143 Pounds Beauty
(Chapter III)
.
.
.
Luhan-Minseok
Genderswitch for Minseok
.
.
.
'Bibir ini… Apa Meng Jia juga pernah merasakannya, Ge?'
-Kim Minseok
.
.
.
-000-
Minseok tak menjawab pertanyaan sang ibu soal wajah sembabnya saat dia tiba di rumah untuk membawa Oscar berobat. Beruntung Ryeowook tak bertanya-tanya lagi, mungkin mengira Minseok menangis sepanjang perjalanan pulang karena mengkhawatirkan Oscar.
Ditemani sang ibu, Minseok membawa bayinya ke salah satu rumah sakit di kawasan Seongnam. Oscar segera ditangani oleh dr Kim Joonmyeon, dokter spesialis anak berparas tampan lagi lembut bak malaikat yang dikenali Minseok sebagai suami Zhang Yixing, konsultan gizinya selama menjalani diet. dr Kim memeriksa Oscar dengan saksama, disaksikan Minseok dan Ryeowook yang memasang tampang harap-harap cemas. Kedua wanita beda generasi itu juga kompak memasang tampang nelangsa ketika Oscar menjerit-jerit kesakitan lantaran diambil darahnya untuk pemeriksaan lebih lanjut.
"Ananda Oscar ada sedikit masalah di pencernaan," jelas dr Kim setelah hasil tes darah Oscar keluar.
"Gejala kontaminasi bakteri, Oscar Eomoni. Tidak serius, jadi tidak perlu khawatir." Dokter tampan itu tersenyum menenangkan Minseok.
Minseok menggigit bibir. Dia sungguh tak menyangka Oscar bakal kena kontaminasi bakteri. Selama ini Minseok merasa sangat-sangat memperhatikan kebersihan hingga rasanya mustahil Oscar sampai terkontaminasi bakteri seperti diagnosa dr Kim.
"Selain kontaminasi bakteri, Oscar menunjukkan reaksi alergi," dr Kim melanjutkan penjelasannya. "Hasil pemeriksaan menunjukkan kalau Oscar alergi protein susu sapi. Apa Oscar sudah mulai minum susu formula?" tanya dr Kim pada Minseok.
Minseok terkejut. "Tidak, Seonsaengnim. Oscar masih ASI eksklusif," jawab Minseok dengan wajah pucat. Minseok memang selalu seperti ini setiap kali terjadi sesuatu yang tak beres pada Oscar. Maklumlah, dia ini ibu baru yang masih rentan panik saat mengurus bayinya.
"Begitu, ya. Tapi apa Oscar Eomoni mengonsumsi produk olahan susu sapi?" tanya dr Kim lagi. "Alergen pada bayi yang masih minum ASI bisa berasal apa yang dikonsumsi ibunya."
Minseok mengerutkan kening. 'Produk olahan susu sapi?'
Dia mulai berpikir keras, mengingat-ingat apa yang dia konsumsi akhir-akhir ini.
"Kau makan keju atau sejenisnya, Seokkie-ya?" tanya Ryeowook yang duduk di sebelah Minseok sambil menimang Oscar.
Minseok tak segera menjawab. Dia masih sibuk mengingat-ingat, sampai akhirnya menemukan satu titik terang.
Yoghurt!
Ya, Minseok ingat sekarang. Tiga hari ini dia rutin mengonsumsi frozen yoghurt dengan buah sebagai menu makan malam.
"Yoghurt," Minseok menjawab dengan lemah. "Saya mengonsumsi frozen yoghurt, Seonsaengnim."
Tatapan Minseok beralih pada pada Oscar yang tertidur di pelukan Ryeowook. Sorot mata Minseok begitu sarat akan perasaan bersalah terhadap Oscar.
"Yoghurt? Ya, ya. Kalau begitu, mulai sekarang berhenti mengonsumsi yoghurt dulu ya, Oscar Eomoni, juga berhenti mengonsumsi olahan susu sapi lainnya seperti keju. Nanti setelah Oscar sudah mulai minum susu formula, jangan beri dia produk susu dari protein sapi. Pilih yang dari kedelai," saran dr Kim.
"Kebetulan anak saya juga alergi susu sapi, makanya sampai sekarang dia minum susu dari protein kedelai," dr Kim menambahkan.
"Baik, Seonsaengnim," Minseok menyahuti sang dokter dengan suara lirih.
Tak lama, Minseok dan Ryeowook keluar dari ruang periksa. Ryeowook tak dapat menahan diri untuk menyalahkan putrinya begitu mereka sampai di luar.
"Kau juga sih, buat apa mengonsumsi yoghurt segala?" Ryeowook agak gusar. Maklum, ibu Minseok ini sangat menyayangi Oscar dan sedih melihat cucu tercintanya itu jatuh sakit.
Minseok meneguk ludah. Dia sungguh menyesal telah mengonsumsi yoghurt yang menurut Baekhyun sangat bagus untuk diet. Minseok sama sekali tak menyangka, efeknya justru membahayakan Oscar.
"Aku sedang diet, Eomma. Makanya aku mengonsumsi frozen yoghurt," kata Minseok lirih.
Ryeowook terbelalak. "Apa? Diet? Kim Minseok, kau itu ibu menyusui! Kau butuh asupan gizi yang cukup agar ASI-mu berkualitas. Dan asupan gizi itu dari makanan. Eomma tidak habis pikir. Bisa-bisanya kau nekat diet sampai mengonsumsi yoghurt segala. Apa kau tidak kasihan pada Oscar?" Ryeowook tak dapat menahan diri untuk mengomeli putrinya.
Omelan ibunya kontan membuat rasa bersalah Minseok terhadap Oscar makin menjadi. Ditatapnya sang buah hati di dalam gendongan Ryeowook. Hati Minseok terasa sakit membayangkan Oscar muntah-muntah, sementara dia justru asyik dengan kesibukannya di luar rumah. Parahnya, Oscar sakit karena kesalahannya. Otomatis Minseok langsung mengutuk dirinya sendiri.
"Biar kugendong Oscar, Eomma," pinta Minseok pada sang ibu dengan tampang memelas.
Melihat tampang putrinya, Ryeowook sedikit melunak. Dengan hati-hati, diserahkannya Oscar pada Minseok.
Minseok menggendong putranya dengan sangat hati-hati. Diciuminya pipi tembam milik bayi yang minggu depan genap enam bulan itu dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan Mommy ya, Oscar. Mommy tidak tahu kau alergi protein susu sapi," kata Minseok penuh sesal.
Mendapat ciuman bertubi-tubi dari ibunya, Oscar yang tampil manis dalam balutan jaket biru dan celana berwarna senada itu menggeliat pelan, namun tidak sampai terbangun.
"Ayo kita pulang," ajak Ryeowook.
Minseok mengangguk dengan patuh.
"Oh ya, baru saja Luhan mengirim pesan, katanya dia belum bisa menyusul. Ada meeting dengan klien yang tak bisa ditinggal," Ryeowook memberitahu Minseok.
Klien!
Benak Minseok langsung dipenuhi bayangan Meng Jia. Hatinya lagi-lagi panas. Minseok benar-benar geram karena Luhan lebih mementingkan klien yang disinyalir merangkap selingkuhannya itu ketimbang menjenguk putranya yang jatuh sakit. Minseok sudah terlalu kesal dan cemburu hingga mengabaikan fakta bahwa Luhan seorang yang profesional, yang selalu memisahkan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi.
Minseok tak menggubris kata-kata Ryeowook. Dia bergegas melangkahkan kaki menuju tempat parkir untuk mencapai mobilnya sambil menggendong Oscar.
-000-
Kemarahan Minseok meluap begitu Luhan memasuki apartemen mereka tepat pukul sebelas malam. Minseok tak menerima alasan Luhan yang mengatakan kalau dia terpaksa lembur.
"Lembur jauh lebih penting dari anakmu sendiri, begitu?!" sentak Minseok emosi.
Luhan yang kelelahan sepulang kerja dan juga tengah cemas karena mendengar Oscar sakit itu kontan terpancing emosi setelah mendengar tudingan Minseok.
"Seokkie, kenapa kau bertingkah kekanakan seperti ini, sih? Aku itu bekerja, Seokkie-ya. Kerja. Aku dituntut untuk profesional. Kenapa sih kau tidak bisa mengerti aku?" Luhan memprotes dengan nada tinggi.
Mendengar respon Luhan, walhasil Minseok makin kesal.
"Kerja apa! Kerja sambil selingkuh. Iya, 'kan?" Minseok mendelik. "Kau selingkuh dengan klienmu yang cantik itu, 'kan?! Mengaku sajalah, Ge!"
Luhan tersentak. "Apa?"
"Sudahlah, Ge. Tidak usah pura-pura kaget. Aku tahu kau punya hubungan spesial dengan klienmu yang cantik itu! Aku juga tahu kalau kau sudah bosan denganku yang gendut, yang jelek ini!" Nada bicara Minseok semakin meninggi.
"Apa? Kim Minseok, kau ini ngomong apa, sih?!"
"Tidak usah berkelit lagi, Luhan Ge! Aku tahu kau bosan, jengah! Kau sudah tidak menganggapku sebagai istrimu. Benar, 'kan? Kau hanya menganggapku sebagai wanita yang melahirkan Oscar, tidak lebih. Kau bahkan sudah tidak mau menyentuhku lagi. Aku sadar diri, Ge. Aku yang sekarang jelek, gendut, tidak pantas bersanding denganmu yang tampan dan dipuja banyak perempuan di luar sana!" Minseok semakin marah semakin kacau pula bicaranya, membuat Luhan terbelalak lebar-lebar.
"Apa maksudmu?! Kenapa kau jadi marah-marah tidak jelas seperti ini? Harusnya aku yang marah padamu. Kau itu ibu dari anakku. Sudah jadi kewajibanmu untuk mengurus anak, sementara aku bekerja mencari nafkah! Tapi apa? Kau malah lalai, mengabaikan Oscar demi kelas-kelas olahraga yang tidak penting itu. Kau tidak fokus mengurus Oscar sampai-sampai dia sakit, alergi gara-gara kau sembrono mengonsumsi yoghurt segala. Sekarang kau malah marah-marah gara-gara aku sibuk bekerja, lah. Menuduhku ini-itu, lah. Sikap macam apa itu, Kim Minseok? Apa pantas seorang istri bersikap seperti itu pada suaminya yang kelelahan sepulang bekerja? Jujur, aku kecewa sekali padamu!" Suara Luhan tak kalah tinggi. Dia bahkan memanggil Minseok dengan nama lengkapnya alih-alih Seokkie atau Min Skatt*, menunjukkan bahwa saat ini dia tengah terbakar emosi.
Mendengar Luhan balik memarahinya, kemarahan Minseok benar-benar meluap hingga air matanya merebak. Dia sakit hati bukan main meski Minseok tahu kata-kata Luhan ada benarnya juga. Bagaimanapun dia memang sempat lalai mengurus Oscar. Tetapi kelalaian Minseok itu dikarenakan usahanya untuk mengembalikan bentuk tubuh demi menjadi sosok yang menarik bagi Luhan seperti dulu. Sekarang begitu mendengar Luhan tak mendukung usahanya dan terus menyalahkannya soal Oscar yang jatuh sakit, otomatis Minseok marah, kecewa, dan sedih sekaligus.
Melihat air mata menggenangi mata istrinya, Luhan terkejut. Sayangnya dia terlalu emosi hingga menganggap Minseok terlalu cengeng.
"Jangan cengeng dan kekanak-kanakan," desis Luhan, tajam. "Aku tidak suka dengan sikap childish-mu yang kadang susah ditolerir, Seokkie-ya. Aku lelah."
Minseok terdiam, tak berkomentar sepatahpun. Agaknya dia kehabisan kata-kata.
"Ge..." panggil Minseok setelah terdiam sejenak.
"Kamu sungguh tak lagi menganggapku sebagai istrimu, 'kan?"
Luhan seakan kena guyur seember air es. Lelaki pemilik paras baby face itu lagi-lagi membelalakkan matanya yang elok bak mata rusa, namun tak bertahan lama. Mata indah Luhan perlahan menyipit, seiring sorot mata nan tajam miliknya terarah pada Minseok.
Itu tatapan paling tajam yang pernah diterima seorang Kim Minseok dari Xi Luhan sejak dia mengenal pria itu hampir lima tahun yang lalu. Luhan memang baby face dan punya imej manis, tapi dia bisa berubah horor ketika benar-benar marah. Contohnya ya sekarang ini.
Melihat tatapan mata Luhan, Minseok ciut juga.
"Barusan kau bilang apa? Kau bilang aku tidak lagi menganggapmu istriku, begitu?" tanya Luhan dengan nada tajam, setajam tatapan matanya.
Minseok meneguk ludah, mencoba menegarkan diri. Dia lantas memberanikan diri untuk balas menatap Luhan dengan tak kalah tajam.
"Ya," jawab Minseok dengan suara yang sedikit bergetar. "Memang iya, 'kan? Kau sudah tidak menganggapku sebagai istrimu. Kau sudah bosan denganku yang gendut, yang jelek ini. Kau bahkan tak sudi menyentuhku lagi, Ge. Aku sadar, aku yang sekarang sudah jadi ibu-ibu gendut, jelek, tidak menarik. Makanya kau selingkuh dengan perempuan lain yang cantik, langsing, menggairahkan. Iya, 'kan? Kau selingkuh dengan perempuan itu, 'kan? Si Meng Jia itu!" Suara Minseok semakin bergetar, antara menahan marah sekaligus takut.
"Selingkuh katamu? Kau bilang aku selingkuh?"
Air mata Minseok berderai tanpa bisa ditahan-tahan lagi. "Aku lihat sendiri, Ge," kata Minseok serak. "Tadi siang aku melihatmu bersama perempuan yang kau sebut 'klien' itu di Shinsegye. Kau menemani dia belanja barang-barang branded, 'kan? Dan malam ini…, apa kau baru selesai berkencan dengannya sampai kau pulang selarut ini, tak peduli Oscar sedang sakit? Iyakah, Ge?"
Luhan terperanjat. "Kim Minseok, kau-"
Kata-kata Luhan mendadak terpotong lantaran terdengar suara tangis dari kamar mereka.
"Oscar!" Minseok refleks berseru. Tanpa mempedulikan Luhan lagi, Minseok bergegas pergi meninggalkan ruang tamu menuju kamar mereka.
Luhan yang masih terperanjat hanya bisa berdiri mematung, tidak bergegas menyusul istrinya untuk melihat Oscar.
-000-
Minseok menimang-nimang Oscar dengan penuh sayang, sesekali mengusap lembut rambut Oscar yang tipis namun hitam legam itu. Dipandanginya wajah sang buah hati yang tengah tertidur dalam buaiannya. Melihat wajah menggemaskan milik Oscar, air mata Minseok mulai menetes. Ada sesak menggumpal dalam hatinya.
Oscar. Bayi itu buah cintanya dengan Luhan, kado ulang tahun pernikahan mereka yang kedua. Minseok masih ingat, hari kelahiran Oscar menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupnya karena pada hari itu dia resmi menjadi ibu dan resmi mempersembahkan seorang anak laki-laki yang sangat diinginkan Luhan. Minseok masih ingat persis kebahagiaan yang dia rasakan bersama Luhan sewaktu menyambut kelahiran Oscar sekaligus merayakan hari jadi pernikahan mereka.
Minseok tidak menyangka, kebahagiaan itu berlalu begitu cepat.
Minseok pikir Luhan akan semakin mencintainya setelah dia melahirkan Oscar. Akan tetapi, sekarang Luhan justru menduakannya dengan perempuan lain. Hati Minseok terasa sakit, terlebih begitu melihat Oscar. Minseok merasa sangat sedih untuk putranya karena memiliki ayah yang menduakan cinta ibunya.
Minseok mengecup pipi Oscar dengan sedih. "Papamu boleh tidak mencintai Mommy lagi, tapi dia tidak boleh berhenti mencintaimu, Sayang," bisik Minseok parau. "Apapun yang terjadi, Xi Luhan tetap ayahmu. Dia harus tetap mencintaimu, darah dagingnya, sampai kapanpun."
Wanita berparas imut itu kembali menimang-nimang Oscar, membawanya ke depan cermin meja riasnya.
"Mommy yang sekarang mungkin gendut, jelek, tidak pantas lagi bersanding dengan papamu yang tampan dan dipuja banyak wanita," Minseok menggumam pilu seraya menggigit bibirnya. "Kami berdua tidak serasi lagi. Kami persis angka 10 sekarang."
Minseok terus memandangi bayangan dirinya di cermin. Semakin melihat bayangan dirinya, semakin frustasi rasanya. Ingin rasanya Minseok berteriak, meminta pada Tuhan untuk mengembalikan bentuk tubuhnya seperti dulu. Masa-masa dimana dia begitu langsing, begitu menggoda, hingga seorang Xi Luhan tergila-gila padanya. Minseok masih ingat, Luhan tak jarang memuji bentuk tubuhnya di malam-malam panas mereka, salah satu momen yang ampuh memancing pujian terlontar dari bibir Luhan.
"Tidak kalah seksi dari Miranda Kerr."
Itu yang selalu dikatakan Luhan setiap kali memindai tubuh milik istrinya lewat tatapan yang menggelap oleh kabut nafsu.
"Seharusnya kau bisa jadi model Victoria's Secret seperti Miranda Kerr."
Itu yang sering Luhan sebagai pelengkap. Biasanya Minseok akan pura-pura merajuk begitu mendengarnya.
"Jadi kau rela kalau istrimu ini jadi model iklan lingerie seperti Miranda Kerr?"
Luhan akan tertawa begitu mendengar protes kecil dari Minseok.
"Tentu saja tidak. Jangankan jadi model iklan lingerie. Kau memakai bikini di luar sana pun tak bakal kuberi izin."
Minseok akan gantian tertawa setelah rangkaian kalimat tersebut meluncur dari bibir Luhan.
Minseok menghela napas mengingat momen-momen itu. Momen-momen yang kini hanya tinggal kenangan.
Sekarang dengan bentuk tubuhnya yang seperti ini, Minseok tak lagi berani berkeliaran di depan Luhan hanya dengan lingerie! Dia bahkan sudah memuseumkan semua koleksi Victoria's Secret-nya yang dihadiahkan Luhan lantaran tak ada satu pun yang muat untuk tubuhnya sekarang ini.
Duhai, malangnya engkau, Kim Minseok.
Air mata Minseok semakin deras, terlebih begitu mengingat sosok Meng Jia yang cantik, ramping dan menarik itu.
"Semudah itu kau berpaling dariku, Ge? Istrimu, ibu dari anakmu, hanya gara-gara aku berubah wujud jadi begini?" gumam Minseok pedih.
Minseok seketika terkejut begitu pintu kamarnya tahu-tahu terbuka, menampilkan bayangan Luhan di cermin rias. Tampak olehnya pria itu berdiri tegak dengan tatapan terarah lurus padanya.
Minseok memilih mengalihkan pandangan dari cermin dan menatap Oscar, tak ingin menatap suaminya meski hanya lewat cermin.
"Lebih baik malam ini kita tidur sendiri-sendiri," kata Minseok lirih. "Oscar sakit, dia pasti rewel. Istirahatmu bisa terganggu, padahal besok kau 'harus kerja'." Minseok sengaja memberi penekanan pada frasa 'harus kerja'.
Luhan menutup pintu kamarnya dan Minseok, kemudian melangkah mendekati istrinya.
"Besok aku tidak kerja," kata Luhan. "Aku mau menjaga Oscar seharian."
Minseok mengangkat satu alisnya, merasa curiga alih-alih senang.
"Tidak perlu. Aku bisa menjaga Oscar sendiri. Kau urus aja pekerjaanmu itu. Bisa-bisa perusahaanmu kolaps kalau sehari kau tidak masuk kerja," tolak Minseok dingin.
Luhan tak balas berkomentar. Dia justru semakin mendekati Minseok yang masih berdiri di depan cermin rias.
Tak diduga-duga, sepasang lengan kurus namun kokoh milik Luhan tiba-tiba melingkari pinggang Minseok dari belakang, membuat wanita itu terperanjat.
"Kau..." Minseok tercekat. Kata-katanya terhenti lantaran Luhan mengecup lembut pipi kanannya tanpa permisi.
"Jangan marah lagi," Luhan berbisik di telinga Minseok, lembut, kedengaran memohon. "Kita baikan, ya? Demi Oscar."
Minseok membelalakkan matanya. Dia baru akan angkat bicara, namun satu kecupan manis yang kembali mendarat di pipinya sukses membuatnya bungkam.
Luhan tersenyum tipis melihat ekspresi istrinya. Pria berparas imut itu lantas menempelkan dagunya ke bahu Minseok.
"Jujur, aku merindukan saat-saat seperti ini, Min Skatt," kata Luhan sembari menatap Minseok melalui cermin. "Aku merindukan quality time di antara kita berdua."
Minseok membeku, agaknya tidak mempercayai pendengarannya sendiri.
"A-apa kau bilang?"
Luhan menjauhkan dagunya dari bahu Minseok dan melepaskan pelukannya dari pinggang wanita itu. Perlahan dia meraih bahu Minseok, menghadapkan wanita itu padanya.
Luhan menatap istrinya lurus-lurus. "Jangan marah lagi, ya? Kasihan Oscar kalau kau marah-marah. Bayi itu sensitif, bisa ikut merasakan suasana hati ibunya," kata Luhan lembut.
Perasaan Minseok campur aduk. Dia bingung dengan perubahan sikap Luhan, tapi itu tidaklah cukup untuk meredam kemarahan yang masih menguasainya.
"Kau minta aku jangan marah?" Minseok balas menatap Luhan, kali ini kembali sengit. "Kira-kira perempuan mana yang tidak marah melihat suaminya selingkuh di depan mata?"
Alih-alih terpancing emosi, Luhan justru memasang tampang lelah.
Minseok mempererat pelukannya di tubuh Oscar, menguatkan diri untuk bicara lagi.
"Semudah itu kau pindah ke lain hati, Ge? Hanya karena aku yang sekarang berubah wujud jadi ibu-ibu gendut? Apa kau tahu, Ge? Aku juga tidak mau punya bentuk tubuh yang seperti ini. Aku ingin bisa langsing seperti dulu lagi, yang selalu bisa memuaskanmu, juga selalu kau banggakan. Makanya aku nekat ikut kelas ini-itu, nekat melakukan diet meski aku masih menyusui Oscar. Tapi ternyata kau tidak cukup sabar untuk menungguku kembali langsing seperti dulu lagi, sampai-sampai kau selingkuh dengan Meng Jia itu. Ka—mmph—"
Minseok mendadak bungkam.
Luhan merenggut bibirnya tanpa aba-aba, membungkamnya dengan ciuman penuh yang menginvasi seluruh bagian bibirnya. Laki-laki itu bahkan melumat bibirnya kuat-kuat, seolah-olah tak mengizinkan Minseok untuk protes barang secuil. Betapa agresifnya laki-laki itu memangsa bibirnya hingga Minseok yakin bibirnya bakal membengkak setelah ciuman ini berakhir.
Minseok terbelalak lebar-lebar mengiringi lumatan-lumatan kuat yang diberikan Luhan tanpa ampun di bibirnya. Wanita itu merasakan sekujur tubuhnya seakan lumpuh, sama seperti saat Luhan pertama kali menciumnya beberapa tahun yang lalu.
Namun, kali ini ada yang berbeda.
Dulu ciuman bertubi-tubi seperti ini akan membuat Minseok terbang ke awang-awang, sedangkan kali ini ciuman Luhan justru menggoreskan perih di hati Minseok.
'Bibir ini... Apa Meng Jia juga pernah merasakannya, Ge?'
Minseok meratap dalam hati, merasakan perih semakin merajam hatinya. Setitik air mata kembali menuruni pipinya yang chubby, perlahan-lahan menganak sungai.
.
.
.
TBC
.
.
.
(Swedish) Min skatt: my treasure
