"Tenang-tenang, sensei punya berita untuk kalian," ujar seorang guru yang berambut pirang disanggul rapi. "Kalian ingat bukan, besok hari pembukaan sekolah secara resmi?"

"Hai, sensei!" seru semua murid dengan gembira.

"Dan kalian ingat? Kepala sekolah mengadakan sayembara bulan lalu, mencari ide untuk merayakan hari pembukaan sekolah yang pertama kali?"

Semua murid mulai berbisik-bisik menebak siapakan pemenangnya.

"Kemarin panitia sudah memutuskan, dan pemenangnya dari kelas ini."

Kegaduhan semakin terdengar keras ketika semua bergerak kekanan kiri saling memandang teman-temannya. Siapakan diantara mereka yang memenangkannya?

"Ssssttt, tenang-tenang. Pemenangnya adalah...Uchiha Naori." ujar wanita muda itu yang selaku wali kelas mereka.

Semua mata memandang kearah pojok kanan bagian belakang, kearah meja Naori.

"Naori? Kenapa dia?" bisik salah seorang siswa laki-laki.

Gadis kecil bermarga Uchiha itu sendiri pun hanya mendudukkan kepalanya, sesekali mengangkat wajahnya menatap takut-takut kearah teman-temannya.

"Ayolah semuanya, kita beri tepuk tangan kepada Naori." kata guru itu.

Dengan sedikit tidak rela, semua anak yang berada dikelas itu memberinya tepuk tangan.

Wanita bersanggul itu menyandarkan dirinya dipapan tulis. "Kita akan melakukan penutupan dengan menanam time kapsul."

"Sensei? Time kapsul itu apa?" tanya salah seorang murid.

"Nah, ini yang disebut dengan time kapsul." jawabnya sembari mengangkat sebuah tabung keatas meja. "Sekarang, sensei minta gambarkan apa saja yang menurut kalian akan terjadi di masa depan. Suatu hari kita akan membuka kapsul ini lagi."

"Wow, itu luar biasa."

"Ya. Dan kita bisa mulai dari sekarang."

"Hei, Naori-chan, selamat ya, kau hebat."

"Hn, Eirwen-san, terimakasih."

.

.

.

EE

Disclaimer : Naruto punya MK

Story by Pena Bulu

Pair : SasuFemNaru

Rated : M ( Not for lemon )

Warning : FemNaru. Typo bertebaran, EYD hancur, OOC, membingungkan, FLASHBACK TIBA-TIBA TANPA PERINGATAN dan berbagai kekurangan yang tidak disebutkan. So hati-hati saja. Kembali saya tekankan, ff ini inspirasi sebagian besar dari film Knowing (2009)

Don't Like Don't Read

"Hari ini, aku tidak mau tahu, kalian dilarang keluar rumah. Dan sebagai gantinya, bersihkan gudang." titah seorang laki-laki bersuara bass.

"Hn."

"Oke Sasuke sudah setuju, jadi Naruto, kau harus menuruti perintahku."

"Tidak!"

Obito menautkan alisnya "HAAA?" tanyanya tidak mengerti dengan maksud kata yang diucapkan Sasuke.

"Hn."

"APA MAKSUD HN-MU ITU?"

"Apa?" tanya Sasuke datar dan terkesan berwajah aku tidak bersalah. Oh ayolah Uchiha Sasuke yang berbicara dengan nada datar, berwajah datar, hidup dengan kisah cinta yang datar, juga jangan lupakan berambut datar horizontal. Oke, lupakan 2 fakta terakhir ini.

"Hn."

"Hn?"

"Hn!"

"Hn?!"

"Hn!"

Hah apa ini, ketika dua orang Uchiha saling berkomunikasi. Bagaimana? Romantis bukan? Hanya dengan 'Hn' saja mereka sudah 'saling mengerti' satu sama lain. Senangnya.

Seorang gadis bersurai pirang hanya menatap malas kearah 2 laki-laki yang saling berkomunikasi dengan bahasa 'Hn'nya sendiri. Dengan wajah malas, bibirnya membentuk huruf o kecil, tangan kiri menopang dagu, dan tak lupa helaan nafas berat yang dihembuskannya.

"Bisa kalian hentikan komunikasi bodoh antara kalian? Disini ada aku yang tidak mengerti dengan dengan bahasa seorang Uchiha." sindir Naruto tiba-tiba.

Gadis ini masih mencoba untuk menahan tawa tapi greget juga sih mereka berdebat dan 'saling mengerti' hanya dengan 'Hn'.

Sasuke dan Obito mengalihkan pandangan mereka kearah Naruto yang kini menatapnya antara malas, kesal, atau mungkin ingin muntah.

Dua laki-laki Uchiha itu kemudian saling melempar deathglare. "HN!" ucapnya bersama. Kompak bukan? Oh bukannya ini menggemaskan?

'APAAAAA?' batin Naruto dalam hati. Mungkin jika diibaratkan sebuah komik, dikepala Naruto sudah terhiasi dengan sebuah perempatan siku-siku atau mungkin kepalanya sudah berasap dan siap untuk meledak.

#Why so serious?#

Dengan rambut pirang yang disanggul keatas, menampakkan tengkuk lehernya, Naruto sibuk membersihkan rumah, tapi jangan lupakan wajah masamnya karena Sasuke tak bergerak sedikitpun dari depan TV.

Naruto menggerutu pelan ketika mata safirnya melirik kearah TV yang sedang ditonton oleh Sasuke.

"Sampai kapan kau mau menonton sinetron Ramen Gaiden, teme?" ujar Naruto kesal. "Yang benar saja teme, kau suka sinetron yang seperti itu? Istri siapa ibu dari anaknya siapa. Biasanya sih di mana-mana yang dicari ayahnya, kok ini ibunya. Anti mainstream." gerutunya kesal. Sedangkan pemuda yang diajaknya berbicara hanya menggeliat pelan.

Oh rupanya si pangeran ayam tertidur. Percuma saja Naruto menggerutu sampai berbusa pun Sasuke tidak mendengarkan.

"Sudahlah Naruto, mungkin Sasuke itu sedang membayangkan dia menjadi tokoh utama." sahut Obito yang entah datang dari mana. "Iyakan Sas? Membayangkan rasanya beristri dua." goda Obito yang langsung diikuti dengan gelak tawa Naruto.

"Ramen Gaiden memang sinetron favorit Sasuke sepertinya."

"Ck! Berisik. Dan aku tidak pernah membayangkan menjadi tokoh utamanya." ujar Sasuke membela diri.

"Ah sudahlah, aku pergi lagi saja. Naruto aku pergi membeli camilan, oke." pamit Obito yang kini meninggalkan kedua orang berbeda gender.

"Ah, tapi bukankah pemeran wanitanya cantik Sas?"

Sasuke berdiri dari duduknya dan berjalan pelan. "Aku tidak tertarik dengan yang berdada rata." ujarnya tepat di telinga kiri Naruto.

"Tapi, mungkin kalau itu kau, akan ku pertimbangkan." ujar Sasuke yang kini menarik pinggang Naruto hingga tubuh bagian depan mereka saling menempel. Mata onyx Sasuke melirik kearah dada Naruto yang tidak bisa dibilang kecil apalagi untuk ukuran anak SMA. "Berapa ukuran mereka?" tanya Sasuke dengan senyum miring diwajahnya.

"He-hentai!" teriak Naruto lalu melemparkan sebuah buku ditangan kanannya hingga skinship diantara mereka terlepas. Cepat-cepat Naruto menyilangkan kedua tangannya dipundak. Wajahnya pun sudah bersemu kemerahan.

"Ck! Kau ini apa-apan." kesal Sasuke yang tidak terima wajahnya yang katanya tampan itu dilempari buku yang berdebu.

Sasuke kemudian menunduk dan memungutnya. "Uchiha Naori dan Eirwen Tanaka – E?" lirihnya ketika melihat sebuah foto hitam putih dimana ada dua orang gadis berdiri didepan sebuah sekolah. Dibawahnya tertulis nama Uchiha Naori & Eirwen Tanaka – E.

"Apa?" tanya Naruto heran.

"Di mana kau menemukan ini?" tanya Sasuke yang masih sibuk membuka buku yang ternyata album foto milik neneknya.

"Gudang." jawab gadis itu singkat.

"Coba kau lihat, disini nenekku berfoto dengan Eirwen Tanaka."

"Lalu?" tanya Naruto tak mengerti.

Sasuke menghela nafasnya. "Mungkin dia mengetahui apa maksud dari EE."

"Eh kurasa bencana terakhir itu bukan inisial nama." Naruto mengeluarkan kertas deretan angka miliknya. "Aku masih merasa ini adalah 33."

"Tidak ada salahnya kita mencoba Naruto."

"Bagaimana jika Eirwen-san sudah meninggal?"

"Yasudah."

'HAAAA?!' teriak Naruto dalam hati. Sasuke itu sebenarnya niat atau tidak sih?

.

.

.

.

"Ne, paman Obito. Apa kau tahu tentang foto ini?" tanya Naruto sembari menunjukkan album foto yang tadi.

"Ibuku, sekaligus neneknya Sasuke, kenapa?"

Naruto menggelengkan kepalanya dan tersenyum memamerkan sepasang mata eyes smile jika tersenyum. "Tidak, kalau yang ini?" tanyanya lagi. Jari telunjuknya menunjuk gambar seorang gadis berambut pirang kemerahan disalah satu foto yang sudah berwarna.

"Oh, dia itu temannya, keturunan Skotlandia. Lihat? Rambutnya kemerahan." jelasnya. "Kenapa tiba-tiba menanyakannya?"

"Hanya penasaran." Naruto menarik album tersebut. Tangan kanannya membuka halaman demi halaman album itu. "Siapa namanya?"

Obito menautkan alisnya, bola matanya mengarah ke kanan atas mencoba mengingat-ingat. "Eirwen Ewartse, kalau tidak salah."

"Lalu kenapa disini tertulis Eirwen Tanaka?" Naruto kembali menggeser album bersampul coklat itu kedepan Obito.

"Wajarkan?"

"Haaa?" tanya Naruto tidak mengerti. Bayangkan ada tiga buah tanda tanya imaginer diatas kepala Naruto.

"Payah!" Obito menyentil kening Naruto pelan. "Tadi aku sudah berkata, dia keturunan Skotlandia bukan?"

"Oh jadi dia blasteran Jepang – Skotlandia." Naruto mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda paham. "Sekarang dia tinggal dimana, paman?"

"Kalau tidak salah disekitar distrik 20." jawab Obito seingatnya."Lihat, dia jarang menggunakan nama Jepangnya. Biasanya dia akan mengatakan namanya Eirwen Ewartse." Obito sedikit menarik album tersebut. Tangannya mulai membuka halaman demi halaman seolah mencari sesuatu. "Lihat? Dia teman baik ibuku. UN untuk Uchiha Naori dan EE untuk Eirwen Ewartse." ujarnya setelah sampai pada halaman terakhir yang menunjukkan goresan huruf UN dan EE.

Naruto membulatkan matanya, nafasnya tertahan, lidahnya terasa kelu. "Dia...EE?" lirihnya seperti bisikan tanpa suara.

#If you open your eyes, you'll see that something is wrong#

Naruto duduk di atas kasurnya dengan punggung yang menyandar pada bantal. "Arghhh, aku bisa gila memikirkannya." raungnya sedikit keras. Kedua tangannya sudah mengacak-acak rambutnya, fustasi.

"Aku masih yakin korban terakhir itu bukan EE tapi 33 orang." lirih Naruto pelan. Gigi depannya menggigit ujung kuku ibu jari kanannya.

"Tapi jika 33 orang, aku masih belum mengetahu koordinat gps letak akan terjadi bencana terakhir." Naruto menenggelamkan wajahnya kesebuah selimut berwarna biru didepannya.

"Atau jangan-jangan, EE adalah si penulis?" lirihnya mencoba memunculkan hipotesis-hipotesis yang entah dari mana asalnya. "Tapi ini jelas tertulils oleh Uchiha Naori."

Naruto membaringkan dirinya, kedua tangannya mendekap sebuah guling dengan erat. "Atau Eirwein-san ini meminta Naori untuk menuliskannya?" Gadis bermata biru safir ini masih berusaha memecahkan teka-teki. Oke, jangan pernah bayangkan dia seperti Conan apalagi tokoh utama Sherlock Holmes.

"Tapi, jika dia mengetahui, kenapa tidak dia tulis sendiri?" berbagai pertanyaan kini datang silih berganti di kepala Naruto.

Ketika 1 pernyataan datang, tak lama kemudian 1 pertanyaan datang.

"Apa lebih baik aku mencoba kerumahnya ya?" lirihnya lagi. "Siapa tahu aku bisa mendapat sedikit informasi darinya."

.

.

.

.

"Apa rumahnya disini ya?" gumam Naruto. Gadis itu sedikit membungkukkan badannya untuk mengamati sebuah tulisan diatas keramik yang terpasang disebuah dinding bersebelahan dengan pagar.

"Sepertinya begitu." jawab suara baritone dari arah kirinya.

"Teme!" Naruto sedikit terlonjak kaget. Pasalnya dia hanya pergi sendirian. "Sejak kapan kau disini?" gadis bersurai pirang ini menatap horor kearah Sasuke.

Sasuke meliriknya sekilas. "Sejak tadi." pemuda itu kemudian menghiraukan Naruto. Dirinya segera melangkah memasuki gerbang rumah yang tak dikunci.

Jari telunjuk Naruto memencet bel rumah itu sedikit tidak sabar. Sudah hampir 10 menit mereka hanya berdiri diteras yang sepi.

Pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita bengan rambut yang disanggul rapi tak lupa sebuah kacamata bertengger diwajahnya. "Maaf, tadi saya sedang ditoilet."

"Ah, sumimasen. Apa benar disini rumah Eirwen Tanaka?" tanya Naruto sopan.

Wanita berambut putih itu sedikit menyipitkan matanya curiga pasalnya dirinya tidak mengenal orang didepannya. "Ya betul." jawabnya ragu. "Maaf apa kita pernah bertemu?" tanya Eirwen. Matanya menatap kearah Sasuke dan jari telunjuknya menunjuk kearahnya dan kearah Sasuke secara bergantian.

"Uchiha Sasuke." ucap Sasuke datar.

"Uchiha?" lirihnya mengulang ucapan Sasuke. "Ah pantas. Sepertinya dulu kau masih kecil sekali saat terakhir kali kita bertemu."

"Lama tidak bertemu Eirwen-san." Sasuke membungkukkan badan sopan padahal dirinya tak ingat dengan wanita tua dihadapannya ini.

#You don't understand#

"Apa kalian ingin minum lemon tea?" tawarnya sopan.

"Ah tidak, kami sedang terburu-buru sebenarnya." jawab Naruto sedikit berbohong. "Sebenanrya tujuan kami kemari untuk menanyakan sesuatu."

Naruto menyodorkan sebuah amplop putih bertuliskan Uchiha Naori. "Apa anda mengenal tulisan ini?" tanya Naruto hati-hati.

Wanita itu membenarkan letak kacamatanya dan membuka isi amplop tersebut. "Jadi kau yang mendapatkan tulisan ini? Sudah mengetahui maksudnya?"

"Ya."

"Naori itu sebenarnya orang yang baik."

Naruto menghela nafas. "Ya, aku tahu." mata safirnya melirik Sasuke sekilas. Pemuda itu mengalihkan pandangannya seolah tak peduli. "Yang ingin kutanyakan adalah bagian ini."

"Sepertinya Naori memang meramalkan kematianku."

"Apa maksud anda?" tanya Naruto tak mengerti.

"Ah betapa tidak sopannya aku, kalian adalah tamu tapi aku belum menawari minuman. Apa kalian ingin minum lemon tea?" tawar Eirwen sembari melepas kacamatanya.

Naruto mengerjapkan matanya dan melirik kearah Sasuke yang kali ini sedang melirik kearahnya. "EH, tidak usah." balas kaku.

"Oh baiklah." jawab Eirwen disertai anggukan kepala. "Sampai dimana tadi?"

"Naori-san meramalkan kematian anda."

"Ah, ya 19 Oktober besok adalah hari kematianku. Itu yang dikatakan Naori, dulu." wanita ini mengucapkan dengan enteng. "Lagi pula, aku juga sudah tua, jadi bukan masalah lagi untukku."

"Bagaimana mungkin? Berarti ini tidak hanya anda dan Sasuke." lirih Naruto.

"Apa Naori juga mengatakan itu juga tanggal kematian Sasuke?"

"Ya, begitu."

'Berarti ini benar 33 orang jumlah korbannya.' kata Naruto dalam hati.

"Apa anda mengetahui sesuatu?" tanya Naruto curiga.

Wanita tua itu menggeleng pelan dan melepas kacamatanya. "Tidak. Aku bahkan tidak ingin mengetahuinya, sejujurnya."

"Anda yakin?"

"Ya!" jawabnya tegas. "Dan silakan pergi dari rumahku, kebetulan setelah ini aku ada janji dengan seseorang." ujarnya gusar sembari menarik tangan Sasuke dan Naruto bangun.

"Anda yakin tidak menyembunyikan sesuatu?" kali ini Sasuke yang membuka mulut. Pasalnya terasa aneh karena mendadak wanita itu bertindak seperti ini.

"Aku tidak tahu apapun," sentaknya. "Jika tidak percaya, pergilah ke sekolah lamaku, temukan pohon dibelakang sekolah, disana Naori pernah menuliskan sesuatu yang aku tidak tau apa itu. Atau kau bisa pergi kerumahnya, di dekat kuil Togakushi." seketika wanita tua itu menutup mulutnya seakan tersadar sesuatu. "Cepat pergi, pergi!" usirnya dengan tangan yang menutupi mulutnya.

Naruto mengulas senyum. "Terimakasih." ujarnya tepat saat pintu tertutup.

.

.

.

Gadis bersurai pirang itu menghentikan larinya tepat disebuah pohon tua di belakang Sekolahnya dulu semasa SD sekaligus mantan sekolah Uchiha Naori dan Eirwen Ewartse.

Naruto berjalan mengitari pohon itu. Iris safirnya menelusuri punggung batang pohon dengan serius. Gadis itu menghela nafas pelan, berdiri mematung, dengan matanya sedikit terbelalak.

"Jadi..." lirihnya pelan.

"Kau menemukannya?" tanya Sasuke yang baru muncul dibelakangnya.

"Lihat!" tunjuk Naruto kearah pohon tersebut.

"Ya?"

"TIDAK ADA TULISAN APAPUN!" teriaknya kesal pasalnya dirinya sudah berlari tapi tak menemukan apapun. Naruto menarik-narik surai pirangnya frustasi. "Percuma aku berlari-lari."

"Dobe!" sindir Sasuke tepat ditelinga kanan Naruto. Kini gantian Sasuke mengitari pohon itu pelan. Pemuda bersurai raven itu mencari lebih teliti.

"Aku juga tidak menemukannya. Ayo pulang kalau begitu." ajaknya ketika merasa tak ada gunanya juga mencari sesuatu yang tidak ada hasilnya.

"Haaah, kenapa tadi tidak langsung ke Kuil Togakushi saja." gerutunya pelan sembari melangkah menjauhi pohon tersebut.

Tanpa mereka sadari, didekat akar pohon terdapat sebuah tulisan yang sudah hampir takterlihat lagi.

"E... –se"

Yang terlihat hanya tiga huruf tersebut. Jadi menurutmu apa itu EE?

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Yo! Saya kembali dengan fict EE. Sekali lagi ini sama dengan film. Tolong baca warning sebelum baca cerita, Oke?

Thanks to : InmaGination | cyhui cihui | alta0sapphire | UzumakiDesy | Kazuki Pegasus | Harpaairiry | Uchy Nayuki | Mimo Rain | akarui kurai shiko deli-chan | Namikaze Eiji | luviz hayate | Aiko Michishige | Kokoro no Hato | HafizaKun | Ollanara511 | Hyull | annisa ajja 39 | Dan para Guest.

Terimakasih sudah membaca :) Terimakasih kritik dan sarannya :) Terimakasih yang sudah fav dan follow.

#WeDoCareAboutSFN

PenaBulu out!