Hahahahaha, stripping chapter ...

ENJOY !

I Just Want My Brother Back

Chapter 3

Bobby baru saja menyelesaikan bab 20 dari buku tua yang ia baca saat ia tiba-tiba mendengar panggilan kecil dari tempat tidur,

"Dee...?" sosok kecil itu bangun dari tidurnya dan mengedarkan matanya mencari kakaknya, dengan mengucek-ucek matanya . "Dee...?" suaranya mulai serak siap menangis, tidak menemukan sosok yang selalu ingin ia lihat saat membuka mata.

Bobby langsung menghampirinya, dan memangkunya.

"Hey, squirt," dengan tersenyum. "Sudah bangun, kau, nak?"

"Dee...?"

"Dee sebentar lagi datang," meski Bobby ragu, Dean yang mana yang Sammy cari. Tapi tentulah Dean umur 7 tahun.

"Kemana?"

"Beli sesuatu untukmu."

"Untuk Sammy?" mata Sammy langsung berbinar senang, memamerkan anugrah dua lesung di pipinya.

Bobby harus tersenyum dengan binar mata Sam.

"Yup, untukmu," dengan mengangguk.

"Sama daddy?" mata Sammy masih berbinar senang.

Bobby terkatup, "Ng..., nggak...daddy sedang pergi, kan?" seakan mengingatkan.

Senyum Sammy langsung pudar. "Daddy pergi kejar 'owie', ya ...?"

Bobby harus tersenyum, sudah lama ia tidak mendengar kata 'owie', "Owie adalah istilah yang diajarkan Dean kepada adiknya untuk sebutan orang jahat, dan yang Sammy tahu jika ayahnya sedang pergi, itu artinya ayahnya sedang mengejar orang jahat. Dean mengajarkan Sammy untuk mengenal ayahnya sebagai orang yang hebat yang selalu mengejar dan menangkap orang-orang jahat, sehingga adiknya akan selalu merasa bangga dan aman kepada ayahnya.

"Yup, daddy sedang kejar owie..." sahut Bobby.

Sammy mengangguk lirih. "Sammy kangen daddy..., Sammy pengen daddy pulang cepet ...," ucapnya lirih dengan menyandarkan kepalanya di dada pamannya yang empuk.

Bobby tak dapat menjawab, hanya mengeratkan dekapannya, dan mengecup kepala kecil itu.

BRUM...BRUM...

suara mesin mobil yang sangat dikenal Sammy terdengar memasuki halaman rumah.

Kepala Sammy langsung tegak kembali, binar mata senang dan bahagia kembali muncul di sana.

"Daddy!" secepat kilat Sammy turun dari pangkuan pamannya, dan lari ke pintu, tapi karena bagian bawahnya masih terlilit selimut, Sammy dengan sukses jatuh ke lantai.

"Sammy!" Bobby langsung menggendongnya, dan siap mendengar suara tangis Sammy. Tapi tidak ada suara tangisan, yang ada hanya wajah Sam yang berusaha menahan tangisnya.

"Daddy!" pekik Sam berontak.

Bobby mengangguk lalu menurunkannya dan melepaskan lilitan selimut di pinggang Sammy. Dan bocah kecil itu langsung berlari ke pintu untuk menyambut ayahnya.

Sammy tersenyum dengan mobil M'pala ayahnya yang terparkir di halaman. Ia semakin tak dapat menahan senyumnya saat melihat sosok besar berjaket kulit keluar dari sana dan memberinya lambaian tangan. Sosok itu membuka pintu belakang mobilnya dan mengambil tas-tas belanjaan.

Dean harus terheran dengan sesampainya ia di rumah. Sammy berdiri di teras menyambutnya pulang dengan tersenyum. Sammy sudah bangun, dan sehat!

Dean melambaikan tangannya, dan senyum itu semakin merekah gembira. Apakah Sammy sudah mengenalnya? Adakah sesuatu yang terjadi selama ia pergi?

Dean mengambil belanjaan di belakang, sebelum menyongsong adiknya yang terus tersenyum.

Senyum Sam semakin lebar dengan sosoknya yang berjalan dengan gagah mendekatinya disertai senyumnya. Namun semakin dekat, semakin dekat senyum itu perlahan memudar, begitu dengan jelas siapa orang itu.. bukan ayahnya.

"Bukan daddy...," Sammy melipat wajahnya penuh kekecewaan.

Dean melihat perubahan wajah adiknya yang kecewa. Ia langsung meletakkan barang belanjaannya dan berlutut di depan Sammy.

"Hey, Sam?" panggil Dean pelan.

Sammy mundur beberapa langkah, wajahnya kembali menunjukkan ketakutannya.

"Jangan takut, Sam, ini aku Dean, teman daddy," Dean mengingatkan hati-hati dengan rasa kecewa, Sam masih tidak mengenalnya.

Sammy masih ragu. Matanya melirik mobil impala. Dean menyadarinya,

"Daddy menitipkan mobilnya pada paman, harus paman jaga...," berharap Sam percaya.

Sammy terdiam mencoba percaya. Tidak boleh ada yang memakai mobil ayahnya selain daddy.

"Mana Dee ...?" tanya Sam pelan.

Dean terdiam sesaat, "Masih dengan Daddy ...,"

Sammy langsung menengok ke arah Bobby, "Dee sedang beli sesuatu untuk Sammy, ya kan...?"

Bobby menghela nafas, tidak ada yang bisa mengelabui daya ingat Sammy, meski umurnya masih tiga tahun.

"Ya, Dee beli sesuatu," sahut Dean cepat mengeluarkan alasan baru lainnya. "Tadi paman bertemu dengan Deanie dan menitipkannya pada paman untuk diberikan padamu, Sammy. Lihat ini," dengan tersenyum seraya menunjukkan isi tas belanjaannya.

"Buat Sammy?" Sammy mengintip ke dalam.

"Iya, buat Sammy. Yuk kita masuk ke dalam, lihat apa yang Dean beli untuk Sammy. Mungkin ada celana panjang untuk Sammy, Sammy kan nggak pake celana," Dean mencoba menggodanya, dengan menepuk lutut kecil Sammy dengan pelan.

Sammy melihat ke bawah, dan tersenyum malu, "Nggak pake celana panjang, dingin..."

Dean mengangguk tersenyum geli, "Iya, makanya, yuk, masuk," dan mengajak Sammy masuk.

Dean mendudukkan Sammy di sofa, sementara ia duduk di sebelahnya dengan membongkar belanjaannya.

"Ada celana, nggak ya ...?" Dean merogoh tas belanjaannya. "Waah, ada...!" dengan sumringah mengangkat beberapa potong celana panjang.

Sammy tersenyum dengan senangnya, "buat Sammy..."

Dean mengangguk, "Yup, buat Sammy. Mau pake yang mana?"

Malu-malu, Sammy menunjuk celana berwarna biru.

"Ok, Sammy pake ini," Dean tersenyum riang, dan segera memakaikan celananya.

Bobby memperhatikan mereka berdua dari meja makan dengan tersenyum sambil menyiapkan makan malam.

"Liat ini, ada baju juga buat Sammy," Dean mengeluarkan beberapa potong kaos yang dibelinya.

Sam tersenyum riang dan menerimanya.

"Langsung dipake ya?" Dean menawarkan.

Sam mengangguk pasti.

Dean tersenyum dan langsung mengganti kaos besar Sam dewasa dengan yang kaos yang sesui dengan ukuran tubuhnya.

Sammy tersenyum dengan senangnya.

"Suka?"

Dengan pasti Sam mengangguk. "Deanie yang beli...,"

Dean harus mengangguk, "Ya, Deanie yang beli, untuk Sammy," dengan tersenyum perih. "Tapi Paman juga belikan sesuatu untuk Sammy," lanjut Dean cepat, tak mau kalah.

Sam terdiam dengan tersenyum, matanya menunjukkan rasa ingin tahu dan malu. Dean harus tersenyum, wajah ini begitu dirindukannya.

"Mr. Teddy Bear!" seru Dean penuh semangat mengeluarkan boneka dari dalam tas belanjaan yang lain.

Dan wajah terbelalak senang muncul di sana. "Mr. Teddy!" pekiknya riang dan langsung diterimanya lalu dipeluknya erat.

Dean tersenyum senang.

"Deanie nggak suka Mr. Teddy," ucap Sammy lirih.

Dean terkatup. "Oh, ya,kenapa?"

"Deany sudah besar, anak besar nggak main sama Mr. Teddy."

Dean hampir tertawa mendengarnya. Ia masih ingat saat mengucapkan itu di depan Sammy saat Sammy mengajaknya bermain dengan Mr. Teddy, tapi Dean menolaknya, dan mengatakan bahwa dirinya sudah 7 tahun, sudah besar, sudah tidak main dengan Mr. Teddy lagi.

"Well, Deanie salah, paman sudah besar tapi paman masih bermain dengan Mr. Teddy."

Sam terbelalak tak percaya dengan tersenyum lebar, "Benarkah?"

Dean mengangguk pasti.

"Paman mau bermain dengan Mr. Teddy bersamaku?"

"Mau sekali!" dengan mengangguk pasti, ada cercah Sammy mau ada di dekatnya.

Sam tersenyum dengan senangnya, memamerkan dua lesung pipitnya.

"Ng... Deanny nggak pernah salah...," ucapnya lirih.

"Oh, ya?" Dean hampir tidak percaya dengan ucapan Sammy.

"Kata Deany, Deany adalah seorang kakak, kakak nggak pernah salah," jawabnya tanpa ragu.

Dean harus terkatup dan tersenyum, dia hampir lupa dulu pernah mengucapkan itu di hadapan adiknya yang masih balita.

"Yup, kakak nggak pernah salah," Dean menyetujuinya, karena ia tahu mengatakan hal yang berkebalikan dengan yang diyakini Sammy kecil hanya akan membuatnya sangat kecewa dan sedih, dan membuat Sammy sedih adalah hal yang terakhir yang ingin Dean lakukan.

Tiba-tiba Sammy memeluk Dean erat, "Terima kasih, paman, paman baik sekali, Sammy suka paman."

Jantung Dean berhenti dan harus tersenyum lega. Dibalasnya pelukan Sammy hangat dengan mengecup kepala kecilnya erat-erat. "Sama-sama, kiddo, dengan senang hati."

"Anak-anak, makan malam sudah siap!" Bobby berseru dengan semangatnya dari meja makan.

Dean dan Sammy kecil menyambutnya dengan semangat.

"Yuk, paman Bobby sudah memanggil," Dean menawarkan gendongan, dan tanpa ragu Sammy menyambutnya.

Dean menghela nafas penuh kelegaan dengan menggendong tubuh kecil Sammy menuju meja makan. Perasaan tenang begitu terasa, sudah lama ia tidak menggendong Sammy seperti ini.

Mereka bertiga makan malam dengan nikmatnya. Bobby membuatkan sup sayur dan kentang tumbuk, juga salad untuk Sammy dan Dean.

Dean harus tersenyum dengan bangga bagaimana Sammy sudah bisa makan sendiri tanpa dibantu dan tanpa mengotori meja makan. Harus diakui Deanlah yang mengajarkannya karena tidak mau Sammy kena marah ayahnya karena tidak bisa makan sendiri meski sudah tiga tahun, dan harus rapi tanpa mengotori rumah Paman Bobby.

Selepas makan malam, Bobby membebaskan Dean dari tugas membereskan meja makan, karena Dean harus memandikan Sammy sebelum tidur. Dean cukup lega, Sammy mempercayakan dirinya untuk memandikannya, karena itu berarti Sam tidak takut lagi padanya.

Ritual mandi berlangsung cukup lama,karena Sammy masih senang bermain air, dan tidak mau dikeluarkan dari bak mandi, sebelum Dean mengatakan,

"Deany nggak suka Sammy nggak nurut."

Dengan begitu, Sammy menurut langsung mau keluar dari bak mandi meski dengan wajah cemberut.

Namun wajah cemberut Sammy, langsung berubah dengan senyum senang begitu melihat sepasang piyama keren siap untuknya. Belum lagi dengan buku-buku baru yang dibelikan Paman Dean untuk dibacakan sebelum tidur.

"Tolong bacain...," pinta Sammy malu-malu.

"Ok, tapi siap untuk tidur?"

Sammy mengangguk dan memposisikan dirinya siap untuk tidur.

Kemudian Dean berbaring di samping Sammy dan membacakan buku cerita tentang monyet bernama George – The Curious George'.

Sebelum ia selesai membacakan bukunya, Sammy sudah terlelap tidur. Dikecupnya erat pipi dan kening Sammy, "Mimpi indah, Sammy," sebelum keluar perlahan-lahan dari kamar dan membiarkan pintu sedikit terbuka agar dia bisa mendengar adiknya jika terjadi sesuatu, ajaran mutlak dari ayahnya yang tidak boleh Dean lupakan jika meninggalkan Sam tidur sendirian, tidak peduli berapapun umur Sammy.

Dean kembali ke dapur dan menemukan Bobby duduk di meja dengan sebotol bir di tangannya, dan sebotol lagi untuk dirinya.

"Bagaimana Sammy?"

"Sudah tertidur lelap."

Bobby mengangguk lega.

"Usaha yang bagus, Dean, mendekatkan diri dengan Sam."

Dean menghela nafas letih, "Harus. Sammy harus bisa melupakan Deany, karena dia tidak akan bertemu Deany atau ayah, yang dia punya sekarang adalah aku; Dean, bukan Deany umur 7 tahun."

Bobby mengangguk mengerti.

"Ada kabar dari Cas selama aku pergi tadi?"

Bobby menggeleng.

Dean menarik nafas pasrah dan mengumpat kecil.

"Jaga ucapanmu, Dean, ada Sammy kecil sekarang."

Dean semakin menghela nafas kesal.

"Tapi paling tidak, tidak ada masalah hingga detik ini, dan kau begitu menikmati mengasuh Sammy."

Dean harus tersenyum senang, "Jangan ditanya lagi."

Bobby mengangguk pasti.

"Semoga tidak ada hal yang aneh-aneh terjadi selama Sam dalam wujud itu, aku hanya ...," Dean terhenti dengan suara pekikan tiba-tiba dari atas. Wajahnya langsung pucat dan langsung bangkit hingga menjatuhkan kursi yang didukinya, dan berlari ke atas diikuti Bobby di belakangnya. Saat ia membuka pintu, hatinya hancur dengan apa yang ia lihat ...

TBC

Well,well, well ...? still reviews are waited ... thenkyou ...