"Tuntun aku ke harta paling berharga di gedung ini, dan mungkin aku tidak akan menarik pelatuknya."
Tetsuya menahan napas. Barel pistol tertodong ke dahinya. Jika ia bergeser barang satu inci saja, ia harus mengucapkan selamat tinggal pada dunia.
Otak diputar cepat. Netra observan menganalisis perawakan pria yang menahan pergerakannya. Tubuhnya tinggi besar dan kokoh dengan kulit terbakar matahari. Matanya gelap, pupilnya mengecil. Bahasa yang agak kocar-kacir dengan logat asing.
Disuguhi ekspresi hambar, si penodong terpicu emosinya. "Apa kau lihat-lihat, hah?!" bentaknya, menekan barel itu dengan kasar sampai Tetsuya mendesis. "Memangnya perintahku kurang jelas, bocah siala—"
"Mohon maaf. Seharusnya Anda tidak di sini."
"Ha?" masih mengeratkan genggamannya pada pistol, preman berkulit gelap itu menaikkan sebelas alis. "Memangnya apa yang harus kutakutkan?"
Mendengar itu, senyum tak kasat mata singgah di bibir Tetsuya.
"Karena—Anda hanya manusia."
.
.
Neko x Boku SS by xxcrystalinerose
黒子のバスケ belongs to Fujimaki Tadatoshi
妖狐 僕 SS belongs to Fujiwara Cocoa
Warning: OOC, AU, Sho-ai, sarkas berlebih, pairing mungkin tidak sesuai selera. Ada plotnya. Ini bukan 100% romcom. Mainly AkaKuro. Personality ExtraGame!Akashi.
Happy Reading!
.
.
01b.
ねことぼく
(The Cat and Me)
.
.
"Mou, kenapa nggak bilang?" Gadis cantik bersurai gula kapas itu mengerucutkan bibir. "Kalau ke Takashimaya, kan, aku juga mau!"
"Darurat, Satsuki." Aomine menjawab enteng, meregangkan diri di kursinya. Suara sendi yang kembali ke asal muasalnya mengundang lenguhan lega sang empunya. Tubuhnya terasa pegal setelah dijadikan kuli angkut dadakan.
Melihat Tetsuya beli-beli, insting ibu-ibu Kise kambuh. Yang bermula dari 'sebentar saja, Aominecchi! Aku mau lihat yang di sana!' mulur menjadi satu jam penuh foya-foya. Kaya tujuh turunan bukan berarti diskon separuh tidak menggiurkan.
Aomine merasa martabatnya tercoreng oleh janji potongan harga.
Momoi Satsuki mendengus tidak terima. Tubuhnya dicondongkan ke pria biru dongker itu sambil berkacak pinggang layaknya tokoh antagonis. "Darurat darurat segala. Ada apa sih, Dai-chan? Beliin hadiah buat pacar baru? Selingkuh sama Ki-chan?"
"Enak aja! Bisa tinggal nama aku!" Aomine memprotes keras, nyaris terjatuh dari duduknya. Sekilas terbayang sosok kuning mentega yang tersenyum penuh makna. Belum lagi penjaga neraka berupa dua kakak overprotektif.
"Daiki-kun, kalau kau berani menyakiti adik kesayanganku, akan kucabut joystick-mu lalu kumasak untuk makan malam." Kata-kata berbiang gula terngiang ditemani gestur 'gorok-leher'.
Meringis, Aomine menggosok cepat lengan yang dijalari benjolan mikroskopis. Wangsit Kise tertua wajib dipanuti jika ingin mendapat restu kedua calon ipar di hari esok.
"Makannya, kasih tahu kenapa!"
Priwitan Momoi menarik Aomine keluar lingkup imajinasi. Suara saudara tak sedarahnya itu cukup nyaring sampai mampu mendepak delusi. Mau tak mau ia mendecih dan memaparkan eksposisi.
"Oke. Ada anak baru. Dia lagi butuh baju baru. Itu aja."
"Anak baru?" Momoi berkedip. Seat kosong di seberang diduduki. Cengir sumringah mengisyaratkan ketertarikan tinggi. "Kenapa aku tidak melihatnya? Laki-laki atau perempuan? Manis, tidak?"
"Satu-satu pertanyaannya!" Aomine menegur frustrasi. "Anaknya memang agak gaib. Dua, dia perjaka tapi sering dikira wanita. Dan—"
Kepala biru celingak-celinguk kesana-kemari. Memastikan tidak ada kehadiran sang pelayan yang kelewat posesif maupun sesosok anak ayam kuning. Sambil memajukan tubuh atas, Aomine berbisik penuh konspirasi, "—iya sih, dia emang manis."
Baru saja Momoi hendak menyuarakan tuntutan atas kelanggengan hubungan orang lain, cicitan memekakkan lain membelah atmosfer lounge.
"Ayolaaah! Tidak ada salahnya memanggilku begitu-ssu!"
"Ogah! Aku menolak menyebutmu dengan sapaan kadaluwarsa itu-nodayo!"
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kise Ryouta muncul dengan kedua lengan menggelayuti leher seorang jangkung berpucuk hijau yang nyaris meregang nyawa. Akhiran kalimat memberi petunjuk nyata akan identitas orang keempat. Yang pirang mengaduh ketika wajah kualitas tingginya didamprat tangan berbalut perban.
"Tsundere sekali-ssu~" Kise mencibir, mengusap pipi yang mulai berdenyut. Tangan ditempelkan ke dahi dengan gestur ala sinetron. "Anak manis itu selalu memanggilku Ryouta-nii. Mana Shintaroucchi yang kukenal dulu?!"
Aib diumbar di mimbar bebas. Midorima Shintaro gelagapan menutupi semburat merah yang mulai merata di wajah. "Najis-nodayo! Dan juga, kukira kita sudah membahas soal ini!"
"Datte~ Shintarocchi imut sekali kalau begitu!" dari raut mesam-mesem tanpa arti, jelas bahwa Kise sengaja memanas-manasi harga diri remaja kelebihan gizi itu.
Sadar sedang dijadikan tontonan, si blondie lantas berpaling ke meja yang dihuni sepasang anak manusia. "Aominecchi, Momocchi! Konbanwa-ssu!"
"Ki-chan, konbanwa!" Momoi balas melambaikan tangan. "Duduk sini! Makan malam bareng yuk! Midorin juga!"
Midorima memalingkan wajah. Jemari menyundul bingkai hitam yang bertengger di pangkal hidung. "Apa boleh buat. Karena si Bakao itu belum kembali, aku akan bergabung dengan kalian-nodayo."
Tsundere, pikir trio Aomine-Momoi-Kise serempak.
.
.
.
"Kau nggak ikut, Akashi?" tanya Nijimura, sebelah lengan digunakan untuk menyeka peluh. Sambil menunggu respon, manik onyx-nya jeli mengamati kuah sup yang telah ditimbuli gelembung.
Akashi terdiam, sibuk menakar dedaunan bakal seduhan. Kali ini tercium aroma samar chamomile dari stoples kaca tempatnya disimpan.
Teh lagi, pikir Nijimura. Nyala kompor dipadamkan sebelum buih kaldu menggunduk. "Sepertinya kau sangat perhatian dengan anak itu, ya?"
"Tentu saja," timpal pemuda crimson semudah menjawab soal tingkat dasar. "Tetsuya itu istimewa, Nijimura-san. Kalau aku tidak peduli, buat apa aku menjadi seorang Secret Service?"
Nijimura menggaruk kepala. "Benar juga, ya."
"Omong-omong, di mana dia?" Kini Akashi yang bertanya. Aksentuasi otomatis membuat pikiran si koki sukarelawan melayang pada yang seharusnya pelayan pribadinya itu.
Nijimura mendecih. Hierarki antara dirinya dengan entitas itu masih belum jelas hingga detik ini.
"Nijimura-san sedang berselisih dengan orang itu, kah?" Di sudut matanya, Akashi menengok ke arahnya. "Maaf jika menyinggung. Aku tidak tahu."
"Jeez, bukan seperti itu, Akashi!" bibir dimajukan tanpa sadar, Nijimura memelototi si kouhai hingga bungkam.
Lebih baik cepat-cepat sebelum ada yang berburuk sangka. Gosip di komunitas Maison sudah serupa suku bangsa; banyak dan beragam, apalagi dengan bandar-bandar sejenis Kise dan Momoi. Pria berkepala dua itu enggan menjadi hot topic berikutnya.
Suara pintu dapur yang dijeblakkan penuh semangat masa muda menarik atensi. Sosok bersurai raven menjelma dari jalan masuk.
"Osu, Nijimura-senpai!" Takao Kazunari menyapa riang. Poninya agak melekat ke dahi dan setelan jasnya belum terlalu rapi.
"Yo, Takao." Nijimura membalas dengan senyuman cemerlang. Aura keceriaan yang kekal dipancarkan remaja itu sungguh menular. Bisa dibilang bahwa dari semua staf, Takao-lah yang paling ekspresif dalam urusan menikmati pekerjaannya.
Takao cekatan mengambil nampan dan pecah-belah untuk keperluan dinner. Sambil menata sendok garpu, ia tak lupa menyapa Akashi yang masih asyik di sudut sana. Gumaman sang rekan sudah cukup menjadi balasan.
"Nee Akashi, Tetsuya-kun itu klienmu, kan?"
"Kau sudah bertemu dengannya?"
"Waktu keluar onsen tadi, hehe."
"Oh. Sedang apa dia? Ini sudah larut."
Nijimura tersenyum dalam hati. Setitik kekhawatiran dalam suara itu mirip seekor kucing yang majikannya tak kunjung kembali. Sekali saja, Akashi memang peduli.
"Hmm, tidak tahu?" Takao meraih mangkuk penuh sup ayam jamur dan memindahkannya ke nampan bersama makerel bakar dan salad mentimun. "Sedang merenung, mungkin. Ia kelihatan tersesat."
"Ah. Begitu."
Selesai menyiapkan set makan malam, Takao memboyong nampan untuk klien tersayang. "Duluan ya! Shin-chan menungguku!"
"Awas jatuh!" Nijimura memperingatkan sebagai senpai yang baik. Jaga-jaga kalau pemuda itu menumpahkan hasil jerih payahnya akibat antusiasme berlebih.
"Aominecchi, tolong dinner-nya-ssu!"
"Punyaku juga, Dai-chan!"
"Repot amat! Ambil sendiri sana!"
"Aomine minta gajinya dipotong kakak manajer, ya?"
"Benar-nodayo. Dasar tidak bertanggung jawab."
"Ugh, baiklah! Berhenti memojokkanku!"
Mendengar situasi yang agak melenceng, Akashi cukup geleng-geleng. "Mereka berisik sekali." ujarnya, selesai mengelap konter dan menata nampannya sendiri.
"Tapi kalau ramai jadi lebih enak, kan?" Nijimura nyengie beberapa mili. Panci berisi sup panas ditutup agar awet suhunya. "Setidaknya kau punya banyak teman di sini, koneko [kucing kecil]."
Akashi menghela napas. "Aku bukan anak keci—"
"Waa!"
Pekik kecil Momoi membarengi listrik yang tiba-tiba padam. Kegelapan menyelimuti gedung. Populasi lounge dilanda bingung. Kecurigaan mulai mengakar dalam benak Nijimura.
"Akashi," bisiknya, menajamkan pendengaran dan meningkatkan kewaspadaan. Firasatnya meneriakkan sebuah kejanggalan yang berpotensi membahayakan.
Yang dimaksud mengangguk tanpa kata-kata. Tray makan malam dilupakan. Dalam sekejap, Akashi bertransformasi menjadi sekelebat bulu merah yang kelewat cepat untuk diikuti pandangan.
"JANGAN ADA YANG BERGERAK!"
Nijimura mendengar ceklikan yang sudah terpatri dalam memorinya. Kemudian jeritan dari satu-satunya gadis yang menemani mereka yang di luar sana.
"Satsuki! Temee—"
"Diam di tempat, atau gadis ini mati!"
Sialan!
.
.
.
"Anda hanya manusia."
Dalam gelap, Tetsuya masih beradu pandang dengan lelaki asing yang menyergapnya. Hati dikokohkan. Ia merasa adanya keunggulan di genggaman.
"Sombong sekali kau, bocah!" Teriak orang itu murka. "Kalau kutarik pelatuknya, tamat sudah hidupmu—"
Tetsuya tahu dirinya berbeda. Dalam dirinya tersemat sebuah benang penghubung dua dunia. Ia merogoh sampai benang itu membelit tangannya, lalu ia menarik sekuat tenaga.
Lelaki itu berteriak kaget, seperti tubuhnya terbakar hawa supernatural hanya dengan berada sedekat itu dengan tubuh Tetsuya. Figurnya mengambil jarak lima langkah ketika tawanannya terduduk dengan iris membara.
"Tempat ini bukan untuk manusia," Tetsuya perlahan bangkit ke kedua kaki. Versus bicara dipandang dengan tatapan berapi-api. "Perlindungan di sini diperuntukkan untuk melawan sesuatu yang lebih kuat."
Fabrik biru membungkus raga Tetsuya. Untaian sutra hana-kanzashi membelai sisi wajahnya. Kekuatan yang mengalir dalam pembuluh darah membuatnya merasa hidup.
"Jangan bergerak!" jerit pria itu, bidikannya tak stabil karena lengan yang digerayangi tremor. Telunjuk nyaris menyentuh pelatuk "Jangan bergerak atau akan kutembak—"
Tetsuya memejamkan mata erat-erat.
Letupan senjata berkumandang.
Ia menunggu saat tubuhnya tumbang tanpa perlawanan. Sekelebat visi dirinya yang terkapar dengan kepala berlubang melintas dalam benaknya.
Ia menunggu.
Satu, dua, tiga detik.
"... Kau baik-baik saja, Tetsuya?"
Vibrato khas menyapa pendengaran. Ketika ia membuka mata, Tetsuya mendapati sosok merah yang sangat familiar baginya tengah mengunci lengan si agresor.
Pistol tergeletak di lantai. Sebuah peluru tertancap di dinding sebelahnya; meleset sedikit saja, proyektil logam itu akan bersarang di tubuhnya.
"Akashi-kun—"
"Kau—monster!" hardik si pria berkulit gelap, hendak meraih senjata yang terjatuh. Akashi dengan cekatan menendangnya sejauh mungkin sambil melayangkan satu tinju ke rahang lawan bertarung.
"Lari, Tetsuya!" perintah Akashi, mengambil jeda ketika lelaki satunya setengah kayang karena kekuatan hantamannya untuk melumpuhkan musuh. "Tunggu apa kau?! Segera—"
Karena perhatian yang terbagi, Akashi gagal mengantisipasi tangan yang langsung bergerak untuk mencekik lehernya.
.
.
.
"Serahkan barang paling berharga yang kalian punya dan kalian semua akan selamat!"
Aomine menatap nyalang pada lelaki berpakaian gelap yang menodong sahabat masa kecilnya. Tangan dikepalkan di kanan-kiri tubuh. Geram karena dirinya kurang cepat bereaksi.
Satsuki pasti selamat jika terkena tembakan, tapi bukan berarti ia kebal terhadap sakit!
Selain yang satu itu, ada satu pria lain yang siaga dengan pistol di genggaman. Siap untuk menembak siapapun yang berani berkutik. Jika ia salah menilai, bisa-bisa korbannya tidak hanya gadis itu—
"Daikicchi."
Vokal merdu menemani sebuah tangan yang memegang bahunya. Aomine mendapati Kise yang berdiri di belakangnya. Air mukanya tenang namun sepasang topaz menyembunyikan amarah yang luar biasa.
Dibujuk dalam diam, Aomine mundur dan membiarkan pria bersurai keemasan itu maju.
"Berani sekali kau berbicara seperti itu di hadapanku." desis Kise, tiap kata berlumur bisa beracun, sufiks akrab diabaikan. "Berani sekali kau menyakiti Momocchi..."
Angin berhembus mengikuti langkah lelaki itu. Bunyi lonceng-lonceng kecil menggema diiringi kelopak sakura yang beterbangan. Perlahan, intensitasnya bertambah hingga membentuk sebuah topan, dan dari mata badai muncullah jelmaan rubah berekor sembilan.
"M-Monster!" pekik yang kedua—kulitnya pucat dengan rambut kecoklatan. Lututnya gemetar ketika bersitatap dengan bengisnya kitsune yang mengamuk.
"Tidak sopan-nodayo." ucap Midorima, enggan jika lebih dari melirik dua penyusup sok tahu di sisi sana. Di hadapannya, saba shioyaki yang setengah habis menunggu untuk disuap. "Kami bukan monster. Nenek moyang kami mewariskan darah campuran yokai dan manusia. Itu saja-nodayo."
"Karena kami mudah mengundang siluman galur murni, kami berkumpul untuk melindungi satu sama lain," tambah Takao, masih setia berada di sisi sang klien. "Dan kalian masih bisa merasa hebat—"
Narasi Takao terinterupsi ketika pria itu tumbang dengan antiklimaktik. Dari bayang-bayang, muncullah sosok Nijimura yang membawa sebuah odachi.
Mimiknya menggelap; sepasang tanduk yang tumbuh dari belakang telinga dan yukata serbahitam menambah kesan demonik pria bersurai jelaga itu.
"Kau datang ke tempat yang salah." Nijimura menggeram rendah, sukses membuat sang last man standing bergidik ketakutan. Kekuatan hawa gaib mencekik semua yang berada di ruangan sampai bungkam.
"Dan seharusnya kau tahu kalau tidak semua wanita itu tidak berdaya, idiot."
Perkataan itu membuat si penodong mengembalikan fokusnya ke wanita yang disanderanya. Aroma memualkan tercium, dan jemarinya menyentuh sesuatu yang lembek dan meluruh.
Terkejut, lelaki itu mendorong Momoi dan jatuh beralas bokong. Penampakan gadis itu berubah menjadi mayat yang separuh membusuk, wajah manisnya perlahan hancur dan menunjukkan tulang-belulang kusam;
"Jangan sentuh aku."
Dengan itu, kesadaran pria itu menguap saking takutnya, tubuhnya tergeletak lemas di lantai lounge yang mendingin akibat presensi blasteran siluman.
.
.
.
Dihadapi lawan dengan perawakan jauh lebih besar, Akashi lekas membalas dengan menangkat kedua kaki dan mengapit leher pria asing itu di antara kedua paha, berusaha menariknya hingga terjatuh.
Kedua tangan melingkari pergelangan si oponen. Tetsuya melihat lepuhan berwarna keunguan yang mulai menjalari kulit remang itu. Segaris asap menguar; ia mencium bau sesuatu yang terbakar.
"Segitu saja, heh?" lelaki itu menyeringai. Meski dengan tubuh Akashi yang membelit lehernya ditambah sentuhan terkutuk nekomata, ia masih bisa bertahan. Beban ekstra seolah seberat karung berisi bulu. Sensasi ngeri menjerat jiwa Tetsuya.
Akashi-kun dalam bahaya.
Fakta itu sudah cukup untuk membuatnya memacu langkah.
"Lepaskan Akashi-kun!" jerit penuh desperasi lepas dari tenggorokan. Tetsuya nekat melempar diri ke tubuh pria itu, mencengkeram salah satu lengannya sekuat yang ia bisa. "Lepaskan sekarang juga—ah!"
Badannya terhempas ke samping. Kepala menghantam keras bingkai besi jendela. Kraniumnya terasa remuk—Tetsuya merasakan cairan hangat perlahan meleleh ke tengkuk.
"Tetsuya!"
Sosok Akashi yang masih bergelut dengan lelaki itu perlahan memudar. Kelopak matanya terasa berat. Sensasi nyeri menjalar sampai ke tulang punggung.
Kemudian gelap.
.
TBC
.
[Character Corner]
Kise Ryouta. 20 tahun. Kyuubi-no-kitsune. Kamar: 7. SS: Aomine. Sepertinya berasal dari keluarga termahsyur.
Aomine Daiki. 20 tahun. ?. Jabatan: Agen Secret Service. Sudah cukup lama berpacaran sampai keluarga Kise hapal dengannya.
Nijimura Shuuzou. 24 tahun. Oni. Kamar: 4. SS: ?. Jabatan: Koki (karena ingin punya pekerjaan).
Momoi Satsuki. 16 tahun. Hone-onna. Kamar: 5. SS: Aomine (katanya sih). Jabatan: Resepsionis. Saudari angkat Aomine.
Takao Kazunari. 16 tahun. ?. Jabatan: Agen Secret Service. Jangan menilainya dari penampilan.
Midorima Shintarou. 16 tahun. ?. Kamar: 6. SS: Takao. Teman masa kecil Kise. Hubungan mereka aneh.
.
.
Yak, apdet kilat di tengah musim Try Out!
(Iya saya tahu kalau belajar itu lebih berfaedah dari nulis fanfic. Tapi saya lagi lelah.)
Untuk miichan maru, EmperorVer (Guest), dan Akiko Daisy, saya cuma punya satu kata buat kalian: wow. Ternyata masih setia di situs ini. Saya terharu...
Bab ini agak sulit terutama di segmen gelutnya Akashi, haha. Bisa jadi karena kosa kata action saya yang jumlahnya terbatas. Anyway, saya harap bab ini cukup memuaskan!
Please give a review, constructive criticism will be appreciated. Thanks for reading!
.
.
Dalam tidurnya ia melihat bayang-bayang suatu masa. Masa yang mana tiada kecemasan baginya. Masa-masa penuh tawa dan kebahagiaan.
Tetsuya kehilangan sesuatu.
.
.
01b.ねことぼく/END.
