Title : "My Sweet Namja"

Author :

Main Cast : Kim Seok Jin

Min Yoongi

Genre : romance (maybe)

Legth : chaptered

Summary :No Summary (JinSuga)

Note : ff ini murni pemikiran saya, jika ada alur atau watak dari tokoh yang mirip dengan ff lain itu bukanlah unsur kesengajaan. Don't be plagiat~

Happy Reading

We Meets Again!

(Chapter 3 )

"Kim Seokjin! Kau di perbolehkan keluar jika tidak mau mengikuti pelajaranku!" teriak wanita paruh baya berkaca mata tebal yang sedang bercagak pinggang di depan Seokjin, yang di marahi masih tidak merespon teriakan wanita barusan –membuat wanita itu makin geram.

"Kim!" tak tahan dengan kelakuan mahasiswa nya yang satu ini, wanita paruh baya itu segera menjewer telinga Jin hingga sang pemilik sadar dari lamunannya dan mengaduh.

"Aduh duh.. yaa sa–eh Lee s-songsaenim hehehe" Jin segera mengusap-usap telinga nya yang memerah akibat jeweran dari dosen nya.

"Kau.. keluar sekarang Kim Seokjin!" bentak Lee songsaenim membuat Jin sedikit kaget, dengan cepat ia berdiri dan membungkukkan badannya di depan dosen yang hari ini entah kenapa sangat galak.

"Mianhae songsaenim.. lain kali tak akan aku ulangi, permisi" Jin segera melangkahkan kaki nya keluar kelas, entah kenapa hari ini ia tidak bisa berhenti memikirkan Yoongi. Baginya tak masalah jika ia harus di keluarkan dari kelas gara-gara tidak memperhatikan mata kuliah yang di berikan oleh Lee songsaenim, yang terpenting sekarang ia ingin segera ke rumah sakit tempat Yoongi di rawat.

Dengan sedikit tergesa Jin berjalan menaiki tangga menuju lantai 3, entah kenapa ada sesuatu yang medorongnya untuk segera menemui Yoongi. Keringat dingin mengalir ke dahi nya, nafasnya sedikit terengah-engah karena ia harus berlari dari lantai 1 ke lantai 3 dan itu cukup melelahkan. Dengan cepat ia berjalan menuju kamar 7b, wajahnya semakin panik saat melihat banyak perawat yang keluar-masuk dari kamar tempat Yoongi.

"P-permisi.. kenapa anda terlihat sibuk sekali? Apa Yoongi baik-baik saja?" tanya Jin pada salah seorang perawat yang kebetulan akan masuk lagi ke dalam kamar Yoongi. Dapat di lihat dari raut wajah Jin sekarang , ia terlihat sangat panik dan kacau.

"Maaf.. apa anda keluarga dari Min Yoongi?" tanya perawat muda itu dengan sopan, Jin terlihat berpikir sebentar sebelum kemudian ia menggangguk.

"Ne.. aku keluarga Min Yoongi, jadi apa dia baik-baik saja?" sekali lagi Jin bertanya masih dengan nada yang terdengar panik.

"Kondisi nya sedikit menurun, tadi ia mengeluh kesakitan di perutnya sebelum kemudian ia tidak sadarkan diri sampai sekarang.. mungkin anda bisa ikut saya ke dalam untuk melihat keadaannya dan berbicara sendiri pada dokter" jawab perawat tersebut. Tubuh Jin seketika terasa lemas saat mendengar bahwa keadaan Yoongi menurun, dengan sedikit tergesa ia segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar tempat Yoongi di rawat.

"Yoon.." ucap Jin lemah begitu melihat seseorang dengan tubuh mungilnya tengah terbaring lemah di atas ranjangnya, dan jangan lupakan wajahnya yg semakin tirus dan pucat itu. Tak sadar Jin sedikit menitikkan air matan sedikit menitikkan air matanya, ia merasa gagal menjaga Yoongi selama dua bulan ia mengenalnya, ia merasa bersalah saat melihat tubuh mungil itu tergeletak tak berdaya.

"Apa Anda kerabat Min Yoongi?" tanya dokter paruh baya dengan kaca mata tebal yang menangani kasus Yoongi. Jin segera menggangguk, matanya masih fokus pada sosok Yoongi yang tengah tak sadarkan diri. Perlahan Jin mengulurkan tangannya sebelum kemudian mengusap lembut surai karamel Yoongi, tangannya sedikit bergetar saat melakukan hal tersebut.

"Tuan.. keadaan Yoongi sedikit mengalami penurunan, kami harus segera memeriksa ulang sejauh mana kanker di lambungnya menyebar, kami butuh persetujuan dari pihak keluarga.. jika seandainya kanker yang di derita pasien sudah mulai menyebar ke organ tubuh lain, kami harus segera melakukan pengangkatan sel kanker secepatnya. Oleh karen itu kami ingin meminta persetujuan dari pihak keluarga" ucap dokter tersebut dengan hati-hati.

"Lakukan saja dok.. lakukan apapun yang bisa menyelamatkan nyawa Yoongi, kumohon... berapapun biayanya aku akan mengusahakan" terdengar nada frustasi, dan takut dalam nada bicara Jin. Tentu saja ia takut.. takut jika harus kehilangan seseorang yang telah menarik perhatiannya beberapa bulan terakhir ini.

Terdengar helaan nafas dari sang dokter, raut wajahnya terlihat serius. "Apa anda tahu? Kemungkinan pasien sembuh total pasca operasi hanya sekitar 5% tapi kami pasti akan mengusahakan yang terbaik" mendengar hal itu Jin hanya bisa mengusap kasar wajahnya, terlihat namja berambut coklat itu sedang berpikir keras. Sesekali ia juga melirik namja mungil yang tengah tak sadarkan diri.

"Hhhah.. segera operasi Yoongi.. masalah surat persetujuan aku akan segera mengurusnya dok.. kumohon lakukan yang terbaik untuknya" jawab Jin setelah beberapa saat ia berpikir. Terlihat sang dokter mengangguk ragu mendengar pernyataan Jin.

Jin kembali mendekatkan dirinya pada namja mungil yang terbaring di atas ranjang sebelum kemudian ia mengecup lembut kening Yoongi.

"Yoon.. kumohon bertahanlah.. aku selalu berdoa yang terbaik untuk kesembuhanmu.. aku menunggumu" bisik Jin lirih pada telinga Yoongi.

"Ahjuma.. apa kau sedang sibuk?" tanya seorang pemuda berambut hitam itu berjalan ke arah wanita paruh baya yang terlihat sibuk dengan potongan daging di tangannya. Wanita itu sekilas menoleh ke arah pemuda berambut hitam yang terlihat serius memperhatikannya.

"ah Jimin-ah.. tumben kau kemari? Aku sedang membuat bulgogi" jawab wanita itu ramah lalu kembali melanjutkan kegiatannya, pemuda bernama Jimin tadi tampak mengerjap-ngerjapkan mata sipitnya mendengar jawaban wanita paruh baya yang sudah ia anggap ibunya itu.

"Bulgogi? Apa—itu untuk Yoongi hyung?" tanya Jimin ragu, wanita yang di panggil Ahjumma itu kembali menghentikan kegiatannya.

"Ne.. ini untuk Yoongi, rencananya aku akan pergi ke Seoul setelah ini.. sudah sebulan lebih aku tidak menengoknya.. pasti ia kesepian di rumah sakit.. wae Jimin-ah?" tanya wanita paruh baya itu sengaja menoleh untuk melihat wajah Jimin, pemuda yang sudah di anggapnya seperti anak sendiri.

"A-anni ahjumma.. aku hanya—sangat merindukannya" jawab Jimin lirih, wajahnya terlihat sendu saat menyebut nama Yoongi.

"Jangan terlihat murung begitu.. Yoongi pasti akan sedih kalau tau kau sedih karenanya"

"Mianhae ahjumma.. umm aku ingin ikut dengan ahjumma ke Seoul, apa boleh?"

"Lalu bagaimana dengan kuliahmu? Kau kan masih semester awal, jadi pasti sedang sibuk-sibuknya"

Jimin menggeleng cepat di sertai dengan eyessmile yang menghiasi kedua mata sipitnya itu. "Tidak masalah.. aku akan ijin, ku mohon ahjumma.. aku sangat merindukan Yoongi hyung~" bujuk Jimin pada ibu Yoongi itu dengan nada merengek. Wanita paruh baya itu segera mengacak gemas surai hitam Jimin sambil tersenyum, entah kenapa melihat Jimin bersikap manja seperti ini selalu mengingatkannya pada putra sulungnya yang kini sedang menjalani perawatan di salah satu rumah sakit yang ada di Seoul. "Baiklah.. ahjumma mana bisa menolak permintaanmu Jimin" ujar wanita itu sambil tersenyum.

"Yeey! Gomawo Min ahjumma.. kkk kalau begitu aku akan belanja beberapa cake dan makanan kesukaan Yoongi hyung dulu ne? kita berangkat 2 jam lagi kan?" Jimin bertanya dengan mata berbinar-binar, mengingat sebentar lagi dirinya bisa bertemu dengan hyung manisnya yang sangat ia rindukan. Nyonya Min hanya menganggukkan kepalanya, menanggapi pertanyaan dari pemuda yang tampak selalu bersemangat di depannya ini.

Dengan penuh semangat Jimin segera berlari menuju halaman rumah kediaman keluarga Min, terlihat sedikit tergesa ia memasangkan helm ke kepalanya. Senyum ceria itu tak lepas dari bibir penuh Jimin saat ia mulai melajukan motor miliknya menuju toko cake yang terletak tak jauh dari kompleks rumah keluarga Min, sesekali terdengar Jimin bersenandung.

Jimin segera memarkirkan motor sport hitam miliknya begitu sampai di depan toko cake langganannya, lagi-lagi ia tersenyum saat mengingat sebentar lagi ia bisa bertemu dengan Yoongi. Jimin begitu merindukan namja manis itu, merindukan senyumnya, rengekannya saat meminta Jimin untuk mentraktirnya beberapa potong chesee cake, bahkan ia rindu saat Yoongi memarahinya.

Tercium aroma khas roti begitu Jimin memasuki toko tersebut. "Selamat pagi Jimin-ah.." sapa wanita paruh baya pemilik toko roti itu dengan ramah, sepertinya ia terlihat sudah akrab dengan Jimin.

"Selamat pagi Ahjumma~ aku mau 2 kotak chesee cake dan beberapa potong roti manis ne?"

"Eh.. chesee cake dan roti manis? bukankah yang suka chesee cake itu Yoongi? dia kan sa—" Jimin segera memotong perkataan wanita paruh baya di depannya tersebut—tak ingin mendegar lanjutan perkataan Ahjumma pemilik toko itu.

"Aku akan pergi mengunjungi Yoongi hyung, jadi bisa cepat bungkus pesananku Ahjumma?" tanya Jimin masih dengan senyum menghiasi wajahnya.

"A-ah tentu Jimin-ah.. tunggu sebentar ya?" seakan mengerti keadaan, wanita itu segera melakukan permintaan Jimin untuk segera membungkus pesanan Jimin.

"Berapa semuanya Ahjumma?"

"Bawa saja.. ini gratis Jimin-ah, dan tolong sampaikan salamku pada Yoongi ya?" ujar wanita itu sambil memberikan 2 bungkusan kantong plastik berisi pesanan Jimin, dengan sedikit ragu Jimin menerimanya.

"E-eh gomawo Ahjumma.. ne akan ku sampaikan salam Ahjumma untuk Yoongi hyung, aku pamit dulu.. sekali lagi terima kasih banyak~" ucap Jimin sambil tersenyum sebelum kemudian ia sedikit membungkukkan badannya, lalu ia segera meninggalkan toko roti tersebut.

Jimin segera melajukan motor sport miliknya menuju rumah Yoongi, bermaksud menjemput Min Ahjumma yang katanya tadi masih sibuk menyiapkan beberapa makanan dari olahan daging kesukaan Yoongi.

Jin terlihat mondar-mandir di koridor rumah sakit tempat Yoongi sedang dirawat, wajahnya terlihat panik sekaligus bingung. Sesekali ia terlihat menatap layar handphone miliknya lalu memasukkannya ke dalam saku celananya.

"Aku bingung harus bagaimana? kalau tidak segera ku telpon ibu Yoongi pasti operasinya juga akan di tunda.. hhh tapi aku tak tega harus mengabari ibu nya.. Arghh Tuhan tolong aku.." terlihat Jin sedikit menjambak surai coklat kemerahan miliknya, sebelum kemudian terdengar ia mengerang frustasi.

"Permisi.. kami mau masuk kedalam, bisa beri sedikit jalan?" ucap seorang namja bersurai hitam itu sambil tersenyum ramah ke arah Jin.

"E-eh? maaf.. tapi siapa kau?" tanya Jin hati-hati, Jimin sedikit mengerutkan keningnya –bingung dengan pertanyaan namja tinggi di depannya sekarang.

"Aku? Aku Park Jimin.. kau sendiri siapa? kenapa ada di depan kamar Yoongi hyung?" Jimin balik bertanya, terlihat Jin sedikit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Aku.. Kim Seokjin, teman Yoongi.."

"Apa kau yang menemani Yoongi selama ini?" kali ini giliran wanita paruh baya di samping Jimin tadi berbicara.

"N-ne.. apa Anda—Ibu Yoongi?" tanya Jin sedikit gugup, wanita di samping Jimin itu hanya menggangguk. Dengan cepat Jin membungkukkan badannya dan memberi salam.

"Ah kalau begitu silakan masuk.. dan kau juga—err Jimin-ssi" ujar Jin seraya membukakan pintu untuk Ibu Yoongi juga pemuda berpipi chubby yang entah kenapa wajahnya terlihat berseri-seri sejak tadi. Dan satu hal lagi yang membuat Jin bertanya-tanya, begitu berada di dalam pemuda itu—Park Jimin langsung saja menggenggam tangan Yoongi dan menciuminya pelan. Jin lihat Umma Yoongi sama sekali tidak keberatan dengan kelakuan Jimin tersebut.

"Uhm.. Yoongi hyung.. apa kabar? Apa kau tidak merindukanku hm? Apa kau makan dengan baik di sini? Ah iya maafkan Jimin ne? Jimin baru bisa menjenguk hyung hari ini.." ucap Jimin lirih, terlihat sesekali ia mengecup punggung tangan Yoongi yang terlihat semakin pucat dan kurus.

"Apa Yoongi baik-baik saja? ah iya Jin-ssi terimakasih banyak sebelumnya karena sudah menjaga anakku"

"A-anu.. maaf sebelumnya, A-Ahjumma.. eumm keadaan Yoongi menurun.. di-dia harus segera di operasi" ucap Jin berusaha memberitahukan keadaan Yoongi.

"Jeongmal?! Yoongi.. h-harus di operasi? Seburuk apa keadaan anakku?! aku tidak bisa menemaninya setiap hari di sini hhh.. aku ini orang tua yang payah" ucap wanita itu dengan nada kecewa.

"Y-Yoongi hyung pasti sembuh Ahjumma.. dia baik-baik saja.. Yoongi hyung namja yang kuat!" kini giliran Jimin yang terlihat panik, ia semakin mengeratkan genggaman pada tangan kecil Yoongi.

TBC