lubang anusnya. Menerobos masuk yang sebelumnya sudah diberi air liur oleh Sehun. Sehun mendorong penisnya secara pelan ke dalam lubang hangat tersebut. Otot-otot dinding rektum milik Luhan seperti memijat kejantanannya penuh.

"Luhaann…aahh sempiith."

"Aaakkh! Sakiithh …aakh!" Luhan mencakar punggung Sehun dengan kuat, mencoba menahan rasa sakit yang ada dibagian bawahnya. "Tahaan…sedikit…" Sehun memejamkan matanya merasakan ujung penisnya dihisap oleh lubang hangat Luhan.

Dengan satu kali hentakkan, penis besar Sehun sudah masuk sempurna ke dalam lubang Luhan. Rasa sakit di punggungnya akibat cakaran Luhan, tidak sebanding dengan rasa sakit lubang Luhan yang dipaksa menampung penisnya yang cukup besar. "A-apa kita hentikan saja?" Luhan menggeleng pelan dan memeluk leher Sehun erat.

"Bergeraklahh.."

Sehun memegang pinggul Luhan, agar lebih mudah untuk menyodok lubang hangat yang terlihat kelaparan dengan kedutannya tersebut. Sehun menyukai posisi posisi Face to face dalam kegiatan seks, karena dengan posisi seperti itu, bisa membuatnya melihat dengan sempurna wajah Luhan yang begitu cantik dimatanya. Sehun terus mencumbu leher Luhan untuk menciptakan beberapa kissmark lagi, hingga membuat Luhan kembali mendesah. "Aaanghh…"

Lenguhan yang terdengan sangat erotis membuat Sehun tidak sabar untuk segera menghujam lubang ketat milik Luhan sekarang. Tubuh Luhan turun-naik mengikuti gerakkan yang Sehun berikan. Penis besar itu pun terus menyodok tanpa ampun, membuat Luhan pasrah dan hanya mampu mendesah. "Aaah ….aaah …aah"

"Jangann mengabaikanku lagiih, hyungggh" Luhan masih sibuk mendesah hingga mengabaikan apa yang telah keluar dari mulut Sehun. Luhan mengabaikan Sehun, karena kenikmatan luar biasa yang didapatnya, saat hentakkan penis Sehun menyentuh prostatnya dalam. Tubuhnya bahkan tidak seimbang saat Sehun menampar belahan pantatnya dan mempertontonkan lubangnya yang dihajar habis-habisan oleh penis besar Sehun yang keluar-masuk tanpa henti.

"Aaaah…teruushh…"

Sodokan terus terjadi seiring Luhan yang mendesah hebat. Sehun pun tidak memberi ampun untuk lubang anal Luhan yang terus-menerus mengetat, membuatnya ingin cepat-cepat orgasme. Sehun melenguh keras mengimbangi sodokannya yang mulai tidak terkendali. Dada milik Luhan pun turun-naik saat merasa penis Sehun terus menumbuk prostatnya. Rasa nikmat itu menjalar hingga membuat Luhan mengadahkan kepalanya ke sana-sini.

"Sehunaah..akuhh..mau keluar-aahh." Sehun semakin mempercepat sodokkannya, Luhan mulai kelimpungan menahan cairan putih itu untuk melesak keluar. Luhan mendesah panjang saat penis mungilnya bergesekkan dengan perut sixpack Sehun, dan membuatnya mencapat kenikmatan yang tiada tara. Sperma itu menyembur mengotori perut Sehun.

"Aaaah…i'm comiingghh." Satu hentakkan terakhir, penis Sehun juga menyemburkan cairan sperma kental yang menuju langsung ke rektum milik Luhan. Nafas mereka terengah-engah dengan wajah kelelahan. Sehun melepaskan secara perlahan dan membiarkan cairan putih itu menetes hingga ke bawah lantai.

Kepala Luhan masih berada di bahu Sehun, keringat yang menetes membuktikan bahwa ia cukup kelelahan sekarang. Sehun memasangkan kembali seragam Luhan agar tidak kedinginan terkena sepoian angin. Ia meneliti wajah cantik Luhan yang terpejam. Sangat cantik. Andai ia bisa bertemu dengan pelukis wajah Luhan, maka ia akan berterimakasih sekali.

Tidak ada rasa bosan dalam dirinya untuk terus memandang wajah Luhan. wajah cantik bak malaikat ini membuatnya menjadi laki-laki beruntung di dunia. Ia berani bersumpah, bahwa malaikat di surga pun iri dengan kecantikkan yang dimiliki Luhan.

"Nngh.." Luhan merasa sakit luar biasa dibagian bawahnya. Seseorang mengelus rambutnya halus. Luhan melihat Sehun yang tersenyum manis kearahnya. Mengerjapkan matanya lucu dan menyamankan posisi tidurnya di pangkuan Sehun.

"Kau sudah bangun, Hyung?" Sehun mengelus rambut Luhan dengan penuh kasih sayang. "Apa lubangmu masih sakit?" pertanyaan yang disodorkan untuknya, mau tak mau membuat semburat merah di pipinya. Luhan hanya menggangguk perlahan dan tersenyum.

"Maaf, jika aku terlalu kasar tadi denganmu," sehun menatap Luhan lekat. Luhan menyentuh wajah Sehun dan tersenyum manis. "Aku tida apa-apa, Sehunnie."

Sehun mencium bibir Luhan dan menggesekkan hidungnya dengan hidung Luhan. Kebahagiaannya itu adalah Luhan. Ia tidak ingin membiarkan Luhan pergi dan mengabaikannya lagi. Ia ingin Luhan menjadi miliknya, tanpa ada yang berniat untuk menyatakan cinta lagi. Abaikan perkataan Luhan yang menyebut dirinya normal, karena itu adalah topeng untuk menutupi rasa cintanya terhadap Sehun seorang.

"Kau mau kan kembali untukku lagi, Hyung?" Luhan bangkit dan duduk di samping Sehun. Kepastiaan adalah hal yang selalu ditunggu setiap pasangan. Tapi, mengingat sifat playboy Sehun, membuatnya kembali berpikir."Bagaimana dengan pacar-pacarmu, hm? Luhan menyentuh dagu Sehun lembut.

"seratus perempuan pun aku akan tetap memilihmu, Lu." Nada suara Sehun kembali tegas dan penuh penekanan. Luhan tersenyum mendengar ucapan Sehun, ia mendekatkan bibirnya di telinga Sehun dan membisikkan sesuatu.

"Kalau begitu … putuskan mereka semua."

TBC

Terimakasih udah baca chapter 3 ini / hiks hiks/ terutama maaf buat keterlambatan publish. Maaf juga buat chapter ini, kalau kurang nge-feel buat kalian. Soalnya aku juga perlu banyak belajar. Belum banyak kosakata baku yang aku hafal, jadi kalau agak bosan sama kata-kata yang itu-itu aja mohon dimaklumi . /nyengir/

Sedikit pemberitahuan kalau di sini kalian sudah bisa tebak, kalau Luhan dan Sehun itu sudah kenal sejak dulu. Dan yang minta 'NC', maaf juga gak bisa buatin hot T.T/gaya-gayaan buat rated M/ Ini sebenarnya mau buat HunHan, tapi pada pengen Kaisoo jadi deh dibuat kaya gitu. Yah, Kaisoo berantem /timpukin batu/ Well, untuk beberapa chapter ke depan, kayanya aku udah 'out of summary'/nangis dipojokkan/ Makasih juga yang udah review, follow dan favorite, harapan aku sih masih ada yang minat baca FF yang jelek ini untuk kedepannya. Jangan lupa kritik dan saran ^^

Big Thanks to Reader :

MwmHz, KyungieSoo12, ranikim, merryistanti, dinidini67, sonysone, kaiaddict, exobbabe, UruruBaek, Seiraminkyu, Hyoluv Chanbaek, Kimsoo