From Alone be Together

| Kisah Sebastian, Ciel, Alois, Claude, Grey, dkk dari yang awalnya tidak saling mengenal menjadi kenal dan akhirnya tinggal bersama sewaktu mereka kuliah|Bad summary

DLDR. Author newbie. Please review =^w^=

Length: 2517 words

Warning: Yaoi, Shounen-Ai, Humor gagal, AU, OOC, typo(s) nyelip-nyelip, alur lambat

Rate: M (demi keamanan dan kenyamanan kita bersama)

Disclaimer: Kuroshitsuji adalah punya saya *digampar Yana Toboso*

Lagu kimi ga iru punya ikimono gakari, bukan punya saya. Saya minjem doank.

XXXXXXXXXX

"Tidak! Pergi kau dari sini!" ciel mengusir claude sambil melemparkan barang-barang apa saja yang ada di dekatnya kepada Claude.

Namun Claude lebih kuat dari ciel. Claude lalu menarik wajah Ciel dengan tangannya. Kini wajah Ciel dan wajah Claude hanya berjarak beberapa senti saja.

"Kenapa kamu masih mencintai Elizabeth? Elizabeth sudah MATI. Ia tidak akan membalas cintamu. Biar aku ajarkan cara mencintai seseorang. Ah bercinta lebih tepatnya" Claude mengatakan itu dengan suara yang lembut di daun telinga Ciel. Sehingga membuat Ciel makin berontak.

"Lepas! Lepaskan aku. Bre****k!"

"Tidak tidak tidak, aku tidak akan melepaskan cintaku begitu saja. Ayo kita mulai saja pemanasannya. Ciel"

Claude berkata sambil meraba milik Ciel yang masih berada di dalam celana Ciel. Ia lalu memegang tangan Ciel, menuntun tangan Ciel untuk meraba milik Claude yang masih terbungkus rapih di dalam celananya.

"TIIIDDDDAAAAAAAAAKKKKKKKKK!"

xxxxxxxxxx

Chapter 3 sakit

"TIDAK! TIDAK! TIDAAAAKKKKKK!" Ciel terbangun dari mimpi indahnya. Ah tidak itu bukan mimpi indah, itu mimpi buruk.

"Argh, ya Tuhan! Kenapa kebawa mimpi terus sih kejadian itu? Padahal sudah 2 tahun lebih berlalu"

"Aku takut Claude rape aku lagi"

Aaa~ yume ni miteta

Kogarete ita

Kimi ga iru

xxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Calling

Mommy

xxxxxxxxxxxxxxxxxxx

"Hallo Mom"

"Ciel, kenapa kamu barusan? Setelah itu mom telepon kamu lagi sampai berkali-kali dan kamu tidak mengangkatnya? Kamu kenapa sayang? Baik-baik saja kan?"

"Ah, maaf mom. Tadi setelah aku keluar dari kamar mandi aku langsung tidur siang"

"Kamu ini, mommy kira ada apa. Mommy sangat khawatir"

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan mom, aku baik-baik saja di sini"

"Benarkah?"

"Iya mom. Mommy aku ingin bertanya sesuatu?"

"Bertanya apa dear?"

"Apakah mommy mengenal keluarga Michaelis?"

"Tentu saja. Mereka kan keluarga pengusaha, kami para pengusaha tentu saling mengenal satu sama lainnya. Walau itu hanya sekedar kenal, atau karena memang partner bisnis, atau musuh sekalipun. Memangnya kenapa dear?"

"Ah, gak apa-apa kok mom. Aku hanya bertanya saja"

"Kau sedang jatuh cinta ya? Ah anakku sudah besar ternyata. Eh tapi tunggu? Bukankah keluarga Michaelis hanya memiliki seorang putra?"

"Aku tidak sedang membicarakan cinta mom, aku sedang membahas tentang pertemanan"

"Haha maaf maaf ya dear, jadi kau berteman dengan putra tunggal keluarga Michaelis?"

"Belum sih mom, aku takut jika berteman dengan dia nanti kejadianku dengan si FAUSTUS itu akan terulang. Si Michaelis itu temannya si Faustus. Aku takut mom"

"Haha, kamu gak perlu takut dear. Dia baik kok. Berteman saja seperti kamu berteman baik dengan Trancy. Ah sudah dulu ya. Mommy mau berangkat ke kantor daddy dulu. Maaf ya sepertinya bulan ini mommy dan daddy tidak bisa menjengukmu ke Jepang karena sibuk sekali. Tapi tenang saja, kami akan meluangkan waktu untuk menjenguk keadaanmu di Jepang"

"Baiklah, aku titip salam kepada daddy. Selamat bekerja, aku merindukan kalian. Aku akan pulang ke London kalau liburan"

"Oke, oh ya aku lupa kalau kakek Tanaka menitipkan salam kepadamu. Katanya ia ingin segera menemui cucu kesayangannya. Hehe. Sudah dulu ya. Love you dear"

"Love you mom"

TUTTUTTUT

Di kamar kost Sebastian

"Kamar Sebby nomor 18. Berarti yang ini ya?"

Alois berdiri di depan pintu kamar Sebastian.

CKLEK

"Kenapa kamarnya tidak dikunci yah? Loh kok Sebby gak ada di kamarnya. Kemana dia?"

Alois mencari sosok Sebastian di kamar tapi tidak ada.

"Al?"

Sebastian muncul dari belakang badan Alois hanya mengenakan handuk yang ia terlilit di pinggangnya sambil menenteng peralatan mandinya.

"Uwaaah, Sebby, maaf maaf aku masuk kamarmu seenaknya"

"Haha, nyantai aja Al kita 'kan sudah berteman sejak lama. Kamu lama menungguku? Aku baru selesai mandi sore. Ayo masuk Al"

Sebastian lalu masuk ke kamar kostnya dan menutup pintunya. Ia hendak mengganti bajunya.

"Ehem, maaf Al. aku mau mengambil pakaianku di lemari"

"Eh iya iya. Maaf"

Alois lalu minggir dan duduk di kasur Sebastian. Sebastian lalu mengambil bajunya dari lemarinya dan mengganti bajunya. Tidak peduli di depannya ada Alois. Toh mereka sama-sama laki-laki.

"Waaah, kamu masih menyimpan foto ini rupanya. Lihat! Kita bertiga sedang main bersama di bawah pohon besar"

Alois menemukan sebuah figura di tempat tidur Sebastian. Mengapa ini di letakan di tempat tidur? Kalau pecah karena tertiduri oleh Sebastian bagaimana?

"Hehe, karena foto itu aku masuk jurusan fotografi"

"Waaah, begitu rupanya. Keren"

"Eh ya, kamu ngapain kesini?" tanya Sebastian.

"Aku bosan di kostanku sepi. Kebanyakan teman-teman kostku saat weekend pulang ke rumah orangtua mereka"

"Hmm begitu, eh ya kita belum bertukar e-mail. Biar kita bisa saling menghubungi"

"Ah ya ini e-mailku"

xxxxxxxxxxxxxxxxxxx

alois-spider-trancy098 .jp

xxxxxxxxxxxxxxxxxxx

"Alamat yang unik" komentar sebastian.

"Ini e-mailku"

xxxxxxxxxxxxxxxxxxx

sebastian-michaelis1412 .jp

xxxxxxxxxxxxxxxxxxx

"1412? Bukankah itu kode untuk Kaito Kid ya? Jadi sebenarnya kau ini Kaito Kid ya?" komentar Alois.

"Haha, jadi kau ini seorang otaku ya? Aku bukan Kaito Kid di anime Magic Kaito. Angka itu hanya asal saja" Sebastian menanggapi.

"Sebby, kau punya alamat Faustus-senpai tidak?"

"Claude maksudmu?"

"Iya, siapa lagi?"

"Kenapa kamu tidak menanyakan langsung kepada orangnya saja? Kamar Claude tidak jauh dari sini, masih di lantai dua juga"

"Ah Sebby, aku segan dengannya"

"Segan?"

"Iya, dia kan waktu itu panitia waktu ospek. Udah gitu aku sering dimarahin lagi sama dia. Ya sudah begini saja. kamu berikan alamat e-mail claude dan aku akan memberikan alamat e-mail ciel. Sepertinya kamu tertarik padanya"

"Jadi kamu tertarik pada Claude?"

"Entahlah. aku hanya ingin berteman dekat saja dengannya"

"Hmm baiklah kalau gitu"

"Jadi benar kan dugaanku? Kamu tertarik dengan Ciel?"

"Tidak juga. Aku hanya bingung. Kita bertiga kan berteman sewaktu kecil, namun kenapa Ciel tidak mengingatku sama sekali?"

"Bukan hanya kau yang bingung akan hal itu sebby. Aku pun sama begitu"

"Jadi, Ciel sama sekali tidak mengingat kalau dia pernah berteman denganmu sewaktu kecil?. Tapi kenapa kalian begitu dekat?"

"Aku yang memulai semua dari awal. Mungkin saja Ciel mengalami amnesia jadi ia tidak mengingat teman-teman masa kecilnya. Jadi kalau aku memaksa Ciel untuk mengingatnya, itu sangat berbahaya efeknya bagi Ciel, Sebby"

"Ya aku mengerti. Sepertinya aku akan mengikutimu caramu juga"

"Ini e-mail Ciel"

xxxxxxxxxxxxxxxxxxx

ciel_phantomhive142 .jp

xxxxxxxxxxxxxxxxxxx

"Hmm"

"Kenapa Sebby?"

"Tidak ada. Ini e-mail Claude"

xxxxxxxxxxxxxxxxxxx

claude-faustus_gold .jp

xxxxxxxxxxxxxxxxxxx

"Hari sudah mau malam Al. sebaiknya kamu pulang"

"Hmm baiklah"

"Biar aku antar ke kostanmu, aku juga ingin tahu kostanmu dimana"

"Boleh-boleh saja"

SKIP TIME

Di kamar kost Alois

CKLEK

KRIIIITTT

"Ayo Sebby, masuk"

Alois membuka pintu kamar kostnya sambil mempersilahkan Sebastian masuk ke kamar kostnya. Alois lalu menyalakan lampu kamar kostnya dan tidak lama kemudian ponsel alois bergetar. Menandakan ada e-mail yang masuk.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxx

From: Ciel ciel_phantomhive1412 .jp

Alois, kamu bisa kesini sebentar?

xxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Alois lalu segera bergegas hendak pergi ke rumah kost Ciel.

"Kamu mau kemana Al?"

"Ke kostan Ciel, dia ingin aku pergi ke kostannya. Aku punya firasat tidak enak sejak tadi siang"

"Aku ikut"

Di kamar kost Ciel

Sesampainya di kamar kost Ciel, Sebastian dan Alois menemukan Ciel yang sedang duduk di sofa sambil memeluk lututnya.

"Ciel kamu kenapa?" tanya Alois yang khawatir.

"Aku tidak apa-apa" Ciel yang tadi menunduk kini menegakkan kepalanya guna melihat lawan bicaranya Alois.

"Kamu demam Ciel, wajahmu merah begini. Kamu punya thermometer dan obat-obatan?" Alois mulai panik.

"Tidak"

"Baiklah aku akan pergi ke apotik. Kamu tidak punya alergi tertentu kan?"

"Aku alergi…"

"Kucing" tambah Ciel.

"Ha? Eehhh, ya sudah aku pergi dulu. Sebby tolong jaga Ciel ya"

Alois lalu berlari pergi menuju apotik. Kemudian Sebastian memindahkan Ciel yang terduduk di sofa ke tempat tidurnya.

"Michaelis?"

"Iya ini aku, Sebastian Michaelis. Tadi aku datang bersama Alois. Kamu tidak perlu ketakutan terhadapku Ciel"

Ciel diam tidak menanggapi ucapan Sebastian.

"Biar aku ganti bajumu, dimana baju tidurmu?"

"Di lemari" jawab Ciel.

kemudian sebastian mencari baju tidur Ciel di dalam lemarinya.

"Yang mana?"

"Kemeja putih polos lengan panjang, ada di lemari kok. Di gantung"

"Oh yang ini ya?"

sebastian mengambil kemeja putih lengan panjang dari lemari Ciel dan menunjukkannya kepada Ciel.

"Ya yang itu"

Sebastian lalu melepaskan kaos lengan pendek Ciel beserta celana pendek Ciel dan memakaikannya baju tidur.

"Aku buatkan bubur ya?" Sebastian menawarkan kepada Ciel.

"Ya, boleh. Terimakasih Michaelis"

"Panggil saja Sebastian, teman Al adalah temanku juga"

"Eh? Baiklah Mi- eh Sebastian" Sebastian lalu pergi ke dapur Ciel dan memasakan bubur untuknya.

"Bolehkah aku menggunakan bahan-bahan yang ada di kulkasmu?"

"Ah ya tentu saja"

"Al lama sekali datangnya" gumam Sebastian.

"Ah maaf lama menunggu"

alois datang dan langsung menghampiri Ciel di tempat tidurnya.

"Dimana Sebby?"

"Sebastian di dapur, sedang memasak"

"Aku periksa dulu suhumu"

Ciel lalu membuka mulutnya lalu Alois menyelipkan thermometer di bawah lidahnya.

"38 derajat, demammu cukup tinggi" Alois lalu berlari menuju dapur mengambil baskom, es, dan sapu tangan.

"Kenapa Al? buru-buru sekali?"

"Ciel demamnya tinggi"

kemudian Alois langsung berlari menuju tempat tidur Ciel mengambil air dingin dan es batu dari kulkas dan menuangkannya ke dalam baskom. Setelah itu ia mencelupkan sapu tangan ke dalam baskom dan memerasnya kemudian menaruh sapu tangan tersebut di atas kening Ciel.

"Ciel, maaf sepertinya aku tidak bisa menemanimu malam ini. Aku harus ke bandara menjemput papa. Papa ingin melihat keadaanku di Jepang"

"Gak apa-apa Alois, kamu sangat membantu kok. Terima kasih, maaf merepotkanmu"

"Sudah sewajarnya teman itu saling membantu? Aku pergi dulu ya?"

Alois lalu berlari keluar namun Ciel tidak menjawab. Alois melirik kea rah tempat tidur Ciel, ternyata ia sudah tertidur.

SKIP TIME

"Maaf lama Ciel, aku buatkan cheese risotto"

Sebastian datang dari dapur sambil membawakan segelas air dan semangkuk bubur.

"Ciel?" Ciel tidak menjawab panggilan Sebastian.

Ah rupanya bocah ini tertidur. Sebastian lalu membangunkannya dan tidak lama kemudian Ciel terbangun.

"Ergh? Sebastian?"

"Waktunya makan dan minum obat setelah itu kamu boleh tidur lagi. Kamu sekarang pasti sudah lapar kan?"

"Iya"

"Ngomong-ngomong kemana Al?"

"Ia menjemput ayahnya di bandara. Ayahnya ingin melihat kondisi Alois yang sekarang tinggal di jepang untuk beberapa tahun"

"Hmm begitu"

"Ayo buka mulutmu? Aaah?"

"Ak! Aku bisa makan sendiri" entah mengapa muncul rona merah pada pipi chubby Ciel.

"Baiklah"

Ciel lalu meniup-niup bubur yang masih panas itu dan memasukkan bubur itu ke dalam mulutnya dengan menggunakan sendok.

"Enak"

Ciel lalu memakan bubur itu dengan lahap sampai habis. Hal itu membuat Sebastian senang dan membuatnya tersenyum.

"Aku senang kau menyukainya. Kamu sudah menghabiskan makanannmu, sekarang minum obatnnya"

ciel lalu mengambil gelas yang berisi air putih dan obat yang disodorkan oleh Sebastian.

"Sekarang kau sebaiknya istirahat"

"Se- Se- Sebastian"

"Apa?"

"Terima kasih" Ciel mengucapkan terima kasih kepada sebastian sambil menunjukan senyumnya yang manis itu. Membuat author melt *abaikan*

"Aku akan menemanimu malam ini. Aku khawatir jika meninggalkanmu sendirian di sini. Itu jika kamu enggak keberatan"

"Boleh saja, tapi aku takut merepotkanmu"

"Tidak tidak. Aku sama sekali tidak keberatan. Kita kan berteman. Sudah sewajarnya kan teman saling membantu?"

"Alois pun tadi mengatakan hal yang sama"

Tidak lama setelah mengucapkan itu, Ciel tertidur dengan lelapnya.

Sebastian berjalan menuju sofa dan menjatuhkan badannya ke atas sofa di kamar kost ciel. Kemudian Sebastian berbaring sambil memikirkan sesuatu.

'Bukankah yang berambut pirang itu Ciel? Dan yang berambut kelabu itu adalah Alois?'

'Tadi siang di café, kenapa ketika aku memanggil Alois yang menengok adalah si rambut pirang itu? Dan kenapa tadi siang ketika di café, si rambut kelabu memperkenalkan diri sebagai Ciel?'

'Apakah mereka mencoba mempermainkan aku?'

Sebastian lalu melihat Ciel dari atas sofa yang ia tiduri sekarang. Kemudian ia melihat ada dompet berwarna biru dongker di atas meja belajarnya. Sepertinya itu punya Ciel. Tanpa pikir panjang, Sebastian lalu pergi mengambil dompet tersebut. Bukan bermaksud untuk mencuri uang di dalamnya, melainkan ia ingin melihat kartu identitas yang ada di dalamnya. Sebastian menemukan apa yang ia cari. Kartu identitasnya, kartu mahasiswa Ciel.

Ciel phantomhive

Birth: 14 desember ****

Berarti sosok berambut kelabu ini benar-benar bernama Ciel? Foto di dalam kartu mahasiswa tersebut pun foto si rambut kelabu itu dengan warna matanya yang masing-masing berbeda, biru laut dan violet.

Flashback

Di inggris

Bocah berambut hitam yang baru berumur tujuh tahun itu kini sedang duduk di taman ditemani oleh bodyguardnya sambil memperhatikan dua bocah yang sedang bermain di depannya dengan riangnya. kemudian bocah berambut hitam itu menghampiri mereka.

"Bolehkah aku ikut bermain bersama kalian? Ayahku sedang sibuk di kantor. Ibu sedang sibuk di butik karena butik itu baru buka. Aku bosan kalau tinggal di kamar hotel terus"

Kemudian si rambut kuning membisikkan sesuatu di telinga Ciel.

"Boleh. Namaku Ciel Phantomhive dan temanku yang warna matanya berbeda ini namanya Alois Trancy. Apa kamu masih mau dengan kami atau kamu takut dengan Alois karena warna matanya berbeda?"

"Warna matanya berbeda? Bolehkah aku melihatnya? Eh tentu kalau kamu mau menunjukkannya kepadaku"

"Boleh kok" jawab bocah dengan rambut kelabu.

Si bocah kelabu lalu memperlihatkan kedua iris matanya. Sebelah kanan berwarna violet dan sebelah kiri berwarna biru gelap.

"Waaah indah sekali. Aku baru pertama kali orang yang warna matanya berbeda"

Sebastian terpukau. Ia baru pertama kali melihat orang yang warna matanya tidak sinkron dengan satu sama lainnya.

"Kamu masih mau main sama kita?" tanya si rambut pirang.

"Iya. Aku mau main sama kalian. Perkenalkan namaku Sebastian. Sebastian Michaelis"

"Bolehkah aku memanggilmu Sebby?" tanya si rambut kelabu.

"Ah ya boleh. Bolehkah aku meanggilmu Al?" tanya Sebastian kepada si rambut kelabu.

"Ya. Boleh" kata si rambut kelabu memperbolehkan.

"Ayo kita main" dan mereka kemudian bermain bersama.

End flashback

"Aku jadi makin tidak mengerti" gumam Sebastian.

"Sebaiknya aku segera tidur" lalu Sebastian menuju sofa dan tidur.

Pukul 2.45 am

Sebastian terbangun di tengah malam. Merasa bahwa tenggorokannya sedikit kering, ia lalu pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih.

"PERGI KAU FAUSTUS!" kata Ciel sambil berteriak dengan suara yang keras.

Sebastian terkejut dan langsung menghampiri Ciel.

"Ada apa Ciel? Kenapa berteriak-teriak begitu? Kau mimpi buruk ya?"

"Pergi, pergi kau Faustus! Pergi!" kata Ciel namun kini dengan suara yang kecil.

"Aku bukan Faustus, aku Sebastian"

"Sebby?"

Sebastian yang mendengarnya terkejut mendengar Ciel memanggil Sebastian dengan nama kecilnya. Ia jadi makin heran, apakah Ciel memang benar-benar lupa ingatan atau berpura-pura lupa ingatan?

"Iya ini… Aku…"

Ciel lalu menghamburkan pelukannya kepada Sebastian dan membenamkan kepalanya di dada atletis Sebastian. Pemilik iris ruby itu cukup terkejut dengan sikap Ciel. Namun Sebastian cukup peka dengan situasi bahwa Ciel sedang mimpi buruk, lalu Sebastian merengkuh tubuh Ciel. Tangan kanannya mengelus punggung dan tangan kirinya mengelus pinggang Ciel.

"Kamu gak perlu ketakutan, ada aku yang menemanimu malam ini"

Sebastian lalu melepaskan pelukannya. Ia lalu mengusap kening Ciel, ternyata demamnya belum turun.

"Sebaiknya kamu tidur lagi. Kamu harus banyak-banyak istirahat supaya demammu cepat turun" lanjut Sebastian.

Ciel berbaring kembali di atas kasurnya dan Sebastian mengambil air dingin dan es batu dari kulkas dan menuangkannya ke dalam baskom. Setelah itu ia mencelupkan sapu tangan ke dalam baskom dan memerasnya kemudian menaruh sapu tangan tersebut di atas kening Ciel.

"Cepat sembuh Ciel" gumam Sebastian.

Kemudian Sebastian hendak tidur kembali menuju sofa namun Ciel menarik tangan kiri milik Sebastian. Sehingga menghentikan si pemilik tangan kiri tersebut.

"Jangan pergi, temani aku disini" pinta Ciel kepada Sebastian.

Sebastian menduga-duga, Ciel mempunyai masalah yang cukup berat dengan Claude. Kejadian tadi siang di café, ekspresi ketakutan Ciel ketika melihat Claude, di tambah mimpi buruk Ciel sampai menyebut-nyebut marga Claude, tentu merujuk kepada hal tersebut. Tapi ia belum yakin betul karena belum mendengar penjelasan dari kedua belah pihak baik Ciel ataupun Claude. Sepertinya ia harus menanyakan hal ini pada Ciel atau Claude.

"Baiklah"

Sebastian mengambil kursi yang sering Ciel pakai untuk belajar di meja belajarnya dan menaruh kursi tersebut di samping tempat tidur Ciel. Ia lalu duduk di kursi tersebut, dan tak lama kemudian Sebastian tertidur dengan posisi duduk di atas kursi tersebut.

Tak lama, Ciel bangun kembali dan melihat Sebastian yang tidur di atas kursi.

"Sebastian! Sebastian! Bangun"

"Tidak bagus tidur dengan duduk di atas kursi seperti itu. Tidur di sini saja"

"Hey Sebastian!" pria yang dipanggil namanya itu kemudian bangun.

"Tidur di kasur bersamaku saja. daripada di kursi seperti itu. Badanmu bisa pegal-pegal besok"

"Ah tidak tidak. Aku di sofa saja"

"Jangan. Nanti badanmu bisa sakit kalo tidur di atas sofa. Disini saja. gak sempit kok"

Sebastian lalu mengusap kening Ciel.

"Syukurlah demammu sudah turun sedikit" kemudian Ciel ikut-ikutan mengecek badannya sendiri.

"Haaa, yokatta. arigatou ne Sebastian (ah, syukurlah. Makasih ya Sebastian)"

"Maaf ya merepotkanmu" lanjut Ciel.

Kemudian Sebastian naik ke atas kasur Ciel. Kemudian Ciel menyelimuti badan Sebastian dengan selimut yang ia kenakan.

"Tidak usah ciel, badan-"

"Aku tidak mau kamu masuk angina karena semalaman menjagaku. Aku berhutang banyak padamu"

"Baiklah. Kalau itu maumu"

"Ja, oyasumi"

"Oyasumi Ciel" lalu mereka berdua tertidur bersama di atas kasur Ciel.

Sepertinya Sebastian lupa untuk menanyakan kenapa ia berteriak-teriak tadi sambil menyebut nama marga Claude. Besok pagi saja ia tanyakan kepada Ciel, lagipula ini bukan waktu yang tepat. Sekarang adalah waktunya istirahat.

TBC

XXXXXXXXXX

Author note:

Bagaimana chapter tiga ini? Kepanjangan yah? author emang seneng yang panjang-panjang (loh?) hehehe. B-)

Maaf ya author baru update chapter ke-tiga ini karena author sibuk di real life. Ngurusin j-event di kota tempat aku tinggal, belum lagi tugas-tugas kuliah yang numpuk, dan ditambah laptop aku rusak. Kyaaaa tapi sekarang laptop aku udah bener lagi. Hehehe #curcol dulu

Maaf ya alurnya lambat banget, soalnya author juga gak mau alurnya terburu-buru gitu ntar jadi kesannya maksa. Biarkanlah mengalir alami seperti ini )

Author juga seneng banget ada yang mau baca ini fanfic, apa lagi sampe dapet review, ada yang mau follow, kyaaaa seneng banget. B)

Untuk chapter ke-empat sebenarnya sudah selesai dikerjakan, tinggal edit-edit dikit kalau ada request adegan dari para reviewer sekalian. Hehe

本当にアリガトウございます n,n

Summary next chapter:

"Ngapain malu? Lagian kita sama-sama laki-laki"

"Memang ada sesuatu buruk yang terjadi di antara kami berdua"

"Apa yang kau lakukan di kamar Sebastian, Ciel?"

"Aku menyukaimu, Ciel"