Dan tendangan itu tepat mengenai pinggangnya dan membuatnya terlempar setengah meter ke kanan. Ia dibuat Yaku bersujud di tanah, mengerang dan memegangi pinggangnya dengan hati-hati sembari menahan tangis.

Namun setetes dua telah terlihat di ujung mata rupanya.

"Yaku san! Apa salahku?"

Saat ia menatap lawannya, dia terpaku mendapati Kenma kecil mereka yang digendong dalam diam. Yaku memelototinya. "Kau menitipkan Kenma di rumah keluarga Karasuno lagi!"

Bocah sebelas tahun itu berdiri dengan susah payah sambil menggerutu, "Ini kekerasan pada anak, tahu. Kekerasan dalam rumah tangga. Aku akan melaporkanmu ke kantor manusia dan anak. Yaku jahat!"

Tetsuro berlari meninggalkan Yaku yang masih menggendong Kenma. Pria kecil itu terpana pada kebodohan Tetsuro dan kemudian menepuk keningnya sendiri. Katanya pada Kenma di pelukan, "Kenma, cepat kejar Tetsu, ya? Jangan sampai dia—"

Kenma turun dari gendongannya dalam diam. Anak empat tahun itu berjalan dengan pelan mengikuti Tetsuro. Semeter dua meter ia berjalan, Kenma berhenti dan duduk sebentar di lantai. "Lelah," katanya.

Yaku masih terus memerhatikan Kenma dari tempatnya berdiri. Sesekali mengulum senyum merasa geli pada tingkah Kenma yang terlihat malas dan tak rela, namun merasa berkewajiban melakukan perintah Yaku. Ketika bocah pirang itu berbelok ke kanan, Yaku kembali naik ke lantai dua dan menemani anak-anak asuhnya yang lain yang sedang sibuk melakukan sesuatu. Sementara Kenma yang akhirnya sampai di depan kamar Tetsuro merasa telah berusaha keras dan duduk sedikit lebih lama di depan pintu. Sementara duduk, ia memanggil si bocah dengan suara pelan. "Kulo?"

"Pergi Kenma. Aku sedang ingin sendiri."

"Yaku chan minta Kenma cama Kulo."

Saat Kenma bersandar di pintu, suaranya terdengar oleh Tetsuro di dalam.

"Kau bermain dengan Shoyo saja sana. Kalian kan berteman."

"Cho chan bobo ciang."

"Ya sudah, kau tidur siang juga sana!" Masih dari dalam Tetsuro menjawab ujaran sang adik asuh. Dia masih bersungut karena sejak dulu Yaku selalu menyuruhnya menjaga Kenma. Anak itu berpikir, selain dia ada banyak bocah lain yang tidak diberi kewajiban apapun. Kenapa harus selalu dia?

"Yaku chan minta Kenma cama Kulo," ulang Kenma. Akhirnya bocah itu berdiri dan mencoba membuka pintu kamar si bocah hitam. Dilihatnya Tetsuro duduk di depan berbagai macam kertas warna-warni yang digambarinya sendiri. Ada gambar kue ulang tahun, balon, dan lain-lain.

"Kulo, ini apa?"

Si hitam bersungut saat Kenma masuk dan duduk di depannya. Dia menatap Kenma dengan sebal, "Aku sedang ingin sendiri, Kenma."

Kenma menatap si hitam dengan tidak mengerti. Bibir Tetsuro masih merengut dan dibiarkannya Kenma tetap duduk di depannya. "Ya sudah, kalau kau tak mau pergi. Jangan berisik loh."

Kenma diam tak menjawab, namun bocah pirang itu memang tak selalu banyak bicara.

Dalam hening, Tetsuro menyusun kertas-kertas bergambar di depannya. Setelah rapi, ia bernyanyi pelan. "Happy birthday to me. Happy birthday to me."

Tetsuro bertepuk tangan sendiri. "Happy birthday, happy birthday."

Kenma terdiam menatap laku si hitam.

"Happy birthday to—" tak disangka nadanya berubah menjadi isakan pelan. Setetes dua air matanya terjatuh. "—me."

Kenma masih tidak mengerti. Tetsuro melipat lututnya dan dipeluknya di dada. Ia menutupi wajahnya di lutut dan menangis dalam diam.

"Yaku san jahat. Kenapa dia lupa ulang tahunku dan malah menyuruhku tetap menjaga Kenma? Aku kan harusnya jadi raja hari ini. Yaku san jahat."

Kenma berdiri dari duduknya kala melihat si hitam meringkuk dalam nestapa di depannya. Ia dekati bocah itu dan dipeluknya dalam diam jua Tetsuro. "Eppi etday, Kulo."

Tetsuro tak membalas dan tidak bergerak jua atas pelukan Kenma yang tak seberapa. Ia masih memeluk lututnya. Punggungnya bergetar, tangisannya hening.

"Tetsu! Kau menjaga Kenma, kan?"

Yaku berteriak dari lantai dua. Namun alih-alih menjawab, tangisan Tetsuro makin membanjiri wajah dan lututnya. Ia kini menoleh pada Kenma dan digigitinya bibir bawahnya demi tidak membuat satu suara rintihan pun keluar dari sana.

"Tetsu?!"

Tetsuro masih diam.

Kenma yang melihat wajah menyedihkan si hitam memeluk leher anak sebelas tahun itu. "Kulo cakit?"

Mereka berdua mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa menuruni tangga. Sementara suara Yaku terus bergema memanggil nama si bocah hitam. "Tetsu! Kau mengabaikan Kenma, kutendang lagi kau ya?"

Dan pintu itu terbuka. Yaku membisu melihat Tetsuro yang menangis dan Kenma yang memeluknya dalam diam. Ia juga termenung saat menatap kertas-kertas bergambar yang disusun Tetsuro di depannya.

"Kau kenapa, Tetsu?"

"Hmph." Tetsuro mengalihkan pandangannya dan menatap arah lain. Yaku menahan senyumnya mengetahui Tetsuro sedang merajuk darinya. Kenma berjalan mendekati Yaku yang juga berjalan mendekati mereka.

"Kau kenapa? Masih marah karena kutendang tadi?"

"Hmph."

Yaku menggendong Kenma. "Ayo Kenma. Kita tinggalkan saja Tetsu. Kita makan kue pie kesukaanmu. Ah, enaknya kalau Tetsu begini. Jatah untuk Mama jadi lebih besar."

Yaku berjalan keluar dari kamar tanpa memedulikan Tetsuro yang tersadar mendengar ujarannya. Yaku masih menahan geli saat disadarinya Tetsuro berjalan di belakangnya pelan-pelan dan sembunyi-sembunyi. Mereka naik ke lantai dua, ke ruang makan. Dan ketika Tetsuro menginjakkan kakinya di lantai atas, ia disambut dengan berbagai letusan confeti.

Seluruh saudaranya berkumpul di sana. Bahkan seluruh anggota keluarga Karasuno yang tinggal di sebelah rumah mereka. Beberapa anak tetangga lain pun hadir. Bahkan pasangan pengantin baru Fukurodani, Bokuto—yang menjadi rekan bermainnya selama ini—dan Akaashi membawa sebungkus kado besar yang diberi tulisan "Untuk Kuroo Tetsuro".

"Selamat ulang tahun, Tetsu!" teriak mereka semua.

"Tapi jangan lupa minta maaf pada Daichi san karena kau selalu menjahili anak-anak mereka!" tambah Yaku. Akaashi juga menyikut pinggang Bokuto, "Bokuto san. Kau juga."

"Oe, Akaashi!"

:)

.

A/N: Hai, bertemu dengan saya lagi. Kali ini saya membuat drabble keluarga Nekoma. Sejujurnya ini sudah lama dibikin sebagai status di akun facebook saya pas hari ultahnya Kuroo. Hehe. Mau nungguin setahun cuman buat upload ini chapter doang, males. Jadinya diupload sekarang deh meski gak pas tanggalnya. Haha /plak

Untuk chapter tiga dan empat diambil dari status saya di facebook. Hehe. Emang kadang saya suka bikin drabble chibi Haikyuu di status sih. Jadi dipindahin ke sini aja sebagian. Untuk yang rikuesan (?) saya kerjain nanti. Soalnya lagi ikutan event nganu sih /heh. Makasih udah baca dan review. :)

Menjawab pertanyaan yang paling sering muncul:

Tanya: Ukai Keishin dan Takeda Ittetsu jadi kakek dan nenek Karasuno?

Jawab: Iya. Hehe. Sebagai penjelas juga kenapa Kei dan Shoyo rambutnya pirang dan jingga padahal papa dan mamanya hitam dan perak. Biar alesan keturunan, gitu (padahal Keishin juga dicat ya rambutnya :")

Tanya: Terus umurnya gimana tuh?

Jawab: Saya paling gak bisa bikin perkiraan usia orang dewasa. Saya lebih suka bikin perkiraan usia anak-anak aja. Usianya tokoh-tokoh dewasa di fanfiksi ini, silakan dipikirkan pembaca sendiri aja, ya /dilemparbolavoli/

Tanya: Susunan keluarga Karasuno gimana, tuh jadinya?

Jawab: Jadi, Keishin dan Takechan sensei itu punya anak dua, Asahi dan Daichi. Daichi nikah sama Koshi, dapetnya tujuh biji telur itu deh yang netasnya jadi piyik-piyik berisik itu /dilemparbolavoli/

Maafkan saya gak bisa balesin reviewnya satu-satu… Selain karena saya jarang buka ffn lewat laptop, saya juga gak tahu harus balas review kalian kayak gimana /heh /plak /diasusahdiajakngobrolsoalnya /dilemparbolavoli

Tapi saya mengapresiasi banget review kalian semua. Terima kasih banyak. Terima kasih :)