Uchiha Misaki sedang menyeruput susu coklatnya dengan santai. "Lagi, perampokan terjadi di sebuah supermarket. Masyarakat dibuat resah dengan kejadian ini. Polisi dianggap lalai karena terus kecolongan dan tidak dapat mengungkap pelaku-pelaku perampokan yang akhir-akhir ini banyak terjadi", sebuah kilas berita terdengar dari televisi yang dinyalakan Misa. "Ya, kalau ditanya resah atau gak ya resahlah, Bu. Apalagi ini sering terjadi akhir-akhir ini. Kalau dirumah sendiri 'kan otomatis takut kitanya", nampak seorang warga yang sedang diwawancara di layar televisi. "Takut banget, Bu. Apalagi tempat perampokannya di deket tempat kos saya", warga yang lain mengutarakan pendapatnya. "Ya, saya berharap para polisi bisa menangkap para pelaku. Kan kesannya kita hidup kayak dikejar-kejar gitu, gak tenang jadinya", Misa melihat kilas berita itu dengan sungguh-sungguh. "Masyarakat yang dibuat takut dengan kejadian perampokan beruntun ini berharap agar para polisi bisa segera menangkap para pelaku. Demikian berita dari lapangan, kembali pada stasiun", reporter yang berada di lapangan menutup beritanya. Misa mematikan acara berita itu. "Sepertinya pekerjaanmu bertambah ,Itachi",gumamnya sendiri.
.
.
.
Avery Emmeline present:
The Uchiha
Chapter 3
.
.
.
Gue menatap bosan pelajaran yang berlangsung hari ini. Guru udah selesai ngajarin materi dan nyuruh kita, para murid, ngerjain latihan soal yang udah gue selesaiin 15 menit yang lalu. Gen Uchiha sih. Saat ini sensei sedang menerangkan kembali materi karena ada beberapa anak yang masih belum ngerti. Gue? Boro-boro. Sekali jelasin, gue udah ngerti. Berbanding terbalik sama bocah di belakang gue. Uzumaki Naruto alias dobe, dia gak ngerti sama sekali dan gak mau ngerti. Buktinya, dia bobok dengan tenangnya. Sial. Kok gue kesel ya. Gue berdoa dalam hati, sensei, nengok belakang dong. Pleaseeeee. Oke, alay. Dan harapan gue terkabul.
"UZUMAKI NARUTO, BANGUN DAN KERJAKAN SOAL NOMOR SATU SAMPAI DUA PULUH", teriak si sensei yang menangkap basah dobe yang udah tidur dari 45 menit yang lalu. "Eh, apa?", respon dobe yang baru setengah melek.
"Teme, bantuin gue dong. Soal fisikanya sulit nih", rengek si dobe dari tadi setelah sensei menyuruhnya mengerjakan soal no. 1-20 di papan tulis, yang kedua kalinya. "Ogah", jawab gue singkat. Sekali-kali cuekin si dobe lah. "Temeee", rengek Naruto kesekian kalinya. "Gue traktir Ramen deh", Uzumaki Naruto masih tak mau menyerah. Emang gue maniak ramen kayak elu, gerutu gue dalam hati. Gue tetep kacangin dia. "Ah, teme jahat", Emang. Dan Naruto masih tidak mau menyerah hingga—
Kriiiinggg… kriiiiiinggg…
Bel pulang.
"Yoshhhh", si dobe yang tadi lemes langsung semangat lagi. "Uzumaki Naruto, jangan pikir kamu bebas. Besok kamu kumpulkan jawabannya atau lihat saja nanti", ancam sensei sebelum keluar kelas. "Bisa diatur", jawab Naruto santai. Bisa diatur, ndasmu.
Gue merapikan barang gue terus pergi. "Gue mampir ke rumah lu ya", kata Naruto tanpa tedeng aling-aling. Tuh 'kan. "Enak aja", protes gue. "Ayolah, teme. Kita kan bespren (?)", rayu Naruto. Apaan sih. "Gak", gue masih nolak.
Ya, gue tahu percuma nolak. Tu makhluk satu tinggal dua rumah si sebelah kiri rumah gue. Dan yang ditengah, "Sa… Sakura-chan", Naruto tiba-tiba berhenti. Ya, Haruno Sakura, cewek berambut pink dan bermata hijau yang selalu menggoda gue—yang langsung nyetel lagu di I-Pod keras-keras—bareng sahabatnya, Yamanaka Ino, adalah orang yang tinggal di rumah antara gue dan dobe.
"Te… teme, gue lemes nih. Dia tambah cantik aja", kata Naruto begitu melihat Haruno Sakura yang pulang bareng Yamanaka Ino. "Oh", jawab gue gak peduli. Dulu, tu cewek satu SD sama gue dan Naruto. Pisah waktu SMP, dan satu sekolah lagi waktu SMA, sekarang. Dan si dobe Naruto udah lama naksir dia dan Sakura udah lama naksir gue.
Oke, aneh.
Gue masih bisa mendengar Naruto melontarkan kata-kata pujian lainnya.
Gue segera makek helm. Bakal capek nungguin dobe selesai liatin Sakura, sama Ino, yang bentar lagi belok ketikungan. "Ah, Sakura-chan kuuuuu",pekik Naruto alay. "Gue tinggal ya", gue yang udah di motor tancap gas. "Eh? Tunggu, woiii",pekik Naruto yang baru nyadar gue udah siap dan udah ngeloyor pergi. Gue terus memacu motor gue belok ketikungan dan melihat beberapa temen satu sekolah gue yang jalan kaki.
"SASUKEE-KUN!"
"CAKEPNYA!"
"WOII, COGAN, NOLEH DONG!"
"SASUKE-KUN, NOLEH SINI DONG!"
"SASUKE-KUN, BONCENG AKUUU!"
"GILAAA! MOTOR SPORT 'COY"
"GUE MAU JADI PACARMU"
"Itu 'tu senpai ganteng yang gue certain ke lu"
Itu yang gue denger—sampe budeg.
"WOI, TEME, TUNGGUIN", Naruto ikut memeriahkan acara teriak bareng ini
"Ah, Sasuke-kun!", pekik Sakura yang kemudian di susul Ino. "Hai, Sakura-chan~", balas Naruto(?), yang udah nyusul gue pake motor sportnya juga, yang dibalas pandangan-apaan-sih-lu sama Sakura.
…
Uzumaki Naruto baru saja memarkirkan motornya di halaman rumah keluarga Uchiha. Dia baru saja melepas helm-nya dan menyusul Uchiha Sasuke, temen sehidup sematinya, yang masuk ke rumahnya. Dia baru saja memasuki kediaman Uchiha saat samar-samar terdengar suara piano. "Piano?", tanyanya heran. "Ya", jawab Sasuke. "Pasti Misa yang main", lanjutnya. "Misa-nee? Dia bisa main piano?", tanya Naruto heran. "Begitulah",jawab Sasuke singkat.
Tanpa rasa malu, Naruto langsung naik ke atas. "Misa-nee?!", pekiknya. Sasuke, sang pemilik rumah, segera ikut naik ke atas.
"Ngapain lu, dobe?", pekik Sasuke. "Oh, Naruto mampir?", Misa, yang masih main piano, menjawab. "Lagu klasik?", tanya Naruto. "Ya, Moonlight Sonata karya Beethoven", jawab Misa. "Keren", Uzumaki Naruto lalu masuk ke kamar Misa dan duduk di lantai untuk mendengarkan Uchiha Misaki memainkan Piano-nya.
Gue ngelihat si dobe lagi asik ndengerin Misa main piano. Si Misa beneran gak main di orkestra sekarang? Moonlight Sonata yang dia mainin kelas jempolan banget. Si dobe yang biasanya rebut aja bisa diem ndengerin dia main. Gue yang masih diem di depan pintu kamar Misa yang terbuka lebar, ikut masuk dan duduk di lantai kayak si dobe. Gue liat sekilas Naruto lagi menghayati lagu itu.
"Piano Sonata no. 14 di C# minor "Quasi una Fantasia", op. 7 no. 2 karya Ludwig van Beethoven yang dikenal dengan nama Moonlight Sonata, diselesaikan pada tahun 1801. Lagu ini merupakan salah satu sonata Beethoven yang paling terkenal, dan merupakan salah satu komposisi piano yang paling hebat. Nama "Moonlight" Sonata diambil dari sebuah deskripsi dari Ludwig Rellstab, orang yang membandingkan lagu ini dengan cahaya bulan di danau Lucerne," ceramah Misa. Gue terpukau. Ni orang kayak kamus berjalan aja.
Misa udah selesai memainkan lagu klasik itu. "Apa alasan khusus kedatanganmu kali ini , Naruto?", tanya Misa. "Oh, iya! Nyaris lupa", Naruto, tanpa rasa malu langsung menyambar tas gue yang tergeletak di dekatnya dan mengambil buku IPA gue. Sial. Si dobe nyontek kerjaan gue. "Nee-chan lanjut main aja. Aku mau ngerin sambil kerja", kata Naruto sambil mulai mencontek. Si Misa geleng-geleng kepala terus lanjut main.
To be continue
Chapter ketiga sudah diperbarui #joget. Masih banyak kekurangan dan saya terharu ada yang ngereview #nangis terharu. Happy reading ya ,minna. Sebelumnya, mohon maaf buat cup chocochip yang entah mengapa namanya ngilang di tempat jawab review di chap 2. Ini error kah? Jadi, author minta maaf yang sebesar-besarnya. Terus, terima kasih buat Tsuki dan erna degreen yang udah review chap sebelumnya. Ini sudah di update, silakan dibaca.
